• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORITIS

C. Sinetron

1. Pengertian Sinetron

32

Ankie M.M. Hoogvelt, Sosiologi Masyarakat Sedang Berkembang, (Jakarta: CV. Rajawali, 1985), Cet. Ke-1, h. 28-29.

Di masa lalu ketika stasiun televisi hanya satu, yaitu TVRI, nama program sinetron belum dikenal. Program semacam itu di jaman TVRI disebut drama televisi, teleplay atau sandiwara televisi. Produksi program drama televisi pada waktu itu juga sangat berbeda dengan produksi sinetron. Program drama televisi biasanya diproduksi sepenuhnya mengunakan setting indoor, di dalam studio televisi. 3 atau 4 set dibangun untuk kepentingan produksi itu. Pelaksanaan produksinya dapat dilakukan untuk siaran langsung ataupun direkam lebih dahulu. Jarang sekali terjadi, produksi drama televisi dibuat dengan menggunakan film atau video dan shootingnya menggunakan setting outdoor, di luar studio televisi.33

Dari sekian banyak program acara televisi, sinetron adalah acara yang paling banyak digemari oleh sebagian masyarakat Indonesia khususnya kaum perempuan. Faktor yang menyebabkan sinetron disukai oleh masyarakat adalah: isi pesannya sesuai dengan realitas sosial pemirsa. Isi pesannya mengandung cerminan tradisi nilai luhur dan budaya masyarakat (pemirsa). Isi pesannya lebih banyak mengungkap permasalahan atau persoalan yang terjadi dalam kehidupan

masyarakat.34 Mungkin karena ketiga faktor itulah, yang membuat acara sinetron di televisi selalu ditunggu jam tayangnya oleh pemirsa.

Sinetron merupakan kepanjangan dari sinema elektronik yang berarti sebuah karya cipta seni budaya, dan media komunikasi pandang dengar yang dibuat berdasarkan sinematografi dengan direkam pada pita video melalui proses elektronik lalu ditayangkan melalui stasiun televisi.35

33

Fred Wibowo, Teknik Program Televisi, (Yogyakarta: Pinus Book Publisister, 2007), Cet. Ke-1, h. 225.

34

Wawan Kuswandi, Komunikasi Massa Sebuah Analisis Media Televisi, (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), Cet. Ke-1, h. 30

35

Endah, “Pengertian Sinetron.” Artikel diakses pada 3 Mei 2008 dari http://chendah.blogspot.com/2008/01/pengertian-sinetron.html

Secara gramatikal yang dimaksud kata tele dalam istilah telesinema adalah televisi. Istilah telesinema merupakan terjemah bahasa Indonesia dari bahasa Inggris yaitu tele (vision) sinema. Dengan demikian istilah telesinema berarti ” sinema televisi” atau dipendekkan menjadi sinetron.

2. Kategori Cerita Sinetron

Ciri pertama, sinetron Yang memiliki kekuatan besar untuk terus bertahan dalam jajaran Top Ten adalah sinetron-sinetron dalam jenis seri dan serial. Dalam dunia sinetron, terdapat empat kategori jenis, yaitu sinetron seri, serial, sinetron mini seri, dan sinetron lepas (satu episode selesai).

Sinetron seri adalah sinetron yang memiliki banyak episode, tetapi masing-masing episode tidak memiliki hubungan sebab akibat. Sedangkan sinetron serial adalah sinetron yang memiliki banyak episode dan masing-masing episode memiliki hubungan sebab akibat. Baik dalam sinetron berseri maupun sinetron serial ini panjangnya bisa mencapai ratusan episode. Kemudian Festival Sinetron Indonesia (FSI) menggunakan istilah sinetron lepas untuk menyebut

sinetron satu seri selesai atau bisa disebut juga sebagai (FTV).

Ciri kedua, atas dasar tema cerita yang ditawarkan, jenis sinetron bisa dibedakan menjadi drama keluarga, komedi situasi, laga dan sinetron laga misteri kolosal.

Atas dasar tema ceritanya, sinetron juga dapat dibagi dalam dua kategori besar. Pertama, sinetron drama. Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, mendefinisikan sinetron drama sebagai komposisi cerita atau kisah, syair lagu-lagu yang diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak melalui

tingkah laku (akting) atau dialog yang melibatkan konflik atau emosi yang dikemas secara khusus untuk ditayangkan di televisi.

Sinetron drama ini pun dapat dibagi dalam dua kategori. Sinetron drama komedi, artinya, sinetron drama yang berisi kelucuan-kelucuan yang mengajak pemirsa tertawa. Kedua, sinetron drama rumah tangga, yaitu sinetron drama yang mengangkat masalah-masalah dalam rumah tangga.36

Kategori kedua adalah laga. Secara harfiah, laga adalah perkelahian atau berkelahi.37 Sinetron yang banyak memceritakan dan mengisahkan perkelahian sebagai menu utamanya. Cerita hanya semacam alur pengatur dari satu arena perkelahian ke arena perkelahian lain. Untuk menurunkan irama ketegangan selalu disisipi komedi. Komedi adalah sandiwara ringan yang penuh dengan kelucuan-kelucuan, meskipun kelucuan-kelucuan itu bersifat menyindir dan berakhir dengan bahagia. Komedi bahagia adalah komedi untuk membuat penonton tertawa.

Kategori lainnya adalah kelompok laga drama dan sinetron laga misteri

kolosal. Ciri-ciri bangunan cerita keduanya hampir sama, yaitu baku hantam. Yang membedakan hanyalah, laga misteri kolosal mengambil setting masa lalu, sedangkan laga mengambil setting masa kini.38

3. Unsur-unsur Sinetron

Adapun unsur-unsur sinetron itu sendiri adalah:

36

Muh. Labib, Potret Sinetron Indonesia; Antara Keahlian Virtual dan Realitas Sosial, (Jakarta: PT. Mandar Utama Tiga Books Division, 2002), h. 66.

37

Depertemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), Ed. Ke-3, Cet. Ke-3, h. 623.

38

a. Produser: orang yang bertanggung jawab atas pembuatan sinetron baik bersifat hidup rekaman video. Ia juga bertanggung jawab atas pembiayaan produksi sebuah sinetron.

b. Sutradara: orang yang memimpin pertunjukan atau pementasan dibidang artistik.

c. Naskah atau script: ide atau gagasan suatu cerita, naskah memuat penjelasan serta pengembangan sebuah ide atau konsep yang secara operasional dapat dibuat visualnya.

d. Artis/aktor: orang yang memainkan peran dalam cerita tersebut. Mereka memainkan peran sesuai dengan naskah yang telah dibuat. e. Engineering: orang yang harus menyiapkan segala hal yang berkaitan

dengan alat-alat produksi seperti kamera, mike, listrik.

f. Kostum: walaupun kostum bukan merupakan sesuatu yang paling penting dalam pembuatan sinetron, kostum juga harus diperhatikan. Mereka menentukan kostum para pemain agar sesuai dengan cerita

sinetron tersebut.

g. Make-Up: hal ini juga harus diperhatikan. Mereka memake-up para pemain sesuai dengan karakter yang harus dimainkannya.39

39

Suprihatin, ”Respon Masyarakat Ulujami Jakarta Selatan Terhadap Sinetron Maha Kasih Episode Tukang Bubur Naik Haji Di RCTI, ” (Skripsi S1 Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Universitas Islam Negeri Jakarta, 2006), h. 16-19.

BAB III

PROFIL STASIUN TELEVISI RCTI DAN GAMBARAN UMUM SINETRON CAHAYA

Dokumen terkait