BAB V SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
"Langit Makin Mendung" (LMM) sebuah cerpen karya Kipandjikusmin sempat menghebohkan dunia sastra Indonesia. Cerpen yang dimuat majalah Sastra edisi Agustus 1968 itu mengundang reaksi keras umat Islam. Ratusan eksemplar majalah Sastra disita oleh Pihak Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara di Medan. Di Jakarta Umar Kayam, Taufiq Ismail, Trisno Sumarjdo, D.
Djajakusuma, dan Slamet Soekirnanto menyatakan protes atas pemberangusan majalah Sastra.
Cerpen LMM pun menyeret H.B Jassin selaku redaktur majalah Sastra ke meja hijau. Namun, di pengadilan H.B Jassin tetap tidak mengungkapkan identitas Kipandjikusmin. H.B. Jassin mengaku bahwa ia hanya berhubungan lewat surat dengan alamatnya yang selalu berpindah-pindah mulai dari Jakarta, Probolinggo, Singapura, hingga Surabaya.
Begitu bersikerasnya "Sang Paus Sastra" membela Kipandjikusmin hingga memunculkan tuduhan H.B. Jassin sendirilah sosok pengarang misterius itu. Tudingan pun takhanya tertuju kepada H.B. Jassin. W.S. Rendra juga dituding sebagai sosok di balik nama samaran Kipandjikusmin. Hal ini disebabkan
tercantumnya penggalan puisi yang kemudian diketahui milik Rendra pada cerpen LMM.
Kipandjikusmin sendiri taktinggal diam. Pengarang misterius ini
mengeluarkan pernyataan mencabut cerpennya dan menganggapnya tidak pernah ada: "Sebermula sekali bukan maksud saya menghina agama Islam. Tujuan sebenarnya adalah semata-mata hasrat pribadi saya mengadakan komunikasi langsung dengan Tuhan, Nabi Muhammad Saw., dan sorga, di samping menertawakan kebodohan di masa rezim Soekarno. Tapi rupanya salah menuangkannya ke dalam bentuk cerpen. Alhasil mendapat tanggapan di kalangan umat Islam sebagai penghinaan terhadap agama Islam."
Kipandjikusmin sebenarnya tidak berniat menjadikan dirinya misteri. Ia bahkan bersedia tampil pada saat itu. Namun, melihat H.B. Jassin yang
membelanya mati-matian di pengadilan ia merasa tidak pantas melangkahi orang tua, kilahnya. Dari wawancara majalah Ekspres pimpinan Goenawan Mohamad pada tahun 1970 akhirnya terungkap nama asli si pengarang yaitu Sudihartono lewat perbincangannya dengan Usamah, redaktur pelaksana majalah Ekspres. Kipandjikusmin menempuh pendidikan di Akademi Pelayaran Nasional. Selama enam tahun ia menjalani wajib dinas di Jakarta. Cerpen LMM merupakan representasi kejengkelan Kipandjikusmin pada situasi Indonesia pada masa Nasakom. Cerpen LMM menuai banyak tanggapan dan kecaman karena
memersonifikasikan Tuhan agama Islam hingga majalah Sastra yang memuatnya diberangus pihak Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara.
Wiratmo Soekito menilai bahwa tindakan pemberangusan majalah Sastra yang memuat cerpen LMM tidak dapat dibenarkan secara hukum. Namun, perihal Kipandjikusmin, Wiratmo Soekito menilai cerpen LMM bukanlah karya sastra yang baik. Senada dengan Wiratmo, Goenawan Mohamad yang berusaha tidak memihak (pro maupun kontra), menengarai bahwa kebebasan dapat pula menimbulkan kegelisahan. Cerpen LMM adalah cerminan dari eufhoria kebebasan yang menggelisahkan.
Jusuf Abdullah Puar menuding bahwa cerpen LMM telah menghina Nabi Muhammad dan agama Islam. Namun, Bur Rasuanto menilai bukan kali pertama cerpen seperti ini muncul di tanah air. "Robohnya Surau Kami" (RSK) karya A.A. Navis telah muncul jauh hari dan tidak dipermasalahkan. Bur Rasuanto menilai cerpen LMM dan RSK adalah sindiran terhadap orang-orang yang katanya
mengaku umat beragama Islam, namun berperilaku jauh dari ajaran agama. Walau demikian, Bur Rasuanto mengakui bahwa cerpen LMM bukanlah karya sastra yang berhasil, tetapi melarang dan menyita majalah Sastra karena telah memuat cerpen LMM hanyalah mempertontonkan sikap yang tidak dewasa dalam beragama.
A.A Navis menilai masalah pemberangusan majalah Sastra dalam empat aspek. Pertama, aspek hukum, bahwa tindakan Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara di Medan telah melanggar hukum dengan menjatuhkan putusan pemberangusan tanpa pengadilan. Kedua, aspek politik, peristiwa pemberangusan majalah Sastra sangat memungkinkan untuk ditunggangi kepentingan politik. Tindakan
sejarah pemberontakan daerah. Tindakan Kejaksaan Tinggi di Medan terhadap majalah Sastra menurut A.A. Navis sangat dapat ditumpangi oleh kepentingan golongan sisa PKI untuk membangkitkan sentimen umat Islam. Ketiga, aspek kebebasan mencipta akan tetap menjadi tanpa dasar jika pihak-pihak yang tidak memiliki integritas di bidang kesusastraan tetap ikut campur dalam menentukan nilai-nilai suatu karya sastra. Seharusnya pihak pengadilan meminta pertimbangan kritikus sastra terlebih dahulu. Apabila seorang penulis tidak memahami apa yang ditulisnya sendiri, maka ia adalah seorang yang tidak bertanggung jawab.
Sastrawan dengan hak memiliki kebebasan berkarya harus dapat
mempertanggungjawabkan apa yang telah ditulisnya di depan hukum yang berlaku. Keempat, aspek keagamaan, pandangan umat Islam di Indonesia menurut A.A. Navis memiliki kencenderungan tertentu yang sangat peka.
Taufiq Ismail menilai cerpen LMM yang memersonifikasikan Tuhan agama Islam sebagai "Tuhan yang memakai kacamata model kuno terbuat dari emas" dinilai cenderung kasar dan tidak metaforik. Menurut Taufiq Ismail, hal ini gagal secara literer. "Kalau dia Islam, maka kebebasannya berfantasi sudah sampai kepada kekeliruan besar dalam aqidah. Bukan mustahil dia bukan Islam, maka dia terlalu jauh masuk ke daerah fantasi ini yang juga salah besar
penggarapannya," tulis Taufiq Ismail.
Yahaya Ismail, seorang penulis Malaysia yang turut berpolemik, menganggap kontroversi LMM sebagai ketidakberdayaan Indonesia dalam mengambil tindakan. Ia membandingkan sajak penyair Malaysia, Kassim Ahmad yang sempat menjadi polemik dalam konteks menghina Islam. Menurutnya,
personifikasi Tuhan dalam cerpen LMM tidak sebanding dengan sajak "Sidang Ruh" karya Kassim Ahmad.
Mochtar Lubis berdiri di kubu pro terhadap cerpen LMM. Ia mengatakan dengan lantang bahwa kasus penutupan majalah Sastra karena memuat cerpen LMM adalah akibat dari sikap ketidaktoleran dunia pemikiran. Seperti halnya Galileo di masa silam nyaris dibakar karena mengatakan bumi mengelilingi matahari. Yang waras dianggap edan. Mochtar Lubis menegaskan kebebasan berpikir dan menyatakan pikiran sangat diperlukan pada saat itu.
Ajip Rosidi menilai bahwa Jassin sebagai orang besar telah memilih hak kreatif untuk berbuat salah. Salah dan gagal bukan berarti tidak berguna. Salah dan gagal akan memberikan kesempatan penilaian lain dari pihak lain yang akan memperkaya penilaian. Hal ini akan memunculkan pandangan-pandangan baru daripada harus tunduk pada satu ketentuan yang harus dianggap benar dari seseorang yang belum tentu benar, bahkan 'Paus' Sastra Indonesia sekalipun. Namun, menurut Bahrum Rangkuti cerpen LMM tersebut justru memiliki intuisi untuk merangsang umat agar mendalami ilmu agama.
Hamka ditunjuk Kejaksaan Agung sebagai saksi ahli di pengadilan. Ia bersedia ditunjuk sebagai saksi ahli karena merasa berutang budi kepada Jassin yang telah menepis fitnah Lekra terhadap karya-karya Hamka. Kedua orang ini adalah pecinta kebenaran. Namun, Hamka menilai bagimanapun cerpen LMM adalah sesuatu yang salah. Sepahitnya kebenaran harus diucapkan. Dalam sudut pandang Hamka, kali ini Jassin telah berlaku salah dengan memuat cerpen LMM.
Sebagai sahabat Hamka meminta kejaksaan untuk menghukum Jassin seringan mungkin.
Jassin tidak tinggal diam. Sebagai kritikus sastra yang disegani, ia banyak mengungkapkan pembelaan dengan pengetahuannya yang luas sehingga takjarang menghasilkan buah pikir yang brilian sehingga pengadilan berjalan alot. "Yang saudara adili di sini bukan saya, bukan Kusmin, bukan LMM. Yang saudara adili di sini ialah imajinasi, maka yang berkepentingan bukanlah saya atau Kusmin saja, tapi seniman kita yang mempunyai imajinasi itu. Saudara sedang mengadili imajinasi kreatif yang sedang menuntut kebebasannya demi kemajuan seni dan pemikiran," tulis Jassin dalam pleidoinya di Pengadilan, 2 September 1970.
Demikian, polemik menjadi berkepanjangan dari tahun 1968 s.d. 1970 dan mencakup bahasan yang sangat luas. H.B. Jassin divonis satu tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun. H.B. Jassin naik banding namun pengadilan tidak pernah digelar lagi. Hingga akhir hayatnya H.B. Jassin tidak pernah menerima surat resmi vonis pengadilan.
Setelah 39 tahun berselang, dapat dipahami bahwa cerpen LMM adalah buah dari eufhoria kebebasan berkarya. Setelah mengalami tekanan yang berat pada masa Lekra diawal 60-an, kemudian kesusastraan Indonesia merdeka sebebas-bebasnya, membuncah. Inovasi-inovasi dilahirkan, melahirkan karya- karya inkonvensional pada saat itu. Periode 60-an muncul drama minikata Putu Wijaya yang inkonvesional. Film-film berbagai rupa bebas ditampilkan. Namun, kebebasan selalu menyimpan sesuatu yang menggelisahkan. Cerpen "Langit Makin Mendung" adalah buah dari kebebasan yang menggelisahkan.