• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III GAMBARAN UMUM

1. Sistem dan Iklim Media Massa di Indonesia

Sejarah pers Indonesia menggambarkan keberagaman budaya dan politik masyarakat Indonesia.65 Sistem pers di Indonesia dapat dilihat perkembangannya dari masa perjuangan hingga era reformasi saat ini.

a. Periode Masa Perjuangan

Periode pertama adalah gerakan masa perjuangan. Pada periode ini pers Indonesia digunakan oleh para pendiri bangsa sebagai alat perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan. Pers menjadi saluran pemimpin dan keinginan rakyat, sehingga penguasa Belanda berusaha menghalangi perkembangan pers nasional karena sangat berbahaya bagi penjajah Belanda.66 Penguasa kolonial belanda berusaha mengekang perkembangan pers Indonesia, sehingga dapat dikatakan sistem pers pada saat itu adalah otoriter.

Surat kabar pertama di Indonesia adalah Bataviase Nouvelles (Agustus 1744-Juni 1746), disusul kemudian Bataviasche Courant (1817), Bataviasche Advertentieblad (1827). Pada tahun 1855 di Surakarta terbit surat kabar pertama dalam bahasa Jawa, bernama Bromartani. Surat kabar berbahasa Melayu yang pertama adalah Soerat Kabar Bahasa Melajoe, terbit di Surabaya pada tahun 1956. kemudian lahir surat kabar Soerat Chabar Betawie (1958), Selompret

65 Salvatore Simarmata, Media dan Politik. Sikap Pers terhadap Pemerintahan Koalisi di Indonesia, (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2014),h.118.

66

Salvatore Simarmata, Media dan Politik. Sikap Pers terhadap Pemerintahan Koalisi di Indonesia, h.119.

Melajoe (Semarang, 1860), Bintang Timoer (Surabaya, 1862), dan Biang Lala (Jakarta, 1867).67

Perkembangan pers di masa penjajahan sejak pertengahan abad ke 19 ternyata telah membuat para tokoh pergerakan Indonesia menerapkan budaya pers dan memanfaatkan media cetak sebagai sarana komunikasi yang utama untuk menumbuhkan dan membangkitkan kesadaran bangsa Indonesia.68 Dalam proses selanjutnya, mulai bermunculnya wartawan yang menjadi tokoh pergerakan, atau sebaliknya tokoh pergerakan menerbitkan pers. Lahirlah surat-surat kabar dan majalah seperti Benih Merdeka, Sora Ra’jat Merdika, Fikiran Ra’jat, Daulat Ra’jat, Soeara

Oemoem, dan sebagainya, serta organisasi Persatoean Djoernalis Indonesia (1933)

adalah tanda-tanda meningkatnya perjuangan kemerdekaan di lingkungan wartawan dan pers nasional sebagai bagian dari perjuangan nasional secara keseluruhan.69

b. Periode Masa Kemerdekaan

Periode kedua adalah gerakan masa kemerdekaan. Periode pers nasional ini dalam masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan antara tahun 1945-1949, dan dalam masa pemerintahan antara tahun 1950-1959.70 Setahun setelah merdeka, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang didirikan di Sala 9 Februari 1946 mengusulkan penghapusan Persbreidel Ordonnantie warisan kolonial Belanda,

67Inge Hutagalung, “Dinamika Sistem Pers di Indonesia”, Volume II No.2, Juli 2013, h. 55. 68 Abdurachman Surjomihardjo, Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers Di Indonesia, (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2002), h.31.

69

Abdurachman Surjomihardjo, Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers Di Indonesia, h.76.

namun baru tanggal 2 Agustus 1954 peraturan itu mulai dicabut oleh pemerintah.71

Kondisi politik saat itu sangat berpengaruh terhadap perkembangan pers nasional. Terjadinya persaingan keras antar kekuatan politik membuat semangat perjuangan kemerdekaan mulai turun. Pers Indonesia ikut dalam arus ini, terjadi perubahan dari pers perjuangan menjadi pers partisan. Pers dijadikan sebagai media untuk partai politik untuk mewujudkan tujuannya.

Dalam masa pers saat itu terjadi pertentangan antara pihak pers sebagai pendukung pemerintah dan di lain pihak pers pendukung kelompok oposisi. Perubahan kondisi politik yang dinamis membuat perubahan sikap dan kedudukan pers saat itu, bahkan sebagian pers memilih pola pers bebas seperti di negara liberal.72 Dengan kebebasan dan persepsi tanggung jawab banyak ditentukan oleh wartawan secara individualis. Sejak saat itu mulai bermunculan para wartawan yang juga menjadi tokoh pergerakan seperti; Rosihan Anwar, Mochtar Lubis, B.M Diah yang ikut berjuang dengan membangkitkan semangat rakyat Indonesia dan memberikan wawasan, informasi, pencerahan untuk mengisi dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Meskipun sistem parlementer telah berakhir, sejak dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959, yang memberlakukan kembali UUD 1945, pertentangan antar partai politik masih terjadi. Pada masa demokrasi terpimpin tersebut, wartawan

71

Abdurachman Surjomihardjo, Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers Di Indonesia, h.173.

Indonesia umumnya dan Persatuan Wartawan Indonesia tetap berpengang teguh pada dasar negara Pancasila dan UUD 1945.73 Inilah akhir periode kebebasan pers di Indonesia dan awal rezim Orde Baru berkuasa.

c. Periode Masa Orde Baru

Periode ketiga adalah masa Orde Baru. Pada periode awal kebangkitan Orde Baru, persepsi, sikap, dan perlakuan pemerintah terhadap pers, terutama pers non atau anti komunis telah berubah.74 Pers mendapatkan ruang yang cukup bebas. Orde Baru awalnya memperlakukan pers sebagai rekan seperjuangan dalam menumpaskan PKI dan simpatisannya serta rezim Demokrasi Terpimpin secara keseluruhan. Sejak munculnya fenomena korupsi dalam pemerintahan Orde Baru, pers Indonesia mulai lebih kritis terhadap kekuasaan Orde Baru.

Faktor tersebut yang membuat rezim Orde Baru mulai berhati-hati terhadap keberadaan pers di Indonesia. Sikap dan perlakuan pemerintah Orde Baru terhadap pers telah berubah drastis. Pada tahun 1970, pemerintah mulai melakukan politik campur tangan dalam pemilihan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Ini artinya, pemerintah mulai mengendalikan pers. Pada tahun 1973, kondisi politik tidak stabil, berbagai kritik yang dikeluarkan oleh pers pada berbagai kasus-kasus penyelewengan yang terjadi, berakhir pada pemeriksaan berbagai pers. Bahkan beberapa harian, tertanggal 2 Januari 1973 mengalami pembatalan Surat Izin Terbit. Harian Sinar

73Abdurachman Surjomihardjo, Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers Di Indonesia, h.181.

74

Mansyur Semma, Negara dan Korupsi: Pemikiran Mochtar Lubis atas Negara, Manusia Indonesia, dan Perilaku Politik, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2008), h.121.

Harapan, Pos Kota, Kami, dan Merdeka adalah koran-koran yang mendapatkan

peringatan keras dari Panglima Kopkamtib Jenderal Soemitro.75

Seiring dengan tindakan-tindakan anti pers yang dilakukan pemerintah terhadap pers, justru membuat pers semakin keras menyuarakan kritikannya pada pemerintah, terlebih dengan semakin banyaknya protes-protes mahasiswa di berbagai wilayah di Indonesia. Munculah peristiwa Malapetaka Lima Belas Januari (Malari) yang mengakibatkan penangkapan sejumlah pemimpin mahasiswa, dan pemberedelan pers dengan pemberhentian 12 surat kabar secara tetap oleh pemerintah.76

Pers Indonesia semakin bisa dikendalikan oleh pemerintah setelah sejumlah surat kabar dilarang terbit. Dalam periode ini pemerintahan orde baru berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi, yang mengakibatkan pada semakin terbukanya pasar bagi industri surat kabar. Namun, sebagian besar pers yang berhasil mengembangkan bisnisnya, ternyata sangat hati-hati dalam memberitakan dan tidak berani mengkritik kebijakan pemerintah yang menyimpang. 77

Dengan semakin bertambahnya pembredelan media oleh pemerintah Orde Baru, hal ini telah menciptakan solidaritas di kalangan menengah, buruh, intelektual,

75

Mansyur Semma, Negara dan Korupsi: Pemikiran Mochtar Lubis atas Negara, Manusia Indonesia, dan Perilaku Politik, h.121.

76Mansyur Semma, Negara dan Korupsi: Pemikiran Mochtar Lubis atas Negara, Manusia Indonesia, dan Perilaku Politik, h.126.

77

Mansyur Semma, Negara dan Korupsi: Pemikiran Mochtar Lubis atas Negara, Manusia Indonesia, dan Perilaku Politik, h.127.

serta kaum pemodal yang kesemuanya bersatu padu dan pada akhirnya menolak kelangsungan pemerintahan Orde Baru.78

d. Periode Era Reformasi

Pada tahun 1998, setelah runtuhnya rezim Orde Baru munculah era reformasi. Pers Indonesia bangkit dari keterpurukannya dan kebebasan pers dibuka lagi yang ditandai dengan berlakunya Undang-Undang No.40 Tahun 1999. Berbagai hambatan yang menghalangi pers nasional sudah tidak ada, seperti SIUUP (surat izin usaha penerbitan pers) yang berlaku di Era Orde baru tidak diperlukan lagi, siapa pun dan kapan pun dapat menerbitkan penerbitan pers tanpa persyaratan yang sulit. Dengan adanya Undang-undang No. 40 tahun 1999 dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ), memberi kebebasan seluasnya-luasnya kepada para wartawan untuk memberitakan dan memberikan informasi, meskipun kritis tetapi tetap dalam koridor hukum dan kode etik yang berlaku.79 Pers dalam era reformasi tidak perlu takut kehilangan ijin penerbitan jika mengkritik pejabat, baik sipil maupun militer.

Era reformasi ditandai dengan munculnya media-media baru cetak dan elektronik yang beraneka ragam. Keberanian pers dalam mengkritik pemerintahan juga menjadi ciri baru pers Indonesia, di era reformasi ini. Pers yang bebas merupakan salah satu komponen yang paling penting dari masyarakat yang

78

Mansyur Semma, Negara dan Korupsi: Pemikiran Mochtar Lubis atas Negara, Manusia Indonesia, dan Perilaku Politik, h.128.

demokratis, agar perkembangan sosial dan ekonomi berjalan dengan baik. Kebebasan pers dengan tanggung jawab sosial harus berjalan dengan seimbang.

Pelaksanaan kebebasan pers pada era reformasi dalam kenyataannya masih banyak menghadapi kendala. Kebebasan berpendapat dan kebebasan berorganisasi, ditanggapi dengan banyaknya diterbitkan surat kabar atau media, serta didirikannya partai-partai politik. Berkembangnya kebebasan pers juga membawa pengaruh pada masuknya liberalisasi ekonomi dan budaya ke dunia media massa, yang sering kali mengabaikan unsur pendidikan.80 Arus liberalisasi yang menerpa pers, menyebabkan sebagian media yang dalam pemberitaannya tidak akurat, karena tidak didukung oleh fakta yang kuat, hanya menampilkan potongan-potongan komentar dan wawancara yang tidak berimbang. Sebagai dampak dari komersialisasi yang berlebihan dalam media massa saat ini, eksploitasi terhadap semua hal yang mampu menarik minat orang untuk menonton atau membaca pun menjadi sajian sehari-hari.81

Sistem pers di Indonesia pada era reformasi termasuk sistem pers bebas, yaitu bahwa sistem pers di Indonesia benar-benar telah bahwa sistem pers di Indonesia benar-benar telah begitu bebas, sehingga gagal untuk mengedepankan prinsip-prinsip dasar jurnalistik.82 Banyak media yang melanggar prinsip dasar jurnalistik, yaitu dalam menyampaikan kebenaran. Sistem pers yang dipengaruhi oleh pangsa pasar, isinya cenderung sensasional, banyak kekerasan dan pornografi, berita bohong dan provokatif, pembunuhan karakter, wartawan amplop, maupun iklan yang menyesatkan.

80Ibnu Hamad, Konstruksi Realitas Politik Dalam Media Massa, h. 65.

81

Ibnu Hamad, Konstruksi Realitas Politik Dalam Media Massa, h. 65.

Pers kerap dipakai sebagai kepentingan politik pribadi ataupun kelompok tertentu. Hal ini sebagai dampak pemusatan kepemilikan media pada segelintir orang.83

Dokumen terkait