• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.4 Sistem Informasi Agribisnis

terikat dengan adat atau norma setempat yang kuat atau mungkin karena terbatasnya sumber dan saluran komunikasi menyebabkan seseorang terlambat mengetahui adanya sebuah inovasi dan pada akhirnya golongan ini disebut sebagai laggard, beberapa karakteristiknya yaitu tidak terpengaruh opinion leader, terisolasi, berorientasi terhadap masa lalu, curiga terhadap inovasi, mempunyai masa pengambilan keputusan yang lama dan sumber informasi yang terbatas.

Pendekatan terhadap kelima golongan adopter perlu dibedakan karena berkaitan erat dengan kemampuan menangkap, menyerap dan mengadopsi inovasi baru. Cara pendekatan terhadap masing-masing golongan berbeda, yaitu berpengaruh terhadap kemampuan penyuluh (Prawitasari, 2017:102). Salah satu yang menyebabkan petani tetap pada cara lama karena mereka sangat mempertimbangkan adanya risiko dan ketidakpastian. Tanpa disadari bahwa sebenarnya justru anggapan demikian akan menghambat peningkatan pendapatannya. Ada empat faktor yang menjadi bahan pertimbangan inovasi dapat diadopsi yaitu, secara teknis dan secara sosial memungkinkan, secara ekonomi menguntungkan, dan sesuai dengan kebijakan pemerintah (Hafsah, 2009:72).

2.4 Sistem Informasi Agribisnis

Asal kata agribisnis berangkat dari kata agribusiness, dimana Agri = Agriculture artinya pertanian dan Business berarti usaha atau kegiatan yang berorientasi profit. Jadi secara sederhana agribisnis (agribusiness) adalah usaha atau kegiatan pertanian serta apapun yang terkait dengan pertanian berorientasi

23 profit. Agribisnis mempelajari strategi memperoleh keuntungan dengan mengelola aspek budidaya, penyediaan bahan baku, pascapanen, proses pengolahan hingga tahap pemasaran. Ruang lingkup agribisnis mencakup semua kegiatan pertanian yang dimulai dengan pengadaan penyaluran sarana produksi, produksi usahatani dan pemasaran produk usahatani ataupun olahannya. Ketiga kegiatan ini mempunyai hubungan yang erat, sehingga gangguan pada salah satu kegiatan akan berpengaruh terhadap kelancaran seluruh kegiatan dalam bisnis. Karenanya agribisnis digambarkan sebagai satu sistem yang terdiri dari tiga subsistem, serta tambahan satu subsistem lembaga penunjang (Maulidah, 2012:3).

Sistem adalah suatu cara yang mekanismenya berpola dan konsisten, saling terkait dan tidak dapat dipisahkan. Setiap subsistem memegang peran, tugas dan kedudukannya masing-masing tetapi keterkaitan tugas dan kedudukan antar sistem menentukan tercapainya tujuan (Helmawati, 2015:14). Sistem informasi adalah suatu sistem yang dibuat oleh manusia yang terdiri dari komponen-komponen dalam organisasi untuk mencapai suatu tujuan yaitu menyajikan informasi dengan mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi, mendukung operasi, bersifat manajerial dan kegiatan strategi dari suatu organisasi serta menyediakan pihak luar tertentu dengan laporan-laporan yang diperlukan (Kristanto, 2008:12).

Sistem informasi agribisnis adalah sistem yang berguna untuk membantu masyarakat yang bergerak dibidang pertanian dalam menjalankan aktivitas dan kegiatan agribisnis. Beberapa kegiatan diantaranya pengelolaan hasil pertanian, pemasaran hasil pertanian, manajemen sumberdaya agribisnis dan beberapa hal

24 yang terkait dengan kegiatan agribisnis misalnya penyaluran bantuan dan penyuluhan (Putra dkk, 2015:370).

Pada masa mendatang petani dituntut untuk mampu mengambil keputusan secara cepat dan tepat, mengingat banyaknya masalah terutama terkait perubahan iklim. Petani harus mampu mengatur waktu tanam yang tepat, varietas atau komoditas yang harus diusahakan, teknologi yang harus diterapkan, dan lain-lain. Jika lebih aktif mencari informasi dan banyak berkomunikasi dengan berbagai pihak yang berkompeten, petani dapat mengambil keputusan yang cepat dan tepat, termasuk menunda aktivitas bertaninya untuk mencegah kerugian (Guntoro, 2011:166).

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah memberikan kontribusi yang nyata dalam proses berkembangnya sistem pengembangan informasi pertanian, khususnya sebagai media komunikasi inovasi pertanian. Aplikasi Petani hadir sebagai alternatif penunjang kegiatan penyuluhan pertanian di Indonesia. Aplikasi Petani memungkinkan komunikasi dua arah antara satu petani dengan petani lain, atau petani dengan penyuluh, akademisi, dan mitra bisnisnya.

2.4.1 Aplikasi Petani

Berdasarkan penelitian Astuti (2017:23-25) aplikasi Petani diluncurkan oleh perusahaan berbasis Information Technology (IT) yang bernama PT. 8villages Indonesia. Ide awal pembuatan Aplikasi Petani adalah adanya fakta lapangan bahwa jumlah penyuluh pertanian relatif sedikit dan kurang menunjang sistem penyuluhan Laku (Latihan dan Kunjungan). Selain itu jumlah rumah tangga tani

25 pemilik handphone (HP) terbilang cukup tinggi. Hal ini menjadi tantangan bagaimana mengarahkan petani menggunakan HP untuk tujuan produktif, bukan konsumtif.

Melihat permasalahan dan potensi tentang penyuluhan pertanian, PT. 8villages Indonesia pada tahun 2012 membuat Layanan Informasi Desa (LISA) yang berupa edukasi kepada petani melalui SMS. Edukasi LISA melalui SMS inilah yang menjadi cikal bakal aplikasi Petani berbasis android yang ada sekarang. Layanan informasi lisa.co.id diluncurkan di Karawang pada bulan Desember 2012 dan berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian serta Dinas Pertanian Kabupaten Karawang. Informasi berbasis SMS ini melayani tanya jawab petani dengan pakar, menyediakan tips sehari-hari untuk petani, serta mengakomodasi adanya grup via SMS untuk petani yang menggunakannya.

Aplikasi Petani berbasis android mulai dikembangkan pada tahun 2014 dan terintegrasi dengan WEB dan juga SMS. Aplikasi Petani berbasis android melayani tanya jawab, survei, profiling petani, dan menyediakan artikel-artikel yang terkait dengan kegiatan pertanian. Peluncuran aplikasi Petani berbasis android ini dilakukan di Yogyakarta pada tanggal 17 November 2014 dan bertepatan dengan acara Dies Natalis Universitas Gadjah Mada (UGM). Tidak berhenti sampai di situ, dosen-dosen dari Fakultas Pertanian UGM kemudian melanjutkan sosialisasi adanya aplikasi Petani kepada para petani binaannya. Pada tahun 2016, mulai ditambahkan fitur toko pada aplikasi Petani dan lapor panen berbasis digital. Berdasarkan hasil tanya jawab pada website (Layanan Informasi Desa (LISA), pada tanggal 9 Agustus 2019) aplikasi Petani terus berusaha meningkatkan performa

26 aplikasi-aplikasinya dengan memperbaharui (update) dengan tampilan lebih user friendly (ramah pengguna) pada tahun 2018.

Berikut layanan aplikasi Petani yang dapat dimanfaatkan petani sesuai dengan kebutuhannya yaitu tanya jawab, artikel dan survei, peringkat, manajemen lahan, toko, video, panen, informasi (SMS, cuaca, pupuk dan harga), dan pengaturan (ubah profil, ubah foto profil, ubah bahasa, dan ubah kata sandi). Kelebihan yang dimiliki oleh aplikasi Petani yaitu dapat menjembatani interaksi petani dengan para pakar (dosen, PPL, atau petani lain yang berpengalaman). Untuk penyebaran informasi dan menjawab permasalahan yang dihadapai petani, dapat menjual hasil tani langsung kepada konsumen sehingga petani bisa diuntungkan dan mendapatkan harga terbaik, dapat memperoleh Informasi terbaru dilengkapi dengan video sehingga petani lebih mudah memahaminya dan mendigitalisasi metode penyuluhan tanpa menghilangkan pekerjaan penyuluh. Aplikasi Petani dapat diunduh melalui layanan Google PlayStore secara gratis. Pengguna juga tidak dikenakan biaya apapun untuk menikmati layanan dari aplikasi Petani.

2.4.2 Kecepatan Adopsi Inovasi

Menurut Rogers (1983:15) mengemukakan lima karakteristik inovasi yang dapat memengaruhi keputusan terhadap pengadopsian suatu inovasi meliputi: 1. Keunggulan relatif (relative advantage) adalah sejauh mana inovasi dianggap

lebih baik dan menguntungkan daripada teknologi sebelumnya. Hal ini dapat diukur dari beberapa segi, seperti segi ekonomi, prestise sosial, kenyamanan, kepuasan dan lain-lain. Semakin besar keunggulan relatif yang dirasakan oleh pegadopsi, semakin cepat inovasi tersebut dapat diadopsi.