• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistem Pengkondisian / Enciroment Bangunan

BAB VI ACUAN PERANCANGAN

B. Acuan Perancangan Mikro

6. Sistem Pengkondisian / Enciroment Bangunan

101 Dari luasan ruang yang ada diatas, Maka :

Jumlah total luasan ruang = 20.798,43 m²

Luasan tapak = ± 127.500 m²

KDB tapak = 40 %

Sirkulasi 30 % dari luasan bangunan = 6.239,53 m² Total luasan yang dibutuhkan = 27.037,96 m² Luasan tapak yang dapat digunakan = 40 % x 127.500 m²

= 51.000 m²

102 Dapat digunakan untuk ruang-ruang yang berhubungan langsung dengan kegiatan di luar bangunan, tetapi tidak tergantung penuh pada penerangan luar, mengingat areal parkir kendaraan yang dapat mempengaruhi kenyamanan kegiatan di luar bangunan dan dalam bangunan, maka perlu dilakukan penyelesaian berupa :

a) Penataan landscap (pohon-pohon pelindung, penyerap panas dan silau dengan penghijauan).

b) Penggunaan sun screen dan memperhitungkan sinar matahari.

c) Pemakaian bahan transparan berupa kaca buram atau riben.

d) Pemakaian warna sejuk ringan untuk menyelesaikan interior.

2) Pencahayaan buatan

Digunakan pada malam hari dan siang hari apabila pencahayaan alami tidak berfungsi misalnya cuaca lagi mendung/hujan menyebabkan adanya ruang-ruang yang tidak terang karena tidak terjangkau oleh sinar matahari.

b. Sistem penghawaan

Sejauh masih memungkinkan sistem cross ventilation pada ruang-ruang yang berhubungan langsung dengan luar masih dapat diterapkan (terutama diusahakan pada ruang tunggu penumpang dan ruang sirkulasi penumpang).

Kebutuhan udara bersih 20 culf/menit/orang dengan kecepatan 0,5 m/detik.

Untuk ruang kerja dibutuhkan temperatur 20 -25°C dengan kelembaban 50 %. Pada bangunan terminal bus penggunaan AC pengaturan tata ruang yang sedemikian sehingga system exhause dapat dipergunakan.

103 c. Sistem akustik

Sistem ini digunakan pada bangunan umum terminal tipe A pada ruang-ruang pelayanan penumpang dan ruang administrasi (ruang pengelola). Ruang tersebut diusahakan terhindar dari suara mesin kendaraan dan ruang-ruang lainnya. Dalam pengendalian suara pada bangunan terminal ini perlu dipertimbangkan :

1) Orientasi ruang terhadap kebisingan

2) Penggunaan material penyerap pada elemen bangunan yang dianggap perlu sesuai dengan sifat/nilai ruangnya.

7. Sistem Struktur dan Material

Penentuan system struktur yang diterapkan berdasarkan pertimbangan sebagai berikut : a) Dapat mendukung bentuk bangunan terminal angkutan darat dengan ciri khas Bugis

sesuai dengan fungsinya.

b) Mendukung persyaratan ruang dan aktivitasnya

a. Sistem struktur yang diterapkan adalah sebagai berikut : 1) Super struktur yang dipakai

Sistem struktur gabungan ragka dan bidang dengan dasar pertimbangan : a) Mampu mendukung bentangan yang sesuai kebutuhan

b) Mampu mendukung bentuk ruang

c) Tahan pengaruh terhadap internal dan eksternal d) Mendukung persyaratan akustik ruang

e) Mudah dalam pelaksanaan dan pemeliharaan f) Fleksibel dalam mewadahi usulan modul

104 Super struktur menggunakan material beton bertulang pada kolom dan balok dikombinasikan dengan baja.

2) Sub struktur yang dipakai adalah :

a) Pondasi titik (poer setempat) yang digunakan pada bangunan utama.

b) Pondasi garis dari batu gunung digunakan pada bangunan yang tidak begitu besar memikul beban.

c) Sub struktur menggunakan material beton bertulang pada pondasi titik dan sloef.

3) Struktur

Rangka kap untuk bangunan terminal tipe A ini menggunakan bahan baja untuk bangunan yang bentangnya besar sedangkan bentangan kecil yang menggunakan bahan kayu dengan pertimbangan :

a) Mudah dilaksanakan

b) Tahan terhadap pengaruh iklim setempat c) Pemeliharaan relatif lebih mudah

d) Daya tahan terhadap pengaruh kelembaban

4) Penutup (atap) adalah dari bahan genteng dengan dasar pertimbangan bahwa atap :

a) Tahan terhadap pengaruh iklim setempat b) Tidak mudah terbakar

c) Mudah dalam pemeliharaan

105 5) Sebagai dimensi penentu pemakaian material didasarkan pada standar efisiensi skala gerak manusia yaitu 30 cm yang menurut kelipatan bilangan, dasar pertimbangan sebagai berikut :

a) Dimensi dasar gerak manusianya b) Dimensi peralatan operasional c) Standar efisiensi gerak

d) Dimensi bahan bangunan dan perlengkapan lainnya.

8. Utilitas dan Perlengkapan Bangunan a. Sistem Distribusi air bersih

1) Menggunakan air PAM dialirkan ke bak penampungan kemudian dipompakan ke reservoir kemudian didistribusikan ke masing-masing unit ruang yang membutuhkan.

2) Bila air PAM macet sumber air diambil dari sumur artetis kemudian dipompakan ke reservoir.

Skema V.4

Skema Jaringan Air Bersih

Sumber: Analisa penulis 2019

SUPPLAY RESERVOIR ATAS

PDAM

SUMUR PENJERNIHAN RESERVOIR

BAWAH

106 b. Sistem pembuangan

1) Pembuangan air hujan yang berasal dari atap atau dari areal sirkulasi disalurkan kesaluran lingkungan kemudian disalurkan ke roil kota (system drainase kota) 2) Pembuangan air kotor yang berasal dari kamar mandi, dapur, ruang wudhu,

ruang cuci disalurkan ke saluran pembuangan air hujan. Air kotor yang berasal dari WC di salurkan ke septic tank dan peresapan.

3) Pembuangan sampah dilakukan dengan :

a) Menyediakan tempat-tempat sampah pada ruang-ruang tertentu yang kemungkinan dapat menghasilkan sampah yang cukup besar.

b) Dibuatkan bak penampungan atau kontainer agar memudahkan petugas Dinas Kebersihan kota mengangkut sampah ke tempat akhir.

SKEMA V.5

Skema Pembuangan Sampah

Sumber: Analisa penulis 2019 SAMPAH

BASAH

TEMPAT SAMPAH

SAMPAH KERING

BAK PENAMPUNGAN

SEMENTARA (CONTAINER)

TRUK SAMPAH

PEMBUANGAN AKHIR

107 c. Sistem elektrikal

Sumber dayanya dari :

1) PLN, melalui sumber listrik dan sistem aliran listrik dari jaringan kota (PLN) yang dihubungkan dengan jaringan dalam terminal.

2) Genset, untuk ruang-ruang yang memerlukan banyak energi listrik seperti pada ruang servis mekanik kendaraan dan ruang pencucian mobil dan digunakan apabila aliran listrik dari PLN tidak berfungsi.

Sistem elektrikal yang dipakai pada terminal tipe A ini penggabungan dari PLN dan sistem genset (sebagai cadangan).

SKEMA V.6 Skema Jaringan Listrik

Sumber: Analisa penulis 2019

PLN METERAN

PANIL PLN

AUTOMATIC TRANSFER

SWITCH

PANEL DISTRIBUSI

UNIT-UNIT BANGUNAN

GENERATOR SET

108 d. Sistem Komunikasi

1) Untuk komunikasi keluar kompleks menggunakan telepon

2) Untuk komunikasi ke dalam (antar ruang/unit) menggunakan aiphone dengan sistem PABX dan handy talky

3) Untuk kepentingan informasi terhadap kendaraan/pengemudi dipergunakan sound system.

4) CCTV (Close Circuit Television) untuk melengkapi sistem menara pengendalian, sebagai sarana kontrol pergerakan kendaraan dalam terminal.

e. Sistem penanggulangan kebakaran.

Menggunakan pemasangan fire hydrant dan tabung CO2 pada tempat-tempat yang mudah dijangkau, serta alarm bahaya kebakaran serta kemudian pencapaian unit pemadam ke dalam site.

f. Sistem penangkal petir

Yang bertujuan melindungi bangunan dari kehancuran kebakaran dan ledakan sambaran petir. Sistem yang direncanakan pada gedung ini adalah sistem tongkat fraklin dan sistem Faraday, karena mempunyai jaringan yang sederhana dan radius pelayanan luas.

Tongkat franklin adalah tongkat dari logam yang dihubungkan langsung dengan tanah melalui sebuah kabel penghantar listrik.

109 SKEMA V.7

Skema Sistem Penangkal Petir

Sumber: Analisa penulis 2019 TIANG

PENANGKAL

DI BAGIAN ATAS BANGUNAN

DILETAKKAN SETIAP JARAK 25 M

SESUAI KEBUTUHAN

KABEL PENYALUR

DISTRIBUSIKAN KE BUMI

PLAT TEMBAGA DI DALAM

TANAH

110

BAB VI

ACUAN DASAR PERANCANGAN A. Acuan Perancangan Makro

1. Penentuan lokasi

Lingkup pelayanan terminal angkutan darat tipe A adalah waktu perpindahan penumpang dan barang dari angkutan antar kota ke angkutan lain, maka fasilitas pelayanan bagi penumpang membutuhkan ketepatan dan kecepatan waktu pencapaian yang mana dalam menentukan lokasi mudah dijangkau dari seluruh penjuru kota atau wilayah kecamatan dari segi pembangunan sesuai dengan RUTR Kota Palopo.

Berikut beberapa kreteria yang harus dipenuhi dalam penentuan lokasi terminal, yaitu sebagai berikut :

a. Terminal harus menjamin kelancaran arus angkutan baik penumpang maupun barang (accebility).

b. Dari segi tata ruang, lokasi terminal hendaknya sesuai dengan RUTR.

c. Lingkup diusahakan jauh dari permukiman penduduk untuk menghindari intensitas kebisingan.

d. Fasilitas utilitas kota yaitu jaringan jalan, jaringan listrik, jaringan air bersih, drainase dan telepon.

e. Topografi yaitu datar dan bebas.

111

Berdasarkan kreteria tersebut di atas, lokasi yang layak untuk sebuah terminal angkutan darat tipe A adalah yang direncanakan terletak di Kecamatan Wara Selatan, Kelurahan Songka. Kawasan ini berada di sebelah selatan pusat Kota Palopo yang mempunyai jarak yang dekat dengan pusat kota, serta kepadatan penduduk di kawasan tersebut masih tergolong kurang.

Gambar 6.1 : Peta wilayah administrasi Kota Palopo Sumber: www.petatematik.com 2016

112

Gambar 6.2 : Peta wilayah administrasi Kecamatan Wara Selatan

Sumber : Badan Pertanahan Nasional Kota Palopo 2018

Gambar 6.3 : Peta wilayah Kelurahan Songka Sumber: Badan Pertanahan Nasional Kota Palopo 2018

113

2. Penentuan Site

Sesuai dengan kriteria-kriteria dalam penentuan lokasi Terminal Angkutan Darat Tipe A ini, maka dalam menentukan site pada lokasi yang sudah terpilih perlu dipertimbangkan hal-hal sebagai berikut : a. Site terminal hendaknya mempunyai aksesibilitas atau tingkat

pencapaian yang mudah.

b. Site merupakan yang sebagian besar kosong.

c. Luas site sesuai dengan kebutuhan untuk dikembangkan.

d. Terdapat jalur umum sesuai sekitar site.

e. dekat dengan fasilitas umum

e. Secara visualisasi bangunan dapat diorientasikan menghadap ke jalan.

f. Kondisi bangunan serta space lingkungan tidak menghambat perwujudan terminal angkutan darat tipe A ini yang akan dibangun di Kecamatan Wara Selatan Kelurahan Songka Kota Palopo.

Dari kreteria di atas dapat disimpulkan bahwa site terminal lama Kota Palopo akan di pindahkan kelokasi yang terdapat di Kelurahan Songka.

3. Pola Tata Massa

Faktor pertimbangan terhadap pola pengubahan tata massa yaitu sebagai berikut :

a. Penyesuaian massa yang sesuai dengan kondisi lingkungan.

b. Adapun faktor kondisi persyaratan lokasi, seperti

114

1) Arah angin, lintasan matahari, jalan transportasi kota / orientasi jalan.

2) Space yang ada sebagai penunjang suasana lingkungan atau sebagai view yang menyenangkan.

c. Luasan areal lahan yang disesuaikan dengan kebutuhan yang meliputi :

1) Areal bangunan dan fasilitas parkir

2) Penataan massa yang disesuaikan dengan pengelompokan dan sifat kegiatan

3) Adanya penyesuaian terhadap sirkulasi bagi penumpang dan kendaraan

Berdasarkan pertimbangan di atas, maka perlu massa digunakan adalah pola massa.

4. Sistem Sirkulasi

a. Faktor-faktor yang mempengaruhi gerak / lintasan kendaraan dan penumpang, yaitu :

1) Kebiasaan dan jenis penumpang 2) Pengatur jadwal perjalanan 3) Kegiatan pelayanan dan kontrol 4) Tuntutan pola gerak penumpang dan kendaraan

b. Sistem sirkulasi didasarkan pada : 1) Kelancaran dan keamanan

2) Sistem pencapaian yang mudah dan jelas

115

c. Konsep umum bagi lintasan kendaraan dan penumpang :

1) Memisahkan jalur kendaraan yang datang dan berangkat, baik kendaraan antar kota dan angkutan dalam kota.

2) Pengaturan pola tata ruang dan sirkulasi yang jelas sehingga dapat mengarahkan penumpang.

3) Mengusahakan pencapaian penumpang ke peron sependek mungkin.

5. Penentuan Penampilan Bangunan

Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam penampilan bangunan, yaitu :

a. Konsepsi penampilan bentuk bangunan melalui pendekatan. Fungsi terminal tipe A sebagai wadah pelayanan umum angkutan antara kota dan angkutan kota / pedesaan.

b. Karena bangunan terminal merupakan bangunan pelayanan, maka harus mempunyai sifat, berkesan menarik, mengundang dan fleksibel.

c. Penentuan entrance disesuaikan dengan fungsi bangunan dengan bertitik tolak pada kelancaran arus penumpang dan barang.

d. Keserasian proporsi site dan kondisi lingkungan.

e. Bentuk-bentuk persegi panjang yang diolah dan dikembangkan sehingga menjadi suatu hasil pengembangan dari penggabungan antar bentuk persegi panjang dan segi empat.

f. Penggunaan elemen-elemen asli setempat dengan konsepsi bentuk arsitektur tradisional setempat.

116

g. Mencerminkan bentuk-bentuk konstruksi khas setempat.

6. Tata Ruang Luar

a. Penataan terminal pada tata ruang luar didasari pertimbangan sebagai berikut :

1) Kebutuhan sirkulasi kendaraan dan penumpang 2) Kebutuhan estetika lingkungan

3) Kebutuhan persyaratan teknis dan keamanan 4) Kebutuhan persyaratan dan kenyamanan

b. Elemen-elemen ruang luar dan material yang digunakan pada perancangan ini :

1) Sirkulasi/jalan menggunakan material pengerasan aspal hotmix dan sebagian paving block. Penempatannya sesuai pola jalur lalu lintas kendaraan, penumpang, pengantar/ penjemput dan pengelola terminal.

2) Parkir, menggunakan material pengerasan aspal hotmix dan sebagian paving block. Penempatannya ditempatkan sesuai dengan pola peruangan makro, dengan memperhatikan segi pencapaian menurunkan dan menaikkan penumpang, barang, serta tempat istirahat, kendaraan.

3) Tanda/simbol penempatannya disesuaikan dengan sirkulasi sudut/arah material bahannya dari kayu/tembaga.

4) Taman penutup, menggunakan rumput manila, dan rumput gajah untuk penutup tanah, juga bunga. Bunga untuk keindahan dan kesegaran.

117

a) Tanaman pembatas, menggunakan pohon perdu dan palm kuning

b) Tanaman peneduh dengan menggunakan pohon yang bertajuk lebar sebagai pelindung sinar matahari (absorsi panas dan silau) pada areal parkir.

5) Lampu-lampu jalan dan lampu taman

Lampu jalan menggunakan TL Parabola, sedangkan lampu taman dengan berbentuk bundar dengan tiang besi ukir

6) Kran hydrant sebagai salah satu elemen estetika yang luasnya ditempatkan pada tempat-tempat tertentu sesuai radius pelayanannya

7) Bak menara air sebagai tempat penampungan air bersih yang akan digunakan oleh terminal

8) Bak sampah ditempatkan pada tempat yang produk sampahnya kemungkinan besar, kemudian diangkat oleh pengangkut sampah.

B. Acuan Perancangan Mikro 1. Kebutuhan ruang

Untuk terminal angkutan tipe A ini didasarkan pada pelaku dan macam kegiatan/aktivitas yang berlangsung, unsur pelaku kegiatan tersebut yaitu:

a. Pengelola operasional dan administrasi (terminal), pengusaha bus dan pengusaha komersial.

b. Penumpang kendaraan antar kota, kendaraan umum, kendaraan pengelola, kendaraan pribadi dan kendaraan pengusaha.

c. Servis

118

Berdasarkan unsur pelaku kegiatan, maka kebutuhan ruang yang direncanakan untuk areal terminal angkutan darat tipe A ini adalah :

a. Kelompok Pengelola 1) Ruang pimpinan

2) Ruang kepala sub bagian tata usaha 3) Ruang urusan administrasi umum 4) Ruang urusan keuangan

5) Ruang urusan perlengkapan 6) Ruang seksi pengembangan 7) Ruang seksi ketertiban 8) Ruang seksi kebersihan 9) Ruang istirahat pegawai 10) Ruang cleaning servis 11) Ruang organda

12) Ruang pengawas / tower 13) Loket retribusi pengunjung 14) Gudang

15) Ruang piket keamanan

16) Pos penarikan retribusi kendaraan 17) Toilet

b. Kelompok Kendaraan

1) Kendaraan angkutan antar kota a) Peron pemuatan penumpang b) Peron penurunan penumpang

119

c) Parkir istirahat d) Parkir servis

2) Kendaraan angkutan dalam kota a) Parkir angkutan mikrolet b) Parkir taxi

c) Peron pemuatan dan penurunan bus dalam kota 3) Kendaraan pribadi

a) Parkir mobil pengantar dan penjemput b) Parkir mobil pengelola

c) Parkir sepeda motor

c. Kelompok Penumpang dan Pengunjung 1) Ruang informasi

2) Ruang PPPK 3) Ruang loket peron

4) Ruang kontrol penumpang

5) Ruang tunggu penumpang dan pengantar 6) Peron pemuatan

7) Ruang tunggu penjemput 8) Peron penurunan

9) Peron angkutan dalam kota 10) Toilet

d. Kelompok Pengusaha Komersil 1) Ruang administrasi agen bus 2) Ruang penjualan / loket tiket

120

3) Ruang istirahat sopir 4) Kios-kios

5) Kantor pos 6) Wartel 7) Kafetaria

e. Kelompok Ruang Penunjang dan Servis 1) Mushollah

2) Ruang servis ringan bus 3) Ruang genset

4) Ruang pompa

5) Ruang kontrol elektrikal

2. Konsep Pengelompokan Ruang prinsip pendekatan yang direncanakan :

a. Pengelompokan pelaku kegiatan yaitu dibedakan antara yang melayani (pengelola) dan dilayani (penumpang /barang) kendaraan.

b. Pengelompokan ruang berdasarkan jenis keberangkatan dan jarak fasilitas kendaraan yang digunakan.

Pengelompokan ruang menurut sifat fasillitas penggunaannya yang terbagi dua pengelompokan besar yaitu dalam terminal dan luar terminal:

1) Pengelompokan ruang dalam terminal yaitu : a) Ruang fasilitas penumpang

b) Ruang fasilitas administrasi pengelola c) Ruang fasilitas kontrol/khusus

d) Ruang fasilitas utilitas

121

e) Ruang fasilitas komersial

f) Ruang fasilitas pengusaha angkutan bus 2) Pengelompokan ruang luar terminal yaitu :

a) Ruang parkir kendaraan b) Ruang penumpang servis

c. Pengelompokan ruang berdasarkan faktor keamanan, dan kenyamanan yaitu antara ruang penumpang/barang dan ruang kontrol

d. Pengelompokan ruang berdasarkan fungsi yang berbeda ruang tetapi erat kaitannya misalnya :

1) Ruang tunggu dengan keberangkatan jarak jauh 2) Ruang tunggu pembelian karcis

3. Pola Organisasi Ruang

Secara mikro organisasi ruang terminal angkutan darat adalah sebagai berikut :

Skema 6.4 Organisasi Ruang Makro

Sumber : Analisa penulis 2019 Servis / Penunjang

Kelompok Kendaraan

Kelompok Pengusaha Kelompok Pengelola

Kelompok Pengunjung

122

4. Konsep Besaran Ruang

a. Besaran ruang didekati dengan standar-standar literatur dan pengamatan lapangan yaitu :

1) Standar-standar/literatur.

a) Never Archietekcture Data, The Time Saver Standar For Building Tipe.

b) Standar Bappenas untuk ruangan perkantoran dan bangunan-bangunan pemerintah.

Observasi dan pengamatan lapangan disesuaikan tipe terminal dengan lokasi dan study sistem terminal angkutan-angkutan lainnya.

b. Unsur-unsur yang dapat mempengaruhi besaran ruang yaitu : 1) Kebiasaan penumpang menurut sifat perjalanan

2) Pengaturan jadwal perjalanan dalam frkuensi angkutan 3) Aliran penumpang pada jam puncak kegiatan

4) Banyaknya personil yang melayani 5) Kecepatan muat.

c. Besaran ruang didekati dengan penentuan besaran pelayanan yang diprediksi untuk tahun 2018 dengan penyediaan pengembangan sampai tahun 2033 d. Pendekatan penentuan besaran ruang didasarkan pada kenyamanan dan

keamanan bergerak penumpang, penjemput, pengantar, pengelola dan sebagainya.

Adapun penentuan besaran ruang didasarkan pada : Kebutuhan ruang perunit kegiatan (a)

Jumlah pemakai dalam satu periode (b)

Koofisiensi reduksi terhadp factor penggabungan flow / space (c)

123

Ketiga factor diatas tadi dikalikan untuk mendapatkan besaran masing-masing ruang :

L = a x b x c

Sedangkan dasar-dasar yang dipakai dalam menentukan besaran ruang, sebagai berikut :

a. Pendekatan standar : time saver, data arsitek, pedoman pembangunan terminal dan standar ruang Bappenas

b. Pendekatan jumlah dan penggunaan ruang c. Studi perabot.

Adapun perhitungan masing-masing besaran ruang adalah sebagai berikut:

a. Kelompok ruang pengelola 1. Ruang pimpinan

Kapasitas 1 orang + ruang tamu 1 x 20 m² = 20 m²

2. Ruang sub bagian tata usaha a) Ruang kepala tata usaha

Kapasitas : 1 orang + 2 tamu 3 x 3,78 x 1,3 = 14,47 m²

b) Ruang urusan administrasi umum Kapasitas : 5 orang

Standar ruang Bappenas per orang : 4,3 x 1,3 = 5,59 m² 5 x 5,59 = 27,95 m²

c) Ruang urusan keuangan Kapasitas : 7 orang

124

7 x 4,3 x 1,3 = 14,74 m² d) Ruang urusan perlengkapan

Kapasitas : 4 orang 4 x 4,3 x 1,3 = 22,63 m² 3. Ruang seksi pengembangan

Kapasitas : 4 orang 4 x 4,78 x 1,3 = 19,66 m² 4. Ruang seksi ketertiban

Kapasitas : 6 orang 6 x 3,78 x 1,3 = 29,48 m² 5. Ruang seksi kebersihan

Kapasitas : 3 orang 3 x 3,78 x 1,3 = 14,74 m² 6. Ruang istirahat pegawai

Standar ruang Pedoman Pembangunan Terminal adalah = 50 m² 7. Ruang oraganda

Kapasitas : 10 orang

Standar ruang Bappenas untuk ruang rapat per orang : 1,9 m² 10 x 1,9 = 19 m²

8. Ruang cleaning servis Asumsi : 20 m² 9. Gudang

Asumsi : 9 m²

125

10. Ruang keamanan Kapasitas : 6 orang Standar per orang 5,59 m² Luas : 6 x 5,59m² = 33,54 m² 11. Ruang kantor

a. DLLAJR

- Rg. Pimpinan = 12,6 m² ( 9 m² + sirkulasi 40 % )

- Rg. Staf Teknik untuk 4 orang + sirkulasi 40 % = 11,2 m² - Rg. Operasional = 11,2 m²

b. UPTD

- Rg. Pimpinan = 12,6 m² - Rg. Staf = 11,2 m² c. Kantor Polisi = 12,6 m² d. Jasa Raharja = 12,6 m² 12. Ruang pengawas / tower

Kapasitas 3 orang, luas …….3 x 3,78 x 1,3 = 14,74 m² 13. Ruang piket satpam, luas 2 x 3,78 x 1,3 = 9,83 m² 14. Toilet

1 km/wc + 1 wastafel untuk pimpinan

1 km/wc + 2 urinoir + 1 wastafel unutk pegawai pria 1 km/wc + 1 wastafel untuk pegawai pria

Luas toilet : 3 km/wc : 3 x 3 m² = 9 m² 3 wastafel : 3 (0,9 x 0,9) = 2,43 m² 2 urinoir : 2 (0,6 x 1,2) = 1,44 m

126

Total luas toilet = 12,87m²

b. Kelompok ruang penumpang 1. Ruang informasi

Kapasitas : 4 orang (2 unit) Luas : 4 x 3,78 x 1,3 = 19,66 m² 2. Ruang PPPK

Berdasarkan standar ruang Pedoman Pembangunan Terminal 1993 Luas = 50 m²

3. Ruang kontrol penumpang

Kapasitas 2 orang / unit, dibutuhkan 2 unit.

Standar Bappenas 1 orang : 2,4 x 1,3 m² Luas : 2 (2 x 2,4 x 1,3) = 12,48 m² 4. Lokasi peron

Kapasitas 1 unit untuk 1 orang

Standar luas per unit : 2 x 1= 3 m² 1 unit difungsikan untuk melayani 10-15 orang per menit

Jumlah penumpang 47.282 orang per hari, dalam satu hari terjadi kegiatan adalah (14 + 18) : 2 = 16 jam

Sehingga terdapat 47.282 : ( 16 x 60 ) = 53 orang per menit.

Unit loket yang dibutuhkan adalah : 53 : 13 orang = 4 unit.

Flow antrian peron max. 4 orang, Dengan 4 unit loket : 4 x 4 = 16 m² Luas total : 12 m² + 16 m² = 28 m²

127

Untuk luas ruang tunggu penumpang dan peron keberangkatan diperoleh dari jumlah penumpang pada saat waktu padat per trip, yang menggunakan ruang.

a. Penumpang berangkat jarak dekat Terdapat 27.715 penumpang per hari,

Sehingga terdapat 41.766 : (14 x 3) = 792 orang per 20 menit.

Diasumsikan 20 % ke ruang tunggu = 158 orang per trip, maka : Ruang tunggu jarak dekat 158 x 0,72 x 1,67 = 189,97 m²

Peron keberangkatan 660 x 0,94 x 1,67 = 1.243,28 m² b. Penumpang berangkat jarak jauh

Terdapat 22.105 penumpang / hari sehingga 17.038 : (9 x 4) = 677 orang / 15 menit, asumsi 50 % ke ruang tunggu = 339 orang / trip.

Pengantar (1:1) = 339 orang, jumlah orang dalam satu saat = 678 orang, maka : Ruang tunggu jarak jauh : 616 x 0,84 x 1,67 = 864,1 m²

Peron keberangkatan : 616 x 0,94 x 1,67 = 966,99 m² Maka diperoleh :

5. Ruang tunggu penumpang : 189,98 + 864,1 = 1.054,07 m² 6. Peron pemberangkatan : 1.243,28 + 966,99 = 2.210,27 m²

Luas ruang tunggu penjemput pada peron penurunan diperoleh dari jumlah penumpang datang adalah 50 % dari penumpang berangkat (diperoleh dari hasil pengolahan data).

a. Penumpang datang jarak dekat

Terdapat (90% x 792 orang / trip) =713 orang / trip.

Luas peron penurunan jarak dekat 713 x 0,94 x 1,67 = 1.119,26 m² b. Penumpang datang jarak jauh

128

Terdapat (90% x 616 orang / trip) = 554 orang / trip Penjemput (1:5) atau 20% dari penumpang + 122 orang

Jumlah penumpang + penjemput = 665 orang, asumsi 40% masuk ke ruang tunggu = 266 orang, maka :

Ruang tunggu penjemput : 292 x 0,72 x 1,67 = 319,8 m² Peron penurunan 609 x 0,94 x 1,67 = 869,66 m²

7. Ruang tunggu penjemput : 319,1 m²

8. Peron penurunan : 1.119,26 + 869,66 = 1.988,92 m² 9. Ruang bagasi

Berdasarkan standar ruang Pedoman Pembangunan Terminal Luas : 25 m² 10. Ruang keamanan

Kapasitas : 6 orang

Standar luas per orang : 5,59 m² Luas : 6 x 5,59 m² = 33,54 m² 11. Toilet umum

Untuk pria :

12 urinoir : 12 x (0,6 x 1,2) : 8,64 m² 6 Wastafel : 4,68 m² 4 toilet : 12 m² + Jumlah = 25,32 m² Jumlah + Flow = 32,92 m²

Untuk wanita

8 toilet : 8 x (2 x 1,5) = 24 m² 6 Wastafel : 6 x (0,9 x 0,9) = 4,86 m² +

129

Jumlah = 28,86 m²

Jumlah + Flow 30% = 37,52 m² Total luas toilet = 70,44 m² 12. Peron pemberangkatan dan penurunan

Kapasitas : Penumpang berangkat 1.337 orang / trip 10% diantar dengan angkutan kota : 134 orang Penumpang datang 1.203 orang / trip

10% naik angkutan kota : 120 orang jumlah orang pada satu saat : 254 orang

Luas : 254 x 0,94 x 1,67 = 398,72 m²

c. Kelompok ruang pengusaha dan fasilitasnya 1) Ruang pengusaha bus

Terdapat bus (jarak jauh) sebanyak 650 bus per hari, diasumsikan 40% yang berjalan lebih dari satu kali perjalanan (1 rit) sebanyak 260 bus. 1 perusahaan rata-rata mempunyai 15 bus, maka terdapat 650/15 = 28 perusahaan angkutan.

a) Ruang adminstrasi agen bus

1 agen untuk 2 orang, terdapat 43 perusahaan.

Luas :43 x (2 x 3,78 x 1,3) = 422,6 m² b) Ruang penjualan loket karcis bus

kapasitas 2 orang unit / agen Standar untuk 1 unit = 3 m²

Luas : 43 x 3 = 129 m² c) Ruang istirahat sopir

130

Bus yang lebih dari 1 rit : 260 bus dengan 2 orang awak per bus, maka terdapat 260 x 2 = 520 orang. Diasumsikan terdapat 10% yang istirahat pada satu saat 52 orang, maka :

- Ruang istirahat tidur : 52 x 2,52 x 1,67 = 218,8 m² - Hall / ruang tamu (asumsi) = 12 m²

- Toilet dibutuhkan = 13 m²

Total luas + flow sirkulasi 20% = 498,36 m² 2) Ruang pengusaha komersial

a) Kantor pos

Kapasitas 3 pegawai + ruang tunggu

Luas : 3 x 4,3 x 1,3 + 20 m² = 36,77 m² b) Wartel

Kapasitas 3 pegawai + ruang tunggu dan telepon Luas : 3 x 4,3 x 1,3 + 20 m² = 36,77 m² c) Kafetaria

Pada saat padat terdapat penumpang + pengantar sebanyak 2.716 orang 1) Standar untuk 1 unit meja A yaitu 2,3 x 2,4 = 5,52 m². 80% (109 orang)

menggunakan meja A = (109 : 4) x 5,52 m² = 150,42 m²

2) Standar untuk 1 unit meja B yaitu 2,3 x 1,7 = 3,91 m². 20% (29 orang) menggunakan meja B = (29:2) x 3,31 = 56,69 m².

Jumlah + Flow sirkulasi 20% =248,332 m²

1. Ruang makan = 248,53 m²

2. Dapur + ruang saji = 12 m²

3. Kasir = 2,25 m²

131

4. Pengelola = 9,36 m²

5. Toilet + 1 wastafel = 0,81 m² + Jumlah = 272,92 m²

Berdasarkan pedoman pembangunan terminal penumpang, luasan untuk fasilitas kios/kafetaria adalah 60% dari ruang tunggu penumpang, maka luas dari ruang komersial ini adalah 60% x m². Dikurangi dengan luas kafetaria =

d) Kios majalah, luas …………...6 x 12 m² = 72 m² e) Depot makanan………...9 x 16 m² = 144 m² f) Kios makanan kering / souvenir, luas………. 12 x 12 m² = 144 m²

d. Kelompok ruang kendaraan 1. Kendaraan bus antar kota

a) Parkir pemuatan

- Jarak dekat = 36 bus (bus sedang + bus kecil), standar ruang parkir untuk 1 bus sedang adalah 32 m², maka luas 36 x 32 = 1.152 m²

- Jarak jauh = 16 bus besar dan 28 bus (sedang + kecil), standar ruang untuk 1 bus besar adalah 44 m², maka luas :

Bus besar 16 x 44 = 704 m² Bus kecil 28 x 32 = 896 m² + Jumlah ………. =1.600 m²

Total parkir pemuatan 1.152 + 1.600 = 2.752 m² b) Parkir penurunan

Jarak dekat 32 bus sedang x 32 = 1.024 m² Jarak jauh 14 bus besar x 44 = 616 m²

132

Jarak jauh 25 bus sedang x 32 = 800 m² + Total luas parkir penurunan………… = 2.440 m² c) Parkir reserve

Kapasitas 40 bus, dihitung dalam luasan bus besar, maka luas : 40 bus x 44 = 1.760 m²

d) Parkir servis ringan

Asumsi 15 parkir bus, luas 15 x 44 = 660 m² 2. Kendaraan kota

Kendaraan kota yang masuk ke dalam terminal untuk angkutan umum hanya ada satu jalur, yaitu jurusan Palopo. Selain itu kendaraan kota lainnya adalah taksi dan kendaraan pribadi.

a. Penumpang berangkat

Jarak dekat 42.766 org/hari, berarti 1 trip (20’) = 41.766 : (14 jam x 3) = 994 org/trip

Jarak jauh 37.038 org/hari, berarti 1 trip (15’) = 37.038 : (9 jam x 4) = 1.029 org/trip

Maka dalam satu saat terdapat 994 + 1.029 = 2.023 org/trip.

b. Penumpang datang

Berdasarkan data dari DLLAJR, penumpang datang adalah 90% lebih sedikit dari penumpang berangkat, maka 90% x 2.023 = 1.821 org/trip.

Dari jumlah penumpang di atas, diperoleh luasan area kendaraan kota sebagai berikut :

3. Parkir mobil pengantar / penjemput a) Penumpang berangkat :

Dokumen terkait