2.3 Fisiologi Talamus
2.3.1 Sinyal Somatosensorik
Hampir seluruh informasi sensorik yang berasal dari segmen somatik tubuh memasuki
medula spinalis melalui saraf-saraf spinal pada radiks dorsalis (dengan pengecualian
beberapa serabut kecil yang memasuki radiks ventralis). Dari titik masuk pada medula
spinalis ini dan kemudian ke otak, sinyal sensorik akan dibawa melalui salah satu dari dua
jaras sensorik bolak-balik yang akan bersilangan lagi di setinggi talamus:
(A)Sistem Kolumna Dorsalis – Lemniskus Medialis
Sistem kolumna dorsalis – lemniskus medialis, sesuai dengan namanya,
terutama menjalarkan sinyal dalam kolumna dorsalis medula spinalis dan selanjutnya,
setelah bersinaps dan menyilang ke sisi berlawanan dalam medula akan naik melaui
lemniskus medialis di batang otak menuju talamus.
Sistem kolumna dorsalis – lemniskus medialis terdiri atas serabut-serabut saraf
besar bermielin yang menjalarkan sinyal ke otak dengan kecepatan 30 sampai 110
m/detik. Serabut-serabut saraf sistem kolumna dorsalis – lemniskus medialis
mempunyai sifat orientasi ruang yang sangat tinggi sesuai dengan asal serabut saraf.
(B) Sistem Anterolateral
Sinyal dalam sistem anterolateral, setelah keluar dari radiks dorsalis substansia
grisea melalui medula spinalis, akan menyilang ke sisi yang berlawanan dan naik
melalui substansia alba anterior dan lateral medula spinalis untuk berakhir pada
batang otak di semua ketinggian dan juga di talamus. Sistem anterolateral terdiri atas
serabut saraf bermielin yang jauh lebih kecil (rata-rata diameternya 4 mikrometer)
yang akan menjalarkan sinyal dengan kecepatan beberapa meter per setik sampai 40
m/detik. Sistem anterolateral mempunyai sifat orientasi ruang yang jauh lebih kecil.
Perbedaan ini akan mempengaruhi jenis informasi sensorik apa yang dapat dijalarkan
oleh kedua sistem di atas. Yakni, informasi sensorik yang harus dijalarkan dengan cepat dan
dalam waktu yang singkat terutama akan dijalarkan oleh sistem kolumna dorsalis – lemniskus
medialis, sedangkan informasi yang tak perlu dijalarkan dengan cepat atau dengan tempo
yang lama terutama akan dijalarkan oleh sistem anterolateral. Sistem anterolateral
mempunyai kemampuan khusus yang tidak dimiliki oleh sistem dorsalis, yakni kemampuan
untuk manjalarkan modalitas sensasi yang sangat luas, misalnya sensasi nyeri, hangat, dingin,
dan taktil yang kasar. Sistem dorsalis hanya terbatas untuk sensasi mekanoreseptif.
Jenis-jenis sensasi yang dapat dijalarkan oleh kedua sistem di atas
Sistem Kolumna Dorsalis –
Lemniskus Medialis
Sistem Anterolateral
1. Sensasi raba membutuhkan rangsangan
dengan derajat lokalisasi tinggi
Rasa nyeri
2. Sensasi raba membutuhkan penjalaran
impuls dengan intensitas gradasi yang
halus
Sensasi termal, meliputi sensasi hangat
dan dingin
3. Sensasi fasik, misalnya sensasi getaran Sensari raba dan tekan kasar yang mampu
menentukan tempat perabaan dan tempat
penekanannya pada tubuh
4. Sensasi terhadap sinyal gerakan pada
kulit
Sensasi geli dan gatal
5. Sensasi posisi tubuh Sensasi seksual
6. Sensasi tekan yang berkaitan dengan
derajat penentuan intensitas tekanan
Anatomi Sistem Kolumna Dorsalis – Lemniskus Medialis
Sewaktu memasuki medula spinalis melewati saraf spinal dalam radiks dorsalis, serabut saraf
besar bermielin yang berasal dari mekanoreseptor khusus segera terbagi menjadi bentuk
cabang medial dan cabang lateral. Cabang medial naik melalui kolumna dorsalis dan dengan
jaras kolumna dorsalis akan meneruskan jalannya ke otak.
Cabang lateral memasuki radiks dorsalis substansia grisea medula spinalis dan
kemudian bercabang banyak sekali, bersinaps dengan neuron-neuron di hampir semua bagian
intermediat dan anterior substansia grisea medula spinalis. Neuron-neuron yang dieksitasi
akan melakukan tiga fungsi:
(1) Beberapa di antaranya mengeluarkan serabut kedua yang masuk kembali ke kolumna
dorsalis untuk membentuk kurang lebih 15 persen dari seluruh serabut kolumna
dorsalis, dan beberapa serabut kedua lainnya memasuki kolumna posterolateralis,
membentuk traktus spinoservikalis yang bergabung kembali dengan sistem kolumna
dorsalis di leher dan medula bagian bawah.
(2) Banyak neuron menimbulkan refleks medula spinalis lokal
(3) Yang lainnya dapat merangsang traktus spinoserebelaris
Serabut-serabut saraf yang memasuki kolumna dorsalis akan melewati kolumna naik
menuju medula oblongata, di mana serabut-serabut ini akan bersinaps pada nuklei kolumna
dorsalis (nuklei grasilis dan nuklei kuneatus). Dari nuklei ini, neuron kedua akan segera
menyilang ke sisi yang berlawanan dan selanjutnya akan naik melewati jaras bilateral batang
otak yang disebut lemniskus medialis. Dalam jaras yang melewati batang otak ini, lemniskus
medialis bergabung dengan serabut-serabut tambahan yang berasal dari nukleus sensorik
utama nervus trigeminal; serabut-serabut ini akan membantu fungsi sensorik yang sama
untuk kepala seperti serabut kolumna dorsalis membantu untuk tubuh.
Di talamus, serabut lemniskus medialis yang berasal dari kolumna dorsalis berakhir
pada nukleus posterolateral ventralis, sedangkan serabut-serabut yang berasal dari nuklei
trigeminal berakhir di nukleus posteromedial ventralis. Kedua nuklei ini, bersama dengan
nuklei talami posterior, tempat beberapa serabut dari sistem anterolateral berakhir berakhir,
bersama-sama dikenal sebagai kompleks ventrobasal. Dari kompleks ventrobasal ini, ada
penjuluran serabut saraf yang ketiga, yakni yang terutama menuju girus postsentralis dari
korteks serebri yang disebut area somato sensorik I.
Orientasi Spasial Serabut Saraf pada Sistem Kolumna Dorsalis – Lemniskus Medialis
Salah satu perbedaan yang terdapat dalam sistem kolumna dorsalis – lemniskus
medialis adalah adanya orientasi spasial yang jelas pada serabut saraf yang berasal dari
bagian-bagian tubuh dan orientasi ini tetap dipertahankan. Contohnya, dalam kolumna
dorsalis, serabut-serabut yang berasal dari bagian bawah tubuh terletak berhadapan dengan
bagian pusat medula spinalis, sedangkan serabut yang memasuki medula spinalis pada
segmen medula spinalis yang lebih tinggi akan diletakkan di sebelah lateral.
Dalam talamus, orientasi spasial yang jelas masih tetap dipertahankan, dengan bagian
terakhir tubuh digambarkan oleh sebagian besar bagian lateral kompleks ventrobasal, dan
kepala serta wajah digambarkan di bagian medial kompleks tersebut. Walaupun demikian,
oleh karena lemniskus medialis menyilang di medula oblongata, maka sisi kiri tubuh akan
digambarkan di sisi kanan talamus, dan sisi kanan tubuh akan digambarkan di sisi kiri
talamus.
Anatomi Jaras Anterolateral
Jaras anterolateral, kebalikan dengan jaras kolumna dorsalis, menjalarkan sinyal
sensorik yang tidak memerlukan pemisahan lokalisasi secara rinci dari sumber sinyal dan
yang tidak memerlukan pemisahan lokalisasi secara rinci dari sumber sinyal dan yang tidak
memerlukan pembedaan gradasi intensitas yang kecil. Jenis sinyal yang dijalarkan antara lain
rasa nyeri, panas, dingin, raba, kasar, geli dan gatal, serta sensasi sensual.
Serabut-serabut anterolateral terutama berasal dari laminae I, IV, V, dan VI radiks
dorsalis tempat berakhirnya sebagian besar serabut-serabut saraf sensorik radiks dorsalis
setelah memasuki medula spinalis. Selanjutnya, serabut-serabut akan menyilang pada
komisura anterior medula spinalis menuju kolumna alba anterolateral sisi berlawanan, di
mana serabut-serabut itu akan naik ke otak. Serabut-serabut ini lebih cenderung naik ke atas
daripada menyebar di seluruh kolumna anterolateral. Namun, dari penelitian-penelitian
anatomik diduga ada diferensiasi sebagian jaras menjadi divisi anterior, yang disebut traktus
spinotalamikus lateral. Jaras anterolateral juga meliputi jaras spinoretikularis (yang menuju
ke tektum mesensefalon) dan traktus spinotektalis (yang menuju ke tektum mesensefalon).
Ujung-ujung atas jaras anterolateral akan memperbanyak diri terutama menjadi dua
kali lipat melalui nuklei retikuler batang otak dan dalam kedua macam kompleks nuklei
talami yang berbeda, yakni kompleks ventrobasal dan nuklei intralaminar. Pada umumnya,
sinyal taktil akan dijalarkan terutama ke dalam kompleks ventrobasal, berakhir pada nuklei
talami medial dan lateral posterior ventral di mana sinyal taktil kolumna dorsalis berakhir.
Dari sini, sinyal taktil akan dijalarkan ke korteks somatosensorik bersama dengan
sinyal-sinyal yang berasal dari kolumna dorsalis.
Sebaliknya, hanya beberapa sinyal nyeri saja yang diproyeksikan pada kompleks
ventrobasal. Malah sebagian besar sinyal nyeri memasuki nuklei retikularis batang otak dan
kemudian disebarkan dari batang otak dan kemudian disebarkan dari batang otak ke nuklei
intralaminar talami.
Pada umumnya, seperti halnya dalam sistem kolumna dorsalis – lemniskus medialis,
pada penjalaran dalam jaras anterolateral juga diterapkan prinsip-prinsip yang sama, di
samping adanya perbedaan-perbedaan berikut:
(1) Kecepatan penjalarannya hanya setengah sampai sepertiga kecepatan penjalaran
dalam sistem kolumna dorsalis – lemniskus medialis, batasannya antara 8 dan 40
m/detik
(2) Derajat sinyal lokalisasi spasial rendah, khususnya bagi jaras rasa nyeri
(3) Derajat intensitas juga sangat kecil, sebagian besar kekuatan sensasinya sudah dapat
dikenali dalam tahap 10 sampai 20 derajat, dibandingkan dalam sistem kolumna
dorsalis – lemniskus medialis yang baru dapat dikenali bila sudah mencapai 100
derajat
(4) Kemampuan menjalarkan sinyal yang berulang-ulang dan cepat sangat kecil
Jadi, jelas bahwa sistem anterolateral merupakan sistem penjalaran yang lebih kasar
daripada sistem kolumna dorsalis – lemniskus medialis. Walaupun demikian, sistem ini
hanya menjalarkan beberapa model sensasi yang tertentu saja dan tidak semuanya dalam
sistem kolumna dorsalis – lemniskus medialis.
Fungsi Talamus pada Sensasi Somatik
Bila korteks somatosensorik manusia rusak, maka penderita akan kehilangan sebagian
besar rasa taktil yang kritis, tapi hanya sedikit rasa taktil kasar yang dapat pulih kembali.
Oleh karena itu, talamus dapat dianggap mempunyai sedikit kemampuan untuk
mendiskriminasi sensasi taktil meskipun talamus sebenarnya mempunyai fungsi normal
menyiarkan jenis informasi ini ke korteks.
Sebaliknya, hilangnya korteks somatosensorik mempunyai sedikit pengaruh pada
kemampuan persepsi seseorang terhadap sensasi nyeri dan cukup besar pengaruhnya pada
persepsi suhu. Oleh karena itu, ada banyak alasan untuk mempercayai bahwa batang otak,
talamus, dan regio basal otak lainnya yang berkaitan mungkin sangat berperan dalam
diskriminasi rasa ini.
Selain sinyal somatosensorik yang dijalarkan dari perifer ke otak, sinyal kortikofungal
juga dijalarkan dengan arah kebalikan dari korteks serebral ke daerah penyiaran sensorik
yang lebih rendah di talamus, medula oblongata, dan medula spinalis; mengendalikan
sensitivitas sensorik yang masuk. Sinyal kortikofugal bersifat menghambat, dengan demikian
ketika intensitas yang masuk menjadi terlalu besar, sinyal kortikofugal secara otomatis
mengurangi penjalaran dalam nuklei penyiaran. Hal ini terjadi dalam dua cara, pertama
dengan mengurangi penyebaran sinyal sensorik lateral ke neuron yang berdekatan, dan
karena itu, meningkatkan deajat kontras pola sinyal. Kedua, dengan menjaga sistem sensorik
untuk tetap bekerja dalam rentang sensitivitas yang tidak terlampau lambat sehingga sinyal
menjadi tidak memberi efek, atau terlalu tinggi sehingga sistem terbanjiri melebihi
kapasitasnya untuk membedakan pola sensorik. Prinsip pengendali sensorik kortikofugal ini
dipergunakan oleh semua sistem sensorik yang berbeda-beda, tidak hanya sistem somatik
saja.
Sinyal Nyeri
Sekalipun semua reseptor merupakan ujung serabut saraf bebas, dalam menjalarkan
sinyal rasa nyeri ke sistem saraf pusat ujung-ujung serabut saraf ini menggunakan dua jaras
yang terpisah. Kedua jaras ini paling sedikit berhubungan dengan dua tipe rasa nyeri yakni,
jaras rasa nyeri tajam yang cepat dan jaras rasa nyeri lambat yang kronik.
Sinyal nyeri tajam yang cepat dirangsang oleh stimuli mekanik atau suhu; sinyal ini
dijalarkan melalui saraf perifer ke medula spinalis oleh serabut-serabut kecil tipe Aδ pada
kecepatan penjalaran antara 6 sampai 30 m/detik. Sebaliknya, tipe rasa nyeri lambat
khususnya dirangsang oleh stimuli nyeri tipe kimiawi tetapi juga oleh stimuli mekanik dan
suhu yang menetap; nyeri lambat kronik ini dijalarkan oleh serabut tipe C dengan kecepatan
penjalaran antara 0,5 sampai 2 m/detik.
Karena sistem persarafan rasa nyeri ini bersifat rangkap, maka stimulus rasa nyeri
yang hebat dan datangnya mendadak akan menimbulkan sensasi nyeri yang sifatnya
“rangkap”: rasa nyeri tajam yang dijalarkan ke otak oleh jaras serabut Aδ, yang selanjutnya
akan diikuti oleh sedetik atau lebih rasa nyeri lambat yang dijalarkan oleh jaras serabut C.
Rasa nyeri tajam dengan cepat akan memberitahu penderita adanya suatu kerusakan, dan
karena itu membuat penderita segera bereaksi memindahkan dirinya dari stimulus tadi.
Sebaliknya, rasa nyeri lambat cenderung menjadi bertambah hebat dari waktu ke waktu.
Sensasi ini akan menyebabkan seseorang menderita rasa nyeri yang tak tertahankan yang
sifatnya terus-menerus dan lama.
Sewaktu memasuki medula spinalis dari radiks spinalis dorsalis, serabut rasa nyeri
berakhir pada neuron-neuron di kornu dorsalis. Di sini, terdapat dua sistem untuk mengolah
sinyal-sinyal rasa nyei pada jalurnya ke otak.
Jaras Nyeri Rangkap Dua pada Medula Spinalis dan Batang Otak – Traktus
Neospinotalamikus dan Traktus Paleospinotalamikus
Sewaktu memasuki medula spinalis, sinyal rasa nyeri melewati dua jaras ke otak, melalui
traktus neospinotalamikus dan melalui traktus paleospinotalamikus.
Serabut rasa nyeri cepat tipe Aδ terutama dialaui oleh rasa nyeri mekanik dan
nyeri suhu akut. Serabut ini berakhir pada lamina I (lamina marginalis) pada kornu
dorsalis, dan di sini merangsang neuron pengantar kedua dari traktus
neospinotalamikus. Neuron ini akan mengirimkan sinyal ke serabut panjang yang
terletak di dekat sisi lain medula spinalis dalam komisura anterior dan selanjutnya
naik ke otak dalam kolumna anterolateralis.
Beberapa serabut traktus neospinotalamikus berakhir di daerah retikularis
batang otak, tetapi sebagian besar melewati semua jalur ke talamus, berakhir di
kompleks ventrobasal di sepanjang kolumna dorsalis – traktus lemniskus medialis
untuk sensasi raba. Ada beberapa yang berakhir di kelompok nuklear posterior. Dari
sini sinyal akan dijalarkan ke daerah lain pada basal otak dan juga ke korteks
somatosensorik.
Nyeri jenis cepat dan tajam dapat dilokalisasikan dengan jauh lebih pasti di
berbagai bagian tubuh daripada nyeri yang lambat dan kronik. Namun, bahkan nyeri
cepat pun, ketika hanya reseptor nyeri saja yang terangsang tanpa secara bersamaan
merangsan reseptor raba, ini masih kurang bisa dilokalisasikan, seringkali hanya
dalam luas daerah perangsangan 10 sentimeter atau lebih. Ternyata ketika reseptor
raba yang merangsan sistem lemniskus medialis kolumna dorsalis juga dirangsang,
lokasi nyeri dapat ditentukan dengan pasti.
Diduga bahwa glutamat merupakan substansi neurotransmiter yang
disekresikan di medula spinalis pada ujung-ujung serabut nyeri saraf tipe Aδ. Ini
adalah salah satu dari sekian banyak transmiter eksitasi yang banyak digunakan dalam
sistem saraf pusat, biasanya memiliki masa kerja yang berlangsung hanya beberapa
milidetik saja.
2. Jaras Paleospinotalamikus untuk Menjalarkan Nyeri Lambat – Kronik
Jaras paleosinotalamikus adalah sistem yang jauh lebih tua, dan penjalaran
rasa nyeri terutama dibawa dalam serabut nyeri tipe C lambat – kronik di perifer,
walaupun jaras ini menjalarkan beberapa sinyal dari serabut tipe Aδ juga. Dalam jaras
ini, serabut-serabut perifer berakhir hampir seluruhnya di lamina II dan III kornu
dorsalis, yang bersama-sama disebut substansia gelatinosa, seperti yang digambarkan
oleh serabut radiks dorsalis paling lateral. Sebagian besar sinyal kemudian melewati
satu atau lebih neuron-neuron serabut pendek tambahan di dalam kornu dorsalisnya
sebelum memasuki lamina V melalui lamina VII, juga di kornu dorsalis. Di sini,
neuron terakhir dalam rangkaian merangsang akson-akson panjang yang sebagian
besar menyambungkan serabut-serabut dari jaras cepat, yang mula-mula melewati
komisura anterior ke sisi berlawanan dari medula spinalis dan kemudian naik ke otak
dalam jaras anterolateral yang sama.
Dari percobaan penelitian diduga bahwa ujung serabut nyeri tipe C yang
memasuki medula spinalis mungkin mengeluarkan transmiter glutamat dan transmiter
substansi P. Transmiter glutamat bekerja segera dan hanya berlangsung beberapa
milidetik saja. Sebaliknya, substansi P dilepaskan jauh lebih lambat, mencapai
pemekatan dalam waktu beberapa detik atau bahkan beberapa menit. Kenyataannya,
ada dugaan bahwa sensasi nyeri ganda dapat menghasilkan sebagian maupun
keseluruhan dari kenyataan bahwa transmiter glutamat memberikan sensari nyeri
cepat, sedangkan transmiter substansi P memberikan sensasi yang lebih lambat. Jelas
bahwa glutamat adalah neurotransmiter yang paling berperan dalam menjalarkan rasa
nyeri cepat ke dalam sistem saraf pusat, sedangkan substansi P (dan peptida lainnya
yang berkaitan) berhubungan dengan rasa nyeri lambat – kronik.
Jaras paleospinotalamikus lambat – kronik berakhir secara luas dalam batang
otak. Hanya sepersepuluh sampai seperempat serabut yang melewati seluruh jalur
talamus. Namus demikian, secara prinsip, serabut-serabut ini berakhir di satu dari tiga
daerah berikut: nukleus retikularis medula, pons, dan mesensefalon; area tektal dari
mesensefalon dalam sampai kolikul superior dan inferior; atau daerah substansia
abu-abu preduktal, yang mengelilingi aqueduktus Sylvius. Daerah yang lebih rendah dari
batatng otak ini tampaknya penting dalam mengapresiasikan rasa sakit dan nyeri. Dari
area nyeri batang otak, banyak neuron-neuron serabut pendek yang memancarkan
sinyal nyeri naik ke intralaminar dan nukleus lateral pusat dari talamus dan ke dalam
bagian tertantu hipotalamus dan daerah lain yang berdekatan di dasar otak.
Lokalisasi nyeri yang dijalarkan dalam jaras paleospinotalamikus bersifat
buruk. Sebagai contoh, nyeri jenis kronik lambat dapat selalu dilokalisasikan hanya
pada bagian tubuh yang luas seperti untuk satu lengan atau tungkai, tetapi tidak untuk
daerah yang lebih rinci dari lengan atau tungkai. Hal ini dipertahankan oleh jaras yang
berkonektivitas difus dan multisinaptik ini.
Pembuangan secara komplit area sensorik korteks serebri tak akan
mengganggu kemampuan untuk merasakan nyeri. Oleh karena itu, ada anggapan
bahwa impuls nyeri yang memasuki formasio retikularis, talamus, dan pusat-pusat
yang lebih rendah lainnya dapat menimbulkan persepsi nyeri yang disadari. Ada
anggapan bahwa korteks berperan penting dalam menginterpretasikan kualitas nyeri
meskipun persepri nyeri secara prinsip merupakan fungsi dari pusat-pusat yang lebih
rendah.
Sensasi Suhu
Gradasi termal dapat dibedakan oleh paling sedikit tiga macam reseptor sensorik:
reseptor dingin, reseptor hangat, dan reseptor rasa nyeri. Reseptor rasa nyeri hanya
dirangsang oleh gradasi panas atau dingin yang ekstrem, karena itu bersama dengan reseptor
dingin dan reseptor hangat bertanggung jawab terhadap terjadinya sensasi sangat dingin
(freezing cold) dan sensasi panas yang menyengat (burning hot).
Pada umumnya, penjalaran sinyal suhu hampir selalu sejajar, namun tidak persis sama
seperti sinyal nyeri. Sewaktu memasuki medula spinalis, sinyal akan menjalar dalam traktus
Lissauer sebanyak beberapa segmen di atas atau bawah, dan selanjutnya akan berakhir
terutama pada lamina I, II, III radiks dorsalis, sama seperti untuk rasa nyeri. Sesudah ada
percabangan satu atau lebih neuron dalam medula spinalis, maka sinyal akan dijalarkan ke
serabut termal asenden yang menyilang ke traktus sensorik anterolateral sisi berlawanan dan
akan berakhir di area retikular batang otak dan kompleks ventrobasal talamus.
Beberapa sinyal suhu dari kompleks ventrobasal akan dipancarkan menuju korteks
somatosensorik. Adakalanya, dengan penelitian mikroelektroda ditemukan suatu neuron pada
area somatosensorik I yang dapat langsung berespons terhadap stimulus dingin atau hangat
pada daerah kulit yang spesifik. Selanjutnya, telah diketahui bahwa pembuangan girus
postsentralis pada manusia dapat mengurangi tapi tidak melenyapkan kemampuan untuk
membedakan gradasi suhu.
Gambar 8. (A) Traktus Spinoserebelaris Anterior dan Posterior; (B) Kolumna Posterior;
(C) Traktus Spinotalamikus Anterior; (D) Traktus Spinitalamikus Lateralis
Dalam dokumen
Embriologi, Neuroanatomi dan Fisiologi Talamus
(Halaman 26-35)