BAB IV SEMANTIK KATA KHALĪFAH
C. Sinkronik dan Diakronik
Aspek sinkronik merupakan aspek yang tidak berubah dari konsep atau kata, dalam pengertian system kata bersifat statis.78 Dari sisi aspek sinkronik ini kata
76 Muhammad Iqbal Maulana, Konsep Jihād Dalam al-Qur`an (Kajian Analisis Semantik
Toshihiko Izutsu), Skripsi, (Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2015), hlm. 12.
77Muhammad Iqbal Maulana,Konsep Jihād Dalam al-Qur`an...,hlm. 12. 78Muhammad Iqbal Maulana,Konsep Jihād Dalam al-Qur`an...,hlm. 12.
khalīfah memiliki makna yang statis di mana di dalam masa Islam ia dimaknai
sebagai pengganti. Seperti nabi-nabi yang disebutkan dalam ayat-ayat tentang
khalīfah di dalam al-Qur`an sebagai pengganti-Nya dalam menguasai bumi dan
memeliharanya. Selain itu dalam sistem Islam setelah meninggalnya Rasulullah, kata khilafah juga memiliki makna pengganti, yaitu orang yang menggantikan pemimpin sebelumnya, seperti yang dikatakan Imam al-Baghawi dalam Syarh al-Sunnah,
“Tidak apa, orang yang memimpin kaum Muslim disebut Amirul Mukminin atau
Khalīfah, meskipun melanggar perilaku para imam keadilan, karena menduduki
kepemimpinan kaum Mukmin dan dipatuhi oleh kaum Mukmin.” Dia mengatakan lagi, “Disebut khalīfah karena menggantikan pemimpin yang lalu dan menempati
posisinya.”
Sedangkan aspek diakronik adalah pandangan terhadap Bahasa, yang pada prinsipnya menitik beratkan pada unsur waktu. Sekumpulan kata yang masing- masing tumbuh dan berubah bebas dengan caranya sendiri yang khas.79 Diakronik merupakan pendekatan yang digunakan untuk melakukan studi atas fenomena kebahasaan sesuai dengan urutan sejarah. Kajian diakronik Bahasa berkaitan dengan variasi, ragam-ragam, atau dialek-dialek satu bahasa. Dalam dikotomi sinkronik dan diakronik, yang menjadi dasar adalah linguistik yang sinkronik. Hal ini disebabkan fakta bahwa ada dan berkembangnya linguistik diakronik baru didasarkan pada ada dan berkembangnya linguistik sinkronik.80
79Muhammad Iqbal Maulana,Konsep Jihād Dalam al-Qur`an...,hlm. 12. 80Fathurrahman,Al-Qur`an dan Tafsirnya ..., hlm. 45.
Objek penelitian ini adalah kosa kata al-Qur’an, sedangkan kosa kata al- Qur’an sendiri berkaitan dengan kosa kata yang sebelumnya digunakan masyarakat pra-Islam, maka penelusuran kosa kata di luar sistem al-Qur’an masih relevan, sepanjang hal tersebut dapat memberi informasi yang berguna bagi pembentukan konsep semantik al-Qur’an, terdapatnya signifikansi penggabungan semantik historis dengan semantik sinkronis dalam menganalisis struktur kosa kata al-Qur’an, dan kandungan unsur semantik dasar sebuah kata masih ada di manapun kata tersebut diletakkan dan digunakan.
Dalam analisis semantik historis kosakata ini, Izutsu membagi periode waktu penggunaanya dalam tiga periode, yaitu pra Qur`anik, Qur`anik, dan pasca Qur`anik.81
1. Pra Qur`anik
Periode pra Qura`nik adalah masa sebelum Islam datang. Dalam memahami arti kosakata pada masa pra Qur`anik syair-syair jahili adalah salah satu media yang representative untuk digunakan. Syair jahili adalah syair yang berkembang sebelum Islam datang. Dalam mencari makna khalīfah dalam syair-syair
jahiliyyah, penulis menemukan sebuah syair karya dari seorang penyair yang memiliki julukanGadis Berjari Agresif[ﻲﻧاوﺪﻌﻟا ﻊﺒﺻﻹا يذ تﺎﻨﺑ] yang bunyinya:
و ﺮﺸﻨﻟا ﺐﻴﻃ بﺎﺒﺸﻟا ﺚﻳﺪﺣ ... ﲎﻏ يوذ س أ ﻦﻣ ﻲﺟوز ﺖﻴﻟ ﻻأ
ا
ﻛﺬﻟ
ﺮ
ﺮﺗو ﻰﻠﻋ مﺎﻨﻳ ﻻ نﺎﺟ ﺔﻔﻴﻠﺧ ... ﻪﻧﺄﻛ ءﺎﺴﻨﻟا دﺎﺒﻛ قﻮﺼﻟ
Ingatlah, seandainya suamiku bagian dari orang-orang kaya . . . maka cerita yang beredar akanlah sangat indah baik pula sebutannya
Dan akan selalu melekat di hati-hati para wanita … bahwa ia lah sang penjaga
hati yang tak pernah tidur dalam kesendirian82
Jadi dalam syair tersebut, kata khalīfah memiliki arti sang penjaga atau sang
penguasa. Yaitu yang menjaga hati para wanita, yang menguasai hatinya,
sebagaimana tugas seorang suami pada umumnya. Menggantikan posisi ayahnya si wanita yang telah menjaga wanita tersebut sejak dilahirkan. Maka, setelah seoranh wanita menikah dengan seorang lelaki, maka hati si wanita tersebut menjadi tanggung jawab dari si lelaki atau si suami tersebut.
2. Qur`anik
Yang dimaksud masa Qur`anik di sini adalah masa di mana Islam telah datang. Islam bersama al-Qur`an dan syari’at-syari’atnya membawa konsep-konsep baru yang berbeda dengan konsep yang telah dipegang pada masa jahiliyah. Maka, beberapa kata kunci al-Qur`an ada yang berubah maknanya dari makna pada masa jahiliyah kepada masa Islam, meskipun pada dasarnya tidak menghapus makna aslinya, karena makna asli dari suatu kata akan selalu melekat pada kata tersebut. Hanya saja dengan datangnya konteks yang baru, maka makna dan penggunaannya dapat berubah.
82Syā’irāt al-‘Arab fī al-Jahiliyyah wa al-Islāmi, (Beirut: al-Maktabah al-Ahliyah, 1934), hlm.
Pada pembahasan ini, kata khalīfah akan dikaji tentang bagaimana maknanya
yang digunakan dalam al-Qur`an dengan menerangkan secara rinci dari akar katanya hingga bentuk-bentuk turunannya yang digunakan oleh al-Qur`an. Kata yang pada dasarnya terbentuk dari tiga hurufف– ل– خini dalam berbagai bentuknya dan aneka ragam maknanya terulang penggunaannya dalam al- Qur`an sebanyak seratus dua puluh tujuh kali83 dengan dua belas kata jadian. Berikut adalah bentuk kata dan maknanya yang digunakan di dalam al-Qur`an, yaitu84:
a. Kata َﻒَﻠَﺣ yang berarti mengganti terulang sebanyak dua kali yaitu dalam
surat Al-A’raf [7] ayat 169 dan surat Maryam [19] ayat 59.
b. Bentuk masdar-nya yaitu ٌﻒْﻠّﺧ yang memiliki tiga makna dalam al-Qur`an,
yaitu:
1) generasi terulang tiga kali dalam surat Al-A’raf [7] ayat 169, surat
Maryam [19] ayat 59, surat Al-Baqarah [2] ayat 66;
2) belakang terulang sebanyak 18 kali dalam surat Yunus [10] ayat 92,
surat Maryam [19] ayat 64, surat al-Ra’d [13] ayat 11, surat Fuṣṣilat [41] ayat 42, surat al-Ahqāf [46] ayat 21, surat al-Jin [72] ayat 27, surat al-Baqarah [2] ayat 255, surat al-Nisā [4] ayat 9, surat al-A’rāf [7] ayat 17, surat al-Anfāl [8] ayat 57, surat Ṭāhā [20] ayat 110, surat al-Anbiyā’
83Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi, Mu’jam al-Mufahras li al-Faz al-Qur`an, …, hlm. 303-306. 84 Abd. Rahim, Khalif dan Khilafah Menurut Al-Qur`an, Jurnal Hunafa: Studi Islamika,
[21] ayat 28, surat al-Hajj [22] ayat 76, surat Saba’ [34] ayat 9, surat Yāsīn [36] ayat 9, dan surat Fuṣṣilat [41] ayat 14 dan 25; dan
3) yang akan datang yang disebutkan sekali dalam surat Yasin [36] ayat
45.
c. Kata ﻲِﻧ ْﻮُﻤُﺘْﻔَﻠَﺧ yang berarti sesudah kepergiankuterulang sebanyak satu kali
dalam surat Al-A’raf [7] ayat 150.
d. Penggunaan fi’il muḍāri’ dari bentuk ṡulāṡī [ َنﻮُﻔُﻠ ْﺨَﯾ] yang berarti turun
termurun/berganti-gantiterulang 1 kali dalam surat al-Zuhruf [43] ayat 60.
e. Bentukfi’il ‘amr ṡulāṡī[ﻲِﻨْﻔُﻠ ْﺧا] yang berarti gantikanlah akujuga terulang 1
kali di dalam surat al-A’raf [7] ayat 142.
f. Penggunaan bentuk fi’il māḍī majhūl ṡulāṡī mażīd [ﺧﻠﱢﻔُﻮُْ ا] yang berarti
ditangguhkanterulang 1 kali dalam surat al-Taubah [9] ayat 118.
g. Fiil mudhari [ﻢُﻜُﻔِﻟﺎَﺧُأ] yang berarti menyalahi terulang sekali dalam surat
Hud [11] ayat 88. Dan [ َنﻮُﻔِﻟﺎَﺨُﯾ] yang juga berarti menyalahi terdapat dalam surat al-Nur [24] ayat 63.
h. Bentuk fi’il [ ُﻒِﻠ ْﺨُﯾ – َﻒَﻠ ْﺧَأ] yang berarti menyalahi atau melanggar, fi’il
madly-nya terulang sebanyak empat kali dalam surat Ibrahim [14] ayat 22,
surat Thaha [20] ayat 86 dan 87, serta surat al-Taubah [9] ayat 77. Sedangkan bentuk mudharik-nya terulang sepuluh kali, yaitu dalam surat
Ali Imran [3] ayat 9 dan 194, surat Thaha [20] ayat 58 dan 97, surat al- Baqarah [2] ayat 80, al-Ra’d [13] ayat 31, al-Hajj [22] ayat 47, surat al-Rum [30] ayat 6, al-Zumar [39] ayat 20, dan surat Saba’ [34] ayat 39.
i. Fi’il muḍāri’ [ َنﻮُﻔﱠﻠَﺨَﺘَﯾ] yang berarti turut menyertai terulang 1 kali dalam
surat al-Taubah [9] ayat 120.
j. Fi’il ṡulāṡī mażīd [ ُﻒِﻠَﺘْﺨَﯾ - َﻒَﻠَﺘْﺧا] yang berarti berselisih terulang sebanyak
34 kali, yaitu dalam surat al-Baqarah [2]: 213, surat Āli Imrān [3]: 3, surat Maryam [19]: 37, surat al-Zukhruf [43]: 65, surat al-Anfāl [7]: 42, surat al- Syura [42]: 10, surat al-Baqarah [2]: 176, 213, 213, 253, 113, surat Āli- Imrān [3]: 105, 55, surat al-Nisā [4]: 157, surat Yūnus [10]: 19, 93, 19, 93, surat al-Nahl [16] 64, 124, 92, 124, surat al-Jāsiyah [45]: 17, 17, surat al- Mā’idah [5]; 48, surat al-An’ām [6]: 164, surat al-Hajj [22]: 69, surat alZukhruf [43]: 63, surat al-Naml [27]: 76, surat al-Sajadah [32]: 25, surat al-Zumar [39]: 3, 46, surat Hūd [11]: 110, surat Fuṣṣilat [41]: 45.
k. Bentukfi’il[ ُﻒِﻠ ْﺨَﺘْﺴَﯾ– َﻒَﻠ ْﺨَﺘﺳأ] yang berarti 1) menjadikan berkuasa, terdapat
dalam ayat surat al-Nur [24] ayat 55, 2)mengganti, terulang dua kali dalam
surat al-An’am [6] ayat 33 dan surat Hud [11] ayat 57, dan 3) menjadikan
khalīfahserta berbagai perubahanḍamīr-nya terulang sebanyak 5 kali.
l. Kata َﻦﯿِﻔِﻟﺎَﺨﻟا yang berartiorang yang tidak ikut berperang digunakan 1 kali
dalam surat al-Taubah [9] ayat 83.
m. Kata ٌف َﻼﺧ yang berarti 1) timbal balik terulang sebanyak dua kali dalam
surat al-Māidah [5]: 33, surat al-A’rāf [7]: 124, dan 2) berarti belakang
terulang empat kali dalam surat al-Taubah [9]: 81, surat Ṭāhā [20]: 71, surat al-Syu’arā’ [17]: 76, surat al-Isrā [17]: 76.
n. Kata ًﺔَﻔْﻠ ِﺧ yang berartisilih berganti, digunakan 1 kali dalam surat al-Furqan
[25] ayat 62.
o. Kata ُﻒِﻟا َﻮَﺨﻟا yang berarti orang yang ditinggal/atau orang yang tidak ikut
terulang dua kali dalam surat al-Taubah [9] ayat 87 dan 93.
p. Kata ﺔَﻔﯿِﻠَﺧ yang berarti pemimpin/khalīfah/pengganti terulang 2 kali dalam
surat al-Baqarah [2]: 30, surat Ṣād [38]: 26. Kata ﻒِﺋ َﻼَﺧ jamak dari ﺔَﻔﯿِﻠَﺧ terulang sebanyak 4 kali dalam surat al-An’ām [6]: 165, surat Yūnus [10]: 14, 73, surat Fāṭir [35]; 39. Dan Kata ءﺎَﻔَﻠُﺧ yang juga jamak dari ﺔَﻔﯿِﻠَﺧ terulang 3 kali dalam surat al-A’rāf [7]: 69, 74, surat al-Naml [27]: 62. q. Bentuk ism al-maf’ūl [نﻮﻔﱠﻠَﺨُﻤ ] yang berartiﻟا orang yang ditinggal terulang
sebanyak 4 kali dalam surat al-Taubah [9]: 81, surat al-Fath [48]: 11, 15, 16. r. Bentuk ism al-fā’il [ ٌﻒِﻠ ْﺨُﻣ] yang berarti menyalahi terulang 1 kali dalam
surat Ibrāhīm [14]: 47.
s. Bentuk masdar [ ٌف ُﻼِﺘْﺧِإ] yang berarti 1) pergantian dalam surat al-Baqarah
[2]: 164, surat Āli Imrān [3]: 190, surat Yūnus [10]: 6, surat al-Mu’minūn [23]: 80, surat al-Jāsyiyah [45]: 5, 2) perbedaan dalam surat al-Rūm [30]:
22, dan 3)pertentangandalam surat al-Nisā ‘[4]: 82.
t. Bentuk ism al-fā’il [ ٌﻒِﻠَﺘﺨُﻣ] yang berarti 1) bermacam-macam/berbeda
dalam surat al-Nahl [16]: 29, surat Fāṭir [35]: 27, 28, 28, surat al-Zariyāt [51]: 8, surat al-An’ām [6]; 141, surat al-Nahl [16]: 13, surat al-Zumar [39]: 21. Dan 2)berselisihdalam surat al-Naba’ [78]: 3, surat Hūd [11]: 118.
u. Bentukism al-fā’il yangmansūb[ َﻦﯿِﻔَﻠ ْﺨَﺘْﺴُﻣ] yang berarti menguasai hanya 1
kali. dalam surat al-Hadīd [57]: 7.
Dari situ dapat diketahui bahwa penggunaan kata khalīfah di dalam masa
Qur`anik ini memiliki makna yang sama dengan kedua bentuk jamaknya. Kata yang disebutkan dalam al-Qur`an sebanyak Sembilan kali ini memiliki makna yang sama yaitu pengganti atauyang menggantikan atau yang datang sesudah
siapa yang datang sebelumnya. Atas dasar ini, ada yang memahami kata
khalīfah di sini dalam arti yang menggantikan Allah dalam menegakkan
kehendak-Nya dan menerapkan ketetapan-ketetapan-Nya, tetapi bukan karena Allah tidak mampu atau menjadikan manusia berkedudukan sebagai Tuhan, namun karena Allah bermaksud menguji manusia dan memberinya penghormatan. Ada lagi yang memahaminya dalam arti yang menggantikan makhluk lain dalam menghuni bumi ini.85 Seperti dalam surat Al-Baqarah [2] ayat 30 berikut:
ِﰲ ٌﻞِﻋﺎَﺟ ِّﱐِإ ِﺔَﻜِﺋ َﻼَﻤْﻠِﻟ َﻚﱡﺑَر َلﺎَﻗ ْذِإَو
ا
ْرَْﻷ
ﻴِﻠَﺧ ِض
َْﲡَأ اﻮُﻟﺎَﻗ ًﺔَﻔ
ْﻦَﻣ ﺎَﻬﻴِﻓ ُﻞَﻌ
َو َءﺎَﻣِّﺪﻟا ُﻚِﻔْﺴَﻳَو ﺎَﻬﻴِﻓ ُﺪ ِﺴْﻔُـﻳ
ِّﺒَﺴُﻧ ُﻦَْﳓ
ُﺢ
َِﲝ
ْﻤ
ُـﻧَو َكِﺪ
َلﺎَﻗ َﻚَﻟ ُسِّﺪَﻘ
ِإ
ﺎَﻣ ُﻢَﻠْﻋَأ ِّﱐ
َنﻮُﻤَﻠْﻌَـﺗ َﻻ
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalīfah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan [khalīfah] di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami85 M Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur`an, Vol. 1,
senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
(surat Al-Baqarah [2] ayat 30)
Dari ayat tersebut, dapat dijelaskan bahwa Allah menciptakan Nabi Adam as. untuk menjadi khalīfah di bumi maksudnya adalah untuk menjadi pengganti
Allah dalam melaksanakan tugas menjaga bumi, memeliharanya dengan baik, memanfaatkan setiap bekah yang diberikan, mengaturnya agar selalu baik dan terhindar dari kerusakan.
Hal senada dengan penjelasan Allah dalam surat Ṣād [38] ayat 26. Namun dalam ayat ini yang dijadikan khalīfah adalah Nabi Daud as. di mana beliau
diutus oleh Allah untuk menjadi khalīfah di bumi bagian Palestina. Jadi
kekuasaan yang diberikan kepada Nabi Daud as. Untuk menggantikan-Nya dalam hal memelihara bumi hanyalah sebatas negeri Palestina saja, berbeda dengan Nabi Adam yang diberikan kekuasaan oleh Allah kepada seluruh permukaan bumi.
Seperti yang sudah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa kata khalīfah,
khaliaf dan khulafā’’ di dalam al-Qur`an ini semuanya memiliki makna yang
menggantikan atau yang datang sesudah siapa yang datang sebelumnya.
Dalam buku membumikan al-Qur`an, antara lain dikemukakan bahwa bentuk jamak yang digunakan dalam al-Qur`an untuk katakhalīfahadalah khalā`if dan
khulafā’’. Setelah memperhatikan konteks ayat -ayat yang menggunakan kedua
bentuk jamak itu, dapat disimpulkan bahwa bila kata khulafā’ digunakan al-
satu wilayah, sedang bila menggunakan bentuk jamak khalā`if, kekuasaan
wilayah tidak termasuk dalam maknanya. Tidak digunakannya bentuk tunggal untuk makna ini, mengesankan bahwa ke-khalīfah-an yang diemban oleh setiap
orang tidak dapat terlaksana, kecuali dengan bantuan dan kerjasama dengan orang lain.86
Jadi, pada periode Qur`anic ini katakhalīfah,khalā’ifdankhulafā’’di dalam al-
Qur`an ini semuanya memiliki makna yang menggantikan atau yang datang sesudah siapa yang datang sebelumnya. Yaitu mereka (manusia) yang diberi kekuasaan oleh Allah untuk menggantikan-Nya dalam hal menjaga bumi baik dalam segi memelihara lingkungan dan kelestariaannya ataupun negara dengan sistem politiknya.
3. Pasca Qur`anik
Periode pasca Qur`anik dalam hal ini adalah periode masa sekarang. Di zaman sekarang khalīfah merupakan sebuah kata yang tidak pernah lepas dari sistem
politik Islam. Kata ini selalu menjadi kata yang sangat erat dengan kepemimpinan Islam yang menegakkan hukum dengan asas al-Qur`an. Dalam periode ini muncul penampakan baru dari kecenderungan separatis yang mempertalikan legitimasi rezim politik dalam negara dengan agama―dalam pandangan khusus―ini adalah kecenderungan untuk mengembalikan system khilafah pertama (khalīfah rasyīdah) dengan anggapan bahwa bentuk itulah
satu-satunya yang sah menurut agama, dan orang yang tidak mengatakan demikian maka keislamannya tidak benar.87
Dua kecenderungan ini; 1) kecenderungan yang menganggap system politik sebagai salah satu rukun agama, dan 2) kecenderungan menganggap khilafah, yakni bentuk pemerintahan yang dipilih oleh kaum Muslim setelah Rasulullah saw. Wafat, sebagai satu-satunya bentuk pemerintahan yang sah dan menjamin penerapan hukum syariah.88
Jadi, dalam periode pasca Qur`ani ini kata khalīfah lebih cenderung kepada
dunia politik dimana kepemimpinan dipegang oleh Islam dengan menggunakan syariat Islam sebagai pedoman hukumnya. Pada periode ini makna khalīfah
sebagai pengganti sudah tak lagi terlihat dan tergeser oleh kata pemimpin atau penguasa.
Berdasarkan tiga data tentang penggunaan kata khalīfah dalam tiga periode
yang berbeda memperlihatkan adanya perubahan konteks dalam penggunaan kata tersebut. Dalam periode pra Qur`anik, kata khalīfah digunakan dalam sebuah syair
yang digunakan untuk mengungkapkan peran seorang kekasih atau suami sebagai
sang penjaga hati atau sang penguasa hati dari seorang wanita. Sedangkan dalam
periode Qur`anik ini kata khalīfah, khalā’if dan khulafā’’ di dalam al-Qur`an ini
semuanya memiliki makna yang menggantikan atau yang datang sesudah siapa yang
87 Syekh Ahmad al-Thayyib, Jihad Melawan Teror: Meluruskan Kesalahpahaman Tentang
Khilafah, Takfir, Jihad, Hakimiyah, Jahiliyah, dan Ekstremitas,(Jakarta: Lentera Hati, 2016), hlm. 4.
datang sebelumnya. Yaitu mereka (manusia) yang diberi kekuasaan oleh Allah untuk menggantikan-Nya dalam hal menjaga bumi baik dalam segi memelihara lingkungan dan kelestariaannya ataupun negara dengan sistem politiknya. Dan pada periode pasca Qur`anik penggunaan kata khalīfah lebih cenderung kepada dunia politik
dimana kepemimpinan dipegang oleh Islam dengan menggunakan syariat Islam sebagai pedoman hukumnya.