IV.
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Penilaian Kelayakan Ekonomi Adopsi Benih Jagung Transgenik 4.1.1. Karakteristik Petani Jagung Hibrida
Karakteristik petani jagung hibrida di wilayah penelitian disajikan pada Tabel 19. Dari sisi umur, baik petani di Jawa Timur maupun Lampung tergolong usia produktif. Sebagian besar responden petani di Jawa Timur, tingkat pendidikannya SLTP dan SLTA bahkan sekitar 11% adalah lulusan perguruan tinggi. Sementara di Lampung, sebagian besar responden petani berpendidikan SD. Indeks pertanaman (IP) jagung yang umum dilakukan petani adalah 1 – 2 kali dalam setahun dengan rata-rata di Jawa Timur dan Lampung masing-masing 1,63 dan 1,51. Di Jawa Timur dan Lampung, berturut-turut 51% dan 63% petani melakukan IP 2 kali/tahun.
Tabel 19. Persentase petani pada tiap kategori karakteristik petani jagung hibrida di wilayah penelitian
No Uraian karakteristik/kategori Jawa Timur Lampung
1. Usia petani (%) a. 17 - 25 tahun 0 2
b. 25 - 45 tahun 64 65 c. > 45 tahun 36 33 2. Tingkat pendidikan (%) a. SD 21 70 b. SLTP dan SLTA 68 30 c. Perguruan Tinggi 11 - 3. IP jagung (%) a. IP 1 kali/tahun 49 37 b. IP 2 kali/tahun 51 63
4. Skala usaha (%) a. Penggarap 15 8
b. 0 – 0,5 ha 48 3
c. 0,51 – 1 ha 12 30
d. 1,01 – 2 ha 25 42
e. > 2 ha 0 17
Pola tanam jagung di Jawa Timur dan Lampung berbeda. Hal ini karena umumnya petani di Jawa Timur melakukan budidaya jagung di lahan sawah setelah musim padi, sedangkan umumnya petani di Lampung membudidayakan jagung di lahan kering. Baik petani di Lampung, maupun di Jawa Timur, selain
berusahatani jagung juga melakukan budidaya komoditi pertanian lainnya, bahkan banyak petani jagung yang melakukan kegiatan usahatani ternak sebagai usaha sampingan khususnya kambing dan sapi. Komoditi lain yang umumnya ditanam petani jagung adalah padi, sayuran seperti cabe, kacang panjang, tomat dan palawija seperti kacang tanah dan lainnya. Pilihan jenis tanaman ini menunjukkan petani sebenarnya merespon kebutuhan pasar dengan menanam komoditas yang menghasilkan uang. Sementara petani jagung di lahan tegal, selain menanam jagung, ada juga yang menanam tebu, sayuran, palawija lainnya dan padi. Petani Lampung yang menanam jagung dua kali dalam setahun biasanya dilakukan pada MH (musim hujan) dan MKI (musim kemarau I). Sementara di Jawa Timur, petani umumnya menanam jagung setelah budidaya padi yakni di MK I dan atau di MKII.
Dari sisi luas tanam, di Lampung relatif lebih luas dibandingkan dengan Jawa Timur. Sebagian besar petani Lampung (89%) luas tanam jagungnya > 0,5 ha, sementara petani gurem (< 0,5 ha) dan petani penggarap (petani tidak memiliki lahan, menanam jagung dengan menyewa) hanya 11%. Di Jawa Timur justru sebanyak 63% petani memiliki luas tanam rata-rata <0,5 ha dan sebagai petani penggarap, sedangkan jumlah petani dengan luas tanam >0,5 ha sebanyak 37% dan tidak ada petani yang mengusahakan jagung di atas 2 ha (Gambar 17).
Gambar 17. Distribusi (persentase petani) luas pengusahaan jagung di wilayah penelitian Jawa Timur dan Lampung.
15% 48% 12% 25% 0% 8% 3% 30% 42% 17% 0% 50% Penggarap 0 - 0.50 Ha 0.51 - 1.0 Ha 1.01 - 2.0 Ha > 2 Ha Lampung Jawa Timur
Perbedaan skala usaha yang lebih luas di Lampung tampaknya membuat kontribusi usahatani jagung terhadap penerimaan keluarga di Lampung rata-rata 59% (dengan kisaran 20-100%) relatif lebih tinggi dibandingkan dengan di Jawa Timur rata-rata 44% (dengan kisaran 10-75%). Sumbangan usahatani jagung terhadap pendapatan keluarga cukup signifikan besarnya (Gambar 18). Hal ini terkait dengan uraian sebelumnya dimana 63% petani jagung di Lampung menanam jagung dua kali dalam setahun, sementara di Jawa Timur petani yang menanam jagung dua kali dalam setahun sekitar 51%.
Gambar 18. Rata-rata dan kisaran minimum-maksimum kontribusi usahatani jagung terhadap pendapatan keluarga
Dalam berusahatani, baik petani di lampung maupun Jawa Timur, sudah rasional. Hal ini dimungkinkan karena semakin berkembangnya teknologi informasi, pembinaan yang baik dari pihak Pemerintah khususnya Dinas Pertanian maupun pihak swasta dari produsen benih, pupuk atau produsen pestisida. Pilihan terhadap komoditi yang akan dibudidayakan lebih ditentukan oleh alasan ekonomi untuk mendapatkan pendapatan yang baik. Alasan ekonomi utama memilih usahatani jagung bagi petani di Jawa Timur adalah menguntungkan/stabil dan alasan ekonomi lainnya adalah biaya atau resiko usaha rendah dan mudah perawatan. Sedangkan alasan kondisi fisik adalah kecocokan dengan lahan dan ketersediaan air yang hanya cukup untuk jagung di MK II (Gambar 19). Sementara di Lampung, alasan ekonomi utama menanam jagung adalah karena mudah perawatan, dan berbagai alasan lainnya seperti umur jagung pendek bila
10% 75% 44% 20% 100% 59% 0% 25% 50% 75% 100% Minimum Maksimum Rerata Lampung Jawa Timur
dibandingkan dengan ubi kayu, harga memadai, diajak tetangga, adanya bantuan benih, dan berbagai alasan lain. Menurut petani, perawatan jagung relatif mudah karena tidak terlalu banyak gangguan hama penyakit, tidak seperti usahatani kedelai, padi atau sayuran.
Gambar 19. Alasan petani memilih usahatani jagung di Jawa Timur dan Lampung
4.1.2. Keragaan Budidaya Jagung Hibrida
Penggunaan agro-input di wilayah penelitian (Tabel 20) menunjukkan bahwa petani sangat menyadari pentingnya masukan teknologi budidaya yang baik (good agronomic practices) untuk mendapatkan produktifitas yang tinggi. Namun demikian ada sebagian petani yang cenderung menggunakan input dengan dosis yang berlebih seperti pupuk nitrogen. Hal yang mencolok adalah dosis pupuk Urea yang tinggi yakni rata-rata 450 kg/ha, jauh lebih tinggi dari anjuran yang umum untuk budidaya jagung yaitu sekitar 300 kg/ha. Secara umum, petani sudah menggunakan pupuk yang berimbang dalam budidaya jagung, dalam arti jenis pupuk yang digunakan tidak hanya pupuk urea tapi juga digunakan jenis pupuk lainnya seperti pupuk fosfor, KCL dan ZA. Sebagian besar petani, dalam menggunakan pupuk non-urea, lebih menyukai jenis pupuk majemuk khususnya Ponska daripada pupuk non-urea yang terpisah-pisah.
8% 4% 38% 8% 17% 8% 35% 17% 13% 8% 27% 0% 50% Mudah perawatannya Cocok/sesuai dengan lahan Terbiasa/tradisi menanam Lebih menguntungkan …
Biaya/risiko rendah Kemarau, sulit air
Lainnya Lampung
Tabel 20. Rata-rata tingkat penggunaan agroinput per hektar dalam usahatani jagung di wilayah penelitian.
Komponen Jawa Timur Lampung
1 Benih (kg) 23,03 18,80
2 Herbisida paraquat/glifosat (liter) 0,71 4,06
3 Insektisida
- Karbofuran (kg) 4,32 0,24
- Regent & lainnya (ltr) 0,52 0,05
4 Fungisida b.a. metalaksil (kg) 0,02 -
5 Pupuk
- Urea (kg) 553,10 336,77
- Pupuk Majemuk (Phonska/NPK) (kg) 171,99 57,23
- ZA (kg) 69,09 -
- KCl (kg) 6,92 56,24
- TSP/SP 36 (kg) 33,57 131,48
- Kompos (kg)+Tetes (ltr) 3.034,53 294,35
Secara keseluruhan, sebagian besar petani menggunakan benih jagung hibrida pada kegiatan usahatani saat ini sejumlah 20 kg/ha (Gambar 20). Namun di Jawa Timur petani menggunakan benih rata-rata sebesar 23 kg/ha, sedangkan di Lampung petani menggunakan benih rata-rata 18,8 kg/ha.
Gambar 20. Pola penggunaan benih (kg/ha)
Pola penggunaan pupuk di wilayah penelitian (Jawa Timur dan Lampung) memiliki pola distribusi seperti normal dengan frekuensi terbesar terletak pada dosis sekitar 600 – 700 kg/ha. Pola penggunaan pupuk dan kompos tertera pada Gambar 21 menggambarkan hubungan frekuensi jumlah pengguna vs. dosis yang berbeda. Dari Gambar nampak bahwa pola hubungan yang berbeda antara pupuk anorganik dan kompos dimana sebagian besar petani tidak menerapkan kompos sama sekali pada budidaya jagung.
Gambar 21. Pola penggunaan pupuk (kg/ha) dan kompos (kg/ha)
Secara keseluruhan, sebanyak 46% petani tidak menggunakan herbisida baik untuk penyiapan lahan maupun untuk penyiangan gulma dalam usahatani jagung hibrida saat ini, sedangkan 68% petani tidak menggunakan insektisida sama sekali seperti terlihat polanya pada Gambar 22.
Gambar 22. Pola penggunaan herbisida (ltr/ha) dan insektisida (ltr/ha)
Sistem budidaya jagung di lahan sawah dan lahan tegal relatif sama, dimulai dengan persiapan lahan hingga panen seperti terlihat pada Tabel 21. Di lahan sawah, persiapan lahan untuk usahatani jagung dilakukan dengan cara mengolah tanah yang pada umumnya menggunakan traktor. Khusus untuk MK I, banyak petani yang kondisi lahannya masih cukup gembur setelah musim padi di MH tidak lagi mengolah melainkan cukup dengan membersihkan lahan terutama rumputnya dengan cara disemprot dengan herbisida baik berbahan aktif sistemik atau kontak (tanpa olah tanah). Alasan petani menggunakan cara kimiawi ini umumnya karena sulitnya mendapatkan tenaga kerja untuk pengolahan tanah dan juga dapat menghemat biaya dan waktu.
Tabel 21. Tahapan kegiatan budidaya jagung di Jawa Timur dan Lampung
No Tahapan Jawa Timur Lampung
1. Penyiapan lahan
a. Olah lahan Traktor/cangkul/sapi, 15-30 HBT (hari sebelum tanam)
Traktor/cangkul/sapi b.Tanpa Olah
Tanah (TOT)
Umumnya dilakukan pada MK I
c.Pembersihan rumput
Dengan herbisida sistemik atau kontak
7-30 HBT
Dengan herbisida sistemik atau kontak
2. Penanaman Jarak tanam 60x20cm/70x20cm
3. Pemupukan 2 – 3 kali: 7-12 HST; 20-25 HST dan 30-35 HST (hari setelah tanam)
4. Penyiangan gulma
Secara manual dicabuti atau dicangkul, atau
menggunakan herbisida
Secara manual dicabuti atau dibantu sapi, atau menggunakan herbisida 5. Mendangir dan membumbun Dicangkul, sekaligus menyiangi gulma
Dicangkul, sekaligus menyiangi gulma jika tidak secara khusus melakukan penyiangan 6. Pengendalian HPT
a.Herbisida Berbahan aktif/cara kerja sistemik dan/atau kontak; Digunakan sebelum tanam atau menyiangi
Herbisida kontak atau sistemik, Digunakan sebelum tanam atau menyiangi
b.Fungisida Berbahan aktif metalaksil dan lainnya untuk mengurangi serangan penyakit bulai (downy mildew), Jarang digunakan; hanya jika terjadi serangan
c.Insektisida Berbagai bahan aktif/ formulasi hanya jika terjadi serangan 7. Pengairan Irigasi/pompanisasi/tadah
hujan pada saat tanam, saat pemupukan, dan
selanjutnya sekali per minggu jika tidak hujan
Hampir tidak ada
8. Panen Sistem tebasan atau diborongkan 110-120 HST
Diborongkan 110-120 HST
9. Pasca Panen Untuk non-tebasan Angkutan diborongkan
Persiapan lahan untuk usahatani jagung di lahan tegal, pengolahan tanahnya lebih bervarisasi, ada yang menggunakan traktor, ada yang dicangkul dan ada yang menggunakan tenaga sapi atau kerbau. Kegiatan penanaman dilakukan setelah persiapan lahan selesai dan sekaligus diatur jarak tanam. Jarak tanam yang umum diterapkan adalah 60x20 cm, 70x20 cm atau 75x20 cm. Umumnya petani sudah terbiasa pada saat penanaman benih jagung menambahkan insektisida dalam bentuk butiran dengan maksud mencegah serangan hama. Sedangkan fungisida biasanya sudah termasuk dalam seed
treatment sehingga petani sangat jarang menggunakan tambahan fungisida untuk
pencegahan. Terdapat beberapa petani menggunakan tambahan fungisida seperti saromil atau starmil (bahan aktif metalaksil) hanya jika terjadi serangan.
Apabila sebelum tanam tidak dilakukan pembersihan rumput, biasanya 10 HST sudah tumbuh rumput yang cukup lebat terutama jika jagung ditanam di MH dan MK I, sehingga petani melakukan penyiangan. Pada umumnya kegiatan penyiangan dilakukan secara manual atau dengan cara dicabuti atau bantuan alat cangkul atau kored oleh tenaga kerja upahan atau keluarga di Jawa Timur. Sedangkan di Lampung biasanya penyiangan dibantu ternak sapi. Sebagian petani menggunakan herbisida untuk melakukan penyiangan gulma/rumput. Dalam hal petani melakukan penyiangan secara kimiawi, penyemprotan dilakukan dengan hati-hati sehingga tidak mengenai tanaman jagung yang sudah tumbuh. Juga biasanya petani melakukan penyemprotan dengan sangat hati-hati yakni dengan mengarahkan nozel alat semprot dekat ke permukaan tanah untuk sedapat mungkin menghindari terkenanya butiran semprot pada daun tanaman. Jika sebelum tanam sudah dilakukan pembersihan rumput, biasanya setelah tanaman tumbuh rumput yang tumbuh tidak terlalu lebat sehingga kegiatan penyiangan tidak dilakukan secara khusus, melainkan sekaligus sambil kegiatan pendangiran dan pembumbunan dengan cangkul. Pendangiran dan pembumbunan adalah kegiatan pencangkulan dengan mengikuti larik tanaman dengan tujuan agar irigasi dan drainase lancar serta sekaligus penyiangan gulma/rumput.
Kegiatan pemupukan dilakukan dua sampai tiga kali hingga tanaman dipanen. Dewasa ini sebagian kecil petani tidak hanya menggunakan pupuk kimia, tetapi juga sudah menambahkan pupuk alami sehingga penggunaan pupuk kimia dapat dikurangi. Hal ini karena mereka sudah mulai menyadari bahwa penggunaan pupuk kimia yang terus menerus dan dalam jumlah yang berlebihan dapat merusak kondisi tanah, sehingga mereka menambahkan pupuk kompos/bokasi ke dalam tanah sebelum tanam atau bersamaan dengan pemupukan pertama. Ada juga yang menambahkan tetes tebu sebagai pengganti pupuk buatan urea khususnya, dengan alasan relatif lebih murah sehingga pengggunaan pupuk urea dapat dikurangi bahkan ada yang sama sekali tidak menggunakan pupuk urea, meskipun penggunaan tetes tebu menurut sebagian
petani justru akan memperburuk kondisi lahan. Alternatif pupuk nitrogen lainnya yang mulai dicoba petani adalah urine ternak sapi yang telah difermentasi.
Pada dasarnya sebagian besar petani belum melakukan pengendalian hama dan penyakit (HPT) secara preventif, namun lebih pada pengobatan. Hal ini dengan pertimbangan bahwa HPT dalam usahatani jagung tidak separah tanaman lain seperti padi, sayuran dan hortikultur lain. Kecuali furadan, insektisida lain digunakan hanya jika terjadi serangan hama. Jenis insektisida yang sering digunakan untuk melakukan pemberantasan hama adalah matador dan regent. Jenis penyakit yang sulit diatasi oleh petani adalah bulai (downy mildew).
Tanaman jagung sudah dapat dipanen pada umur sekitar 110 hingga 120 hari tergantung varietas jagung yang ditanam. Kegiatan panen ada yang menggunakan sistem tebasan dan ada yang menggunakan sistem borongan. Panen yang dilakukan dengan sistem tebasan adalah kegiatan panen yang sekaligus produk hasil panennya dibeli oleh pedagang pengumpul/tengkulak. Dalam hal ini petani jagung tidak lagi harus melakukan kegiatan pasca panen. Cara pembelian biasanya sekitar seminggu atau sepuluh hari sebelum panen, penebas akan datang kepada petani dan melihat tanaman di lapangan, lalu ditaksirnya kemungkinan hasil panen kemudian ditawarkannya harga pembelian. Dengan sistem tebasan, petani pemilik tanaman tidak mengetahui secara persis produktifitas yang dihasilkan dari lahan yang mereka garap, hanya sekedar taksiran saja. Pada umumnya pilihan panen dan penjualan dengan sistem tebasan dengan alasan bahwa tidak ada lantai jemur, cuaca buruk, sulit tenaga kerja, lebih praktis walaupun sebetulnya menurut perhitugan para petani jagung, akan lebih menguntungkan jika dipanen dan dipipil sendiri. Panen dengan sistem borongan artinya petani mengelola sendiri kegiatan panen dan pasca panennya. Biasanya dengan sistem ini, petani mengupahkan kegiatan panen termasuk pengupasan jagung dari kulitnya, dan petani terima jagung di rumah walaupun pembayaran ongkos angkut tetap tanggung jawab petani, tetapi bongkar muat masih tanggung jawab yang memborong kegiatan panen. Jagung dipanen dalam kondisi setengah kering atau tingkat kelembabannnya sekitar 20-30% dan dalam kondisi ini jagung sudah dapat dipipil. Kegiatan pemipilan biasanya juga diborongkan kepada
pemilik mesin pipil dan setelah selesai dipipil baru kemudian dijemur untuk mencapai kadar air sekitar 12-14 persen.
Tingkat produktifitas jagung (Tabel 22) di wilayah penelitian saat ini bervariasi dari 2.500 hingga 11.250 kg/ha dimana produktifitas rata-rata jagung di wilayah penelitian Jawa Timur (6.749 kg/ha) secara nyata lebih tinggi dibandingkan dengan produktifitas di Lampung (5.826 kg/ha). Di dalam penelitian ini dengan 125 orang responden, mengkonfirmasi tingkat produktifitas rata-rata yang lebih tinggi di Jatim dibandingkan dengan di Lampung. Secara statistik, produktifitas/ha rata-rata per musim di Jawa Timur berbeda sangat signifikan dibanding dengan produktifitas/ha rata-rata per musim di Lampung. Produktifitas rata-rata per tahun antara kedua propinsi ini tidak berbeda nyata secara statistik.
Tabel 22. Produktifitas rata-rata (kg/ha) per musim dan produktifitas total (kg/ha) per tahun petani jagung hibrida di wilayah penelitian yang diperoleh dalam penelitian ini
Keterangan Propinsi
Jawa Timur Lampung
Per Musim 1. Produktifitas rata-rata 2. Standar deviasi 6.749 2.017 5.826 1.457 Nilai F Nilai p 8,47 0,004 Per Tahun 1. Produktifitas rata-rata 2. Standar deviasi 9.833 3.686 9.255 2.997 Nilai F Nilai p 0,92 0,341
Indeks Pertanaman (IP) jagung 1,51 1,63
Keterangan: Nilai p < 0,05 berarti perbedaan nyata antar propinsi dengan tingkat 95%
Berdasarkan tingkat kesuburan tanah terdapat hal yang menarik dan konsisten sehubungan dengan tingkat produktifitas jagung ini, demikian berdasarkan tipe lahan, intensitas penggunaan pestisida dan tingkat pendidikan (Tabel 23). Semakin tinggi tingkat pendidikan petani maka produktifitas jagung di dalam usahatani juga semakin tinggi. Petani lulusan perguruan tinggi (diploma
atau sarjana) memberikan tingkat produktifitas tertinggi, hal ini menunjukkan bahwa tampaknya terkait dengan akses informasi terhadap baik permodalan maupun input teknologi usahatani jagung yang mendukung peningkatan hasil. Petani yang mempersepsikan tanahnya sebagai lahan yang subur memang ternyata memberikan produktifitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan produktifitas pada lahan yang dipersepsikan tidak subur atau sedang.
Tabel 23. Tingkat produktifitas jagung (kg/ha) di wilayah penelitian
Keterangan Nilai Keterangan Nilai
A. Tingkat Pendidikan 1. SD 2. SLTP 3. SLTA 4. Perguruan Tinggi Nilai F Nilai p 6.425 6.352 6.946 8.394 4,23 0,007 D. Kemiringan Lahan 1. Datar 2. Miring Nilai F Nilai p 6.564 5.847 4,59 0,034 B. Kesuburan Tanah 1. Subur 2. Sedang 3. Tidak subur Nilai F Nilai p 7.246 6.269 5.106 16,17 0,000 E. Intensitas Penggunaan Herbisida 1. Rendah 2. Tinggi Nilai F Nilai p 6.846 5.791 11,32 0,001 C. Tipe Lahan 1. Sawah 2. Tegalan Nilai F Nilai p 7.403 6.001 14,59 0,000 F. Intensitas Penggunaan Insektisida 1. Rendah 2. Tinggi Nilai F Nilai p 6.020 6.913 6,83 0,010 Keterangan: Nilai p < 0,05 berarti perbedaan nyata antar propinsi dengan tingkat 95%
Tingkat produktifitas jagung pada tanah subur, sedang dan tidak subur (menurut persepsi petani) secara berturut-turut adalah 7,2; 6,3; dan 5,1 ton/ha. Demikian juga terdapat perbedaan tingkat produktifitas rata-rata jagung menurut tipe lahan yakni lahan sawah dan lahan tegal dimana produktifitas di lahan sawah lebih tinggi daripada di lahan tegal. Kategori lahan datar memberikan produktifitas lebih tinggi dibandingkan dengan lahan yang dikategorikan miring. Penggunaan insektisida memberikan hasil yang lebih tinggi, sedangkan
penggunaan herbisida yang lebih tinggi memberikan produktifitas rata-rata yang lebih rendah. Hal ini menunjukkan bahwa aplikasi insektisida dapat menekan pengaruh merugikan dari serangga hama tanaman. Sebaliknya aplikasi herbisida khususnya pada penyiangan tanaman memberikan pengaruh merugikan terhadap hasil akibat kerusakan daun tanaman jagung terkena pengaruh semprotan herbisida.
Penerimaan/ha per musim untuk propinsi pada individual responden petani (Tabel 24) menunjukkan terdapat perbedaan rata-rata pendapatan antara Jawa Timur dan Lampung dan secara visual seperti ditunjukkan pada Gambar 23. Rata-rata penerimaan/ha petani di Jawa Timur dan Lampung berturut-turut adalah sebesar Rp 12,42 juta dan Rp 10,23 juta dimana penerimaan (revenue) di Jawa Timur lebih tinggi secara signifikan. Demikian pula dari aspek keuntungan yang diperoleh petani ada perbedaan nyata antara propinsi Jawa Timur yang lebih tinggi dibandingkan dengan propinsi Lampung.
Tabel 24. Penerimaan total, biaya dan keuntungan usahatani jagung hibrida (Rp 000/ha) di wilayah penelitian.
Keterangan Propinsi
Jawa Timur Lampung
Penerimaan total 12.416 10.229 Nilai F Nilai p 7,50 0,007 Biaya total 6.031 5.638 Nilai F Nilai p 0,62 0,434
Biaya tenaga kerja 1.964 2.378
Nilai F Nilai p 2,26 0,135 Biaya agroinput 4.067 3.259 Nilai F Nilai p 6,93 0,010 Keuntungan 6.385 4.591 Nilai F Nilai p 10,16 0,002 Rasio R/C 2,06 1,81
Gambar 23. Penerimaan usahatani dan tingkat keuntungan usahatani jagung (Rp 000/ha) di wilayah penelitian
Biaya total dan biaya HOK tidak berbeda nyata, sementara biaya agro-input berbeda nyata (Jatim > Lampung) seperti tertera sebelumnya pada Tabel 25, namun terdapat kecenderungan bahwa biaya tenaga kerja di Lampung lebih tinggi dibandingkan dengan Jawa Timur (Gambar 24).
Gambar 24. Biaya total agroinput, biaya total tenaga kerja dan biaya total usahatani jagung di wilayah penelitian
12416 10229 6385 4591 0 6500 13000
Jawa Timur Lampung
R
p
000
Penerimaan dan keuntungan usahatani jagung hibrida saat ini (Rp 000/ha)
Penerimaan Keuntungan 6031 5638 1964 2378 4067 3260 0 3250 6500
Jawa Timur Lampung
R
p
000
Biaya total, biaya tenaga kerja, biaya agro-input usahatani jagung hibrida saat ini (Rp 000/ha) Biaya total Biaya tenaga kerja Biaya agroinput
Produktifitas rata-rata jagung, penerimaan, biaya total dan tingkat keuntungan antar kabupaten (Tabel 25) menunjukkan terdapat perbedaan yang sangat nyata (nilai p < 0,01). Perbedaan yang sangat nyata ini menunjukkan variasi kinerja usahatani jagung yang beragam di dalam propinsi. Tingkat produktifitas rata-rata tertinggi di Jawa Timur dijumpai di kabupaten Kediri, Nganjuk dan Blitar sehingga memberikan penerimaan dan keuntungan yang tinggi di ketiga kabupaten tersebut. Di Lampung tingkat produktifitas tertinggi terdapat di Lampung Selatan, tingkat keuntungan tertinggi dijumpai di Lampung Tengah.
Tabel 25. Produktifitas (kg/ha), penerimaan, biaya dan keuntungan usahatani jagung hibrida (Rp 000/ha) per musim dan per tahun menurut kabupaten.
Kabupaten Produktifitas Penerimaan Biaya Keuntungan (%marjin keuntungan) Rasio R/C Per musim 1. Nganjuk 2. Mojokerto 3. Malang 4. Kediri 5. Jombang 6. Blitar 7. L. Timur 8. L. Tengah 9. L. Selatan 8.172 6.438 5.906 8.134 5.017 7.861 5.895 5.547 6.287 16.406 10.338 8.410 16.867 8.698 15.564 8.193 9.861 12.337 8.081 4.775 4.035 8.906 4.297 8.134 4.060 4.525 8.781 8.325 (51%) 5.563 (54%) 4.375 (52%) 7.961 (47%) 4.311 (50%) 7.430 (48%) 4.133 (50%) 5.337 (54%) 3.556 (29%) 2,06 2,30 2,20 1,94 2,03 2,00 2,19 2,26 1,46 Nilai F Nilai p 5,85 0,000 10,84 0,000 14,92 0,000 4,83 0,000 3,63 0,001 Per tahun 1. Nganjuk 2. Mojokerto 3. Malang 4. Kediri 5. Jombang 6. Blitar 7. L. Timur 8. L. Tengah 9. L. Selatan 12.137 9.937 10.813 11.340 8.139 8.469 11.299 9.662 7.069 24.651 15.702 14.797 23.396 13.720 16.790 15.454 17.034 13.325 11.719 7.469 6.995 12.337 7.100 8.920 7.445 7.672 9.374 12.932 8.233 7.802 11.059 6.620 7.870 8.009 9.362 3.951 Nilai F Nilai p 3,34 0,002 4,16 0,000 3,30 0,002 4,81 0,000 Keterangan: nilai p < 0,01 berarti sangat nyata pada tingkat 95%
Biaya tenaga tenaga kerja dan biaya agroinput usahatani jagung menurut kabupaten (Tabel 26) menunjukkan terdapat perbedaan yang sangat nyata (p < 0,01). Seperti telah diuraikan sebelumnya pengeluaran petani untuk agroinput di kabupaten Kediri, Nganjuk dan Blitar di Jawa Timur dan Lampung Selatan di Lampung adalah yang tertinggi dibanding dengan kabupaten-kabupaten lainnya. Penggunaan agroinput yang lebih tinggi ini memberikan kenaikan hasil yang tinggi pula di kabupaten-kabupaten tersebut.
Tabel 26. Biaya tenaga kerja dan agroinput usahatani jagung (Rp 000/ha) per musim menurut kabupaten.
Kabupaten Biaya tenaga kerja Biaya agroinput
1. Nganjuk 2. Mojokerto 3. Malang 4. Kediri 5. Jombang 6. Blitar 7. Lampung Timur 8. Lampung Tengah 9. Lampung Selatan 2.324 1.684 1.382 3.161 1.154 2.646 1.488 1.590 4.444 5.757 3.091 2.653 5.745 3.143 5.488 2.572 2.935 4.337 Nilai F Nilai p 12,35 0,000 10,67 0,000
Keterangan: Nilai p < 0,05 berarti perbedaan nyata antar propinsi dengan tingkat 95%
4.1.3. Simulasi Keragaan Usahatani Jagung Transgenik vs. Jagung Hibrida Pada bagian sebelumnya sudah dikemukakan mengenai sistem budidaya jagung hibrida oleh petani di masing-masing wilayah studi. Asumsi-asumsi tingkat harga benih, pestisida, upah tenaga kerja dan harga output panen yang diterima petani pada usahatani jagung saat ini dan diperkirakan akan terjadi bilamana adopsi benih transgenik, serta asumsi-asumsi untuk manfaat yang diperoleh bila mengadopsi benih jagung trasgenik jenis RR, Bt, dan RR+Bt telah dikemukakan pada Bab Metodologi. Tingkat harga input pupuk, kompos, dan input lainnya secara lengkap disajikan pada Lampiran 6.
Simulasi peningkatan hasil, penerimaan dan keuntungan finansil usahatani sekiranya petani melakukan adopsi benih jagung transgenik tertera pada Tabel 27.
Tabel 27. Simulasi peningkatan produktifitas (kg/ha), penerimaan (Rp ‘000/ha), penghematan biaya serta keuntungan (Rp ‘000/ha) dengan masukan benih jagung transgenik.
Skenario Jawa Timur Lampung
A. Hibrida aktual saat ini 1. Produktifitas 2. Penerimaan 3. Biaya total 4. Keuntungan 5. Rasio R/C 6.749 12.383 6.031 6.352 2,05 5.826 10.234 5.638 4.596 1,82 B. Dengan benih jagung Bt
1. Produktifitas (asumsi kenaikan 5%) 2. Penerimaan
3. Biaya total (asumsi penghematan 14%) 4. Keuntungan 5. Rasio R/C 7.086 13.002 5.187 7.815 2,51 6.117 10.746 4.848 5.897 2,22 C. Dengan benih jagung RR
1. Produktifitas (asumsi kenaikan 13%) 2. Penerimaan
3. Biaya total (asumsi penghematan biaya penyiangan Rp 500 ribu/ha) 4. Keuntungan 5. Rasio R/C. 7.626 13.993 5.531 8.462 2,53 6.583 11.564 5.138 6.426 2,25 D. Dengan benih jagung Bt+RR
1. Produktifitas (asumsi kenaikan 16%) 2. Penerimaan
3. Biaya total (kombinasi penghematan dengan Bt + RR) 4. Keuntungan 5. Rasio R/C 7.829 14.364 4.687 9.677 3,06 6.758 11.871 4.348 7.523 2,73
Analisis simulasi ini menggunakan harga benih dan output panen yang sama, yang membedakan adalah dari segi potensi peningkatan produktifitas dan penghematan biaya dengan adopsi benih transgenik. Dari analisis ini terlihat bahwa keuntungan per ha yang diterima petani dengan adopsi benih jagung Bt, RR, dan RR+Bt di Jawa Timur berturut-turut adalah Rp 7,8 – 8,4 juta, Rp 8,5 juta dan Rp 9,7 – 10,2 juta lebih tinggi dibandingkan dengan keuntungan jagung hibrida saat ini sebesar Rp 6,3 juta. Untuk Lampung keuntungan adopsi benih jagung Bt, RR, dan RR+Bt berturut-turut adalah Rp 5,9 – 6,4 juta, Rp 6,4 juta dan Rp 7,5 – 8,0 juta lebih tinggi dibandingkan dengan keuntungan jagung hibrida saat ini sebesar Rp 4,6 juta. Rasio penerimaan terhadap biaya (R/C) juga semakin
membaik dengan adopsi benih transgenik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa usahatani jagung hibrida sangat menguntungkan bagi petani, lebih-lebih lagi kalau benih transgenik dapat diadopsi. Selanjutnya disimulasikan pengaruh peningkatan harga benih transgenik karena adalah logis untuk menduga bahwa harga benih transgenik akan lebih tinggi (premium price) daripada harga benih hibrida saat ini.
Pada Tabel 28 disajikan simulasi analisis input-output usahatani dengan adanya premium harga benih transgenik sebesar 50% dari harga benih hibrida biasa. Di Jawa Timur petani menggunakan benih rata-rata 23 kg/ha, sedangkan di Lampung rata-rata 18,8 kg/ha. Jumlah yang sama diasumsikan digunakan oleh petani bilamana mengadopsi benih jagung transgenik.
Tabel 28. Simulasi analisis laba usahatani dengan harga benih transgenik premium (50%) terhadap harga benih hibrida biasa
Keterangan Dengan
hibrida saat ini
Dengan Benih Bt Dengan Benih RR Dengan Benih RR+Bt Produktifitas (kg/ha) Jawa Timur Lampung 6.749 5.826 7.086 6.117 7.626 6.583 7.829 6.758 Penerimaan (Rp 000/ha) 1) Jawa Timur Lampung 12.383 10.234 13.002 10.746 13.993 11.564 14.364 11.871 Biaya total (Rp 000/ha)2)
Jawa Timur Lampung 6.031 5.638 5.608 5.147 5.953 5.437 5.108 4.647 Laba (Rp 000/ha) Jawa Timur Lampung 6.352 4.596 7.394 5.598 8.039 6.127 9.256 7.224 Rasio R/C Jawa Timur Lampung 2,05 1,82 2,32 2,09 2,35 2,13 2,81 2,55 Titik impas (kg/ha)
Jawa Timur Lampung 3.287 3.209 3.057 2.930 3.244 3.095 2.784 2.646 Harga benih (Rp/kg) Jawa Timur Lampung 36.608 31.805 54.912 47.708 54.912 47.708 54.912 47.708 1)
Harga output panen untuk hasil hibrida biasa dan transgenik diasumsikan sama yakni Rp 1.834,8/kg di Jawa Timur dan Rp 1.756,6/kg di Lampung.
2)
TC (biaya total) dengan asumsi penghematan pada transgenik seperti pada Tabel 27, tetapi dengan harga benih transgenik premium 50%. Input benih 23,0 kg/ha dengan harga di Jawa Timur (Rp 36.608), di Lampung dosis input benih 18,8 kg/ha dengan harga Rp 31.805.
Sekiranya petani akan mengadopsi benih jagung transgenik (khususnya jagung RR dan/atau jagung RR/Bt), penghematan pada biaya tenaga kerja pada usahatani transgenik terjadi pada penyiangan gulma, sedangkan penghematan pada pengolahan lahan dikarenakan usahatani pada transgenik ini menggunakan sistem TOT (tanpa olah tanah). Komponen biaya lainnya seperti benih, pestisida dan herbisida justru mengalami peningkatan. Biaya input yang menyumbang biaya menjadi lebih besar pada usahatani transgenik ini. Harga benih transgenik yang cukup tinggi menjadikan biaya penggunaan agroinput lebih tinggi dibandingkan dengan usahatani hibrida.
Dari simulasi peningkatan harga benih terlihat bahwa keuntungan (per hektar) yang diterima petani dengan adopsi benih jagung Bt, RR, dan RR+Bt di Jawa Timur berturut-turut adalah Rp 7,4 juta, Rp 8,7 juta dan Rp 9,4 juta lebih tinggi dibandingkan dengan keuntungan usahatani jagung hibrida saat ini sebesar Rp 6,3 juta. Untuk Lampung keuntungan adopsi benih jagung Bt, RR, dan RR+Bt berturut-turut adalah Rp 5,6 juta, Rp 6,8 juta dan Rp 7,5 juta lebih tinggi dibandingkan dengan keuntungan usahatani jagung hibrida saat ini sebesar Rp 4,6 juta. Hal yang menarik juga diamati adalah biaya total pengeluaran usahatani transgenik tetap lebih rendah walaupun ada premium harga benih. Biaya usahatani dengan adopsi benih jagung Bt, RR, dan RR+Bt di Jawa Timur berturut-turut adalah Rp 5,6 juta, Rp 5,2 juta dan Rp 4,9 juta lebih rendah daripada biaya usahatani jagung hibrida saat ini sebesar Rp 6,3 juta. Untuk Lampung biaya usahatani transgenik Bt, RR, dan RR+Bt berturut-turut adalah Rp 5,1 juta, Rp 4,7 juta dan Rp 4,3 juta lebih tinggi dibandingkan dengan keuntungan usahatani jagung hibrida saat ini sebesar Rp 4,6 juta. Dengan simulasi ini titik impas produksi (TIP) usahatani jagung menjadi lebih rendah artinya akan lebih lentur terhadap kemungkinan perubahan produktifitas riil.
4.1.4. Pengaruh Makro Adopsi dan Potensi Kerugian Tanpa Adopsi
Berdasarkan data produktifitas jagung nasional selama kurun waktu 1990 – 2005 (Gambar 9 pada Bab Tinjauan Pustaka) terlihat sebenarnya peningkatan produktifitas yang cukup mantap sebagai akibat dari penerapan cara-cara budidaya yang intensif menggunakan benih hibrida, pupuk dan pestisida. Hal ini
terjadi pada kondisi perkembangan areal pertanaman jagung yang relatif flat 3 – 3,5 juta ha. Hal ini juga menunjukkan kontribusi faktor-faktor adopsi benih unggul baik hibrida maupun komposit, penggunaan pupuk, irigasi, dan teknik budidaya yang lebih baik yang dilakukan petani selama kurun waktu 15 tahun terakhir. Terdapat pertumbuhan produktifitas dan produksi yang inheren. Dalam analisis selanjutnya dibuat asumsi bahwa masukan teknologi benih transgenik merupakan faktor tambahan yang dilihat kontribusinya dalam produksi jagung nasional dengan asumsi-asumsi laju adopsi yang telah dikemukakan.
Dengan menggunakan kurva adopsi dengan model sigmoid (lihat Gambar 14 pada Bab Metode Penelitian) suatu skenario pengaruh adopsi benih jagung transgenik dilakukan untuk melihat tingkat produksi jagung nasional (total) dalam kurun 10 tahun setelah mulainya adopsi. Dengan merujuk pada perkembangan atau laju adopsi benih unggul jagung di Indonesia dalam 10-15 tahun terakhir yang menunjukkan terus kecenderungan peningkatan, dimana hasil (produktifitas) yang lebih tinggi merupakan pemicu utama adopsi. Hal yang sama pun diasumsikan dapat berlaku untuk adopsi benih transgenik karena menjanjikan hasil yang lebih tinggi dan juga manfaat lainnya yang menguntungkan petani. Adopter benih transgenik adalah petani hibrida yang sudah mengenal dan mengetahui manfaat yang akan diberikan oleh teknologi tersebut. Dengan WTP benih RR+Bt yang lebih tinggi daripada RR dan Bt hal ini sejalan pula dengan tingkat produktifitas dan manfaat lebih yang bisa diberikan oleh RR+Bt. Dengan asumsi yang realistis akan ada peningkatan sebesar 16% produktifitas dan jenis jagung transgenik RR+Bt sebagai pilihan terbaik, serta petani akan memilih opsi terbaik untuk usahatani yang lebih menguntungkan dan kompetitif. Perhitungan proyeksi produksi secara detil disajikan pada Lampiran 7. Proyeksi produksi dengan adopsi dan tanpa adopsi benih jagung transgenik selama 10 tahun ke depan disajikan pada Gambar 25. Skenario terbaik adalah terjadinya adopsi maksimum dengan penetrasi benih transgenik mencapai 85% dari luas areal pertanaman hibrida, sedangkan skenario yang moderat dengan penetrasi ke areal hibrida mencapai 35% saja.
Angka-angka proyeksi dalam penelitian ini dibandingkan dengan proyeksi produksi yang pernah dilakukan oleh Badan Litbang Pertanian (2005) dengan
mengasumsikan pertumbuhan laju produksi sebesar 3,27% per tahun selama kurun 2005-2025. Terlihat bahwa proyeksi produksi oleh Badan Litbang Pertanian lebih agresif bahkan bila dibandingkan dengan skenario proyeksi optimis yang dilakukan dalam penelitian ini. Perbedaan ini terutama disebabkan oleh faktor pertumbuhan luas areal pertanaman jagung: dalam penelitian ini luas areal jagung dianggap flat pada 3,8 juta ha setelah tahun 2009 sementara Badan Litbang Pertanian mengasumsikan laju areal peningkatan areal jagung 1%/tahun.
Tahun 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Pryeksi tanpa adopsi transgenik 14,58 14,94 15,31 15,68 16,07 16,47 16,87 17,29 17,72 18,16 Proyeksi adopsi transgenik (85%) 14,60 15,17 15,82 16,72 17,51 18,26 18,83 19,29 19,77 20,26 Proyeksi adopsi transgenik (35%) 14,60 15,05 15,62 16,24 16,77 17,25 17,68 18,11 18,56 19,02 Proyeksi Badan Litbang Pertanian (2005) 14,57 15,19 15,83 16,50 17,20 17,93 18,69 19,48 20,31 21,19 Gambar 25. Skenario produksi jagung nasional dengan adopsi vs. tanpa
adopsi benih transgenik serta dibandingkan dengan proyeksi Badan Litbang Pertanian.
9.2 9.7 9.2 9.7 10.911.2 12.5 11.6 13.3 13.914.2 14.614.9 15.315.7 16.1 16.5 16.9 17.3 17.7 18.2 9 11 13 15 17 19 21 99 00 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Pr o d u ksi ja gu n g n as io n al ( ju ta to n )
Tahun (mulai adopsi thn 2010) Skenario produksi jagung nasional dengan
adopsi vs. tanpa adopsi benih transgenik
Produksi, tanpa adopsi Produksi, adopsi max. 85% Produksi, adopsi max.35%
Pada tahun ke-10 setelah adopsi akan terjadi peningkatan produksi total jagung nasional sebesar 12% akibat adopsi teknologi benih jagung transgenik (skenario optimis) atau setara 2,1 juta ton, dan hanya sekitar 5% (skenario konservatif) atau setara 0,9 juta ton. Dengan proyeksi ini maka diharapkan kebutuhan akan jagung secara nasional dapat terpenuhi dan sekaligus mengurangi ketergantungan yang telah lama berlangsung akan impor. Sebagaimana diketahui impor biji jagung selama ini sebagian besar berasal dari negara-negara penanam benih jagung transgenik seperti Amerika Serikat, Brasil dan Argentina.
Terlihat bahwa pada tahun 2013 saja akan diperoleh kenaikan produksi sebesar 1 juta ton lebih bilamana asumsi adopsi 85% tercapai. Hal ini tentu saja akan dapat mengurangi ketergantungan impor jagung dari luar negeri yang sekaligus: - menghemat devisa negara dan – nilai tambah budidaya jagung (kelayakan finansialnya) akan dinikmati oleh petani di dalam negeri. Berbeda dengan impor jagung dari luar, nilai tambah justru dinikmati oleh petani luar negeri asal impor dan juga oleh para pedagang besar internasional. Peningkatan produksi penting untuk ke depan dengan alasan manfaat yang akan diterima petani dengan penanaman benih teknologi baru, dan yang penting juga terkait dengan neraca perdagangan komoditas jagung yang negatif. Seperti telah dikemukakan sebelumnya bahwa besarnya jumlah devisa yang digunakan untuk impor biji jagung dari luar negeri setidak-tidaknya berjumlah US $ 600 juta. Yang menarik adalah justru impor jagung dari luar negeri itu berasal dari negara-negara seperti Amerika Serikat, Argentina dan Brazil dimana tanaman transgenik sudah ditanam petani dan dikomersialkan sejak lebih 1 dasawarsa lalu.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan secara gamblang potensi manfaat ekonomi dengan adopsi benih jagung transgenik (dengan mengambil contoh angka-angka proyeksi pada tahun ke-4 setelah adopsi) vs. perkiraan kerugian (kehilangan kesempatan manfaat) akibat tidak mengadopsi sebagai berikut:
(1) Dengan adopsi: Peningkatan produksi sebesar 1 juta ton/tahun senilai Rp 3,6 triliun (asumsi harga pasar saat itu Rp 2.500/kg dengan produksi pada tahun ke-4 dengan adopsi: 16,7 juta ton sedangkan tanpa adopsi 15,7 juta ton). Pada sub-bab analisis usahatani, marjin keuntungan petani jagung berkisar 30 – 55% dari penerimaan total.
Dengan mengambil 30% marjin keuntungan usahatani maka petani domestik akan mendapatkan nilai tambah keuntungan total Rp 1,08 triliun.
(2) Tanpa adopsi: Setidaknya potensi nilai penerimaan total usahatani jagung yang hilang tanpa adopsi sebesar Rp 3,6 triliun, ini setara dengan penerimaan usahatani jagung sebesar Rp 2,4 juta/ha; atau setara dengan devisa US $ 400 juta yang akan dikeluarkan untuk mengimpor sebanyak 1 juta ton jagung dari luar negeri. Potensi penerimaan yang seharusnya dapat dinikmati oleh petani dalam negeri dengan menanam benih transgenik tidak akan terjadi bilamana tanpa adopsi, melainkan nilai yang setara dinikmati oleh petani jagung negara asal impor.
4.2. Kebersediaan Petani Membayar Benih Jagung Transgenik
4.2.1. Penggunaan Benih dan Tingkat Harga Benih Jagung Hibrida Saat ini Pada umumnya petani jagung di hampir seluruh wilayah studi di Jawa Timur (Kediri, Nganjuk, Blitar, Jombang dan Mojokerto) mengetahui seluruh varietas jagung yang diperdagangkan di pasar. Demikian juga dengan petani jagung di Lampung (Lampung Timur, Lampung Tengah, dan Lampung Selatan), umumnya mengetahui berbagai jenis varietas jagung hibrida maupun komposit yang diperdagangkan. Namun demikian jenis benih komposit ini sudah sangat jarang ditemukan di pasar atau kios-kios benih. Saat penelitian ini dilakukan, jenis varietas jagung yang beredar di pasaran adalah varietas jagung hibrida yakni Pioneer-11 (P11), Pioneer-21 (P21) yang dikeluarkan oleh Dupont Pioneer; NK-33 dan NK-22 yang dikeluarkan oleh Syngenta; C-7, C-9, 3, 979, DK-9910 yang dikeluarkan oleh Monsanto; dan Bisi-2 dikeluarkan oleh PT Bisi. Semua perusahaan tersebut merupakan perusahaan multinasional yang menghasilkan benih jagung atau sebagai produsen benih jagung hibrida yang diperkirakan menguasai setidak-tidaknya 75% pangsa pasar benih jagung hibrida di Indonesia. Semuanya memiliki fasilitas pabrik pengolahan dan penangkaran benih hibrida yang umumnya berlokasi di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Belakangan mulai bermunculan juga jenis merek hibrida lain seperti Jaya dan
Bioseed. Varietas jagung komposit hampir tidak dijumpai lagi di pasaran. Di daerah Kediri jenis jagung komposit yang masih beredar adalah varietas Arjuna, hanya sekitar satu persen dari total penjualan benih jagung. Ketersediaan jagung komposit ini untuk memenuhi permintaan petani di daerah pegunungan yang melakukan usahatani jagung secara tidak intensif. Penggunaan benih jagung komposit di Lampung juga sudah semakin jarang. Adapun petani yang menanamnya kebanyakan untuk menambah kekurangan benih jagung hibrida, sehingga penanamannya pun dicampur.
Saat studi ini dilakukan, harga benih jagung bervariasi menurut varietas dan tempat yang dapat dilihat pada Tabel 29. Harga benih jagung komposit baik di Jawa Timur maupun Lampung jauh lebih murah dibandingkan dengan benih jagung hibrida. Sementara varietas jagung hibrida yang termurah adalah varietas jagung Bisi-2 dan yang termahal adalah varietas jagung P-11 dan P-21. Ketika menjelang musim tanam, ketersediaan benih jagung umumnya mengalami kelangkaan seperti halnya ketersediaan pupuk dan secara otomatis harga mengalami peningkatan. Harga benih jagung hibrida varietas P-11 dan P-21 bisa mencapai Rp 60 ribu hingga Rp 65 ribu per kilogram, bahkan apabila petani membeli benih tersebut dengan cara membayar setelah panen harganya dapat mencapai Rp 70 ribu hingga Rp 75 ribu.
Tabel 29. Perbandingan Harga Benih Jagung di Jawa Timur dan Lampung, tahun 2007
No. Nama Varietas Jagung Produsen Benih Harga (Rp/Kg) di Jawa Timur Harga (Rp/Kg) di Lampung 1. Komposit Arjuna Tanindo (BISI) 21.000 20.000 2. Hibrida P-21 Pioneer (DuPont) 44.400 36.000 3. Hibrida P-11 Pioneer (DuPont) 45.000 45.000 4. Hibrida C-7 Dekalb (Monsanto) 33.111 34.000 5. Hibrida C-9 Dekalb (Monsanto) 32.930 32.665 6. Hibrida DK3 Dekalb (Monsanto) 34.000 35.000 7. Hibrida DK979 Dekalb (Monsanto) 38.333 37.000 8. Hibrida DK9910 Dekalb (Monsanto) 36.000 36.000
9. Hibrida NK33 Syngenta 39.142 36.000
10. Hibrida NK22 Syngenta 42.000 42.000
11. Hibrida Bisi2 Tanindo (BISI) 28.444 28.665 Harga rerata
hibrida
Umumnya harga benih hibrida di wilayah penelitian Lampung dan Jawa Timur berada di kisaran Rp 30 – 40 ribu per kg seperti diperjelas dengan plot titik di bawah ini. Harga rata-rata dan median berada di sekitar Rp 37 ribu untuk Jawa Timur dan Rp 36 ribu untuk Lampung. Di Lampung, harga benih bervariasi 79 – 124% dari harga rata-rata, sementara di Jawa Timur harga bervariasi 76 – 121% dari harga rata-rata. Hal ini dapat diartikan bahwa plus-minus 25% dari harga rata-rata petani masih terbiasa dengan pembelian benih (Tabel 30).
Tabel 30. Kisaran harga benih jagung hibrida per kg di wilayah penelitian propinsi Lampung dan Jawa Timur.
Wilayah Harga rata-rata Harga median Harga minimum (% dari harga rata-rata) Harga maksimum (% dari harga
rata-rata) Jawa Timur 37.336 37.170 28.440 (76%) 45.000 (121%)
Lampung 36.233 36.000 28.670 (79%) 45.000 (124%)
Secara umum di Jawa Timur maupun Lampung ditemukan petani yang loyal atau fanatik pada suatu varietas benih jagung hibrida tertentu. Dengan demikian ketika terjadi kelangkaan benih dan harga melambung tinggi, petani akan tetap mencari dan membeli varietas benih jagung yang menjadi favoritnya dan petani berani membayar lebih mahal dari harga yang biasanya diterima. Namun demikian, karena dewasa ini tersedia banyak verietas benih jagung hibrida substitusinya, terdapat batas maksimum harga yang berani dibayar petani, kecuali bagi beberapa petani yang betul-betul sudah fanatik pada varietas tertentu. Sebagai contoh, petani di Jawa Timur yang fanatik terhadap varietas P-21 berani membayar sampai dengan harga Rp 40 ribu hingga Rp 45 ribu per kilogram yang tadinya hanya sekitar Rp 38 ribu per kilogram. Lebih dari harga tersebut, sebagian besar petani fanatik benih jagung hibrida P-21 beralih ke varietas benih jagung hibrida lain yang relatif murah. Hal ini karena peningkatan harga yang terlalu tinggi tidak diikuti dengan peningkatan keunggulannnya, sementara varietas lain yang tersedia mempunyai keunggulan yang relatif sama tetapi dengan harga yang relatif murah. Masih terdapat beberapa petani fanatik benih jagung hibrida P-21 yang tetap membeli varietas benih jagung tersebut meskipun
harganya mencapai Rp 70 ribu per kilogram. Petani jagung di kawasan lahan tadah hujan tetap membeli varietas benih jagung hibrida P-21 berapapun harganya karena tidak tersedia substitusi dari varietas jagung tersebut menurut petani.
Loyalnya petani terhadap suatu merek (brand) benih jagung, sangat tergantung promosi, kedekatan dan adanya pembuktian-pembuktian keunggulan benih di tingkat petani baik melalui demonstrasi maupun melalui penelitian dan pemberian sampel benih gratis untuk dicobakan. Menurut informan di masing-masing wilayah penelitian, apabila suatu varietas benih jagung tertentu melalui demonstrasi di tingkat petani sudah terbukti keunggulannya maka petani tidak perlu disuruh-suruh lagi untuk menggunakan benih jagung tersebut melainkan mereka akan mencari sendiri dan bahkan ketika harganya meningkat sampai dengan batas tertentu mereka akan tetap setia membelinya. Oleh karena itu, varietas yang menjadi pilihan petani saat ini pada suatu wilayah tertentu adalah varietas dari produsen benih padi yang secara gencar melakukan promosi, demonstrasi dan pembinaan terhadap petani di wilayah tersebut.
4.2.2. Pengetahuan dan Minat Petani tentang Benih Jagung Transgenik dan Sumber Informasi tentang Teknologi Baru
Dari semua responden petani yang ditanya tentang apakah selama ini pernah mendengar jagung transgenik, di wilayah Lampung jawabannya sebagian besar belum pernah mendengar adanya jagung transgenik tersebut (88%) dan hanya 12% yang pernah mendengar (Gambar 26). Bila dibandingkan, maka porsi petani di Jawa Timur sedikit lebih tinggi yang sudah mendengar tentang teknologi jagung transgenik, yaitu sebanyak 19% petani pernah mendengar, sedangkan yang belum/tidak pernah mendengar sebesar 81%. Hal ini tampaknya sedikit banyak dipengaruhi oleh tingkat pendidikan responden, dimana semakin tinggi tingkat pendidikan petani kemungkinan besar akses informasi terhadap hal-hal baru lebih terbuka atau cepat. Di Lampung, 70% memiliki tingkat pendidikan SD, sedangkan selebihnya adalah SLTP dan SLTA masing 15%. Di Jawa Timur, 10% responden memiliki tingkat pendidikan setingkat Diploma dan Sarjana, sementara tingkat SLTP dan SLTA berturut-turut 40 dan 29%, selebihnya hanya 21% dengan tingkat pendidikan SD.
Gambar 26. Persentase petani yang pernah dan tidak pernah mendengar jagung transgenik.
Selanjutnya, bagi petani yang pernah mendengar adanya jagung transgenik, pengetahuan mereka pun sebenarnya sangat terbatas tentang jagung transgenik tersebut, yaitu hanya mengetahui jagung RR saja (tahan terhadap herbisida Roundup) sedangkan jagung Bt umumnya petani tidak mengetahui. Ketidaktahuan para petani terhadap produk transgenik tersebut menandakan bahwa perangkat lembaga sosialisasi kurang berperan dalam menyebarkan informasi mengenai teknologi baru. Pada penjelasan berikutnya dijelaskan bahwa media-media informasi seperti TV dan koran memberikan pengaruh paling kecil terhadap proses transfer informasi kepada petani. Justru mereka memperoleh informasi akan teknologi baru dari sesama petani atau kios-kios saprotan di wilayah mereka. Selanjutnya dalam wawancara dijelaskan kepada petani responden tentang keragaan teknologi benih jagung transgenik RR, Bt dan RR+Bt. Dalam penjelasannya dibantu dengan alat berupa gambar visual yang menggambarkan cara kerja teknologi tersebut berikut dengan potensi manfaatnya (baik manfaat tangible maupun yang intangible) yang nantinya dapat diperoleh oleh petani (Gambar 27 dan 28).
81% 19% 88% 12% 0% 100% Tidak mengetahui Mengetahui Lampung Jawa Timur
Gambar 27. Ilustrasi pengendalian gulma pada jagung non-RR dan RR.
Gambaran visual tersebut membantu petani dalam memahami kinerja dan potensi manfaatnya. Setelah dianggap memahami kinerja teknologi dan manfaatnya kemudian kepada petani ditanyakan pertanyaan seperti contoh ”kalau benih jagung tahan herbisida (contohnya jagung RR) sudah dilepas dan tersedia di pasar (kios benih) dengan manfaat yang sudah diketahui, apakah petani berminat akan menanamnya di lahan sendiri?”. Dengan mendengarkan penjelasan dan melihat gambar bantu tampaknya petani tidak sulit untuk memahami potensi manfaat benih transgenik RR dan Bt. Terutama untuk teknologi RR lebih mudah dipahami karena banyak petani yang menggunakan herbisida untuk penyiangan gulma. Hasilnya ditampilkan pada Tabel 31 dan Gambar 29.
Tabel 31. Jumlah dan persentase minat responden terhadap jenis jagung transgenik setelah mendengarkan penjelasan dan melihat gambar pada alat bantu.
Jumlah (persentase) petani
Jagung RR Jagung Bt Jagung RR+Bt
Jatim Lampung Jatim Lampung Jatim Lampung Minat terhadap benih transgenik 60 (92%) 57 (95%) 56 (86%) 53 (88%) 55 (85%) 52 (87%) Tidak berminat 5 (8%) 3 (5%) 9 (14%) 7 (12%) 10 (15%) 8 (13%) Jumlah 65 60 65 60 65 60
Sebagian besar dari responden petani (85% atau lebih) di Lampung maupun di Jawa Timur berminat untuk mencoba menanam jagung transgenik, baik jenis RR, Bt maupun RR+Bt. Minat terhadap jenis jagung RR mencapai 95% dari total responden di Lampung dan 92% untuk responden dari Jawa Timur. Minat responden terhadap jenis jagung Bt di Lampung sebesar 88% dan 86% di Jawa Timur. Minat responden terhadap jagung RR+Bt di Lampung mencapai 87% dan 85% di Jawa Timur. Persentase petani yang berminat adopsi benih RR relatif lebih tinggi (baik di Jawa Timur dan Lampung) karena lebih mudah dipahami secara praktis daripada benih Bt dan RR+Bt. Untuk komponen teknologi Bt petani tampaknya masih memerlukan penjelasan yang lebih praktis tentang pengaruh serangan hama penggerek. Pemahaman tentang keragaan dan kinerja suatu teknologi baru sangat menentukan minat petani untuk menerapkan suatu
teknologi atau variannya. Apakah petani akan secara aktual mengadopsi masih akan tergantung pada promosi dan hasil demplot yang dilakukan. Sekuen adopsi oleh petani sangat ditentukan oleh prinsip seeing is believing dengan melihat performa tanaman yang sesungguhnya di lapangan.
Gambar 29. Persentase minat responden terhadap jenis jagung transgenik
Uji korelasi antar variabel minat petani terhadap masing-masing jenis benih transgenik menunjukkan hal yang konsisten (berkorelasi positif 90% atau lebih baik) (Tabel 32). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar petani responden yang berminat akan salah satu jenis benih jagung transgenik diduga juga akan tertarik akan jenis yang lain. Korelasi yang baik antar variabel ini juga sekaligus menunjukkan bahwa efektifnya penjelasan (verbal dan visual) keragaan dan kinerja teknologi yang disampaikan pada responden pada saat wawancara, sehingga para responden dapat memahami dengan jelas mengenai teknologi tersebut. Pemahaman ini tentu diperlukan oleh petani dalam benaknya untuk menjawab pertanyaan berikutnya tentang keinginan petani untuk membayar seberapa besar harganya bagi masing-masing benih jagung transgenik.
Tabel 32. Korelasi antar variabel minat benih jagung transgenik.
Korelasi antar variabel Minat terhadap RR Minat terhadap Bt
Minat terhadap Bt 0,913 Minat terhadap RR+Bt 0,981 0,931 92% 95% 86% 88% 85% 87% 8% 5% 14% 12% 15% 13% RR Jatim RR Lampung Bt Jatim Bt Lampung RR+Bt Jatim RR+Bt Lampung
Apabila diperdalam analisis persepsi petani dengan menggali tentang saluran/sumber informasi mengenai teknologi/produk baru yang biasa sampai kepada para petani, tampak bahwa peranan kelompok tani/teman dan agen perusahaan/kios sangat besar. Sumber informasi tersebut kontak langsung dengan petani dengan komunikasi dua arah, dimana petani dapat bertanya lebih jauh tentang informasi teknologi/produk baru tersebut. Dalam hal ini tampak bahwa agen-agen perusahaan dan kios saprotan sudah lebih banyak memberi informasi kepada petani dibandingkan dengan penyuluh. Jawaban ini juga menunjukkan bahwa sumber informasi satu arah, seperti radio, surat kabar, bahkan tv kurang berperan sebagai sumber informasi yang dominan bagi petani (Gambar 30).
Gambar 30. Sumber informasi mengenai teknologi atau produk baru.
Kemudian, apabila informasi tentang teknologi baru, baik varietas, pupuk, dan lainnya, mereka tertarik untuk mencobanya. Namun pada awalnya masih dalam skala kecil dan bila terbukti memberi hasil yang baik, maka akan memperbanyak penggunaannya. Adapun sumber permodalan petani untuk budidaya jagung sebagian besar modal sendiri. Petani Lampung selain mengandalkan modal sendiri juga relatif banyak yang tergantung kepada pedagang pengumpul dengan meminjam modal dan menjualnya kepada pedagang tersebut (Gambar 31). Hal ini juga sekaligus menjelaskan bahwa dengan adanya
5% 5% 16% 3% 19% 0% 24% 28% 1% 4% 19% 4% 18% 1% 18% 34% 0% 40%
Radio TVRI TV Swasta Surat Kabar Pertemuan
Informal Buletin PPL/Petugas Perusahaan Kelompok Tani Lampung Jatim
peran perantara ini maka tingkat harga yang diterima petani sedikit lebih rendah daripada yang diterima petani di wilayah Jawa Timur. Dengan modal sendiri yang menjadi sumber pembiayaan usahatani maka secara logis dapat diduga bahwa situasi perubahan harga input menjadi faktor penting yang membuat petani untuk mengadopsi atau tidak mengadopsi suatu input teknologi baru.
Gambar 31. Sumber permodalan petani
Dari uraian pada Sub-Bab sebelumnya tampak jelas bahwa pemahaman petani akan manfaat suatu input teknologi mempengaruhi minat petani untuk menerapkannya. Oleh karena itu peranan saluran informasi yang efektif dalam penyampaian potensi atau kinerja suatu teknologi baru perlu mendapat perhatian. Lebih lanjut, mengingat sebagian besar petani menggunakan uang kas keluarga untuk melakukan pembiyaan usahatani maka keinginan/kebersediaan untuk membayar terhadap harga suatu input akan ditentukan sendiri dengan rasional yang tentunya terkait dengan potensiu manfaat yang dijanjikan. Khusus untuk Lampung, peranan pedagang pengumpul di tingkat desa juga kelihatannya berperan penting sebagai penyedia biaya (financier) yang dapat mendorong petani untuk menerapkan suatu jenis input.
4.2.3. Kebersediaan Petani Membayar Benih Jagung Transgenik
Tahap berikutnya adalah menanyakan kepada petani yang berminat seberapa besar kelebihan harga (lebih mahal) daripada harga benih hibrida biasa (misalkan harga Rp X per kg) yang petani mau bayar untuk benih jagung
68% 3% 65% 7% 2% 10% 81% 0% 0% 0% 0% 4% 0% 85% Modal Sendiri Kredit Bank/Lembaga Kredit Pdg. Pengumpul Bantuan /Subsidi Pemerintah Bantuan/Kredit Industri Lainnya
Jatim Lampung
transgenik tersebut untuk per kg. Teknik yang digunakan adalah dengan payment
card, dimana kepada petani ditunjukkan daftar harga sehingga petani yang
bersangkutan dapat memilih suatu angka harga yang diinginkan. Tabulasi respon petani terhadap WTP yakni keinginan untuk membayar disajikan dalam bentuk kisaran harga seperti pada Tabel 33. Untuk memudahkan analisis maka indikasi harga WTP yang direspon oleh petani dibuat dalam kisaran 0 – 4.000, 4.000 – 8.000, 8.000 – 12.000, 12.000 - 16.000, 16.000 - 20.000, 20.000 – 24.000, 24.000 – 28.000, dan 28.000 – 32.000 rupiah.
Tabel 33. Jumlah petani yang berminat akan benih jagung transgenik dan yang secara eksplisit menyatakan WTP, dikelompokkan dalam kisaran harga di Jawa Timur (Jatim) dan Lampung
Kisaran harga WTP (Rp)
Jagung RR Jagung Bt Jagung RR+Bt
Jatim Lampung Jatim Lampung Jatim Lampung
0 – 4.000 18 37 26 53 15 31 4.000 – 8.000 16 17 16 - 8 17 8.000 – 12000 17 3 9 - 11 4 12.000 – 16.000 7 - 4 - 12 - 16.000 – 20.000 - - 0 - 5 - 20.000 – 24.000 1 - 1 - 0 - 24.000 – 28.000 - - 0 - 4 - 28.000 – 32.000 1 - - - 0 - Jumlah 60 57 56 53 55 52
Deskripsi statistik WTP petani terhadap masing-masing jenis benih jagung transgenik, yakni kelebihan harga yang mau dibayarkan oleh petani di atas harga benih hibrida konvensional yang selama ini sudah dibeli, ditampilkan pada Tabel 34. Nilai rata-rata kelebihan WTP yang terbesar dijumpai untuk jagung RR+Bt disusul RR dan yang terkecil adalah untuk jagung Bt. Nilai median WTP untuk RR+Bt dan RR adalah sama yakni Rp 4.000; sedangkan nilai kwartil ke-3 (Q3) untuk RR+Bt adalah Rp 8.000 lebih tinggi daripada RR yakni Rp 7.500. Petani mau memberikan WTP rata-rata lebih tinggi untuk jagung RR+Bt dibandingkan dengan jagung RR dan jagung Bt. Sebagian besar petani menginginkan tingkat harga yang tetap hingga sekitar 10% (yakni Rp 4.000/kg sepersepuluh dari Rp 40.000/kg harga rata-rata benih hibrida yang umum dijumpai di pasar saat ini). Nilai rata-rata WTP premium lebih tinggi di Jawa Timur yakni berkisar Rp 4.511 – 8.947 dibandingkan dengan Lampung yang variasinya yakni Rp 16,7 - 1700.
Tabel 34. Statistik deskriptif nilai WTP premium (lebih mahal) Jenis benih
jagung trasngenik
Kelebihan WTP premium yakni yang mau dibayar petani lebih mahal untuk benih transgenik dari harga benih hibrida saat ini
Rata-rata Minimum Median Q3 Maksimum
Jawa Timur RR 7.121 0 5.000 10.000 30.000 Bt 4.511 0 5.000 8.125 20.000 RR+Bt 8.947 0 8.000 15.000 26.000 Lampung RR 1.600 0 0 4.000 8.000 Bt 16,7 0 0 0 1.000 RR+Bt 1.700 0 0 4.000 8.000
Kalau dianalisis lebih lanjut dengan mengelompokkan kisaran harga WTP premium pada 3 kelompok yakni: harga tetap – 10% lebih mahal; 10-30% lebih mahal; dan >30% lebih mahal, terlihat dengan jelas (Gambar 32) kecenderungan para petani yang sebagian terbesar sebenarnya menginginkan harga benih transgenik tidak lebih mahal 30% daripada harga benih jagung hibrida konvensional atau non-transgenik. Sekitar 35-55% petani di Jawa Timur dan Lampung mau membayar pada kisaran 10-30% lebih mahal dari harga hibrida saat ini.
Namun demikian terdapat porsi petani yang signifikan dengan WTP yang lebih mahal 30% di Jawa Timur untuk jagung RR, Bt dan RR+Bt berturut-turut 15, 9 dan 38%. Sedangkan di Lampung tidak dijumpai petani yang rela membayar lebih mahal 30% untuk ketiga jenis benih transgenik tersebut. Hal ini juga terlihat dari nilai median, Q3 dan maksimum WTP untuk ketiga benih tersebut lebih tinggi di Jawa Timur daripada di Lampung. Apreasiasi petani di Jawa Timur terhadap teknologi baru ternyata lebih tinggi yang sekaligus menunjukkan signifikannya jumlah sekelompok inovator dan early adopter rela membayar lebih mahal untuk teknologi yang menurut petani memberikan manfaat atau memenuhi kebutuhan mereka.
(1)
(2)
(3)
Gambar 32. Proporsi petani yang mau membayar harga benih transgenik: (1). RR, (2). Bt, dan (3). RR+Bt lebih mahal daripada harga benih hibrida
Kurva rata-rata WTP premium (sebagai sumbu-X) yang diplot terhadap jumlah petani (sumbu-Y) yang memilih tingkat premium WTP (lebih mahal daripada harga hibrida) ditampilkan pada Gambar 33. Kurva untuk RR+Bt dan
30% 55% 15% 65% 35% 0% 0% 25% 50% 75% 100% < 10% 10 - 30 % > 30% Pr o p o rsi p e tan i
Harga lebih mahal dari benih hibrida RR Jatim RR Lampung 46% 45% 9% 100% 0% 0% 0% 25% 50% 75% 100% < 10% 10 - 30 % > 30% Pr o p o rsi p e tan i
Harga lebih mahal dari benih hibrida Bt Jatim Bt Lampung 27% 35% 38% 60% 40% 0% 0% 25% 50% 75% 100% < 10% 10 - 30 % > 30% Pr o p o rsi p e tan i
Harga lebih mahal dari benih hibrida RR+Bt Jatim RR+Bt Lampung
RR baik di Jawa Timur dan Lampung lebih berdekatan satu sama lain dan lebih landai dibandingkan dengan kurva WTP untuk Bt. Hal ini menunjukkan kecondongan petani untuk membayar harga yang lebih tinggi bagi jenis RR dan RR+Bt. Terlihat untuk titik-titik harga rata-rata WTP yang lebih tinggi, baik kurva RR+Bt dan kurva RR berada di atas kurva Bt. Artinya relatif lebih banyak petani yang mau membayar lebih tinggi untuk benih jagung transgenik RR dan RR+Bt dibandingkan dengan benih Bt. Kurva minat akan semua jenis benih di Jawa Timur terlihat lebih landai dibandingkan dengan Lampung. Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa para petani di Jawa Timur lebih apresiatif terhadap teknologi baru dengan kecondongan yang lebih tinggi untuk membayar harga teknologi yang lebih mahal. Selanjutnya, Gambar 33 merupakan suatu model kurva yang menjelaskan hubungan jumlah petani yang berminat menerapkan benih transgenik (permintaan) terhadap rata-rata kisaran harga (lebih mahal daripada harga benih hibrida konvensional saat ini). Dengan model kurva ini kemudian diturunkan suatu hubungan persamaan regresi linier.
Gambar 33. Kurva jumlah petani peminat vs. WTP premium benih transgenik di Jawa Timur dan Lampung.
Hasil analisis regresi jumlah responden dan WTP rata-rata diperoleh persamaan dan koefisien determinasi yang semuanya memiliki nilai p untuk sidik
0 20 40 60 Ju m lah p em in at Harga WTP premium (Rp/kg) Kurva peminat benih transgenik di
Jatim vs. WTP premium Jatim RR Jatim Bt Jatim RR+Bt 0 20 40 60 Ju m lah P em in at Harga WTP premium (Rp/kg) Kurva peminat benih transgenik di
Lampung vs. WTP premium Lampung RR Lampung Bt Lampung RR+Bt
ragam regresi < 0,05 sebagai berikut (hasil analisis regresi dan sidik ragam tertera pada Lampiran 8): Jatim-RR = 82.1 – 7,92 ln_WTP R2 = 76,3% (p = 0,005) Jatim-Bt = 105 – 10,4 ln_WTP R2 = 96,8% (p = 0,000) Jatim-RR+Bt = 54,3 – 5,03 ln_WTP R2 = 66,7% (p = 0,013) Lampung-RR = 139 – 14,0 ln_WTP R2 = 88,8% (p = 0,000) Lampung-Bt = 165 – 16,8 ln_WTP R2 = 65,9% (p = 0,000) Lampung-RR+Bt = 121 – 12,1 ln_WTP R2 = 90,5% (p = 0,000)
dimana peminat RR, Bt, dan RR+Bt berturut-turut di Jawa Timur dan Lampung sebagai jumlah peminat benih transgenik untuk harga WTP rata-rata yang lebih tinggi daripada harga benih hibrida konvensional; ln_WTP merupakan logaritma berbasis natural (e) untuk harga rata-rata WTP premium. Persamaan regresi di atas secara indikatif dapat memprediksi seberapa besar jumlah atau proporsi petani responden yang berminat menerapkan benih transgenik dimana jumlah peminat (indikasi permintaan) berbanding lurus terhadap nilai negatif logaritma natural harga rata-rata WTP.
Untuk mengetahui tentang faktor-faktor yang mungkin mempengaruhi petani sehingga memberikan respond terhadap WTP yang berbeda-beda, dilakukan rangkaian sidik ragam (satu arah) WTP terhadap beberapa variabel yakni tingkat pendidikan, IP (indeks pertanaman), dan total luas pertanaman/panen dalam setahun. Hasil sidik ragam lengkap disajikan pada Lampiran 9. Ringkasan hasil sidik ragam ditampilkan pada Tabel 35. Tampak bahwa secara umum bahwa perbedaan profil petani dalam hal tingkat pendidikan berpengaruh terhadap WTP akan benih jagung transgenik, pengaruh yang tidak nyata hanya dijumpai terhadap WTP jagung RR+Bt. Sementara penguasaan aset berupa total luas pertanaman jagung dalam setahun semuanya berpengaruh terhadap WTP jenis jagung transgenik apa saja. Intensitas pertanaman palawija yang dilakukan petani (1 – 3 kali pertanaman jagung/ tanaman palawija lain) juga berpengaruh nyata terhadap WTP seluruh jenis benih transgenik.
Tabel 35. Ringkasan hasil sidik ragam WTP terhadap berbagai faktor
Keterangan Nilai statistik
Nilai F Nilai p A. Tingkat pendidikan a. WTP-RR b. WTP-Bt c. WTP-RR+Bt 3,37 4,78 0,94 0,021 *) 0,004 *) 0,425 ns) B. Indeks pertanaman a. WTP-RR b. WTP-Bt c. WTP-RR+Bt 16,50 32,88 19,04 0,000 **) 0,000 **) 0,000 **) C. Luas pertanaman a. WTP-RR b. WTP-Bt c. WTP-RR+Bt 4,04 3,62 2,39 0,000 **) 0,000 **) 0,001 **) Keterangan:
*) pengaruh signifikan faktor terhadap WTP pada selang kepercayaan 95% **) pengaruh signifikan faktor terhadap WTP pada selang kepercayaan 99% ns
) tidak ada pengaruh signifikan faktor terhadap WTP
Apabila ditelaah lebih lanjut, pengetahuan petani tentang manfaatnya maupun risiko atau kekurangan/kelemahan dari jagung transgenik tersebut sangat terbatas. Pendapat petani tentang manfaatnya mengarah pada sifat-sifat (trait) yang dapat memenuhi atau membantu mengatasi masalah teknis budidaya yang dihadapi selama ini. Secara umum komentar dan harapan petani selalu muncul dalam wawancara mengenai kemungkinan penerapan benih jagung transgenik ini adalah petani ingin secepatnya benih jagung tersebut untuk dikomersialkan, sehingga petani dapat membelinya di kios-kios. Hal ini setelah diberi penjelasan dan gambar tentang beberapa keunggulan jagung transgenik tersebut.
Berkaitan dengan sifat-sifat yang diharapkan petani dari benih jagung transgenik umumnya sangat bervariasi. Namun demikian keinginan terbanyak adalah agar jagung tersebut memberi produktivitas yang lebih tinggi dari hibrida biasa atau tahan terhadap hama penyakit. Jawaban selengkapnya terhadap pertanyaan apa saja yang diharapkan dari benih transgenik tersaji pada Gambar 34. Harapan petani terhadap jenis jagung transgenik adalah yang memiliki karakteristik dan kelebihan akan produktivitas yang tinggi baik Lampung dan Jawa Timur dan tahan terhadap hama khusus untuk Jawa Timur. Sedangkan untuk
ketahanan terhadap penyakit tinggi harapan petani di kedua propinsi. Dari deskripsi ini terlihat bahwa dengan pilihan jagung transgenik RR, RR+Bt dan Bt, setidak-tidaknya kebutuhan petani akan teknologi yang dapat meningkatkan produktifitas, tahan hama dan penyakit dapat terpenuhi atau terjawab. Hal ini juga menunjukkan bahwa harapan petani akan adanya jenis teknologi trait (sifat) lain yang dibutuhkan petani selain ketahanan hama/penyakit dan produktifitas tinggi juga mencakup efisiensi pemupukan, tahan kekeringan, bahkan sifat kandungan nutrisi yang lebih baik. Persentase petani di Lampung (dengan lahan kering/tegal yang dominan untuk pertanaman jagung) yang berharap benih transgenik tahan kekeringan lebih tinggi daripada di Jawa Timur. Umumnya sifat yang diapresiasi petani tersebut masih dominan dari kategori agronomis (baik ketahanan terhadap cekaman biotis maupun cekaman abiotis), sedangkan sifat yang terkait dengan kualitas output panen seperti kandungan nutrisi masih belum begitu diapresiasi oleh petani.
Gambar 34. Persentase harapan petani terhadap sifat jagung transgenik
4.3. Analisis Keberlanjutan Usahatani
4.3.1. Indeks Keberlanjutan Usahatani Jagung Hibrida saat ini
Seperti yang dikemukakan pada Bab Metodologi, penilaian indeks keberlanjutan dilakukan dengan pembobotan dimensi dan indikator yang sama
93% 17% 55% 7% 3% 22% 22% 43% 87% 79% 69% 13% 6% 10% 25% 25% 0% 100% Produktivitas Tahan hama Tahan penyakit Tahan genangan Kandungan nutrisi Tahan Herbisida Efisien pupuk
Tahan Kering Jatim