BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Sistem dan Istilah Kekerabatan Pada Masyarakat Karo
Pada masyarakat Karo terdapat sistem kekerabatan yang memegang peranan penting untuk menempatkan diri dalam berkomunikasi . Sistem kekerabatan tersebut dikenal dengan sebutan Merga Silima, Rakut Sitelu, dan Tutur Siwaluh yang artinya bahwa masyarakat Karo memiliki lima marga, kelima marga tersebut membentuk tiga ikatan kekerabatan dan kelima marga tersebut membentuk delapan sistem kekerabatan.
Merga silima adalah lima merga induk yang dimiliki masyarakat Karo.
Merga bagi masyarakat Karo secara garis besar ada 5 yaitu : 1. Ginting
2. Karo-Karo 3. Perangin-angin 4. Sembiring 5. Tarigan
Tetapi bila kita lihat lebih detail maka merga tersebut masih mempunyai cabang yaitu:
1. Ginting terdiri dari 16 cabang, yaitu :
1. Ajar Tambun
2. Karo-karo terdiri dari 18 cabang, yaitu :
1. Barus
8. Purba 9. Samura 10. Sekali 11. Sinubulan 12. Sinuhaji 13. Sinukaban 14. Sinulingga 15. Sinuraya 16. Sitepu 17. Surbakti 18. Ujung
3. Perangin-angin terdiri dari 18 cabang, yaitu :
1. Bangun 2. Benjerang 3. Kacinambun 4. Keliat 5. Laksa 6. Mano 7. Namoaji 8. Penggarun 9. Perbesi 10. Pencawan
11. Pinem
4. Sembiring terdiri dari 19 cabang, yaitu :
1. Berahmana
15. Pelawi 16. Sinukapur 17. Sinulaki 18. Sinupayung 19. Tekang
5. Tarigan terdiri dari 13 cabang, yaitu : 1. Bondong cabang merga. Untuk penulisan cabang merga tersebut adalah hak pemilik nama tersebut. Penulisan nama antara laki dan perempuan pun berbeda, nama
laki-laki akan langsung diikuti merga yang mereka miliki sedangkan perempuan harus ditambah br (beru) sebelum merga mereka.
Contoh : 1. Jantri Ginting (Lk) 2. Kristina br Ginting (Pr)
Merga dalam masyarakat Karo memegang peranan penting dalam tingkatan kekerbatan yang menunjukkan peran seseorang dalam upacara adat masyarakat Karo dengan pihak yang mengundang kedalam upacara adat Karo.
Hal ini dapat dilihat dari penulisan nama pada kartu undangan yang diberikan oleh pihak yang mengundang, biasanya pihak yang mengundang sudah mengetahui bagaimana sistem kekerabatannya dengan pihak yang diundang sehingga pihak yang mengundang langsung memberikan tanda kekerabatan pada kartu undangan yng diberikan kepada pihak yang diundang.
Selanjutnya adalah Rakut Sitelu. Rakut sitelu adalah bentuk lebih lanjut dari adanya merga silima sehingga masyarakat Karo membagi diri atas tiga kelompok menurut fungsinya di dalam hubungan kekeluargaan. Rakut Sitelu mempunyai peranan yang penting dalam setiap pelaksanaan upacara adat dalam masyarakat Karo. Rakut Sitelu sendiri terdiri dari tiga kelompok , adapun bagian-bagian dari tiga kelompok tersebut adalah Sukut, Kalimbubu, dan Anak Beru.
Fungsi dan tugas masing-masing antara kelompok satu dengan kelompok lainnya berbeda-beda. Kalimbubu dengan Sukut ataupun Anak Beru mempunyai fungsi dan tugas yang berbeda-beda. Tetapi, dalam suatu acara adat baik itu pesta pernikahan, upacara kematian, dan acara adat lainnya, kedudukan yang paling dihormati adalah ketiga kelompok ini.
Adapun pengertian dari ketiga kelompok tersebut adalah sebagai berikut :
1. Sukut adalah orang yang masih satu merga dan satu cabang dengan kita dn masih satu keturunan.
2. Kalimbubu adalah sekelompok (marga) yang dimana anak perempuannya kita nikahi dengan kata lain kalimbubu adaalah pihak pemberi istri.
3. Anak Beru adalah keturunan dari saudara perempuan kita atau pihak yang mengawini saudara perempuan kita.
Yang terakhir adalah Tutur Siwaluh. Tutur Siwaluh adalah konsep kekerabatan masyarakat Karo, yang berhubungan dengan cara bertutur (hubungan kekerbatan) yang terdiri dari delapan golongan:
1. PuangKalimbubu
Adapun pengertian dari istilah kekerabatan di atas adalah sebagai berikut :
1. Puang Kalimbubu adalah kalimbubu dari kalimbubu seseorang.
2. Kalimbubu adalah kelompok pemberi istri kepada keluarga tertentu, kalimbubu ini dibagi lagi kedalam tiga kelompok :
1. Kalimbubu bena-bena (Kalimbubu Tua), yaitu kelompok pemberi istri.
2. Kalimbubu simada dareh, yaitu saudara laki-laki dari ibu kandung seseorang, disebut sebagai kalimbubu simada dareh karena dianggap darah mereka yang mengalir dalam tubuh keponakan mereka.
3. Kalimbubu iperdemui berarti kalimbubu yang dijadikan kalimbubu karena seseorang mengawini putri dari satu keluarga untuk pertama kalinya.
3. Senina adalah mereka yang bersaudara karena mempunyai merga yang sama tapi lain cabang merga.
4. Sembuyak adalah orang-orang yang lahir dari kandungan atau rahim yang sama, namun dalam masyarakat Karo istilah ini juga digunakan untuk mereka yang bersaudara karena memiliki cabang merga yang sama.
5. Sipemeren adalah orang-orang yang ibu mereka bersaudara kandung.
6. Siparibanen adalah mereka yang bersaudara karena istri mereka bersaudara karena istri mereka bersaudara (sepengambilan).
7. Anak Beru adalah keturunan dari saudara perempuan kita atau pihak yang mengawini saudara perempuan kita.
8. Anak Beru Tua adalah anak beru dalam satu keluarga turun-temurun.
Anak beru tua memiliki peranan sangat penting dalam upacara adat yang dibuat oleh kalimbubunya, apabila anak beru tua belum hadir upacara adat tersebut tidak bisa dilaksanakan karena anak beru tua juga berfungsi sebagai pihak singerana (pembicara).
Sistem kekerabatan masyarakat Karo saat ini masih digunakan dalam upacara adat masyarakat Karo. Merga silima, Rakut sitelu, Tutur Siwaluh adalah sistem kekerabatan yang sudah diturunkan sejak dahulu, namun ada satu tambahan yang masuk ke dalam sistem kekerabatan yaitu teman meriah. Teman meriah adalah orang-orang yang bersahabat dengan masyarakat karo yang mengadakan upacara adat misalnya, rekan kerja, teman sekolah, serta teman-teman dari gereja atau perkumpulan organisasi masyarakat.
Gambar 4.2 Kartu undangan upacara adat masyarakat Karo
Istilah kekerabatan dalam masyarakat Karo disebut dengan penggelaren.
Berikut istilah kekerabatan dan penggunaannya dalam masyarakat Karo yang ditemukan peneliti:
Istilah kekerabatan untuk kakek dalam masyarakat Karo yaitu Bulang.
Kata Bulang digunakan untuk memanggil kakek dari pihak ayah maupun kakek dari pihak ibu. Namun, pada masa sekarang istilah Bulang digunakan juga untuk memanggil laki-laki yang sudah lansia sebagai bentuk pernyataan rasa hormat.
Pada masyarakat Karo istilah kekerabatan untuk nenek adalah Nini, biasanya untuk meemanggil nenek juga dipanggil berdasarkan berunya. Misal nenek tersebut beru Tarigan maka dipanggil Nini Tigan. Namun pada masa sekarang istilah Nini juga digunakan untuk wanita yang sudah lansia.
Bapa adalah istilah untuk semua bapak, namun bapa ini juga masih memiliki kategori-kategori tertentu berdasarkan urutannya dalam keluarga. Untuk istilah Bapa pada anak yang paling tua disebut dengan Bapa Tua. Demikian juga untuk anak bungsu disebut dengan Bapa Nguda. Sedangkan untuk anak diantara sulung dan bungsu dipanggil Bapa Tengah. Ayah dalam keluarga di masyarakat Karo akan dipanggil sesuai dengan nama anak pertamanya misalnya Bapa Bungarim berarti anak pertamanya bernama Bungarim
Nande adalah istilah untuk semua Ibu, namun nande ini juga memilki kategori –kategori tertentu berdasarkan urutannya dalam keluarga. Untuk istilah nande ini digunakan sebagai panggilan untuk istri saudara laki-laki ayah misalkan Nande Tua berarti Nande Tua adalah istri dari saudara laki-laki ayah yang paling sulung dalam keluarga. Sedangkan istilah Nande Nguda berarti istri dari saudara laki-laki ayah yang paling bungsu. Sedangkan istilah untuk Nande Tengah berarti istri dari saudara laki-laki ayah yang urutannya berada diantara sulung dan bungsu. Ibu dalam keluarga di masyarakat Karo akan dipanggil sesuai dengan nama anak pertamanya misalnya Nande Bungarim berarti anak pertamanya bernama Bungarim.
Cimbang adalah sebutan saudara antara dua istri yang suaminya bersaudara. Sedangkan Pariban adalah sebutan untuk dua orang laki-laki atau lebih yang istrinya bersaudara.
Impal adalah sebutan seorang laki-laki untuk anak perempuan pamannya (saudara laki-laki Ibunya) begitu juga sebaliknya atau dalam bahasa Toba biasa disebut dengan pariban.
Turang adalah saudara antara laki-laki dan perempuan yang bermarga sama, atau saudara kandung. Sedangkan istilah Turangku, adalah untuk sebutan untuk besan. Selanjutnya Turang Impal adalah istilah untuk laki-laki dan perempuan yang ibu si perempuan dan bapaknya si laki-laki satu merga.
Kela adalah istilah untuk sebutan menantu laki-laki. Sedangkan Permen adalah sebutan untuk menantu perempuan atau sebutan saudara perempuan ayah untuk anak dari saudara laki-lakinya.
Kaka adalah istilah untuk abaang dan kakak, berdasarkan tingkatan umurnya kakak ini dibagi tiga yaitu, Kaka Tua, Kaka Tengah, dan Kak Nguda.
Agi adalah istilah untuk adik baik laki-laki maupun perempuan.
Silih adalah sebutan untuk dua orang laki-laki yang melakukan perkawinan dengan salah satu saudara perempuannya. Sedangkan Eda adalah istilah panggilan untuk seorang perempuan terhadap istri saudara laki-lakinya.
Bengkila adalah sebutan untuk paman atau suami saudara perempuan dari ayah. Sedangkan Bibi adalah sebutan untuk saudara perempuan Ibu dan saudara perempuan Ayah. Namun, pada jaman sekarang sebutan bibi juga diberikan untuk
wanita yang sudah menikah atau wanita yang umurnya sama dengan saudara perempuan ayah atau Ibu.
Istilah kekerabatan untuk paman atau saudara laki-laki Ibu adalah Mama.
Mama juga digunakan untuk panggilan laki-laki kepada mertua laki-laki (ayah istri). Sedangkan Mami adalah sebutan untuk istri dari saudara laki-laki Ibu.
Istilah Mami juga digunakan untuk panggilan laki-laki kepada mertua perempuan (Ibu istri).
Bere-bere adalah sebutan untuk anak dari saudara perempuan bagi saudara laki-laki Ibu. Demikian mengenai penggunaan istilah kekerabatan masyarakat Karo.
4.3 Perbedaan Istilah Kekerabatan Masyarakat Tionghoa Hokkien dan