BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN
2.3. SINDROMA METABOLIK dan ADIPONECTIN
Setiap rangsangan yang dapat meningkatkan stres oksidatif akan mengakibatkan gangguan pada endotel atau disfungsi endotel. Terjadinya disfungsi endotel akan mengakibatkan pelepasan berbagai zat dari sel endotel sendiri. Salah satu kelainan yang akan terjadi pada dinding pembuluh darah adalah proses inflamasi. Pada saat ini petanda inflamasi yang paling sering dipakai adalah pemeriksaan hs-CRP. Banyak penelitian yang telah dilakukan membuktikan bahwa ada hubungan antara hs-CRP dan berbagai faktor resiko penyakit arteri koroner seperti merokok, hipertensi, kadar kolesterol dan DM.16
Sindroma metabolik yang pada umumnya disebabkan oleh resistensi insulin, dapat menyebabkan terjadinya disfungsi endotel yang menghasilkan berbagai faktor pro inflamasi yang akan merangsang pelepasan hs-CRP oleh hati. Festa dkk pada penelitian Insulin Resistance
Atherosclerosis study menemukan bahwa ada korelasi antara kadar hs-
CRP dan jumlah komponen sindroma metabolik pada seseorang. Makin banyak komponen sindroma metabolik yang dimiliki seseorang maka akan semakin tinggi kadar hs-CRP.37
Apabila dibandingkan antara mereka yang dengan sindroma metabolik disertai kadar hs-CRP ≥ 3 mg/dl terlihat bahwa mereka dengan sindroma metabolik disertai kadar hs-CRP ≥ 3 mg/dl merupakan prediktor kuat baik untuk kematian karena kardiovaskuler dan non-fatal infark miokard akut maupun kejadian DM baru.38
Hasil dari studi yang dilakukan oleh Hayashi dkk mendapatkan bahwa tekanan darah yang tinggi berhubungan dengan peningkatan resiko untuk DM tipe 2 pada 7.514 pemuda Jepang yang berusia 35-60 tahun. Kemudian studi yang dilakukan oleh Kazumi dkk mendapatkan bahwa pemuda sehat dengan tekanan darah normal tinggi mempunyai kadar adiponectin yang rendah dibandingkan dengan mereka yang mempunyai tekanan darah yang normal.39,40
Adiponectin, sebuah hormon adiposit, telah ditunjukkan berperan pada sensitivitas insulin, anti aterogenik dan anti inflamasi. Level adiponectin pada manusia tinggi, berkisar antara 5-10 μg/ml.41,42
Obesitas berhubungan dengan abnormalitas metabolik yang dapat meningkatkan resiko dari Diabetes Mellitus tipe 2 dan penyakit kardiovaskuler. Jaringan adipose telah diketahui selain berfungsi untuk penyimpanan dan mobilisasi lemak, juga didapat bahwa jaringan adipose
banyak memiliki molekul aktif. Adiponectin telah diketahui berkurang pada subjek dengan obesitas.43,44 Selain dari itu level adiponectin juga diketahui menurun pada resisten insulin, DM tipe 2 dan dislipidemia. Beberapa studi yang telah dilakukan pada hewan dan manusia mendapatkan bahwa adiponectin dapat meningkatkan sensitivitas insulin, mempunyai efek anti inflamasi dan anti atherogenic dan dapat memperbaiki profil lemak.7,45
Hubungan kuat yang dijumpai antara adiponectin dan sensitivitas insulin sistemik telah didapat baik secara in vivo maupun in vitro pada
tikus, hewan-hewan lain, dan manusia. Penyuntikan adiponectin kepada model tikus diabetes ternyata dapat menurunkan kadar gula darah. Studi yang dilakukan oleh Yamauchi dkk mendapati efek yang sama, yaitu adiponectin dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan memperbaiki hiperglikemia pada model tikus.8
Pellme dkk mendapatkan level adiponectin secara bermakna juga berkurang pada subjek yang non obese tapi memiliki resistensi insulin dengan kecendrungan yang tinggi untuk DM tipe 2. Juga ditemui hubungan antara adiponectin, proinsulin, HDL kolesterol dan beberapa segi dari sindroma resistensi insulin.46
Berdasarkan data pengobatan terhadap tikus diabetes yang lipoatrophic atau obese dengan adiponectin didapat peningkatan ekspresi dari kadar PPAR , sehingga disimpulkan adiponectin dapat mengaktivasi PPAR . Selain itu, adiponectin juga diketahui dapat menstimulasi oksidasi dan ambilan glukosa melalui AMP-activated protein kinase
Gambar-3. Adiponectin dapat mengaktivasi AMPK dan PPAR di hati dan otot polos(dikutip dari 35)
Engeli S dkk mendapatkan hubungan antara penurunan level adiponectin plasma dan peningkatan dari level-level hs-CRP dan IL-6 plasma. hs-CRP adalah petanda awal dari kerusakan vaskuler dan merupakan prediktif yang kuat untuk menunjukkan kejadian kardiovaskular pada masa mendatang.7
Insulin dan insulin like growth factor-1 (IGF-1) meningkatkan sintesa
adiponectin pada jaringan adipose. Sintesa dan sekresi adiponectin menurun pada kelebihan kalori, kemungkinan berhubungan dengan defisiensi atau resistensi leptin. Protein juga dapat meningkatkan sensitivitas dari hepatosit ke insulin, baik melalui jalur langsung atau tidak langsung dengan menurunkan konsentrasi lemak yang beredar melalui kerjanya pada otot. Dengan demikian, adiponectin dapat memperbaiki keadaan hiperglikemia yang berhubungan dengan obesitas.47
Adiponectin telah diketahui terlibat dalam pengaturan metabolisme lipid dan karbohidrat. Adiponectin juga dapat menjadi proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler. Konsentrasi adiponectin akan berkurang pada pasien yang gemuk. Penurunan level adiponectin juga berhubungan dengan kadar small dense LDL dan trigliserid.4
Kadar adiponectin juga ditemukan berkurang pada pasien dengan penyakit arteri koroner. Insiden dari kematian kardiovaskuler juga ditemukan lebih tinggi pada pasien gagal ginjal dengan kadar adiponectin plasma yang rendah dibandingkan dengan mereka yang memiliki kadar adiponectin plasma yang tinggi. Oleh karena itu, konsentrasi adiponectin serum dijumpai berhubungan secara bermakna dengan disfungsi vaskuler.48
Disfungsi endotel telah diketahui berhubungan dengan sindroma metabolik dan keadaan resistensi insulin yang digambarkan dengan gangguan pelepasan nitric oxide (NO) dari endotel. Oleh karena itu,
perbaikan pada fungsi endotel diprediksikan dapat memperbaiki sensitivitas insulin. Terapi dengan menggunakan fenofibrate secara bermakna dapat mengurangi kadar petanda inflamasi, meningkatkan kadar adiponectin dan memperbaiki sensitivitas insulin pada pasien dengan hipertrigliseridemia atau pasien sindroma metabolik.11
Matsuzawa Y dkk mengemukakan bahwa adiponectin mempunyai peran yang penting dalam pencegahan sindroma metabolik. Hipoadiponectinemia yang bersamaan dengan peningkatan dari TNF-α atau PAI-1 mengakibatkan akumulasi dari visceral obesitas akan
merupakan dasar utama dari perubahan vaskuler seperti pada kelainan metabolik, termasuk resistensi insulin, yang merupakan karakteristik dari sindroma metabolik (Gambar-4).8
Gambar-4. Konsep sindroma metabolik. Pentingnya akumulasi lemak visceral dan hipoadiponectinemia (Dikutip dari8)