• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : PERJANJIAN EKSPOR IMPOR DAN SISTEM PEMBAYARAN

D. Sistem Pembayaran dalam Transaksi Perdagangan Internasional

Pada umumnya dalam kontrak-kontrak bisnis selalu terdapat klausul tentang cara pembayaran. Pembayaran (penyerahan sejumlah uang) merupakan bentuk prestasi terpenting yang harus dilaksanakan oleh salah satu pihak. Di pihak lain

pembayaran merupakan hak yang wajib diperoleh berdasarkan kontrak. Tidak jelasnya tata cara pembayaran atau tidak terjaminnya keamanan mengenai tata cara pembayaran dapat muncul menjadi resiko usaha dan sumber perselisihan (sengketa) dalam hubungan bisnis para pihak yang terlibat.

Dalam kontrak-kontrak bisnis internasional, kejelasan dan aspek keamanan mengenai tata cara pembayaran menjadi lebih penting mengingat para pihak yang terlibat dalam kontrak dipisahkan oleh jarak yang cukup jauh dan tidak jarang para pihak tidak saling mengenal satu sama lain atau tidak pernah bertemu sebelumnya. Cara pembayaran yang tepat dapat memberikan jaminan keamanan dan memberikan keringanan atau kemudahan bagi pihak-pihak tertentu. Misalnya dalam transaksi ekspor-impor, dipilih cara pembayaran advance payment (pembayaran di muka) akan memberikan kemudahan bagi eksportir karena pembeli (importir) terlebih dahulu melakukan pembayaran sebelum barang dikirimkan oleh penjual (eksportir). Oleh karena itu, sebelum merumuskan klausul mengenai tata cara pembayaran, sebaiknya para pihak terlebih dahulu mengenali karakter masing-masing tata cara pembayaran yang dikenal dalam transaksi-transaksi internasional.

Dalam transaksi perdagangan internasional yang dilakukan oleh penjual (eksportir) dan pembeli (importir) akan timbul hak dan kewajiban bagi masing-masing pihak. Eksportir wajib melakukan penyerahan barang dan berhak untuk menerima pembayaran atas penyerahan barang. Di sisi lain importir wajib melunasi harga barang dan berhak untuk menuntut penyerahan barang yang dibelinya. Karena eksportir dan importir terpisah secara geopolitik dan geografis,

maka penyelesaian pembayaran memiliki karakteristik sendiri. Hal ini karena mata uang pada umumnya mata uang yang digunakan berbeda dan mereka terikat hukum dan peraturan negara masing-masing.31

Adanya jarak dan tidak saling mengenal secara pribadi tentu akan menimbulkan resiko dan kecurangan bagi masing-masing pihak yang terlibat. Eksportir takut barang yang dikirimnya tidak dibayar oleh importir. Sebaliknya importir juga takut kalau barang yang dipesannya tidak sampai diterima atau tidak sesuai dengan yang diperjanjikan. Karena ada kendala diatas maka dalam transaksi perdagangan internasional jarang sekali dilakukan secara tunai (cash payment) atau pembayaran di muka (advance payment) karena beresiko besar bagi importir.32

Menurut Peraturan Pemerintah No. 1 Tahun 1982 dalam Pasal 3 ayat (1) disebutkan bahwa cara pembayaran ekspor impor adalah dengan tunai atau dengan kredit. Pasal 3 ayat (1) tersebut menjelaskan cara pembayaran ekspor impor dapat dilakukan dengan :

Pemerintah menunjang kegiatan ekspor impor dengan memberikan kebijaksanaan dalam fasilitas penggunaan devisa serta penyediaan kredit, jaminan kredit ekspor dan asuransi ekspor, serta kebijaksanaan lain yang sangat penting yaitu pengaturan sistem pembiayaan ekspor impor yang dapat dilakukan dengan cara tunai atau kredit.

33

31 Gunawan Widjaja & Ahmad Yani, Op.cit., hal.23

32Ibid.,hal.24.

1. Pembayaran di muka (Advance Payment)

Sistem Pembayaran ini dilakukan manakala pembeli (importir) membayar terlebih dahulu kepada penjual (eksportir) sebelum barang-barang dikirim oleh penjual (merealisasi ekspor) sesuai dengan kesepakatan pafra pihak.

Advance Payment merupakan salah satu bentuk cara pembayaran non-L/C yang dikenal dalam berbagai kontrak bisnis, termasuk kontrak bisnis yang bernuansa internasional. Cara pembayaran dengan sistem advance payment biasa dikenal dengan sebutan “pembayaran di muka”. Melalui cara ini pembeli (importir) membayar terlebih dahulu kepada penjual (eksportir) melalui perintah transfer bank ke rekening penjual (eksportir), sebelum penjual (eksportir) yang bersangkutan mengirimkan barang yang diperjanjikan. Setelah menerima pembayaran harga, baik keseluruhan maupun sebagian, penjual (eksportir) melakukan kewajibannya mengirimkan barang melalui port of loading. Barang yang dikirim tersebut sudah tercatat atas nama pembeli (importir).

Cara pembayaran dengan advance payment mempunyai beberapa variasi sesuai dengan jumlah harga yang terlebih dahulu dibayarkan oleh pembeli (eksportir). Adakalanya pembeli membeli membayar keseluruhan harga barang termasuk ongkos angkut, asuransi dan semua biaya yang disepakati dalam kontrak bisnis mereka. Dengan pengiriman barang tersebut, pembeli telah menyelesaikan seluruh kewajibannya sepanjang mengenai pembayaran, jadi tidak ada lagi biaya tambahan yang harus dibayar oleh pembeli (importir). Cara ini dikenal dengan istilah payment with order.

Variasi lain adalah partial payment with order. Sesuai dengan namanya, dalam sistem pembayaran ini pembeli hanya membayar sebagian harga terlebih dahulu, misalnya hanya membayar harga barang saja. Biaya-biaya lain sesuai yang diperjanjikan (misalnya ongkos angkut, asuransi, dan biaya lainnya) akan dibayar oleh penjual setelah penjual melakukan kewajibannya mengirimkan barang. Penagihan sisa pembayaran oleh penjual umumnya dilakukan dengan menggunakan sistem collection.

Cara pembayaran dengan menggunakan sistem pembayaran advance payment mengandung resiko yang harus dipertimbangkan, khususnya oleh importir yang terlebih dahulu melakukan pembayaran. Bila saja terjadi wanprestasi dari penjual yang berakibat fatal bagi pembeli, misalnya penjual tidak mengirimkan barang tepat waktu yang dijanjikan atau penjual mengirimkan barang yang kualifikasi dan mutunya tidak sesuai dengan yang dijanjikan. Oleh karena itu, kontrak bisnis yang mendasari transaksi seperti ini harus diperkuat dengan berbagai klausul yang dapat menjamin kepentingan pembeli, misalnya klausul tentang ganti rugi atau sanksi.

Cara pembayaran dengan advance payment umumnya dipilih oleh para pihak dalam kontrak bisnis apabila diantara para pihak terdapat hubungan bisnis yang sudah berjalan dengan baik. Dengan kata lain, kontrak bisnis yang pada umumnya bukan hubungan bisnis yang pertama bagi para pihak. Cara ini baru bermanfaat apabila para pihak sudah saling mengenal satu sama lain dan sudah sering melakukan transaksi, atau bila pembeli telah mengenal reputasi penjual.

Keuntungan menggunakan sistem pembayaran advance payment adalah mengurangi biaya perbankan bila dibandingkan dengan penggunaan L/C.

Kesepakatan tersebut tercantum dalam kontrak jual beli (sales contract). Dalam sistem pembelian ini importir menanggung segala resiko, baik tentang pembayaran yang telah dilakukan maupun tentang kemungkinan tidak dikirimnya barang-barang yang dipesan.34

2. Wesel Inkaso dengan kondisi Document Against Payment (D/P) dan Document Against Acceptance (D/A)

Dalam sistem ini eksportir memiliki hak pengawasan barang-barang sampai weselnya (draft) dibayar importir. Eksportir atau penarik wesel (drawer) mengapalkan barang sementara dokumen pemilikan atas pengiriman barang secara langsung atau melalui bank importir dikirim ke importir.

Penyerahan dokumen kepada importir didasarkan pada :

a. D/P (Document against Payment) : penyerahan dokumen kepada importir dilakukan apabila importir telah membayar.

b. D/A (Document against Acceptance) : penyerahan dokumen kepada importir dilakukanapabila importir telah mengaksep weselnya

3. Perhitungan kemudian (Open Account)

Cara pembayaran dengan open account merupakan kebalikan dari advance payment. Pada advance payment pembeli yang terlebih dahulu melakukan pembayaran harga barang, sedangkan dengan open account penjual yang

terlebihdahulu melakukan pengiriman barang, kemudian pembeli membayar harga melalui perintah transfer bank ke rekening penjual.

Pembayaran dengan cara open account ini, barang yang telah dikirimkan kepada importir tanpa disertai surat perintah membayar serta dokumen-dokumen. Pembayaran dilakukan setelah beberapa waktu atau terserah kebijaksanaan importir. Dalam hal ini, resiko sebagian besar ditanggung eksportir, misalnya : eksportir harus mempunyai banyak modal dan apabila pembayaran akan dilakukan dengan mata uang asing, resiko perubahan kurs menjadi tanggungannya.

Dalam open account, nama pemilik barang yang tercantum dalam dokumen ekspor sudah atas nama pembeli (importir). Dokumen yang diserahkan oleh eksportir kepada importir dapat melalui bank. Namun demikian, penyerahan dokumen tersebut kepada bank hanya sebatas sebagai kurir.

Cara pembayaran dengan open account sangat menguntungkan pembeli, melalui sistem ini pembeli terlebih dahulu melihat barang yang dikirimkan oleh penjual. Pembeli dapat melihat dan memeriksa terlebih dahulu spesifikasi barang yang dijanjikan, kemudian melakukan pembayaran. Pemilik memiliki waktu untuk menyatakan penolakan atas barang yang telah dikirimkan oleh penjual. Keuntungan lain adalah pembeli memiliki waktu yang cukup longgar untuk menyediakan dana guna keperluan pembayaran.

Di sisi lain, resiko dapat muncul di pihak penjual, misalnya barang telah dikirimkan penjual ke pelabuhan tempat kedudukan pembeli, tetapi pembeli tidak melakukan pembayaran atau melakukan pembayaran tidak tepat waktu. Penjual

akan rugi karena telah menanamkan modal atas harga barang dan biaya-biaya lain yang dikeluarkan untuk kepentingan ongkos pengangkutan dan biaya asuransi.

Sama seperti cara pembayaran advance payment, cara pembayaran dengan open account jarang digunakan oleh pihak-pihak yang belum saling mengenal dengan baik reputasi mitra kontraknya. Oleh karena cara ini sangat menguntungkan pembeli, maka umumnya cara pembayaran open account banyak dilakukan antara induk perusahaan dan anak perusahaan. Dengan cara pembayaran kemudian, maka induk perusahaan sebenarnya telah memberikan pembiayaan kepada anak perusahaan.

Keuntungan cara pembayaran open account sama seperti pada pembayaran dengan advance payment yaitu dapat mengurangi jasa perbankan.

Sistem pembayaran ini adalah kebalikan dari sistem advance payment. Dalam hal ini yang menganggung resiko adalah eksportir, sedangkan yang mendapat fasilitas kredit atau penanggulan pembayaran adalah importir. Disebut open account (perhitungan kemudian) karena belum dilakukan pembayaran apa-apa oleh importir kepada eksportir sebelum barang-barang dikapa-apalakan atau tiba diterima importir atau sebelum waktu tertentu yang disepakati. Eksportir telah melakukan pengapalan barang, akan mengirimkan invoice kepada importir, dan tidak akan dikirimkan wesel atau instrumen lain oleh eksportir kepada importir. Dalam invoice tersebut eksportir akan mencantumkan tanggal dan waktu tertentu, importir harus melakukan pembayaran dan pemberian diskon harga bagi pembayaran yang dilakukan sebelum jatuh tempo. Jadi, transaksi ini merupakan transaksi langsung antara eksportir dan importir.

Importir akan membayar barang setelah tiba di tempat importir berada. Eksportir menanggung segala resiko, sedangkan importir mendapatkan penangguhan pembayaran.

Pembayaran dengan open account ini dilakukan apabila :

a. Adanya kepercayaan dari eksportir bahwa importir pasti akan membayar barang yang diterima tepat pada waktunya. Demikian juga keyakinan importir bahwa eksportir akan mengirimkan barang tepat waktu sesuai dengan kontrak yang dibuat dan barang yang dipesan. b. Barang komoditi yang dikirim oleh eksportir bukan merupakan barang

yang dilarang untuk diekspor.

c. Barang-barang dan dokumen akan langsung dikirim oleh pembeli. d. Eksportir harus menyediakan modal yang cukup besar, walaupun

resikonya cukup tinggi, khususnya apabila importir ingkar janji, eksportir sulit membuktikannya.

e. Barang-barang dan dokumen akan langsung dikirim oleh pembeli. f. Eksportir kelebihan dana

g. Eksportir yakin tidak ada peraturan di negara importir yang melarang/menghalang-halangi transfer pembayaran importir tersebut ke dalam rekening eksportir

Dalam transaksi ini terdapat resiko sebagai berikut :

a. Eksportir tidak mendapat perlindungan/kepastian apakah importir akan membayar.

b. Karena tidak ada bukti importir tidak mau membayar, eksportir sulit membuktikan di pengadilan bahwa ia mempunyai tagihan kepada importir.

c. Penyelesaian perselisihan akan menimbulkan ongkos bagi eksportir terutama bila ia harus datang ke tempat importir.35

4. Konsinyasi (Consignment)

Yang dimaksud dengan konsinyasi (consignment) adalah pengiriman barang-barang eksportir pada importir di luar negeri dan barang-barang tersebut dikirim oleh ekpsortir sebagai titipan untuk dijualkan oleh importir dengan harga yang ditetapkan oleh eksportir. Barang-barang tersebut dikumpul dan dijual importir yang merupakan agen dari ekspotir tersebut. Setelah barang-barang tersebut terjual, pembayarannya akan dilakukan oleh importir. Apabila barang-barang tersebut tidak terjual, akan dikembalikan kepada eksportir. Dalam sistem konsinyasi ini eksportir tetap memegang hak milik atas barang, sedangkan importir hanya merupakan pihak yang dititipi barang untuk dijual. Dengan demikian, eksportirlah yang menanggung resiko yang mungkin terjadi. Resiko ini antara lain :

a. Modal terlalu lama tertimbun pada barang yang diperdagangkan. b. Tidak ada kepastian eksportir akan menerima pembayaran.

c. Eksportir dapat menjadi korban kenakalan importir yang melaporkan barang telah terjual pada saat harga belum naik, padahal pada saat itu

barang belum dijual sehingga hasil ekspor yang diterima eksportir tidak sesuai dengan yang seharusnya diterima.

d. Bila importir tidak membayar, tidak ada bukti yang diperoleh eksportir untuk menuntut importir di pengadilan.

Selain itu, dalam hal ini importir tidak berfungsi sebagai pembeli dalam pelaksanaan pembayaran konsinyasi, melainkan hanya sebagai peneriman titipan dari supplier untuk menjual komoditi/barang tertentu yang dikirimkan. Pembayaran baru dilakukan setelah komoditi tersebut terjual, kemudian mentransfer valuta hasil penjualan kepada supplier melalui bank atau pos dan importir mendapatkan komisi dari hasil penjualan.

Dalam hal ini, konsinyasi juga dikategorikan sebagai cara pembayaran transaksi. Konsinyasi sebenarnya merupakan variasi lain dari cara pembayaran dengan menggunakan open account. Melalui konsinyasi, penjual yang terlebih dahulu mengirimkan barang. Perbedaannya dengan open account adalah mengenai waktu pembeli mengirimkan barang. Pada open account, pembeli mengirimkan harga pembelian setelah barang dikirimkan atau pada waktu tertentu yang disepakati setelah barang dikirimkan oleh penjual. Sementara pada konsinyasi, pembeli berkewajiban mengirimkan harga pembayaran barang setelah pembeli berhasil menjual barang tersebut kepada pihak ketiga.

Cara pembayaran seperti ini cenderung mengandung resiko yang sangat besar bagi penjual. Kemungkinan terjadinya wanprestasi sangat besar dan dalam keadaan tertentu sulit terpantau. Kemungkinan wanprestasi antara lain :

b. Pembeli telah berhasil menjual barang tersebut kepada pihak ketiga, tetapi pembeli menunda pembayaran kepada penjual dan menyatakan barang tersebut belum lagi terjual. Dengan demikian, pembeli mendapat keuntungan dari penundaan pembayaran tersebut.

c. Apabila pembeli telah menjual barang tersebut kepada pihak ketiga pada saat terjadinya kenaikan harga barang tersebut, tetapi memberitahukan kepada penjual bahwa barang tersebut dijual kepada pihak ketiga pada saat sebelum terjadinya kenaikan harga.

Oleh karena besarnya kemungkinan resiko yang mungkin dialami oleh penjual, maka dalam kontrak-kontrak yang menggunakan cara pembayaran konsinyasi seperti ini dilengkapi dengan klausula yang tegas tentang ganti rugi atau sanksi dalam hal terjadinya wanprestasi. Pengenalan yang baik tentang berbagai bentuk kalusula ganti rugi akan sangat membantu menghindari kerugian. Selain itu, sangat penting diatur tentang mekanisme pengawasan dalam kontrak-kontrak konsinyasi.

Mengingat resiko dalam kontrak konsinyasi, bentuk kerjasama konsinyasi jarang digunakan. Kecuali oleh pihak-pihak yang telah lama saling mengenal baik, mengetahui reputasi masing-masing dan yang terpenting para pihak telah berulang kali melakukan transaksi atau kerjasama bisnis lainnya.

Kontrak-kontrak yang menggunakan cara konsinyasi dalam pembayaran juga mempunyai berbagai keuntungan. Bagi penjual (eksportir), akan memperoleh keuntungan berupa kemudahan untuk memasarkan barang di luar negeri, karena cara ini banyak diminati oleh importir. Sementara itu bagi importir, sangat

menguntungkan karena tidak perlu mengeluarkan dana untuk pembayaran harga barang terlebih dahulu.

5. Letter of Credit (L/C)

Pembayaran transaksi dengan menggunakan L/C merupakan cara pembayaran yang paling umum digunakan dalam transaksi-transaksi bisnis, khususya transaksi jual beli barang (sales of good). Cara pembayaran dengan menggunakan L/C terlebih dahulu dicantumkan dalam sales contract. Berdasarkan klausula cara pembayaran dengan menggunakan L/C yang tercantum dalam kontrak inilah, kemudian pembeli (importir) mengajukan aplikasi L/C kepada bank devisa di negaranya (opening bank) untuk manfaat penjual. Opening bank selanjutnya akan mengirim surat L/C kepada beneficiary melalui bank korespondennya di negara penjual (eksportir). Bank koresponden/advising bank kemudian memberitahu beneficiary bahwa kepadanya telah dibuka L/C. Setelah menerima L/C tersebut, penjual (eksportir) mengirimkan barang kepada pembeli. Dokumen-dokumen asli mengenai barang itu diserahkan kepada advising bank dan duplikatnya dikirimkan kepada pembeli. Setelah melakukan penelitian terhadap kelengkapan dokumen, advising bank akan melakukan pembayaran. Dokumen yang telah diterima dan telah diterima oleh advising bank kemudian dikirim kepada opening bank/issuing bank. Setelah itu issuing bank melakukan pembayaran kepada advising bank.

Pembuka kredit (importir) membayar semua kewajiban kepada issuing bank setelah dinotifikasi bahwa semua dokumen telah datang. Issuing bank akan

mengirimkan dokumen asli kepada pembuka kredit, sebagai dasar untuk meminta barang dari pengangkut.

Dengan menggunakan L/C, pembayaran akan menjadi lebih mudah, aman, dan terjamin kelengkapan dokumen pengapalan serta resiko dapat dialihkan kepada bank yang terkait. Selain itu, bagi eksportir L/C juga dapat dijadikan jaminan untuk memperoleh pinjaman.

Cara pembayaran dengan menggunakan L/C memiliki berbagai keuntungan, tergantung pada jenis L/C yang dipergunakan. Misalnya, jenis irrevocable and confirmed L/C akan sangat menguntungkan eksportir dari segi keamanan, karena L/C seperti ini tidak dapat dibatalkan atau diubah secara sepihak selama jangka waktu berlakunya, kecuali ada persetujuan semua pihak. Jenis sight L/C dan red clause L/C juga sangat menguntungkan dan aman bagi eksportir karena eksportir bisa segera mendapat pembayaran.

Sight L/C yaitu L/C yang jika semua persyaratan telah terpenuhi, maka negotiating bank wajib membayar nominal L/C kepada eksportir paling lama dalam 7 hari kerja. Red Clause L/C yaitu pembayaran dilakukan oleh negotiating bank kepada eksportir sebelum barang dikapalkan.

Bagi importir bentuk documentary L/C mungkin akan lebih menguntungkan. Dengan bentuk ini eksportir (penjual) telah melengkapi semua syarat dokumen.

Pemilihan jenis L/C tergantung pada perjanjian dan kesepakatan yang diambil saat dilakukan korespondensi transaksi. Dengan demikian, kemampuan

bernegosisasi dan bargaining power sangat menentukan jenis L/C yang digunakan.

Pengertian Letter of Credit secara umum merupakan suatu pernyataan dari bank atas permintaan importir yang merupakan nasabah dari bank tersebut, untuk menyediakan dana dan membayar sejumlah uang tertentu untuk kepentingan pihak ketiga (eksportir). Pembukaan L/C oleh importir dilakukan melalui bank yang disebut opening bank atau issuing bank.

Pada umumnya L/C digunakan untuk membiayai kembali kontrak penjualan barang jarak jauh antara pembeli dan penjual yang belum saling mengenal dengan baik. L/C digunakan untuk membiayai transaksi perdagangan internasional. Namun, L/C bukan merupakan garansi atau surat berharga yang dapat dipindahtangankan. 36

a. Hubungan hukum antara pembeli (pemohon) dan penjual (penerima) berdasarkan kontrak penjualan.

Dalam transaksi L/C terdapat hubungan-hubungan hukum yang utama sebagai berikut :

b. Hubungan hukum antara pemohon dan bank penerbit berdasarkan permintaan penerbitan L/C sebagai kontrak.

c. Hubungan hukum antara bank penerbit dan penerima berdasarkan L/C sebagai kontrak.

d. Hubungan hukum antara bank penerbit dan bank penerus berdasarkan kontrak keagenan.

36Adrian Sutedi, Hukum Ekspor Impor, Raih Asa Sukses (Penebar Swadaya Grup), Jakarta, 2014, hal. 5.

e. Hubungan hukum antara bank penerus dan penerima berdasarkan kontrak pembayaran L/C.

Sistem pembayaran dengan menggunakan L/C merupakan cara paling aman bagi eksportir untuk memperoleh hasil penjualan barangnya dari importir, asalkan eksportir tersebut dapat menyerahkan dokumen-dokumen sesuai dengan yang disyaratkan dalam L/C. dengan penerbitan L/C ini sebuah bank bertindak sebagai pengganti importir yakni pihak yang memberikan kepercayaan dan kepastian kepada penjual bahwa pembayaran akan dilakukan oleh bank tersebut sesuai dengan persyaratan-persyaratan yang terdapat di dalam L/C.

6. Uniform Custom and Practice for Documentary Credit (UCP)

Dalam kontrak-kontrak bisnis yang berdimensi internasional selalu melibatkan lebih dari satu sistem hukum. Dalam transaksi, umumnya para pihak menginginkan kontrak bisnis diatur menurut hukum negaranya sendiri.

Untuk menghindari kesulitan dalam melakukan pemilihan hukum, dalam transaksi yang menggunakan L/C, International Chamber of Commerce (ICC) telah merumuskan UCP sebagai acuan yang sama bagi para pihak yang melakukan transaksi dengan L/C. UCP ini berasal dari kebiasaan dalam transaksi-transaksi bisnis internasional yang berkembang dari waktu ke waktu.

UCP telah mengalami beberapa kali revisi. Revisi terakhir dilakukan pada tahun 2007 dengan dihasilkan UCP dengan terbitan nomor 600 atau yang biasa dikenal dengan UCP 600. UCP 600 inilah yang kini menjadi acuan dalam transaksi bisnis internasional yang menggunakan L/C sebagai cara pembayaran.

Sebagai sebuah kerangka acuang yang sama di semua negara dalam transaksi bisnis yang menggunakan L/C, UCP memiliki beberapa karakter hukum, sebagai berikut :

a. UCP menganut prinsip separation

Dengan prinsip ini berarti perjanjian tata cara pembayaran dengan L/C merupakan kontrak yang terpisah dengan sales contract atau kontrak lainnya, meskipun dalam kontrak tersebut berisi ketentuan tentang klausula penggunaan L/C. Bank yang terlibat dalam pembayaran transaksi yang menggunakan L/C tidak bisa dilibatkan dalam kontrak bisnis para pihak. Artinya jika terjadi wanprestasi (misalnya tentang pembayaran atau pengiriman barang) dalam kontrak bisnis para pihak, maka pihak bank tidak bisa ditarik sebagai satu pihak yang terlibat dalam kontrak tersebut. Bank hanya bertanggungjawab sepanjang mengenai dokumen-dokumen L/C sesuai dengan perjanjian kredit yang bersangkutan.

b. UCP merupakan hukum yang mengatur

UCP 500 merupakan hukum yang bersifat mengatur. Sifat mengatur ini didasarkan pada prinsip lex specialis derogat lex generalis yang dianut dalam Pasal 1 UCP 600. Dengan prinsip ini berarti UCP 600 hanya akan digunakan sebagai hukum yang mengatur hubungan para pihak sepanjang mereka secara tegas mencantumkan UCP 600 dalam kontrak sebagai hukum yang mengatur hubungan mereka. UCP 600 dapat dikesampingkan para pihak jika mereka mengatur mekanisme sendiri dalam hubungan hukum antara mereka. Sifat mengatur UCP ini akan berubah menjadi memaksa apabila para pihak secara tegas

dalam klausula L/C memilih untuk menerapkan UCP 600. Dengan demikian jika terjadi perselisihan mengenai L/C sebagai cara pembayaran, maka terlebih dahulu dilihat dalam perjanjian L/C yang bersangkutan apakah diatur mekanisme sendiri atau ada klausula penujukan kepada UCP 600.

7. Commercial Bills of Exchange

Cara ini yang paling umum dipakai. Commercial Bills of Exchange sering disebut Draft atatu Trade Bills, adalah surat yang ditulis oleh penjual yang berisi

Dokumen terkait