• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VII SISTEM DAN DINAMIKA PASAR DALAM TATARUANG

7.3 Sistem dan Dinamika Pasar Dalam Tataruang

7.3.1 Sistem dan Dinamika Pasar Pada Wilayah Kaya

Wilayah yang tergolong kaya berdasarkan nilai PDRB masing-masing kecamatan berjumlah 12 kecamatan. Wilayah yang tergolong sebagai wilayah kaya ini umumnya berada di wilayah Cianjur bagian utara. Perekonomian kecamatan-kecamatan yang tergolong sebagai wilayah kaya ini sama seperti kecamatan lainnya, yaitu didominasi oleh sektor pertanian. Meskipun didominasi oleh sektor yang sama, akan tetapi perekonomian kecamatan-kecamatan ini lebih tinggi. Hal ini dapat disebabkan oleh lebih lengkapnya ketersediaan fasilitas-fasilitas sosial dan ekonomi yang ada di wilayah Cianjur bagian utara. Selain itu, infrastruktur berupa jalan di wilayah utara sudah cukup memadai. Jalan yang menghubungkan antar wilayah-wilayah di daerah utara sudah diaspal. Selain itu ketersediaan sarana transportasi juga sudah cukup baik. Angkutan umum yang ada di wilayah utara dapat melayani masyarakat hampir 24 jam. Hal ini tentunya sangat mendukung aktivitas ekonomi di wilayah Cianjur bagian utara.

Sebagai wilayah yang perekonomiannya didominasi oleh sektor pertanian, keberadaan pasar menjadi salah satu faktor pendukung yang penting. Pasar sangat berperan dalam penyediaan bahan-bahan input yang dibutuhkan oleh pertanian. Selain itu, keberadaan pasar sangat diperlukan dalam memasarkan hasil-hasil pertanian. Sehingga dengan adanya fasilitas pasar yang memadai pada wilayah pertanian tentunya menjadi faktor yang sangat mendukung dalam perkembangan sektor pertanian wilayah tersebut, dan dalam peningkatan perekonomian wilayah.

Pada wilayah yang tergolong kaya, keberadaan pasar dapat dikatakan sudah cukup baik. Dari 12 kecamatan yang tergolong sebagai wilayah kaya, 9

kecamatan diantaranya sudah memiliki pasar permanen. Sedangkan 3 kecamatan lainnya, meskipun belum memiliki pasar permanen, tetapi kebutuhan sehari-hari masyarakatnya dapat dipenuhi dari pasar-pasar yang telah ada di wilayah lainnya. Alokasi pasar di wilayah kaya secara umum dapat dikatakan cukup baik. Sebagian besar pasar berada di tepi jalan raya utama, dan dilalui oleh angkutan umum, sehingga memudahkan masyarakat untuk menjangkau pasar-pasar tersebut. Sebagai studi kasus dalam penelitian ini dipilih Kecamatan Cipanas sebagai kecamatan yang mewakili wilayah kaya untuk dianalisis sistem dan dinamika pasarnya.

Pasar di Kecamatan Cipanas dilihat dari frekuensi kegiatan pasarnya, dapat dibagi menjadi dua sistem, yaitu pasar tetap dan pasar periodik. Pasar tetap terletak di ibu kota kecamatan, yaitu tepatnya di tepi jalan raya utama Propinsi Jawa Barat. Pasar ini dinamakan Pasar Cipanas. Sedangkan pasar periodik terletak di Desa Cimacan, yaitu tepatnya di area parkir Kebun raya Cibodas. Pasar ini dinamakan Pasar Cibodas. Sebagai pasar yang sistemnya periodik, pasar ini mempunyai hari-hari pasar tertentu. Hari-hari pasar ini tergantung pada hari libur, yaitu hari Sabtu dan Minggu, serta hari-hari libur lainnya. Karena hari pasarnya tergantung pada hari libur, Pasar Cibodas ini disebut juga pasar pariwisata. Sebagai pasar pariwisata, konsumen yang datang ke Pasar Cibodas ini hampir seluruhnya adalah para wisatawan yang berasal dari berbagai daerah. Umumnya, mereka membeli barang-barang yang menjadi ciri khas Kabupaten Cianjur untuk dijadikan oleh-oleh. Barang-barang tersebut diantaranya adalah tanaman hias, sayur-sayuran, buah-buahan yang merupakan hasil bumi dari Kabupaten Cianjur, khususnya dari Kecamatan Cipanas. Selain itu, ada juga barang-barang kerajinan

tangan dan makanan kering. Sedangkan pedagang yang berjualan di Pasar Cibodas ini sebagian besar berasal dari Desa Cimacan, Kecamatan Cipanas sendiri. Umumnya, kegiatan berdagang ini bukanlah pekerjaan utama mereka. Sebagian besar dari mereka, pada hari-hari di luar hari pasar, bekerja sebagai petani, baik di lahan mereka sendiri maupun mengerjakan lahan orang lain. Kemudian hasil pertanian mereka dijual pada Pasar Cibodas ini. Dengan demikian, keberadaan Pasar Cibodas ini menjadi insentif tersendiri bagi perkembangan sektor pertanian di Kecamatan Cipanas.

Pasar tetap di Kecamatan Cipanas terletak di ibukota kecamatan. Pasar ini dinamakan Pasar Cipanas. Keberadaan pasar ini berada di lokasi yang strategis, yaitu di pinggir jalan utama Propinsi Jawa Barat. Dengan letak yang seperti ini, memberikan keuntungan tersendiri bagi Pasar Cipanas. Konsumen yang datang ke Pasar Cipanas ini tidak hanya berasal dari Kecamatan Cipanas sendiri, tetapi juga dari kecamatan lain seperti Kecamatan Pacet, Kecamatan Cugenang, Kecamatan Sukaresmi, bahkan ada yang berasal dari luar Kabupaten Cianjur yaitu dari Kecamatan Puncak, Kabupaten Bogor. Para konsumen dapat menjangkau pasar ini dengan menggunakan berbagai sarana transportasi seperti delman, angkutan umum, mobil, sepeda motor, dan ada juga yang berjalan kaki. Umumnya, mereka datang ke pasar ini untuk membeli barang-barang kebutuhan pokok sehari-hari atau sembako, pakaian, sandal, sepatu, alat tulis, dan lain-lain. Selain itu, ada juga yang datang untuk berjualan. Berdasarkan konsumen yang datang pada pasar ini, jangkauan Pasar Cipanas dapat dikatakan cukup luas yaitu sekitar 10 km.

Pedagang yang berjualan di Pasar Cipanas berasal dari berbagai desa yang ada di Kecamatan Cipanas, dan ada juga beberapa yang berasal dari luar

Kecamatan Cipanas. Para pedagang ini merupakan pedagang tetap yang berjualan pada Pasar Cipanas, dan berdaganga merupakan pekerjaan tetap mereka. Para pedagang ini umumnya sudah mulai berjualan sejak pukul 5 pagi, dan selesai pada pukul 6 sore, atau terkadang sampai malam. Karena besarnya volume pasar dan didukung oleh letaknya yang strategis, pasar ini selalu ramai dikunjungi pembeli. Dalam sehari berjualan para pedagang di pasar ini dapat memperoleh penghasilan kotor berkisar antara Rp. 200.000,- sampai dengan Rp. 5.000.000,-. Barang yang diperdagangkan di pasar ini sangat beragam, mulai dari sayuran, buah-buahan, lauk-pauk, beras, sembako, alat-alat rumahtangga, kebutuhan pertanian, alat tulis, pakaian, sandal, sepatu, sampai perhiasan. Sehingga keberadaan pasar ini sangat bermanfaat dalam penyediaan berbagai kebutuhan masyarakat.

Keberadaan Pasar Cipanas ini tentunya juga memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian Kabupaten Cianjur dan pembangunan wilayah. Dengan banyaknya jumlah pedagang yang berjualan di pasar tersebut memberikan pemasukan dari retribusi yang dibayarkan oleh setiap pedagang. Besarnya retribusi yang dibayarkan oleh setiap pedagang jumlahnya berbeda-beda, tergantung pada besarnya kios, los, atau toko yang ditempati, juga tergantug pada letak tempat mereka berjualan. Dari survey yang telah peneliti lakukan, jumlah retribusi yang dibayarkan oleh setiap pedagang berkisar antara Rp. 1.000,- sampai dengan Rp. 3.000,-. Jumlah yang dibayarkan oleh pedagang itu sudah termasuk iuran kebersihan yang jumlahnya Rp. 500,- sampai dengan Rp. 1.000,-. Berdasarkan jumlah tersebut, realisasi pemasukan mingguan retribusi pasar pada Pasar Cipanas pada minggu ke-2 Bulan Februari Tahun 2007 ini, berdasarkan data dari Dinas Perdagangan dan Industri, jumlahnya adalah Rp. 10.300.000,-. Dari

jumlah ini tentunya dapat dilihat bahwa Pasar Cipanas ini mempunyai potensi yang cukup besar dalam perekonomian Kabupaten Cianjur.

7.3.2 Sistem dan Dinamika Pasar Pada Wilayah Sedang (Studi Kasus Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur)

Wilayah yang tergolong sebagai wilayah sedang di Kabupaten Cianjur berdasarkan nilai PDRB masing-masing kecamatan berjumlah 10 kecamatan. Dari 10 kecamatan yang tergolong sebagai wilayah sedang, 3 kecamatan diantaranya berada di wilayah Cianjur bagaian utara, 6 kecamatan merupakan kecamatan yang ada di wilayah Cianjur bagian tengah, dan 2 kecamatan berada di wilayah Cianjur bagian selatan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar kecamatan yang tergolong sebagai wilayah sedang adalah kecamatan yang berada di wilayah Cianjur bagian tengah.

Perekonomian wilayah-wilayah yang tergolong sebagai wilayah sedang, sama seperti wilayah yang ada di Kabupaten Cianjur lainnya, yaitu didominasi oleh sektor pertanian. Akan tetapi ketersediaan fasilitas sosial ekonomi yang ada di wilayah ini tidak selengkap fasilitas sosial ekonomi yang tersedia pada wilayah kaya. Sebagai contoh, salah satu fasilitas yang keberadaannya belum memadai di wilayah sedang adalah pasar. Keberadaan pasar kabupaten di wilayah sedang hanya berjumlah 1 unit, yaitu berada di Kecamatan Pagelaran. Sedangkan untuk kecamatan-kecamatan lainnya, pasar yang ada hanyalah pasar desa. Pasar desa adalah pasar yang dikelola oleh pemerintah desa setempat. Pasar desa ini umumnya berupa pasar mingguan, yaitu pasar yang hanya ditemui pada beberapa hari tertentu saja dalam satu minggunya. Sebagai studi kasus dalam penelitian ini

dilakukan di Kecamatan Mande. Kecamatan Mande adalah salah satu Kecamatan di wilayah Cianjur Utara yang tergolong sebagai wilayah sedang.

Perekonomian Kecamatan Mande sama seperti perekonomian wilayah lain di Kabupaten Cianjur, yaitu didominasi oleh sektor pertanian. Selain bertani, penduduk di Kecamatan Mande sebagian bekerja pada sektor perikanan. Di Kecamatan Mande terdapat Waduk Cirata, waduk ini dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memelihara ikan, dan selanjutnya untuk dijual. Sehingga keberadaan waduk ini menjadi salah satu lapangan kerja masyarakat Kecamatan Mande. Akan tetapi, karena Kecamatan Mande tidak memiliki pasar tetap, sehingga hasil pertanian dan perikanan masyarakatnya dijual ke pasar-pasar yang ada di kecamatan lain, seperti Kecamatan Ciranjang atau Kecamatan Cianjur. Penduduk Kecamatan Mande juga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari mereka umumnya berbelanja ke Pasar Ciranjang atau Pasar Cianjur. Meskipun demikian, beberapa desa di Kecamatan Mande ada yang letaknya cukup jauh dari pasar-pasar yang ada. Sehingga untuk menjangkau pasar-pasar tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama dan juga biaya yang cukup besar. Karena itulah maka untuk memenuhi kebutuhan penduduknya, beberapa desa di Kecamatan Mande memiliki pasar desa yang dikelola oleh masing-masing desa tersebut. Di Kecamatan Mande terdapat 4 unit pasar desa, yaitu yang ada di Desa Kademangan, Desa Bobojong, Desa Cikidang Bayabang, dan Desa Murnisari. Karena merupakan pasar periodik, maka pasar ini hanya dapat ditemui pada hari-hari tertentu saja. Rata-rata pasar-pasar ini hanya buka pada hari-hari Minggu dan pada jam-jam tertentu saja. Keberadaan hari pasar ini dipengaruhi oleh minat masyarakat untuk berbelanja yang biasanya pada hari Minggu, hal ini disebabkan

karena sebagian besar penduduk yang bekerja sebagai buruh tani atau nelayan yang mendapatkan gaji mingguan. Dengan demikian mempengaruhi pola konsumsi dan belanja mereka. Dengan adanya pola konsumsi masyarakat yang seperti itulah, maka pasar desa yang ada di Kecamatan Mande umumnya terjadi pada hari Minggu. Dalam penelitian ini, survey dilakukan di pasar desa yang terdapat di Desa Cikidang Bayabang. Jumlah responden pada pasar ini adalah sebanyak 10 orang pedagang dan 5 orang konsumen.

Pasar desa di Desa Cikidang Bayabang terletak di dekat kantor desa dan dekat dengan lapangan. Pasar desa ini hanya buka pada hari Minggu mulai pukul 13.00 sampai dengan pukul 18.00. Biasanya pasar ini akan sangat ramai pada sekitar pukul 16.00 sampai dengan pukul 18.00. Karena letak pasar ini dekat dengan lapangan dan pada pukul 16.00 sampai dengan pukul 18.00 tersebut penduduk Desa Cikidang Bayabang ramai berkumpul di sekitar lapangan tersebut. Biasanya penduduk laki-laki, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa, bermain bola di lapangan tersebut. Sedangkan penduduk wanita, baik anak-anak, remaja, sampai ibu-ibu, biasanya ramai menonton atau sekedar berkumpul di sekitar lapangan tersebut. Dengan adanya acara itu, maka pasar desa pun akan ramai dikunjungi penduduk yang ingin berbelanja berbagai macam kebutuhan, dan ada juga yang hanya sekedar melihat-lihat.

Pasar desa di Desa Cikidang Bayabang ini meskipun ukurannya relatif kecil tetapi dapat menyediakan berbagai macam kebutuhan penduduk. Pasar ini menyediakan berbagai macam barang kebutuhan penduduk, seperti sayur-mayur, buah-buahan, ikan atau lauk, alat tulis, pakaian, kerudung atau jilbab, handuk, kain batik, aksesoris wanita, dan sebagainya. Harga barang-barang yang dijual

pun tidak terlalu mahal, sehingga dapat dijangkau oleh penduduk setempat. Pedagang yang berjualan di pasar ini hampir semuanya berasal dari luar Desa Cikidang Bayabang. Umumnya pedagang yang berjualan di pasar desa ini adalah para pedagang yang merupakan pedagang dari Pasar Ciranjang, Pasar Cikalongkulon, dan Pasar Cianjur. Para pedagang ini berjualan di pasar desa di Desa Cikidang Bayabang ini karena pada siang hari biasanya pasar tempat mereka berjualan sudah sepi pengunjung, sehingga mereka berjualan di pasar desa ini. Dengan berjualan di pasar desa ini untuk setiap berjualannya mereka bisa mendapatkan penghasilan berkisar antara Rp. 150.000,- sampai dengan Rp. 400.000,-. Tetapi untuk pedagang yang menjual barang yang bukan kebutuhan pokok seperti kain batik atau handuk, terkadang mereka tidak mendapatkan penghasilan karena tidak ada konsumen yang membeli barang yang mereka dagangkan.

Pedagang yang berjualan di pasar desa di Desa Cikidang Bayabang ini dikenakan biaya retribusi sebesar Rp. 2000,- per hari atau setiap berjualannya. Biaya retribusi ini pembagiannya adalah Rp. 1.000,- untuk biaya kebersihan dan Rp. 1.000,- adalah retribusi yang dibayarkan ke pemerintah desa setempat. Retribusi ini tidak dibayarkan kepada Dinas Perdagangan dan Industri, tetapi kepada pemerintah desa setempat. Sehingga dengan keberadaan pasar ini memberikan dampak positif bagi pembangunan Desa Cikidang Bayabang. Dengan adanya biaya retribusi tersebut dapat digunakan untuk mengisi kas desa sehingga akan mendukung jalannya pembangunan di Desa Cikidang Bayabang tersebut.

Dengan demikian, keberadaan pasar desa di Desa Cikidang Bayabang tersebut memberikan keuntungan bagi berbagai pihak. Bagi pemerintah desa

setempat, dengan adanya pasar desa tersebut tentunya memberikan keuntungan bagi perekonomian desa yang nantinya akan mendukung jalannya pembangunan di Desa Cikidang Bayabang. Bagi penduduk Desa Cikidang Bayabang, keberadaan pasar desa ini tentunya sangat menguntungkan bagi mereka dalam hal pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Dengan adanya pasar desa ini, mereka tidak harus jauh-jauh untuk mendapatkan barang kebutuhan mereka. Dan bagi pedagang sendiri, keberadaan pasar ini tentunya memberikan mereka peluang untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Karena pasar desa ini dimulai pada siang hari, yaitu sekitar pukul 13.00, maka pada pagi harinya mereka masih bisa berjualan di pasar tetap tempat mereka berdagang setiap harinya, kemudian pada siang hari ketika pasar mereka sudah sepi barulah mereka berjualan di Pasar Desa Cikidang Bayabang ini. Dengan demikian mereka mendapatkan peluang unuk mendapatan penghasilan tambahan.

Gambar 2. Dinamika Pasar di Kecamatan Mande

7.3.3 Sistem dan Dinamika Pasar Pada Wilayah Miskin (Studi Kasus Kecamatan Sukanagara, Kabupaten Cianjur)

Berdasarkan nilai PDRB masing-masing kecamatan di Kabupaten Cianjur, kecamatan yang tergolong sebagai wilayah miskin berjumlah 8 kecamatan. Kecamatan yang tergolong sebagai wilayah miskin 3 diantaranya adalah kecamatan yang ada di wilayah Cianjur tengah, dan 4 kecamatan adalah yang berada di wilayah Cianjur selatan. Perekonomian wilayah miskin didominasi oleh sektor pertanian, sama seperti wilayah lainnya di Kabupaten Cianjur. Akan tetapi ketersediaan fasilitas sosial ekonomi di wilayah ini jumlahnya masih sangat terbatas. Selain itu, infrastruktur berupa jalan yang menghubungkan antar wilayah juga belum tersedia dengan baik. Hal ini tentunya menjadi kendala dalam aktivitas ekonomi pada wilayah miskin. Sebagai studi kasus untuk mewakili wilayah yang tergolong miskin, dipilih Kecamatan Sukanagara untuk dianalisis sistem dan dinamika pasarnya.

Kecamatan Sukanagara merupakan kecamatan di Kabupaten Cianjur yang letaknya di wilayah tengah Kabupaten Cianjur. Kecamatan sukanagara ini berdasarkan potensi sumberdaya dan sumbangan sektor terhadap perekonomiannya, tergolong sebagai wilayah miskin. Struktur perekonomian Kecamatan Sukanagara ini sama seperti kecamatan-kecamatan lainnya di Kabupaten Cianjur, yaitu didominasi oleh sektor pertanian. Berdasarkan letak geografisnya, Kecamatan Sukanagara ini berada di daerah dataran tinggi. Sehingga daerah ini sangat cocok untuk dijadikan daerah perkebunan teh. Karena itulah wilayah Kecamatan Sukanagara ini sangat didominasi oleh perkebunan teh. Sebagian besar penduduknya juga bekerja pada perkebunan teh ini. Sebagai buruh atau pegawai perkebunan, maka sebagian besar penduduk di Kecamatan

Sukanagara ini adalah pegawai dengan gaji mingguan. Hal ini tentunya akan berpengaruh terhadap pola konsumsi masyarakatnya.

Kecamatan Sukanagara terletak di daerah dataran tinggi dengan topografi wilayah yang berbukit-bukit. Dengan keadaan wilayahnya yang berbukit-bukit menyebabkan desa-desa di Kecamatan Sukanagara ini cukup berjauhan letaknya. Dan jarak desa-desa ini ke kota kecamatan pun cukup jauh dan cukup sulit untuk ditempuh. Selain itu, belum ada angkutan umum yang menjangkau atau menghubungkan tiap-tiap desa dengan kota kecamatan. Hal ini tentunya menyulitkan masyarakat untuk mendapatkan fasilitas pelayanan yang ada di kota kecamatan, salah satu fasilitas yang sulit di jangkau adalah pasar kecamatan.

Pasar di Kecamatan Sukanagara yang disediakan oleh pemerintah kabupaten yang dikelola oleh Dinas Perdagangan dan Industri, lokasinya berada di kota kecamatan, yaitu dekat dengan kantor Kecamatan Sukanagara. Meskipun letaknya di kota kecamatan, tetapi pasar ini masih sulit untuk di jangkau oleh desa-desa di Kecamatan Sukanagara yang letaknya cukup jauh. Untuk mengatasi masalah ini, beberapa desa di Kecamatan Sukanagara yang letaknya cukup jauh dan berada di daerah dataran tinggi mempunyai pasar desa. Pasar desa ini sifatnya periodik, yaitu hanya buka pada hari-hari tertentu saja. Umumnya pasar desa yang ada di wilayah Kecamatan Sukanagara ini buka pada hari Minggu. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi perekonomian penduduk yang sebagian besar adalah pegawai atau buruh perkebunan dan umumnya mereka mendapat penghasilan atau gaji setiap minggu. Sehingga setiap akhir minggu mereka berbelanja barang kebutuhan sehari-hari. Oleh sebab itulah, maka pasar desa di wilayah Sukanagara

ini buka pada setiap hari Minggu. Dalam penelitian ini, peneliti mengambil Desa Sukajembar sebagai sampel untuk mewakili Kecamatan Sukanagara.

Pasar di Desa Sukajembar dapat ditemui hanya pada hari Minggu saja, pasar ini mulai buka pukul 06.00 pagi dan selesai atau tutup pada pukul 11.00 siang. Pedagang yang berjualan di pasar desa ini ada yang merupakan penduduk desa setempat dan ada juga yang berasal dari luar Desa Sukajembar. Pedagang yang berasal dari luar Desa Sukajembar umumnya merupakan pedagang yang berjualan pada pasar-pasar lainnya. Dari hasil pengamatan langsung di lapangan, pedagang yang berasal dari luar Desa Sukajembar kebanyakan berasal dari Kecamatan Geger Bitung, Kabupaten Sukabumi. Hal ini disebabkan karena Desa Sukajembar ini berada dekat dengan Kecamatan Geger Bitung, Kabupaten Sukabumi.

Keberadaan pasar desa ini sangat membantu penduduk Desa Sukajembar dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Dengan adanya pasar desa ini, para penduduk tidak harus jauh-jauh ke kota kecamatan untuk membeli barang-barang kebutuhan mereka. Karena pasar desa ini menyediakan berbagai barang-barang kebutuhan sehari-hari, seperti sayur-mayur, bahan makanan, buah-buahan, pakaian, sandal dan sepatu, kerudung atau jilbab, perabotan rumahtangga, dan juga barang-barang kelontongan. Harga barang-barang yang dijual di pasar ini harganya cukup terjangkau oleh penduduk. Dengan demikian keberadaan pasar ini sangat menguntungkan para penduduk Desa Sukajembar.

Pasar desa ini selain menguntungkan bagi penduduk desa setempat tentunya juga menguntungkan para pedagang yang berjualan di pasar desa ini. Dengan tingginya kebutuhan masyarakat akan pasar ini tentunya mempengaruhi

pada tingginya keinginan masyarakat untuk berbelanja. Dalam sekali berjualan di pasar desa ini, para pedagang mendapatkan penghasilan berkisar antara Rp. 250.000,- sampai dengan Rp. 1.000.000,-. Hal ini tentunya cukup menguntungkan bagi para pedagang.

Di sisi lain, keberadaan pasar ini juga menguntungkan bagi Desa Sukajembar sendiri. Karena dengan adanya pasar desa ini, pemerintah Desa Sukajembar memperoleh pemasukan yang bersal dari retribusi yang dikenakan kepada setiap pedagang yang berdagang di pasar desa ini. Besarnya retribusi yang dikenakan kepada setiap pedagang adalah Rp. 2.500,-. Biaya retribusi ini oleh pemerintah Desa Sukajembar anatara lain digunakan untuk menjaga kebersihan lingkungan pasar, pembuatan bangunan pasar yang memadai, pembangunan toilet di wilayah pasar tersebut, dan juga sebagian digunakan untuk mengisi kas desa yang nantinya digunakan untuk pembangunan Desa Sukajembar. Para pedagang yang berjualan di Pasar Desa Sukajembar ini cukup lancer dalam membayar biaya retribusi yang ditetapkan oleh pemerintah desa setempat. Dengan dukungan para pedagang tersebut, Pasar Desa Sukajembar ini sudah memiliki bangunan yang semi permanen. Sehingga hal ini membuat para pedagang dan masyarakat yang berbelanja ke pasar tersebut merasa lebih nyaman.

7.4 Kendala yang Dihadapi Dinas Perdagangan dan Industri Kabupaten

Dokumen terkait