A. Simpulan
Berdasarkan penelitian ini peneliti menyimpulkan beberapa hal yang terkait dengan keseluruhan rumusan masalah penelitian. Simpulan tersebut meliputi kualitas mengungkapkan kritik yang dimiliki oleh kelas XI, proses pelaksanaan strategi PBL dalam mengungkapkan kritik, dan hasil penelitian berupa pernyataan bahwa strategi PBL efektif digunakan dalam mengungkapkan kritik pada pembelajaran berbicara.
Berikut ini adalah simpulan yang diperoleh peneliti.
1. Proses pengamatan atau observasi dilengkapi dengan kegiatan tes awal mengungkapkan kritik di kelas eksperimen dan kelas pembanding. Hasil tes awal menunjukkan kemampuan mengungkapkan kritik siswa termasuk ke dalam kategori kurang. Dalam arti lain, kemampuan siswa dalam mengungkapkan kritik masih kurang.
Hal tersebut dapat dilihat dari keempat aspek penilaian yang digunakan. Aspek kualitas isi yaitu, masih banyak siswa dalam penyampaian kritiknya yang tidak relevan dengan tema yang diberikan, dan masih banyak kritik yang diungkapkan oleh siswa tidak disertai dengan solusi. Dari aspek struktur bahasa, masih terdapat banyak kekurangtepatan penggunaan diksi atau pemilihan kata, sehingga kalimat tersebut menjadi tidak baku dan dinilai tidak sesuai dengan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Dari aspek kuantitas isi, masih banyak siswa yang tidak menggunakan pembuka dan penutup dalam mengungkapkan kritik. Isi dari kritik itu sendiri juga dinilai masih kurang berbobot. Hal tersebut dapat dikatakan demikian karena siswa hanya mengungkapkan pengetahuan yang mereka ketahui saja tanpa ada informasi tambahan.
Dari aspek nonsegmental, kebanyakan siswa masih terlihat kurang percaya diri dalam mengungkapkan kritiknya. Hal tersebut dapat dilihat dari ekspresi
111
yang ditunjukkan masih kurang. Begitu pula dengan volume suara, masih banyak siswa yang seolah-olah berbisik saat mengungkapkan kritiknya.
2. Perlakuan menggunakan strategi PBL dalam mengungkapkan kritik yang dilakukan di kelas eksperimen berjalan dengan lancar. Proses yang dilakukan adalah peneliti memberikan informasi berupa berita kepada siswa. Berita tersebut harus diberi kritik oleh siswa. Setelah itu, siswa duduk berkelompok untuk saling bertukar informasi atas berita yang diberikan oleh peneliti.
Setelah berdikusi dalam kelompoknya, siswa secara individu mengungkapkan kritik atas berita yang disajikan. Kegiatan tersebut dilakukan hingga semua siswa menyampaikan kritiknya. Selanjutnya peneliti memberikan apresiasi atas kegiatan tersebut. Perlakuan strategi PBL dilaksanakan dalam dua kali pertemuan. Hal tersebut dilakukan karena adanya keterbatasan waktu dalam pembelajaran.
3. Hasil tes akhir menunjukkan ada perubahan nilai mengungkapkan kritik di kelas eksperimen. Perubahan tersebut dapat dilihat melalui rata-rata nilai kelas yang berubah dari ketegori kurang menjadi kategori cukup. Namun, hampir seluruh siswa mengalami perubahan nilai yang cukup signifikan.
Dari aspek kualitas isi, siswa mulai memberikan solusi yang relevan dengan tema. Bahkan, beberapa solusi yang diungkapkan oleh siswa sudah memberikan solusi yang spesifik. Dari aspek struktur bahasa, pemilihan diksi sudah membaik dari sebelumnya, sehingga padu padan kalimat sudah terlihat lebih baik.
Dari aspek kuantitas isi, terlihat adanya peningkatan kesadaran diri siswa dalam mengungkapkan kritik yaitu menggunakan kata sapaan terlebih dahulu. Bobot kritik yang diungkapkan juga jauh lebih baik daripada sebelumnya. Dari aspek nonsegmental, siswa sudah jauh lebih percaya diri dalam mengungkapkan kritik. Itu terlihat dari ekspresi yang jelas dan tidak malu-malu seperti sebelumnya dan volume suara yang terdengar lantang dan berani.
Peningkatan dalam semua aspek penilaian, dalam kategori penilaian, dan setelah dilakukan uji hipotesis tes awal dan tes akhir maka dapat dikatakan
112
bahwa strategi PBL terbukti efektif dalam mengungkapkan kritik di kelas eksperimen.
Hasil tes akhir di kelas pembanding ternyata berbanding terbalik dengan hasil tes akhir di kelas eksperimen. Hal tersebut dibuktikan melalui hasil uji hipotesis dan kategori nilai yang dicapai. Kategori yang diperoleh saat tes akhir adalah kategori kurang.
Dari aspek kualitas isi, relevansi dengan tema cenderung menurun dan banyak yang melenceng keluar dari tema. Solusi yang diungkapkan juga tidak ada banyak perubahan. Masih mengacu pada pengetahuan siswa saat itu saja, tidak ada penambahan informasi yang dapat menunjang kritiknya. Dari aspek struktur bahasa, pemilihan diksi tidak terjadi perubahan yang signifikan. Penggunaan diksi masih itu-itu saja dan cenderung monoton.
Selanjutnya dari aspek kuantitas isi, bobot kritik yang diungkapkan tidak berubah dari hasil sebelumnya. Dalam pembuka dan penutup juga tidak terdapat perubahan yang signifikan bahkan cenderung menurun. Dari aspek nonsegmental, ekspresi yang diperlihatkan cenderung ogah-ogahan dan tidak tertarik untuk mengungkapkan kritik. Dalam volume suara juga tidak lebih baik daripada sebelumnya, yakni masih setengah berbisik dan malu-malu.
Selain dilihat dari keempat aspek penilaian, keefektifan strategi PBL juga dapat dilihat melalui uji hipotesis. Uji hipotesis menunjukan bahwa strategi PBL dalam mengungkapkan kritik di kelas pembanding tidak terbukti efektif. Melihat hasil tes akhir dari kelas eksperimen dan kelas pembanding, maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan strategi PBL dalam mengungkapkan kritik pada pembelajaran berbicara terbukti efektif.
113
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian serta simpulan yang diperoleh peneliti dan disampaikan di atas maka peneliti memberikan beberapa saran sebagai berikut.
1. Penggunaan strategi PBL dalam mengungkapkan kritik pada pembelajaran berbicara telah terbukti efektif. Telah terbuktinya keefektifan strategi PBL tersebut maka, strategi PBL dapat dijadikan model alternatif dalam pembelajaran mengungkapkan kritik untuk matapelajaran Bahasa Indonesia. 2. Peningkatan hasil tes yang dicapai oleh siswa dalam mengungkapkan kritik pada pembelajaran berbicara telah membuktikan bahwa, strategi PBL mampu meningkatkan minat belajar siswa. Oleh karena itu, strategi PBL dapat diujicobakan dalam kompetensi atau keterampilan berbahasa lainnya, seperti membaca, menulis, dan menyimak.
3. Penggunaan strategi PBL dalam mengungkapkan kritik dapat menggunakan multimedia, baik media visual maupun nonvisual. Penggunaan media visual yang lebih mengandalkan cara kerja komputer atau informatika, ternyata dapat menarik perhatian siswa serta meningkatkan sumber daya manusia yang dimiliki siswa. Oleh sebab itu, pada penelitian selanjutnya ketika menggunakan strategi PBL dalam mengungkapkan kritik pada pembelajaran berbicara sebaiknya menggunakan media visual sebagai media pembelajaran.
4. Penilaian terhadap kemampuan siswa dalam mengungkapkan kritik telah dilakukan seobjektif mungkin oleh peneliti, walaupun penilaian tersebut dilakukan secara manual. Akan tetapi, di masa modern seperti ini, penilaian akan lebih objektif lagi apabila ada suatu alat bantu yang dapat mengukur kemampuan berbicara siswa. Oleh karena itu, peneliti mengharapkan para ahli komputer mampu membuat suatu alat pengukur kemampuan berbicara tersebut. Alat tersebut harus mampu mengukur kemampuan berbicara siswa dari segala aspek, baik struktur dan kualitas isi pembicaraannya agar penilaian dapat lebih akurat dan objektif lagi daripada sebelumnya.
114 Silkvi Purwayagslin, 2014
KEEFEKTIFAN STRATEGI PROBLEM BASED LEARNING (PBL) DALAM MENGUNGKAPKAN KRITIK PADA PEMBELAJARAN BERBICARA : Penelitian Eksperimen Kuasi pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 5 Bandung
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
DAFTAR PUSTAKA
Amir, T. (2010). Inovasi pendidikan melalui problem based learning. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Arikunto, S. (2005). Manajemen penelitian. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Badan Akreditasi Nasional Sekolah. (2013). Instrumen akreditasi SMA. [Online] Tersedia di: http://www.ban-sm.or.id/uploads/6_Instr_Lampiran.pdf [Diakses 16 Mei 2013].
Browne, M.N. & Keeley, S.M. (2012). Pemikiran kritis: Panduan untuk
mengajukan dan menjawab pertanyaan kritis edisi ke sepuluh. Jakarta: PT Indeks.
Chaer, A. (2010). Kesantunan berbahasa. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Chaer, A. & Leoni, A. (2010). Sosiolinguistik perkenalan awal. Jakarta : Rineka Cipta.
Dzuhisna, N. (2013). Keefektifan model ARCS (attention, relevance, confidence, satisfaction) dalam mengungkapkan kritik pada pembelajaran berbicara ( penelitian eksperimen semu di kelas XI SMA Negeri 5 Bandung tahun ajaran 2012/2013). (Skripsi). Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.
Fitrob, R.G. (2013). Penerapan metode rolle playing dalam pembelajaran berbicara. (Skripsi). Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Imadha, H. (2012). Macam-macam kritik. Bandung: CV Yrama Widya. Jakarta Consulting Group. (2006). Memberi dan menerima kritik. [Online] .
Tersedia di: http://www.jakartaconsulting.com/art-15-28.htm. [Diakses 15 Maret 2013].
Kamus Besar Bahasa Indonesia. (2008). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia.
Kosasih, E. (2002). Kompetensi ketatabahasaan. Bandung: CV Yrama Widya. Kosasih, E & Wawan, H. (2012). Bahasa Indonesia berbasis kepenulisan karya
115 Silkvi Purwayagslin, 2014
KEEFEKTIFAN STRATEGI PROBLEM BASED LEARNING (PBL) DALAM MENGUNGKAPKAN KRITIK PADA PEMBELAJARAN BERBICARA : Penelitian Eksperimen Kuasi pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 5 Bandung
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Kurniawan, K. (2012). Belajar dan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Bandung: CV Bangkit Citra Persada dengan Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS UPI.
Mulyono, I. (2012). Dari karya tulis ilmiah sampai dengan soft skills. Bandung: CV Yrama Widya.
Permatasari, I.W. (2009). Penggunaan tehnik argumentasi tandingan untuk meningkatkan kemampuan menyampaikan pendapat dalam pembelajaran berbicara pada siswa SMAN 1 Lembang kelas XI tahun pelajaran 2008/2009. (Skripsi). Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.
Ratna, N.K. (2009). Teori, metode, dan teknik penelitian sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rohman, A. (2011). Konsep dasar pembelajaran. Bandung: UPI FIP
Rusmono. (2012). Strategi pembelajaran dengan problem based learning. Bogor: Ghalia Indonesia.
Sihotang, dkk. (2012). Critical thinking: Membangun pemikiran logis. Jakarta: PT Pustaka Sinar Harapan.
Sugiyono. (2014). Statistika untuk pnelitian. Bandung: Alfabeta
Syamsuddin & Vismaia, S.D. (2006). Metode penelitian pendidikan bahasa. Bandung: Sekolah Pasca Sarjana UPI dengan PT Remaja Rosdakarya. Tarigan, H.G. (1979). Berbicara sebagai suatu keterampilan berbahasa.