• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN

5. Sistem Pengendalian Internal

Dalam rangka pengawasan fasilitas kredit yang diberikan oleh pihak bank kepada Debitur, maka setiap bank melakukan suatu control yang dapat meminimalisasi penyimpangan-penyimpangan yang akan terjadi. Sistem pengendalian internal merupakan suatu sistem pengawasan di bank yang terintegrasi pada setiap unit kerja serta saling melengkapi antara satu unit kerja dengan unit kerja lainnya,

sehingga keseluruhan unit kerja dapat berjalan sesuai dengan sistem yang berlaku.

Sistem Pengendalian Intern (Internal Control) merupakan suatu proses yang dilaksanakan oleh dewan direksi, manajemen dan personil lainnya. Dalam suatu perusahaan, yang dirancang untuk menyediakan keyakinan yang memadai berkenaan dengan pencapaian tujuan dalam:

• Keandalan pelaporan keuangan

• Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku • Efektivitas dan efisiensi operasi

Di dalam Sistem Pengendalian Internal terdapat 5 komponen/unsur yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya, yaitu:

a. Lingkungan Pengendalian yang menetapkan corak suatu

organisasi, mempengaruhi kesadaran pengendalian orang-orangnya. Lingkungan pengendalian disini merupakan dasar untuk semua komponen pengendalian intern, menyediakan disiplin dan struktur.

b. Penaksiran Resiko yaitu pengidentifikasian entitas dan analisis

terhadap resiko yang relevan untuk mencapai tujuannya, membentuk suatu dasar untuk menentukan bagaimana resiko harus dikelola.

c. Aktivitas Pengendalian merupakan kebijakan dan prosedur yang

membantu menjamin bahwa arahan manajemen dilaksanakan. d. Informasi dan Komunikasi yaitu pengidentifikasian, penangkapan

dan pertukaran informasi dalam suatu bentuk dan waktu yang memungkinkan orang melaksanakan tanggung jawab mereka e. Pemantauan merupakan proses yang menentukan kualitas kinerja

pengendalian intern sepanjang waktu.

Kelima komponen yang terdapat pada sistem pengendalian intern sangat berkaitan terhadap jalannnya prosedur pemberian Kredit Usaha yang terdapat pada PT Bank Tabungan Negara (Persero). Lebih lanjut dijelaskan sebagai berikut:

a. Pengendalian pada saat Perencanaan

Pada saat nasabah mengajukan permohonan kredit, segenap data dan informasi yang diterima dari calon debitur dibandingkan satu dengan yang lainnya. Relationship Officer harus meneliti dan membandingkan semua aspek dari data tersebut, baik kebenaran, keabsahan, kewajaran dan lainnya. Satu hal yang penting yaitu bank memperhatikan apakah sektor industri calon debitur termasuk dalam target market bank atau tidak. Bila dari evaluasi awal terjadi keraguan atas banyak hal, maka bank sudah dapat memutuskan bahwa kredit tidak bisa diproses lebih lanjut.

Apabila semuanya ternyata memadai, bank bisa melakukan proses lebih lanjut. Dalam hal ini, bank harus sudah memiliki perangkat dan metode yang ditetapkan untuk pelaksanaan hal-hal

tersebut. Proses selanjutnya adalah analisis atas data nasabah. Dalam proses ini bank perlu memperhatikan aspek-aspek legalitas usaha, yuridis, teknis, sumber daya manusia, ekonomi, pemasaran, keuangan dan sebagainya. Akhirnya bank akan melakukan perhitungan kemungkinan pembiayaan dalam bentuk kredit atau cara pembiayaan lainnya.

Dalam keputusan kredit, disamping ditetapkan jumlah kredit, jangka waktu, tingkat bunga, tujuan penggunaan kredit atau fasilitas bank lainnya, disertai juga dengan syarat-syarat (term of condition) yang harus dipenuhi oleh nasabah. Syarat ini meliputi syarat yang harus dipenuhi sebelum kredit ini dicairkan dan syarat-syarat pada saat kredit itu berjalan.

b. Pengendalian pada saat Pelaksanaan

Keputusan kredit yang ditetapkan oleh komite kredit yang tertuang dalam memo usulan kredit dan disertai dengan syarat yang harus dipenuhi. Biasanya syarat tersebut menyangkut jaminan, agunan dan pengikatan serta penguasaannya oleh bank, kewajiban-kewajiban nasabah untuk menyampaikan laporan realisasi kerja usahanya, penutupan asuransi jaminan dengan syarat ”banker clause”, asuransi kredit bila diperlukan, atau syarat-syarat spesifik lain tergantung kondisi nasabahnya. Ada syarat mutlak yang harus dilaksanakan sebelum kredit diberikan.

Dengan demikian, proses pengendalian disini adalah membandingkan dan mengevaluasi apakah syarat itu telah dan

dapat dipenuhi nasabah. Apabila ada hal-hal yang belum atau mungkin tidak dapat dipenuhi, langkah-langkah antisipasi perlu dilakukan. Langkah-langkah antisipasi bisa sangat bervariasi. Apabila sangat mendasar, perlu dilakukan review ulang dengan melaporkannnya kepada komite kredit untuk dicarikan jalan keluarnya atau yang paling ekstrim, penarikan kredit tidak jadi dilaksanakan dan kredit dibatalkan.

Berdasarkan hal di atas, perlu adanya surat pemberitahuan kredit (offering letter) kepada nasabah terlebih dahulu agar nasabah mempelajari syarat-syarat tersebut. Apabila syarat-syarat kredit bisa dilaksanakan dan nasabah menyanggupinya, proses pelaksanaan kredit dapat berjalan. Kegiatan pengendalian selalu berulang-ulang membandingkan dan mengevaluasi penarikan kredit nasabah dengan syarat-syarat yang ditetapkan oleh bank.

c. Pengendalian pada saat Pengawasan

Pengendalian kredit pada hakikatnya menginginkan agar sasaran kredit tercapai baik bagi pihak bank maupun nasabahnya. Oleh sebab itu, permasalahan seharusnya bisa diatasi secara dini agar tidak semakin luas dan kompleks. Pada saat kredit berjalan, aktivitas usaha nasabah disampaikan ke bank, sesuai syarat yang ditetapkan oleh komite kredit. Setiap saat bank memperhatikan laporan-laporan nasabah untuk melihat apakah target-target usaha nasabah yang ditetapkan tercapai atau tidak. Untuk itu, bank perlu selalu membnadingkan dan mengevaluasi secara terus-menerus.

Apabila terjadi deviasi dari rencana, bank perlu melakukan langkah-langkah koreksi secara dini, apalagi bila ternyata deviasi itu sangat signifikan dan material. Bentuk konkritnya bisa saja berupa revisi dari target usaha nasabah, tambahan kredit, atau mungkin saja bank meminta pelunasan kredit. Semua itu tergantung dari hasil evaluasi pada saat pengendalian kredit. Secara terus-menerus proses ini berjalan sampai kredit itu lunas dan selesai.

Bila proses pengendalian ini berjalan dengan baik, kesulitan nasabah tidak terdeteksi secara dini sehingga bank terlambat mengambil langkah-langkah antisipasi dan koreksi. Akibat lebih jauh adalah kesulitan bank untuk meminta pelunasan kredit. Dengan demikian, bank harus secara rutin melakukan kunjungan ke lokasi usaha (on the spot) untuk meyakinkan secara fisik segala informasi yang diperoleh dan mencari informasi dari sumber yang tepat dan akurat secara objektif.

Dokumen terkait