BAB II : WANPRESTASI DAN PENYELESAIAN DALAM PROSES
B. Sistem pembayaran yang dilakukan oleh customer kepada PT
Berdasarkan Pasal 1457 KUHPerdata pengertian jual-beli adalah “ Suatu persetujuan, dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk menyerahkan suatu kebendaan, dan pihak yang lain untuk membayar harga yang telah dijanjikan “.
Berdasarkan pengertian dari jual beli diatas dapat dimengerti bahwa jual-beli merupakan perjanjian timbal balik dimana pihak satu memberikan prestasi dan pihak yang lain memberikan kontra prestasi.
Seperti yang dilakukan dalam praktek jual-beli antara PT. Hilon Sumatera dengan para customernya, mereka telah membuat sebuah perjanjian dalam proses pembayarannya. Dimana perjanjian tersebut berbeda-beda bagi setiap customer karena para customer tidak hanya berasal dari seorang agen atau toko bahkan instansi, namun ada juga yang berasal dari individu.
Berdasarkan keterangan dari Bapak Jurelly Lubis selaku Manager Marketing di PT. Hilon Sumatera, sistem pembayaran yang diperjanjikan antara customer dengan pihak mereka sesungguhnya berbeda dari setiap customer antara lain :
1. Customer agen/toko
Hubungan bisnis dengan nama keagenan dan dengan nama-nama distributor adalah berbeda. Namun dalam praktik bisnis sehari-hari keduanya
biasa digabungkan. Bila seseorang/badan bertindak sebagai agen, berarti ia bertindak untuk dan atas nama prinsipal. Sedangkan bila seseorang/badan bertindak sebagai distributor, berarti ia bertindak untuk dan atas nama dirinya sendiri.47
Namun sewaktu awal PT. Hilon Sumatera berdiri yaitu pada tahun 2002-2005 sistem yang pernah diterapkan oleh perusahaan adalah sistem titip barang ( konsinyasi ), Yaitu pihak PT. Hilon menitipkan barang kepada agen atau toko
Seorang agen yang menjadi customer yang membeli barang dari PT.
Hilon Sumatera pada umumnya seperti marketing bayangan. Maksud marketing bayangan ialah, seorang agen atau pemilik toko yang membeli barang berjumlah cukup besar yang kemudian dijual kembali kepada customer yang membeli dengan skala yang lebih kecil atau sasarannya adalah masyarakat desa pelosok atau perkampungan.
Berdasarkan keterangan informan dari pihak PT. Hilon Sumatera sistem perjanjian pembayaran yang dilakukan PT. Hilon Sumatera dengan Customer mereka yang berasal dari seorang agen atau pemilik toko biasa membayar dengan jangka waktu per bulan. Dimana sistem pembayaran yang dilakukan secara perbulan ini sebelumnya telah diperjanjikan antara marketing dari pihak perusahaan dengan agen berdasarkan perjanjian yang telah disepakati kedua belah pihak. Jadi barang didistribusikan oleh PT.Hilon Sumatera kepadacustomer lalu berdasarkan perjanjian pembayarannya, customer membayar setelah barang habis atau sesuai apa yang diperjanjikan.
47Richard Burton Simatupang, Aspek Hukum Dalam Bisnis ( Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2007 ), hal 53
dengan jumlah tertentu lalu pada saat barang yang dititipkan tersebut telah habis terjual barulah pihak kolektor menagih pembayarannya.
Hal ini bisa disebut sebagai suatu metode atau cara PT. Hilon Sumatera mengenalkan produknya diawal-awal mereka mendirikan perusahaan, namun sekarang sistem titip barang sudah tidak dipergunakan kembali, karena telah banyak terjadi pelanggaran yang dilakukan customer dalam hal ini.
2. Customer Instansi
Customer yang berasal dari sebuah instansi biasanya berasal dari sebuah instansi rumah sakit umum maupun rumahsakit daerah. Yang mana dalam proses pembayarannya dilakukan dengan sistem yang berbeda dengan sistem pembayaran yang dilakukan oleh pihak agen atau pemilik toko, Yaitu perjanjian pembayaran yang dilakukan sebuah instansi kepada PT. Hilon Sumatera biasa berbentuk tunai, jadi tidak ada menunggu jangka waktu lagi. Begitu barang selesai didistribusikan ke sebuah instansi yang dituju biasanya uang langsung dibayar kepada kolektor dari PT. Hilon Sumatera. Alasan PT. Hilon Sumatera menerapkan hal ini dikarenakan pihak dari instansi tidak setiap waktu mengambil barang kepada PT. Hilon Sumatera.
3. Customer Rekanan
Kehidupan sehari-hari kita sering menyaksikan berbagi aktivitas seorang kelompok atau sejumlah orang mengeluarkan sejumlah uang untuk membeli sejumlah barang, kemudian barang tersebut dipajang atau diproduksi kembali menjadi barang yang lebih bernilai untuk dijual kembali kepada konsumen.48
48Kasmir, Kewirausahaan (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2011), hal. 18
Yang dimaksud customer rekanan ialah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan keperluan tempat tidur seperti perusahaan pembuatan kasur dan lainnya. biasa pihak rekanan dari PT. Hilon Sumatera mengambil bantal ataupun guling dalam jumlah besar.
Dalam hal ini sistem pembayaran yang diterapkan oleh PT. Hilon Sumatera adalah sistem DP atau biasa kita kenal uang muka. Setelah uang muka dibayar barulah PT. Hilon Sumatera mulai mendistribusikan barang kepada pihak rekanan.
4. Customer luar kota
Melihat jarak yang cukup jauh dengan keberadaan PT. Hilon Sumatera memproduksi barang, maka dalam hal ini sistem pembayaran yang diterapkan oleh customer adalah dengan sistem kirim uang terlebih dahulu kemudian baru didistribusikan barang atau biasa disebut sistem deposit.
Hal ini untuk menjaga kerugian yang mungkin dapat diderita oleh PT.
Hilon Sumatera selaku penyedia barang tersebut. Namun dalam hal ini uang yang dikirim ada yang berjumlah sekaligus, ada juga yang separuh harga dari harga keseluruhan kemudian baru dilunasi ketika barang sampai kepada customer yang ada di luar kota.
5. Customer Individu
Customer individu biasanya berasal dari kalangan yang sudah mengenal dimana lokasi dari PT. Hilon Sumatera, karena biasa masyarakat atau customer individu ini langsung mengunjungi toko yang berada diarea tempat perusahaan memproduksi barang. Sehingga disini sistem pembayarannya adalah langsung
tanpa menunggu jangka waktu.49
3. Wanprestasi dan Penyelesaian yang dilakukan PT. Hilon Sumatera dan Customer dalam Proses Pendistribusian Barang ( Bantal, Guling, Bed Cover dan Matras )
Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam sistem pembayaran yang dilakukan oleh customer kepada PT. Hilon Sumatera berbeda-beda sistemnya, dilihat berdasarkan perjanjian dan siapa customer yang membeli barang dari PT. Hilon Sumatera.
Kemudian dari semua customer yang membeli barang dari PT. Hilon Sumatera melakukan pembayaran dengan Uang Tunai, Cek, maupun Giro. Dan yang terlihat jelas disini perjanjian yang dipergunakan PT. Hilon Sumatera mengikuti kemauan dari customer maupun dari pihak PT. Hilon Sumatera sendiri dalam sistem pembayarannya.
Perseroan terbatas adalah persekutuan yang berbentuk badan hukum.
Badan hukum ini tidak disebut “persekutuan”, tetapi “perseroan”, sebab modal badan hukum ini terdiri dari sero-sero atau saham-saham. Istilah “terbatas” tertuju pada tanggungjawab pesero atau pemegang saham, yang luasnya terbatas pada nilai nominal semua saham yang dimilikinya.50
49Hasil Wawancara dengan narasumber Jurelly Lubis sebagai Manager Marketing, pada tanggal 02-November-2016 di kantor PT. Hilon Sumatera.
50H.M.N Purwosutjipto, Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia ( Jakarta : Djambatan, 2007 ), hal. 88
Perseroan terbatas merupakan bentuk usaha yang paling sempurna diantara berbagai bentuk badan usaha lainnya seperti Maatschap, baik firma maupun persekutuan komanditer (CV). Namun
demikian, keberadaan PT tidak bisa dilepas dari bentuk-bentuk badan usaha yang lebih sederhana.51
Opini yang tampil yang tampil dipermukaan hukum telah mengalami kegagalan.ada kesan para ahli hukum tidak kreatif menggunakan cara lain untuk mengakomodasi hak-hak rakyat. Cara lain yang dimaksud tidaklah ditujukan untuk mendorong para ahli hukum menggunakan cara-cara yang bertentangan dengan ilmu hukum. Bahkan tatkala jalur-jalur alternatif telah menang dengan megedepankan cara-cara baru yang semula tidak lazim, para ahli hukum masih terkungkung dengan penyelesaian yang tidak responsif.
Selepas reformasi total menjatuhkan rezim Orde Baru, kita menyaksikan hingga kini, kita masih disuguhkan cara-cara penyelesaian hukum lama (konvensional) terhadap berbagai masalah ketidakadilan yang dialami rakyat.
Cara-cara tidak responsif yang ditampilkan mayoritas ahli hukum kita , semakin melestarikan ketidakadilan yang terjadi. Sementara itu reformasi total menghendaki pembaharuan hukum menyangkut, hukumnya, aparat penegak hukumnya, masyarakat pendukungnya dan budaya hukumnya nyaris tersendat-sendat. Ironisnya ditengah-tengah situasi yang masih abnormal, para ahli hukum menggunakan cara-cara penyelesaian hukum yang lazim di situasi normal.
52
PT. Hilon Sumatera yang termasuk salah satu badan usaha yang berbentuk badan hukum merupakan salah satu perusahaan yang taat akan peraturan hukum yang berjalan di Indonesia. Dimana dalam masalah-masalah
51Mulhadi, Hukum Perusahaan ( Bandung : Ghalia Indonesia, 2010 ), hal. 81
52Yusuf Shofie, Sengketa Konsumen ( Bandung : PT. Citra Aditya Bakti , 2003 ), hal. 1
yang timbul antara PT. Hilon Sumatera selaku penyedia dan pendistribusi barang dengan customer selaku konsumen yang menikmati barang dari PT. Hilon Sumatera, tentunya harus diselesaikan dengan baik agar kedua belah pihak tidak larut dalam masalah mereka.
Masalah yang disebabkan oleh PT. Hilon Sumatera telah banyak dijelaskan pada pembahasan sebelumnya beberapa diantaranya tentang:
1. Keterlambatan pendistribusian barang;
2. Hilangnya barang yang disebabkan pencurian dari aksi bajing loncat;
3. Kecelakaan lalu lintas serta;
4. Kualitas barang yang menurun atau cacat tersembunyi karena penyimpanan.
Masalah yang timbul tidak hanya disebabkan oleh PT. Hilon Sumatera selaku pendistribusi barang, melainkan masalah atau pelanggaran juga disebabkan oleh pihak customer atau konsumen sebagai penikmat barang tersebut.
Beberapa masalah atau pelanggaran yang dilakukan pihak customer kepada PT.
Hilon Sumatera berdasarkan keterangan dari pihak perusahaan adalah:
a. Keterlambatan membayar
Keterlambatan membayar yang dimaksud adalah, seorang customer terlambat membayar memiliki alasan-alasan lain. Diantaranya ada customer yang memang belum memiliki uang untuk membayar tagihan dikarenakan barang yang dijualnya belum laku atau karena hal lainnya. ada juga customer yang memang sengaja memperlambat pembayaran kepada PT. Hilon Sumatera.
b. Tidak membayar sama sekali
Tidak membayar sama sekali ini dikategorikan sebagai awal niat dari seorang customer untuk melarikan diri atas tagihan yang ditujukan olehnya.
Namun ada beberapa kasus yang ditemui PT. Hilon Sumatera bahwa customer yang tidak membayar ini dikarenakan pihak customer memang sedang mengalami kebangkrutan atas usaha yang dijalankannya.
c. Customer melarikan diri
Customer melarikan diri, ini terjadi saat barang selesai didistribusikan kemudian customer tersebut tidak berada ditempat kediamannya malakukan usaha dagangnya. Hal ini tentunya menjadi resiko kerugian bagi PT. Hilon Sumatera.
Berdasarkan keterangan dari pihak PT. Hilon Sumatera, Dari keseluruhan masalah yang ada antara PT. Hilon Sumatera dengan para Customernya, mereka tentunya tidak memilih jalur hukum sebagai penyelesaiannya. Hal ini disebabkan beberapa alasan mereka. Antara lain yaitu :
1. Masalah waktu yang terlampau lama
Terkendala masalah waktu, yaitu dari pihak PT. Hilon Sumatera sebagai perusahaan yang terus memproduksi barang keperluan tempat tidur, mereka tidak menyukai penyelesaian yang terlalu lama dan cenderung sengaja dilama-lamakan oleh pihak pengadilan
2. Masalah biaya yang dikeluarkan untuk biaya persidangan
Selama PT. Hilon Sumatera berdiri hingga sampai saat ini, jumlah biaya yang menjadi persoalan lebih kecil daripada biaya persidangan yang harus dibayar kepada pengadilan. Olehkarena itu pihak PT. Hilon Sumatera dan customer sepakat untuk tidak memilih jalur hukum.
3. Masalah solusi yang dihasilkan tidak sesuai
Alasan solusi yang tidak sesuai inilah yang menjadi ketidaktertarikan PT.
Hilon Sumatera dan customer cenderung tidak memilih jalur hukum di pengadilan.
Tentunya pihak PT. Hilon Sumatera dan customer memiliki upaya masing-masing dalam menuntut masing-masing pihak jika salah satu dari mereka ada yang melakukan pelanggaran. Berdasarkan Pasal 1338 KUHPerdata yang isinya “semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi m ereka yang membuatnya. Suatu perjanjian tidak dapat ditarik kembali selain dengan sepakat kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang oleh undang-undang dinyatakan cukup untuk itu”
Berdasarkan pengertian dari Pasal 1338 KUHPerdata diatas, maka dapat dimengerti bahwa kesepakatan yang dilakukan oleh PT. Hilon Sumatera dengan customer adalah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuat kesepakatannya. Diketahui disini bahwa selama PT. Hilon Sumatera berdiri perjanjian yang dibuat antara PT. Hilon dengan Customer hanya berbentuk perjanjian sederhana yang isi dari perjanjian tersebut memuat
a. Identitas para pihak;
b. Isi pasal dari perjanjian;
c. Proses penyelesaian yang disepakati;
d. Ditandatangani para pihak yang ditempel materai.
Format perjanjian yang sederhana inilah PT. Hilon Sumatera melakukan perjanjian dengan para customernya. Memang format ini terlihatsederhana, namun
tujuan dari pihak PT. Hilon Sumatera membuat perjanjian yang sederhana ialah untuk memudahkan mereka melakukan negosiasi ataupun memberikan toleransi kepada para customer yang melakukan kesalahan.
Seperti contoh yang dijelaskan oleh bapak Jurelly Lubis, bahwa jika ada seorang customer yang telat membayar, mereka tidak langsung marah kepada customer. Melainkan, mereka memberikan dukungan kepada customer, karena bisa saja customer telat membayar dikarenakan penjualan yang kurang aktif jadi dari pihak PT. Hilon Sumatera memberikan dorongan agar customer lebih bersemangat dalam melakukan usahanya sehingga barang-barang dapat terjual cepat dan customer membayar sesuai dengan tepat waktu.
Kemudian untuk masalah customer yang bangkrut dan tidak bisa membayar sama sekali, hal ini dimasukkan kedalam catatan tahunan di anggaran PT. Hilon Sumatera sebagai kerugian dalam divisi pemasaran atau bisa dibilang ini sudah menjadi risiko dari PT. Hilon Sumatera. Namun hal ini tidak pernah terjadi dengan kerugian yang besar. Karena untuk beberapa perjanjian dengan jumlah yang besar biasanya.
PT. Hilon Sumatera hanya memberikan kepada sebuah rekanan atau perusahaan lain dengan meminta DP atau uang muka terlebih dahulu. Jadi untuk kerugian yang menjadi risiko PT. Hilon Sumatera ini biasa hanya setingkat toko atau agen yang mengambil dalam jumlah banyak namun tidak begitu besar jumlahnya.Lalu untuk seorang customer yang melarikan diri. Hal ini lebih serius ditangani oleh PT. Hilon Sumatera.
Langkah yang dilakukan PT. Hilon Sumatera adalah menelusuri data identitas customer dalam surat perjanjian sederhana yang dibuat mereka, dimana pihak PT. HilonSumatera mengutus perwakilan kealamat yang tertera di identitas tersebut. Namun jika dilakukan pencarian tidak ditemukan juga customer yang melarikan diri maka pihak PT. Hilon Sumatera melakukan blacklist kepada customer tersebut dan memasukkan kerugian tersebut kedalam catatan anggaran tahunan PT. Hilon Sumatera. Sekali lagi dijelaskan bahwa hal ini biasa hanya terjadi kepada kerugian-kerugian yang jumlahnya tidak begitu besar.
Sementara jika ada kesalahan atau pelanggaran perjanjian dari PT. Hilon Sumatera kepada customer seperti terlambatnya barang sampai dan adanya cacat tersembunyi. Biasanya pihak customer hanya melakukan peneguran berupa klaim kepada pimpinan PT. Hilon Sumatera atas pelayanan PT. Hilon Sumatera kepada customer yang tidak sesuai perjanjian. PT. Hilon Sumatera selaku penyedia dan pendistribusi barang melakukan hal ganti kerugian atas kesalahan mereka, salah satunya adalah mengganti barang-barang yang mengalami cacat penuh atau cacat tersembunyi, namun cacatnya harus ditelusuri terlebih dahulu oleh pihak PT.
Hilon Sumatera, benar atau tidak barang tersebut cacat sejak awal pendistribusian atau cacat saat berada di tempat customer.53
53Hasil Wawancara dengan narasumber Megawati Tarigan sebagai Kepala Personalia, pada tanggal 02-November-2016 di kantor PT. Hilon Sumatera.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Setelah membahas skripsi ini beserta permasalahannya maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Pelaksanaan proses pendistribusian yang dilakukan oleh PT. Hilon Sumatera menggunakan armada angkutan darat yaitu menggunakan mobil box, dimana jumlah armada mobil box yang dimiliki PT Hilon
Sumatera berjumlah 8 (delapan) mobil yang dipergunakan untuk mendistribusikan barang didalam kota maupun diluar kota. Proses pelaksanaan pendistribusian barang yang dilakukan oleh PT. Hilon Sumatera sesungguhnya tidak selalu mengalami proses yang lancar, dikarenakan ada beberapa hal yang menjadi kendala. Beberapa kendala tersebut merupakan hal internal dan eksternal yang menjadi faktor kendala atau penghambat bagi PT. Hilon Sumatera dalam mendistribusikan barang kepada customer atau konsumen. Faktor internalnya adalah mobil box mati ditengah jalan, kecelakaan lalu lintas, dan kualitas barang yang menurun, sedangkan faktor eksternalnya adalah adanya aksi bajing loncat atau pencurian barang saat proses pendistribusian barang.
2. Proses pembayaran yang dilakukan customer atau konsumen kepada PT.
Hilon Sumatera memiliki cara dan waktu yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan dan kepercayaan yang dibangun antara PT. Hilon Sumatera dan para customernya atau konsumennya. Proses pembayarannya dapat disimpulkan secara umum yaitu dengan sistem titip barang (Konsinyasi) namun sistem pembayaran ini hanya berlaku pada saat awal PT. Hilon berdiri sejak tahun 2002-2005 yaitu merupakan salah satu teknik pemasaran produk agar dapat dikenal masyarakat, kemudian sistem deposit atau dalam pengertiannya customer membayar uang atau mentransfer uang lalu PT. Hilon Sumatera mengirim barang.
Terakhir adalah sistem bayar langsung, yaitu begitu barang sampai
dikirim langsung dibayar, dan dari keseluruhan sitem pembayaran tersebut jumlah uang yang dibayar dapat berbentuk tunai, cek, ataupun giro yang pada saat hari itu juga dapat dicairkan.
3. Sesuai dengan isi perjanjian dengan format sederhana yang berisikan identitas para pihak serta pasal-pasal perjanjian yang disepakati dengan dilengkapi materai tertulis bahwa PT. Hilon Sumatera akan menempuh jalan negosiasi terlebih dahulu jika ada masalah diantara PT. Hilon Sumatera dengan para customer atau konsumennya.Namun jika masalah atau kerugian yang ditimbulkan terlalu besar ada kemungkinan bagi PT.
Hilon Sumatera untuk menuntut customer ataupun customer menuntut PT. Hilon Sumatera secara hukum perdata maupun pidana. Namun selama PT. Hilon Sumatera berdiri hingga sekarang belum sekalipun ada masalah yang dibawa sampai ke pengadilan.
B. Saran
1. Proses pendistribusian barang yang dilakukan PT. Hilon Sumatera tentunya pihak PT. Hilon Sumatera harus lebih fokus dalam melakukan pergantian atau peremajaan armada mobil box yang mereka miliki agar hal-hal seperti mobil mati ditengah jalan tidak terjadi lagi sehingga pendistribusian barang mengalami kelancaran dan tentunya untuk menghindari pencurian yang terjadi dalam proses pendistribusian, pihak
PT. Hilon Sumatera harus membuat pengamanan yang lebih ketat lagi sepeti membuat kunci ganda pada armada mobil box yang mereka miliki.
2. Sistem pembayaran yang diperjanjikan antara PT. Hilon Sumatera dengan para customer atau konsumennya sebenarnya sudah terlihat baik dan memudahkan serta memberikan keringanan kepada beberapa konsumen yang kurang memiliki modal. Namun dalam sistem pembayaran tersebut haruslah lebih diperketat dengan akibat-akibat jika customer telat membayar seperti mengambil barang kembali jika customer atau konsumennya tidak sanggup membayar agar tidak terjadi lagi masalah tentang customer atau konsumen yang melarikan diri, agar kerugian yang diderita tidak begitu banyak.
3. Solusi atau jalan keluar yang ditempuh oleh PT. Hilon Sumatera dengan customer atau konsumennya jika terjadi masalah atau pelanggaran yang kita sebut dengan wanprestasi, mereka mengambil langkah negosiasi atau berdiskusi dengan para customer atau konsumennya dengan tujuan agar masalah dapat diselesaikan secara kekeluargaan. Sistem penyelesaian seperti ini sangat baik diterapkan untuk menghindari permasalahan yang lebih rumit dan memerlukan waktu panjang untuk penyelesaiannya.
DAFTAR PUSTAKA A. Buku-Buku
Adonara, Firman Floranta, 2014, Aspek-Aspek Hukum Perikatan, Mandar Maju, Bandung.
Badrulzaman, Mariam Darus, 2015, Hukum Perikatan, Citra Aditya Bakti, Bandung.
Fuady, Munir, 2007, Hukum Kontrak dari Sudut Pandang Hukum Bisnis, Citra Aditya Bakti, Bandung.
Hernoko, Agus Yudha, 2013, Hukum Perjanjian, Kencana, Jakarta.
Kasmir, 2011, Kewirausahaan, Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Kristiyanti, Celina Tri Siwi, 2014, Hukum Perlindungan Konsumen, Sinar Grafika, Jakarta.
Marzuki, Peter Mahmud, 2014, Penelitian Hukum, Prenada Media Grup, Jakarta.
Meliala, Djaja S, 2015, Perkembangan Hukum Perdata tentang Benda dan Hukum Perikatan, Nuansa Aulia, Bandung.
Mertokusumo, Sudikno, 2005, Mengenal Hukum, Liberty, Yogyakarta.
Miru, Ahmad, 2011, Hukum Kontrak Perancangan Kontrak, Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Mulhadi, 2010, Hukum Perusahaan, Ghalia Indonesia, Bandung.
Purba, Radiks, 1997, Mengenal Asuransi Angkutan Darat dan Udara, Djambatan, Jakarta.
Purwosutjipto, H.M.N, 2007, Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia, Djambatan, Jakarta.
Santiago, Faisal, 2012, Pengantar Hukum Bisnis, Mitra Wacana Media, Jakarta.
Shofie, Yusuf, 2003, Sengketa Konsumen, Citra Aditya Bakti, Bandung.
Simatupang, Richard Burton, 2007, Aspek Hukum Dalam Bisnis, Rineka Cipta, Jakarta.
Sunggono, Bambang, 1997, Metodologi Penelitian Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Sunyoto, Danang, 2016, Hukum Bisnis, Pustaka Yustisia, Jakarta.
Susanto, Happy, 2008, Hak-Hak Konsumen Jika Dirugikan, Transmedia Pustaka, Jakarta.
Sutedi, Ardian, 2008, Tanggungjawab Produk Dalam Hukum Perlindungan Konsumen, Ghalia Indonesia, Jakarta.
Widjaya, I.G.Rai, 2006, Hukum Perusahaan Perseroan Terbatas, Kesaint Blanc, Jakarta.
B. Undang-Undang
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen.
Undang-Undang No. 7 Tahun 2014 Tentang Perdagangan.
Peraturan Menteri Perdagangan No. 22/M-DAG/PER/3/2016 tentang Ketentuan Umum Distribusi Barang.
C. Internet
KBBI. Diakses melalui internet pada tanggal 28-Oktober-2016. Pukul 19:41 Wib.
Diakses melalui internet http//vauzudotnet.wordpress.distribusi-menurut-para-ahli pada tanggal 9 November 2016 Pukul 13.00 Wib.
Diakses melalui internet www.artikelekonomi.com pada tanggal 9 November 2016 Pukul 13.32 Wib.