BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Sistem dan Istilah Kekerabatan Pada Masyarakat Tionghoa
garis keturunan ayah. Hal ini diperkuat dengan filosofi pada masyarakat Hokkien yang dilambangkan dengan lambang yang-yin yang menggambarkan jika laki-laki itu aktif dan wanita pasif. Peran laki-laki dalam masyarakat Hokkien adalah meneruskan marga orangtuanya yang didapatkan dari ayahnya tetapi pemberian marga kepada anak-anak tidak dibedakan, anak laki-laki dan anak perempuan berhak mendapatkan marga yang sama dengan ayahnya. Untuk penulisan nama dalam bahasa Indonesia Marga yang diberikan ayahnya akan diletakkan di belakang nama sang anak misalkan, Edi Lim. Pemberian marga ini ditujukan supaya keturunan-keturunan selanjutnya dapat mengetahui hubungan kekeluargaan mereka walaupun dipisahkan jarak dan waktu.
Masyarakat Hokkien menghindari pernikahan bermarga sama akan tetapi biasanya untuk menjaga agar harta kekayaan mereka tidak jatuh kepada orang lain biasanya mereka berusaha mengadakan pernikahan satu nenek moyang yang berbeda marga. Marga yang ada dalam masyarakat Tionghoa Hokkien pun sangat banyak. Dari hasil penelitian yang dilakukan di lapangan, peneliti hanya menemukan sebagian marga yang ada di masyarakat Tionghoa Hokkien. Hal ini disebabkan masyarakat Tionghoa Hokkien di Berastagi tidak mengetahui seluruhnya marga yang ada.
14. Wongso (子) 15. Lie (李)
Pada masyarakat Tionghoa Hokkien terdapat sistem kekerabatan yang merupakan aturan adat istiadat. Namun, sistem kekerabatan pada masyarakat Tionghoa Hokkien jauh berbeda dengan sistem kekerabatan masyarakat Karo. Hal ini dapat dilihat dari upacara adat istiadat, misalnya upacara adat perkawinan pada masyarakat Karo kekerabatan ditentukan dengan Merga Silima , Rakut Sitelu dan Tutur Siwaluh. Sedangkan pada masyarakat Tionghoa Hokkien peranan tersebut dapat digantikan oleh seorang Bikkhu atau Bikkhuni serta beberapa orang yang membantunya dari kalangan Vihara. Pandangan hidup masyarakat Tionghoa Hokkien berjalan sesuai dengan perkembangan jaman yang terpenting tidak melanggar peraturan yang telah ditetapkan agama dan pemerintah.
Pada masyarakat Hokkien mengenal delapan istilah kekerabatan yaitu ang (suami), bo (istri), thia (ayah), mak (ibu), tapo kia (anak laki-laki), cabo kia (anak perempuan), koko-siuti (saudara laki-laki), dan cici-siumoui (saudara perempuan).
Untuk menunjukkan hubungan kekerabatan yang penting cukuplah delapan istilah kekerabatan tersebut karena semua istilah tersebut telah menunjukkan hubungan yang tergolong pada generasi yang sama, namun jenis kelaminnya saling berlawanan. Istilah kekerabatan untuk keluarga Ayah dan keluarga Ibu tentu berbeda. Berikut uraian mengenai istilah kekerabatan masyarakat Tionghoa Hokkien yang dapat ditulis oleh peneliti:
Istilah kekerabatan untuk kakek dari pihak ayah dan pihak ibu disebut dengan kata akong. Namun,pada masa sekarang istilah akong digunakan untuk
orang lain yang secara umum untuk laki-laki yang sudah berumur (lansia) sebagai rasa penghormatan.
Masyarakat tionghoa Hokkien menggunakan kata ama untuk memanggil nenek dari pihak ayah maupun nenek dari pihak ibu . Namun pada saat ini istilah ama digunakan juga untuk menyebut wanita yang sudah tua .
Dalam memanggil kakak laki-laki ayah atau paman etnis tionghoa menggunakan istilah kata apek dan untuk memanngil istri dari kakak laki-laki atau bibi. Etnis Tionghoa menggunakan istilah kata aem untuk kakak ipar perempuan ayah.
Istilah acek digunakan untuk memanggil adik laki-laki dari ayah (paman) dan suami dari adik perempuan ibu (paman). Namun, pada saat ini istilah acek juga diguanakan untuk laki-laki lain yang umurnya lebih tua atau dibawah ayah walaupun tidak ada hubungan kekerabatan.
Istilah acim digunakan untuk memanggil kakak perempuan ibu . Namun, pada saat ini istilah acim juga digunakan untuk wanita lain yang umurnya diatas atau setara dengan umur bibi.
Istilah kokoh digunakan untuk memanggil kakak perempuan ayah (bibi) dan digunakan untuk memanggil istri dari adik laki-laki Ibu.
Istilah akho digunakan untuk memanggil adik perempuan ayah (ayah), kemudian untuk memanggil suami dari adik/kakak perempuan ayah digunakan istilah kata athio.
Dalam masyarakat Tionghoa istilah thia atau thia-thia digunakan untuk memanggil ayah. Namun, pada saat ini istilah thia ini telah digantikan dengan kata
“papa” karena pengaruh budaya barat yang masuk. Dalam memanggil ayah angkat dalam keluarga etnis Tionghoa Hokkien digunakan istilah khe-thia.
Istilah mak dalam masyarakat Tionghoa Hokkien digunakan untuk memanggil ibu namun, pada jaman sekarang kata mak sudah digantikan dengan kata mama istilah ini digantikan karena terpengaruh budaya barat. Sedangkan istilah nio digunakan menantu perempuan dan menantu laki-laki untuk memanggil ibu mertua sedangkan istilah enthia untuk memanggil ayah mertua.
Dalam keluarga etnis Tionghoa Hokkien istilah io lang em digunakan untuk memanggil sesama besan perempuan dan istilah chinke untuk sesama besan laki-laki.
Istilah akhu digunakan untuk memanggil suami dari kakak perempuan ibu dan memanggil kakak atau adik laki-laki ibu.
Masyarakat Tionghoa Hokkien kerap kali menggunakan istilah ayi untuk memanggil adik perempuan ibu. Namun pada saat sekarang istilah ayi juga digunakan untuk memanggil wanita yang umurnya diatas atau setara dengan umur ibu.
Istilah koko digunakan untuk memanggil kakak laki-laki , biasanya kata ini diawali dengan kata engko. Istilah yang digunakan untuk memanggil kakak laki-laki juga ada tingkatannya . Kakak laki-laki tertua dipanggil toa-ko, yang kedua ji-ko yang ketiga sha-ko, dan begitu seterusnya. Namun, pada masa sekarang istilah koko tidak hanya digunakan untuk memanggil laki-laki yang
bukan saudara kandung yang umurnya lebih tua atau setara dengan kakak laki-laki kita. Kemudian untuk memanggil abang angkat , dalam sebuah keluarga etnis tionghoa digunakan istilah kata khe ko.
Istri dari kakak laki-laki dalam keluarga etnis Tionghoa Hokkien digunakaan istilah kata aso oleh adik perempuan suami. Kemudian aso akan memanggil adik ipar perempuan dengan istilah akho dan memanggil suami dari akho dengan istilah athio lalu aso akan memanggil adik ipar laki-lakinya dengan kata acek dan memanggil istri acek yaitu acim.
Dalam keluarga etnis Tionghoa Hokkien , suami dari kakak perempuan atau biasa disebut kakak ipar laki-laki dipanggil cihu oleh adik perempuaan sang istri. Kemudian sebagai balasan cihu memanggil adik perempuan istrinya atau adik iparnya tersebut dengan istilah ii dan memanggil suami dari adik perempuannya tersebut dengan istilah akhu sama seperti anak-anknya nanti juga akan memanggil ii dan akhu.
Kemudian adik laki-laki suami memanggil kakak laki-laki istri dengan kata athio dan kakak perempuan istri dengan istilah ii. Kakak perempuan istri ini pun akan memanggil adik ipar laki dengan istilah athio. Namun, kakak laki-laki istri dapat memanggil nama kepada adik ipar laki-laki-laki-lakinya karena sama-sama laki-laki dan kedudukn kakak laki-laki istri tingkatannya lebih tinggi. Setiap menantu akan memanggil para ipar seperti sama seperti anak-anaknya memanggil.
Hal ini karena menantu dianggap orang luar yang masuk kedalam keluarga.
Etnis Tionghoa Hokkien memanggil kakak perempuan dengan sebutan cici dan kata dalam penyebutannya di awali dengan kata en sehingga menjadi enci.
Dalam memanggil kakak perempuan tertua sering disebut dengan toa-ci, istilah untuk kakak perempuan kedua ji-ci dan kakak perempuan ketiga sha-ci tidak terdengar dengan pergaulan. Mereka lebih sering dipanggil dengan istilah enci saja dan juga dalam keluarga etnis tionghoa , mereka memanggil kakak angkat perempuan dengan istilah ke chi.
Dalam keluarga etnis tionghoa , istilah bo digunakan untuk memanggil istri. Pada masa sekarang seorang suami memanggil istrinya dengan nama kecil istrinya saja. Namun, jika mereka telah dikarunai anak, nama anak ini akan digunakan untuk memanggil istri oleh suaminya.
Suami memanggil kakak laki-laki istri dengan menggunakan kata ku.
Kakak laki-laki tertua istri disebut dengan toa-ku, kakak laki-laki kedua sang istri disebut dengan ji-ku, dan kakak laki-laki ketiga istri disebut sha-ku.
Untuk memanggil saudara perempuan istri baik itu kakak perempuan atau adik perempuan, suami menggunakan istilah kata i. Untuk saudara perempuan tertua istri, suami menyebutnya toa-i, untuk saudara perempuan kedua dan ketiga disebut dengan istilah ji-i dan sha-i. Semua saudara saudara suami menyebut saudara-saudara istri dengan sebutan yang digunakan oleh suami, demikian pula orangtua sang suami. Anak-anak suami istri tersebut memanggil saudara-saudara suami atau saudara ayahnya dengan istilah yang digunakan oleh istri atau ibunya.
Istilah kekerabatan dalam etnis Tionghoa Hokkien untuk menyebut suami adalah ang. Pada zaman dahulu seorang istri memanggil suaminya dengan sebutan lo-ya yang artinya tuan tetapi masa sekarang seorang istri memanggil suaminya
dengan koko (kakak). Jika mereka memiliki anak maka suami dipanggil dengan istilah papa nama anak tersebut oleh istrinya.
Seorang istri menggunakan istilah toa pe kepada saudara laki-laki tertua suaminya. Kata pe disini artinya menunjukkan hubungan kekeluargaan antra istri dan suaminya. Sedangkan kata toa artinya tingkatan terbesar di dalam istilah kekerabatan keluarga etnis Tionghoa. Untuk tingkatan kedua menggunakan kata ji dan untuk tingkatan ketiga menggunakan kata sha. Jadi kakak tertua suami dipanggil oleh istri adalah toa-pe, yang kedua dipanggil ji-pe dan yang ketiga dipanggil sha-pe.
Dalam penyebutan adik laki-laki suami, istri menggunakan istilah kata cek yang biasanya ditambahkan dengan awalan kata en didepan menjadi encek. Untuk memanggil adik laki-laki pertama ketiga disebut dengn istilah ji-cek untuk memanggil adik laki-laki ketiga disebut dengan istilah sha-cek.
Istilah yang digunakan oleh istri untuk memanggil kakak perempuan suami menggunakan kata ko. Kakak perempuan tertua suami disebut toa-ko, kakak perempuan kedua suami disebut dengan ji-ko dan kakak perempuan ketiga suami disebut sha-ko.
Dalam memanggil adik laki-laki dalam bahasa Hokkien mengunakan kata siu ti. Untuk memanggil adik angkat laki-laki dalam keluarga etnis Tionghoa maka digunakan kata khe ti. Kemudian untuk memanggil istri dari adik laki-laki digunakan kata besai.
Untuk memanggil adik perempuam maka digunakan kata siumoi dan
adik perempuan digunakan kata moi sai. Lalu jika adik adik peremuan mempunyai anak maka anak itu akan disebut dengan kata siumoi kia yang artinya keponakan perempuan yang berasal dari adik perempuan yang berasal dari adik perempuan.
Dalam memanggil keponakan yang berasal dari kakak laki-laki digunakan kata cek tapo kia untuk keponakan adik laki-laki dan cek cabo kia untuk keponakan perempuan.
Dalam memanggil anak laki-laki dan perempuan dalam keluarga etnis Tionghoa Hokkien pun berbeda. Dalam memanggil anak laki-laki mengunakan kata tapo kia dan untuk memanggil anak perempuan menggunakan kata cabo kia.
Untuk memanggil menantu perempuan atau istri dari anak laki-laki menggunakan kata simpu. Untuk memanggil memanggil menantu laki-laki atau suami dari anak perempuan menggunakan kata kiasai. Untuk memanggil cucu laki-laki digunakan kata tapo suna untuk memanggil cucu perempuan digunakan kata cabo suna.
Penggunaan istilah kekerabatan merupakan suatu adat istiadat yang termasuk kedalam kebudayaan Tionghoa yang sangat indah dan sudah sangat tua.
Dengan mengetahui panggilan seseorang dalam sebuah keluarga , maka dapat diketahui kedudukan orang tersebut di dalam keluarganya. Namun, pada zaman sekarang istilah kekerabatan dalam bahasa Hokkien sudah mulai hilang dan jarang digunakan. Hal ini disebabkan karena generasi muda etnis Tionghoa lebih memilih istilah kekerabatan yang lebih mudah diucapkan dan praktis digunakan dari bahasa barat misalnya kata Ibu dalam bahasa Hokkien istilah kata Mak sudah digantikan dengan kata Mama/ Mommy. Untuk itu diharapkan generasi muda
khususnya etnis Tionghoa supaya terus melestarikan istilah kekerabatan yang ada dalam budaya mereka untuk menunjukkan identitas budaya mereka dalam hidup bermasyarakat.