• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Sistem Pemeliharaan Usaha Ternak Sapi Potong Di Daerah Penelitian

Di daerah penelitian, mayoritas peternak sapi potong masih mengusahakan ternak sapinya secara sederhana yaitu bentuk pemeliharaan dengan tata pelaksanaannya tidak terprogram dengan baik, kandangnya hanya dibangun dengan sekedarnya saja hanya untuk tempat berlindung dari teriknya matahari diwaktu siang dan untuk melindungi ternak dari udara yang dingin diwaktu malam, dalam pengembalaannya ternak sapi potong hanya dilepas di lapangan atau hamparan padang rumput yang agak jauh dari pemukiman peternak.

Usaha ternak sapi potong yang dilakukan secara sederhana tidak terlalu memikirkan hasil produksinya karena peternak menganggap tingkat usaha seperti ini masih menonjolkan kepentingan keluarga, serta aspek kepuasan dipandang lebih utama, karena peternak dianggap telah memiliki tabungan berbentuk ternak yang dapat dijual pada saat dibutuhkan dalam keadaan tidak terduga. Proses sistem pemeliharaan yang dilakukan oleh peternak sapi potong di daerah penelitian adalah sebagai berikut :

a. Perkandangan

Di daerah penelitian, kandang dibangun dengan arah utara – selatan, agar sinar matahari pada waktu pagi hari tetap masuk kandang dan tidak begitu panas. Sinar matahari pada pagi hari mengandung sinar ultraviolet sangat penting untuk membasmi kuman dan membantu pembentukan vitamin pada ternak sapi potong. Kebutuhan kandang sangat penting sekali sebagai pelindung panas, hujan, dingin dan tiupan angin yang sangat kencang. Selain itu juga memudahkan pemeliharaan seperti pengontrolan penyakit dan pengobatan. Pembuatan ventilasi dibuat sehingga udara tetap bisa keluar masuk pada kandang.

Atap kandang kebanyakan terbuat dari rumbia atau nipah. Hal ini dipilih karena biayanya lebih murah dan sesuai dengan keadaan perekonomian peternak tersebut, rumbia atau nipah tersebut juga tidak begitu menyerap panas matahari sehingga kondisi kandang tidak terlalu panas pada siang hari dan tidak telalu dingin pada malam harinya. Dinding kandang terbuat dari papan dan kayu ataupun dari bambu, dan dengan adanya ventilasi untuk keluar masuknya udara dalam kandang, lantai kandang ternak tersebut juga masih terbuat dari tanah.

Perkandangan sapi potong dibangun berdekatan dengan rumah penduduk atau peternak agar para peternak dapat lebih mudah mengawasi usaha ternaknya tersebut. Ukuran dari masing – masing kandang disesuaikan dengan jumlah ternak dari setiap peternak. Tidak ada peternak yang memiliki dua kandang atau lebih yang berarti tidak ada peternak yang melakukan pemisahan kandang berdasarkan umur ternak sapi potong.

Kandang pemeliharaan ternak sapi potong tersebut tidak dipisahkan sesuai dengan umur ternak sapi potong, tetapi seluruh ternak tersebut dipelihara dalam satu kandang. Alasan peternak melakukan hal ini karena keterbatasan modal dan lahan untuk usaha ternak sapi potong tersebut, dan hal ini dianggap peternak masih sangat wajar, karena peternak masih dapat merasakan keuntungan dari hasil ternak sapi potongnya, walaupun hanya dipelihara dalam kandang yang seadanya saja.

b. Penyediaan Bibit

Para peternak di daerah penelitian memilih jenis bibit ternak sapi potong lokal. Cara perkawinan yang dilakukan oleh peternak adalah kawin secara alamiah yaitu proses pemasukan sperma pada alat kelamin betina yang dilakukan oleh pejantan itu sendiri atau secara kontak langsung dengan sapi betina. Perkawinan antara induk dan pejantan terjadi

dilokasi pemeliharaan maupun di lokasi penggembalaan tanpa diawasi dan ditangani secara khusus, tetapi ada juga peternak yang mencoba untuk menggunakan Inseminasi Buatan (IB) dengan biaya sekali suntuknya yaitu sebesar Rp. 50.000.

Umumnya jenis bibit ternak sapi potong sebagai pejantan adalah jenis sapi lokal, seperti sapi rambon atau sapi aceh. Para peternak ada juga yang memperoleh bibit dari daerah lain, peternak membeli bibit atau bakalan sapi lokal yang berumur 2,5 – 3 tahun, kemudian setelah berumur 4 – 5 tahun keatas sapi potong telah siap untuk dijual dengan bobot berkisar antara 300 – 400 Kg.

c. Pemberian pakan hijauan

Pakan hijau merupakan makanan pokok bagi ternak sapi potong. Ternak sapi potong dapat memperoleh pakan hijauan di lokasi penggembalaan, ternak sapi potong digiring dan ditunggui oleh penggembala sampai waktunya pulang sore hari atau setelah matahari terbenam. Biasanya ternak sapi potong diangon atau digembalakan pada siang hari sampai sore hari sekitar pukul 10.00 wib – 18.00 wib, untuk menghindari penyakit kembung pada sapi potong jika memakan rumput yang masih berembun pada pagi hari, sedangkan pemberian pakan hijauan di kandang pada sore hari ketika ternak sapi potong baru pulang dari lokasi penggembalaan hingga esok paginya yang diberikan secara bertahap. Jenis pakan hijauan yang diberikan untuk ternak sapi potong tersebut adalah jenis rumput lapangan dan rumput gajahan ( King Grass). Banyaknya pakan hijauan yang diberikan tergantung pada populasi ternak sapi potong yang dipelihara, biasanya sampai 2 – 4 goni dengan harga Rp.20.000/goni, tetapi kebanyakan peternak masih mengambil pakan rumput tersebut dari padang rumput tempat sapi di gembalakan yang dibawa pulang ketika sapi telah siap di angon.

d. Pemberian pakan konsentrat

Pakan konsentrat sering disebut makanan tambahan atau makanan penguat yang sangat berguna bagi ternak sapi potong, terutama ternak yang sedang hamil atau sedang menyusui untuk merangsang air susu yang baik dan bagi ternak yang dalam masa pertumbuhan, karena pemberian bahan konsentrat dapat menambah nafsu makan, contoh bahan – bahan konsentrat yaitu seperti dedak padi, bungkil kelapa sawit, tepung jagung, ampas tahu, kulit buah kakao, singkong, ubi jalar, tepung terigu dan lain sebagainya.

Menurut literatur (Tabloid Sinar Tani, 2010) bahwa pada setiap usaha peternakan, pakan merupakan salah satu faktor yang menentukan kualitas produksi ternak tersebut, selain pakan yang berupa hijauan, para peternak yang lebih maju pada umumnya juga telah memberikan pakan konsentrat, terutama pada usaha penggemukan ternak potong, tetapi peternak di daerah penelitian tidak memberikan pakan konsentrat tersebut selain disebabkan oleh keterbatasan modal yang mereka miliki, faktor pola pikir mereka yang masih menganggap pakan konsentrat tidak terlalu penting atau tidak dibutuhkan dalam usaha ternak sapi mereka juga, hal itu disebabkan karena pengetahuan peternak mengenai manfaat pakan konsentrat masih sangat kurang.

Konsentrat atau ransum, merupakan campuran dari dua atau lebih bahan pakan yang diberikan untuk ternak sapi potong. Ransum harus dapat memenuhi kebutuhan zat gizi yang diperlukan ternak sapi potong untuk berbagai fungsi tubuhnya, yaitu untuk hidup pokok, produksi maupun reproduksi.

Pada umumnya ransum untuk ternak terdiri dari pakan hijauan dan pakan konsentrat. Pakan pokok dapat berupa rumput, legume, perdu, pohon – pohonan serta tanaman sisa panen, sedangkan pakan konsentrat antara lain berupa biji – bijian, bungkil, bekatul dan tepung ikan. Ransum seimbang adalah ransum yang diberikan selama 24 jam

yang mengandung semua zat nutrisi dalam arti jumlah dan macam nutrisinya dalam perbandingan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi sesuai dengan tujuan pemeliharaan ternak.

Pakan seimbang bukan merupakan hal yang sulit untuk diwujudkan karena kita hanya dituntut untuk pintar mengkombinasikan bahan pakan yang ada di sekitar kita, dengan mengkombinasikan bahan pakan yang tersedia serta penggunaan suplemen dari bahan pakan lokal diharapkan akan tercipta ransum yang murah tetapi mampu memberikan hasil yang optimal, sehingga dapat diterapkan juga pada usaha ternak sapi potong yang ada di lokasi penelitian.

e. Pemberian air minum

Di daerah penelitian air minum untuk ternak sapi potong selalu disediakan dalam kandang yang diletakkan di tempat ember air minum. Pemberian air minum untuk sapi potong di daerah penelitian ini diberikan secukupnya dan dilakukan pada sore hari setelah sapi potong pulang dari penggembalaan. Sumber air minum untuk ternak sapi potong tersebut berasal dari air sumur di dekat pekandangan sapi potong tersebut dan di daerah penelitian ketersediaan air bersih masih sangat mencukupi.

f. Kebersihan sapi potong dan kandang

Di daerah penelitian kebersihan kandang dilakukan dengan cukup baik, dimana kebersihan kandang dilakukan setiap hari sekali yaitu pada siang hari sampai dengan sore hari pada saat sapi potong sedang digembalakan. Pada malam hari juga dilakukan pengasapan agar kondisi kandang tetap baik dan juga untuk mencegah datangnya lalat yang dapat mengganggu kesehatan sapi potong. Kebersihan kandang sangat perlu dilakukan untuk

menunjang kesehatan sapi potong, selain untuk menjaga kelembaban kandang, hal tersebut juga dilakukan untuk menghindari adanya lalat atau serangga lain yang sering terdapat pada kandang ternak sapi potong tersebut.

g. Pemberian obat - obatan

Peternak sapi potong yang berada di daerah penelitian, pada umumnya masih memberikan obat – obatan alami bila ternak sapi potong mereka terserang penyakit. Peternak memberikan obat – obatan alami untuk menyembuhkan penyakit yang sering timbul seperti diare dan masuk angin. Pemberian obat pada ternak sapi potong juga dapat dilakukan secara suntikan dengan bantuan dokter hewan atau juga dapat langsung diberikan melalui mulut ternak sapi oleh bantuan peternak sapi potong tersebut, bila sapi potong menderita penyakit diare atau masuk angin umumnya peternak memberikan obat suntikan teramisin atau dengan memberi makan obat ramuan dengan rempah – rempah, seperti kunyit, jahe dan bahan – bahan lainnya.

Dari penjelasan yang telah dijabarkan di atas yaitu mengenai sistem pemeliharaan usaha ternak sapi potong di desa Cinta Rakyat kecamatan Percut Sei Tuan kabupaten Deli Serdang, yaitu usaha ternak sapi potong di daerah penelitian pelaksanaan pemeliharaannya masih tergolong tradisional (ekstensif), hal ini dapat dibuktikan yaitu selama proses pemeliharaan ternak, perawatan ternak hingga ternak sapi potong tersebut dapat dijual, proses pemeliharaan tersebut dikerjakan secara sederhana atau tidak menggunakan kandang yang sesuai dengan umur ternak sapi potong dan pakan yang diberikan juga hanya mengandalkan pakan hijauan, tanpa ada dberikan pakan tambahan atau konsentrat dalam usaha ternak sapi potong tersebut.

Dimana menurut (Sugeng, 2008), usaha ternak sapi potong yang dilakukan secara ekstensif adalah usaha ternak yang dalam tahapan proses pemeliharaannya tidak dilakukan secara terprogram atau khusus serta tidak menggunakan pakan tambahan atau konsentrat.

Peternak masih menggunakan sistem tradisonal karena sistem tersebut dianggap masih sangat mudah dan sederhana untuk dijalankan tetapi dapat memberikan keuntungan yang cukup besar juga untuk membantu memenuhi kebutuhan peternak suatu saat, karena para peternak menganggap usaha tersebut hanya sebagai usaha sampingan atau cadangan saja, yang suatu saat bila diperlukan untuk keperluan mendesak, usaha ternak sapi yang dianggap sebagai tabungan itu dapat langsung dijual untuk memenuhi kebutuhan peternak.

Dokumen terkait