• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sirkulasi Pengelola

Dalam dokumen SANGGAR SENI LUKIS DIFABEL DI SURABAYA. (Halaman 57-95)

Bab VI. Aplikasi Konsep Perancangan

Diagram 4.6 Sirkulasi Pengelola

Keterangan Sirkulasi Pengelola Sirkulasi Service Lobby R.Guru R.Informasi R.Loby Selasar Pintu masuk/keluar R.Kepala Sanggar R.Rapat R.Admin Galeri Artshop Selasar Toilet R.UKS/ Konsul Exit

JL

. R

A

YA

H

R

. M

U

H

A

M

M

A

D

J

.BU

KIT

DA

RM

O G

OLF

2.1.4 Diagram Abstrak

Untuk perencanaan massa bangunan dari sanggar seni lukis ini terdiri dari beberapa masa dengan bentukan lingkar sebagai bentuk utama. Dan konsep pola sirkulasi yang digunakan untuk melayani aktifitas yang diingkan para pengguna bangunan, hanya terdapat satu macam sirkulasi, yaitu :

Sirkulasi Horizontal, menggunakan dua pola sirkulasi yaitu ; sirkulasi radial . Ket : A : Galeri B : Studio/Worshop/Sanggar C: Pengelolah D: Parkir E: Exibition

Gambar 4.1 Diagram Abstrak (Sumber : Dokumen pribadi,2009)

2.2 Analisa Site

Dari hasil tinjauan lokasi proyek akan potensi dan aksesibilitas untuk penyelesaian design perlu adanya barier dan pemanfaatan view dengan penyelesaian desain :

• Untuk site arah utara perlu adanya barier dan batas yang tegas dari lahan sehingga tidak mengganggu aktifitas saat aktifitas belajar berlangsung.

• Untuk site arah selatan diselesaikan dengan memanfaatkannya sebagai area publikasi/vocal point untuk member daya tarik pengamat, perlu penyelesaian tanpa barier tetapi memperlebar jarak tepi jalandengan jarak tepi bangunan,sehingga dapat menguruangi kebisingan tanpa menghalangi view dari luar masuk kedalam.

4.2.1. Analisa Pencapaian

Jalan yang ada di lokasi adalah jenis jalan besar dari jalan primer ke jalan umum, Jalan Bukit Darmo Bouleverd merupakan sarana dan prasarana yang menjadi jantung bagi kawasan Surabaya barat yang saat ini masih dalam tahap pengembangan.. Adapun faktor – faktor yang memudahkan pencapaian lokasi, antara lain:

• Transportasi menuju lokasi sangat mudah dicapai baik dari arah selatan maupun dari arah utara.

• Kondisi jalan sekitar site cukup baik, tidak terdapat kerusakan yang dapat mengganggu perjalanan ( lubang ).

• Dilihat dari segi aksesibilitas ( pencapaian ), lokasi ini merupakan lokasi strategis dari segi pencapaian ( transportasi umum ).

• Dilalui oleh kendaraan umum atau dengan kata lain sarana transportasi cukup mudah.

Dari hasil analisa pencapaian diatas, maka dapat diambil kesimpulan dalam perletakan main entrance, site entrance dan service entrance, sebagai berikut:

JL . R AY A H R . M U H A M M A D JL.R AYA DA RM JL.B UK IT D AR MO GO LF

Gambar 4.2 Perletakan Main entrance, site entrance dan service entrance (Sumber : Dokumen pribadi,2011)

4.2.2. Analisa Iklim

A. Orientasi Matahari

Pergerakan matahari menurut sumbu koordinat adalah dari timur menuju barat, sehingga pengaruh terhadap desain adalah mempengaruhi arah hadap bangunan juga mempengaruhi perletakan bukaan.

Gambar 4.3 Pengaruh orientasi matahari terhadap bangunan (Sumber : Dokumen pribadi,2011)

Service Enterace

JL

. R

A

YA

H

R

. M

U

H

A

M

M

A

D

JL.R

AYA

DA

RM

JL.B

UK

IT D

AR

MO

GO

LF

Main Site Enterace

JL . R AY A H R . M U H A M M A D JL.R AYA DA RM JL.B UK IT D AR MO GO LF B. Pembayangan

Menganut dari pernyataan diatas, maka pembayangan yang terjadi adalah sisi bangunan bagian utara dengan penyelesaian dilatasi dinding untuk menghasilkan naungan / pembayangan juga dapat ditambahkan sebuah vegetasi sebagai pencegahan pemanasan terhadap lingkungan.

Gambar 4.4 Pengaruh bayangan terhadap bangunan (Sumber : Dokumen pribadi,2009)

C. Pergerakan Angin

Pergerakan angin yang terjadi pada site, adalah dari arah tenggara menuju barat laut sehingga perletakan arah bukaan lebih banyak berada di sisi timur dan selatan bangunan.

Gambar 4.5 Pengaruh orientasi matahari terhadap bangunan (Sumber : Dokumen pribadi,2009)

Vegetasi barier

U

Massa bangunan

JL

. R

A

Y

A

H

R

. M

U

H

A

T D

AR

MO

GO

L

Keterangan :

Arah angin dari utara ke arah timur saat musim kemarau Arah angin ke timur saat musim hujan

4.2.3. Analisa Lingkungan Sekitar

Melihat bangunan dan lingkungan sekitar memiliki potensi yang bermacam – macam menurut fungsinya masing – masing. Oleh karena itu, tidak dipungkiri lagi bahwa potensi yang dimiliki dari masing – masing bangunan tersebut akan mempengaruhi bentukan yang terjadi pada desain bangunan sanggar seni lukis. Dengan dominasi bangunan sekitar yang umunya bangunan dua lantai tetapi di kawasan site terdapat bangunan tinggi yang menjadi dominasi dari bangunan sekitar sehingga terjadi sikuen yang kontras dengan bangunan sekitar, jadi perancang berusaha merancang bangunan yang lebih menyatu dengan site yang masih tanah lapang yaitu bangunan satu lantai yang juga disesuaikan kebutuhan penggunannya.

Gambar 4.6 Analisa Lingkungan Sekitar (Sumber : Dokumen pribadi,2009)

JL.

R

AY

A

H

R

. M

U

H

A

M

M

A

D

JL.B

UK

IT D

AR

MO

GO

LF

92.0 m 10 0 m 73.0 m 93.0 m Pengamat dari perempatan jalan Pengamat dari depan site

Pengamat dari sisi samping kiri site

JL

. R

A

Y

A

H

R

. M

U

H

A

T D

AR

MO

GO

L

4.2.4. Analisa Zoning

Untuk pengelompokan ruang yang ada, dikelompokkan berdasarkan dari zona-zona kebutuhan ruang yang disesuaikan dengan jenis, sifat dan fungsi ruang masing – masing, antara lain:

- Parkir ( publik ) - Hall ( publik ) - Galeri ( publik ) - exibition (publik)

- Area pengelola ( semi privat ) - Sanggar ( privat )

Gambar 4.7 Analisa Zoning (Sumber : Dokumen pribadi,2009)

Zona Privat, dapat diakses oleh pengguna(siswa) dan pengelola untuk akitifitas belajar.

Zona Publik, dapat diakses oleh pengunjung, pengelola, dan Pengguna

Zona Semi publik, diakses oleh pengelola untuk keperluan pengelolaan sanggar

2.3 Analisa Tampilan

Dari fungsi sebagai Sanggar Seni Lukis maka tampilan disesuaikan fungsi Sanggar itu sendiri(Form Follow Function) sehingga tampilan bangunan menjadi identitas bangunan tersebut.

Penyelesain design :

1. Dari lokasi site yang berada di kawasan komersil, perlu adanya sentuhan modern yang menjadikan tampilan kontekstual terhadap lingkungan ssekitar.

2. Untuk gubahan masa ditata secara dekat untuk mengurangi pegerakan pengguna bangunan, karena dengan jarak yang dekat akan

mempermudah seniman atau pun pengunjung untuk beraktifitas (tidak terlalu lelah).

3. Sebagai penghubung /ruang transisi diselasaikan dengan pergola /ruang yang beratap, untuk menghindari air hujan /terik sinar matahari (tidak licin)

Gambar 4.8 Gubahan Massa (sumber : Dokumen pribadi.2009)

BAB V

KONSEP RANCANGAN

Dasar Pemikiran

Dalam sebuah proses perancangan, diperlukan adanya analisa dan pembuatan konsep yang didasari atas hasil analisa yang di dalamnya terdapat penyelesaian – penyelesaian terhadap permasalahan yang ada. Tema perancangan diambil dari fakta dan issues yang muncul dari permasalahan tersebut. Perancangan Sanggar Seni Lukis Difabel di Surabaya ini didasari dari beberapa fakta isu yang ada disekitar kita. Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai analisa dan konsep rancangan yang diinginkan untuk direalisasikan pada rancangan tersebut dari fakta dan isu yang diperoleh.

5.1. Fakta 5.1.1. Fakta :

- Belum terlaksananya secara baik peraturan Kepmen PU no. 468/KPTS/1998 tentang Standar Persyaratann Teknis Aksesibilitas pada Gedung dan Lingkungan dalam masyarakat luas

- Masih banyak anak-anak yang memiliki keterbatasan fisik minder dengan kondisi mereka, sehingga bakat seni dan reatifitas mereka menjadi terhambat.

- Masih banyak sanggar-sanggar seni yang lebih mengedepankan produk hasil jadi dari pada proses pembelajaran seni tersebut,

- Sanggar Seni di Surabaya lebih banyak mewadahi anak-anak menggambar(melukis), bukan belajar menggambar( seni melukis) yang anak-anak dipaksakan untuk berimaginasi tanpa melalui proses, bagaimana berimaginasi secara baik dan kreatif.

5.1.2. Isue:

- Menghasilkan metoda pembelajaran yang efektif dan efesien bagi anak-anak

- Menciptakan Bangunan yang aman nyaman bagi anak difabel dalam berkegiatan berkeseniaan dengan fasilitas yang mendukung kegiatan tersebut, terutama seni lukis

5.2. Tema

Dari fakta dan isu yang telah diungkap, terdapat benang merah yang dapat digunakan dalam proses perancangan. Yang biasa disebut dengan tema. Tema yang diambil dari fakta dan isu tersebut yaitu ”Out of the Box” (keluar dari kotak). Pengertian dari tema out of the box adalah keluar dari kotak yang selalu ada di sekitar kita, tema ini hadir untuk mencakup beberapa point yang ada di konteks judul proyek ini yaitu:

1) Pembahasan menurut Sanggar seni :

Out of the box merupakan gambaran untuk keluar dari kondisi sanggar yang saat ini marak ada di Surabaya dengan fasilitas yang terbatas, karena Sanggar pada umumnya melakukan kegiatan belajar didalam ruangan dan dalam kaitannya dengan tema perancang menghadirkan sanggar yang melakukan belajar tidak hanya didalam ruangan tapi juga diluar ruangan yang disesuaikan dengan kebutuhan aktifitasnya.

2) Pemabahasan menururt Difabel

Out of the box adalah keinginan untuk keluar dari pandangan masyrakat yang memberikan image ”mencacatkan” difable, sehingga secara otomatis difablel identik dengan belas kasihan dan abnormalitas, disini perancang mencoba mengangkat mereka dengan ketrampilan dan kreatifitas yang ada dalam proyek ini. Kedua konteks ini merupakan kondisi yang saat ini biasanya hadir di sekitar kita, dalam kaitanya tema adalah penggambaran untuk keluar dari kondisi yang biasa menuju hal yang baru melalui beberapa pendekatan konsep rancangan yang memenuhi kebutuhan tersebut.

5.3. Metoda Perancangan

Dalam perancangan tentu terdapat titik pijak dari permasalahan, kebutuhan, maksud atau sebuah tujuan. Pendekatan untuk menjabarkan secara abstrak metode perancangan sendiri terdapat pada diagram dibawah ini :

Untuk diskripsi metode perancangan disini diartiakan sebagai prinsip dasar yang mengikat suatu permasalahan sehingga tidak keluar dari jalur atau arah yang sudah dikonsepkan. Dari pengertian metode perancangan diatas maka di butuhkan sebuah grand teori untuk memperkuat dasar pijakan dalam konsep nantinya.

Untuk diskripsi teori yang dijadikan pijakan, serta prinsip-prinsip yang menjadi sebuah dasar dari sebuah ilmu pengetahuan dalam merancang. Dijadikan acuan dalam proses penentuan konsep perancangan, agar prinsip-prinsip tersebut dapat konsisten maka dibutuhkan teori-teori dasar sebagai landasan dalam merancang.

5. 3. 1 Teori Metafora

A. Menurut Anthony C. Antoniades, 1990 dalam ”Poethic of Architecture”

Suatu cara memahami suatu hal, seolah hal tersebut sebagai suatu hal yang lain sehingga dapat mempelajari pemahaman yang lebih baik dari suatu topik dalam pembahasan. Dengan kata lain menerangkan suatu TEMA

METODE KONSEP GAGASAN

GAGASAN

GAGASAN Diagram 5. 1. Konsep Zoning

subyek dengan subyek lain, mencoba untuk melihat suatu subyek sebagai suatu yang lain, ada tiga kategori dari metafora :

Intangible Metaphor (metafora yang tidak diraba)

yang termasuk dalam kategori ini misalnya suatu konsep, sebuah ide, kondisi manusia atau kualitas-kualitas khusus (individual, naturalistis, komunitas, tradisi dan budaya)

Tangible Metaphors (metafora yang dapat diraba)

Dapat dirasakan dari suatu karakter visual atau material Combined Metaphors (penggabungan antara keduanya)

Dimana secara konsep dan visual saling mengisi sebagai unsur- unsur awal dan visualisasi sebagai pernyataan untuk mendapatkan kebaikan kualitas dan dasar.

B. Menurut James C. Snyder, dan Anthony J. Cattanese dalam “Introduction of Architecture”

Metafora mengidentifikasikan pola-pola yang mungkin terjadi dari hubungan-hubungan paralel dengan melihat keabstrakannya, berbeda dengan analogi yang melihat secara literal.

C. Menurut Charles Jenks, dalam ”The Language of Post Modern Architecture”

Metafora sebagai kode yang ditangkap pada suatu saat oleh pengamat dari suatu obyek dengan mengandalkan obyek lain dan bagaimana melihat suatu bangunan sebagai suatu yang lain karena adanya kemiripan.

Berdasarkan tema out of the box perlu dijabarkan melalui teori Methafor karena tema masih bersifat konseptual dan Pengertian Metafora (Anthony C. Antoniades (1990) ) dalam Arsitektur adalah kiasan atau ungkapan bentuk, diwujudkan dalam bangunan dengan harapan akan menimbulkan tanggapan dari orang yang menikmati atau memakai karyanya.

Metafora dalam Poetic of Architecture: Theory of Design, mengidentifikasi metafora arsitektur ke dalam tiga kelompok, yaitu:

a. Metafora abstrak (intangible metaphor)

Rancangan arsitektur yang mengacu kepada hal-hal yang bersifat abstrak dan tidak dapat dibendakan, misalnya: sosial, budaya, kondisi manusia. Rancangan arsitektur yang menggunakan metafora ini adalah Nagoya City Art Museum karya Kisho Kurokawa yang membawa unsur sejarah dan budaya didalamnya.

\

Gambar 5.1 :. Metafora abstrak sumber : analisa penulis

b. Metafora konkrit (tangible metaphor)

Rancangan arsitektur yang mengacu kepada benda-benda nyata dan dapat dirasakan secara visual. Rancangan yang menggunakan metafora ini adalah Stasiun TGV karya Calatrava yang menerjemahkan bentuk burung terbang kedalam bangunan.

Gambar 5.2 :. Metafora konkrit sumber : analisa penulis

c. Metafora kombinasi (combined metaphor)

Rancangan arsitektur yang memiliki metafora abstrak dan konkrit didalamnya. Rancangan arsitektur yang menggunakan metafora ini adalah EX Plaza Indonesia karya Budiman Hendropurnomo yang menjadikan gaya kinetik pada sebuah mobil sebagai konsepnya, yang diterjemahkan menjadi gubahan masa lima kotak yang miring sebagai ekspresi gaya kinetik mobil, kolom-kolom penyangganya sebagai ban mobil

Gambar 5.3 :. Metafora kombinasi sumber : analisa penulis

Dari ketiga teori ini intangible metaphor merupakan pendekatan teori yang saya pakai untuk rancangan ini, karena tema dan konsep yang saya pakai lebih mengarah pada ide-ide yang masih konseptual /abstrak

Perancang melakukan 3 Pendekatan rancangan yang disesuaikan dengan kebutuhan proyek yaitu :

5.4. Konsep Perancangan

5.4.1. Pendekatan konsep Pendekatan Konsep I

gambar anak-anak menjadi inspirsi saya sebagai ide bentuk rancangan sanggar,

Gambar 5.4 :.Pendekatan rancangan I sumber : analisa penulis Sketsa anak Anak usia 4 tahun

menggambar dengan maksud tertentu. (Lowenveld,1975)

Dari sketsa anak diambil beberapa nilai yaitu

1) Lingkaran 2) Jamak & Tak

beraturan Lingkaran > sebagai ide bentuk utama massa bangunan Jamak & tak beraturan > konsep dari

Pendekatan Konsep II

untuk pendekatan kedua lebih pada metoda pembelajaran yang baik bagi anak-anak dengan cara pembagian zona makro yang disesuaikan dengan pengguna

pengguna terbagi 2 kelompok yaitu, kelompok pelukis mulut dan kelompok pelukis kaki yang disesuaikan dengan bagaimana mereka melukis (sb.www.sabarsubadri.com) KET. ZONA PUBLIK ZONA PRIVAT ZONA SEMIPRIVAT SIRKULASI MELUKIS DENGAN KHAKI

A

B

C

MELUKIS DENGAN MULUT

Gambar 5.5 :.Pendekatan rancangan II sumber : analisa penulis

Pendekatan Konsep III

pendekatan ketiga membagi pengguna menjadi 3 level yang disesuaikan pada umur siswa dan menerapkan metoda pembelajaran di alam(disini alam buatan) yaitu :

1) materi OBSERVATION 2) materi MEMORY 3) materi IMAGINATION (sb.creatif school painting)

Observation

Adalah metoda pembelajaran yang menggunakan konsep belajar out door dan indoor dengan batas umur 3 -5 th dengan pendekatab belajar di alam.

Bangunan aksebilitas : akses masuk dipermuda dengan penggunakan pintu swing 2 arah dan ramp sebagai akses jalan

Pintu swing 2 arah ramp dengan sudut 50– 70 Gambar 5.6 :.Pendekatan rancanganObservation

sumber : analisa penulis

Memory

Adalah metoda pembelajaran melukis dengan konsep belajar dari out door ke indoor ( siswa diarahkan untuk melihat merasakan mengingat pengalaman dan obyek di area outdoor setelah itu dari bekal pengalaman tersebut siswa di bimbing untuk melukis di area indoor) batas usia siswa dari 5 -8th hal ini untuk melatih pengamatn dan memory pengalaman siswa.

Outdoor (obyek pengamat)

area yang didesign untuk obyek pengamatan /observation bagi siswa saat melukis. Indoor(area belajar)

Ruang kelas didesign menonjol keluar dan tidak ada sekat antara ruang luar denga ruang dalam sehingga mempermuda siswa dalam mengamati objek disekitarnya

Ruang terbuka

Indoor : Ruang didesign terbuka dengan bukaan maximal tanpa ada sekat penutup sehingga terkesan ruang lebih terbuka keculai pada pintu

bukaan

Kolom struktur

Gambar 5.7 :.Pendekatan rancangan memory sumber : analisa penulis

Imagination

Adalah metoda pembalajaran melukis dengan memberi kebebasan siswa dalam berkarya melalui imaginasi mereka yang tujuanya adalah meningkatakan daya kreatifitas mereka. Batas usia siswa dari 8 – 13th

Gambar 5.8 :.Pendekatan rancangan Imagination sumber : analisa penulis

Indoor(area belajar)

Ruang kelas lebih semi terbuka karena akses terbuka hanya ada pada pintu yang memiliki 3 Out door (proses memory) area yang didesign dengan berusahan menghadirkan unsur-unsur yang dialam yang akan dijadikan obyek pengamatan , pengalaman dan pembelajaran.

Pintu

Sirkulasi siswa pada proses memory ( lebar sirkulasi : 2m)

Ruang Kelas

Pintu swing

Indoor (area belajar)

Ruang kelas didesign secar tertutup , hal ini untuk siswa lebih dapat fokus dan kosentrasi terhadap pembelajaran mereka.

R.kelas

5.4.2. Konsep Tapak 5.4.2.1.Konsep Penzoningan

Tapak berada di kawasan Surabaya Barat dengan kondisi site datar. Tapak dibagi beberapa zona yang disesuaikan dengan kebutuhan pada rancangan ini penzoningan terbagi 3 zona yaitu zona publik, zona semi publik dan zona privat

Gambar 5.9 :.Konsep Penzoningan sumber : analisa penulis

5.4.2.2.Konsep Tatanan Massa

Tatanan massa diatur secara berkelompok – kelompok dengan ritme a,b,c . dengan konsep hirarki yang menciptakan sebuah klimaks pada tatanan site. Pengkelompokan massa disesuaikan dengan pengguna masing-masing ruang. sehingga muncul pembeda dari setiap kelompok masa.

Gambar 5.10 :.Konsep Tatanan Massa sumber : analisa penulis

Zona Privat terdiri dari: Fasilitas kelas melukis kaki Fasilitas kelas melukis mulut Zona Publik terdiri dari : Fasilitas Penunjang Fasilitas Service

Zona Semi Publik terdiri dari : Fasilitas Pengelola

Massa .Exibition sebagai : Klimaks dari kelompok- kelompok massa. JL .B UK IT D AR MO B P E R U M A H A N G O L F T R A

Kelompok –kelompok massa terbagimenjadi 2 kelompok yaitu :

A. Kelompok Pelukis mulut B. Kelompok pelukis kaki

A

JL .B UK IT D AR MO B P E RU M AH A N G O L F

5.4.2.3.Konsep Orientasi Massa

Jalan Bukit Darmo Bouleverd merupakan jalan yang cukup ramai dengan jalur searah dari Jalan HR. Muhammad ke PTC ( Pakuwon Trread Center). Dari kondisi tersebut tatanan massa diorientasikan dengan sudut 450 dari arah datangnya pengamat(jalan) hal ini memberikan fase bagi pengamat untuk mengenal ME dari Jalan.

,

( ) arah jalan

Orientasi bangunan

Gambar 5.11 :.Konsep Orientasi sumber : analisa penulis

Letak massa Pengelola dan service berada di arah datangnya angin musim hujan ( angin ke arah timur dan kearah utara ) hal ini memecah tiupan angin sehingga tidak akan mengganggu massa utama (R. Kelas)

5.4.3. Konsep Ruang Luar 5.4.3.1.Konsep Sirkulasi

Konsep sirkulasi yang terjadi pada sekitar site merupakan sirkulasi linier, dimana memliki 2 jalur satu jalur berasal dari PTC(pakuwon Tread center), sedangkan jalur yang lain berasal dari Tol Malang – Surabaya dan Jalan raya HR.Muhammad, jalur yang ada di depan Site hanya ada satu arah (berasal dari Jalan HR. Muhammad – menuju PTC).

Sclupture sebagai penangkap dari jalan oleh pengamat.

RA

YA

H

R

(Jl. Bukit Darmo Bouleverd )

Arah jalan dari Jl.HR.Muhammad ke PTC Keterangan

Lokasi Site

Arah jalan dari PTC ke Jl. HR.Muhammad

Plaza (penyatu masa satu dengan masa yang lainnya)

Sirkulasi radial (pergola) Klimaks bangunan Gambar 5.12 :. Konsep sikulasi luar site

sumber : analisa penulis

konsep sirkulasi dirancang menurut kebutuhan yang diinginkan , disini rancangan site lebih kepada tatanan masa dengan konsep pola yang tak teratur dengan ritme a.b.c (naik), dan dalam perancangan site ini konsep sirkulasi radial adalah konsep yang sirkulasi yang dipilih untuk penyelesaian rancangan site dengan adanya plaza dan selasar sebagai penghubung antar masa satu dengan yang lainnya.

Gambar 5.13 :. Konsep sirkulasi site sumber : analisa penulis

p l a za JL .B UK IT D AR MO B P E RU M AH A N G O L F

Konsep ruang luar dirancang dengan sirkulasi yang memusat (radial) dengan penempatan plaza ditengah sebagai penyatu dari beberapa massa yang ditata secara tak beraturan/asimetris, dengan tetap menggunakan pendekatan konsep alam yang diselesaiakan dengan pergola dan kolam sebagai sclucture.

Gambar 5.14 : Sketsa Konsep Plaza sumber : analisa penulis

Untuk konsep ruang parkir lebih menyesuaikan konsep dari layout yang lebih hadir dengan gari-garis/bentuk lengkung dengan sirkulasi linier mulai dari site enterance hingga out, dengan berusaha menghadirkan barier yang ditata mengikuti bentuk layout parkir.

5.4.3.2.Konsep Enterance

Akses utama pada tapak berada pada area barat yang tepat menghadap jalan utama Jl.Bukit Darmo Bouleverd. Pada sekitar site juga terdapat area pejalan kaki yang memilki akses ke tapak, Penyelesaian konsep enterance :

Enterance yang berada di daerah barat dibuka sebagai area parkir dan berada di tengah untuk mempermuda pengenalan enterance dengan sclucture sebagai vocal point.

Gambar 5.15 :. Konsep Enterace sumber : analisa penulis

pergola

Peletakan ME ditengah pada daerah barat site

Penyelesaian bambu sebagai sclucture

bambu ditata seara vertical dan berjejer

5.4.4. Konsep Tampilan dan Bentuk 5.4.4.1.Konsep Bentuk

Pengambilan ide bentuk diambil dari konsep pendekatan 1 yaitu dari sketsa anak yang memiliki maksud tertentu,dari sana diambil bentuk bulat yang dalam proses dilakukan pengolahan bentuk untuk menyesuaikan kebutuhan masing-masing ruang.

Gambar 5.16 :. Konsep bentuk sumber : analisa penulis

5.4.4.2.Konsep Tampilan

Dalam Konsep tampilan ini dipengaruhi oleh tema awal yaitu keluar dari kotak yang diterapkan dalam olah tampilan proyek ini. yang dihadirkan adalah permainan bentuk dan warna. Setiap bentuk massa memiliki karakter tampilan masing-masing.

Dari bentuk :

Tampilan bentuk perancang mencoba menghadirkan permainan dinding dan atap yang menciptakan tampilan baru dari sebuah sanggar yang tadinya dari monoton menjadi berirama

Gambar 5.17 :. Konsep Tampilan sumber : analisa penulis

Atap : untuk menghilangkan kesan monoton dari tampilan , coba hadirkan permainan ritma pada atap :

Dinding : sebagai cladding diselesaikan dengan permainan batu bata mencoba menghadirkan susuna batu bata yang umumnya solit tertutup perancang hadirkan susunan ter buka yang beda dari umumnya.

Permainan ritme dari bentuk lengkung berasal dari bambo

Permainan zigzag dari dinding bata

pengulangan bentuk bulat Bentuk kelas

Proses penambahan & penggabungan massa

Bentuk kantor pengelola

Dari Warna : Perancang lebih mengedepankan pada pendekatan alam yang menghadirkan warna alami yaitu Warna bata, Warna batu, dan Warna bambu

Konsep dari tema tersebut dari gambar ini saya ambil beberapa nilai yang ada pada gambar yaitu : bulat, jamak, dan tak beraturan yang menjadi pola ide bentuk rancangan. Pola tersebut saya hadirkan dalam tampilan agar tetap ada kesinambunagn antara konsep layout dengan tampilan. Tapi untuk tampilan lebih condong pada pendekatan alam, dengan menghadirkan material-material alami dan mengexposnya dan juga bermain-main irama untuk menghindari kesan datar,

Gambar 5.18 : Sketsa Konsep Tampilan sumber : analisa penulis

karena dalam design tampilan bangunan , perancang memilih pendekatan alam tidak hanya sebagai konsep tapi juga sebagai materi pembelajaran bagi mereka untuk belajar di alam.

5.4.4.3 Konsep Struktur

Sistem struktur yang dipilih berdasarkan tidak hanya pada kebutuhan ruang tapi juga mengikuti pendekatan konsep dari awal yaitu alami, jadi untuk konsep strutkur pada atap pemilihan material bambu lebih cocok karena dengan

Dalam dokumen SANGGAR SENI LUKIS DIFABEL DI SURABAYA. (Halaman 57-95)

Dokumen terkait