A. SIMPULAN
Teks anekdot yang dijadikan objek penelitian terdiri atas teks anekdot yang berada pada buku Bahasa Indonesia Ekspresi Diri dan Akademik Kelas X Kurikulum 2013 Pelajaran IV dan teks di luar buku teks tersebut. Teks yang berasal dari luar buku teks yaitu dua buku kumpulan anekdot dan internet. Aspek teks anekdot dianalisis adalah aspek tema, struktur anekdot dan tafsiran muatan anekdot yang dianalisis menggunakan pisau analisis pragmatik. Selain itu, teks tersebut dianalisis nilai kearifan lokalnya dengan menggunakan teori Jim Ife mengenai Dimensi Kearifan Lokal. Simpulan peneliti yang dapat diambil dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut.
1) Hanya terdapat empat teks anekdot dalam buku Bahasa Indonesia Ekspresi Diri dan Akademik Kelas X Kurikulum 2013 Pelajaran IV. Dari hasil peneltian, ditemukan teks anekdot yang terdapat dalam Buku Bahasa Indonesia Ekspresi Diri dan Akademik Kelas X memiliki dua aspek yang kurang, yaitu struktur dan muatan kearifan lokalnya. Dari segi struktur, data ketiga tidak memiliki struktur yang lengkap. Teks anekdot yang berjudul Politisi Blusukan Banjir ini tidak memiliki struktur koda yang merupakan bagian akhir cerita, bentuknya bisa juga berupa simpulan tentang peristiwa yang terjadi di dalam teks tersebut. Penulis membuat sebuah penutup cerita dengan menggabungkan reaksi dan koda sekaligus. Bagian yang menunjukkan bagaimana penulis menyelesaikan masalah yang timbul di bagian krisis dijadikan sebuah penutup cerita. Muatan kearifan lokal yang terkandung dalam bahan ajar ini tidak terlalu kentara. Dari empat anekdot yang tersedia, hanya satu teks anekdot yang memuat nilai kearifan lokal di
Danissa Citra Uthami, 2014
Pengembangan Teks Anekdot Berbasis Kearifan Lokal Sebagai Alternatif Bahan Ajar Sma Kelas X
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
dalamnya. Hal ini menunjukkan belum adanya penanaman kearifan lokal dari segi aspek bahan ajar yang disiapkan oleh pemerintah.
2) Profil anekdot yang berasal dari luar buku teks menunjukkan bahwa kekurangan teks berasal dari struktur teksnya saja. Aspek kearifan lokal mudah ditemui pada ketiga sumber teks anekdot yang dijadikan sampel. Untuk pemotretan profil teks anekdot yang berasal dari luar buku teks, diambil tiga sumber dengan tiga tokoh masing-masing, yaitu buku Kabayan Jadi Sufi, buku Humor Lucu ala Gusdur dan teks anekdot Nasruddin Hoja yang diambil dari internet. Anekdot kabayan sendiri kaya akan muatan kearifan lokal di dalamnya, utamanya budaya sunda. Dari kelima anekdot yang diambil untuk dianalaisis, semua memiliki dimensi kearifan lokal, bahkan lebih dari satu dimensi. Dari segi aspek muatan lokal teks anekdot ini sangat mumpuni untuk dijadikan bahan ajar pembelajaran teks anekdot. Sayangnya, hal tersebut berbanding terbaik dengan struktur anekdot. Dari lima anekdot yang dianalisis, hanya dua anekdot yang berstruktur lengkap. Sedangkan, anekdot gusdur menunjukkan bahwa struktur teks dan muatan kearifan lokal menjadi aspek yang kurang yang terkandung di dalamnya. Dari lima teks, tiga teks yang memiliki struktur anekdot kurang lengkap. Dari lima teks yang dianalisis, terdapat satu teks anekdot yang tidak memuat nilai kearifan lokal dan yang lainnya memuat kearifan dengan masing-masing satu dimensi. Teks anekdot Nasruddin Hoja yang diambil dari internet bermasalah pada struktur teks anekdot, yaitu pada dua teks dari lima teks anekdot.
3) Pengembangan teks berbasis kearifan lokal untuk bahan ajar teks anekdot merupakan salah satu bagian dari inovasi pendidikan. Nilai-nilai kearifan lokal ini merupakan muatan yang dapat disisipkan dalam sebuah bahan ajar. Dalam mengembangkan sebuah bahan ajar, utamanya sebuah teks narasi
Danissa Citra Uthami, 2014
Pengembangan Teks Anekdot Berbasis Kearifan Lokal Sebagai Alternatif Bahan Ajar Sma Kelas X
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
seperti teks anekdot, muatan kearifan lokal dapat disisipkan pada berbagai unsur yang ada di dalam teks tersebut. Bahan ajar teks anekdot berbasis kearifan lokal berusaha memberikan sesuatu yang baru terhadap cara penyampaian nilai kearifan lokal yang sebenarnya hadir di setiap kehidupan siswa. Karena ketika kita berbicara mengenai kearifan lokal, maka kita juga membicarakan kebudayaan yang berasal dari masyarakat.
B.SARAN
Saran peneliti yang direkomendasikan untuk penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Dengan adanya model pola pengembangan bahan ajar teks anekdot berbasis kearifan lokal ini, siswa dapat menggunakan alternatif referensi teks lain untuk menjalankan tntutan pembelajaran yang dilakukan sekolah. Alternatif bahan ajarnya pun menjadi lebih berkualitas serta kaya akan muatan ilmu dan wawasan karena bahan ajar dipilih tidak sembarangan dan mengandung nilai kearifan lokal yang penting diterapkan pada generasi muda dewasa ini.
2. Model pola pengembangan bahan ajar teks anekdot berbasis kearifan lokal ini dapat digunakan oleh guru untuk membangun komunikasi pembelajaran yang efektif antara guru dengan siswa. Hal ini dikarenakan kegiatan akan lebih menarik dan siswa pun akan dengan mudah mempelajari setiap kompetensi yang harus dikuasainya sehingga siswa akan lebih bisa mandiri mempelajarinya.
3. Basis kearifan lokal pada teks anekdot ini pun dapat dimanfaatkan sebagai wahana membangun generasi muda yang bangga akan budaya bangsanya sendiri. Kearifan lokal merupakan produk budaya masyarakat yang patut dijadikan pegangan hidup yang eksploitasi terus-menerus. Dengan mengintegerasikan nilai kearifan lokal dalam proses pembentukan karakter siswa, siswa mendapatkan gambaran akan identitasnya sebagai individu
Danissa Citra Uthami, 2014
Pengembangan Teks Anekdot Berbasis Kearifan Lokal Sebagai Alternatif Bahan Ajar Sma Kelas X
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
masyarakat dan sebagai anggota kelompok masyarakat yang erat kaitannya dengan budaya masyarakat itu sendiri.
Danissa Citra Uthami, 2014
Pengembangan Teks Anekdot Berbasis Kearifan Lokal Sebagai Alternatif Bahan Ajar Sma Kelas X
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Y. (2012). Pembelajaran membaca berbasis pendidikan karakter. Bandung: Refika Aditama.
Al – Nashr, M. S. (2010). Pendidikan karakter berbasis kearifan lokal: telaah
pemikiran KH. Abdurahman Wahid. Semarang: Fakultas Tarbiyah Institut
Agama Islam Negeri Wali Songo.
Badara. A. (2012). Analisis Wacana: Teori, Metode dan Penerapannya Pada Wacana
Media. Jakarta: Kencana.
Bachari, A. D. (2014). Penyusunan bahan ajar teks anekdot untuk siswa sekolah
menengah atas melalui analisis pragmatik. Makalah disajikan pada Seminar
PMIOL II, Malaysia.
Bardon, A. (2005). The Philosophy of Humor. (Jurnal). Wake Forest University, Amerika Serikat.
Danandjaja, J. (1984). Foklor Indonesia: ilmu gosip, dongeng, dan lain-lain. Jakarta: Grafiti Pers.
Hidayati. (2009). Analisis pragmatik humor Nasruddin Hoja. (Skripsi). Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, Semarang.
Ismail, Y. R. (2004). Si Kabayan Jadi Sufi. Bandung: Pustaka Latifah.
Kartawinata, A. M. (Penyunting). (2011). Merentas kearifan lokal di tengah
Danissa Citra Uthami, 2014
Pengembangan Teks Anekdot Berbasis Kearifan Lokal Sebagai Alternatif Bahan Ajar Sma Kelas X
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Pengembangan Kebudayaan Badan Pengembangan Sumber Daya Kebudayaan dan Pariwisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2012). Dokumen kurikulum 2013. Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2013). Bahasa Indonesia ekspresi diri
dan akademik kelas X. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Kosasih, E. (2002). Kompetensi ketatabahasaan. Bandung: Yrama Widya.
Kurniawan, K. (2012). Belajar dan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Bandung: Bangkit Citra Persada.
Lubis, H. H. (2011). Analisis wacana pragmatik. Bandung: Angkasa. Majid, A. (2012). Perencanaan pembelajaran. Bandung: Rosda.
Permana, R. C. E. (2010). Kearifan lokal masyarakat Baduy dalam mitigasi bencana. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.
Prastowo, A. (2012). Panduan kreatif membuat bahan ajar inovatif. Jogjakarta: Diva Press.
Prastowo, A. (2013). Pengembangan bahan ajar tematik. Jogjakarta: Diva Press. Rahardi, K. (2003). Berkenalan dengan ilmu bahasa pragmatik. Malang: Dioma. Rahardi, K. (2005). Pragmatik: kesantunan imperatif bahasa Indonesia. Jakarta:
Danissa Citra Uthami, 2014
Pengembangan Teks Anekdot Berbasis Kearifan Lokal Sebagai Alternatif Bahan Ajar Sma Kelas X
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Rahmandji, D. (2013). Sejarah, teori, jenis dan fungsi humor. (Jurnal). Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang, Malang.
Rahyono, F.X. (2009). Kearifan budaya dalam kita. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.
Rosidi, A. (2011). Kearifan lokal dalam perspektif budaya Sunda. Bandung: Kiblat Buku Utama.
Semi, A. (2003). Menulis efektif. Padang: Angkasa Raya.
Sukmadinata, N. (2012). Metode penelitian pendidikan. Bandung: Pustaka Setia. Sudarmo, D.M. (2004). Anatomi lelucon di Indonesia. Kompas.
Syamsudin & Vismaia, S. D. (2009). Metode penelitian bahasa. Bandung: Rosda. Tarigan, H. G. (2009). Pengajaran pragmatik. Bandung: Angkasa.
Wijana, D. P. (1996). Dasar-dasar pragmatik. Yogyakarta: Andi.. Yori, A. (2009). Humor lucu ala Gusdur. Yogyakarta: Pustaka Bagong Yule, G. (2006). Pragmatik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Danissa Citra Uthami, 2014
Pengembangan Teks Anekdot Berbasis Kearifan Lokal Sebagai Alternatif Bahan Ajar Sma Kelas X
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan pada tanggal 07 Desember 1992 di kota yang terkenal akan kebudayaan kuda renggongnya, Sumedang. Anak pertama dari dua bersaudara ini sempat berdomisili selama tujuh tahun di Bengkulu, Sumatera Selatan karena pekerjaan kedua orang tuanya, Drs. Dadan, M.Si. dan Dra. Iis Lisnarita. Karena sering berpindah-pindah, penulis sempat menduduki tiga sekolah dasar, yaitu SD Negeri 81 Bengkulu, SD Negeri Rancaloa Bandung, dan berakhir di SD Negeri Sindangraja Sumedang pada tahun 2004. Kemudian penulis melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Sumedang sampai tahun 2007. Penulis lalu melanjutkan ke SMA Negeri 1 Sumedang dengan jalur PMDK. Setelah menyelesaikan pendidikan SMA pada tahun 2010, penulis diterima di salah satu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Universitas Pendidikan Indonesia, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Selama berkuliah, penulis aktif bergiat di organisasi intrauniversiter, Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia (Hima Satrasia). Selama dua periode kepemimpinan (2010-2011 dan 2011-2012), penulis menjabat sebagai Ketua Sub Bidang Dokumentasi dan Ketua Sub Bidang Humas dan Publikasi, serta sempat beberapa kali menjadi sekretaris pelaksana dan Steering Committee pada beberapa kegiatan insidental. Selain berorganisasi, penulis memiliki minat pada bidang jurnalistik. Penulis sempat mengambil beberapa kelas jurnalistik pada semester enam dan tujuh. Tulisan penulis pun pernah dimuat di salah satu surat kabar yang ada di Bandung.