IV. PERUMUSAN MODEL DAN PROSEDUR ANALISIS
4.2. Prosedur Analisis
4.2.4. Simulasi Model
Setelah model divalidasi dan memenuhi kriteria secara statistik, maka model tersebut dapat dijadikan sebagai model dasar simulasi. Peramalan dapat dapat dibedakan beberapa jenis dan tujuan simulasi, diantaranya adalah ramalan berdasarkan horison waktu, yang dibedakan menjadi ex post forecast, ex ante forecast dan backcasting, yang diilustrasikan pada Gambar 11.
Pada periode t1 menunjukkan batas waktu dari model yang dihitung dengan
data yang ada. Simulasi yang dibuat diantara t1 ke t2 disebut dengan ex-post
simulation atau historical simulation. Nilai historical series yang dimulai tahun t1
dan berakhir tahun t2, digunakan untuk variabel eksogen, sedangkan nilai
historical dalam t1 merupakan keadaan awal dari variabel endogen.
Sumber : Pindick dan Rubinfeld, 1998
Gambar 11. Horison Waktu Simulasi
Ex-post forecast menunjukkan kalau periode dugaan t2 < t3 maka peramalan
dapat dilakukan di akhir periode. Adapun pada ex-ante forecast yang dimulai dari t3 adalah simulasi atau perkiraan nilai dependent variabel yang didasarkan pada
variabel bebas dan dapat diteruskan hingga pada tahun-tahun berikutnya. Analisis kebijakan dilakukan untuk melihat dampak kebijakan domestik terhadap semua variabel endogen. Dengan demikian kita dapat mengetahui bagaimana reaksi variabel endogen terhadap perubahan variabel eksogen.
Menurut Pindick dan Rubinfeld (1991), tujuan simulasi model pada dasarnya adalah untuk (1) mengevalusi kebijakan pada masa lampau, dan (2) membuat peramalan untuk masa yang akan datang. Simulasi model diperlukan untuk mempelajari sejauh mana dampak dari perubahan variabel-variabel eksogen
Forecasting t2 t1 t3 (today) Estimation period Ex-ante forecast Ex-post forecast Backcasting Ex-post simulation or historical simulation Time (t)
terhadap variabel-variabel endogen di dalam model. Dalam kajian ini simulasi dilakukan untuk mengevaluasi alternatif kebijakan domestik dan perubahan faktor eksternal melalui simulasi historis (ex-post simulation) dan untuk mengkaji ramalan dampak alternatif kebijakan dan perubahan faktor eksternal melalui simulasi peramalan (ex-ante simulation).
4.2.4.1. Simulasi Historis
Simulasi historis dilakukan untuk menjawab tujuan kedua, yaitu mengevaluasi dampak kebijakan domestik maupun perubahan faktor eksternal terhadap penawaran dan permintaan minyak sawit Indonesia, penerimaan devisa, dan kesejahteraan pelaku industri minyak sawit Indonesia, tahun 2003-2007. Kebijakan domestik merupakan kebijakan pemerintah (pengenaan pajak ekspor minyak sawit, kuota domestik berupa peningkatan penawaran minyak sawit, dan kuota ekspor minyak sawit) dan kebijakan Bank Indonesia (penurunan Suku Bunga Bank Indonesia/SBI).
Adapun perubahan faktor eksternal merupakan perubahan selain kebijakan pemerintah yang terjadi di pasar domestik maupun dunia. Pada penelitian ini yang dimaksud perubahan faktor eksternal adalah perubahan harga minyak sawit dan harga minyak mentah dunia. Skenario simulasi historis yang dilakukan adalah tiga skenario kebijakan domestik dan dua skenario perubahan faktor eksternal.
Skenario Kebijakan Domestik
1. Peningkatan pajak ekspor minyak sawit, sebesar 50 persen
Peningkatan pajak ekspor minyak sawit merupakan upaya pemerintah untuk menanggulangi arus ekspor minyak sawit yang terlalu besar yang dapat menyebabkan pasokan untuk industri hilirnya terutama industri minyak
goreng sawit menjadi berkurang. Dengan peningkatan pajak ekspor minyak sawit tersebut diharapkan dapat menanggulangi masalah tersebut.
2. Penurunan tingkat suku bunga Bank Indonesia domestik sebesar 20 persen Dari sisi permodalan, dengan tingkat suku bunga pinjaman sekarang ini (16- 17 persen per tahun) dirasa masih kurang kondusif untuk usaha perkebunan, termasuk kelapa sawit. Suku bunga yang ideal untuk usaha perkebunan adalah sekitar 12 persen per tahun. Melalui simulasi ini akan dianalisis dampak dari penurunan suku bunga BI terhadap industri kelapa sawit domestik.
3. Peningkatan penawaran minyak sawit domestik sebesar 25 persen
Adanya kebijakan pemerintah yang mewajibkan setiap pengusaha minyak sawit untuk menyuplai minyak sawit untuk kebutuhan industri hilir minyak sawit domestik, terutama untuk industri minyak goreng.
Skenario Perubahan Faktor Eksternal
1. Peningkatan harga minyak sawit dunia 25 persen
Pemanfaatan minyak sawit sebagai bahan baku berbagai industri terus meningkat dari tahun ke tahun, mendorong peningkatan harga minyak sawit di pasar dunia. Peningkatan harga minyak sawit dunia dapat memicu peningkatan ekspor oleh negara produsen, termasuk Indonesia, sehingga mempengaruhi ketersediaan bahan baku industri domestik.
2. Peningkatan harga minyak mentah dunia 10 persen
Harga minyak mentah dunia yang semakin meningkat diduga dapat mempengaruhi industri kelapa sawit karena konsumen akan lebih tertarik dengan bahan bakar substitusinya, yaitu biodiesel, dimana biodiesel menggunakan bahan baku minyak sawit. Indonesia yang merupakan negara
penghasil minyak sawit terbesar di dunia berpeluang untuk memenuhi kebutuhan minyak sawit di pasar dalam negeri dan pasar dunia yang semakin meningkat tersebut.
4.2.4.2. Simulasi Peramalan
Salah satu tujuan penelitian ini adalah mengkaji ramalan dampak kebijakan domestik terhadap penawaran dan permintaan minyak sawit Indonesia, penerimaan devisa, dan kesejahteraan pelaku industri minyak sawit Indonesia, tahun 2012-2016.
Skenario Kebijakan Domestik
1. Pajak ekspor minyak sawit ditetapkan sebesar 20 persen. Penetapan pajak ekspor yang sering menjadi dilema antara kepentingan untuk melindungi konsumen domestik dan kepentingan untuk memperoleh devisa. Peningkatan pajak ekspor minyak sawit merupakan upaya pemerintah untuk menanggulangi arus ekspor minyak sawit yang terlalu besar yang dapat menyebabkan pasokan untuk industri hilirnya terutama industri minyak goreng sawit menjadi berkurang. Dengan peningkatan pajak ekspor minyak sawit tersebut diharapkan dapat menanggulangi masalah tersebut.
2. Pelarangan Ekspor
Apabila semua produksi minyak sawit tidak ada yang diekspor maka secara otomatis kebutuhan minyak sawit domestik akan tercukupi.
3. Peningkatan penawaran minyak sawit domestik sebesar 50 persen
Adanya kebijakan pemerintah yang mewajibkan setiap pengusaha minyak sawit dalam menyuplai minyak sawit untuk kebutuhan industri hilir minyak sawit domestik, terutama untuk industri minyak goreng.
4. Penetapan kuota ekspor sebesar 40% dari total produksi minyak sawit
Kebijakan ini diharapkan dapat menanggulangi masalah arus ekspor minyak sawit yang terlalu besar yang dapat menyebabkan pasokan untuk industri hilirnya terutama industri minyak goreng sawit menjadi berkurang. Penetapan kuota membuat pengusaha sawit harus menyisihkan minyak sawit untuk memenuhi kebutuhan domestik.