• Tidak ada hasil yang ditemukan

Respon masyarakat karihkil ciseeng Bogor terhadap sinetron cahaya di RCTI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Respon masyarakat karihkil ciseeng Bogor terhadap sinetron cahaya di RCTI"

Copied!
80
0
0

Teks penuh

(1)

RESPON MASYARAKAT KARIHKIL CISEENG

BOGOR TERHADAP SINETRON CAHAYA DI RCTI

Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Sosial Islam (S.Sos.I)

Oleh

Epi Sumarni

NIM: 104051001750

JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

(2)

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini menyatakan bahwa:

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata 1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, Juni 2008

(3)

RESPON MASYARAKAT KARIHKIL CISEENG

BOGOR TERHADAP SINETRON CAHAYA DI RCTI

Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Sosial Islam (S.Sos.I)

Oleh

Epi Sumarni

NIM: 104051001750

Pembimbing

Dra. Armawati Arbi, M.Si

NIP: 150 246 288

JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

(4)

LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN

Skripsi yang berjudul “Respon Masyarakat Karihkil Ciseeng Bogor Terhadap Sinetron Cahaya di RCTI” telah diujikan pada sidang munaqasyah Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 20 Juni 2008, skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sosial Islam (S.Sos.I) pada Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam.

Jakarta, 20 Juni 2008

Dewan Sidang Munaqosyah

Ketua Merangkap Anggota Sekretaris Merangkap Anggota

Dr. Murodi, M.A. Umi Musyarofah, M.A.

NIP.150 254 102 NIP.150 281 980

Penguji I Penguji II

Drs. Jumroni, M.Si. Drs. Wahidin Saputra, M.A.

NIP.150 254959 NIP.150 276 299

Pembimbing

(5)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin, segala puji bagi Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Shalawat serta salam senantiasa ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah memberikan tauladan kepada segenap ummatnya.

Peneliti menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kategori sempurna, keberhasilan dalam menyelesaikan skripsi ini adalah berkat bimbingan, bantuan dan saran-saran dari semua pihak yang terkait. Tanpa partisipasi dari pihak tersebut, upaya peneliti dalam penulisan skripsi ini tidak berarti apa-apa. Karena itu peneliti ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas bantuan dan bimbingan yang diberikan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan, kepada:

1. Teristimewa untuk kedua orang tua ku (Umi Laini dan Bapak Muhammad Odih) yang senantiasa memanjatkan Do’anya kepada Allah SWT untuk kelancaran studi dan keselamatan anaknya dalam meraih cita-cita.

2. Bapak Dr. Murodi, MA., selaku Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Drs. Arif Subhan, MA., selaku Pudek Akademik Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Drs. Wahidin Saputra, MA., selaku Ketua Jurusan Komunikasi Dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi.

5. Umi Musyarofah, MA., selaku Sekretaris Jurusan Komunikasi Dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi.

6. Dra. Armawati Arbi, M.Si., selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang telah berkenan mencurahkan perhatian dan meluangkan waktunya untuk memberikan pengarahan dan petunjuk yang sangat berharga bagi peneliti, sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini.

7. Para dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang dengan sabar dan ikhlas mentransformaskan ilmu-ilmunya kepada peneliti selama masa perkuliahan.

(6)

8. Kepada Bapak Mahfudin selaku Lurah Karihkil dan Bapak Ketua RW dan RT, yang telah mempermudah peneliti dalam memperoleh data.

9. Untuk kakak-kakak dan adik ku (A Ita, A Asep, A Budi, Teh Lilih, A Chandra, A Kayat dan Iip) terima kasih atas segala bantuan, baik itu berupa dukungan moril maupun material.

10.Untuk para responden (masyarakat RW 01 Karihkil Ciseeng Bogor), yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk mengisi angket.

11.Buat sahabat-sahabat terbaik ku (Umi, Ela, Ida dan Nurul), yang selalu mengingatkan dan memberikan dukungan kepada peneliti. Terima kasih atas semuanya……… semoga kita akan terus bersahabat.

12.Untuk teman-teman anak KPI A angkatan 2004, yang telah memberikan dukungan kepada peneliti, terutama (Shofie, Ana, AB3, Widy dan semua teman-teman yang tidak bisa disebutkan satu persatu, namun tidak mengurangi rasa sayang peneliti kepada semuanya.

13.Buat teman-teman kosan (Sella dan Copie), yang selalu menemani hari-hari peneliti selama di Kosan, terima kasih atas semuanya.

14.Semua pihak yang tidak dapat peneliti sebutkan namanya satu persatu, yang ikut berpartisipasi membantu peneliti dalam menyelesaikan penyusunan skripsi ini.

Dalam penulisan skripsi ini mungkin masih banyak kekurangan dalam berbagai hal. Namun demikian, peneliti berusaha membuat semua kekurangan tersebut menjadi sesuatu yang dapat diperbaiki ke depannya nanti. Sekali lagi peneliti mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membimbing. Semoga mendapatkan imbalan yang lebih baik dari Allah SWT.

Jakarta, Juni 2008

Peneliti

(7)

ABSTRAK

Epi Sumarni

“Respon Masyarakat Karihkil Ciseeng Bogor Terhadap Sinetron Cahaya di RCTI”

Film cerita yang dibuat untuk media televisi, yang dalam wacana televisi Indonesia dibuat sinema elektronik (sinetron), sudah menjadi bagian dari wacana publik dalam ruang sosial masyarakat. Cerita sinetron tidak hanya sekedar menjadi sajian menarik di luar kaca, tetapi juga telah menjadi bahan diskusi atau bahan “ngerumpi baru” di antara para ibu dikelompok arisan, antara anggota keluarga, bahkan tidak jarang, nilai-nilai di dalamnya hadir sebagai rujukan perilaku para penggemarnya. Sinetron Cahaya adalah sinetron yang menceritakan tentang persahabatan, percintaan dan lain sebagainya, namun jika dilihat dan ditelisik lebih dalam lagi, dalam sinetron Cahaya terselip dan tergambar sisi sosial dan moral dalam alur ceritanya. Berdakwah bisa dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan menggunakan media televisi. Berdakwah lewat televisi tidak mesti berbentuk ceramah, namun bisa juga berbentuk seperti sandiwara atau sinetron, sinetronpun tidak mesti harus religi, sinetron yang mendidik, yang mengajarkan kepada kebaikan atau sinetron yang di dalam ceritnya memasukkan pesan-pesan yang baik, dalam hal ini (pesan sosial, moral, dan lain sebagainya). Dan itu pun termasuk ke dalam salah satu bentuk cara berdakwah

Bagaimana respon masyarakat RW 01 Karihkil Ciseeng Bogor terhadap sinetron Cahaya yang meliputi kognitif, afektif dan behavioral (tindakan) penonton?

Teori yang digunakan dalam peneitian ini adalah teori S-O-R (Stimulus-Organism-Respon). Yaitu salah satu aliran yang mewarnai teori-teori yang terdapat dalam komunikasi massa. Aliran ini beranggapan bahwa media massa memiliki efek langsung yang dapat mempengaruhi individu sebagai audience (penonton/pendengar)

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan metode survei. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, angket, dan dokumentasi.

Respon yang didapat dari penonton memang positif, menurut peneliti hasil tersebut karena alur ceritanya menarik, tidak mudah ditebak jalan ceritanya, akting pemain yang meyakinkan, serta cara pengemasan atau setting sinetron yang bagus. Menyaksikan sinetron ini, responden memperoleh pengetahuan tentang etika, sehingga penonton merespon positif.

(8)

DAFTAR ISI

ABSTRAK... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... vi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 6

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 7

D. Metodologi Penelitian ... 8

E. Sistematika Penelitian ... 11

BAB II LANDASAN TEORITIS A. Respon... 13

1. Teori S-O-R ... 13

2. Pengertian Respon... 14

3. Macam-Macam Respon... 16

a. Kognitif ... 16

b. Afektif ... 16

c. Behavioral ... 16

4. Faktor-Faktor Terbentuknya Respon ... 17

B. Masyarakat ... 18

1. Pengertian Masyarakat ... 18

2. Jenis-Jenis Masyarakat ... 19

3. Fungsi Masyarakat ... 20

C. Sinetron ... 21

1. Pengertian Sinetron ... 21

2. Kategori Cerita Sinetron ... 23

(9)

BAB III PROFIL STASIUN TELEVISI RCTI DAN GAMBARAN

UMUM SINETRON CAHAYA

A. Sejarah Berdirinya Stasiun Televisi RCTI ... 26

B. Napak Tilas Perjalanan Stasiun Televisi RCTI ... 28

C. Profil Stasiun Televisi RCTI ... 29

D. Visi dan Misi Stasiun Televisi RCTI ... 30

E. Sarana Penunjang Stasiun Televisi RCTI ... 31

F. Gambaran Umum Sinetron Cahaya ... 32

G. Cast and Crew Sinetron Cahaya ... 33

H. Sinopsis Sinetron Cahaya... 34

BAB IV RESPONS MASYARAKAT RW 01 KARIHKIL CISEENG BOGOR TERHADAP SINETRON CAHAYA A. Tinjauan Daerah Penelitian ... 38

B. Profil Responden ... 39

C. Deskripsi dan Analisis Data Mengenai Respons Masyarakat RW 01 Karihkil Ciseeng Bogor Terhadap Sinetron Cahaya ... 43

1. Kognitif Penonton ... 45

2. Afektif Penonton ... 51

3. Behavioral Penonton ... 57

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 65

B. Saran-Saran ... 66

DAFTAR PUSTAKA ... 68

(10)

DAFTAR TABEL

TABEL 1 Jenis Kelamin Responden ... 39

TABEL 2 Jenis Usia Responden ... 40

TABEL 3 Jenis Pekerjaan Responden ... 41

TABEL 4 Tingkat Pendidikan Terakhir Responden ... 43

TABEL 5 Mulai Menonton Sinetron Cahaya ... 45

TABEL 6 Alasan Menyaksikan Sinetron Cahaya ... 47

TABEL 7 Mengerti Isi Dari Sinetron Cahaya ... 48

TABEL 8 Tanggapan Mengenai Akting Para Pemain Sinetron Cahaya .... 49

TABEL 9 Cara Mengemas (Setting) Sinetron Cahaya ... 50

TABEL 10 Perasaan Saat Menyaksikan Sinetron Cahaya ... 52

TABEL 11 Tokoh/Pemain Utama Yang Paling Disukai ... 53

TABEL 12 Alur Cerita Episode Pertama Sinetron Cahaya ... 55

TABEL 13 Kesan Seteleh Menonton Sinetron Cahaya ... 56

TABEL 14 Pendapat Tentang Sinetron Cahaya ... 57

TABEL 15 Suka Meniru Gaya Penampilan Para Pemain ... 58

TABEL 16 Suka Meniru Gaya Berbicara Para Pemain ... 59

TABEL 17 Mengidolakan Para Pemain Sinetron Cahaya ... 61

TABEL 18 Sinetron Ini Memberikan Manfaat ... 62

(11)

BAB I

PENDAHULUAN

A. latar Belakang Masalah

Media massa telah hadir setiap saat tanpa memandang waktu dan jarak,

bahkan mungkin kehadiran media massa dapat mempengaruhi cara hidup dan

perilaku seseorang.1

Di antara sekian banyak media massa yang ada pada saat ini, televisi

merupakan media massa elektronik yang paling banyak dinikmati oleh

masyarakat. Karena media televisi dianggap media yang paling efektif dalam

penggunaannya. Televisi merupakan gabungan media dengar (audio) dengan

media gambar (visual) yang bersifat informatif, hiburan, pendidikan maupun

gabungan dari ketiganya.

Munculnya media televisi dalam kehidupan manusia memang

menghadirkan suatu peradaban, khususnya dalam proses komunikasi dan

informasi yang bersifat massa. Globalisasi informasi dan komunikasi setiap media

massa jelas melahirkan satu efek sosial yang bermuatan perubahan nilai-nilai

sosial dan budaya manusia.2

Televisi saat ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan

manusia. Banyak orang yang menghabiskan waktunya lebih lama di depan

pesawat televisi dibandingkan dengan waktu yang digunakan untuk mengobrol

dengan keluarga atau pasangan mereka. Bagi banyak orang televisi adalah teman,

1

Siti Mutmainah dan Ahmad Fauzi, Psikologi Komunikasi, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2005), Cet. Ke-8, h. 9.1.

2

(12)

televisi menjadi cermin perilaku masyarakat dan televisi dapat menjadi candu.

Televisi membujuk kita untuk mengkonsumsi lebih banyak dan lebih banyak lagi.

Televisi memperlihatkan bagaimana kehidupan orang lain dan memberikan ide

tentang bagaimana kita ingin menjalani hidup ini. Ringkasnya, televisi mampu

memasuki relung-relung kehidupan kita lebih dari yang lain. 3

Televisi sebagai media yang muncul belakangan dibandingkan media

cetak dan radio, ternyata memberikan nilai yang sangat spektakuler dalam sisi

pergaulan hidup manusia saat ini.

Kemampuan televisi dalam menarik perhatian massa menunjukan bahwa

media tersebut telah menguasai jarak secara geografis dan sosiologis.

Tak dapat dipungkiri lagi bahwa revolusi media elektronik, khususnya

media televisi di dunia, telah mencapai tahap yang paling canggih dan

spektakuler. Hadirnya televisi swasta di Indonesia, dengan berbagai macam acara

yang menarik, terus menerus diikuti perkembangannya oleh pemirsa.

Pemirsa televisi telah dihadapkan kepada banyak alternatif tontonan dari

berbagai acara televisi yang berbeda.

Dari sekian banyak acara yang ada di televisi, acara sinetron tampaknya

paling sering mendapat sambutan hangat dari pemirsa. Para penggemar sinetron

umumnya merasa cemas jika ketinggalan salah satu episode cerita sinetron

kesayangannya. Mereka seolah ”merasa kehilangan sesuatu yang berharga” ketika

tertinggal salah satu episode saja. Ini menandakan, perhatian pemirsa terhadap

sinetron, sangat luar biasa dibandingkan dengan acara lainnya.

3

(13)

Film cerita yang dibuat untuk media televisi, yang dalam wacana televisi

Indonesia disebut sinema elektronik (sinetron), sudah menjadi bagian dari wacana

publik dalam ruang sosial masyarakat. Cerita sinetron tidak hanya sekedar

menjadi sajian menarik di layar kaca, tetapi juga telah menjadi bahan diskusi atau

bahan ”ngerumpi baru” di antara para ibu, kelompok arisan, antar anggota

keluarga, bahkan tidak jarang, nilai-nilai sosial di dalamnya hadir sebagai rujukan

perilaku para penggemarnya.4

Banyaknya sinetron yang menggambarkan sisi sosial dan moral dalam

kehidupan masyarakat, tentu sangat bermanfaat bagi pemirsa dalam menentukan

sikap. Pesan-pesan sinetron terkadang terungkap secara simbolis dalam alur cerita.

5

Seperti halnya sinetron Cahaya yang ditayangkan di stasiun televisi RCTI

setiap hari senin sampai dengan minggu pada pukul 20.00 WIB.

Meskipun sinetron ini banyak menceritakan tentang percintaan,

persahabatan dan lain sebagainya, namun jika kita lihat lebih dalam lagi, terselip

dan tergambar sisi sosial dan moral di dalam alur cerita sinetron ini.

Di mana pada episode awal sinetron Cahaya menceritakan tentang

“Cahaya (yang diperankan oleh Naysila Mirdad) adalah korban dari kesulitan

keuangan suatu keluarga, untuk menutupi kebutuhan keluarga, Hendra ayahnya

(yang diperankan oleh Yadi Timo) tega menjual Cahaya ke tempat pelacuran.

Cahaya yang semula mengira dibawa untuk dijadikan sebagai pembantu, sangat

kaget mendapati dirinya ternyata dikirim ke tempat pelacuran.”

4

Muh. Labib, Potret Sinetron Indonesia; Antara Keahlian Virtual dan Realitas Sosial, (Jakarta: PT. Mandar Utama Tiga Books Division, 2002), h.

5

(14)

Dari sepenggal cerita di atas, terselip sisi sosial dan moral yang

menggambarkan bahwa “kemiskinan itu dapat membawa seseorang ke dalam

kekufuran (kejahatan).”

Dan jika kita lihat lebih dalam lagi, cerita di atas juga menceritakan

tentang perdagangan perempuan, padahal dalam agama Islam perbuatan

(perzinahan dan pelacuran) sangat dilarang keras dengan hukuman yang amat

berat. Islam sama sekali tidak bisa mentolelir pelacuran dan perzinahan,

sebagaimana yang dijelaskan dalam Surah an-Nur ayat 2 sebagai berikut:

! "#

$

#

%&'

()

*

+ ,- . 

1

2

3 4

5

657 8

9:

;

<

= >?

';@?

# ,

9:

*

BC@

D

EFGHI

J 8D

1

K '

2 KLM:

N

HO

"#

'5P

?

#  D

RS6

Artinya:

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seseorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah untuk (menjalankan) agama Allah SWT, jika kamu beriman kepada Allah SWT, dan hari kiamat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman.”

Dakwah melalui televisi dapat dilakukan dalam bentuk ceramah,

sandiwara, sinetron dan lain sebagainya. Salah satu bentuk tayangan yang

ditampilkan oleh stasiun televisi adalah dalam bentuk sinetron. Sekarang ini

(15)

religius, bahkan ada dalam satu stasiun televisi menayangkan lebih dari satu judul

sinetron religi.

Kita seharusnya bangga dan senang dengan maraknya sinetron religi yang

bermunculan dibeberapa stasiun televisi, itu berarti menandakan bahwa dakwah

yang disampaikan melalui media elektronik, dalam hal ini televisi mengalami

kemajuan, karena seperti yang kita ketahui bersama selama ini, sinetron religi

hanya ditayangkan pada bulan Ramadhan saja.

Namun sekarang ini, sinetron religi sudah jarang ditayangkan di beberapa

stasiun televisi, meskipun hanya sebagian dari sekian banyak stasiun televisi.

Jarang ditayangkannya sinetron religi, mungkin mengisyaratkan bahwa para

penonton sudah mulai bosan atau jenuh dengan alur cerita yang hampir sama dan

hampir setiap waktu ditayangkan di stasiun televisi di Indonesia.

Dari sinilah seharusnya para praktisi dan para pengelola stasiun televisi

(khususnya bagi para pembuat sinetron yang bernuansa Islam/religi) agar mulai

membuat sinetron yang ringan, mudah dicerna oleh penonton, tidak

membosankan, mendidik, menghibur (tidak mesti religi), namun tidak melupakan

atau tetap menyelipkan (pesan dan nilai dakwah serta hal-hal yang bermanfaat

bagi para penonton) dalam sinetron tersebut.

Dari latar belakang di atas, maka peneliti mencoba untuk mengetahui

seberapa besar respon masyarakat terhadap sinetron cahaya yang ditayangkan di

stasiun televisi RCTI.

Namun sebelumnya, peneliti akan sedikit menjelaskan tentang respon yang

peneliti teliti. Respon dalam kamus istilah psikologi dijelaskan bahwa respon

(16)

Konsep tentang respon merupakan suatu konsep yang sangat umum dalam

psikologi, dan adakalanya dipakai dalam hubungannya dengan perilaku apa saja.

Sekalipun demikian sebenarnya perilaku merupakan suatu respon, hanya bila

perilaku tersebut dihasilkan oleh karena adanya suatu stimulus. Suatu sinonim

yang sering digunakan sebagai padanan respon dalam percakapan sehari-hari

adalah jawaban. Oleh karena itu, respon dalam pengertian tertentu adalah jawaban

terhadap stimulus.6

Respon adalah tanggapan; reaksi; jawaban.7 Jadi pengertian respon dalam

skripsi ini adalah sebuah tanggapan; reaksi; jawaban masyarakat (dalam hal ini

masyarakat yang berdomisili di RW 01 Karihkil Ciseeng Bogor) terhadap sinetron

Cahaya. Respon ini bersifat langsung tanpa memerlukan waktu yang lama untuk

mendapatkan jawaban dari objek yang kita teliti. Untuk itulah peneliti mengambil

judul “Respon Masyarakat Karihkil Ciseeng Bogor Terhadap Sinetron

Cahaya di RCTI.

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

1. Pembatasan Masalah

Untuk lebih memperjelas dan mempermudah proses penelitian ini, maka

peneliti memberikan batasan sebagai berikut:

Sinetron yang dimaksud dalam skripsi ini adalah sinetron Cahaya.

Masyarakat yang peneliti teliti adalah laki-laki dan perempuan yang berdomisili di

RW 01 Karihkil Ciseeng Bogor yang usianya berkisar antara 15-45 tahun, karena

mereka dianggap lebih sering atau suka menonton sinetron.

6

Frank J. Bruno, Istilah Kunci Psikologi, (Yogyakarta: Kanisius, 1989), Cet Ke-1, h. 257.

7

(17)

2. Perumusan Masalah

Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut:

1. Bagaimana respon masyarakat RW 01 Karihkil Ciseeng Bogor terhadap

sinetron Cahaya.

a. Kognitif penonton

b. Afektif penonton

c. Behavioral penonton

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar respon

masyarakat RW 01 Karihkil Ciseeng Bogor terhadap sinetron Cahaya, yang

meliputi respon kognitif, afektif dan behavioral penonton.

1. Manfaat Akademis

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan informasi dan

dokumentasi ilmiah untuk perkembangan ilmu pengetahuan terutama dalam

bidang ilmu dakwah dan komunikasi.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan baru, khususnya bagi

peneliti dan masyarakat. Selain itu pula diharapkan penelitian ini dapat

memberikan sebuah kontribusi yang nyata berupa aspirasi dan informasi kepada

(18)

D. Metodologi Penelitian

1. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, yaitu penelitian yang

berupa menarik faktor-faktor dan informasi dari data lapangan yang ditemui

secara angka dengan melihat inti objek penelitian berdasarkan tingkat beragam

dalam data lapangan yang bisa didapat secara akurat, tepat dan terpercaya. Metode

yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei.

2. Populasi dan Sampel

a. Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek atau fenomena yang diteliti.8 Populasi

dalam penelitian ini adalah masyarakat RW 01 Karihkil Ciseeng Bogor yang

menyaksikan sinetron Cahaya, Yang populasinya berjumlah 620 orang.

b. Sampel

Sampel adalah sebagian sasaran dalam penelitian yang dianggap dapat

mewakili sifat-sifat khalayak sasaran secara keseluruhan.9 Sampel dalam

penelitian ini adalah laki-laki dan perempuan yang berdomisili di RW 01 Karihkil

Ciseeng Bogor yang usianya berkisar antara 15-45 tahun yang menyaksikan

tayangan sinetron Cahaya (dengan menanyai mereka terlebih dahulu apakah

mereka menonton Cahaya atau tidak). Sampel penelitian ini sebanyak 15% dari

keseluruhan jumlah populasi yaitu sebanyak 93 responden.

8

Rackmat Kriyantono, Teknik Praktis Riset Komunikasi: Disertai Contoh Praktis Riset Media, Public Relation, Advertising, Komunikasi Organisasi, Komunikasi Pemasaran, (Jakarta: Kencana, 2006), Cet Ke1, h.149.

9

(19)

Teknik yang digunakan dalam penarikan sampel adalah dengan cara

sampel random atau sampel acak, sehingga semua objek dianggap sama. Dengan

demikian maka peneliti memberi hak yang sama kepada setiap subjek untuk

memperoleh kesempatan (chance) dipilih menjadi sampel.

3. Tahap Pengumpulan Data

a. Observasi, “yaitu alat pengumpul data yang dilakukan dengan cara

mengamati dan mancatat secara sistematis gejala-gajala yang

diselidiki.”10 Dalam hal ini peneliti hanya melakukan pengamatan yang

sifatnya tidak langsung, yaitu menonton sinetron Cahaya yang

ditayangkan di stasiun televisi RCTI.

b. Angket, “yaitu sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk

memperoleh informasi dari responden.”11 Dalam hal ini peneliti

menyebarkan angket kepada masyarakat RW 01 Karihkil Ciseeng

Bogor dengan menggunakan teknik bola salju.

c. Dokumentasi, “yaitu mengumpulkan data yang berkaitan dengan

penelitian, berupa buku-buku, majalah, artikel-artikel dari internet,

surat kabar dan sebagainya.”

4. Tahap Analisis Data

Data-data yang peneliti peroleh dari hasil penyebaran angket, akan

dianalisis, yang kemudian peneliti kritisi. Metode yang peneliti gunakan adalah

statistik deskriptif dengan menggunakan statistik prosentase sebagai berikut:

10

Chalid Harbuko, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), Cet. Ke-4, h. 70.

11

(20)

Rumus prosentase

P = F X 100% N Keterangan:

P = Prosentase

F = Frekuensi

N = Jumlah responden.12

Langkah-langkah analisis data

a. Evaluating : memeriksa kembali jawaban-jawaban responden untuk

diteliti, ditelaah, dan dirumuskan pengelompokkannya untuk

memperoleh data-data yang akurat.

b. Tabulating : mentabulasikan atau memindahkan jawaban-jawaban

responden ke dalam tabel, kemudian dicari persentasenya untuk

kemudian dianalisa.

c. Analisis dan interpretasi : yaitu mengubah data kuantitatif menjadi

bentuk verbal (kata-kata) sehingga kata-kata persentase menjadi lebih

bermakna.

d. Kesimpulan : yaitu peneliti memberikan kesimpulan dari hasil analisa

dan penafsiran data.

Adapun mengenai teknik penulisan skripsi ini, peneliti berpijak pada buku

pedoman penulisan karya ilmiah (Skripsi, Tesis dan Disertasi) UIN Syarif

12

(21)

Hidayatullah Jakarta press tahun 2007 dengan beberapa perubahan sesuai dengan

petunjuk Dosen pembimbing.

E. Sistematika Penulisan

Untuk memberikan gambaran yang jelas dan lebih terarah mengenai pokok

permasalahan yang dijadikan pokok pembahasan skripsi ini, maka peneliti

membagi pembahasan sebagai berikut:

Bab pertama, merupakan bab pendahuluan yang mencakup: latar

belakang masalah, pembatasan dan perumusan masalah, Tujuan dan manfaat

penelitian, metodologi penelitian, dan sistematika penelitian.

Bab kedua, merupakan bab landasan teoritis yang mencakup tentang

respon yang meliputi teori S-O-R, pengertian respon, macam-macam respon:

kognitif, afektif, dan behavioral, serta faktor-faktor terbentuknya respon.

Masyarakat yang meliputi pengertian masyarakat, jenis-jenis masyarakat, dan

fungsi masyarakat. sinetron yang meliputi pengertian sinetron, kategori cerita

sinetron serta unsur-unsur sinetron.

Bab ketiga, merupakan bab mengenai profil stasiun televisi RCTI dan

gambaran umum sinetron Cahaya. mulai dari sejarah singkat berdirinya televisi

RCTI, napak tilas perjalanan stasiun televisi RCTI, profil, visi dan misi, sampai

dengan sarana penunjang yang ada di stasiun televisi RCTI. Gambaran umum

sinetron Cahaya, cast and crew serta sinopsis sinetron Cahaya .

Bab keempat, merupakan tanggapan masyarakat Karihkil Ciseeng Bogor

terhadap sinetron Cahaya, yang meliputi: tinjauan daerah penelitian, profil

(22)

Desa Karihkil Ciseeng Bogor terhadap sinetron Cahaya, meliputi respon kognitif,

afektif dan behavioral penonton.

Bab kelima, merupakan bab penutup yang mencakup kesimpulan dan

saran-saran dari semua permasalahan yang ada dalam skripsi ini, juga dilengkapi

(23)

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Respon

1. Teori S-O-R

Teori S-O-R sebagai singkatan dari Stimulus-Organism-Response, yang

semula berasal dari psikologi, yang muncul antara tahun 1930 dan 1940. kalau

kemudian menjadi juga teori komunikasi, hal ini dikarenakan objek material dari

psikologi dan ilmu komunikasi adalah sama, yaitu manusia yang jiwanya meliputi

komponen-komponen: sikap, opini, perilaku, kognisi, afeksi dan konasi.13

Teori S-O-R adalah salah satu aliran yang mewarnai teori-teori yang

terdapat dalam ilmu komunikasi massa. Aliran ini beranggapan bahwa media

massa memiliki efek langsung yang dapat mempengaruhi individu sebagai

audience (penonton atau pendengar).14

Menurut teori ini efek yamg ditimbulkan adalah reaksi khusus terhadap

stimulus khusus, sehingga seseorang dapat mengharapkan dan memperkirakan

kesesuaian antara pesan dan reaksi komunikan. Jadi unsur-unsur dalam model ini

adalah: pesan (stimulus, S), Komunikan (Organism, O), dan Efek (Response, R).15

Dari ketiga elemen utama teori stimulus-organism-respon terdapat efek

(respon) yang merupakan reaksi terhadap stimulus tertentu.

13

Onong Uchjana Effendy, Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2003), Cet. Ke-3, h. 254.

14

S. Djuarsa Sendjaja, Teori Komunikasi, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2005), Cet. Ke-9, h. 5.20.

15

(24)

2. Pengertian Respon

Respon dalam kamus istilah psikologi dijelaskan bahwa respon adalah

setiap perilaku yang timbul, karena adanya suatu stimulus.

Konsep tentang respon merupakan suatu konsep yang sangat umum dalam

psikologi, dan adakalanya dipakai dalam hubungannya dengan perilaku apa saja.

Sekalipun demikian sebenarnya perilaku merupakan suatu respon, hanya bila

perilaku tersebut dihasilkan oleh karena adanya suatu stimulus. Suatu sinonim

yang sering digunakan sebagai padanan respon dalam percakapan sehari-hari

adalah jawaban. Oleh karena itu, respon dalam pengertian tertentu adalah jawaban

terhadap stimulus.16 Stimulus adalah rangsang perubahan dalam energi fisik yang

menggiatkan suatu reseptor. Lebih umumnya, sebarang perubahan dalam energi

eksternal atau internal yang menyiagakan atau mengaktifkan suatu organisme atau

suatu tanda untuk berekasi atau berbuat.17 Beberapa perilaku tidak dimunculkan,

tetapi nampak dari luar. Perilaku yang serupa itu sering dianggap timbul dengan

sendirinya, dan ini tidak dapat dimasukkan ke dalam kategori respon, kita dapat

menyebutnya sebagai perilaku yang terjadi dengan sendirinya, perilaku spontan,

atau pun perilaku yang sesuai dengan kehendak kita, atau tergantung dari

kerangka kerja teoritiknya.18 Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,

respon adalah tanggapan; reaksi; jawaban.19

Dalam Kamus Besar Ilmu Pengetahuan disebutkan bahwa respon adalah

reaksi psikologis metabolic terhadap tibanya suatu rangsang; ada yang bersifat

16

Frank J. Bruno, Istilah Kunci Psikologi, (Yogyakarta: Kanisius, 1989), Cet. Ke-1, h. 257.

17

J. P. Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi, (Jakarta: PT. Grafindo Persada, 2004), Cet. Ke-9, h. 486.

18

Frank J. Bruno, Istilah Kunci Psikologi, h. 257.

19

(25)

refleksi dan reaksi emosional langsung, adapula yang bersifat terkendali.20

Sedangkan menurut Scheerer, respon (balas) adalah proses pengorganisasian

rangsang. Rangsang-rangsang proksimal diorganisasikan sedemikian rupa

sehingga terjadi refrensentasi fenomenal dari rangsang-rangsang proksimal itu.

Proses inilah yang disebut respon.21

Astrid S. Susanto mengatakan, respon adalah reaksi penolakan atau

pengiyaan ataupun sikap acuh tak acuh yang terjadi dalam diri seseorang setelah

menerima pesan.22

Sedangkan dalam Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer disebutkan bahwa

respon adalah tanggapan; reaksi.23

Pengertian Respon Menurut Para Tokoh

Menurut Poerwadarminta, respon diartikan sebagai tanggapan reaksi dan

jawaban.24

Respon akan muncul dari penerimaan pesan setelah sebelumnya terjadi

serangkaian komunikasi. Sedangkan menurut Ahmad Subandi, mengemukakan

respon dengan istilah umpan balik yang memiliki peranan atau pengaruh dalam

menentukan baik atau tidaknya suatu komunikasi.25

20

Save D. Dagun, Kamus Besar Ilmu Pengetahuan, (Jakarta: Lembaga Pengkajian dan Kebudayaan Nusantara,1997), Cet Ke-1,h.964.

21

Sarlito Wirawan Sarwono, Teori-teori Psikologi Sosial, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2000), Cet Ke-5, h.84.

22

Astrid S.Susanto, Komunikasi Sosial di Indonesia, (Jakarta: Bina Cipta, 1998)

23

Peter Salim dan Yenny Salim, Kamus Bahasa Iindonesia Kontemporer, (Jakarta:

English Modern Press,1991), h.1268.

24

Poerwadarminta, Psikologi Komunikasi, (Jakarta: Universitas Terbuka, 1999), Cet Ke-3, h. 43.

25

(26)

3. Macam-Macam Respon

a. Respon kognitif, ialah respon yang berhubungan dengan pikiran atau

penalaran, sehingga khalayak yang semula tidak tahu, yang tadinya

tidak mengerti, yang tadinya bingung menjadi merasa jelas.26 atau

terjadi bila ada perubahan pada apa yang diketahui, dipahami, atau

dipercayai atau dipersepsi khalayak. Hal ini berkaitan dengan transmisi

pengetahuan, keterampilan, kepercayaan atau informasi.

b. Respon afektif, ialah respons yang berkaitan dengan perasaan, timbul

apabila ada perubahan pada apa yang dirasakan, disenangi, atau

dibenci khalayak. Hal ini berkaitan dengan emosi, sikap, atau nilai.

c. Respon behavioral, ialah respon yang merujuk pada perilaku nyata

yang dapat diamati, yang meliputi pola-pola tindakan, kegiatan, atau

kebiasaan berperilaku.27

Sedangkan menurut Agus Sujanto dalam bukunya Psikologi Umum,

mengemukakan macam-macam tanggapan sebagai berikut:

Tanggapan menurut indera yang mengamati, yaitu:

a. Tanggapan audit adalah tanggapan terhadap apa-apa yang telah

didengarnya, baik berupa suara, ketukan dan lain sebagainya.

b. Tanggapan visual adalah tanggapan terhadap sesuatu yang dilihatnya.

c. Tanggapan perasa adalah tanggapan sesuatu yang dialami oleh dirinya.

Tanggapan menurut terjadinya , yaitu:

a. Tanggapan ingatan adalah ingatan massa lampau, artinya tanggapan

terhadap kejadian yang telah lalu.

26

Effendy, Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi, h. 318.

27

(27)

b. Tanggapan fantasi adalah tanggapan masa kini artinya tanggapan

terhadap sesuatu yang telah terjadi.

c. Tanggapan pikiran adalah tanggapan masa datang atau tanggapan

terhadap yang akan terjadi.

Tanggapan menurut lingkungannya:

a. Tanggapan benda, yakni tanggapan benda yang ada di sekitarnya.

b. Tanggapan kata-kata, yakni tanggapan seseorang terhadap ucapan atau

kata-kata yang dilontarkan oleh lawan bicara. 28

4. Faktor-Faktor Terbentuknya Respon

Ketika manusia lahir di dunia, sejak itulah manusia langsung menerima

stimulus, sekaligus dituntut untuk menjawab dan mengatasi semua pengaruh.

Manusia dengan alat inderanya dan sesuai dengan fungsinya, terus

memperhatikan, menggali segala sesuatu di sekitarnya. Allah SWT telah

mengisyaratkan bahwa manusia harus berusaha menggunakan alat inderanya

dalam menggali lingkungan sekitar serta aspek eksternal (yang mempengaruhi

dari luar diri manusia). Seperti yang dikatakan oleh Bimo Walgito ”alat indera itu

alat penghubung antara individu dengan dunia luarnya.”29

Tanggapan yang dilakukan seseorang dapat terjadi apabila terpenuhi faktor

penyebabnya. Hal itu perlu diketahui supaya individu yang bersangkutan dapat

menganggapi dengan baik pada proses awalnya individu mengadakan tanggapan

tidak hanya dari stimulus yang ditimbulkan oleh keadaan sekitar. Tidak semua

stimulus itu mendapat respon individu, sebab individu melakukan terhadap

28

Agus Sujanto, Psikologi Kepribadian, (Jakarta: Aksara Baru,1991), h. 31-32

29

(28)

stimulus yang ada persesuaian atau yang menarik dirinya. Dengan demikian,

maka akan ditanggapi oleh individu selain tergantung pada stimulus juga

tergantung pada keadaan individu itu sendiri dengan kata lain, stimulus akan

mendapatkan pemilihan dan individu akan bergantung pada dua faktor, yaitu:

b. faktor internal, yaitu faktor yang ada dalam individu. Manusia itu

terdiri dari dua unsur, yaitu jasmani dan rohani. Maka seseorang yang

mengadakan tanggapan sesuatu stimulus tetap dipengaruhi oleh eksistensi kedua

unsur tersebut. Apabila terganggu salah satu unsur saja, maka akan melahirkan

hasil tanggapan yang berbeda intensitasnya pada diri individu yang melakukan

tanggapan atau akan berbeda tanggapannya tersebut antara satu orang dengan

orang lain.

Unsur jasmani meliputi keberadaan, keutuhan dan cara bekerjanya alat

indera, urat saraf dan bagian-bagian tertentu pada otak

Unsur-unsur rohani dan pisiologis yang meliputi keberadaan, perasaan

(feeling), akal, fantasi, pandangan jiwa, mental, pikiran, motivasi, dan sebagainya.

c.Faktor eksternal, yaitu factor yang ada pada lingkungan (faktor pisis).

Faktor ini intensitas dan jenis benda perangsang atau orang menyebutnya dengan

faktor stimulus.30

B. Masyarakat

1. Pengertian Masyarakat

30

(29)

Masyarakat merupakan kumpulan dari penduduk. Sedangkan pengertian

penduduk atau populasi berarti sejumlah makhluk sejenis yang mendiami atau

menduduki tempat tertentu.

Masyarakat adalah suatu kelompok manusia yang telah memiliki tatanan

kehidupan, norma-norma, adat istiadat yang sama-sama ditaati dalam

lingkungannya.

Tatanan kehidupan, norma-norma yang mereka miliki itulah yang menjadi

dasar kehidupan sosial dalam lingkungan mereka, sehingga dapat membentuk saat

kelompok manusia yang memiliki ciri kehidupan yang khas. Dalam lingkungan

itu, antara orang tua dan anak, antara ibu dan ayah, antara kakek dan cucu. Antara

sesama kaum laki-laki dan wanita, larut melalui suatu kehidupan yang teratur dan

berpadu dalam suatu kelompok manusia, yang disebut masyarakat.

2. Jenis-Jenis Masyarakat

Dalam pertumbuhan dan perkembangan suatu masyarakat, dapat

digolongkan menjadi masyarakat sederhana dan masyarakat maju (masyarakat

modern).

a. Masyarakat Sederhana

Dalam lingkungan masyarakat sederhana (primitif) pola pembagian kerja

cenderung dibedakan menurut jenis kelamin. Pembagian kerja dalam bentuk lain

tidak terungkap dengan jelas, sejalan dengan pola kehidupan dan pola

perekonomian (masyarakat primitif tidak atau belum sedemikian rumit seperti

pada masyarakat maju.

(30)

Masyarakat maju memiliki aneka ragam kelompok sosial, atau lebih akrab

dengan sebutan kelompok-kelompok kemasyarakatan yang tumbuh dan

berkembang berdasarkan kebutuhan serta tujuan tertentu yang akan dicapai.

Organisasi kemasyarakatan itu dapat tumbuh dan berkembang dalam lingkungan

terbatas sampai pada cakupan nasional, regional, maupun internasional. Dalam

lingkungan maju, dapat dibedakan sebagai kelompok masyarakat non industri dan

masyarakat industri.31

3. Fungsi Masyarakat

Masyarakat adalah suatu tipe sistem sosial, sama halnya dengan sebuah

perusahaan, universitas, angkatan bersenjata, dan lain-lain. Bedanya masyarakat

merupakan sistem sosial yang paling tinggi tingkat kemampuannya untuk

memenuhi kebutuhan sendiri. Dengan kata lain masyarakat sebagai suatu sistem

sosial mengatur dan mengintegrasikan ketiga lingkungan utama dan kedua

lingkungan sekunder hingga derajat tertentu, yang tidak mampu dilakukan oleh

sistem sosial lainnya.

Masyarakat sebagai suatu tipe sistem sosial dapat dianalisa dari empat

fungsinya yang diperlukan, yakni:

a. Fungsi Pemeliharaan Pola

Fungsi ini berkaitan dengan hubungan antara masyarakat sebagai sistem

sosial dengan sub-sistem kultural. Fungsi ini mempertahankan prinsip-prinsip

tertinggi dari masyarakat sambil menyediakan dasar dalam berperilaku menuju

realitas tertinggi.

31

(31)

b. Fungsi Integrasi.

Fungsi ini mencakup koordinasi yang diperlukan antara unit-unit yang

menjadi bagian dari suatu sistem sosial, khususnya berkaitan dengan kontribusi

unit-unit pada organisasi dan fungsinya unit-unit terhadap keseluruhan sistem.

d. Fungsi Pencapaian Tujuan.

Fungsi ini mengatur hubungan antara masyarakat sebagai sistem sosial

dengan sub-sistem kepribadian. Fungsi ini tercermin dalam bentuk penyusunan

skala prioritas dari segala tujuan yang hendak dicapai dan penentuan bagaimana

suatu sistem memobilitas sumber daya serta tenaga yang tersedia untuk mencapai

tujuan tersebut.

e. Fungsi Adaptasi

Menyangkut hubungan antara masyarakat sebagai sistem sosial dengan

sub-sistem organisme tindakan dan dengan alam fisiko-organik. Secara umum

fungsi ini menyangkut kemampuan masyarakat untuk menyesuaikan diri terhadap

lingkungan hidupnya. Dalam pelaksanaan fungsi ini, teknologi sangat penting

peranannya.32

C. Sinetron

1. Pengertian Sinetron

32

(32)

Di masa lalu ketika stasiun televisi hanya satu, yaitu TVRI, nama program

sinetron belum dikenal. Program semacam itu di jaman TVRI disebut drama

televisi, teleplay atau sandiwara televisi. Produksi program drama televisi pada

waktu itu juga sangat berbeda dengan produksi sinetron. Program drama televisi

biasanya diproduksi sepenuhnya mengunakan setting indoor, di dalam studio

televisi. 3 atau 4 set dibangun untuk kepentingan produksi itu. Pelaksanaan

produksinya dapat dilakukan untuk siaran langsung ataupun direkam lebih dahulu.

Jarang sekali terjadi, produksi drama televisi dibuat dengan menggunakan film

atau video dan shootingnya menggunakan setting outdoor, di luar studio televisi.33

Dari sekian banyak program acara televisi, sinetron adalah acara yang

paling banyak digemari oleh sebagian masyarakat Indonesia khususnya kaum

perempuan. Faktor yang menyebabkan sinetron disukai oleh masyarakat adalah:

isi pesannya sesuai dengan realitas sosial pemirsa. Isi pesannya mengandung

cerminan tradisi nilai luhur dan budaya masyarakat (pemirsa). Isi pesannya lebih

banyak mengungkap permasalahan atau persoalan yang terjadi dalam kehidupan

masyarakat.34 Mungkin karena ketiga faktor itulah, yang membuat acara sinetron

di televisi selalu ditunggu jam tayangnya oleh pemirsa.

Sinetron merupakan kepanjangan dari sinema elektronik yang berarti

sebuah karya cipta seni budaya, dan media komunikasi pandang dengar yang

dibuat berdasarkan sinematografi dengan direkam pada pita video melalui proses

elektronik lalu ditayangkan melalui stasiun televisi.35

33

Fred Wibowo, Teknik Program Televisi, (Yogyakarta: Pinus Book Publisister, 2007), Cet. Ke-1, h. 225.

34

Wawan Kuswandi, Komunikasi Massa Sebuah Analisis Media Televisi, (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), Cet. Ke-1, h. 30

35

(33)

Secara gramatikal yang dimaksud kata tele dalam istilah telesinema adalah

televisi. Istilah telesinema merupakan terjemah bahasa Indonesia dari bahasa

Inggris yaitu tele (vision) sinema. Dengan demikian istilah telesinema berarti

” sinema televisi” atau dipendekkan menjadi sinetron.

2. Kategori Cerita Sinetron

Ciri pertama, sinetron Yang memiliki kekuatan besar untuk terus bertahan

dalam jajaran Top Ten adalah sinetron-sinetron dalam jenis seri dan serial. Dalam

dunia sinetron, terdapat empat kategori jenis, yaitu sinetron seri, serial, sinetron

mini seri, dan sinetron lepas (satu episode selesai).

Sinetron seri adalah sinetron yang memiliki banyak episode, tetapi

masing-masing episode tidak memiliki hubungan sebab akibat. Sedangkan

sinetron serial adalah sinetron yang memiliki banyak episode dan masing-masing

episode memiliki hubungan sebab akibat. Baik dalam sinetron berseri maupun

sinetron serial ini panjangnya bisa mencapai ratusan episode. Kemudian Festival

Sinetron Indonesia (FSI) menggunakan istilah sinetron lepas untuk menyebut

sinetron satu seri selesai atau bisa disebut juga sebagai (FTV).

Ciri kedua, atas dasar tema cerita yang ditawarkan, jenis sinetron bisa

dibedakan menjadi drama keluarga, komedi situasi, laga dan sinetron laga misteri

kolosal.

Atas dasar tema ceritanya, sinetron juga dapat dibagi dalam dua kategori

besar. Pertama, sinetron drama. Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia,

mendefinisikan sinetron drama sebagai komposisi cerita atau kisah, syair

(34)

tingkah laku (akting) atau dialog yang melibatkan konflik atau emosi yang

dikemas secara khusus untuk ditayangkan di televisi.

Sinetron drama ini pun dapat dibagi dalam dua kategori. Sinetron drama

komedi, artinya, sinetron drama yang berisi kelucuan-kelucuan yang mengajak

pemirsa tertawa. Kedua, sinetron drama rumah tangga, yaitu sinetron drama yang

mengangkat masalah-masalah dalam rumah tangga.36

Kategori kedua adalah laga. Secara harfiah, laga adalah perkelahian atau

berkelahi.37 Sinetron yang banyak memceritakan dan mengisahkan perkelahian

sebagai menu utamanya. Cerita hanya semacam alur pengatur dari satu arena

perkelahian ke arena perkelahian lain. Untuk menurunkan irama ketegangan

selalu disisipi komedi. Komedi adalah sandiwara ringan yang penuh dengan

kelucuan-kelucuan, meskipun kelucuan-kelucuan itu bersifat menyindir dan

berakhir dengan bahagia. Komedi bahagia adalah komedi untuk membuat

penonton tertawa.

Kategori lainnya adalah kelompok laga drama dan sinetron laga misteri

kolosal. Ciri-ciri bangunan cerita keduanya hampir sama, yaitu baku hantam.

Yang membedakan hanyalah, laga misteri kolosal mengambil setting masa lalu,

sedangkan laga mengambil setting masa kini.38

3. Unsur-unsur Sinetron

Adapun unsur-unsur sinetron itu sendiri adalah:

36

Muh. Labib, Potret Sinetron Indonesia; Antara Keahlian Virtual dan Realitas Sosial, (Jakarta: PT. Mandar Utama Tiga Books Division, 2002), h. 66.

37

Depertemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), Ed. Ke-3, Cet. Ke-3, h. 623.

38

(35)

a. Produser: orang yang bertanggung jawab atas pembuatan sinetron baik

bersifat hidup rekaman video. Ia juga bertanggung jawab atas

pembiayaan produksi sebuah sinetron.

b. Sutradara: orang yang memimpin pertunjukan atau pementasan

dibidang artistik.

c. Naskah atau script: ide atau gagasan suatu cerita, naskah memuat

penjelasan serta pengembangan sebuah ide atau konsep yang secara

operasional dapat dibuat visualnya.

d. Artis/aktor: orang yang memainkan peran dalam cerita tersebut.

Mereka memainkan peran sesuai dengan naskah yang telah dibuat.

e. Engineering: orang yang harus menyiapkan segala hal yang berkaitan

dengan alat-alat produksi seperti kamera, mike, listrik.

f. Kostum: walaupun kostum bukan merupakan sesuatu yang paling

penting dalam pembuatan sinetron, kostum juga harus diperhatikan.

Mereka menentukan kostum para pemain agar sesuai dengan cerita

sinetron tersebut.

g. Make-Up: hal ini juga harus diperhatikan. Mereka memake-up para

pemain sesuai dengan karakter yang harus dimainkannya.39

39

(36)

BAB III

PROFIL STASIUN TELEVISI RCTI DAN GAMBARAN UMUM

SINETRON CAHAYA

A. Sejarah Berdirinya Stasiun Televisi RCTI

Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) adalah stasiun swasta pertama di

Indonesia yang lahir dari gagasan 2 perusahaan besar, yaitu : Bimantara Citra

Tbk, dan Rajawali Corporations. Sejak berdirinya tahun 1989, RCTI identik

dengan beragam program yang popular dan merupakan trend-setter. Memiliki 47

stasiun pemancar di seluruh Indonesia, RCTI selalu menjadi pilihan para

pemasang iklan, karena merupakan media untuk beriklan yang efektif dengan

cakupan terluas.

Pada awal berdirinya, Rajawali Citra Televisi Indonesia merupakan sebuah

stasiun televisi alternatif bagi masyarakat Indonesia. Sampai dengan tahun 1989,

masyarakat Indonesia hanya bisa menikmati siaran televisi dari satu saluran yaitu

Televisi Republik Indonesia.

Munculnya RCTI tidak lepas dari desakan masyarakat kepada pemerintah

untuk membuka kesempatan bagi dunia hiburan. Hal tersebut terkait dengan

kebijakan pemerintah mengizinkan pemakaian antena parabola untuk perorangan

pada tahun 1986. sebagian masyarakat mulai bisa menikmati beragam acara

televisi dari Negara tetangga seperti TV3 dan RTM-1 (Malaysia), TV-Thailand,

(37)

Kebijakan tersebut mengizinkan saluran khusus untuk mengudara dengan

menayangkan iklan. Kebijakan itu membuka kesempatan bagi televisi swasta.

RCTI merupakan perusahaan pertama yang diberi wewenang tersebut, setelah

yayasan TVRI tidak memiliki cukup modal untuk melaksanakan siaran itu.

Tetapi penunjukkan terhadap RCTI tentunya tidak lepas dari kepentingan

penguasa. Pada awal berdirinya, kepemilikan RCTI dikuasai oleh Bambang

Trihatmodjo, Putera Presiden RI pada waktu itu. Pada saat kebijakan tersebut

diberlakukan, Ia menjabat sebagai Direktur Utama RCTI.

Setelah penandatanganan perjanjian penunjukan SST-TVRI bersama

Direktur Televisi, Ishadi pada tanggal 22 Februari 1988, RCTI memulai siaran

percobaan di Jakarta. Siaran percobaan tersebut dimulai pada tanggal 14

November 1988 dengan waktu siar 4 jam sehari. RCTI kemudian resmi

mengudara pada tanggal 24 Agustus 1989.

Kebijakan Siaran Saluran Terbatas dimanfaatkan oleh RCTI untuk

mengudara dengan system “acak.” Lewat sistem ini, penonton televisi harus

memiliki alat tambahan untuk menikmati siaran RCTI. Alat tersebut dikenal

dengan “decoder,” untuk memiliki decoder ini, pemirsa televisi harus

berlangganan kepada RCTI.

Kebijakan Siaran Terbatas itu tidak belangsung lama. Pemerintah kembali

mengeluarkan kebijakan baru yang memungkinkan RCTI untuk bisa dinikmati

masyarakat tanpa berlangganan. Pada tanggal 1 Agustus 1990, RCTI dapat

diterima oleh pemirsa televisi di Jakarta dan sekitarnya tanpa menggunakan

(38)

dengan membolehkan televisi swasta mengudara secara nasional. Pada tanggal 24

Agustus 1993, RCTI mulai mengudara secara nasional.

B. Napak Tilas Perjalanan RCTI

23 Juni 1988 : Peletakan batu pertama oleh Gubernur DKI Jakarta, Bp.

Wiyogo Atmodarminto.

14 November 1988 : RCTI mulai melakukan siaran percobaan untuk

wilayah Jakarta selama 4 jam sehari dengan menggunakan decoder, jumlah

pelanggan 30.000.

24 Agustus 1989 : Stasiun RCTI diresmikan oleh Presiden Republik

Indonesia, Bapak. Soeharto, dan ditetapkan menjadi hari RCTI, jumlah pelanggan

menanjak menjadi 125.000.

01 Agustus 1990 : RCTI melepaskan penggunaan decoder, sebagai

konsekuensinya, maka pendapatan RCTI hanya bersumber dari iklan. Pelepasan

decoder juga bertujuan agar semakin banyak pemirsa yang dapat menikmati siaran

RCTI.

Agustus 1990-1992 : SCTV bersama-sama RCTI melakukan beberapa

program kerjasama : pemberitaan, sales & marketing, produksi dan teknik.

01 Mei 1991 : RCTI mengembangkan siarannya dengan meresmikan

stasiun RCTI Bandung.

24 Agustus 1993 : RCTI melakukan penajaman logo yang

menggambarkan penampilan dan semangat baru.

10 Februari 2001 : Peresmian stasiun transmisi RCTI yang ke-47 di

(39)

C. Profil RCTI

PT Rajawali Citra Televisi Indonesia merupakan stasiun televisi swasta

pertama di Indonesia. Berdiri pada tanggal 21 Agustus 1987, stasiun televisi yang

dibangun di atas tanah seluas 10 Hektar ini mulai mengudara dua tahun kemudian,

tepatnya bulan Agustus 1989.

Dengan wilayah jangkauan yang luas meliputi hampir seluruh wilayah di

Indonesia, serta penggunaan Satelit domestik Palapa B2P yang memungkinkan

merelay program ke seluruh pemirsanya, membuat RCTI menjadi stasiun televisi

paling digemari oleh pemirsa, terbukti dari tingginya rating dan share terhadap

program-program RCTI. Hal ini tentu saja membuat RCTI menjadi ladang yang

subur bagi para pengiklan yang hendak mengiklankan produk dan jasa mereka.

Di bawah naungan perusahaan induknya MNC (Media Nusantara Citra),

RCTI berhasil menempati posisi nomor satu diantara stasiun televisi lainnya di

Indonesia. Selain itu pengembangan teknologi yang dilakukan RCTI juga

memungkinkan pemirsa menikmati program-program RCTI melalui telepon

seluler dan Internet.

Didukung oleh lebih dari 1.550 tenaga profesional yang penuh semangat,

berdidikasi tinggi terhadap perusahaan, berkomitmen tinggi, serta konsisten

memberikan pelayan terbaik mereka terhadap pemirsa, menjadikan RCTI sebagai

pelopor dalam hal penyediaan program-program informasi dan hiburan terbaik

(40)

“RCTI adalah yang pertama dan terbaik”

“RCTI merupakan kebanggan bersama milik bangsa”

”RCTI OKE”

D. Visi dan Misi Stasiun Televisi RCTI

Visi

Media Utama Hiburan dan Informasi

Menjadi pilihan utama sebagai sumber hiburan dan informasi bagi

masyarakat dengan menyajikan program yang menarik dan berkualitas di mana

secara bersamaan memperhatikan keseimbangan faktor bisnis dan tanggung jawab

sosial sebagai media yang dominan di tanah air.

Misi

Bersama Menyediakan Layanan Prima

Menekankan semangat kebersamaan dalam membangun sebuah tim kerja

yang kuat di mana seluruh komponen perusahaan mulai dari level teratas sampai

terbawah mampu bersama-sama terstimulasi, terkoordinasi, dan tersistimatisasi

memberikan karya terbaiknya demi mewujudkan pelayanan terbaik dan utama.

Tiga Pilar Utama

• Keutamaan dalam Kebersamaan

• Bersatu Padu

(41)

Untuk mewujudkan visi dan misi perusahaan, ada 3 (tiga) nilai sebagai

pilar utama yang menjadi motivasi, inspirasi, dan semangat juang insan RCTI.

Proses kerja dilakukan dengan semangat kebersamaan untuk sampai pada hasil

yang mendapatkan pengakuan dari para “stakeholder” atas kualitas, integritas

yang ditampilkan.

E. Sarana Penunjang

Sebagai stasiun pertama dan nomor satu di Indonesia, RCTI memiliki

beberapa fasilitas penunjang yang memadai untuk mendukung kenyamanan kerja

diantaranya :

1. Gedung

Terdiri dari beberapa bagian gedung yang berfungsi sebagai ruang kerja

karyawan yaitu : Gedung Utama, Gedung Annexe, Gedung Studio 4, Gedung

Studio 1, Gedung Pergudangan, dan Gedung Koperasi.

2. Studio

RCTI memiliki 6 (enam) studio dengan berbagai ukuran, yang

dipergunakan untuk lokasi syuting program–program In House dan syuting

berbagai kegiatan promosi. Studio ini dilengkapi dengan peralatan syuting yang

memadai.

3. Menara Pemancar

RCTI memiliki 2 (dua) menara pemancar, diantaranya satu menara aktif

setinggi 275 meter, dan satu menara sebagai back up setinggi 151 meter.

(42)

Komplek RCTI dilengkapi dengan Masjid Raudhatul Jannah, yang cukup

luas dan mampu menampung banyak jamaah, serta dapat juga digunakan untuk

berbagai kegiatan keagamaan.

5. Sarana Olahraga

Sarana Olahraga yang terdapat di Komplek RCTI diantaranya : lapangan

basket, lapangan voley dan lapangan sepak bola.

6. Sarana Kesehatan

Klinik dokter umum dan dokter gigi terdapat di gedung koperasi,

dilengkapi juga dengan apotik, dan ruang istirahat.

7. Food Court, Kantin, Koperasi Karyawan & Cafe

Food Court, Kantin & Café Exelso juga merupakan fasilitas penunjang

yang terdapat di komplek RCTI.

8. Areal Parkir

RCTI memiliki areal parkir yang luas baik untuk parkir karyawan maupun

parkir tamu.

F. Gambaran Umum Sinetron Cahaya

Sinetron Cahaya adalah sinetron yang ditayangkan di RCTI pada pukul

20.00 WIB, yang diproduksi oleh SinemArt 2007.

Sinetron Cahaya adalah sinetron yang menceritakan tentang seorang anak

perempuan (Cahaya) yang diperankan oleh Naysila Mirdad. Dia adalah korban

(43)

oleh Yadi Timo, tega menjual anaknya sendiri (Cahaya) ke tempat pelacuran

untuk dijadikan seorang PSK.

Untungnya saja Cahaya bertemu dengan Teddy, seorang pengusaha yang

akhirnya menyelamatkannya. Kemudian Cahaya dijadikan pembantu di rumah

Teddy dengan tugas utamanya melayani dan menjadi teman anak bungsu Teddy

bernama Thalita (yang diperankan oleh Ririn Dwi Aryanti). Dari situlah timbul

berbagai macam konflik yang menghiasi cerita sinetron tersebut. Mulai dari

konflik persahabatan, percintaan, sampai dengan konflik rumah tangga turut

meramaikan alur ceritanya.

G. Cast and Crew

Sutradara: Doddy Djanes

Produser: Leo Sutanto

Desain Produksi: Heru Hendriyarto

Indrayanto Kurniawan

Cerita & Skenario: Serena Luna

Produksi: SinemArt (2007)

Pemain

Naysilla Mirdad sbg CAHAYA

Ririn Dwi Aryanti sbg THALITA

Glen Alinskie sbg RAKA

(44)

Aditya Herpavi sbg SAKTI

Meriam Bellina sbg ELGA

Rama Michael sbg ERWIN

Indah Indriana sbg ANGGREK

Nani Wijaya sbg NENEK RAKA

Yadi Timo sbg HENDRA

Dwi Yan sbg TEDDY

H. Sinopsis Sinetron Cahaya

Cahaya adalah korban dari kesulitan keuangan suatu keluarga. Untuk

menutupi kebutuhan keluarga, Hendra ayahnya tega menjual Cahaya ketempat

pelacuran. Cahaya yang semula mengira dibawa untuk menjadi pembantu, sangat

kaget mendapati dia ternyata dikirim ketempat pelacuran. Mengetahui ini Cahaya

berusaha Melarikan diri.

Ketika melarikan diri ini lah dia bertemu dengan Teddy seorang

pengusaha yang akhirnya menyelamatkannya.

Cahaya dijadikan pembantu dirumah Teddy dengan tugas utama melayani

dan menjadi teman anak bungsu Teddy yang cantik bernama Talita. Sampai

Cahaya pun harus ikut kuliah ditempat yang sama dengan Talita. Di kampus ini

(45)

Cinta. Sayangnya Raka ini adalah musuh bebuyutannya Talita, dan Cahaya

dilarang bergaul dengannya.

Talita dan Cahaya kemudian menjadi sahabat yang tak terpisahkan yang

membuat Teddy senang, hingga mereka dihadiahi sepasang kalung sebagai tanda

ikatan diantara mereka. Sementara itu diam-diam hubungan Cahaya dengan Raka

pun berkembang semakin dekat.

Suatu hari, kakak Talita, Erwin, pulang dari luar negeri. Anak yang sangat

diharapkan Teddy untuk menjadi penerusnya, tapi Erwin sama sekali tidak

berminat. Erwin juga bermusuhan dengan Talita adiknya. Permusuhan mereka ini

sampai menyebabkan suatu kejadian yang membuat Talita hampir celaka terjatuh

dari bangunan tinggi. Untungnya ada seorang kuli bangunan yang tampan

bernama Sakti berhasil menyelamatkan Talita. Sakti diam-diam sebenarnya jatuh

cinta pada Talita. Walaupun Talita berterima kasih pada Sakti, tapi dia tetap

memandang rendah Sakti. Sakti kecewa. Tapi Sakti yakin bahwa suatu saat Talita

jadi miliknya.

Suatu hari, Cahaya mengetahui kalau sebenarnya Talita sangat mencintai

Raka. Cahaya sangat terpukul begitu mengetahui bahwa hal ini, hingga akhirnya

dia memutuskan untuk mengalah. Cahaya mulai menjauhi Raka. Raka heran

dengan sikap Cahaya itu. tapi tak bisa berbuat apa-apa.

Sementara itu Raka kedatangan neneknya yang ternyata menginginkan

Raka dan Talita bertunangan karena mereka sudah berteman dari kecil. Bukan

main bahagianya hati Talita mendengar semua itu. Dia sama sekali tak menyadari,

bahwa diam-diam sahabatnya, Cahaya, benar-benar patah hati mendengar semua

(46)

Waktu berlalu… tiba-tiba saja prahara kembali menghadang kehidupan

keluarga Talita. Perusahaan yang selama ini dipimpin oleh Teddy mengalami

kemunduran luar biasa. Penyebabnya adalah sebuah perusahaan baru yang sangat

agresif. Keadaan ini benar benar menekan mental Teddy. Teddy pun jadi

sakit-sakitan. Talita dan Cahaya benar benar sedih melihat keadaan ini. Mereka

semakin prihatin melihat Erwin, sebagai penerus keluarga, tampak sama sekali tak

peduli. Erwin tetap sibuk dengan lukisan-lukisannya. Dan bahkan kini menambah

kepusingan keluarga karena dia menjalin hubungan cinta dengan Anggrek,

seorang penyanyi bar.

Talita pun nggak bisa berdiam diri. Dia memutuskan untuk terjun dalam

bisnis, dan berhenti kuliah. Cahaya juga mengambil keputusan yang sama.

Mereka kemudian bahu membahu menyelamatkan perusahaan. Sampai suatu saat

mereka akhirnya bertemu dengan pemilik perusahaan lawan yang menjengkelkan

itu. Dia adalah Sakti! Kuli bangunan yang menolong Talita bertahun yang lalu,

dan telah direndahkan oleh Talita. Sakti menegaskan pada Talita bahwa kini dia

telah membuktikan pada Talita bahwa dia bisa menjadi cowok yang pantas untuk

Talita. Tapi Talita menegaskan bahwa dia sudah memiliki tunangan dan akan

segera menikah. Sayangnya, Sakti sama sekali tak peduli.

Perusahaan Teddy semakin mengalami kemunduran. Teddy pun semakin

sakit-sakitan. Sementara itu hubungan Erwin dan Celia semakin tak bisa

dibendung. Elga istrinya Teddy untuk mengurangi beban pikiran suaminya dia

memaksa Erwin meninggalkan Anggrek dan menikah dengan gadis lain. Erwin

bingung dan menolak, tapi akhirnya mau menikah dengan gadis lain asal gadis itu

(47)

Cahaya yang merasa benar-benar berhutang budi, memutuskan untuk

menerima lamaran Erwin. Talita yang tahu Cahaya tak mencintai Erwin

melarangnya, tapi Cahaya tetap pada pendiriannya. Di hari pernikahan, Anggrek

tiba-tiba muncul. Saat itulah Erwin akhirnya mengambil keputusan paling besar

dalam hidupnya. Dia meninggalkan segalanya dan lari bersama Anggrek.

Tapi cobaan tak berhenti menghujani hidup Cahaya dan Talita. tak berapa

lama, Teddy akhirnya meninggal. Talita dan Cahaya merasa sangat sedih. Tapi

mereka pun membulatkan satu tekad. Mereka tetap harus memperjuangkan

perusahaan yang telah menjadi jiwa bagi mendiang Teddy. Dan satu-satunya jalan

yang ada adalah apabila Talita menerima tawaran Sakti untuk menjadi istri Sakti

dan menggabungkan perusahaan mereka.

Talita bingung bukan main. Dalam hatinya dia ingin tetap setia pada Raka.

Tapi dia juga tak bisa melihat perusahaannya hancur. Setelah melewati pemikiran

yang mendalam, Talita akhirnya memutuskan untuk menikah dengan Sakti.

Cahaya kaget setengah mati mendengar keputusan Talita. Cahaya menentang

(48)

BAB IV

ANALISIS DATA MENGENAI RESPON MASYARAKAT KARIHKIL

CISEENG BOGOR TERHADAP SINETRON CAHAYA DI RCTI

A. Tinjauan Daerah Penelitian

Desa Karihkil Kecamatan Ciseeng Kabupaten Bogor memiliki kepadatan

penduduk sekitar 10.982 jiwa. Yang terdiri dari 5.138 jiwa laki-laki dan 4.954

jiwa perempuan, yang terbagi ke dalam 4 RW dan 28 RT.

Dalam penelitian ini yang dijadikan sampel adalah masyarakat Desa

Karihkil Ciseeng Bogor yang berdomisili di RW 01. Adapun jumlah warga di RW

01 sebanyak 1.925 jiwa penduduk. Yang terbagi atas 967 jiwa laki-laki dan 958

jiwa perempuan yang terbagi atas 5 RT. Namun dari jumlah keseluruhan tersebut,

tidak semua warga tercatat sebagai warga tetap, tetapi ada juga sebagian warga

yang tidak tercatat sebagai warga tetap (bersifat musiman) dan juga hanya sebagai

warga terdaftar.

Adapun dari tingkat pendidikan masyarakat RW 01 Desa Karihkil Ciseeng

Bogor 35% (mayoritas) sampai kejenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP),

30% sampai kejenjang Sekolah Menengah Atas (SMA), 20% sampai kejenjang

Sekolah Dasar (SD), 10% yang melanjutkan keperguruan Tinggi dan 5% yang

tidak bersekolah sama sekali.

Sedangkan dari segi ekonomi masyarakat RW 01 Desa Karihkil Ciseeng

Bogor sebagian besar adalah sebagai pedagang/wiraswasta (40%), karyawan

(49)

tergolong cukup bagus (dalam artian pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari),

dari hasil bertani mereka jual dan sebagian lagi mereka konsumsi sendiri.

Untuk segi keagamaan masyarakat Desa Karihkil Ciseeng Bogor sebagian

besar beragama Islam (90%), beragama Kristen (1%), beragama katolik (1%),

dan beragam khonghucu (8%).

B. Profil Responden

Dalam penelitian ini, jenis kelamin responden di bagi ke dalam dua

bagian, yaitu laki-laki dan perempuan. Data selengkapnya tentang jumlah

responden dilihat dari jenis kelamin dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 1

[image:49.612.111.511.158.541.2]

di bawah ini.

Tabel 1

Jenis Kelamin Responden

No Jenis Kelamin F Prosentase

1 Laki-laki 20 21,5%

2 Perempuan 73 78,5%

Jumlah 93 100%

Data tabel di atas menunjukkan bahwa sebanyak 21,5% responden adalah

laki-laki dan 78,5% responden adalah perempuan yang menyaksikan sinetron

Cahaya.

Berdasarkan data tabel di atas dapat dilihat bahwa mayoritas penonton

adalah perempuan. Sinetron Cahaya adalah sinetron yang menceritakan tentang

(50)

Karena itulah para penonton, dalam hal ini perempuan menyukai sinetron Cahaya.

namun tidak menutup kemungkinan jika laki-laki juga menyukai sinetron Cahaya,

ini terbukti dengan adanya laki-laki yang menonton sinetron Cahaya sebanyak 20

orang.

Usia responden pada sinetron ini cukup bervariasi. Oleh karena itu peneliti

membagi usia responden ke dalam 6 kelompok. Usia 15-20 tahun, usia 21-25

tahun, usia 26-30 tahun, usia 31-35 tahun, usia 36-40 tahun dan usia 41-45 tahun.

[image:50.612.114.510.265.580.2]

Data tentang mengenai usia responden dapat dilihat pada tabel 2 di bawah ini.

Tabel 2

Jenis Usia Responden

No Jenis Usia F Prosentase

1 15-20 28 30,1%

2 21-25 27 29,0%

3 26-30 20 21,5%

4 31-35 6 6,5%

5 36-40 4 4,3%

6 41-45 8 8,6%

Jumlah 93 100%

Menurut data tabel di atas, ada beragam usia responden yang cukup

signifikan yaitu responden yang berusia 15-20 tahun sebanyak 30,1%, yang

(5

Gambar

Tabel 1 Jenis Kelamin Responden
Tabel 2 Jenis Usia Responden
Tabel 3 Jenis Pekerjaan Responden
Tabel 4
+7

Referensi

Dokumen terkait

( Kasus RW 01 Desa Laladon, Kecamatan Ciomas Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat ). DEPARTEMEN ILMU-ILMU SOSIAL EKONOMI PERTANIAN

Artinya terdapat pengaruh sinetron remaja di SMU Swasta GBKP Kabanjahe.Dengan demikian dapat disimpulkan dari penelitian ini bahwa Ha (Hipotesa Alternatif) diterima yaitu

sinetron si entong ini baik, bhakan sangat baik yaitu 76 %.. Dari data tabel di atas, 67 % responden yang menjawab tidak. Jelas bahwa. sinetron si entong ini tidak membosankan.

Dari hasil penelitian dapat dikatakan bahwa secara umum tayangan sinetron anak jalanan sangat disukai oleh masyarakat Indonesia, hal ini dikarenakan tayangan tersebut memiliki

Hasil analisis dari penelitian ini menunjukan bahwa regresi pengaruh antara sinetron terhadap konsumsi barang ( Fashion ) pada masyarakat muslim di Kelurahan Amparita,

Berdasarkan data hasil penelitian dan setelah dilakukan tabulasi data maka dapat diketahui bahwa mayoritas responden di daerah Paloh- Sambas menyatakan bahwa

Hasil penelitian secara univariat menyatakan bahwa perilaku merokok pada lansia laki- laki di RW 18 Kelurahan Ciangsana Kecamatan Gunung Putri Bogor sebagian besar

Dalam penelitian ini merasa bahwa sikap pergaulan bebas tidak hanya timbul dari kegemaran mereka menonton sinetron remaja yang ditayangkan di televisi, akan