Urban Redevelopment Authority (URA) Gallery
Foto 15: Di depan URA galery, Singapore
rban Redevelopment Authority (Singkatan: URA; China: 市区 重建 局; Melayu: Lembaga Pembangunan Semula Bandar) adalah kewenangan perencanaan nasional perkotaan Singapura, dan sebuah badan hukum di bawah Kementerian Pembangunan Nasional Pemerintah Singapura.
U
EKO NURSANTY
Kewenangan ini didirikan pada tanggal 1 April 1974, dan sangat penting terutama penting bagi negara-kota, karena Singapura adalah sebuah negara yang sangat padat di mana penggunaan tanah perlu efisien dan dimaksimalkan untuk mengurangi pemborosan lahan dalam menghadapi kekurangan lahan . The URA juga bertanggung jawab untuk membantu untuk memfasilitasi keharmonisan ras, seperti untuk memiliki perencanaan kota mereka menghindari segregasi, serta mencari cara untuk meningkatkan estetika dan untuk mengurangi kemacetan. Hal ini juga bertanggung jawab bagi konservasi bangunan bersejarah dan budaya dan situs warisan nasional.
Foto 16: Maket Perencanaan Kota Singapore
Ini adalah tanggung jawab URA untuk mengevaluasi dan memberikan persetujuan perencanaan proyek-proyek pembangunan dari sektor publik dan swasta. Dalam menyetujui aplikasi pembangunan, URA menyatakan tujuannya adalah untuk mendorong pengembangan tertib sesuai dengan pedoman perencanaan sebagaimana tercantum dalam Rencana Induk perundangan serta faktor kontrol yang ada. URA mencoba untuk memberikan kualitas pelayanan ketika bekerja dalam kemitraan dengan bangunan profesional industri dan masyarakat umum untuk mendorong pembangunan.
Carpark management
URA memainkan peranan yang sangat penting didalam pengaturan parker di Singapore. Mereka memberikan informasi dan
pelayanan kepada
masyarakat mengenai kupon parker, periode-periode parker dan area parker untuk kendaraan berat.
Tarif parkir pada area yang sama namun pada titik-titik dengan kepadatan tertentu akan memiliki tarif yang berbeda, disesuaikan dengan titik kepadatan, jam serta hari saat melakukan parkir.
Diatas adalah contoh table tarif parkir di area Orchard berdasarkan criteria-kriteria detail yang dibuat oleh pemerintah Singapore.
Berdasarkan table diatas dapat kita ketahui bahwa diantara sepanjang jalan Orchard Road atau area Pusat bisnis yang dimiliki oleh Singapore, titik parkir Somerset memiliki harga parkir yang paling mahal diantara yang lainnya.
Peta 1: Orchard Road
Sebagai gambaran, peta diatas menggambarkan luasnya wilayah Orchard Road beserta beragam titik pusat bisnis kelas dunia yang ada di dalamnya.
Secara lebih detil, inilah wilayah Somerset di wilayah Orchard. Berdasarkan zoning penggunaan lahan, Somerset adalah area dengan zone private berisikan apartment dan perumahan mewah. Pemerintah menyediakan transportasi umum berupa MRT bernomor NS23 yaitu Station Somerset. Namun demikian para penghuni atau pun tamu yang menggunakan kendaraan pribadi
Table 2: Tarif parkir di Singapore
EKO NURSANTY
dianggap memiliki kemampuan cukup tinggi untuk mensubsidi harga parkir dengan lebih mahal, sehingga tarip parkir di area ini, adalah : 2$ SGD 1 jam pertama dan akan bertambah 0,2 $ SGD setiap 30 menitnya. Hal ini sangat berbeda dengan bayangan saya, bahwa tarif parkir termahal biasanya diletakkan pada area-area perdagangan dan bisnis, karena sanagt memungkinkan ditambahkan pada harga jual produk yang mereka perdagangkan, sedangkan pemukiman penduduk umumnya justru mendapatkan subsidi karena waktu penggunaannya yang rutin dan panjang.
Namun Singapore tidak demikian, mereka memang sangat memanjakan aktivitas bisnis dalam setiap lini pengambilan keputusan. Sebagai contoh, bila kita menginap di Hotel berbintang, semua fasilitas bisnis sekaligus ada di dalam harga booking kamar tersebut termasuk diantaranya menelpon lokal dan internasional, menerima dan mengirim fax, video conference, dsb. Ini semua adalah kemudahan pemerintah dalam bidang bisnis yang terus menerus mereka kembangkan.
Land Transportation Authority (LTA) Gallery
Sudah lama saya ingin berkunjung ke Land Transport Authority (LTA) di Singapore, namun beberapa kali pula terpaksa gagal.
Sehingga di benak saya telah tertanam LTA gallery di Little India, Singapore adalah pengejaran saya berikutnya. Rasanya, lokasi dan gambar bangunannya sudah lekat banget di benak saya.
Mungkin saking kencengnya rasa ingin ke sana, berbagai hal yang umumnya terjadi dan menjadi halangan seperti beberapa kali pernah terjadi sebelumnya, cepat sekali membuat saya tegang dan panik.
30 menit sebelum waktu keberangkatan kami ke LTA gallery, saya buka kembali internet hanya untuk memastikan nama jalan lokasi yang saya tuju. Kalau dulu saya membuka info dari traveling site, sekarang dari Singapore Government Site. Nah...
yang muncul, ada 5 alamat yang menjadi bagian dari pengembangan Land Transportation Authority nya Singapore.
Saya coba tanyakan pada Desmond (petugas hostel yang kami inapi), diantara Foto 18: Di Depan LTA Gallery
Desmond bilang, tidak ada satu pun dari 5 alamat itu yang berada di Little India...!!!! So, lebih baik saya mengunjungi kantor pusat mereka di sekitar CHIJMAS.
Setelah menggunakan SBS dan jalan kaki menuju gedung itu, petugas yang tanpa senyum, mendengarkan perkenalan saya dengan sabar... saat saya bertanya, bisakah saya berkunjung ? Dia cuma menjawab dengan MENGGELENG....!! Saya agak kurang yakin, "Do you mean... I can't see the gallery today ? How about tomorrow ?"
Dia bilang...NO... kantor yang saya datangi bukan untuk umum...
Meski tanpa senyum dan berkesan dingin, dia mengambil peta dan menunjukkan saya alamat lain (yang tadi saya tunjukkan ke 5 alamat pada Desmond)... dia arahkan saya...sini, sana....sini... dan memberi tanda pada Hampshire Road... dan membuat saya hampir menjerit... itu khan cuma 10 menit dari hostel kami, dan memang lokasinya di LITTLE INDIA...Halah...!!!!
Sesampai disana, waktu berkunjung sudah habis, karena beberapa obyek kami prioritaskan untuk dikunjungi sebelum akhirnya kembali ke Little India.
Saat mendaftar, saya diberi waktu berkunjung besok sore jam 3, padahal kami akan meninggalkan Singapore jam 12 siang. Saya....HAMPIR... memohon, ijinkan 1 saja diantara kami untuk ikut masuk rombongan siapa pun, asalkan pagi sebelum jam 12. Dan, akhirnya... kami semua diijinkan berkunjung jam 11.00 lengkap seluruh peserta KKL.
Esoknya, menjelang jam 10, hujan sangat deras di Singapore. para mahasiswa yang tidak membawa payung, berniat menggunakan spanduk sebagai penutup kepala menuju lokasi LTA gallery.
Jadilah kami mengunjungi LTA Gallery dalam keadaan basah kuyup...hehehe...
Student Excursion Study to China Keliling 3 negara 5 kota, berbekal Rp. 4,3jt
Foto 19: Sejarah Transportasi di Singapore
Foto 20: Penjelasan konstruksi monorail MRT
Rasanya SEMUA ketegangan itu SANGAT berharga bagi kunjungan ke LTA gallery ini. Mereka punya konsep gallery, mulai dari menceritakan sejarah permasalahan transportasi umum di masa lalu, kondisi yang telah ada dibandingkan dengan kota-kota lain yang ada di seluruh dunia.
BAYANGIN aja...
Mereka membandingkan kereta-kereta yang ada di Shanghai, Tokyo, India....dsb. Saat saya menanyakan "How about Singapore ?" Mereka menjawab dengan jujur, "Yang kami punya tidak ada yang secepat mereka...."
Sangat rendah hati banget sih, mereka... bikin minder saya yang takut
Terkadang semua pilihan jawaban adalah benar, dan mereka menunjukkan kondisi2 yang membutuhkan pemecahan permasalahan berbeda-beda.
Yang bikin kami gemes...bengong....terkesiap..."lebih banyak kagum"
mereka memaparkan mega proyek mereka untuk public transportasi mereka 20 tahun kemudian. Misalnya :
Saat saya ingin menuju sebuah lokasi, saya tunjukkan arah tujuan, internet akan menunjukkan no bus yang mesti saya naiki, waktu kedatangannya....dan jumlah kursi yang masih kosong...dan tentu saja kursi itu bisa saya booking langsung...!!!!
Bayangin, kebiasaan booking online untuk kursi pesawat, akan menjadi kebiasaan biasa saat orang mau naik bus kota di Singapore.
Asyiknya, info kendaraan umum seperti diatas, akan ditanamkan seprti GPS yang ada saat ini, namun menjadi semakin simple pada SEMUA handphone yang bentuknya mungkin semakin simple mirip jam tangan yang dipakai semua orang....
Dengan semangat tinggi... kami semua berharap, bisa segera melakukan sesuatu setelah kembali ke tanah air, sehingga layak untuk melihat mega proyek Singapore, bersama-sama kembali....20 tahun yang akan datang...hahahaha...
Mengulang KKL bersama anak dan cucu...*ikut-ikutan merancang proyek 20 tahun mendatang* kata salah seorang mahasiswa saya...:)
Changi International Airport
Foto 21: Interior Changi International Airport dari atas
Student Excursion Study to China Keliling 3 negara 5 kota, berbekal Rp. 4,3jt
Menurut Skytrax, Changi international airport, menempati rangking airport berbintang 5, selain Hongkong International Airport dan Seoul Inchean.
Airport ini memiliki rangking tertinggi, antara lain pada:
Location of Public Transport facilities, Frequency of Express link(s) downtown.
Availability of baggage carts : Airside
Ease of Locating Check-in counters
Facilities in meet & greet areas
Directional signage around airport
Bandara ini mengalami perkembangan yang sangat menonjol. Pada tahun 2005, Bandara Changi Singapura dapat menampung 32,43 juta penumpang, yang naik sebesar 7% dari tahun sebelumnya. Ini membuatnya menjadi bandara tersibuk ke-26 di dunia dan ke-6 di Asia diukur dari kepadatan penumpang. Dana sebesar S$1,75 milyar telah dikeluarkan untuk pembangunan Terminal 3. Pada tahun ini, Bandara Changi sudah berhasil membuat dua terminal baru, yaitu Terminal CIP yang diberi nama JetQuay dan Budget Terminal.
Terminal 3
Peta 2: Terminal 3 Changi Airport
Terminal 3 adalah bangunan terbaru yang banyak mendapat perhatian
33
Kedatangan, Keberangkatan L2, L3 landside Ritel Mezzanine dan L4 Melihat Platform.
Perencanaan interior mencakup 25.000 meter persegi dari floorspace untuk 100 toko ritel, 30 makanan dan minuman dan 20 konsesi layanan. Tata letak jalan perbelanjaan kompak meningkatkan visibilitas dari gerai ritel ditingkatkan dengan aplikasi super grafis sederhana yang jelas dan disain yang mudah dikenali.
Empat prinsip desain yang diimplementasikan untuk menampilkan konsep desain, yaitu: kejelasan, cahaya alami, pandangan eksternal, perawatan. Elemen ini ditujukan seperti: Untuk kejelasan perjalanan penumpang melalui Terminal 3 adalah sederhana dan alami. Minimal signage diperlukan karena orientasi mudah melalui tekstur, bahan, dan isyarat arsitektur halus. Desain untuk arsitektur interior telah memaksimalkan penerapan cahaya alami yang tersedia melalui struktur atap skylight. Sebuah sistem modulasi cahaya otomatis berisi skylight kaca dan ribuan louver aluminium. Pada siang hari, kisi-kisi ini dapat diposisikan untuk membatasi atau meningkatkan jumlah cahaya sehingga tidak diperlukan pencahayaan buatan. Pada malam hari, cahaya buatan ini tercermin dari kisi-kisi untuk memberikan pola seragam iluminasi.
Tampilan eksternal yang menonjol di seluruh tempat penumpang memiliki akses visual yang luas dengan lanskap eksternal, termasuk pendaratan dan penerbangan pesawat, berkontribusi terhadap pengalaman perjalanan total terminal. Terminal 3 dirancang untuk kemudahan pemeliharaan, mulai dari penyelesaian bahan-bahan bagi pemilihan furnitur.
Arsitektur interior Terminal 3 ditandai dengan “home” warga Singapura.
Pengunjung pada terminal Kedatangan dan ruang Keberangkatan akan disambut dengan spektakuler cascade air terjun kristal dan taman 'dinding hijau' vertikal 300 meter membentang sepanjang bangunan utama, yang mencerminkan pemandangan Singapura tropis yang rimbun.
Student Excursion Study to China Keliling 3 negara 5 kota, berbekal Rp. 4,3jt
Lagi-lagi di imigrasi Singapore
Foto 22: Setelah melewati imigrasi
Perjalanan bersama para mahasiswa, bagiku selalu mirip naik roler coaster.
Amat sangat mendebarkan saat mempersiapkannya, cemas dan nervous menjelang keberangkatannya, pucat saat titik tertentu... dan akhirnya, menyungging senyum penuh dengan rangkaian kata di benak untuk persiapan kelompok berikutnya.
KKL pertama tahun lalu sewaktu mendarat di Singapore setelah menyeberang dengan ferry dari Batam, Pak Anwar(Ketua Prodi Arsitektur UNTAG Semarang) sempat tertahan di Imigrasi Singapore sekitar 4-5 jam.
Beliau diintrogasi karena punya nama "ANWAR" dan terus ditanya pernahkah berkunjung ke lokasi2 tempat peledakan bom dan terorisme yang terjadi di Philipina, dsb.
Kali ini, kami sudah memperhitungkan kondisi terburuk yang mungkin terjadi. Semua peserta membawa buku panduan berisi semua hal yang telah kami persiapkan dan kumpulkan datanya. Semua dokumen penting sudah kami simpan secara online, untuk kemungkinan dokumen fisik hilang, tertinggal atau tercuri.
Ini sangat nggak biasa buat saya. Ada yang sempat memotret, dipaksa oleh petugas untuk menghapusnya.
Sebeleum masuk imigrasi yang sudah lengkap dengan X ray. Ada pra re secure. Ini aja sdh bikin heran.... mau berapa kali x ray yang mesti kami lewati hari ini...???
Masuk imigrasi, kali ini yang tertahan dan diperintahkan "resecure" seperti yang tahun lalu terjadi dengan Pak Anwar, adalah Mahmudi. Padahal kami sudah mengepung ketat untuk melindungi Felix agar tidak ada masalah dengan petugas imigrasi. Kami melindungio Felix, karena dia punya kelemahan intonasi suara yang mirip bergumam, sehingga menyulitkan orang untuk mendengar suaranya dengan jelas.
Dan Felix lolos lebih cepat, sementara Mahmudi mendapat perintah
"masuk kotak imigrasi".
Alhamdulillah... sama seperti Pak Anwar, dia juga dikeluarkan.
Ucap Mahmudi ketika bertemu kami kembali, "Mereka mengancam mengembalikan saya ke Indonesia, terus saya tunjukkan tiket pulang saya, dari Kuala Lumpu. Dan akhirnya mereka melepas saya...."
Halah...!!!!
Student Excursion Study to China Keliling 3 negara 5 kota, berbekal Rp. 4,3jt
Singapore Sightseeing.
Singapore memiliki 3 jenis heritage area yang sangat terjaga keindahannya dan memiliki fungsi wisata yang sangat kuat, yaitu : Little India Area, Chinatown Area dan Kampoeng Glam (Moslem Area / Arab Street) diantara beberapa area bisnis besar dan modern yang mereka miliki. Ketiganya memiliki ciri khas yang sangat unik dan cantik.
Kawasan Herritage
Keterangan
Little
India.
China
town.
EKO NURSANTY
Kampoeng Glam
.
Halah, nasi Briyani……!!!!
Biryani (Nastaliq: ی نا یر ب ; bahasa Hindi: बिरयानी) atau biriani (beriani) adalah hidangan berupa nasi (biasanya dari beras basmati) yang dimasak bersama rempah-rempah, sayuran, atau daging. Di Indonesia dan Malaysia, hidangan ini disebut dengan tambahan kata nasi (nasi biryani, nasi briyani, nasi briani, atau nasi beriani). Nama hidangan ini berasal dari bahasa Parsi, beryā(n) (نا یر ب) yang berarti goreng atau panggang. Pada zaman dulu, beras digoreng di dalam minyak samin sebelum direbus di dalam air bersama rempah-rempah hingga setengah matang.
Biryani dibuat dari beras yang sudah direbus di panci terpisah. Setelah beras setengah matang, beras dicampur dengan bahan-bahan lain, ditutup rapat di dalam panci, dan dimasak hingga matang. Biryani berbeda dengan pullao (pilaf) dalam cara memasak. Sewaktu membuat pullao, beras digoreng bersama rempah-rempah di dalam minyak samin, dan langsung dimasak hingga matang.
Pelancong dan pedagang Parsi memperkenalkan cara memasak biryani kepada orang India dan Pakistan. Hidangan ini tidak hanya populer di India dan Pakistan, melainkan juga di Irak, Iran, Afganistan, Bangladesh, dan kalangan penduduk muslim Sri Lanka.
Karena kami menginap di Little India, makanan ini kerap menjadi pilhan karena porsinya yang sangat banyak dan bisa kami makan berdua dengan harga sekitar 5 SGD / porsinya. Namun demikian bumbu yang sangat kental dan menyesak, kerap kali membuat kami tidak nyaman dan akhirnya berlari terbirit-birit kalau menemukan aroma ini di tempat yang lain secara berkali-kali hehehe…..
Foto 23: Nasi Briyani, masakan khas di Little India
Student Excursion Study to China Keliling 3 negara 5 kota, berbekal Rp. 4,3jt
Dari Indonesia, mbak ?
Singapore adalah tujuan terdekat bagi semua pelajar dan mahasiswa yang ingin melakukan trip pertamanya ke luar negeri.
Footprints adalah salah satu hostel yang popular di kalangan backpacker karena mereka memiliki komunitas penggemar footprints di Facebook. Adrian, sang moderator dengan rajin menyapa para membernya sambil memberitakan acara-acara terbaru yang mereka gelar di sana.
Rasanya ini perlu menjadi strategi pemasaran juga bagi banayk penginapan di Indonesia. Menyapa hangat sambil menawarkan dengan wajar disela-sela diskusi dan menerima order adalah bagian dari konsep Marketing in Venus yang terkenal di Indonesia.
Saat kami tiba di Singapore, saat itu adalah 5 hari setelah hari lebaran 1431H, dan ada banyak sahabat baru yang kami temukan di perjalanan dan berasal dari Indonesia. Mudah sekali mengenali mereka dari obrolan mereka satu sama lain yang tertangkap dalam bahasa Indonesia. Sesuatu yang selalu tersirat diantara mereka adalah, persiapan matang sebelum keberangkatan selalu mengasyikkan buat kami. Bertukar informasi tentang banyak tempat yang telah atau akan kami kunjungi menjadikan kami merindukan tanah air sekaligus bersyukur bertemu dalam rangkaian perjalanan jauh dari sanak keluarga.
Satria adalah sahabat yang kami temui di Footprints Hostel. Dia melakukan perjalanannya sendiri berbekal info teman-temannya dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang telah lebih dulu melakukan perjalanan backpackernya. Satria memulai perjalanannya dari Malaysia bergeser ke Singapore dan kembali dari Singapore menuju tanah air. Ketika kamu kemudian membandingkan rute kami, akhirnya kami menyadari bahwa lebih menguntungkan perjalanan yang mendarat di Singapore dari tanah air disbanding sebaliknya. Pajak bandara Singapore, Bangkok, Vietnam memiliki angka yang cukup tinggi di Asia, jika dibandingkan Yogya, mereka 2,5 kali lebih mahal yaitu sekitar Rp. 225.000. Sedangkan terbang dari LCCT Kuala
Foto 24: Berfoto bersama sahabat dari UGM