• Tidak ada hasil yang ditemukan

SINTESIS PENELITIAN Konsep Pendekatan Bioregional

5 KERUSAKAN DAS CITARUM HULU

7 KERENTANAN NAFKAH PETANI TERHADAP BAHAYA BANJIR

8. SINTESIS PENELITIAN Konsep Pendekatan Bioregional

Seperti yang diuraikan pada bab sebelumnya banjir di Kabupaten Karawang tidak hanya disebabkan dari kondisi yang buruk di daerah tersebut. Namun, banjir di Kabupaten Karawang juga disebabkan oleh kondisi hulu DAS Citarum yang buruk. Sesuai dengan pendapat Halim (2014) bahwa daerah hulu dengan hilir DAS saling berhubungan dan mempengaruhi dalam unit ekosistem DAS. DAS merupakan suatu sistem yang sangat terkait kesalahan pengelolaan di hulu akan berdampak buruk pada daerah hilir seperti banjir dan erosi (Caya et al. 2014)

Dalam mengatasi bencana banjir di Kabupaten Karawang, penanganan tidak cukup hanya dilakukan di Kabupaten Karawang namun juga perlu dilakukan di DAS Citarum Hulu. Upaya penanganan selama ini sudah cukup banyak dilakukan baik di DAS Citarum Hulu maupun di Kabupaten Karawang. Namun, upaya tersebut belum cukup berhasil karena upaya pemecahan masalah yang dilakukan selama ini selalu bersifat teknis padahal padahal akar masalahnya lebih pada masalah pemahaman konsep daerah aliran sungai (DAS) sebagai suatu sistem ekologi, kelembagaan, serta pendekatan dalam pengelolaan yang masih bersifat parsial, sektoral dan terbatas dalam lingkup wewenang administratif (Pramukanto 2015). Maka dari itu, pendekatan bioregional sangat penting dilakukan untuk mengatasi permasalahan banjir di Kabupaten Karawang.

Prinsip dasar dari pendekatan bioregional ini adalah pengelolaan kawasan DAS tidak dibatasi oleh batas administrasi tetapi mengikuti batasan bio regional (kawasan geografis kehidupan) yang interdependensi sebagai suatu sistem utuh, ditandai dengan kemampuan kawasan DAS tersebut dalam mewujudkan fungsi- fungsi sosial-budaya, ekonomi dan lingkungan. Menurut Bakhori (2006), Pendekatan bioregion, yakni pengelolaan kawasan tanah dan air dalam kawasan aliran sungai secara terpadu. Artinya pengelolaan kawasan tanpa ditentukan batasan wilayah admnistrasi atau politik melainkan hanya berdasarkan geografis dan sistem ekologi. Pendekatan bioregion pada DAS akan berusaha menemukan strategi dan inisiatif baru demi pengelolaan sumberdaya alam oleh masyarakat dan perpaduan multistakeholder

yang berkompeten.

Struktur bioregion suatu DAS dapat dijelaskan melalui konsep watershed conciousness (Parson dalam Pramukanto 2011) yaitu suatu kesadaran akan kehadiran DAS sebagai miniatur biosfer dimana terdapat kaitan langsung atas peristiwa yang terjadi di daerah hulu dan yang terjadi di daerah hilir. Kesadaran ini mengajarkan kita untuk memposisikan kehadiran kita di suatu tempat sebagai bagian komunitas biotik yang ada. Posisi sebagai warga asli komunitas biotik berarti menyadari peran kita dalam komunitas dan peduli terhadap hubungan ekologis dalam proses-proses yang ada di dalamnya.

Kehadiran manusia dengan aktivitas eksploitatif dalam suatu wilayah bioregion DAS dapat berakibat munculnya fenomena penyimpangan proses-proses alam dan tatanan spasial. Bentuk aksi gangguan di daerah hulu, seperti penurunan kemampuan intersepsi oleh tajuk dan tanah untuk meresapkan air (infiltrasi) akibat

penebangan hutan atau peningkatan limpasan (run-off) oleh pembukaan lahan berakibat terbentuknya proses reaksi di tempat lain. Di hilir, sebagai daerah pengaruh, reaksi tersebut bisa berwujud sedimentasi, banjir, serta rangkaian proses-proses turunan, termasuk pencemaran dan mewabahnya vektor penyakit.

Hal yang perlu dipahami dari kekhasan proses-proses yang ada dibalik fenomena tersebut adalah awal dari munculnya sebab sampai timbulnya akibat seringkali sulit diamati langsung, kecuali melalui serangkaian prosedur pengukuran atau pengamatan. Adapun yang terlihat kasat mata hanyalah resultan dari serangkai proses yang menyertai pembentukan pola (pattern) fenomena khas. Kekhasan fenomena inilah yang secara spasial dikenali sebagai daerah perubahan penggunaan lahan, daerah gundul, daerah dataran banjir, daerah endapan atau daerah longsor. Namun sebaliknya suatu fenomena pola spasial yang sama belum tentu dihasilkan oleh proses-proses yang sama. Sehingga bentuk hubungan searah antara proses dan pola spatial yang terbentuk perlu dipahami.

Salah satu karakteristik suatu DAS adalah adanya keterkaitan biofisik antara daerah hulu dengan daerah hilir melalui daur hidrologi. Sifat DAS sebagai kesatuan ekosistem yang utuh dari hulu ke hilir, maka pengelolaan DAS harus terpadu sebagai satu kesatuan ekosistem dan tidak dibatasi oleh batas-batas administratif. (Emilia 2013). Pengelolaan DAS selama ini cenderung sektoral sehingga harus dilakukan secara terpadu dari hulu dan hilir, tidak parsial atas dasar kepentingan sektor atau daerah pemerintahan. Maka dari itu pengelolaan DAS perlu menganut prinsip satu sistem perencanaan dalam satu Daerah Aliran Sungai.

DAS bagian hulu mempunyai arti penting terutama dari segi perlindungan fungsi tata air, karena itu setiap terjadinya kegiatan di daerah hulu akan menimbulkan dampak di daerah hilir dalam bentuk perubahan fluktuasi debit dan transport sedimen serta material terlarut dalam sistem aliran airnya. Dengan perkataan lain, ekosistem DAS bagian hulu mempunyai fungsi perlindungan terhadap keseluruhan DAS. Perlindungan ini antara lain dari segi fungsi tata air, dan oleh karenanya pengelolaan DAS hulu seringkali menjadi fokus perhatian mengingat dalam suatu DAS, bagian hulu dan hilir mempunyai keterkaitan biofisik melalui daur hidrologi. Kesalahan pengelolaan di hulu akan berdampak negatif pada bagian hilirnya (Amri 2008).

Perubahan penggunaan lahan di DAS Citarum Hulu dari hutan hingga menjadi lahan pertanian dan pemukiman menyebabkan limpasan air hujan yang tinggi sehingga sering menyebabkan erosi dan banjir. Limpasan hujan dan infiltrasi merupakan dua fenomena alami yang bersifat antagonis, jika salah satu membesar maka yang lainnya mengecil. Dengan kata lain, mengendalikan debit sama artinya dengan mengendalikan limpasan hujan dan erosi, sedangkan mengendalikan limpasan hujan dan erosi harus dimulai dari upaya memperbesar infiltrasi dalam seluruh kawasan DAS (Rohmat 2010).

Upaya memperbesar infiltrasi sama artinya dengan upaya perbaikan pola pengelolaan lahan di kawasan DAS, karena infiltrasi sangat sensitif dipengaruhi oleh tata guna lahan, jenis dan sifat tanah, morfologi lahan, dan rekayasa teknologi di atas lahan. Proses ini tentu saja dengan asumsi bahwa hujan adalah faktor alamiah eksternal yang tidak bisa dimodifikasi.

Selain memperbesar infiltrasi, upaya pengendalian debit sungai dapat dilakukan pula dengan pengendalian limpasan hujan, dalam bentuk bendung dan sejenisnya. Bentuk pengendalian limpasan ini pun memberikan dampak baik konservasi SDA, berupa menampung dan mengendalikan limpasan hujan serta memberikan kesempatan yang lebih lama bagi air untuk masuk ke dalam tanah.

Berdasarkan hasil analisis kerusakan DAS Citarum pada bab sebelumnya terlihat bahwa KRS DAS Citarum masih terlihat tinggi pada periode tahun 2009 – 2014. Selain itu nilai Indeks Erosi (IE) juga masih tinggi. Tingginya nilai erosi dan KRS di DAS Citarum Hulu juga disebabkan oleh masih sedikitnya tutupan lahan hutan di daaerah tersebut. Hal ini terlihat dari nilai indeks penutupan lahan (IPL) masih 18 %. Nilai IPL tersebut masih di bawah kriteria baik yaitu 30 %. Dari nilai – nilai tersebut perbaikan DAS Citarum Hulu harus diarahkan pada perbaikan nilai KRS, erosi, dan juga penutupan lahan.

Perbaikan yang bisa dilakukan di DAS Citarum Hulu untuk memperbaiki nilai

– nilai tersebut yang paling utama adalah menambah luasan vegetasi permanen. Penambahan luas vegetasi permanen bisa dilakukan dengan cara penanaman tanaman hutan di lahan yang kritis, penghijauan di kiri – kanan sungai, dan pertanian dengan sistem agroforestry. Cara ini perlu dilakukan agar air hujan dapat meresap ke dalam tanah bisa lebih banyak dari jumlah air yang menjadi aliran permukaan. Jumlah air hujan yang lebih banyak meresap ke dalam tanah akan mengurangi laju debit sungai ketika musim hujan dan akan mempertahankan debit air sungai ketika musim kemarau sehingga tidak terjadi terjadi defisit air. Selain itu penanaman vegetasi hutan juga sangat diperlukan untuk menjaga tanah dari erosi. Hal ini dikarenakan vegetasi hutan memiliki akar yang sangat kuat sehingga mampu menahan tanah dari longsor ketika curah hujan tinggi dan erosi dapat terkendali.

Selain dari penambahan luas vegetasi hutan, perbaikan juga bisa dilakukan dengan cara menerapkan pertanian dengan konservasi tanah dan air. Banyakanya lahan hutan yang berubah menjadi lahan pertanian di DAS Citarum Hulu tanpa adanya tindakan konservasi tanah dan air menyebabkan erosi yang tinggi. Maka dari itu, tindakan konservasi tanah dan air sangat diperlukan di lahan pertanian agar bisa mengurangi erosi. Tindakan konservasi tanah yang bisa dilakukan antara lain pembuatan teras gulud, rorak. Pembuatan teras gulud sangat penting dilakukan karena banyak sekali lahan di DAS Citarum Hulu yang diusahakan di daerah dengan lereng curam. Kondisi menyebabkan erosi DAS Citarum hulu cukup tinggi. Maka dari itu, teras gulud sangat penting untuk mengurangi erosi di lahan pertanian yang curam.

Tindakan lain yang bisa dilakukan selain menambah vegetasi dan konservasi tanah dan air di lahan pertanian adalah membuat sumur resapan di daerah terbangun. Lahan terbangun seperti pemukiman dan industri yang meningkat menyebabkan air hujan yang masuk ke dalam tanah berkurang dan aliran permukaaan meningkat. Sumur resapan sangat diperlukan agar dengan lahan terbangun yang meningkat aliran permukaan tidak ikut meningkat namun bisa berkurang sehingga infiltrasi meningkat.

Perbaikan di alur sungai juga diperlukan untuk menahan/ menampung air di badan air untuk waktu tertentu sehingga sedimen dan air mempunyai waktu untuk meresap, dan mengatur kebutuhan air sesuai dengan kebutuhan air untuk kebutuhan masyarakat. Perbaikan ini bisa dilakukan dengan cara membuat bendung, gully plug,

dam penahan, dan dam pengendali. Selain menahan/ menampung air, cara ini juga dapat memperpanjang waktu tempuh aliran sehingga dapat menurunkan debit puncak dari suatu sungai sehingga air tidak sampai dalam waktu yang bersamaan ke tempat di bagian hilir.

Dam pengendali (DPi) merupakan struktur bangunan yang ditujukan untuk mengendalikan aliran air sehingga erosi dan sedimentasi dapat ditekan. DPi juga mempunyai fungsi sebagai tempat parkir air sementara sampai dengan daya tampungnya terisi oleh sedimen. Oleh karena itu, jika dilakukan pemeliharaan secara rutin dengan melakukan pengerukan sedimen yang tertahan oleh DPi, maka fungsi sebagai tempat parkir air sementara akan terpenuhi. Namun demikian, pada saat ini sumberdaya untuk melakukan pengerukan tersebut dipandang tidak efisien jika dibandingkan dengan pembuatan Dpi yang baru.

Dam penahan (Dpn) merupakan struktur bangunan yang ditujukan untuk mengurangi erosi pada parit atau selokan dengan menghambat kecepatan aliran air dan tanah terendapkan pada tempat tersebut. Secara umum lokasi DPn ditentukan oleh lahan kritis dan potensial kritis, sedimentasi dan erosi sangat tinggi serta struktur tanah stabil, luas daerah tangkapan airnya 10 - 30 Ha, kemiringan lereng daerah tangkapan 15-35 %. Menurut BPDAS (2009) DPn dapat menahan dan mengendalikan erosi hingga 20,4 juta ton/tahun. Dengan mengendalikan erosi sampai dengan jumlah tersebut, maka jumlah erosi dapat dikurangi menjadi 91.9 juta ton/tahun dari 112.3 juta ton/tahun. Sedangkan hasil sedimen yang sampai di outlet untuk seluruh sub DAS dapat diturunkan menjadi 6.9 juta ton/tahun atau turun sebesar 18.3%, dan hasil sedimen yang sampai outlet Waduk Saguling dapat diturunkan menjadi 3.95 juta ton/tahun atau turun 18.2%.

Luas hutan yang berkurang serta meningkatnya luas pemukiman dan lahan terbangun di DAS Citarum hulu perlu pengendalian ruang. Pengendalian ruang diperlukan mengembalikan kawasan sesuai dengan fungsinya sebagai kawasan konservasi. Saat ini pemukiman banyak sekali berkembang di sempadan sungai, maka dari itu penataan terhadap kawasan permukiman, terutama di bantaran sungai Citarum harus direncanakan sedemikian rupa sehingga menghasilkan kebijakan yang menguntungkan baik bagi masyarakat maupun bagi pemerintah. Opsi-opsi seperti relokasi (pemindahan lokasi), revitalisasi (peremajaan kembali), rekonstruksi (pembangunan kembali rumah-rumah menjadi rumah susun vertikal), dan opsi-opsi lain harus dikaji dan didiskusikan bersama antara masyarakat dan pemerintah.

Penanganan banjir di Kabupaten Karawang selain dilakukan dari hulu DAS Citarum perlu juga dilakukan di dalam wilayah Kabupaten Karawang. Berdasarkan hasil analisis bahaya banjir yang terdapat pada bab sebelumnya terlihat bahwa 3 Kecamatan di Kabupaten Karawang memiliki tingkat bahaya banjir tinggi. Selain itu hampir seluruh wilayah Kabupaten Karawang memiliki tingkat bahaya banjir sedang. Hasil tersebut menunjukkan bahwa penanganan banjir juga harus dilakukan di Kabupaten Karawang khususnya lahan sawah. Hal ini dilakukan untuk menurunkan tingkat bahaya banjir pada wilayah yang menurut hasil tersebut berada pada tingkat bahaya banjir tinggi dan menjaga wilayah yang menurut hasil analisis tersebut berada pada tingkat bahaya banjir sedang tidak meningkat menjadi tinggi.

Menurut hasil analisis pada bab sebelumnya, wilayah banjir dengan tingkat bahaya banjir tinggi berada pada wilayah dengan intensitas curah hujan yang relatif lebih rendah. Namun, kondisi drainase tanah yang agak terhambat dan terhambat membuat wilayah ini sering terkena banjir. Banjir di wilayah ini menimbulkan genangan yang cukup lama lebih dari 7 hari. Selain itu tinggi genangannya juga cukup tinggi lebih dari 70 cm. Banjir di wilayah tersebut selain karena drainase tanah juga disebabkan oleh infrastruktur seperti saluran pembuangan yang tidak berfungsi normal.

Makarim dan Ikwani (2011) berpendapat bahwa banjir di Jawa Barat khususnya di Kabupaten Karawang, Subang, dan Indramayu disebabkan oleh banyaknya saluran pembuangan air yang tidak berfungsi normal. Penyempitan saluran pembuangan air karena banyak pengendapan tanah, sehingga kecepatan air pembuangan lambat atau bahkan terhenti, daya tampung air berkurang sehingga air mudah meluap atau banjir. Oleh sebab itu, diperlukan pengerukan saluran pembuangan secara tuntas. Selain itu menurut Oktavianti et al. (2014) di Kabupaten Karawang masih terdapat 30 daerah irigasi yang berada pada kondisi kurang baik. Maka dari itu, untuk mengurangi tingkat bahaya banjir yang tinggi pada lahan sawah di Kabupaten Karawang dapat dilakukan dengan perbaikan jaringan irigasi terutama saluran pembuangan.

Perbaikan saluran pembuangan saat ini sebagian sudah berjalan dengan adanya pengerukan namun pengerukan tidak dilakukan secara tuntas sehingga tidak sesuai dengan kebutuhan sehingga endapan – endapan tanah masi banyak sehingga banjir masih terjadi. Selain itu adanya jembatan /penyempitan di saluran pembuangan juga menghambat aliran air sehinggamenyebabka air mudah melimpas ke sawah.

Perbaikan yang masih perlu dilakukan untuk saluran pembuangan

adalahmemperlebar saluran dari yang sekarang 16 m menjadi 20 m, dan tinggi saluran 5 m. Dengan rekonstruksi saluran pembuangan tersebut, daya tampung air pembuangan bertambah, sehingga banjir dapat dikurangi dan sumber air di musim kemarau meningkat.

Selain memperbaiki saluran pembuangan, saluran induk, sekunder dan tersier juga perlu dilakukan perbaikan. Saluran irigasi induk dalam kondisi rusak mencapai 39,48 km atau hampir 50%. Saluran sekunder yang dalam kondisi rusak mencapai 135 km atau hampir 30 % sedangkan untuk saluran tersier mencapai 563 km atau 34% (Distanhut Kabupaten Karawang 2014). Masih banyaknya kondisi irigasi yang rusak di Kabupaten Karawang harus segera dilakukan perbaikan. Perbaikan saluran irigasi secara cepat akan membuat sawah – sawah di Kabupaten Karawang tidak lagi mengalami banjir dengan genagan tinggi dan tidak lama tergenang.

Penanganan banjir pada jaringan irigasi ini sangat penting sekali khususnya untuk petani di lokasi penelitian Dusun Peundeuy Desa Ciptamarga. Petani di Dusun Peundeuy walaupun kerentanan nafkahnya rendah namun banjir juga sangat menganggu aktivitas mereka. Banjir yang terjadi di daerah ini memaksa petani di dusun ini menanam ulang bibit padi. Hal ini tetntu saja jika dibiarkan terus menerus akan membuat kerentanan petani di dusun tersebut akan tinggi. Banjir yang terjadi di desa tersebut disebabkan oleh saluran pembuangan yang tdiak normal sehingga ketika musim hujan menimbulkan genangan yang lama dan cukup tinggi pada sebagian

lahan sawah petani di desa tersebut. Maka dari itu, perbaikan jaringan irigasi khususnya saluran pembuangan di Desa Ciptamarga harus dilakukan agar tidak ada lagi gangguan banjir dalam aktivitas pertanian di desa tersebut.

Perbaikan jaringan irigasi juga harus dilakukan di Desa Karangligar. Kondisi bangunan irigasi yang rusak membuat desa ini sering terkena banjir. Banjir yang terjadi di desa ini selain merusak sawah petani juga menyebabkan kerusakan di pemukiman petani. Banjir yang terjadi di desa ini menyebabkan kerugian yang sangat besar bagi masyarakat khususnya bagi petani di Dusun Pengasinan dan Dusun Kampek. Banjir yang sering terjadi di desa ini menyebabkan kerentanan nafkah yang tinggi bagi petani di Dusun Pengasinan dan Dusun Kampek. Hal ini dikarenakan banjir menyebabkan sering menyebabkan kegagalan panen sehingga mengurangi pendapatan petani bahkan ada petani yang kehilangan pendapatan selain itu banjir juga menyebabkan kerusakan pada rumah dan kehilangan sebagian harta benda mereka. Banjir yang terjadi di desa ini selain karena bangunan irigasi yang rusak juga disebabkan oleh adanya penurunan permukaan tanah yang diduga karena adanya sumur gas di wilayah tersebut. Penurunan permukaan tanah di desa tersebut menyebabkan sebagian sawah petani berubah menjadi rawa karena genangan air tidak bisa dikeluarkan lagi. Adanya kedua masalah tersebut baik dari bangunan irigasi dan penurunan permukaan tanah maka perbaikan infrastruktur harus dilakukan dengan cukup baik agar ancaman banjir di desa ini bisa berkurang.

Banjir yang terjadi di Kabupaten Karawang sangat merugikan sekali bagi petani khususnya di Desa Karangligar. Banjir di desa tersebut menyebabkan kegagalan panen sehingga petani di desa tersebut mengalami kerugian yang sangat besar.Kerugian tersebut berupa kehilangan pendapatan, kerusakan rumah, kehilangan sebagian harta,dsb. Maka dari itu, solusi untuk petani di desa tersebut sangat diperlukan agar kerentanan petani terhadap banjir dapat berkurang.

Berdasarkan hasil analisis kerentanan petani pada bab sebelumnya menunjukkan bahwa petani di Desa Karangligar sangat rentan terhadap banjir terutama untuk petani di Dusun Pengasinan. Hal ini disebabkan petani di Dusun Pengasinan memiliki penguasaan modal yang cukup rendah. Pengusaan modal yang cukup rendah di Dusun Pengasinan yaitu modal manusia dan modal fisik. Peningkatan modal manusia dan modal fisik di dusun harus menjadi prioritas.

Penguasaan modal yang lain cukup lemah maka untuk petani di Desa Karangligar khususnya Dusun Pengasinan harus memperkuat modal sosial. Menurut Adger (2003), modal sosial merupakan komponen yang sangat diperlukan untuk mengatasi bahaya dan dampak yang disebabkan oleh bencana, modal sosial juga memungkinkan masyarakat untuk mengambil peluang baru dalam bencana sehingga kemiskinan dan kerentanan yang dialami masyarakat dapat berkurang.

Modal sosial yang ada saat ini di Dusun Pengasinan cukup kuat. Modal sosial yang belum kuat terlihat dari masih banyak petani yang jarang terlibat dalam kegitan kelompok tani. Petani yang jarang terlibat dalam keompok tani menyebabkan seringnya petani tidak medapat bantuan ketika banjir. Petani di Dusun Pengasinan juga cenderung bertani secara individu. Kerjasama antar petani hanya terlihat ketika mereka gotong royong memperbaiki bendungan dan ketika evakuasi saat terjadi banjir. Namun, saat tidak terjadi banjir kekeluargaan petani sangat kurang mereka

bertani secara individu kurang peduli dengan kesulitan petani yang lainnya khususnya pasca banjir. Makadari itu, penguatan modal sosial sangat penting sekali dilakukan di Dusun Pengasinan agar petani semakin kuat dalam menghadapi banjir.

Kurang aktifnya petani di dalam organisasi kelompok tani menyebabkan petani di Dusun Pengasinan kurang mengikuti teknologi dalam bertani padi sawah. Petani di Dusun Pengasinan saat ini belum menggunakan bibit varietas yang toleran rendaman seperti Inpara 3, Inpara 4 (Swarna sub-1) dan Inpara 5 (IR64 sub-1). Varietas yang kini ditanam petani kebanyakan meggunakan varietas Ciherang hanya tahan rendaman selama 4-7 hari saja padahal dengan varietas seperti Inpara mampu bertahan 10-14 hari. Banjir yang terjadi di Dusun Pengasinan yang bisa mencapai lebih dari 7 hari penggunaan varietas ini bisa menjadi solusi untuk permasalahan petani di Dusun Pengasinan. Maka dari itu, pemberian bibit varietas ini perlu diberikan secara gratis agar petani tidak terbebani dalam menggunakan bibit tersebut.

Pemilihan waktu tanam di Dusun Pengasinan saat ini cenderung tidak beraturan. Hal ini dikarenakan cuaca yang tidak menentu dalam beberapa tahun terkahir. Banjir yang sering terjadi di dusun ini sulit diprediksi bahkan pernah terjadi ketika di dusun tersebut tidak terjadi hujan namun banjir akibat kiriman dari hulu Sungai Citarum. Kondisi membuat petani sering melakukan penanaman di waktu yang tidak tepat sehingga sering terjadi gagal panen. Maka dari itu, penyediaan informasi mengenai perkiraan musim hujan dan pengamatan statsu air di bendungan Jatiluhur sangat diperlukan agar petani bisa memilih watu tanam yang tepat.

Modal manusia petani di Dusun Pengasinan yang rendah membuat petani di desa ini kebanyakan tidak memiliki pendapatan lain. Mereka sangat tergantung dari hasil pertanian. Banjir yang sering menyebabkan kegagalan panen membuat petani kehilangan pendapatan ketika terjadi banjir karena banyak petani tidak memilki sumber pendapatan lain. Maka dari itu, bantuan seperti pelatihan keterampilan dan modal usaha mikro sangat dibutuhkan petani untuk meningkatkan kapasitas petani dalam menghadapi ancaman banjir.

Selain peningkatan modal manusia, peningkatan modal fisik juga sangat diperlukan petani di Dusun Pengasinan. Penguasaan modal fisik di Dusun Pengasinan masih cukup rendah. Modal fisik yang masih rendah terlihat dimana jumlah mesin –

Dokumen terkait