• Tidak ada hasil yang ditemukan

Simulasi Pengaruh Adopsi Benih Transenik pada Indeks Keberlanjutan Usahatani

Dalam dokumen HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 43-51)

4.3. Analisis Keberlanjutan Usahatani

4.3.2. Simulasi Pengaruh Adopsi Benih Transenik pada Indeks Keberlanjutan Usahatani

Selanjutnya dikaji nilai-nilai indeks pada intensitas penggunaan herbisida dan insektisida karena kedua faktor ini mengalami perubahan penggunaan (bertambah atau berkurang) dengan skenario adopsi benih jagung transgenik. Saat ini pada usahatni jagung hibrida dengan intensitas penggunaan pestisida (herbisida dan insektisida) yang tinggi tampak bahwa indeks agregat keberlanjutan cenderung lebih rendah dibandingkan dengan pada usahatani dengan pengunaan pestisida yang rendah. Pada Tabel 38 diperlihatkan nilai indeks indikator dan kriteria pada usahatani jagung hibrida menurut intensitas penggunaan herbisida (tinggi atau rendah).

Tabel 38. Nilai indeks indikator dan kriteria pada usahatani jagung hibrida menurut intensitas penggunaan herbisida

Kriteria Indikator Tinggi Rendah

EKOLOGI 77,4 102,5 Pupuk 114,4 107,8 Kesuburan relatif 74,5 83,7 Kemiringan lahan 109,8 103,8 Kompos 43,3 159,5 Herbisida 38,8 95,6 Insektisida 88,4 64,6 EKONOMI 100,4 93,0 Produktifitas 91,8 108,6 Biaya total 58,5 34,5 B/C ratio 155,5 124,6 Keuntungan 95,8 104,4 SOSIAL 86,8 75,7

Luas panen/ tahun 92,1 74,7

%-Kontribusi jagung 71,3 51,7

Pendidikan 93,0 107,0

Afiliasi kelompok 79,7 71,3

Indeks agregat keberlanjutan pada intensitas rendah sedikit lebih baik (90) dibandingkan dengan intensitas tinggi (87). Adanya herbisida sebagai input eksternal memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kriteria ekologis dengan perbedaan indeks yang jauh antara intensitas tinggi dan rendah. Kriteria ekonomi pada intensitas tinggi (100) lebih baik daripada indeks ekonomi pada intensitas rendah (93), demikian juga untuk kriteria sosial pada intensitas tinggi (87) lebih tinggi dibandingkan dengan intensitas rendah (76).

Walaupun petani menggunakan herbisida namun itu tidak memberikan produktifitas dan tingkat keuntungan yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan karena herbisida yang digunakan untuk penyiapan lahan (sebelum tanam) tidak langsung berkaitan dengan kinerja tanaman (berbeda dengan penggunaan insektisida yang langsung berpengaruh terhadap hama serangga penekan). Bahkan kalau herbisida digunakan untuk penyiangan gulma malah terdapat potensi kerusakan tanaman akibat pengaruh herbisida (gejala terbakar atau menguning, atau dengan istilah

crop injury) yang dapat mengurangi potensi hasil panen. Kondisi ini nantinya

dapat diperbaiki bilamana petani sudah dapat menerapkan benih jagung tahan herbisida sehingga injury tersebut dapat dihilangkan.

Akan tetapi menarik untuk dicatat dimana efisiensi (B/C rasio) untuk penggunaan intensitas tinggi memberikan angka yang lebih baik daripada intensitas rendah disebabkan oleh tenaga kerja yang digunakan untuk penyiapan lahan lebih sedikit. Adanya input herbisida pada kenyataanya membantu petani dalam penghematan tenaga kerja khususnya untuk kegiatan penyiapan lahan dan penyiangan gulma di antara baris tanaman. Dua kegiatan dalam budidaya jagung ini menempati porsi yang besar dalam penggunaan tenaga kerja. Alasan inilah yang tampaknya digunakan oleh para petani jagung di Lampung yang lebih banyak menggunakan herbisida, baik untuk penyiapan lahan tanpa olah tanah (TOT) maupun untuk penyiangan gulma. Herbisida yang digunakan oleh petani biasanya dapat berupa bahan aktif kontak yakni umumnya paraquat, bahkan ada sebagian petani yang justru menggunakan herbisida berbahan aktif sistemik yakni glifosat. Keduanya dapat memberikan efek kerusakan pada jaringan tanaman yang terkena oleh butiran semprotan pada jagung hibrida (non-transgenik) terutama kalau penyemprotan dilakukan secara tidak hati-hati atau pada saat

tanaman masih terlalu pendek. Hal ini sebenarnya kalau diteliti secara seksama akan dapat menurunkan hasil produksi mengingat daun-daun pada bagian bawah tanaman akan layu sehingga dapat mengurangi fotosintesis.

Pada Tabel 39 diperlihatkan nilai indeks indikator dan kriteria pada usahatani jagung hibrida menurut intensitas penggunaan insektisida (tinggi atau rendah). Indeks agregat keberlanjutan pada intensitas rendah lebih baik daripada indeks pada intensitas tinggi (92 vs. 81) terutama karena perbedaan menonjol dalam indikator-indikator penggunaan pupuk dan kompos, selain indeks penggunaan insektisida itu sendiri. Perbedaan indeks kriteria ekologi juga terlihat berbeda yakni 94 vs. 82. Namun indeks produktifitas dan keuntungan ternyata lebih baik pada penggunaan intensitas insektisida tinggi walaupun petani harus mengeluarkan biaya yang cukup tinggi membeli berbagai jenis input insektisida.

Tabel 39. Nilai indeks indikator dan kriteria pada usahatani jagung hibrida menurut tingkat penggunaan insektisida

Kriteria Indikator Tinggi Rendah

EKOLOGI 82,2 93,5 Pupuk 99,2 116,9 Kesuburan relatif 80,2 78,4 Kemiringan lahan 107,0 106,8 Kompos 95,4 102,2 Herbisida 79,3 60,5 Insektisida 32,2 97,8 EKONOMI 91,3 99,4 Produktifitas 109,6 95,5 Biaya total 31,7 53,8 B/C ratio 120,8 149,7 Keuntungan 103,3 98,5 SOSIAL 79,7 84,0

Luas panen/ tahun 83,6 83,7

%-Kontribusi jagung 50,2 66,7

Pendidikan 119,8 91,1

Afiliasi kelompok 78,8 74,1

AGREGAT 80,5 92,0

Hasil simulasi agregat keberlanjutan dengan adanya masukan teknologi benih transgenik disajikan pada Tabel 40. Terlihat bahwa dalam aspek ekologi faktor yang akan berubah dengan adopsi benih jagung transgenik terkait dengan

penggunaan herbisida dan insektisida. Indeks herbisida akan menurun pada adopsi benih tahan herbisida disebabkan oleh akan meningkatnya penggunaan herbisida dalam jumlah signifikan yang digunakan petani untuk melakukan penyiangan gulma di antara tanaman. Untuk adopsi benih tahan hama (Bt) akan ada perbaikan indeks karena penurunan jumlah insektisida yang digunakan petani. Untuk benih dengan kombinasi RR+Bt kedua fitur manfaat yang tahan herbisida dan hama penggerek batang/tongkol akan menjadi kinerja utama sehingga diharapkan memberikan manfaat lebih. Hal ini sebenarnya telah terkonfirmasi pada saat analisis WTP dimana petani cenderung mau membayar lebih untuk RR+Bt, kemudian disusul RR dan WTP yang terendah pada Bt.

Tabel 40. Nilai indeks menurut indikator, dimensi dan agregat pada usahatani jagung hibrida dan simulasi adopsi Bt, RR, dan RR+Bt.

Kriteria Indikator Hibrida Bt RR RR+Bt

EKOLOGI 89,9 95,3 84,4 89,8 Pupuk 111,2 111,2 111,2 111,2 Kesuburan relatif 79,0 79,0 79,0 79,0 Kemiringan lahan 106,9 106,9 106,9 106,9 Kompos 100,0 100,0 100,0 100,0 Herbisida 66,5 66,5 33,9 33,9 Insektisida 76,8 109,7 76,8 109,7 EKONOMI 96,8 106,7 109,8 111,8 Produktifitas 100,0 105,0 113,0 116,0 Biaya total 46,8 47,5 47,5 47,5 B/C ratio 140,4 166,2 178,9 183,6 Keuntungan *)median 83,3 99,1 98,4 98,1 SOSIAL 81,1 77,4 77,4 77,4

Luas panen/ tahun 83,6 83,6 83,6 83,6

%-Kontribusi jagung 61,7 44,9 *)

Pendidikan 100,0 100,0 100,0 100,0

Afiliasi kelompok 75,6 75,6 75,6 75,6

AGREGAT 88,3 91,0 89,0 91,5

*) faktor koreksi 0,7278 terhadap 61,67 dengan anggapan petani menambah investasi (awal) untuk membeli benih transgenik yang lebih mahal sehingga untuk indeks %-kontribusi menurun; untuk indeks keuntungan pada dimensi ekonomi dihitung berdasarkan nilai median

Pada kriteria ekologi terlihat dengan jelas bahwa indeks dari indikator-indikator selain herbisida dan insektisida adalah tetap, sedangkan indeks

keberlanjutan terkait penggunaan herbisida menurun pada adopsi RR dan RR+Bt, dan indeks keberlanjutan terkait penggunaan insektisida meningkat pada Bt dan RR+Bt. Untuk kriteria ekonomi perubahan yang terutama adalah peningkatan indeks produktifitas dan rasio B/C, dan keuntungan, sedangkan biaya total relatif tidak mengalami perubahan dengan adanya adopsi benih transgenik. Indeks biaya total relatif tetap karena kenaikan biaya untuk pembelian benih dan juga penghematan biaya akibat penghematan tenaga kerja dan pengurangan penggunaan insektisida adalah proporsional. Untuk kriteria sosial, satu-satunya indikator yang diperkirakan memberikan pengaruh adalah persentase kontribusi usahatani jagung terhadap penerimaan keluarga petani. Hal ini terkait dengan keinginan atau minat petani untuk mengeluarkan biaya tambahan (cash) untuk membeli benih jagung transgenik.

Secara agregat, indeks keberlanjutan menunjukkan ada perubahan pada level usahatani bilamana petani menanam benih jagung transgenik yakni dengan nilai agregat indeks keberlanjutan untuk RR+Bt sebesar 91,5, sebesar 91 untuk Bt, sebesar 89 untuk RR dibandingkan dengan 88 untuk hibrida biasa (konvensional) (Tabel 41). Apakah perubahan indeks keberlanjutan ini secara statistik signifikan atau tidak, maka dilakukan uji-t berpasangan terhadap rerata (mean) nilai indeks untuk masing-masing jenis benih jagung transgenik terhadap benih jagung hibrida. Hasil uji-t berpasangan (paired T-test) dengan hipotesis nol (H0) yang diuji adalah indeks keberlanjutan (IK) dengan adopsi benih jagung transgenik sama dengan IK benih hibrida, sedangkan hipotesis alternatif (H1) adalah IK benih transgenik lebih besar (lebih baik) dari IK hibrid disertai dengan batas bawah (lower bound confidence) pada tingkat 95% (α = 0,05), dan diperoleh hasil uji sebagai berikut:

Uji-t berpasangan rerata indeks keberlanjutan (IK) RR+Bt vs. hibrida N Rerata SD Galat rerata

IK RR+Bt 84 91,50 21,79 2,38 IK hibrida 84 88,30 22,58 2,46 Beda 84 3,196 8,819 0,962

Batas bawah (lower bound) 95% untuk beda rerata : 1.595

Uji-t untuk beda rerata = 0 (vs. > 0): nilai-t = 3.32, nilai-P = 0.001

Dalam hal ini nilai p < 0,05 sehingga hipotesis H0 (beda rerata = 0) ditolak dan H1 diterima, berarti IK dari RR+Bt signifikan lebih baik daripada IK dari hibrida.

Uji-t berpasangan rerata indeks keberlanjutan (IK) RR vs. hibrida N Rerata SD Galat rerata

IK RR 84 89,02 21,49 2,34 IK hibrida 84 88,30 22,58 2,46 Beda 84 0,714 8,582 0,936

Batas bawah (lower bound) 95% untuk beda rerata: -0.844

Uji-t untuk beda rerata = 0 (vs. > 0): nilai-t = 0.76, nilai-P = 0.224

Dalam hal ini nilai p > 0,05 sehingga hipotesis H0 (beda rerata = 0) diterima dan H1 ditolak , berarti antara IK dari RR sama dengan IK dari hibrida.

Uji-t berpasangan rerata indeks keberlanjutan (IK) Bt vs. hibrida N Rerata SD Galat rerata

IK Bt 84 91,04 21,75 2,37 IK hibrida 84 88,30 22,58 2,46 Beda 84 2,733 8,525 0,930

Batas bawah (lower bound) 95% untuk beda rerata: 1.186

Uji-t untuk beda rerata = 0 (vs. > 0): nilai-t = 2.94, niali-P = 0.002

Dalam hal ini nilai p < 0,05 sehingga hipotesis H0 (beda rerata = 0) diterima dan H1 diterima, berarti antara IK dari Bt lebih besar daripada IK dari hibrida.

Hasil uji tersebut menunjukkan bahwa secara agregat aspek keberlanjutan usahatani jagung pada prinsipnya malah akan lebih baik dengan adanya masukan benih transgenik berdasarkan faktor atau indikator yang dikaji dalam penelitian ini. Pola yang serupa dengan agregat di atas juga dapat diamati pada tingkatan provinsi (Gambar 35). Seperti yang telah dibahas di depan bahwa IK usahatani jagung hibrida pada saat ini di Jawa Timur ternyata lebih baik daripada nilai IK di Lampung. Hal ini terutama dipengaruhi oleh indikator penggunaan pupuk dan kompos yang lebih ideal atau baik di Jawa Timur. Dari segi lahan juga demikian, tipe lahan di Jawa Timur umumnya adalah lahan sawah dan datar dengan kesuburan relatif yang lebih baik. Disamping itu, penggunaan herbisida di Jawa Timur lebih rendah daripada di Lampung, sementara penggunaan insektisida relatif sama. Dari segi ekonomi tingkat produktifitas dan keuntungan usahatani jagung lebih tinggi di Jawa Timur. Dari segi sosial, hanya tingkat pendidikan yang lebih baik di Jawa Timur, sedangkan skala usaha, afiliasi kelompok dan persentase kontribusi jagung terhadap pendapatan keluarga ternyata lebih tinggi di Jawa Timur. Faktor-faktor ini juga secara proprosional memiliki pengaruh yang sama bilamana terjadi adopsi benih jagung transgenik oleh para petani sehingga

pola IK pada usahatani jagung Bt, RR, dan RR+Bt baik di Jawa Timur dan Lampung mengikuti nilai IK agregat.

Gambar 35. Rata-rata indeks keberlanjutan usahatani dengan benih jagung hibrida dan transgenik menurut provinsi.

Akan tetapi begitu aspek keberlanjutan ini ditelaah lebih mendalam akan terlihat variasi di antara wilayah kabupaten sebagai akibat dari adopsi jenis benih jagung transgenik (Tabel 41). Secara umum adopsi benih Bt dan RR+Bt akan cenderung memberikan indeks yang lebih baik daripada benih hibrida bila dibandingkan dengan benih RR. Terdapat beberapa kabupaten dimana nilai IK (indeks keberlanjutan) dengan adopsi benih transgenik tidak lebih baik daripada usahatani benih hibrida saat ini seperti terlihat untuk kabupaten Lampung Selatan, Blitar, Jombang, Kediri dan Nganjuk. Hal ini menyiratkan betapa perlunya memperbaiki indikator-indikator pada usahatani existing seperti yang diuraikan sebelumnya seperti penggunaan pupuk berlebih di Nganjuk, penggunaan pestisida yang intensif antara lain Lampung Selatan, Nganjuk dan Kediri. Sementara di beberapa kabupaten lain seperti Lampung Tengah, Lampung Timur, Malang dan Mojokerto terlihat bahwa dengan adopsi benih jagung transgenik nilai IK menjadi jauh lebih baik. Bahkan di Lampung Timur yang tadinya nilai IK hibrida sekitar 90, namun dengan simulasi adopsi benih transgenik jauh meningkat sehingga menyamai nilai IK tertinggi yang terdapat di Nganjuk.

Tabel 41. Nilai indeks keberlanjutan dengan adopsi benih transgenik menurut kabupaten Jenis benih B lit ar Jom b ang K edi ri L S el at an L T eng ah L T im ur Ma lang M oj o ker to N ganj uk

Hibrida saat ini 95,2 92,9 94,9 77,3 85,9 91,2 84,7 90,0 105,9 Benih Bt 93,2 92,4 93,2 78,2 89,0 102,9 94,8 95,7 104,9 Benih RR 91,0 89,9 92,0 76,0 87,2 101,4 92,8 92,7 103,6 Benih RR+Bt 93,2 92,6 93,8 77,8 90,0 104,4 95,8 95,5 105,7

Bahkan untuk kabupaten-kabupaten yang telah secara intensif menggunakan insektisida seperti Kediri, Nganjuk dan Lampung Selatan, ditemukan nilai agregat indeks keberlanjutan usahatani yang relatif tetap antara jagung hibrida dan transgenik. Hal ini menunjukkan pengaruh indikator insektisida yang buruk bagi indeks keberlanjutan saat ini akibat tingginya aplikasi insektisida oleh petani, sementara pengurangan dosis insektisida dengan adopsi Bt dan Bt+RR tidak sepenuhnya serta merta menghilangkan pengaruh tersebut (Gambar 36).

Gambar 36. Agregat indeks keberlanjutan (IK) usahatani dengan benih jagung hibrida dan transgenik pada kabupaten dengan penggunaan insektisida yang intensif

75 110

Hibrida Benih Bt Benih RR Benih RR+Bt

IK pada kabupaten dengan penggunaan insektisida yang intensif

Kediri L Selatan Nganjuk

Dari kelompok kabupaten-kabupaten yang telah secara intensif menggunakan herbisida yakni Jombang, Nganjuk, dan Lampung Tengah, agregat keberlanjutan antara benih hibrida relatif tidak berubah dan benih RR. Sedangkan di Malang, Mojokerto, dan Lampung Timur agregat keberlanjutan relatif membaik pada benih RR dibandingkan dengan benih hibrida (Gambar 37).

Gambar 37. Agregat indeks keberlanjutan (IK) usahatani dengan benih jagung hibrida dan transgenik pada kabupaten dengan penggunaan herbisida yang intensif.

4.4. Analisis Faktor-faktor Penentu Kelayakan Pengembangan dan

Dalam dokumen HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 43-51)