• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORITIS

2.8. Sistem Pengolahan Bahan

Secara garis besar proses pengolahan bahan pustaka meliputi : 1. Inventarisasi 2. Katalogisasi 3. Klasifikasi 4. Penyelesaian Fisik 5. Shelving 2.8.1. Inventarisasi

Setelah bahan pustaka masuk ke perpustakaan, kegiatan yang pertama dilakukan adalah inventarisasi. Kegiatan ini merupakan mencatat identitas bahan pustaka pada buku induk atau kartu indeks dan sejenisnya atau secara elektronis ke pangkalan data komputer.

Menurut Yulia (1993: 144), “Inventarisasi koleksi bahan pustaka adalah kegiatan pencatatan setiap bahan pustaka yang diterima perpustakaan ke dalam buku

inventarisasi atau buku induk sebagai tanda bukti perbendaharaan atau pemilikan perpustakaan”.

Kolom-kolom yang perlu dicatat dalam buku inventaris adalah sebagai berikut :

 Tanggal penerimaan

 Nomor urut pencatatan

 Nama pengarang

 Judul buku

 Penerbit dan tahun terbit

 Sumber (pembelian, hadiah/sumbangan, atau pertukaran)

 Harga (untuk sumber pembelian)

 Jenis buku (referensi, fiksi, non fiksi dan lain-lain)

 Bahasa (dibagi tiga kolom : Indonesia, Inggris dan bahasa asing lainnya)

 Keterangan.

Pengecapan atau stempel perpustakaan pada halaman tertentu, biasanya dibubuhkan di bagian tengah dan di bagian belakang buku. Cap atau stempel itu untuk menandakan bahwa koleksi tersebut milik perpustakaan. Stempel yang menjadikan ciri atau identitas bahan pustaka agar dengan mudah dapat dibedakan dengan koleksi yang lain.

Menurut buku Pedoman Umum Penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah (1990: 20) yang dimaksud dengan inventarisasi adalah; “Kegiatan memeriksa, memberi stempel, dan mencatat atau mendaftar semua koleksi perpustakaan dalam buku induk dan diberi nomor induk pada setiap eksemplar dengan nomor yang berbeda”.

Sedangkan menurut buku Pedoman Umum Perpustakaan Perguruan Tinggi (1979: 16), “Inventarisasi koleksi berupa kegiatan pencatatan koleksi bahan pustaka ke dalam inventaris (buku induk koleksi) sebagai tanda bukti perbendaharaan perpustakaan”.

Kegiatan inventarisasi bahan pustaka dibagi menjadi 2 bagian, yaitu : 1. Kegiatan kerja professional

 Menetapkan macam dan ukuran kolo, dalam buku inventaris.

 Menetapkan letak pengecapan tanda milik perpustakaan. 2. Kegiatan kerja non-profesional

 Melakukan pencatatan koleksi di buku inventaris yang telah tersedia.

 Melaksanakan pengecapan tanda bukti milik pada koleksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

NS Sutarno dalam bukunya Manajemen Perpustakaan (2006: 179) menyatakan bahwa; “Inventarisasi atau registrasi adalah kegiatan yang mencatat identiatas bahan pustaka pada buku indeks atau kartu indeks (cardek) dan sejenisnya atau secara elektronis ke pangkalan data computer”.

Adapun data pustaka yang didaftarkan pada buku induk menurut NS Sutarno adalah sebagai berikut :

a. Nama pengarang b. Judul buku

c. Tanggal diterima di perpustakaan d. Tahun terbit

e. Edisi keberapa? f. Nama penerbit

g. Tempat dan tahun terbit

h. Sumber (membeli, sumbangan atau yang lainnya)

i. Keterangan lain yang dianggap perlu, seperti harga, jumlah eksemplar, dan seri.

Dari uraian penjelasan penjelasan di atas dapat dilihat bahwa inventarisasi adalah pemberian jati diri bahan pustaka dengan stempel kepemilikan perpustakaan dan stempel inventaris. Selain pemberian jati diri bahan pustaka kegiatan inventarisasi lainnya adalah pembuatan buku induk perpustakaan.

Setelah bahan pustaka tersebut selesai di daftar pada buku induk, bahan pustaka tersebut diserahkan ke bagian katalogiasasi dan klasifiksi untuk diolah pada tahapan selanjutnya.

2.8.2 Katalogisasi

Setelah bahan pustaka sudah di inventarisasi maka langkah selanjutnya adalah pembuatan katalog. Katalog memungkinkan pengguna untuk menemukan suatu bahan pustaka yang tersedia dalam koleksi perpustakaan tertentu. katalog juga memungkinkan untuk mengetahui dimana suatu bahan pustaka dapat ditemukan.

Katalogisasi diawali dengan kegiatan pengatalogan deskriptif yaitu menentukan tajuk entri utama dan tajuk entri tambahan. Kegiatan ini berpedoman pada Peraturan Katalogisasi Indonesia edisi 4 (Perpustakaan Nasional, 1994) yang bersumber pada peraturan pengatalogan standar internasional yaitu “The Anglo American kataloguing Rules” (AACR).

Kegiatan dilanjutkan dengan pembuatan kartu katalog yang kemudian digandakan sesuai kebutuhan (pengarang, judul, subjek, dan jejakan lain) serta shelf list dan dijajarkan pada laci katalog.

Alat yang digunakan dalam melakukan pengatalogan adalah sebagai berikut :

 Anglo-American Kataloguing Rules (AACR)

 Standar deskripsi untuk bibliografi

 Peraturan katalogisasi Indonesia

 Format MARC INDONESIA (INDOMARC)

 Format Dublin Core

 Standar penentuan tajuk entri

Di dalam buku Perpustakaan Perguruan Tinggi: Buku Pedoman (2004: 60) dijelaskan bahwa; “Pengatalogan bahan pustaka adalah kegiatan mencatat data bibliografi bahan perpustakaan menurut aturan buku yang berlaku di perpustakaan”.

Menurut Sumardji (1988: 26) dalam bukunya Perpustakaan Organisasi dan Tatakerjanya bahwa;

Katalogisasi adalah kegiatan pembuatan kartu katalog untuk setiap bahan koleksi (buku/pustaka) mulai dari membuata T-slip (Temporaryslip=konsep kartu katalog) sampai pada pembuatan pelbagai macam kartu katalog, seperti : kartu katalog pengarang, kartu katalog judul, kartu katalog subjek, kartu katalog pengecekan (checkcard/shelflist), dan lain-lain.

Di dalam buku Pedoman Umum Perpustakaan Perguruan Tinggi (1979: 16) dikemukakan bahwa pekerjaan katalogisasi koleksi berupa pengolahan koleksi bahan pustaka secara sistematis sehingga mudah dan siap dimanfaatkan untuk pelayanan pemakai. Kegiatan ini di bagi dalam 2 bagian yaitu :

1. Kegiatan kerja prifesional

 Menetapkan sistem katalog yang dipergunakan.

 Menetapkan macam katalog yang akan disajikan.

 Menetapkan macam dan tempat penempelan label.

 Menetapkan pedoman penyusunan katalog.

 Menetapkan pedoman penyusunan koleksi di rak. 2. Kegiatan Kerja non-profesional

 Melaksanakan pengetikan katalog sesuai dengan sistem yang ditetapkan.

 Melakukan penggandaan katalog sesuai dengan macam yang dipilih.

 Melaksanakan penempelan label sesuai dengan macam dan tempatnya yang telah ditentukan.

 Melaksanakan penyusunan katalog sesuai dengan pedoman.

Pada buku Pedoman Umum Penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah (1999: 20) disebutkan bahwa; “Katalogisasi adalah kegiatan membuat entri dalam kartu atau daftar mengenai buku dan bahan pustaka lainnya yang ada dalam koleksi perpustakaan yang disusun menurut aturan tertentu”.

NS Sutarno dalam bukunya Manajemen Perpustakaan (2006: 182) menyatakan bahwa; “Katalogisasi adalah kegiatan membuat dekripsi data bibliografi suatu bahan pusta menurut aturan tertentu”.

Selanjutnya Sutarno NS membagi katalogisasi menjadi 3 bagian yaitu:

a. Katalogisasi sederhana, adalah kegiatan katalogisasi yang hanya mencantumkan informasi data bibliogafis, tingkat (level) 1 berdasarkan Anglo American Kataloging Rules (AACR II) yaitu: judul asli, pengarang, edisi, penerbit, tempat terbit, dan nomor standar seperti International Standard Book Number (ISBN).

b. Katalogisasi kompleks, adalah kegiatan katalogisasi yang mencantumkan informasi data bibliografis tingkat 1 ditambah antara lain judul paralel, judul-judul seri, judul terjemah, dan pengarang tambahan.

c. Katalog salinan adalah kegiatan menyalin data bibliografi bahan pustaka dari sumber bibliografi lain dengan atau tanpa menambah informasi yang diperlukan.

Menurut Eryono (1993: 3) dalam bukunya Pengolahan Bahan Pustaka tujuan katalogisasi, antara lain :

 Menggali suatu bahan pustaka yang diproses sehingga dapat memberikan informasi kepada pembaca untuk membedakannya dengan bahan pustaka lainnya.

 Memberikan karakter pada suatu bahan pustaka yang dapat membantu para pembaca dalam memilih bahan pustaka yang diperlukan.

 Menetapkan entri pada tajuk yang paling menguntungkan pembaca.

Dari tujuan katalogisasi tersebut di atas, fungsi katalog juga dirinci sebagai berikut:

 Mencatat setiap karya seorang pemgarang pada tajuk yang sama.

 Menyusun entri pengarang secara tepat sehingga semua karya oleh seorang pengarang terdapat pada tajuk yang sama.

 Mencatat entri subjek dari karya-karya yang memiliki perpustakaan.

 Mencatat semua judul karya-karya semua perpustakaan.

 Membuata semua penunjukan dari entri yang tidak dipergunakan kepada entri yang dipergunakan perpustakaan.

 Memberikan petunjuk dimana buku disusun dalam rak.

 Memberikan uraian tentang setiap karya yang dimiliki oleh perpustakaan sehingga pembaca mendapat informasi lengkap tentang karya tersebut.

Menurut Sulistyo-Basuki (1993: 319) penyusunan katalog secara garis besar terdiri dari :

1. Katalog abjad terdiri dari : a. Katalog pengarang

b. Katalog judul c. Katalog subjek

d. Katalog legsikal (Dictonary catalogue) 2. Katalog kelas (Classified catalogue) 3. Katalog terbagi (Devided catalogue)

Susunan katalog abjad disusun menurut abjad dari setiap entri (pengarang, judul, dan subjek). Katalog penagarang memberikan informasi tentang nama pengarang suatu karya. Katalog judul memberikan informasi menganai judul-judul buku apa saja yang dimiliki perpustakaan. Katalog subjek memungkinkan pengguna untuk mengetahui buku-buku yang dimiliki oleh perpustakaan berdasarkan subjeknya. Sedangkan katalog leksikal merupakan katalog yang mencakup entri pengarang, judul dan subjek yang disusun bersama-sama menjadi satu menurut abjad. Susunan katalog kelas (classified catalogue) disusun menurut kelas dari setiap entri. Susunan katalog terbagi merupakan sampelan dari katalog leksikal.

2.8.2.1. Penentuan Tajuk Entri Utama

Tajuk entri utama adalah uraian lengkaap katalog dari sebuah buku yang dibuat sebagai dasar bagai pembuatan entri-entri lainnya. Tajuk entri utama biasanya merupakan entri pengarang, yaitu uraian katalog dengan tajuk biasanya biasanya berupa nama pengarang. Tetapi dalam hala-hal tertentu tajuk tidak berupa nama pengarang, melainakan judul, dan entri pengarang ditentukan dari kepengarangan (authority).

Menurut Eryono (1993: 96) dalam bukunya Pengolahan Bahan Pustaka menjelaskan bahwa sebuah entri utama terdiri dari unsur-unsur sebagai berikut :

1. Tajuk

2. Deskripsi, yang terdiri dari unsur-unsur yaitu :

 Judul

 Pernyataan kepengarangan

 Keterangan edisi

 Impresium: tempat terbit, penerbit, dan tahun terbit

 Catatan

 ISBN

 Jejakan

2.8.2.2 Deskripsi Bibliografis

Pembuatan deskripsi bibliografis katalog harus dilakukan menurut suatu peraturan tertentu yang berlaku berpedoman pada AACR-2 (Anglo American Kataloging Rules-2). Untuk Indonesia ada ringkasan AACR-2 yang disebut dengan Peraturan Katalogisasi Indonesia yang diterbitkan oleh Perpustakaan Nasional.

Menurut Eryono (1993: 103-107) dalam bukunya Pengolahan Bahan Pustaka, unsur-unsur deskripsi katalogisasi bahan pustaka monograf urutannya adalah sebagai berikut :

1. Judul

Judul karya terdiri dari unsur-unsur sebagai berikut : a. Judul utama diawali dengan huruf besar.

b. Judul tambahan dipisah dari judul utama dengan tanda titik dua (:).

c. Judul alternatif yakni judul yang sama dengan bahasa yang berbeda dipisahakan dari judul utama dengan tanda koma (,) “atau” dan sejenisnya sesuai dengan bahasa yang digunakan dalam karya yang bersangkutan.

d. Jika judul uatama terlalu panjang, dapat diperpendek dengan cara mengambil sekurang-kurangnya lima kata pertama, asal tidak menghilangkan pengertian pokok dari judul. Kata-kata yang dihilangkan ditandai dengan tiga titik.

e. Jika terdapat judul paralel (yaitu judul yang sama dengan bahasa yang berbeda), maka judul tersebut dipisahkan dari judul uatam dengan tanda “sama dengan (=)”.

f. Jika seluruh unsure judul terdapat dalam satu karya, maka urutannya diatur sebagai berikut : judul utama, judul paralel, judul alternatif, dan judul tambahan.

2. Keterangan kepengarangan

Nama pengarang baik orang maupun badan korporasi diulang dalam deskripsi (pokok uraian) setelah judul dan didahului dengan tanda haris miring (/), dengan ketentuan sebagai berikut :

a. Penyebutan nama pada deskripsi tanpa mengubah struktur nama seperti pada tajuk, dicatat sesuai data yang terdapat pada halaman judul, dalam hal ini sebelum nama pengarang terdapat kata “oleh” atay sejenisnya, kata tersebut dicantumkan juga.

b. Nama pengarang ganda sebanyak-banyaknya tiga orang, seluruhnya dicantumkan pada deskripsi, masing-masing dipisahkan dengan tanda koma. Jika perlu dapat digunakan “dan” dalam bahasa buku diantara dua kurung siku.

c. Jika nama pengarang ganda lebih dari tiga, maka dalam deskripsi dicantumkan nama pengarang pertama dengan keterangan tambahan “[et al]”.

d. Selain nama pengarang, semua yang terlibat dalam kepengarangan disebutkan dalam deskripsi setelah penyebutan nama pengarang. Dalam hal ini termasuk di dalmnya: nama penerjemah, ilustrator, penyunting dan lain-lain. Masing-masing dipisahkan denga tanda titik koma (;).

e. Gelar akademik dan nama panggilan tidak dinyatakan dalam deskripsi.

3. Keterangan edisi

Dalam mencantumkan keterangan edisi ditentukan sebagai berikut :

a. Dalam mencantumkan keterangan edisi digunakan istilah dalam bahasa buku dan disingkat misalnya : edition=ed. ; cetakan=cet. b. Cetakan ulang tanpa disertai revisi tidak dianggap suatu edisi. c. Pencantuman nomor edisi didahului dengan tanda : .

Contoh : 2nd ed., cet.5.

d. Jika edisi tersebut berupa edisi baru, atau disertai revisi, perlu dicantumkan dengan singkat.

e. Jika suatu edisi dikaitkan dengan penanggung jawab khusus edisi tersebut, yang bersangkutan dicantumkan sesudahnya dengan pemisah

tanda garis miring. 4. Impresium

Yang dimaksud dengan impresium adalah tempat terbit, nama penerbit, dan tahun terbit.

a. Pencantuman tempat terbit ditentukan sebagai berikut :

 Pencantuman tempat terbit didahului dengan tanda .—

 Jika terdapat dua tempat terbit, keduanya dapat dicantumkan dengan pemisahan tanda titik koma (;).

 Jika nama tempat terbit tidak dijumpai dalam karya, dapat diganti dengan : pencetak atau distributor buku.

 Jika nama tempat penerbit, pencetak dan penyalur tidak dijumpai, cantumkan “s.l. = sine loco” atau yang searti dengan itu.

b. Pencantuman nama penerbit ditentukan sebagai berikut :

 Nama penerbit didahului dengan titik dua (:).

 Singkatan yang menunjukkan nama perusahaan seperti : PT, Fa, Co, dan sejenisnya tidak disebutkan dalam impresium, kecuali “Press”.

 Jika nama penerbit tidak dijumpai, nama pencetak atau distributor dapat dinyatakan sebagai gantinya.

c. Pencantuman tahun terbit ditentukan sebagai berikut :

 Tahun terbit didahului dengan tanda koma (,).

 Jika tahun Masehi tidak dijumpai, maka tahun yang tercantum dinyatakan dengan penjelasan tahun masehi dalam kurung siku.

 Jika tahun penerbit tidak dinyatakan dalam karya hendaknya dapat diperkirakan dalam kurung siku disertai tanda Tanya. Dalam hal ini jika tidak dapat diperkirakan, maka dibuatkan perkiraan dalam dasawarsa atau dalam abad.

5. Kolasi

Yang dimaksud dengan kolasi adalah pernyataan yang menyangkut fisik bahan pustaka, yang terdiri atasa : jumlah pagina, tinggi buku, dan keterangan ilustrasi dan lain-lain.

Keterangan kolasi dinyatakan dengan ketentuan sebagai berikut : a. keterangan dinyatakan secara singkat dalam bahasa Indonesia: - Pagina disingkat P.

- Ilistrasi disingkat ilus. - Bibliografi disingkat bib. - Indeks disingkat ind. - Gambar disingkat gam. - Sentimeter disingkat cm. - Volume disingkat v.

b. Jumlah pagina dinyatakan dalam angka Romawi kecil dan dalam angka Arab. Diantara keduanya dipisahkan dengan tanda koma (,).

c. Buku yang terdiri atas beberapa jilid, besarnya tidak dinyatakan dengan jumlah pagina, tetapi dengan jumlah jilidnya yang dinyatakan dengan volume (disingkat v.).

d. Keterangan ilustrasi, indeks, gambar dan bibliografi didahului dengan tanda titik dua (:).

e. Ukuran tinggi buku dinyatakan dengan sentimeter dan didahului dengan tanda titik koma (;).

6. Keterangan seri

Keterangan seri dinyatakan sebagai berikut :

a. Keterangan nama dan nomor seri dinyatakan diantara dua kurung, setelah penyebutan kolasi.

b. Pernyataan nomor seri didahului dengan tanda titik koma (;).

7. Catatan

Hal-hal penting yang tidak tertampung dalam pokok uraian dapat dinyatakan dalam catatan, misalnya judul asli dari suatu karya terjemahan, penunjukan halaman bibliografi.

a. Judul asli dari suatu karya terjemahan dinyatakan diantara dua tanda petik (“ “).

b. Jika sumber bacaan perlu dinyatakan secara khusus beserta lokasinya.

8. Standar Nasional Nomor Buku (ISBN)

ISBN didahului huruf ISBN, dan ditulis dengan tanda hubung (-) diantara bagian nomornya.

9. Jejakan

Jejakan berisi keterangan tentang entri tambahan yang perlu dibuat. Dengan adanya jejakan dapat diketahui oleh yang menggandakan katalog, entri tambahan apa saja yang perlu dibuat.

Jejakan dibuat dengan ketentuan sebagai berikut :

a. Untuk jejakan subjek diberi nomor urut dengan angka Arab, dan istilah subjek seluruhnya dinyatakan dengan huruf kapital.

b. Jejakan-jejakan lain diberi nomor urut dengan angka Romawi, dengan ketentuan sebagai berikut :

- Judul disingkat J. - Judul Seri disingkat JS. - Judul Asli disingkat JA.

- Nama pengarang ditulis sesuai namanya pada tajuk.

2.8.2.3 Penentuan Tajuk Subjek

Penentuan tajuk subjek adalah suatu kegiatan menetukan subjek (isi) buku dalam bentuk kata. Tajuk subjek buku dapat ditentukan dari judul, daftar isi, pendahuluan atau timbangan buku.

Disamping untuk menetukan nomor klasifikasi, hasil analisis subjek juga digunakan sebagai dasar dalam penentuan tajuk subjek pustaka dengan memanfaatkan sarana bantu “Daftar Tajuk Subjek untuk Perpustakaan “, edisi 4 (Perpustakaan Nasional, 1994: 22).

Untuk menetukan tajuk subjek suatu buku biasanya dipergunakan suatu pedoman. 1. Library of Congress Subject Headings (LCSH)

Pedoman ini digunakan pada perpustakaan yang memiliki bahan pustaka dalam jumlah besar, diperguanakan untuk menetukan subjek buku secara deteil.

2. Sears Lists Subject Headings

Pedomana penentuan subjek secara umum, biasanya digunakan pada perpustakaan yang memiliki bahan pustaka dalam jumlah yang tidak terlalu besar.

3. Medical Subject Headings (MeSH)

Pedonam ini digunakan khusus bidang kesehatan dan kedokteran.

4. Pedoman Tajuk Subjek untuk perpustakaan, yang diterbitkan oleh pusat pembinaan Perpustakaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Menurut Eryono (1993: 254) dalam bukunya Pengolahan Bahan Pustaka merinci bentuk-bentuk tajuk subjek antara lain :

1. Tajuk tunggal

Dalam memilih tajuk yang berupa kata tunggal mungkin tidak terdapat kesulitan, tetapi juka kata atau istilah tersebut mempunyai sinonim kata yang lain, perlu dipertimbangkan untuk memilih istilah dengan prioritas sebagai berikut :

- istilah yang paling dikenal masyarakat,

- istilah yang paling banyak digunakan dalam katalog, - istilah yang paling spesifik pengertiannya,

- istilah yang paling dulu dalam abjad,

- istilah yang mempunyai kaitan erat dengan subjek lain.

2. Tajuk ganda

Sering kali suatu subjek sulit dicarikan istilah dalam bentuk tunggal, maka dalam hal ini diperlukan kata ganda atau frase, dengan komposisi sebagai berikut :

- kata benda disertai kata sifat,

- kata benda disertai kata benda lain sebagai sifat, - dua kata menda dihubungkan dengan preposisi, - dua kata dihubungkan dengan kata sambung,

- dua kata benda atau lebih tanpa disertai kata sambung.

3. Tajuk dengan subdivisi

Tajuk tunggal maupun ganda dapat diberi subdivisi, baik subdivisi bentuk, tempat, waktu maupun subdivisi topik.

Dalam menentukan tajuk subjek ada beberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan (Sjahrial-Pamuntjak, 2000: 82) antara lain :

1) Tajuk subjek harus dipilih dengan berpedoman kepada pemakai perpustakaan. Yaitu kata yang digunakan akan menjadi pilihan pemakai. 2) Semua buku dalam subjek tertentu harus ditempatkan bersama tajuk subjek

yang sama. Karena itu tajuk subjek harus tepat dan jelas.

3) Tajuk subjek yang dipilih harus spesifik dan sesuai dengan perihal yang dibahas dalam buku. Jika dipilih tajuk subjek yang lebih luas artinya daripada yang dibicarakan dalam buku, pemakai akan tersesat. Lebih memilih beberapa tajuk subjek yang spesifik untuk mencakupi semua perihal yang dibahas dalam buku, daripada memilih tajuk subjek terlalu luas.

4) Tajuk subjek harus terdiri dari kata yang umum dan masih terpakai untuk mencegah timbul keraguan pada pemakai katalog.

2.8.3. Klasifikasi

2.8.3.1. Pengertian, Jenis dan Ciri-ciri Klasifikasi

Koleksi bahan pustaka terdiri jenis disiplin ilmu (subjek) yang berbeda sehingga perlu diatur dan diklasifikasikan menurut subjek masing-masing. Tujuan pengklasifikasian ini adalah untuk memudahkan pustakawan dalam penataan bahan pustak di rak serta memudahkan pengguna dalam mencari atau menelusur informasi yang dibutuhkannya.

Alat bantu yang digunakan dalam kegiatan klasifikasi bahan pustaka harus berpedoman pada sitem klasifikasi yang telah diakui secara umum baik secara nasional maupun internasional.

Menurut buku Pedoman Umum Penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah (1999: 20), “Klasifikasi adalah kegiatan menganalisa isi bahan pustaka dan menetapkan kode menurut sistem tertentu yang tepat untuk sebuah buku, karangan dalam majalah dan lain-lain”.

Klasifikasi adalah pengelompokan yang sistematis daripada sejumlah objek, gagasan, buku atau benda-benda lain ke dalam kelas atau golongan tertentu berdasarkan ciri-ciri yang sama (Hamakonda, 2002: 1). Dalam klasifikasi bahan pustaka dipergunakan penggolongan menurut ciri tertentu. Tetapi yang menjadi dasar utama penggolongan koleksi perpustakaan yang paling banyak dipakai adalah penggolongan berdasarkan isi atau subjek buku. Ini berarti buku-buku yang membahas subjek yang sama akan dikelompokkan secara bersamaan.

Menurut Sumardji dalam bukunya Perpustakaan Organisasi dan Tatakerjanya (1988: 25), “Klasifikasi adalah kegiatan mengelompokkan bahan koleksi sesuai dengan macamnya dan bidang ilmunya masing-masing”.

Menurut buku Pedoman Umum Perpustakaan Perguruan Tinggi (1979: 16) bahwa; “Klasifikasi koleksi adalah kegiatan mengelompokkan koleksi bahan pustaka dengan memberi notasi (kode-kode klsifikasi) sesuai dengan sistem klasifikasi tertentu”.

Kegiatan ini dibagi dalam dua bagian yaitu: 1. Kegiatan kerja professional

 Menetapkan system klasifikasi yang akan digunakan.

 Menetapkan panjang pendeknya notasi.

 Menuliskan notasi pada setiap koleksi bahan pustaka. 2. Kegiatan kerja non-profesional

Penetapan nomor nomor klasifikasi bahan pustaka menggunakan sarana bantu “Terjemahan Ringkasan Desimal dan Indeks Relatif : desesuaikan dengan DDC 20” (Perpustakaan Nasional, 1983). Mekanisme skema klasifikasi tersebut diatas perlu dipahami untuk menjamin kelancaran dan ketaatasasan klsifikasi.

Alat bantu yang digunakan dalam melakukan klasifikasi antara lain :

Dewey Decimal Classification (DDC)

DDC merupakan sistem klasifikasi yang paling popular dan paling banyak pemakainya saat ini. Sistem klasifikasi ini menggunakan desimal dalam mengembanhkan notasinya dengan menggunakan angka Arab. Sistem

klasifikasi ini telah dikembangkan sejak tahun 1873 oleh seorang pustakawan Amherst Collage yang bernama Melvil Dewey. Pada garis besarnya sistem klasifikasi ini menyediakan bagan yang meliputi seluruh bidang pengetahuan yang dibagi menjadi 10 bidang.

Universal Decimal Classification (UDC)

UDC seharusnya merupakan ekstensi dari DDC, deterbitkan pertama kali tahun 1905 dengan nama Classification Decimal.

Library of Congress Classification (LCC)

LCC melai dikembangkan pada awal tahun 1899 dan terbit pertama kali pada tahun 1901. Adanya sistem klasifikasi ini terutama karena kepentingan perpustakaan “Congress” Amerika yang begitu besar koleksinya dan dirasa kurang sesuai jika menggunakan system klasifikasi yang lain.

Menurut NS Sutarno dalam bukunya Manajemen Perpustakaan (2006: 180) menyatakan bahwa; “Klasifikasi adalah kegiatan menganalisis bahan pustaka dan menentukan notasi yang mewakili subjek bahan pustaka dengan menggunakan sistem klasifikasi tertentu”.

Selanjutnya NS Sutarno merinci klasifikasi menjadi 2 bagian yaitu :

1. Klasifikasi sederhana, yaitu klasifikasi yang notasinya ditentukan maksimal 5 (lima) angka, biasanya untuk perpustakaan yang relative kecil atau terbatas jumlah koleksinnya.

2. Klasifikasi kompleks, yaitu klasifikasi yang notasinya mewakili bahan pustaka secara spesifik dan setepat mungkin.

Menurut Sulistyo-Basuki (1993: 310-313) ciri-ciri umum bagan klasifikasi antara lain :

1. Bagan

Bagan dalam bahasa Inggris desebut “ Scheduls” digunakan untuk memberi dekripsi semua kelas utama, divisi dan sub divisi dari sebuah baan klasifikasi. 2. Indeks

Indeks sebuah bagan klasifikasi adalah daftar semua subjek yang dicakup dalam bagan klasifikasi, disusun menurut abjad disertai dengan tanda yang

Dokumen terkait