BAB III BIOGRAFI NOVEL
HASIL TEMUAN
C. Sinopsis Novel Mahkota Cinta
Cerita dalam novel ini dimulai dari seorang pemuda bernama Ahmad Zulhadi Jaelani yang sedang melakukan pengembaraan untuk mengubah takdir. mengubah nasib. Seorang Zul, memulai perjalanan dari Demak merantau ke Semarang, dari Semarang menuju Jakarta, dari Jakarta menuju Batam, dari Batam menuju Malaysia, dan singgah di Yogyakarta.
Dalam perjalanan ke Malaysia, Zul bertemu dengan Siti Martini. Siti Martini menceritakan pada Zul tentang perjalanan pahit dalam hidupnya ketika dia tau bahwa mantan suaminya adalah seorang yang sangat bejat dan menipu dia. Selama perjalanan Zul seakan mendapat petunjuk dan pertolongan akan hadirnya Mari, sebagai teman dalam perjalanannya awal di Malaysia.
Sesampainya di Malaysia, Zul menerima tawaran Mari untuk menginap di rumahnya satu atau dua malam sambil menunggu jawaban telepon dari Pak Rusli, orang yang disarankan oleh Pak hasan untuk
ditemui Zul saat tiba di Malaysia. Sesampainya dirumah mari, Zul disambut oleh teman-teman Mari. Pada siang harinya Zul memutuskan untuk pergi keluar rumah menghindari berduaan dengan Linda dirumah tersebut. Zul pergi hanya membawa tas cangklong hitam berisi map dokumen-dokumennya, sepotong sarung dan kaos panjang. Dari Subang Jaya ia naik bus Rapid KL ke terminal KL Sentral. Di KL Sentral ia sempat bingung dan mencoba menghubungi lagi Pak Rusli kembali. Dan akhirnya teleponnya dapat tersambung dengan Pak Rusli, Zul pun mengutarakan maksud dan tujuan dia datang ke Malaysia kepada Pak Rusli. Setelah bertemu dengan Pak Rusli, Zul diberi pengarahan oleh Pak Rusli untuk bisa melanjutkan sekolah S2 di Universitas Malaya. Pak Rusli juga membawa Zul masuk ke kampus University Malaya, Zul sangat bahagia dan semakin bersemangat dalam menjemput masa depannya. Setelah mengelilingi Universiti Malaya, Pak Rusli mengajak Zul shalat Ashar di Masjid Akademik Pengajian Islam. Setelah itu langsung memacu mobilnya ke kawasan Pantai Dalam, tepatnya disalah satu sebuah apartemen lantai 10. Sesampainya disana Zul dan Pak Rusli disambut ramah oleh penghuni rumah yaitu Sugeng, Yahya, Arif, Rizal dan Pak Muslim. Semuanya memberikan semangat dan dukungan yang besar pada Zul untuk melanjutkan kuliahnya, bahkan Yahya menawarkan Zul untuk tinggal disana dan sekamar bareng dengannya, tak ada alasan bagi Zul untuk menolak tawaran tersebut. Karena Zul sudah diterima baik oleh teman-temannya, maka pak Rusli memutuskan untuk berpamitan.
Malamnya Zul mendapat saran dan dorongan dari teman-temannya untuk bisa menentukan langkah selanjutnya. Semua yang ada dirumah itu ingin memberikan bantuan semampunya.
Dua hari pertama di Pantai Dalam Kuala Lumpur, Zul sibuk mengurus berkas-berkas pendaftarannya ke Universiti Malaya dengan ditemani Sugeng. Dan hari ketiganya berkas itu berhasil dimasukkan ke
Institude Postgraduate Program(IPS). Zul mengambil program kerja khusus dan tesis di Fakultas Pendidikan Jurusan Sosiologi Pendidikan.
Selama menunggu panggilan dari UM, Zul bekerja dengan semangat supaya bisa mendapatkan uang untuk membayar biaya kuliah jika dia bisa diterima di UM. Setelah itu Rizal mengajak Zul untuk bekerja, mulai saat itu Zul bekerja penuh dengan semangat.
Suatu hari ia ingat bahwa barang-barang yang dibawanya dari Indonesia masih tertinggal di rumah Mari, dan Zul hanya bisa mengirim SMS kepada Mari:
“Assalamu’alaikum Mbak Mari, maaf ya, saya belum bisa ke
tempat Mbak. Juga maaf pada waktu itu belum sempat pamitan. Alhamdulillah saya sudah dapat kerja. Dan sudah dapat tempat tinggal yang nyaman. Terus terang saya sedang sangat sibuk. Nanti jika sudah agak longgar saya ke tempat Mbak untuk ambil barang insyaa Allah. Terimakasih atas segala kebaikannya ya. Dari adikmu: Zul.”
Dalam SMS itu ia mengatakan sebagai adik Mari. Karena ia merasa Mari memang tepat dijadikan kakaknya. Dan saat bertemu untuk pertama kali ia merasakan Mari begitu baik. Dan seolah Mari menganggap dirinya sebagai adik.
SMSnya itu langsung dibalas oleh Mari,
“Wassalamu’alaikum wr wb. Alhamdulillah kau ternyata
masih hidup. Aku sempat khawatir karena kau pergi dan dua bulan tidak ada kabarnya, Ya semoga sehat dan sukses. Barang-barangmu masih terjaga dengan baik disini. Oh ya sekedar informasi, jika nanti kesini mungkin tak akan bertemu mbak Iin lagi. Dia sudah pulang ke Indonesia tiga hari yang lalu. Dan kemungkinan besar tidak akan kembali lagi kesini. Terima kasih telah menganggapku sebagai kakak. Selamat bekerja. O ya apakah ini nomer HPmu? Salam sayang dari kakakmu: Mari.”
Ia bahagia sekali membaca SMS itu. Ia merasakan bahwa Mari memang orang yang tulus. Menolong dirinya tanpa pamrih apapun. terkadang terbesit dalam pikirannya andai saja Mari masih gadis dan umurnya lebih muda darinya. Ia merasa bisa jatuh cinta padanya. Cepat- cepat ia menepis pikiran yang tidak-tidak itu. Ia lalu menjawab pertanyaan Mari,
“Mbak ini bukan nomor HP saya. Tapi nomor teman saya.
Tapi saya punya alamat email. Jika ingin mengabarkan sesuatu kepada saya, kabari saja lewat email, ini alamatnya: [email protected]. Terimakasih.”
Ia lalu menerima jawaban singkat dari Mari,
“Ya.Baik.”
Suatu hari datanglah surat keterangan dari Universitas Malaya yang menyatakan bahwa Zul benar-benar diterima di perguruan tinggi tertua di Malaysia itu. Selama tiga bulan Zul bekerja mati-matian untuk dapat menghidupi kehidupan dan dapat membayar uang registrasi kuliah.
Perkuliahanpun dimulai, Zul sudah mendapatkan jadwal aktif kuliah. Dia mulai memastikan jadwal kuliah untuk bisa membagi waktu antara kuliah, belajar dan bekerja. Tak terasa satu semester telah dilewati
Zul dengan penuh semangat dan harapan. Malam itu Kuala Lumpur hujan deras. Zul bangun dan shalat tahajut. Dikeheningan malam itu ia memuhasabahi dirinya sendiri. Ia merenungi perjalanan hidupnya selama ini.
Pagi harinya entah kenapa ia merasa ingin bersilaturrahmi ke rumah Mari di Subang Jaya. Pagi itu tepat jam delapan ia berangkat, sampai di Subang Jaya pukul sepuluh siang. Sesampainya dirumah Mari, Zul kaget karena melihat Mari sedang mau diperkosa oleh Warkum yang merupakan mantan suami Mari. Dengan segera Zul memukul Warkum sampai Warkum merasa kesakitan dan minta maaf. Warkum langsung pergi setelah diancam oleh Zul. Setelah kejadian itu, Mari sangat berterima kasih dan merasa berhutang budi pada Zul yang telah berhasil menyelamatkan mahkota kesuciannya yang hampir dinodai oleh mantan suaminya. Setelah saling menenangkan, akhirnya Zul pun berpamitan dengan membawa barang-barangnya.
Zul mondar-mandir di ruang tamu, semua penghuni flat itu sudah tidur. Zul selalu membayangkan kejadian tadi siang yang dia alami, wajah Mari selalu terbayang di ingatan Zul. Ia sadar bahwa dia sudah dewasa tapi ia bingung harus berbuat apa, seandainya ia menikahi Mari, ia takut kuliahnya tidak beres, tapi kalau tidak begitu dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia mencoba bertanya pada yahya dan yahyapun memberi saran pada dia, kalau Zul memang sangat mencintainya, lebih baik Zul menikahinya, dengan catatan kuliah harus sampai beres.
Dua bulan berlalu, setelah itu Yahya mengajak Zul berbicara dari hati kehati dengan harapan semangat Zul kembali pulih, tetapi sayangnya Zul masih saja murung dan banyak melamun, dia tidak semangat dalam bekerja, berusaha dan belajar. Melihat sikap Zul yang seperti itu, Pak Muslim selaku orang yang paling tua di flat itu memanggil Zul dan memberikan tiga pilihan pada Zul. Yang pertama, Zul harus melupakan Mari dan konsentrasi pada kuliahnya. Kedua, Zul harus menikahi Mari tetapi kuliah harus tetap jalan. Dan yang ketiga, Pak Muslim membebaskan Zul untuk hidup sesukanya dengan syarat tidak boleh tinggal di flat itu. Akhirnya Zul memilih saran yang kedua, keesokan harinya Zul yang ditemani Pak Muslim siap untuk berangkat ke rumah Mari, dengan tujuan untuk melamar Mari.
Sesampainya di rumah Mari, Zul sangat terkejut karena rumah itu telah kosong, Zul dan Pak Muslim bertanya pada tetangga rumah itu, dan tetangga itu menunjukkan koran yang memberitakan bahwa penghuni rumah itu semuanya ditangkap polisi karena melakukan praktek prostitusi, Zul sangat kecewa dengan berita itu dan akhirnya mereka pulang lagi ke flat dengan hati Zul yang sakit.
Dengan kejadian itu Zul semangat lagi untuk melanjutkan kuliah dan bekerja, sampai akhirnya sebentar lagi ia akan menyandang gelar M.ED. atau Master of Education dalam bidang Sosiologi Pendidikan. Waktu terus berjalan, dan Zul pun mendapat kebingungan antara melanjutkan kuliah S3 atau pulang ke Indonesia untuk mencari kerja, ia
pergi ke rumah Yahya dan menceritakan kegelisahannya kepada Yahya. Dengan penuh kesabaran Yahya selalu menasehati Zul dan memberikan arahan-arahan kepada Zul untuk mengambil keputusan yang terbaik.
Yahya menyarankan Zul untuk segera menikah, dan Yahya mengenalkan Zul pada seorang wanita teman istrinya yang merupakan seorang dosen, namanya Prof. Madya Datin Laila Abdul Majid, Ph.D. Dia menyelesaikan S.2 dan S.3-nya di Birmingham. Zul sangat terkejut dan senang seandainya jadi menikah dengan wanita itu.
Setelah itu Zul pulang dengan naik bus mini kuning ke Hentian Kajang. Ketika itu ia bertemu dengan Mbak Sumiyati. Teman Mari di Subang Jaya, Sumiyati menceritakan apa yang terjadi pada mereka ketika penggrebekan di rumah itu, bahwa tidak semua penghuni rumah itu bersalah, yang melakukan aksi prostitusi itu hanyalah Linda dan Watik. Dan akhirnya Zul mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, Zul merasa sangat bahagia mendengar cerita itu.
Keesokan harinya Yahya menghubungi Zul dan ngasih tau bahwa Datin Laila sudah dijodohkan dengan orang lain. Zul sangat kecewa. Tapi dibalik itu Yahya memberikan kabar yang cukup menggembirakan, bahwa di Indonesia tepatnya UNY (Universitas Yogyakarta) ada lowongan jadi dosen, yang dicari lulusan S.2 jurusan Sosiologi Pendidikan. Zul memutuskan untuk langsung pulang dan melamar pekerjaan disana.
Tiga hari kemudian, Zul terbang ke Yogyakarta. Di Bandara Adi Sucipto ia dijemput oleh Pak Muslim, beliau langsung membawa Zul ke
rumahnya di sebuah perumahan di daerah Maguwoharjo. Dirumah pak Muslim ia menceritakan perjalanan hidupnya setelah pak Muslim pulang ke Indonesia, menyinggung soal nikah, pak Muslim akan memperkenalkan Zul dengan teman istrinya yang bernama Agustina Siti Mariana Maulida, M.Ec.
Pada hari Besoknya Pak Muslim mengantarkan Zul untuk memasukkan lamaran pekerjaan ke UNY. Waktu cepat berlalu, akhirnya yang dinanti akan segera datang, yaitu pertemuan antara Zul dengan Agustina Siti Mariana Maulida, M.Ec.
Setelah jamaah shalat isya, Pak Muslim dan Zul langsung pulang ke rumah, istrinya Pak Muslim dan Agustina, orang yang akan dikenalkan dengan Zul sudah ada di rumah. Waktu itu Zul sangat terkejut karena yang dia lihat adalah Mari. Orang yang ia cintai waktu di Subang Jaya Malaysia. Malam itu adalah menjadi malam yang sangat bersejarah dan membahagiakan bagi Zul dan Mari. Mereka sepakat untuk menikah secepatnya. Dan dua minggu setelah itu mereka mengikrarkan akad nikah di Sragen. Selanjutnya mereka hidup bersama dalam kesucian. Dan beribadah bersama, saling mendukung dan menguatkan, sujud bersama dalam bingkai mahkota cinta yang terbangun indah diatas mahligai iman dan takwa.
BAB IV
PEMBAHASAN
Berikut di bawah ini nilai-nilai pendidikan moral dalam novel Mahkota Cinta karya Habiburrahman El Shirazy.
1. Percaya diri
a) Ia meyakinkan dirinya harus kuat. (El Shirazy, 2008: 148)
Keyakinan adalah sebuah penetapan sikap yang jelas, pembeda, dan sesuatu yang memiliki batas yang tegas. Tidak pernah bisa bertemu dengan keragu-raguan, karena keyakinan mampu menepis dan mengalahkan keragu-raguan. Keyakinan adalah sebuah kekuatan yang mendorong seseorang untuk melakukan yang terbaik dan mencapai yang terbaik pula. Seseorang yang menginginkan sukses, maka dia harus memiliki keyakinan yang kuat untuk berhasil. Otak manusia akan merespon dan mengintruksikan, serta mendorong seluruh raga dan jiwanya untuk melakukan sesuatu sebagaimana yang ada di dalam benaknya. Inilah biasanya yang dikenal dengan sugesti. (Saleh, 2011: 156)
Karena sikap keputus-asaan adalah wujud dari lemahnya keyakinan atau keimanan kepada Allah SWT. Padahal rahmat Allah sangat luas dan banyak, rahmat-rahmat tersebut bertebaran memenuhi seluruh rongga kehidupan. Tinggal apakah manusia
mendapatkannya atau hanyalah berpura-pura saja. (Saleh, 2011: 44)
Realitas sukses kadang melewati banyak ujian berat bahkan mungkin kegagalan. Namun semua itu adalah sunnatullah yang memang harus dilalui. Karena hidup adalah ujian, dan setiap kita pasti diuji dengan realitas yang mungkin tidak sesuai dengan harapan, dengan satu tujuan yaitu untuk mengetahui siapa diantara kita yang terbaik (sukses/berhasil) dalam menjalani kehidupan. Demikian Allah berfirman,
ا
ا
ا
ا
ا
ا
ا
ا
ا
ا
ا
ا
اااا“Dialah (Allah) yang menciptakan kematian dan kehidupan, untuk menguji kalian siapa diantara kalian yang terbaik amalnya.Dan Dia Maha perkasa lagi Maha Pengampun.”
(QS. Al-Mulk: 2).
Karena itu, mereka yang berhasil adalah mereka yang terus berusaha dengan sekuat tenaga tanpa berputus asa dan menyerah. Sebuah ungkapan bijak mengatakan, kebanyakan orang gagal tidak menyadari, betapa dekatnya mereka ke titik sukses saat mereka menyatakan menyerah. (Saleh, 2011:44)
Berdasarkan kutipan novel di atas, Habiburrahman El Shirazy mengambarkan bahwa ciri dari orang yang berhasil adalah mereka yang mempunyai semangat dan rasa percaya diri yang kuat.
b) la kembali menegaskan niat, bahwa ia sedang melakukan pengembaraan untuk mengubah takdir. (El Shirazy, 2008:148)
Niat, adalah sengaja melakukan sesuatu bersamaan dengan perbuatan. Sebagaimana dikatakan oleh Epictetus, filsuf Yunani Kuno (dalam Marwah Daud: 2007) “First say to your self what you
would be and then do what you have to do.” Pertama-tama katakan
pada dirimu: engkau akan menjadi apa, kemudian lakukan apa yang harus kamu lakukan. Pada akhirnya semua tergantung kepadamu.” (Saleh, 2011: 14)
Artinya, bahwa realitas hasil (takdir), apakah keberhasilan atau kegagalan merupakan hasil dari sebuah proses panjang. Dalam setiap proses, disitulah takdir itu Allah tetapkan, dan hasil akhir (takdir) adalah hasil dari proses atau upaya yang dilakukan secara terus menerus dan maksimal. Namun ada kalanya sudah berusaha maksimal, namun masih juga gagal. Ini artinya belum melaksanakan suatu hal secara sempurna, atau masih ada hal yang kurang, atau bisa juga salah dalam menyikapinya. Karena bisa jadi antara “upaya” yang dilakukan dengan “harga” dari sebuah keberhasilan yang ditetapkan oleh Allah atas apa yang diharapkan itu masih dianggap belum cukup (menurut Allah). Sebab yang menetapkan “harga keberhasilan” adalah Allah. Oleh karena itu maka bergeraklah terus jangan pernah berhenti, disaat telah sampai di langkag yang ke 99, dan terasa mulai jenuh serta memutuskan untuk berhenti, maka ingatlah bisa jadi satu langkah kedepan
setelah itu (langkah ke 100) adalah langkah sukses. Begitu pula jika satu langkah dan beberapa langkah kedepan itupun juga belum menampakkan hasil, hingga sampai di langkah ke 999, kemudian ingin kembali memutuskan untuk berhenti, maka ingatlah bisa jadi satu langkah kedepan (langkah yang ke 1000) adalah titik sukses. Demikian seterusnya, inilah takdir, sebuah konsep hidup untuk menjadikan pribadi yang dinamis. Kuncinya bahwa sukses adalah sebuah pilihan. Apakah akan berhenti sebelum mencapainya atau akan terus melangkah hingga tercapai apa yang diinginkan.
Kutipan novel di atas menggambarkan arti bahwa kadang semangat, rasa percaya diri itu bisa melemah. Namun jangan sampai patah semangat dan tetap fokus pada tujuan yang ingin dicapai. Harus sering dipupuk keyakinannya, semangatnya, dan tetap percaya diri.
c) Saya tidak akan menyerah. Saya akan terus berusaha dan bertahan sampai Tuhan memutuskan takdir finalnya untuk saya. (El Shirazy, 2008: 158)
Takdir adalah ujung dari sebuah usaha maksimal dan optimal. Kebanyakan orang biasanya terlalu cepat menyerahkan semuanya pada takdir sehingga cenderung menjadi fatalis. Padahal sesungguhnya, di setiap ujung usaha itu barulah ada takdir. Takdir adalah hasil dari sebuah proses maksimal yang dilakukan. Jangan pernah mengatakan bahwa itu adalah takdir Allah, sementara usaha yang dilakukan belum optimal dan maksimal.(Saleh, 2011: 13)
Sukses adalah sebuah jalan yang dibuat oleh mereka- mereka yang berketetapan untuk sukses melalui sikap dan perilaku yang positif yang ditampilkan dalam menjalani kehidupan dan mewujudkan apa-apa yang diharapkan. Sebagaimana misalnya dalam sebuah penelitian ditemukan bahwa terdapat 20 karakter sukses yang ditampilkan oleh mereka-mereka yang berhasil dalam manjalani hidup dalam hal dunia bisnis, para CEO (Chief Executive Officer), para pemimpin tertinggi perusahaan. Kedua puluh karakter sukses misalnya antara lain jujur, berpandangan jauh ke depan, inspiratif, kompeten, adil, mendukung, berpikiran luas, cerdas, terus terang, berani, bisa diandalkan, bisa bekerja sama, kreatif, peduli orang lain, tegas, matang berambisi, loyal, mampu mengendalikan diri, independen. Hal tersebut menandakan bahwa sukses adalah sebuah jalan yang telah dibuat oleh mereka yang telah menggapai sukses. Hal ini sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat Ar-Ra‟du ayat 11.
ا
ا
ا
ا
ا
ا
ا
ا
ا
ا
ا
اا“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri
mereka sendiri.” (Saleh, 2011: 12)
Penggalan kutipan novel di atas menggambarkan seorang yang optimis dalam menjalani hidup, tidak mudah menyerah dan putus asa, semangat mengejar impian, semangat mencapai
ditakdirkan Tuhan. Dengan demikian penulis novel Mahkota Cinta mengajarkan kepada pembaca bahwa hidup itu harus semangat, dan terus diperjuangkan.
d) “Intinya tidak boleh malu. Tidak boleh menyerah. (El Shirazy, 2008: 208)
Percaya diri adalah cara pandang seseorang dalam menilai dan mempersepsikan dirinya sendiri. Keyakinan, optimisme dan percaya diri (self confidence) ibarat dua sisi keping mata uang. Ia menjadi dasar perilaku seseorang dalam berinteraksi dengan realitas kehidupan. Kesuksesan dan kegagalan yang dialami seseorang sangat dipengaruhi oleh tingkat kepercayaan diri (convidence) dan tingkat optimismenya. Optimisme adalah cara pandang seseorang dalam mempersepsikan sesuatu tentang masa depan yang akan dihadapinya. Disinilah maka konsepsi keimanan yang ke-6 dalam rukun islam (iman kepada takdir: baik dan buruk dari Allah) menjadi sebuah landasan utama dan sangat strategis dalam membangiun optimisme hidup ini. (Saleh, 2011: 158)
Dari kutipan tersebut, secara jelas bahwa Habiburrahman El Shirazy ingin mengajak kepada pembaca novel Mahkota Cinta untuk tampil percaya diri, dan selalu mempunyai jiwa semangat. Tidak boleh menyerah dengan takdir. Karena pada hakekatnya takdir merupakan hasil dari sebuah proses panjang. Dalam setiap proses, disitulah takdir itu Allah tetapkan, dan hasil akhir (takdir) adalah hasil dari proses atau upaya yang kita lakukan secara terus
menerus dan maksimal. Sebagaimana Firman Allah dalam surat Al-„Ankabuut ayat 2:
ا
ا
ا
ا
ا
ا
ا
ا
ا
ا
اااا“Apakah manusia mengira akan dibiarkan begitu saja
(disaat) mereka mengatakan “kami beriman” dan mereka tidak diuji?.” (Saleh, 2011:8)
e) Ia yakin dengan usaha yang gigih Allah akan merubah takdirnya.
(El Shirazy, 2008: 289)
Yakin, satu kata yang memiliki makna yang dalam. Menggambarkan apa yang menggelora dalam diri kita tentang sesuatu yang diharapkan dan ingin diwujudkan. Kata “yakin” dapat berkembang menjadi “keyakinan”, yang juga bermakna “iman”, yaitu pemikiran yang teguh dan kuat akan sesuatu. Kebalikan dari kata-kata ini adalah pesimis atau ragu-ragu. (Saleh, 2011: 157)
Kutipan novel di atas mengajarkan kepada pembaca untuk senantiasa berfikir positif, baik sesama manusia terlebih terhadap Allah Swt. Dalam hadis qudsi, Allah berfirman: “Aku menurut dugaan hamba-hambaKu terhadap Aku.” (diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah). (Muchtar, 2005: 28)
Demikianlah bahwa prasangka atau persepsi kita terhadap sesuatu akan mengantarkan terwujudnya suatu realitas berdasarkan apa yang dipersepsikan sebelumnya. (Saleh, 2011: 26)
Untuk itu berfikirlah positif pada setiap ketetapan Allah SWT, agar seluruh energi kita mengarah pada perilaku-perilaku
positif yang mampu mengantarkan perilaku sukses dengan mendorong optimalisasi potensi secara luar biasa. Tindakan- tindakan positif kita tentunya akan mengetuk pintu rahmat Allah SWT terhadap diri kita.
Pikiran-pikiran positif pada Allah SWT akan melahirkan semangat luar biasa dalam dari kita dan keyakinan akan tercapainya setiap hal yang dicita-citakan. Semangat dan keyakinan yang menggelora dalam diri pada saat menghadapi ujian (masalah) tentunya menjadi modal utama yang akan mendorong jiwa kita menjadi merasa lebih bahagia, santai, rileks, dan tenang dalam menghadapi suatu persoalan.
2. Keberanian
a) "Saya nekat merantau ke Jakarta untuk mencari kerja. (El Shirazy, 2008: 158)
Hidup adalah sebuah masalah, dunia ini memang menjadi medan ujian bagi setiap insan. Tidak satupun manusia yang hidup bebas dari masalah, ujian dan cobaan. Kesuksesan dan kegagalan dalam menjalani setiap ujian pada setiap orang memiliki derajat berbeda-beda. Hanya dengan keadilanNya, semua itu terwujud. Tidak ada sebuah beban apapun yang tidak sesuai dengan kadar masing-masing. Hal ini semata-mata karena Allah Maha adil, Dia yang menciptakan sehingga tau kadar masing-masing ciptaannya. (Saleh, 2011: 16)
Kutipan novel diatas menggambarkan arti sebuah