• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistem Pengupahan Pada Pekerja Harian Lepas

Dalam dokumen Perlindungan Hukum Bagi Pekerja Harian L (Halaman 31-37)

BENTUK PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PEKERJA STATUS HARIAN LEPAS YANG TIDAK MENDAPATKAN UPAH KERJA

2.1 Sistem Pengupahan Pada Pekerja Harian Lepas

Upah merupakan bentuk imbalan yang diberikan kepada buruh atau pekerja dari pengusaha atau pemberi kerja atas jasa yang dikerjakannya demi

kepentingan pemberi kerja. Menurut Pasal 1 angka 30 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang dimaksud dengan upah atau gaji yaitu hak pekerja atau buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja atau buruh yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan atau peraturan perundang-undangan termasuk tunjangan bagi pekerja atau buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan/atau jasa yang telah atau akan dilakukan. Upah tersebut bisa berupa uang yang dapat diberikan secara langsung maupun tidak langsung seperti halnya memberikan dengan cara transfer melalui bank, dan pemberian upah tersebut bisa berupa barang atau benda yang sekiranya berharga dan dipersetujui oleh pihak pekerja tanpa adanya paksaan dari pemberi kerja. Pembayaran upah tersebut atau bisa disebut sistem upah bisa terbagi menjadi beberapa bentuk macam pengupahan kepada pekerja. Sistem upah itu sendiri merupakan kebijakan dan strategi yang menentukan kompensasi yang diterima pekerja. Bagi pekerja, masalah sistem upah ini merupakan masalah yang penting karena menyangkut keberlangsungan dan kesejahteraan hidup mereka. Menurut Pasal 4 ayat (1) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 78 Tahun 2015 Tentang Pengupahan menjelaskan bahwa penghasilan yang layak merupakan jumlah penerimaan atau pendapatan pekerja/buruh dari hasil pekerjaannya sehingga mampu memenuhi kebutuhan hidup pekerja/buruh dan keluarganya secara wajar

Didalam sistem pengupahan, pastinya semua berawal dari pemberi kerja yang membutuhkan pekerja untuk membantu mengerjakan dan mengembangkan usaha yang dimilikinya. Di sisi lain, pekerja itu pun juga membutuhkan pekerjaan yang dikarenakan tuntutan kebutuhan ekonomi sehari-hari yang semakin hari semakin naik harga kebutuhan primer maupun sekunder dan tersier. Untuk itu hubungan mereka dipastikan saling terpaut karena mereka sama-sama membutuhkan. Pekerjaan itu sendiri berawal dari pemberi kerja yang lebih dulu bertemu dengan pekerja, maka akan dilanjutkan mengenai sistem pekerjaan yang akan dikerjakan dan aturan-aturan dasar dalam dunia pekerjaan. Semua mengenai aturan dan jenis pekerjaan akan ditulis dalam bentuk autentik didalam naskah perjanjian pengikatan hubungan antara pemberi kerja dengan pekerja. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari perihal yang dapat merugikan masing- masing dari pihak. Kemudian didalam perjanjian tersebut akan ditandatangani oleh pihak pemberi kerja maupun pihak pekerja tanpa adanya paksaan maupun ancaman. Pembuatan perjanjian kerja dapat dilakukan dalam waktu 1 hari. Setelah itu pekerja berkewajiban untuk melakukan pekerjaan yang sudah disepakati oleh pihak pemberi kerja, dengan jangka waktu yang telah ditentukan dalam perjanjian yang disesuaikan dengan undang-undang yang masih berlaku. Setelah suatu pekerjaan telah selesai dilakukan oleh pekerja, maka pekerja dapat meminta hak alaminya dalam bekerja yaitu meminta upah yang sudah ditentukan. Biasanya dalam pekerja harian lepas, upah akan dibayarkan setelah 7 hari semenjak pekerjaan selesai. Berikut merupakan proses sistem pengupahan :

Bagan 1

Proses Sistem Pengupahan

Didalam proses pemberian pengupahan, terbagi menjadi beberapa macam bentuk dan cara dalam pembayaran upah kepada pekerja. Tergantung dalam kesepakatan sistem pengupahan atau pun dalam kondisi yang diharuskan untuk melakukan pembayaran dengan keterlambatan waktu. Berikut merupakan beberapa sistem pengupahan upah kepada pekerja :

Melakukan Pekerjaan Pemberi Kerja Perjanjian Pekerjaan Selesai Pekerja Pemberian Upah 7 Hari 1 Hari

1. Upah Langsung adalah sistem upah yang langsung berbentuk sejumlah uang yang dibayarkan atas dasar satuan waktu tertentu. Satuan waktu tersebut bisa harian, mingguan dan bulanan. Tetapi penggunaan sistem upah langsung ini belum mencakup upah lembur. Biasanya yang menggunakan sistem ini adalah pekerja yang termasuk didalam perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT). Dengan ditentukan dalam beberapa jam atau hari dengan sistem langsung bayar.

2. Gaji adalah sistem upah yang didasarkan atas waktu atau lamanya mengerjakan suatu pekerjaan. Bisa juga menggunakan jam, atau yang biasa disebut upah per jam. Pekerja yang menerima upah dalam sistem gaji biasanya termasuk didalam perjanjian kerja waktu tak tentu (PKWTT). Karena pemberian upah bisa dalam waktu bulanan dengan terhitung dari per jam yang dilakukan pekerja.

3. Upah Satuan adalah upah yang dibayarkan kepada pekerja dihitung dari sejumlah produk atau banyaknya produk yang pekerja hasilkan. Biasanya didalam sistem upah ini, perusahaan atau pemberi kerja harus memastikan/menjamin adanya upah minimum yang pekerja dapatkan. Sistem ini termasuk menganut pada jumlah kuantitas pada produk yang dihasilkan oleh pekerja.

4. Komisi adalah sistem pembayaran yang berbentuk sejumlah uang yang dibayarkan untuk setiap unit barang yang terjual dan didasarkan atas presentase dari harga jual. Didalam pengupahan ini juga lebih diperuntukkan kepenjualan unit, bukan unit yang dapat diproduksi.

Biasanya sistem ini diberlakukan kepada sales atau marketing suatu perusahaan dengan ditentukan oleh target penjualan kepada konsumen. Seperti halnya unit apartemen atau unit kendaraan.

5. Premi Shift Kerja adalah upah yang diberikan kepada para pekerja yang bekerja diluar jam kerja normal. Dengan contoh sebuah perusahaan mengejar deadline pada suatu proyek untuk diproduksi, untuk itu perusahaan mempekerjakan pekerja tambahan pada waktu sore atau malam hari dan mendapat upah yang lebih tinggi dari pekerja yang bekerja pada jam kerja normal. Sistem ini jarang digunakan karena pemberi kerja sudah cukup dengan menggunakan pekerja pada jam normal dengan menentukan target perharinya sehingga dapat mencegah terjadinya pengejaran deadline dalam suatu proyek.

6. Tunjangan Tambahan adalah sistem upah yang berdasarkan pada waktu yang dilihat pada pekerja telah bekerja cukup lama atau tidak pada suatu perusahaan.Sistem upah tunjangan tambahan ini bisa berbentuk tunjangan hari raya, tunjangan hari libur, tunjangan akhir tahun, cuti, pesangon, uang makan, jemputan bahkan hingga rumah dan kendaraan. Sistem ini biasanya diberikan secara otomatis bersandingkan dengan sistem pengupahan yang lain. Seperti contohnya seorang karyawan ditugaskan diluar kota untuk kepentingan perusahaan, untuk itu perusahaan wajib untuk memberikan uang makan, transportasi, kesehatan, keselamatan dan tempat tinggal selama itu diperlukan dalam penugasan.

Pemberian upah dari pemberi kerja kepada pekerja dapat dilakukan per tanggal yang sudah ditentukan dalam perjanjian ataupun kesepakatan. Jadi pemberi kerja dapat menentukan sistem pengupahan yang akan diberlakukan kepada pekerja atau buruhnya dengan melihat bentuk dari sistem kerja itu sendiri dan waktu yang ditentukan oleh pemberi kerja. Menurut Pasal 10 ayat 3 Keputusan Menteri No.100 Tahun 2004 Tentang Ketentuan Pelaksanaan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu menjelaskan bahwa dalam hal pekerja atau buruh bekerja 21 hari atau lebih selama 3 bulan berturut-turut atau lebih maka perjanjian kerja harian lepas berubah menjadi perjanjian kerja waktu tak tentu (PKWTT). Yang dapat diartikan pemberi kerja harus mengangkat pekerja itu menjadi karyawan tetapnya dengan didasari peraturan tersebut. Lebih tepatnya dengan dibuatkan perjanjian secara tertulis dengan para pekerja atau buruh.

2.2 Bentuk Perlindungan Hukum Bagi Pekerja Harian Lepas Yang Tidak

Dalam dokumen Perlindungan Hukum Bagi Pekerja Harian L (Halaman 31-37)