Simpulan
1. Ketimpangan pendidikan selama tahun 2005-2011 di Provinsi Riau bergerak menurun namun pada tahun 2011 mengalami sedikit peningkatan. Ketimpangan pendidikan di Provinsi Riau tergolong ketimpangan yang rendah sepanjang tahun. Pada tahun 2011, kabupaten/kota dengan ketimpangan pendidikan yang paling merata adalah Kota Pekanbaru dan sebaliknya yang paling tidak merata adalah Kabupaten Pelalawan.
2. Dengan metode panel statis, diperoleh hasil bahwa ketimpangan pendidikan berdampak negatif signifikan terhadap pertumbuhan. Ketimpangan pendidikan yang semakin tinggi dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi Provinsi Riau.
Saran
1. Kesimpulan penelitian memberikan gambaran bahwa ketimpangan pendidikan merupakan suatu faktor yang lebih penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dibanding pencapaian pendidikan (rata-rata lama sekolah). Oleh karena itu kebijakan pemerintah berorientasi pada pemerataan pendidikan bukan hanya pada peningkatan pencapaian pendidikan. Diantaranya dapat dilakukan dengan pemerataan penyediaan infrastruktur pendidikan khususnya untuk kabupaten yang memiliki cakupan wilayah besar, pelaksanaan kelas sabtu-minggu untuk pendidikan tinggi di kabupaten dimana pengajar didatangkan ke daerah tersebut. 2. Ukuran ketimpangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah koefisien
gini. Untuk penelitian selanjutnya dapat menggunakan ukuran ketimpangan lainnya seperti indeks theil pendidikan maupun indeks atkinson.
3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel infrastruktur jalan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi Provinsi Riau namun memberikan tanda negatif. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi jalan baik dan sedang belum cukup menggambarkan kondisi infrastruktur fisik. Oleh karena itu untuk penelitian selanjutnya dapat menggunakan variabel jalan semua kondisi maupun infrastruktur fisik lainnya.
43
DAFTAR PUSTAKA
[BPS] Badan Pusat Statistik. (berbagai terbitan). Indikator Kesejahteraan Rakyat. Jakarta:BPS.
. Produk Domestik Regional Bruto. Jakarta:BPS. . Statistik Indonesia. Jakarta:BPS.
BPS Provinsi Riau. (berbagai terbitan). Riau Dalam Angka. Riau:BPS.
Baltagi BH. 2008. Econometrics Analysis of Panel Data. 3rd Ed. Chichester West Sussex: John Wiley & Son, LTD.
Barro R. 1991. Economic Growth in a Cross Section of Countries. Quarterly Journal of Economic 106(1):407-443.
Benhabib J, Spiegel M. 1994. The Role of Human Capital in Economic Development Evidence from Aggregate Cross-Country Data. J Monetary Economics 34:143−173.
Birdsall N, Londono JL. 1997. Asset Inequality Matters: An Assessment of the World Bank's Approach to Poverty Reduction. American Economic Review 87(2):32–37.
Blanchard O. 2009. Macroeconomics. New York: Prentice Hall Business Publishing.
Bustomi MJ. 2012. Ketimpangan Pendidikan Antar Kabupaten/Kota dan Implikasinya di Provinsi Jawa Tengah. J Economics Development Analysis 1 (2).
Castello A. 2010. Inequality and Growth in Advanced Economies: An Empirical Investigation. J Economic Inequality 8(3):293–321.
Castello CA, Rafael D. 2005. Human Capital Inequality, Life Expectancy and Economic Growth.
Digdowiseiso K. 2009. Education Inequality, Economic Growth, and Income Inequality: Evidence from Indonesia, 1996-2005. MPRA Paper No. 17792. German: University Library of Munich.
Dornbusch R, Fischer S, Startz R. 2008. Makroekonomi. Ed ke-10. Roy Indra M, penerjemah. Jakarta: PT Global Edukasi. Terjemahan dari: Macroeconomics. Duarte A, Simões M. 2010. Regional Growth in Portugal: Assessing the
Contribution of Earnings and Education Inequality. Anales de Economía Aplicada 24:1127–1153.
Fidalgo JG, Simoes M, Duarte A. 2010. Mind the Gap: Education Inequality at the Regional Level in Portugal, 1986-2005. Nota S Economicas (22/43).
Galor O, Zeira J. 1993 Income Distribution and Macroeconomics. Review Economin Study 60:35–52.
Galor O, Tsiddon D. 1997. The Distribution of Human Capital and Economic Growth. J Econ Growth 2:93– 124.
Galor O, Moav O. 2004. From Physical to Human Capital Accumulation: Inequality and The Process of Development. Review of Economic Studies 60: 35-52.
Gujarati DN. 2004. Basic econometrics. 4th Ed. New York: McGraw Hill.
Gungor ND. 2006. Education, Human capital Inequality and Economic Growth: Evidence from Turkey. Regional & Sectoral Economic Studies 10(2):53–71.
44
Hassan R, Shahzad M. 2005. Education Inequality and Economic Growth: Framework for the Evaluation of Pakistan's Education Policy. International Journal of Human Development 3(1):37-60.
Islam N. 1995. Growth Empirics: A Panel Data Approach. The Quarterly Journal of Economics 110:1127-1170.
Jhinghan ML. 2010. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Kemdiknas RI. 2011. Manajemen Berbasis Sekolah di SMP pada Era Otonomi Daerah, Jakarta: Dirjend Dikdas.
Lopez R, Thomas V, Wang Y. 1998. Addressing the Education Puzzle: the Distribution of Education and Economic Reforms. World Bank Working Paper Series No. 2031. Washington, DC: World Bank.
Mankiw N, Romer D, Weil D. 1992. A Contribution to the Empirics of Economic Growth. The quarterly journal of economics 107:407−437.
Mankiw G. 2006. Makroekonomi. Ed ke-6. Jakarta: Erlangga.
Oshima, HT. 1970. Income Inequality and Economic Growth: The Postwar Experiences of Asian Countries. Malayan Economic Review 15(2):13.
Rao R, Jani Rb. 2008. School Quality, Educational Inequality and Economic Growth. International Education Studies 1(2):135–141.
Sauer P, Zagler M. 2011. (In)equality in Education and Economic Development. Presented at the Seventh Annual Conference on Development Economics and Policy of the Verein fur Socialpolitic. Research Committee Development Economics.
Schultz TW. 1962. Invesment in Human Capital. The American Economic Review
51(1):1-17.
Sen A. 2000. A Decade of Human Development. J Human Development 1(1). Tambunan TH. 2001. Perekonomian Indonesia. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Thomas V, Wang Y, Fan X. 2001. Measuring Education Inequality: Gini Coefficients of Education. Policy Research Working Paper No. 2525.
Thomas V, Wang Y, Fan X. 2002. Measuring Education Inequality: Gini Coefficients of Education for 140 Countries (1960–2000). J Education Planning and Administration 17(1):5–33.
Tilak JBG. 1989. Education and Its relation to Economy Growth, Poverty, and Income Distribution. World Bank Discussion Papers.
Todaro M, Smith SC. 2006. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Jakarta: Erlangga.
Zhang C, Kong J. 2010. Effect of Equity in Education on the Quality of Economic Growth: Evidence from China. International Journal of Human Sciences Vol.7 Isuue 1.
45 Lampiran 1 PDRB perkapita menurut kabupaten/kota di Provinsi Riau tahun
2005-2011 (juta rupiah) Kabupaten/kota 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Kuantan Sengingi 8.214 8.712 9.248 9.762 10.178 10.649 11.017 Indragiri Hulu 9.853 10.195 10.531 10.924 11.328 11.611 12.040 Indragiri Hilir 7.489 7.977 8.489 9.047 9.572 10.157 10.527 Pelalawan 10.540 10.628 10.647 10.686 10.842 10.919 11.258 S i a k 45.582 45.402 44.102 44.244 41.308 36.291 34.942 Kampar 12.742 12.779 12.721 12.945 13.382 13.315 13.646 Rokan Hulu 5.473 5.540 5.592 5.659 5.714 5.700 5.993 Bengkalis 51.317 51.756 50.490 51.156 50.739 55.770 58.872 Rokan Hilir 22.521 22.417 21.957 22.135 21.632 20.580 20.101 Kepulauan Meranti 11.207 11.741 12.124 12.750 12.253 12.111 12.382 Kota Pekan Baru 7.773 8.236 8.708 9.139 9.574 10.078 10.607 Kota Dumai 13.756 13.890 14.348 14.591 14.498 14.641 14.837 Total Kab/Kota 16.836 17.079 17.051 17.391 17.323 17.508 17.927 Prov Riau 16.987 17.248 17.225 17.576 17.480 17.642 17.880
46
Lampiran 2 Rata-rata lama sekolah kabupaten/kota di Provinsi Riau tahun 2005-2011 (tahun) Kabupaten/Kota 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Kuantan Singingi 7.32 7.69 7.20 7.88 7.42 7.99 7.99 Indragiri Hulu 7.44 7.15 7.72 7.64 7.96 7.98 7.80 Indragiri Hilir 6.70 6.70 6.87 6.85 7.30 7.14 7.16 Pelalawan 7.10 7.31 7.67 8.11 7.54 8.21 7.76 Siak 7.74 8.77 8.28 8.80 9.03 8.86 9.10 Kampar 8.41 8.00 8.23 8.40 8.46 8.49 8.87 Rokan Hulu 6.87 7.52 7.21 7.13 7.55 7.53 7.64 Bengkalis 8.45 8.00 8.29 9.56 9.67 8.56 8.24 Rokan Hilir 6.59 7.16 6.92 7.30 7.48 7.87 7.61 Kota Pekanbaru 10.49 10.72 10.60 10.75 10.48 10.79 10.96 Kota Dumai 9.12 8.93 9.28 9.26 9.49 9.50 9.47 Riau 8.05 8.14 8.17 8.51 8.56 8.58 8.63
47 Lampiran 3 Gini pendidikan kabupaten/kota di Provinsi Riau tahun 2005-2011
Kabupaten/Kota 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Kuantan Singingi 0.30 0.27 0.32 0.30 0.31 0.28 0.29 Indragiri Hulu 0.28 0.31 0.28 0.31 0.28 0.26 0.28 Indragiri Hilir 0.25 0.28 0.31 0.31 0.28 0.26 0.29 Pelalawan 0.30 0.30 0.29 0.29 0.32 0.26 0.30 Siak 0.27 0.21 0.26 0.23 0.23 0.23 0.22 Kampar 0.24 0.27 0.27 0.27 0.25 0.25 0.23 Rokan Hulu 0.29 0.28 0.29 0.31 0.28 0.26 0.28 Bengkalis 0.25 0.29 0.29 0.22 0.24 0.25 0.28 Rokan Hilir 0.23 0.26 0.30 0.29 0.30 0.26 0.27 Kota Pekanbaru 0.18 0.17 0.18 0.18 0.18 0.18 0.18 Kota Dumai 0.21 0.23 0.22 0.22 0.22 0.21 0.23 Provinsi Riau 0.26 0.27 0.28 0.27 0.27 0.25 0.26 Sumber: Susenas (hasil olahan)
48
Lampiran 4 Hasil pengujian antara fixed effect dengan pooled least square (Uji Chow)
H0: α1 = α2 = ... = αi (intercept sama)
H1 : sekurang-kurangnya ada satu intercept yang berbeda Redundant Fixed Effects Tests
Equation: Untitled
Test cross-section fixed effects
Effects Test Statistic d.f. Prob.
Cross-section F 15.204150 (10,61) 0.0000
Berdasarkan hasil estimasi diperoleh nilai probabilitas Chi-Square sebesar 0.0000 yang berarti keputusan tolak H0
Kesimpulan: model fixed effect lebih baik daripada model pooled least square
Lampiran 5 Hasil pengujian antara fixed effect dengan random effect (Uji Hausman)
H0 : model random effect lebih baik daripada fixed effect H1 : model fixed effect lebih baik daripada random effect Correlated Random Effects - Hausman Test
Test cross-section random effects
Test Summary Chi-Sq. Statistic Chi-Sq. d.f. Prob.
Cross-section random 10.238399 5 0.0688
Karena nilai probabilitas Chi-Square sebesar 0.0688 yang berarti cukup bukti untuk tolak H0.
Kesimpulan: model fixed effect (FEM) lebih baik daripada model random effect (REM)
49 Lampiran 6 Hasil pengujian dengan metode fixed effect
Dependent Variable: GROWTH_PDRB_KAP Method: Panel EGLS (Cross-section weights) Sample: 2005 2011
Periods included: 7
Cross-sections included: 11
Total panel (balanced) observations: 77
Linear estimation after one-step weighting matrix
Cross-section weights (PCSE) standard errors & covariance (d.f. corrected) Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C 10.46536 40.67836 0.257271 0.7978 LOG(JUMLAH_PDDK) 0.786002 3.864838 0.203372 0.8395 LOG(RASIO_JLN_WILAYAH) -1.723865 0.787260 -2.189703 0.0324 GE -21.60530 11.14887 -1.937890 0.0573 LN_MYS -6.224948 8.118934 -0.766720 0.4462 SHARE_INDUSTRI -0.114488 0.066799 -1.713934 0.0916 Effects Specification
Cross-section fixed (dummy variables)
Weighted Statistics
R-squared 0.795603 Mean dependent var 5.548008 Adjusted R-squared 0.745342 S.D. dependent var 9.128046 S.E. of regression 3.192533 Sum squared resid 621.7285 F-statistic 15.82930 Durbin-Watson stat 1.875063 Prob(F-statistic) 0.000000
Unweighted Statistics
R-squared 0.535158 Mean dependent var 2.066458 Sum squared resid 683.2589 Durbin-Watson stat 1.703526
50
Lampiran 7 Hasil pengujian normalitas error
Berdasarkan nilai probabilitas Jarque Bera yang lebih besar dari taraf nyata 5%, maka dapat disimpulkan bahwa error terdistribusi dengan normal.
0 2 4 6 8 10 -6 -4 -2 0 2 4 6
Series: Standardized Residuals Sample 2005 2011 Observations 77 Mean 1.59e-16 Median 0.367807 Maximum 6.734652 Minimum -6.435239 Std. Dev. 2.860181 Skewness -0.189494 Kurtosis 3.167578 Jarque-Bera 0.550916 Probability 0.759224
51
RIWAYAT HIDUP
Penulis lahir pada tanggal 9 Oktober 1982 di Pekanbaru, Provinsi Riau. Penulis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, dari pasangan Bangkit Tambunan dan Asli Sirait. Penulis menamatkan pendidikan Sekolah Dasar pada SD Santa Maria Pekanbaru pada tahun 1995, kemudian melanjutkan ke SMP Santa Maria Pekanbaru dan lulus pada tahun 1998. Tiga tahun kemudian yaitu pada tahun 2001 penulis menamatkan pendidikan menengah di SMU Negeri 8 Pekanbaru.
Pada tahun 2006 penulis menamatkan pendidikan Diploma IV di Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) Jakarta jurusan Statistik Ekonomi dengan gelar Sarjana Sains Terapan (SST). Sejak tahun 2007 sampai sekarang penulis bekerja di Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Dumai Provinsi Riau. Pada tahun 2011, penulis mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan Program Magister di Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor yang merupakan kerjasama antara BPS dan IPB pada Program Studi Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen.