HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Karakteristik Responden
5.2 Sistem Bagi Hasil Usahatani JUN di Desa Ciaruteun Ilir
Sistem atau pola bagi hasil yang diterapkan UBH-KPWN yaitu pola yang dilaksanakan melalui kerjasama antara investor, pemilik lahan, petani penggarap, perangkat desa, dan UBH-KPWN yang bertindak sebagai lembaga fisilitator dan lembaga penjamin, dengan pembagian hasil panen secara proporsional dan menguntungkan para pihak. Penetapan bagian hasil pihak-pihak yang terlibat dalam budidaya JUN didasarkan atas hak dan kewajiban masing-masing pihak. Hak dan kewajiban masing-masing pihak dapat dilihat pada Tabel 9. Sedangkan skema kontribusi dan bagian hasil masing-masing pihak yang terlibat dalam usaha JUN dapat dilihat pada Gambar 5.
35
Tabel 9 Hak dan kewajiban pihak-pihak yang terlibat dalam budidaya JUN UBH-KPWN di Desa Ciaruteun Ilir
Pihak Hak Kewajiban
UBH-KPWN
1. Memperoleh bagian hasil panen sebanyak 15 persen dari total jumlah pohon yang ditanam.
1. Melakukan inventarisasi dan
identifikasi calon lokasi dan pemilik lahan serta petani penggarap peserta budidaya JUN.
2. Merencanakan dan melaksanakan
kegiatan usaha budidaya JUN.
3. Melaksanakan pendampingan
kepada petani penggarap
4. Menarik calon investor usaha JUN.
5. Mengelola dana dari investor untuk
kegiatan usaha budidaya JUN.
6. Memasarkan pohon jati siap panen.
7. Melaksanakan pembagian hasil
sesuai dengan perjanjian.
8. Bila terjadi kematian/kehilangan,
bagian hasil UBH-KPWN dikurangi sebanyak 0,3 bagian dari jumlah yang mati/hilang.
Investor
1. Memperoleh bagian hasil panen
sebanyak 40 persen dari jumlah pohon yang ditanam.
2. Tidak menanggung risiko bila
terdapat tanaman yang mati/hilang yang disebabkan karena kelalaian.
1. Berkontribusi dengan menanamkan modal, dimana jumlah minimal investasi adalah 100 pohon.
Pemilik Lahan
1. Memperoleh bagian hasil panen
sebanyak 10 persen dari jumlah pohon yang ditanam.
2. Tidak menanggung risiko bila
terdapat tanaman yang mati/hilang yang disebabkan kelalaian.
1. Memberi ijin lahannya untuk
ditanami JUN dalam jangka waktu kerjasama enam tahun.
2. Mengawasi dan mengamankan
tanaman JUN dari gangguan, pencurian, dan kebakaran.
Petani Penggarap
1. Memperoleh pendamping saat
melaksanakan budidaya JUN.
2. Memperoleh bimbingan, pelatihan,
dan pembinaan
3. Memperoleh upah dan bagian hasil
sebesar 25 persen dari jumlah pohon yang ditanam.
1. Melaksanakan pengolahan lahan,
penanaman, pemeliharaan, dan pengamanan tanaman JUN.
2. Bila terjadi kematian/kehilangan,
bagian hasil petani dikurangi sebanyak 0,5 bagian dari jumlah yang mati atau hilang.
Pemerintah Desa
1. Memperoleh bagian hasil panen
sebanyak 10 persen dari jumlah
pohon yang ditanam. _
36
Gambar 5 Bagan kontribusi dan bagian hasil pihak-pihak yang terlibat dalam usaha JUN di Desa Ciaruteun Ilir
Berdasarkan bagan pada Gambar 5 dapat diuraikan bahwa:
1. Unit Usaha Bagi Hasil KPWN berperan melaksanakan pengelolaan usaha JUN dengan memanfaatkan dana dari investor, lahan milik perorangan, lahan desa, maupun lahan badan usaha, serta tenaga kerja petani penggarap yang terlibat dalam usaha JUN. Imbal jasa atas peranannya tersebut, UBH-KPWN akan mendapat bagian hasil panen sebanyak 15 persen dari jumlah pohon yang ditanam, tetapi apabila ada tanaman JUN yang mati atau hilang maka bagian hasil panen tersebut dikurangi 0,3 bagian dari jumlah yang mati atau hilang. 2. Investor berperan sebagai pihak yang menanamkan modal untuk digunakan
dalam pelaksanaan usaha. Dana tersebut digunakan untuk biaya pengadaan bibit, pupuk, obat-obatan, peralatan, upah petani, dan biaya manajemen. Imbal jasa atas peranannya tersebut, investor akan mendapat bagian hasil panen sebanyak 40 persen dari jumlah pohon yang ditanam. Bila terjadi kehilangan atau kematian pohon, investor tidak menanggung resiko.
3. Pemilik lahan berperan untuk menyediakan lahan yang akan ditanami JUN, memastikan keabsahan kepemilikan lahan, melaksanakan sosialisasi,
Pemilik Lahan (Bagian Hasil 10%) Lahan, Pengamanan, Pengawasan Petani Penggarap (Bagian Hasil 25%) Tenaga
Usaha Jati Unggul Nusantara Pola Bagi Hasil Lembaga Fasilitator UBHKPWN (Bagian Hasil 15%) Manajemen, pendamping, administrasi, upah, bibit, pupuk, dll Pemerintah Desa (Bagian Hasil 10%) Investor (Bagian Hasil 40%) Dana
37
pengawasan dan pengamanan di lapangan. Hubungan pemilik lahan dan UBH-KPWN bukan sewa menyewa, melainkan kerja sama, sehingga atas peranannya menyediakan lahan, pemilik lahan akan mendapat bagian hasil panen sebanyak 10 persen dari jumlah pohon yang ditanam dan tidak menanggung resiko bila ada yang mati atau hilang.
4. Petani Penggarap berperan dalam melaksanakan pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan, dan pengamanan tanaman JUN. Imbal jasa yang akan diperoleh oleh petani penggarap disamping mendapat upah juga mendapat bagian hasil panen sebesar 25 persen dari jumlah pohon yang ditanam, tetapi apabila ada yang mati atau hilang maka bagian hasil panen tersebut dikurangi sebanyak 0,5 bagian dari jumlah yang mati atau hilang.
5. Di Desa Ciaruteun Ilir perangkat desa tidak memiliki peran dalam rangka memastikan keabsahan kepemilikan lahan, melaksanakan sosialisasi, membantu melaksanakan pengawasan lapangan dan pengamanan, karena peran tersebut sepenuhnya telah diserahkan kepada Komando Pasukan Khusus (KOPASSUS) sebagai pemilik lahan. Walaupun tidak memiliki peran penting dalam usahatani JUN di Desa Ciaruteun Ilir, pemerintah desa tetap mendapat bagian hasil panen untuk pembangunan desa sebesar 10 persen dari jumlah pohon yang ditanam, tetapi apabila ada yang mati atau hilang maka bagian hasil panen tersebut dikurangi sebanyak 0,2 bagian dari jumlah yang mati atau hilang.
Bagian hasil panen masing-masing pihak dikaitkan dengan tingkat kematian atau kehilangan dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10 Bagian hasil dan beban risiko para pihak yang terlibat dalam usaha JUN
Para Pihak Beban Risiko
(Mati/Hilang)
Bagian Hasil Para Pihak Pada Tingkat Kematian/Hilang (M%) 0% 10% 20% 30% 40% 50% Investor 0% 40 40 40 40 40 40 Pemilik lahan 0% 10 10 10 10 10 10 Petani penggarap 0,5 × M% 25 20 15 10 5 0 Desa 0,2 × M% 10 8 6 4 2 0 UBH-KPWN 0,3 × M% 15 12 9 6 3 0 Jumlah 100 90 80 70 60 50 Sumber: UBH-KPWN (2009)
38
Pada kemitraan ini, pengelolaan sepenuhnya diserahkan kepada petani. Sistem silvikultur yang digunakan dalam kemitraan ini adalah tebang habis pada akhir daur. Adapun tanaman pokok yang digunakan adalah jati (Tectona grandis)
dengan daur 5 tahun. Dalam pengelolaan hutan rakyat pola kemitraan, penggarap mengelola hutan secara tumpangsari pada saat tanaman pokok (jati) masih berumur 1-3 tahun.
Berdasarkan hasil wawancara dengan petani, jenis tanaman tumpangsari yang diusahakan selama dua tahun pertama oleh petani adalah cabai, kacang panjang, kacang tanah, Jagung, pepaya, kangkung, bayem, tales, porang, sawi dan kentang.