• Tidak ada hasil yang ditemukan

Simulasi Dengan Laptop melalui Link E1 konvert Ethernet

4.6 ANALISA DAN PENGECEKAN JARINGAN RADIO COMBA .1 Analisa Performansi Radio Comba

4.6.2 Pengecekan Segment Radio Comba

4.6.2.2 Simulasi Dengan Laptop melalui Link E1 konvert Ethernet

Setelah melalui pengetesan dengan alat ukur, untuk memastikan link tersebut dapat dilalui data maka dapat dilakukan simulasi menggunakan laptop. Dalam hal ini melakukan test ping End To End laptop A ke laptop B baik menggunakan beban maupun tidak menggunakan beban.

Berikut ini adalah skema simulasi test ping end to end :

Converter E1-Ethernet Converter E1-Ethernet

IP A : 114.2.4.218/30 IP B : 114.2.4.217/30

LAN E1

Gambar 4.43 : Skema simulasi test ping end to end

Seperti yang terdapat pada gambar diatas, untuk memulainya kita perlu memasangkan konverter disetiap sisinya dimana konverter berfungsi untuk mengubah koneksi dari E1 ke Ethernet agar dapat dilakukan ping test. Setelah kedua laptop di setup dengan masing-masing ip maka test ping dilakukan untuk mengetahui apakah kedua laptop tersebut dapat berkomunikasi layaknya transaksi

data pada jaringan sesungguhnya. Dan berikut ini adalah hasil dari simulasi test ping tersebut :

Gambar 4.44 : Hasil tes ping simulasi laptop

Dibawah ini percobaan test ping dengan beban byte standar 32 byte dengan jumlah ping tidak terbatas untuk mengetahui kualitas koneksi apakah terputus atau tidak.

Gambar 4.45 : Hasil ping test beban 32 byte normal tidak terputus

Dari gambar diatas telah dibuktikan bahwa dengan pengujian test ping menggunakan beban standartnya yaitu 32byte link dalam kondisi normal terkoneksi dengan baik tanpa terputus-putus koneksinya.

Kemudian mencoba test ping menggunakan beban 1000 byte dan berikut ini adalah sebagai hasilnya.

Gambar 4.46 : Test ping link RTO

Dari hasil test ping diatas menggunakan beban ternyata link tersebut mengalami RTO artinya jika link dilalui beban trafik yang lebih besar maka link tersebut akanputus atau down.

Dilihat dari sinyal RSL yang diterima dari kedua sisi nilainya sangat lah rendah yaitu disisi lokal -59 dBm dan remote -58 dBm. Dibuktikan dengan rumus untuk mengetahui berapa RSL seharusnya yang diterima. Untuk data pelanggan

dan spesifikasi perangkat terinstal dapat dilihat pada lampiran L.3. Antena yang digunakan pada transmisi microwave antara BTS Taman Galaxy dan Bank Mandiri Taman Galaxy menggunakan antenna microwave yang berdiameter 0,6 m dan frekuensi antenna 15 GHz serta efisiensi antena yang biasa dipakai adalah 55% atau sebesar 0,55. Untuk Tx Power 10dBm, gain antenna 37,20 dBi, loss antenna 3 dB dan jarak udara ±1,3Km. Maka dapat dihitung untuk RSL yang diterima dengan menghitung langkah sebagai berikut :

Menghitung nilai Free Space Loss (FSL) adalah sebagai berikut :

FSL = 92,45 + 20 log (fGHz) + 20 log (dKm) ……… (2.3)

= 92,45 + 20 log15 GHz + 20 log 1,3Km = 92,45 + 23,52 + 2,3

= 118,27 dB

Effective Isotropic Radiated Power (EIRP) adalah daya pancar dari antenna pemancar Masing-masing nilai tersebut untuk nilai daya pancar (Tx Power) sebesar 10dBm dan besarnya gain antenna adalah 37,20dBi, serta besarnya loss pada antenna pemancar adalah 3dB, sehingga nilai EIRP nya :

EIRP = PTx + Gant - LTx ………...………. (2.4)

= 10dBm + 37,20dBi - 3dB = 44,20dBm

Isotropic Received Level (IRL)

Nilai IRL ini merupakan nilai level daya antena stasiun penerima yang akan menentukan nilai daya terima yang akan diterima oleh sistem selanjutnya.

IRL = EIRP – FSL ………....….……. (2.5) = 44,20dBm – 118,87dB

= -74,67dBm

Received Signal Level merupakan level daya yang diterima oleh sistem. Besarnya RSL dihitung dengan persamaan :

RSL = IRL + GRx - LRx ………...………. (2.6)

= (-74,67dBm) + 37,20 dBi – 3dB = - 40,47dBm

Dalam penelitian ini RSL yang diterima oleh radio mengalami penurunan yang cukup jauh dari nilai perhitungan yaitu seperti pada gambar berikut :

Gambar 4.48 : RSL disisi radio remote

Dari hasil test ping diatas dengan RSL yang rendah dan dilalui beban yang cukup besar mengakibatkan link tersebut down atau terputus. Melihat acuan dari ATPC dan Alarm Tresshold seperti dibawah ini :

Gambar 4.49 : ATPC trigger level

Pada gambar diatas ATPC atau Auto Transmite Power Control bekerja pada range -20 dBm hingga -60 dBm dan settingan pada radio yaitu berada pada level -50 dBm artinya saat power level radio diterima pada nilai -50 dBm, ATPC

ini akan bekerja untuk menyesuaikan nilai power level yang aman seiring dengan keadaan berubah-ubahnya cuaca sepanjang jalur lintasan radio yang tentu akan mempengaruhi nilai power level yang diterima.

Gambar 4.50 : RSL alarm Threshold

Gambar diatas merupakan RSL alarm threshold yang artinya jika RSL mencapai nilai –60 dBm maka akan muncul alarm ODU dan hal ini mengindikasi bahwa link terputus atau down. Dari kasus yang terjadi dengan RSL yang terlalu rendah dan beban yang dilewatkan cukup besar sehingga mengakibatkan link terputus, maka solusi untuk kasus ini adalah dengan menaikknya power transmit masing-masing radio serta melakukan pointing dengan mensetting arah pancar dan arah terima antenna dengan mensetel pada mounting untuk mendapatkan RSL semaksimal mungkin.

Setelah power transmite dinaikkan menjadi 20dBm dan dilakukan pointing, maka seharusnya RSL yang diterima jika dihitung dengan rumus perhitungan adalah sebagai berikut :

EIRP = PTx + Gant – LTx ……….. (2.4) = 20dBm + 37,20dBi – 3dB = 54,20dBm IRL = EIRP – FSL ……..……….. (2.5) = 54,20dBm –118,27dB = -64,07dBm RSL = IRL + GRx - LRx ……….... (2.6) = (-64,07dBm) + 37,20dBi – 3dB = - 29,87dBm

Setelah dilakukan perubahan Tx Power menjadi 20 dBm dimasing-masing sisi dan dilakukan pointing untuk mendapatkan RSL maksimal maka diperoleh hasil sebagai berikut :

Gambar 4.51 : Tx dan RSL lokal radio setelah perbaikan

Setelah dilakukan perbaikan dengan menaikkan Tx Power menjadi 20 dBm dan pointing RSL disisi radio lokal adalah sebesar –29 dBm.

Gambar 4.52 : Tx dan RSL remote setelah perbaikan

Setelah dilakukan perbaikan Tx power disisi remote menjadi 20 dBm dan pointing maka RSL disisi radio remote kini menjadi –28 dBm. Dalam hal ini nilai yang sangat ideal untuk sebuah transmisi, jika terlalu besar maka maka perangkat akan mudah panas bahkan bisa mengakibatkan perangkat hang dan jika nilai terlalu rendah maka link bisa terputus ketika dilalui beban yang cukup besar.

Setelah melakukan perbaikan kualitas RSL maka akan dilakukan test ping untuk membandingkan hasilnya :

Gambar 4.53 : Simulasi test ping tidak terputus

Dan berikut ini percobaan test ping dengan menggunakan beban 1000 byte untuk menguji kestabilan link tersebut.

Gambar 4.54 : Test ping dengan beban 1000 byte

Dari hasil simulasi diatas telah dapat disimpulkan bahwa link radio mengalami penurunan RSL yang cukup banyak, karena faktor pemakaian radio dan pemasangan bracket antena yang kurang kencang sehingga arah antena dapat bergeser arah saat terkena angin yang cukup besar, namun dengan menaikkan Tx power radio dan melakukan pointing ulang serta mengencangkan mounting antena maka radio normal kembali tidak terdapat kendala putus koneksi setelah melalui pengetesan E1 maupun uji simulasi dengan laptop.

Namun dalam kasus ini ada segmen lain diluar radio comba yang terputus sehingga antara sisi customer belum bisa terkoneksi ke pusat dan untuk penanganan kasus selanjutnya dilimpahkan ke pihak Indosat selaku provider

Dari hasil segmentasi selanjutnya yang dilakukan oleh pihak provider jaringan, hasilnya ditemukan adanya koneksi E1 pasa sisi jaringan yang terputus disistem crossconnect management-nya yaitu E1 koneksi antara BTS Taman Galaxy – BTS Jatibening.

Hal ini dinyatakan oleh pihak provider setelah mendapatkan informasi dari tim teknisnya dan dibuktikan pada kronologi troubleticket online mereka seperti pada capture dibawah ini.

Gambar 4.55 : Kronologi pengecekan segmentasi

Dari kutipan kronologi tersebut diatas telah terlihat adanya problem pada koneksi BTS Taman Galaxy – BTS Jatibening, mereka melakukan reroute

crossconnect E1 yaitu dengan membuat crossconnect port baru pada sistem

management jaringan mereka karena port lama rusak atau problem.

Dari capture diatas dapat disimpulkan bahwa problemnya terdapat pada koneksi E1 mereka dan sudah dibuat koneksi E1 yang baru sehingga link dapat terkoneksi kembali. Dalam hal ini semua jaringan sudah dalam kondisi OK setelah dilakukan perbaikan dimasing-masing segmen, maka perlu dilakukan pengetesan jaringan end to end dari customer sampai ke pusat providernya melalui radio.

Berikut ini hasil simulasi sebelum dan sesudah dilakukan perbaikan koneksinya.

Dokumen terkait