VIII. PERAMALAN DAMPAK KEBIJAKAN EKONOMI DI SEKTOR
8.1. Peramalan Dampak Kebijakan terhadap Permintaan dan
8.1.2. Simulasi Tunggal Perubahan Faktor Eksternal
Peramalan dampak simulasi peningkatan produksi gula China dilakukan sebagai upaya antisipatif bagi pemerintah Indonesia dalam rangka implementasi liberalisasi perdagangan gula ACFTA. Adapun dampak peningkatan produksi gula China 20 persen dapat dilihat pada Tabel 49. Peningkatan produksi gula China berdampak langsung terhadap penurunan impor gula China sebesar 19.529 persen pada periode 2011-2014 dan 23.957 persen pada periode 2015-2020. Penurunan impor gula China akan menurunkan impor gula dunia sebesar 0.951 persen pada periode 2011-2014 dan 0.994 persen pada periode 2015-2020. Penurunan impor gula dunia ini akan menurunkan harga gula dunia sebesar 3.560 persen (2011-2014) dan 4.444 persen (2015-2020).
Keterlibatan Indonesia dalam perdagangan dunia membuat segala gejolak yang terjadi pada pasar dunia langsung ditransmisikan pada pasar domestik, sehingga penurunan harga gula dunia akan menyebabkan penurunan harga gula eceran Indonesia melalui penurunan harga impor gula Indonesia 1.710 persen (2011-2014) dan 2.056 persen (2015-2020). Harga gula eceran ini mengalami penurunan sebesar 0.340 persen sebelum periode liberalisasi perdagangan gula ACFTA dan 0.419 persen pada periode liberalisasi perdagangan gula ACFTA. Penurunan harga gula eceran ini menyebabkan permintaan gula rumah tangga meningkat sebesar 0.185 persen (2011-2014) dan 0.231 persen (2015-2020). Penurunan harga gula eceran juga akan menyebabkan penurunan pula pada harga
gula tingkat pedagang besar sebesar 0.330 persen (2011-2014) dan 0.409 persen (2015-2020) sehingga permintaan gula industri meningkat 0.008 persen (2011-2014) dan 0.015 persen (2015-2020). Permintaan gula Indonesia akan meningkat sebesar 0.094 persen (2011-2014) dan 0.122 persen (2015-2020) seiring dengan peningkatan permintaan gula rumah tangga dan industri.
Tabel 49. Peramalan Dampak Peningkatan Produksi Gula China terhadap Permintaan dan Penawaran Gula Indonesia
No. Variabel Endogen Satuan Nilai Dasar Perubahan (%)
BA AA BA AA
1. Areal perkebunan besar negara Ha 88 470.1 91 075 -0.193 -0.261 2. Areal perkebunan besar swasta Ha 126 693 147 670 -0.013 -0.012 3. Areal perkebunan rakyat Ha 238 617 234 361 -0.050 -0.076 4. Produktivitas hablur negara Ton/Ha 4.3578 4.6109 -0.321 -0.397 5. Produktivitas hablur swasta Ton/Ha 6.9627 7.6122 -0.007 -0.008 6. Produktivitas hablur rakyat Ton/Ha 4.8519 4.1861 -0.047 -0.067 7. Produksi GKP negara Ton 386 788 421 185 -0.518 -0.656 8. Produksi GKP swasta Ton 885 552 1 128 436 -0.022 -0.019 9. Produksi GKP rakyat Ton 1 161 700 985 199 -0.096 -0.140 10. Produksi GKP Indonesia Ton 2 434 040 2 534 821 -0.136 -0.172 11. Produksi gula Indonesia Ton 4 332 967 4 209 037 -0.076 -0.103 12. Permintaan gula rumah tangga Ton 2 637 506 2 918 284 0.185 0.231 13. Permintaan gula industri Ton 2 763 026 2 954 823 0.008 0.015 14. Permintaan gula Indonesia Ton 5 400 532 5 873 107 0.094 0.122 15. Penawaran gula Indonesia Ton 6 801 666 6 762 361 -0.016 -0.021 16. Harga riil gula tingkat petani Rp/Kg 5 402.4 5 663.1 -0.329 -0.417 17. Harga riil gula pedagang besar Rp/Kg 5 632.5 5 875 -0.330 -0.409 18. Harga riil gula eceran Rp/Kg 5 967.1 6 179.7 -0.340 -0.419 19. Harga riil impor gula Indonesia Rp/Kg 4 805.8 5 156 -1.710 -2.056 20. Impor gula dari Thailand Ton 707 776 925 994 0.297 0.297 21. Impor gula dari China Ton 10 195.2 26 056.9 1.380 0.607 22. Impor gula Indonesia Ton 1 746 257 2 123 894 0.129 0.137 23. Ekspor gula Brazil Ton 25 155 099 2 698 8620 -0.152 -0.178 24. Ekspor gula Thailand Ton 3 492 231 3 872 515 -0.298 -0.335 25. Impor gula India Ton 1 930 761 2 449 443 1.853 1.824 26. Impor gula Amerika Serikat Ton 1 990 763 1 806 342 0.035 0.031 27. Impor gula China Ton 2 632 508 2 385 513 -19.529 -23.957 28. Harga riil gula dunia US$/Ton 407.3 407.3 -3.560 -4.444 29. Ekspor gula dunia Ton 53 615 282 56 434 941 -0.091 -0.108 30. Impor gula dunia Ton 50 011 773 52 633 659 -0.951 -0.994
Keterangan : BA = Periode 2011 – 2014 AA = Periode 2015 – 2020 Sumber : Data diolah, 2012
Penurunan harga gula tingkat pedagang besar selanjutnya akan ditransmisikan pada harga gula tingkat petani yang juga akan mengalami penurunan sebesar 0.329 persen (2011-2014) dan 0.417 persen (2015-2020). Penurunan harga gula tingkat petani dan pedagang besar ini akan menjadi disinsentif bagi petani perkebunan rakyat dan pengusaha perkebunan besar negara dan swasta dalam meningkatkan produksi gula. Hal ini ditunjukkan melalui penurunan areal dan produktivitas pada ketiga perkebunan yang pada akhirnya menurunkan produksi gula Indonesia sebesar 0.076 persen (2011-2014) dan 0.103 persen (2015-2020). Penurunan produksi gula Indonesia ini akan memicu peningkatan impor gula Indonesia. Impor gula Indonesia meningkat sebesar 0.129 persen (2011-2014) dan 0.137 persen (2015-2020) dengan peningkatan terbesar berasal dari China sebesar 1.380 persen (2011-2014) dan 0.607 persen (2015-2020). Penurunan produksi gula dan peningkatan impor gula Indonesia menurunkan penawaran gula Indonesia sebesar 0.016 persen (2011-2014) dan 0.021 persen (2015-2020).
8.1.2.2.Peningkatan Produksi Gula Thailand dan Brazil
Peramalan dampak peningkatan produksi gula Thailand dan Brazil ini dilakukan dengan dasar adanya wacana kedua negara akan mencapai keberhasilan panen. Adapun dampak peningkatan produksi gula Thailand dan Brazil dapat dilihat pada Tabel 50. Peningkatan produksi gula Thailand dan Brazil akan berdampak langsung pada peningkatan ekspor gula Thailand dan Brazil. Pada periode sebelum liberalisasi perdagangan gula ACFTA kebijakan tersebut mampu meningkatkan ekspor gula Brazil sebesar 21.951 persen yang masih lebih tinggi dibandingkan ekspor gula Thailand yang hanya sebesar 15.466 persen. Demikian juga pada liberalisasi ACFTA peningkatan produksi sebesar 20 persen akan meningkatkan ekspor gula Brazil sebesar 21.688 persen dan Brazil yang hanya sebesar 15.297 persen. Peningkatan ekspor gula kedua negara ini akan meningkatkan volume ekspor gula dunia sebesar 11.306 persen (2011-2014) dan 11.421 persen (2015-2020) yang kemudian akan menurunkan harga riil gula dunia dengan cukup besar yaitu 46.403 persen pada periode 2011-2014 dan sebesar 54.849 persen pada periode 2015-2020.
Tabel 50. Peramalan Dampak Peningkatan Produksi Gula Thailand dan Brazil terhadap Permintaan dan Penawaran Gula Indonesia
No. Variabel Endogen Satuan Nilai Dasar Perubahan (%)
BA AA BA AA
1. Areal perkebunan besar negara Ha 88 470.1 91 075 -2.569 -3.252 2. Areal perkebunan besar swasta Ha 126 693 147 670 -0.170 -0.135 3. Areal perkebunan rakyat Ha 238 617 234 361 -0.675 -0.961 4. Produktivitas hablur negara Ton/Ha 4.3578 4.6109 -4.225 -4.917 5. Produktivitas hablur swasta Ton/Ha 6.9627 7.6122 -0.102 -0.092 6. Produktivitas hablur rakyat Ton/Ha 4.8519 4.1861 -0.647 -0.853 7. Produksi GKP negara Ton 386 788 421 185 -6.712 -7.979 8. Produksi GKP swasta Ton 885 552 1 128 436 -0.274 -0.226 9. Produksi GKP rakyat Ton 1 161 700 985 199 -1.297 -1.762 10. Produksi GKP Indonesia Ton 2 434 040 2 534 821 -1.785 -2.111 11. Produksi gula Indonesia Ton 4 332 967 4 209 037 -1.003 -1.271 12. Permintaan gula rumah tangga Ton 2 637 506 2 918 284 2.458 2.875 13. Permintaan gula industri Ton 2 763 026 2 954 823 0.112 0.194 14. Permintaan gula Indonesia Ton 5 400 532 5 873 107 1.258 1.526 15. Penawaran gula Indonesia Ton 6 801 666 6 762 361 -0.206 -0.261 16. Harga riil gula tingkat petani Rp/Kg 5 402.4 5 663.1 -4.354 -5.154 17. Harga riil gula pedagang besar Rp/Kg 5 632.5 5 875 -4.336 -5.042 18. Harga riil gula eceran Rp/Kg 5 967.1 6 179.7 -4.441 -5.178 19. Harga riil impor gula Indonesia Rp/Kg 4 805.8 5 156 -22.444 -25.417 20. Impor gula dari Thailand Ton 707 776 925 994 3.907 3.669 21. Impor gula dari China Ton 10 195.2 26 056.9 17.555 7.335 22. Impor gula Indonesia Ton 1 746 257 2 123 894 1.686 1.689 23. Ekspor gula Brazil Ton 25 155 099 2 698 8620 21.951 21.688 24. Ekspor gula Thailand Ton 3 492 231 3 872 515 15.466 15.297 25. Impor gula India Ton 1 930 761 2 449 443 24.134 22.480 26. Impor gula Amerika Serikat Ton 1 990 763 1 806 342 0.421 0.362 27. Impor gula China Ton 2 632 508 2 385 513 6.535 10.532 28. Harga riil gula dunia US$/Ton 407.3 407.3 -46.403 -54.849 29. Ekspor gula dunia Ton 53 615 282 56 434 941 11.306 11.421 30. Impor gula dunia Ton 50 011 773 52 633 659 1.351 1.604
Keterangan : BA = Periode 2011 – 2014 AA = Periode 2015 – 2020 Sumber : Data diolah, 2012
Penurunan harga gula dunia ini ditransmisikan pada harga gula eceran melalui penurunan harga impor gula Indonesia. Harga gula eceran mengalami penurunan sebesar 4.441 persen pada periode 2011-2014 dan sebesar 5.178 persen
pada periode 2015-2020 sehingga permintaan gula rumah tangga akan mengalami peningkatan sebesar 2.458 persen (2011-2014) dan 2.875 persen (2015-2020). Lebih lanjut penurunan harga gula eceran ini menurunkan harga gula tingkat pedagang besar sebesar 4.336 persen (2011-2014) dan 5.042 persen (2015-2020) sehingga juga akan meningkatkan permintaan gula industri sebesar 0.112 persen (2011-2014) dan 0.194 persen (2015-2020). Permintaan gula Indonesia akan meningkat sebesar 1.258 persen (2011-2014) dan 1.526 persen (2015-2020) seiring dengan peningkatan permintaan rumah tangga dan industri.
Penurunan harga gula tingkat pedagang besar juga akan menurunkan harga gula tingkat petani, yang akan menurun sebesar 4.354 persen (2011-2014) dan 5.154 persen (2015-2020). Penurunan harga gula tingkat petani dan pedagang besar ini tentu saja akan membuat petani tidak bergairah untuk membudidayakan tebu. Hal ini ditunjukkan dengan penurunan produksi gula Indonesia yang merupakan dampak dari pengurangan luas areal dan produktivitas perkebunan baik pada perkebunan besar negara, swasta maupun rakyat. Penurunan produksi gula paling besar terjadi pada periode liberalisasi perdagangan gula ACFTA yaitu sebesar 1.003 persen, sedangkan pada sebelum liberalisasi perdagangan gula ACFTA hanya menurun 1.271 persen. Karena produksi gula Indonesia mengalami penurunan maka volume impor gula Indonesia akan meningkat sebesar 1.686 persen pada periode 2011-2014 dan sebesar 1.689 persen pada periode 2015-2020. Peningkatan impor gula Indonesia ini ternyata juga tidak cukup mampu untuk meningkatkan penawaran gula di Indonesia. Hal ini terlihat dari penawaran gula Indonesia yang mengalami penurunan yaitu 0.206 persen sebelum periode liberalisasi perdagangan gula ACFTA dan 0.261 persen pada periode liberalisasi perdagangan gula ACFTA. Hal ini diduga karena adanya penurunan pula pada stok gula Indonesia yang tidak terekam dalam model.
8.1.3. Simulasi Kombinasi Kebijakan Ekonomi di Sektor Pertanian