BAB III. KONDISI SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM EKSISTING
3.2. Aspek Teknis
3.2.2. Sistem Pelayanan
Tabel 3.8. Jaringan Pipa Distribusi
No. Diameter Jenis Pipa Fungsi Panjang (mm) Kondisi
1 50 PVC Tersier 2.891 Baik
2 75 PVC Tersier 40.609 Baik
3 100 PVC Tersier 18.232 Baik
4 150 PVC Sekunder 7.760 Baik
5 150 ACP Primer 14.278 Parah
6 200 PVC Sekunder 6.150 Baik
7 200 ACP Sekunder 12.663 Parah
8 250 PVC Primer 16.545 Parah
9 300 PVC Primer 22.275 Baik
10 300 Steel Primer 4.000 Parah
11 300 DCIP Primer 1.416 Baik
12 350 PVC Primer 1.600 Baik
13 350 DCIP Primer 10.326 Baik
Total 134.370 Sumber: PDAM Tirta Kepri Tanjungpinang, 2010
C. Kapasitas Sistem Distribusi
Apabila melihat kapasitas Reservoir Bukit Cermin dengan kapasitas 2000 m3, maka diperkirakan hanya mempu meliki kapasitas pelayanan sekitar 130 L/d ( debit rata-rata) atau Debit puncak 230 L/dt.
3.2.2. Sistem Pelayanan
3.2.2.1 Wilayah Pelayanan
Daerah pelayanan air minum PDAM Tirta Kepri Tanjungpinang meliputi sebagian besar wilayah Kota Tanjungpinang yang terbangun, kecuali wilayah seperti Dompak Daratan, Pulau Dompak (Kecamatan Bukit Bestari); sebagian Batu IX dan Air Raja di Kecamatan Tanjungpinang
Timur; Kampung Bugis, Senggarang da Penyengat di Kecamatan Tanjungpinang Kota.
Pembagian wilayah pelayanan ditentukan berdasarkan Instalasi Reservoir & Jaringan pipa distribusi. Sistem pelayanan di Kota Tanjungpinang dibagi atas 2 (dua) Daerah Pelayanan yaitu pelayanan Sistem Reservoir Bukit Cermin dan Pipa Transmisi Wika dan PCM. Pelayanan melalui sistem Reservoir Bukit Cermin dilakukan secara gravitasi sehingga apabila ditinjau dari kaidah teknik sistem ini cukup memadai. Namun demikian dengan posisi elevasi + 53,34 m dpl dan sisyem jaringan pipa distribusi yang menggabungkan antara jaringan pipa
di zona elevasi rendah dan elevasi tinggi, maka akan berdampak pada pola aliran dengan tekanan tidak merata dan cenderung ektrim. Dampak dari kondisi ini adalah pengaliran akan cenderung menuju zona elevasi rendah sedangkan zona elevasi tinggi akan kekurangan air. Kondisi sistem pelayanan tersebut kurang menguntungkan karena pada zona elevasi rendah akan cenderung tingkat kebocorannya tinggi mengingat
statik headnya cukup tinggi apalagi jika kondisi jaringan yang kurang mendukung.
Komponen wilayah pelayanan PDAM Tirta Kepri meliputi : kawasan permukiman, perdagangan, gedung pemerintahan, pendidikan, indusri, pelabuhan dan kawasan khusus Bandara Raja Ali Haji. Pembagia daerah pelayanan dapat dilihat pada Tabel 3.9 berikut.
Tabel 3.9. Wilayah Pelayanan PDAM Tirta Kepri
No. Instalasi Daerah Pelayanan
1. Res. Bukit Cermin Kecamatan Tanjungpinang Kota :
1. Kel. Tanjungpinang Kota Kecamatan Tanjungpinang Barat :
1. Tajungpniang Barat 2. Kamboja
3. Kp Baru dan 4. Bukit Cermin
Kecamatan Tanjungpinang Timur :
1. Kp Bulang
Kecamatan Bukit Bestari : 1. Tanjungpinang Timur 2. Tanjung Ayun Sakti 2. Sei Jang dan
3. Tanjung Unggat
2. Pipa Transmisi Wika
Kecamatan Tanjungpinang Timur :
1. Pinang Kencana
2. Air Raja/Bintan Center 3. Melayu Kota Piring
4. Kp Bulang dan Bandara Kijang
3. Pipa Transmisi PCM
Kecamatan Tanjungpinang Timur :
1. Batu Sembilan
2. Melayu Kota Piring
3. Kp Bulang
Pada Gambar 3-6 diperlihatkan Daerah Pelayanan Sistem Penyediaan Air minum Eksisting Kota Tanjungpinang Tahun 2010.
Pada Gambar 3-7 diperlihatkan Pembagian Zona Pelayanan Eksisting PDAM Tirta Kepri.
Pada Gambar 3-8 diperlihatkan Skema Pelayanan System Penyediaan Air Minum Eksisting Kota Tanjunglpinang.
3.2.2.2 Tingkat Pelayanan
Tingkat pelayanan air minum eksisting sampai dengan tahun 2009 diperkirakan berdasarkan jmlah pelanggan rumah tangga dan HU (Hydran Umum). Berdasarkan data tahun 2009, jumlah pelanggan rumah tangga dan HU berjumlah 13.241 unit. Dengan asumsi jumlah jiwa 4,2 jiwa/kk, maka jumlah pelanggan yang terlayani berjumlah 60.360 jiwa. Dengan membandingkan terhadap jumlah penduduk Kota Tanjungpinang tahun 2009 yang berjumlah kekitar 185.208 iwa, maka akan diperoleh
tingkat pelayanan mencapai 34%. Dengan demikian jumlah penduduk Kota Tanjungpinang yang belum terlayani oleh PDAM Tirta Kepri sebesar 65% atau 124.848 jiwa. Penduduk yang belum terlayani pelayanan PDAM tersebut mendapatkan air bersih malalui berbagai sumber seperti:
Sumur gali pribadi/komunal Sumur Bor
Mobil Tangki Sumber air lainnya.
3.2.2.3 Perkembangan Jumlah
Pelanggan
Sampai dengan Desember 2009 jumlah pelanggan aktif sebesar 17.097 sambungan.yang terdiri dari 77% sambungan domestik (SR dan HU) dan 23% sambungan non domestik seperti instansi pemerintah, niaga kecil
niaga besar, industri, golongan khusus dan sosial khusus. Terjadi penambahan jumlah sambungan pada tahun 2009 tersebut sebesar 11 % dari tahun sebelumnya. Untuk lebih jelasnya perkembangan jumlah pelanggan seperti ditunjukkan pada
Tabel 3.10. Perkembangan Jumlah Pelanggan PDAM Tirta Kepri
No. Jenis Pelanggan Jumlah Sambungan (unit)
2005 2006 2007 2008 2009 1 Sosial Umum 41 41 42 50 50 2 Sosial Khusu 139 139 136 147 155 3 Rumah Tangga 9.906 10.044 10.935 11.665 13.240 4 Instansi Pemerintah 98 98 131 139 157 5 Niaga Kecil 2.796 2.806 3.106 3.246 3.358 6 Niaga Besar 107 107 106 113 108 7 Industri 9 9 10 10 8 8 Golongan Khusus 4 4 4 4 4 Total 13.100 13.248 14.470 15.374 17.097
Sumber: PDAM Tirta Kepri Tanjungpinang, 2010
Dari Tabel tersebut dia atas dapat dilihat bahwa dalam kurun waktu 5 tahun (2005 s/d 2009) terjasi penambahan jumlah sambungan berjumlah 3.979 unit sambungan atau 30%.
Berdasarkan data statistik Kota Tanjungpinang dalam Angka tahun
2009, rata-rata jumlah anggota keluarga di Kota Tanjungpinang adalah 4,4 jiwa/kk. Maka berdasarkan data statistik dan jumlah satuan sambungan yang ada akan diperoleh jumlah penduduk yang dilayani di Kota Tanjung Pinang dari tahun 2005 s/d 2009 seperti ditampilkan pada Tabel
3. 10 berikut.
Tabel 3.11. Perkembangan Jumlah Sambungan dan Tingkat Pelayanan Tahun 2005 – 2009 No. Tahun Jumlah Sambungan (SR + HU) Jumlah Penduduk Terlayani (Jiwa) Jumlah Penduduk (Jiwa) Tingkat Pelayanan 1 2005 10.045 44.198 167.611 26% 2 2006 10.183 44.805 170.412 26% 3 2007 11.071 48.712 177.963 27% 4 2008 11.812 51.972 175.657 30% 5 2009 13.241 60.360 185.208 34%
3.2.2.4 Tingkat Pemakaian Air
Tingkat pemakaian air ini perlu untuk diketahui sebagai dasar pertimbangan dalam memprediksi kebutuhan air dimasa mendatang. Peningkatan jumlah penduduk juga akan meningkatkan pola kebutuhan air untuk kegiatan sosial ekonomi sesuai dengan besaran jumlah penduduk. Tingkat pemakaian air di Kota
Tanjungpinang tahun 2009 didominasi oleh pemakaian kelompok rumah tangga + HU(domestik) mencapai 71,18% dari total pemakaian air. Disusul oleh kelompok pemakaian komersil sebesar 25,58% , kelompok sosial dan instansi pemerintah sebesar 2,85% dan terakhir kelompok pemakaian sosial khusus sebesar 0,40%.
Gambar 3.9. Tingkat Pemakaian Air Kota Tanjungpinang Tahun 2009
0,8% 71,2% 2,0% 21,7% 3,5% 0,3% 0,4% Sosial Umum Rumah Tangga Instansi Pemerintah Niaga Kecil Niaga Besar Industri Golongan Khusus
3.2.2.5 Kinerja Pelayanan
Berdasarkan tingkat pelayanan air minum PDAM Tirta Kepri baru mampu mencapai 34 %, hal ini menunjukkan bahwa ketersediaan air masih terbatas jika dibandingkan dengan tingkat kebutuhan air untuk masyarakat di Kota Tanjungpinang. Perkembangan ekonomi di Kota Tanjungpinang yang cukup tinggi ke dua setelah Kota
Batam, akan berdampak pada meningkatnya kebutuhan air minum masrakat di segala sektor kegiatan. Apabila produksi air minum tidak mengalami peningkatan maka akan sangat berdampak pada penurunan tingkat pelayanan air minum seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduknya. Dengan kondisi
kapasitas air baku saat ini yang hanya mengandalkan Waduk Sei Pulai dan kondisi IPA yang ada maka sistem tidak akan mampu untuk meningkatkan kinerjanya baik secara kuantitas maupun kiualitas yang memenuhi persyaratan air minum.
3.2.2.6 Tingkat Kehilangan Air
Tingkat kehilangan air pada tahun 2009 terhitung masih tinggi yaitu mencapai 53,92%, yang disebabkan oleh kehilangan air teknis dan administrasi seperti: adanya sambungan ilegal, meter pelanggan tidak akurat, tidak ada meter palanggan, kebocoran air di jaringan pipa transmisi dan distribusi maupun tingkat efisiensi penagihan yang kurang efektif.
Pada perioda 2002 – 2007 tingkat kehilangan air di PDAM Tirta Kepri berfluktuasi. Tingkat Kehilangan air tertinggi terjadi pada tahun 2002 sebesar 54,23% sedangkan tingkat kehilanga air terendah terjadi pada tahun 2006 sebesar 43,88% Berdasarka penel;itian yang diulakukan oleh BPPSPAM, tingkat kehilangan air yang normal teknis dan adminidtrasi adalah 20%. Sehingga kemampuan paling optimal dalam penurunan tingkat kehilangan air tidak lebih dari 2,5% per tahun untuk tingkat kehilangan air di atas 30%. Fluktuasi tingkat kehilanga air di PDAM Tirta Kepri sejak perioda 2002 sampai dengan 2009 dapat dilihat pada Grafik 3.1 berikut.