• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.5 Sistem Pemerintahan

4.5.2 Sistem Pemerintahan Formal

Sistem pemerintahan formal berawal dari munculnya hukum masyarakat industri di Eropa sebagai kelanjutan dari evolusi masyarakat manusia yang mengenal hukum keramat, hukum sekuler, dan hukum agama. Hukum masyarakat industri, muncul ketika krisis keyakinan masyarakat terhadap pemimpin sebagai keturunan dewa semakin berkurang. Kemudian muncul sikap-sikap dan perilaku individualis dan saling membutuhkan dan saling menguntungkan yang ditengarai memunculkan masyarakat industri. Hukum-hukum baru atau undang-undang yang mengatur kehidupan masyarakat muncul berdasarkan azas timbal balik dan saling menguntungkan merupakan prosedur terjadinya undang-undang dengan perundingan antara wakil-wakil warga masyarakat dalam badan-badan pemerintahan. Dalam kaitan ini, aturan-aturan hidup manusia serta-hukum-hukum yang dapat bertahan adalah hukum yang melindungi kebutuhan warga masyarakat akan hak hidup.

Kebutuhan melindungi kebutuhan masyarakat akan hak hidup, hak kebebasan, dan hak milik merupakan tujuan inti dan cikal bakal terbentuknya pola pemerintahan formal. Pembentukan suatu pemerintahan diperlukan untuk menjamin kehidupan, kebebasan, dan keamanan hak milik. Selama kehidupan, kebebasan, dan keamanan hak milik terjamin, selama itu masyarakat terikat oleh kewajiban mentaati hukum pemerintah. Sebaliknya, bila pemerintah mengingkari janji tersebut dan berubah

115 menjadi tirani, maka akan terjadi perombakan untuk membentuk pemerintahan baru. Kepentingan rakyat dapat dilindungi dalam pemerintahan apabila ada tiga kekuatan dasar kekuasaan yakni badan legeslatif, yudikatif, dan federatif, masing-masing terpisah dan berjalan sesuai fungsinya (Locke, 2002:12-13). Pola pemisahan kekuasaan demikian merupakan awal mula terbentuknya pemerintahan moderen yang bersifat formal yang sesuai dengan peraturan resmi.

Sistem pemerintahan formal di Indonesia, mengacu pada sistem pemerintahan Bangsa Barat dan penerapannya tampak menonjol masa pasca kemerdekaan. Sistem pemerintahan tradisional sedikit demi sedikit mulai diubah dan disesuaikan dengan sistem pemerintahan berdasarkan tata pemerintahan nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berlaku seragam di seluruh Indonesia. Penguasa wilayah setingkat kesel diganti dengan seorang kepala daerah, kefetoran diganti dengan kecamatan, tamukung menjadi desa, mnasi kuan menjadi dusun, dan seterusnya. Pada awal masa kemerdekaan wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan membawahi tiga swaparaja sesuai dengan wilayah lanscappen yang telah ada sebelunya. Tiga wilayah kecamatan yang mendukung Kabupaten Timor Tengah Selatan adalah Swapraja Mollo, Amanuban, dan Amanatun. Selanjutnya, Negara Kesatuan Republik Indonesia mulai berbenah mengatur sistem pemerintahan secara nasional berdasarkan Undang-Undang Nomor 69 Tahun 1958.

Secara resmi pemerintahan swapraja berakhir tahun 1963, setelah terbit intruksi Gubernur Kepala Daerah Swatantra Tingkat I Nusa Tenggara Timur tanggal 30 Juli 1963 tentang penghapusan nama-nama jabatan adat dan aparat pemerintahan

116 adat. Dengan demikian, istilah swapraja, anggota dewan swapraja, kefetoran, temukung secara lebih tegas dihapuskan. Misalnya, wilayah swapraja Amanuban kemudian dibagi menjadi empat kecamatan yakni ; (1) Kecamatan Amanuban Timur pusatnya di Ki’e, (2) Kecamatan Amanuban Tengah berpusat di Niki-Niki, (3) Kecamatan Amanuban Barat berpusat di Oekamusa, (4) Kecamatan Amanuban Selatah berpusat di Pinite. Pada masa pemerintahan Orde Baru penghapusan sistem pemerintahan tradisional dipertegas kembali. Tiga wilayah swapraja yang mendukung Kabupaten Timor Tengah Selatan berubah menjadi kecamatan. Pada masa ini Kabupaten Timor Tengan Selatan dipimpin oleh seorang kepala daerah disebut bupati. Sistem kepemimpinan pada masa ini lebih banyak melaksanakan pembangunan daerah yang tampak menonjol dalam usaha-usaha pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat meliputi pengembangan pertanian pangan, perkebunan, kesehatan, dan pendidikan.

Perubahan sistem pemerintahan tradisional menjadi pemerintahan nasional secara umum memunculkan beberapa perubahan di masyarakat. Menurut penuturan beberapa kepala desa dan tokoh-tokoh masyarakat, sejak berubahnya status pemerintahan tradisonal menjadi penyeragaman sistem pemerintahan nasional, peran lembaga adat hampir tidak ada. Misalnya, sistem tolas (gotong-royong) yang diatur lembaga adat dan dikuti rasa tanggung jawab menyelesaikan suatu pekerjaan menjadi sistem gotong royong biasa tanpa disertai tanggung jawab. Termasuk perangkat adat yang bertugas memanggil warga menggunakan peku (sejenis terompet terbuat dari tanduk kerbau) sekarang tidak ada. Tugas memanggil warga masyarakat sekarang

117 dilakukan oleh kepala desa melalui pengiriman surat resmi atau pun melalui telepon. Bahkan perkembangan budaya lokal terhambat karena peran adat sebagai wadah ekpresi budaya lokal telah digantikan oleh peran pemerintahan dinas. Dengan demikian, beberapa kalangan justru ingin menghidupkan kembali lembaga adat yang telah ada sebelumnya. Kepala Desa Mnelalete misalnya, berencana membangun lopo (bangunan tradisional berfungsi sebagai tempat pertemuan adat) di depan kantor desa yang nantinya dimanfaatkan untuk melangsungkan kegiatan adat dan budaya. Masyarakat berencana membangun lopo, nantinya dimanfaatkan sebagai tempat kegiatan adat dan budaya. Jika memungkinkan ada keinginan masyarakat membangun lima buah lopo sesuai jumlah amaf atau klen yang ada di sini. Masing-masing lopo berada di kompleks pemukiman klen tempat melakukan pertemuan interen anggota klen bersangkutan (wawancara dengan Eliazer Neonufa, Kepala Desa Mnelalete, tanggal 10 Agustus 2010).

Meskipun telah terjadi penataan sistem pemerintahan secara nasional telah mengubah kehidupan masyarakat, tata cara pemerintahan tradisional khususnya yang berkaitan dengan adat-istiadat belum sepenuhnya hilang. Pola-pola pemerintahan tradisional masih memiliki sedikit fungsi mengatur kehidupan masyarakat di bidang adat-istiadat. Beberapa aktivitas adat seperti sistem pewarisan, kekerabatan, dan sistem perkawinan tetap dijalankan sesuai aturan-aturan yang telah diwariskan secara turun-temurun. Aktivitas dan tugas-tugas adat selalu melibatkan kelompok-kelompok klen yang masih mempunyai hubungan dengan posisi leluhur masa lampau. Pelibatan amaf (kepala klen), mafefa (juru bicara adat), kuan (pemimpin desa), dan too

118 (masyarakat umum) masih digunakan dalam nenerapa aktivitas adat. Dalam kaitan ini keturunan raja-raja terdahulu (usif) selalu menjadi sosok panutan dan diangkat menjadi peminpin adat.

Sistem pemerintahan formal yang berperan mengubah pola kehidupan masyarakat adalah terciptanya peraturan-peraturan yang ditetapkan pemerintah. Peraturan pemerintah dalam penguasaan cendana telah ada sejak zaman kolonial dan tetap berlangsung setelah zaman kemerdekaan. Baik peraturan zaman kolonial maupun pasca kemerdekaan selalu memposisikan pemerintah selaku penguasa cendana. Pemerintah menggunakan otoritas legal menerapkan aturan menguasai kayu cendana secara total. Semua kayu cendana yang tumbuh atau pun telah mati diwilayah tersebut, baik yang tumbuh di atas tanah negara maupun di lahan-lahan milik masyarakat, sepehunya dikuasai pemerintah.

Wewenang pemerintahan formal terkait penguasaan cendana di Kabupaten Timor Tengah Selatan melibatkan lembaga negara yakni Bupati Timor Tengah Selatan beserta jajarannya, Dinas Kehutanan Kabupaten Timor Tengah Selatan. Bupati dan Dinas Kehutanan memiliki hak legal mengatur sistem pemungutan cendana, izin penebangan, dan pengangkutan kayu cendana yang ada di lahan negara maupun masyarakat. Pengaturan kepemilikan cendana di lahan masyarakat meliputi pemungutan, penebangan, maupun pengangkutan cendana harus mendapat izin pemerintah. Memiliki, menanam, dan menebang cendana pada lahan-lahan milik harus sepengetahuan kepala desa, camat, dan mengajukan izin tertulis kepada bupati melalui Dinas Kehutanan. Setelah mendapat surat jawaban dan intruksi dari bupati,

119 Dinas Kehutanan kemudian melakukan survey dan penilaian apakah cendana tersebut sudah layak ditebang atau belum. Jika dianggap layak tebang, Dinas Kehutanan segera menerbitkan surat izin tebang. Secara teknis, keterlibatan sistem pemerintahan formal dalam penguasaan cendana di Kabupaten Timor Tengah Selatan dapat digambarkan dalam gambar bagan 4.2 berikut.

Bagan 4.2

Struktur pemerintahan formal yang mengatur proses penguasaan cendana di lahan milik masyarakat

Dokumen terkait