Simpulan
Jumlah PVA terbaik untuk pembuatan film indikator PVA sebanyak 3.5 gram. Hasil film memiliki penampakan yang lebih bening dan mengkilat. Penggunaan pewarna kubis merah sebagai warna indikator, tidak memungkinkan untuk dilakukan pengeringan bersamaan dengan larutan film. Teknik pewarnaan agar pewarna alami tetap dapat dipergunakan sebagai pewarna indikator adalah metode oles dengan volume terbaik yang digunakan untuk mengoleskan pewarna alami pada film adalah 6 ml per 400 cm2. Film indikator dengan pewarna alami akan merespon melalui perubahan warna terhadap suhu penyimpanan.
Perubahan warna film indikator selama penyimpanan sangat dipengaruhi oleh faktor suhu dan cahaya. Nilai L menunjukkan tingkat kecerahan film
indikator yang disimpan. Hasil pengukuran warna film indikator menghasilkan koefisien determinasi L untuk suhu ruang sebesar 0.782, suhu kulkas sebesar 0.418, dan 0.066 untuk suhu freezer. Hasil pengukuran parameter nilai a* film
indikator menghasilkan koefisien determinasi berturut-turut untuk suhu ruang, kulkas, dan freezer yaitu sebesar 0.7975, 0.5880, dan 0.7179. Sedangkan hasil pengukuran parameter nilai b* menghasilkan koefisien determinasi berturut-turut untuk suhu ruang, kulkas, dan freezer yaitu sebesar 0.8393, 0.4534, 0.3631. Persamaan linier nilai ohue menghasilkan koefisien determinasi tinggi berturut-turut 0.8536, 0.6586, 0.8061. Parameter nilai ohue pada suhu ruang memiliki persamaan regresi y = 0.0556x + 70.54 , sedangkanpada suhu kulkas mempunyai persamaan regresi yang dimiliki yaitu y=0.0447x + 71.485. Suhu freezer memiliki persamaan regresi y = 0.0317x + 72.919. Peningkatan suhu penyimpanan menyebabkan terjadinya peningkatan nilai ohue, dan semakin lama waktu penyimpanan juga menyebabkan ohue semakin meningkat.
Saran
Saran yang dapat diberikan dari penelitian ini, yaitu perlu adanya kajian mengenai jenis pewarna alami lainnya yang lebih tahan terhadap suhu serta perlu dilakukan penelitian lanjutan mengenai pengaplikasian kemasan cerdas ini pada suatu produk.
25
DAFTAR PUSTAKA
Ahvenainen R. 2003. Active and intelligent packaging. Di dalam : Ahvenainen R, editor. Novel Food Packaging Techniques. Abington : Woodhead Publishing. hlm 5-21
Anonim. 2009. Takut makanan kadarluarsa?. [Internet]. [diunduh 2013 Sept 9] Tersedia pada URL http://www.jepang.net/2009/08/takut-makanan-kadaluarsa.html
Apriyanto J. 2007. Karakteristik biofilm dari bahan dasar polivinil alcohol dan chitosan. [Skripsi]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.
Ardian FN. 2011. Pengaruh jenis pati terhadap kuat tarik dan persen pemanjangan plastik biodegradabel dengan metode grafting. ?. [Internet]. [diunduh 2013 Desember 7] tersedia pada http://elibrary.ub.ac.id/handle/123456789/26342 Charron CS, Clevidence BA, Britz SJ, Novotny DJ. 2007. The effect of dose size
on bioavailability of acylated and nonacylated anthocyanins from red cabbage (Brassica oleracea). Journal of Agricultural and Food Chemistry. 55(13):5354-5362
Ekasari W. 2009. Kubis Sayur Yang Kaya Manfaat. Departemen Farmakognosi dan Fitokimia Fakultas Farmasi Universitas Airlangga
Jackman RL, Smith JL. 1996. Anthocyanins and betalains. Di dalam : Hendry, G. F. And J.D. Houghton. Natural Food Colourants. London : Blackie Academic Prof : 244-309
Lestari IA. 2013. Pembuatan Label Cerdas Pendeteksi Escherichia coli. [Skripsi]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor
Marwati S. 2011. Kestabilan warna Ekstrak Kubis Ungu (Brassica oleracea)
sebagai Indikator Alami Titrasi Asam Basa. Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA FMIPA UNY, 11 Mei 2011 Marwati S. 2012. Aplikasi Beberapa Bunga Berwarna sebagai Indikator Alami
Titrasi Asam Basa. Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA FMIPA UNY, 2 Juni 2012
Nofrida R, Warsiki E, Yuliasih I. 2013. Film Indikator Warna Daun Erpa (Aerva sanguinolenta) sebagai Kemasan Cerdas untuk Produk Rentan Suhu dan Cahaya. IPB. Pasca Sarjana.
Nurdiana D. 2002. Karakteristik fisik edible film dari kitosan dengan sorbitol sebagai plasticizer. [skripsi]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.
Putri CDW. 2012. Kemasan cerdas indikator warna untuk mendeteksi kesegaran buah potong nenas.[Skripsi]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor
Robertson GL. 2006. Food Packaging –Principles and Practice. Second edition, CRC Press, Boca Raton, FL, USA.
Schonberger H, Maumann A, Keller W. 1997. Study of microbial degradation of plyvinyl alcohol (PVA) in wastewater treatment Plants. Di dalam. Apriyanto J. 2007. Karakteristik biofilm dari bahan dasar polivinil alcohol dan chitosan. [Skripsi]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.
Seafast Center. 2012. Pewarna alami untuk pangan. Bogor (ID): Seafast Center Sheftel VO. 2000. Indirect Food Additives and Polymer : Migration
26
[SLTC] Society of Leather Technologists and Chemists. 1996. Official methods of Analysis. Northampton (UK): SLTC. Publisher, 736-737, 1167-1169. Smith H. 1975. Phytochrome and Photo Morphologenesis. Mc-Graw Hill Book Publishing
Sumarto. 2008. Mempelajari pengaruh penambahan asam lemak dan natrium benzoat terhadap sifat fisik, mekanik, dan aktivitas antimikroba film edibel kitosan .[Skripsi].Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Theresia V. 2003. Aplikasi dan karakteristik sifat fisik mekanik plastik
biodegradable dari campuran LDPE dan tapioka. [skripsi]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor
Usman H dan Akbar PS. 2008. Pengantar Statistika. PT Bumi Aksara, Jakarta. Vaikousi H, Biliaderis, Koutsoumanis KP. 2008. Development of a microbial TTI
prototype for monitoring microbiological quality of chilled food. Amerika : American Society for Microbiology
Vaikousi H, Biliaderis, Koutsoumanis KP. 2009. Applicability of a microbial Time Temperature Indicator (TTI) for monitoring spoilage of modified atmosphere packed minced meat. J Food Microbiol. 133 : 272-278
Warsiki E, Sunarti TC dan Damanik R. 2010. Pengembangan Kemasan Antimikrobial untuk Memperpanjang Umur Simpan Produk. Prosiding Seminar Tahunan Hasil-hasil Riset IPB Tahun 2009. Buku ke-5 : Rekayasa dan Teknologi Pangan. ISBN : 978-602-8853-03-3, 978-602-8853-08-8. hlm 579-588.
Warsiki E dan Sunarti TC. 2011. Evaluasi Sifat Fisik-Mekanis dan Permeabilitas
Film Kitosan. Jurnal Teknologi Industri Pertanian. ISSN : 0216-3160. Volume 21 No 3. hlm 139-145.
Warsiki E dan Putri CDW. 2012. Pembuatan label/film indikator warna dengan pewarna alami dan sintetis. E-J Agroindustry Indonesia. 1(2): 82 – 87
Warsiki E, Yuliasih I, Nofrida R. 2013. Smart Label for Milk Deterioration Detection. The 105 most Prospective Indonesia Innovation. The Ministry of Research and Tecnology, The Republic of Indonesia
Warsiki E, Mulyorini R. 2014. Smart Label to Detect Pathogenic Bacteria on Meat. Proceeding of Annually Seminar on Research Results of Bogor Agricultural University in Year of 2015. Vol 5: Food, Energy, Engineering and Technology (In Press)
Warsiki E, Rahayuningsih M, Latifah N. 2014. Smart Label for Rapid Detection of Staphylococcus aureus. Proceedingof National Seminar on Synergy of Food, Feed, and Renewable Energy. (In Press)
Warsiki E, Rahayuningsih M, Anggraeni RR. 2014. Color-Based Indicator From Various Selective Media as a Smart Label to Detect The Growth of Salmonella typhimurium. Agroindustrial Technology Journal. (Accepted)
Winarno FG. 1983. Kerusakan Bahan Pangan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Winarno FG. 1984. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
hal. 251
Winarno FG. 1997. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta (ID): Gramedia Pustaka Umum.
27
LAMPIRAN
Lampiran 1 Prosedur Analisis Uji 1. Uji Ketebalan Film (SLTC 1996)
Ketebalan film diukur dengan cara mengukur ketebalan pada tiga titik permukaan
film dan dihitung rata-rata dari hasil pengukuran. Pengukuran ketebalan menggunakan alat thickness gauge. Alat diletakkan di atas bidang horizontal dengan permukaan yang rata kemudian sampel diletakkan di antara tatakan dan penekan dengan sisi grain berada di atas (jika dapat diidentifikasi). Jika sisi grain-nya tidak dapat diidentifikasi, maka sampel diletakkan dengan salah satu sisi ke atas. Penekan dilepas, ditunggu sekitar 5 detik ±1 detik, kemudian angka yang terbaca pada meteran dicatat sebagai ketebalan. Hasil ketebalan yang terbaca kemudian dirata-ratakan.
2. Uji Kekuatan Tarik (SLTC 1996)
Pengujian kekutan tarik dilakukan dengan menggunakan alat tensile strength tester. Sampel dipasang pada alat penguji dengan cara menjepitkan kedua ujung sampel pada alat penjepit. Jarak antar jepitan adalah 5 cm. Setelah sampel terpasang, mesin dinyalakan dan dimatikan ketika sampel terputus. Kuat tarik ditentukan berdasarkan beban maksimum pada saat film pecah dan persentase pemanjangan didasarkan atas pemanjangan film saat film pecah. Nilai kekuatan tarik dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Kekuatan tarik
=
F = nilai yang terbaca pada alat (kgf) l = lebar kulit yang diuji (mm) t = ketebalan kulit (mm)
Berikut ini adalah bentuk sampel untuk uji kekuatan tarik
Dimensi (mm) :
L l1 L2 B b1 a
28
3. Perpanjangan putus atau elongasi (SLTC 1996)
Pengujian perpanjangan (elongasi) adalah pengukuran perpanjangan film
yang ditarik mulai dari kondisi awal sampai dengan akhir yaitu terputusnya film
pada saat pengujian kekuatan tarik. Perpanjangan dihitung dengan membandingkan perpanjangan film ketika terputus pada saat pengujian kekuatan tarik dengan panjang film diawal pengukuran. Penghitungan perpanjangan putus dilakukan dengan menggunakan rumus sebagi berikut:
Persen Perpanjangan putus =
100 % Keterangan :
a = panjang awal
b = panjang setelah putus
4. Konsentrasi Total Antosianin (Less dan Francis 1972 )
Konsentrasi antosianin diukur dengan teknik spektrofotometri. Sebanyak 1 ml filtrat hasil ekstraksi diencerkan hingga 100 mL dengan etanol 95 %: HCl 1.5 13 N (85:15). Filtrat kemudian diukur absorbansinya dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 535 nm (Dianawati 2001).Total antosianin kemudian dihitung dengan rumus :
Total Antosianin (mL/100 g sampel) = (Absorbansi × fp) × 100 98.2 × Wsampel (g) Dimana : fp = faktor pengenceran
Faktor 98.2 = nilai ε (serapan molar) dari pigmen antosianin dalam pelarut etanol 95% : HCl 1.5 N (85:15), yang merujuk pada absorbansi antosianin dalam etanol asam yang di ukur dalam celah selebar 1 cm pada panjang gelombang 535 nm dalam konsentrasi 1% (v/v).
Wsampel = berat sampel 5. Warna
Pengukuran warna dilakukan dengan menggunakan alat Colortex Colorimeter dengan spesifikasi Colorimetry IV Version 4.0. Nilai yang terbaca pada alat antara lain nilai L, a, dan b (tingkat kecerahan). Intensitas warna ditunjukan melalui nilai Chroma yang dihitung dengan rumus sebagai berikut :
√
O
H = tan-1 (b/a) Keterangan :
C = Chroma, menunjukkn intensitas warna sampel H = oHue, menunjukkan warna sampel
L = Tingkat kecerahan
a = merupakan warna campuran merah-hijau b = merupakan warna campuran kuning-biru
o
29 Akuades 100 mL Pemanasan 80-100oC PVA (3, 3.5, dan 4 gram (b/b) Gliserol (1, 2 dan 3) mL)
Pelarutan PVA dan pengadukan konstan
Larutan
film
Homogenisasi
Pencetakan dengan plat kaca ukuran 30 x 20 cm
Pengeringan suhu 50oC (oven) dan suhu ruang (25 + 3oC selama 24 jam
Pelepasan film dari cetakan
Film
Indikator
(2, 4, 6 ,8 dan 10 ) mL pewarna kubis merah
Lampiran 2 Diagram alir pembuatan film indikator warna (metode pencampuran)
30 Akuades 100 mL Pemanasan 100oC PVA (3, 3.5, dan 4 gram (b/b) Gliserol (1, 2 dan 3) mL)
Pelarutan PVA dan pengadukan konstan
Larutan
film
Homogenisasi
Pencetakan dengan plat kaca ukuran 30 x 20 cm
Pengeringan suhu 50oC (oven) selama 24 jam
Film Indikator
Pewarna kubis merah Lembaran film
Pengolesan pewarna
Lampiran 3 Diagram alir pembuatan film indikator warna (metode oles)
31
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Pandeglang pada tanggal 16 Desember 1990 sebagai putra pertama dari bapak Sudirja dan ibu Nurhayati. Tahun 2009 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Pandeglang dan pada tahun yang sama diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) dan diterima di Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian.
Selama menjadi mahasiswa, penulis aktif dalam beberapa organisasi dan perkuliahan. Pada tahun 2010 penulis menjadi panitia IASLS (Indonesian Agroindustrial Student Leader Summit) Forum Agroindustri Indonesia sebagai staf divisi acara. Pada tahun 2011 penulis juga menjadi panitia dalam acara Hari Warga Industri (Hagatri) HIMALOGIN IPB dan panitia Atsiri Fair HIMALOGIN IPB. Penulis juga aktif dalam kegiatan seperti menjadi asisten praktikum Teknologi Minyak Atsiri, Rempah dan Fitofarmaka dan asisten praktikum Teknologi Bahan Penyegar pada tahun ajaran 2012/2013. Penulis aktif dalam organisasi yaitu menjadi staff departemen Kewirausahaan tahun 2010-2011 Himpunan Mahasiswa Teknologi Industri (HIMALOGIN) Teknologi Industri Pertanian IPB dan Anggota Forum Agroindustri Indonesia (Foragrin)
Penulis melakukan Praktik Lapangan di PT. Rajawali II Unit PG Sindanglaut, Cirebon pada bulan Juni-Agustus 2012. Judul Praktik Lapangan yang diambil yaitu Mempelajari Aspek Teknologi Pengemasan, Penyimpanan dan Penggudangan di PT. Rajawali II Unit PG Sindanglaut, Cirebon. Pada tahun 2013 penulis berhasil menjadi Finalis lomba Espriex Business Model Canvas di Universitas Brawijaya Malang. Penulis melakukan penelitian di Laboratorium Dasar Ilmu Terapan dan Laboratorium Teknologi Pengemasan, Distribusi dan Transportasi serta Laboratorium SBRC - IPB dengan judul Label Cerdas Indikator Warna dari Ekstrak Kubis Merah (Brassica oleracea)