5. Aliansi Strategis
2.10 Sistem Penunjang Keputusan
Karakteristik permasalahan dalam valuasi teknologi memerlukan kerangka pemikiran secara sistem untuk mencari cara penyelesaian yang efektif dan komprehensif karena melibatkan banyak kepentingan dari para pelaku. Penentuan harga teknologi baru pada dasarnya merupakan pengambilan keputusan dari para pelaku yang terlibat dalam menilai hasil suatu invensi. Pengambilan keputusan dengan pendekatan sistem dikenal dengan Sistem Penunjang Keputusan (SPK) atau Decision Support System (DSS). Menurut Eriyatno (1998), SPK dimaksudkan untuk memaparkan secara mendetail elemen-elemen sistem dalam pengambilan keputusan secara tepat.
Situasi yang dihadapi dalam proses pengambilan keputusan berada pada kontinum masalah terstruktur dan tidak terstuktur. Pengambilan keputusan pada masalah yang terstuktur dapat diprogramkan dan yang tidak terstuktur tidak dapat diprogramkan. Keputusan strategis dihadapkan pada situasi semi terstruktur dan tidak terstuktur, kesepakatan tidak pasti, berorientasi jangka panjang dan menyeluruh.
31 Konsep SPK ditandai dengan sistem interaktif untuk membantu pengambil keputusan memanfaatkan data dan model dalam menyelesaikan masalah-masalah yang tidak terstruktur. Menurut Minch & Burns (1983) dalam Eriyatno (1998), SPK adalah sistem spesifik yang menghubungkan komputerisasi informasi dengan para pengambil keputusan sebagai pemakainya. Karakteristik pokok yang melandasi SPK adalah: (1) interaksi langsung antara komputer dengan pengambil keputusan; (2) dukungan menyeluruh (holistik) dari keputusan bertahap ganda; (3) sintesa dari konsep yang diambil dari berbagai bidang ilmu; dan (4) mempunyai kemampuan adaptif dan berevolusi.
Teknik SPK dikembangkan untuk meningkatkan efektivitas pengambilan keputusan. Efektivitas mencakup identifikasi dan jaminan relevansi kiteria yang dipilih dengan tujuan. Aplikasi SPK mencakup berbagai aktivitas seperti pertanian, perindustrian, perdagangan, dan lingkungan hidup. Komputer membantu penyampaian data dan informasi secara tepat, cepat dan akurat dalam menunjang keputusan. Model konsepsional SPK merupakan gambaran hubungan abstrak antara tiga komponen utama, yaitu: (1) data; (2) model; dan (3) pengambil keputusan (user). Struktur dasar SPK terlihat pada Gambar 7.
Gambar 7. Struktur dasar Sistem Pendukung Keputusan/SPK (Eriyatno, 1998).
Data Model Sistem Manajemen Basis Data (SMBD) Sistem Manajemen Basis Model (SMBM) Sistem Pengolahan Problematik Sistem Pengolahan Dialog (SPD) Pengguna
32 2.10.1 Subsistem Manajemen Basis Data
Subsistem manajemen basis data merupakan komponen yang berkaitan dengan pengelolaan data yang relevan mencakup data internal dan eksternal. Subsistem tersebut memiliki: (1) Sistem manajemen basis data/Data Base
Management System (DBMS) dengan fungsi dasar: penyimpanan,
pengambilan, pengontrolan, dan menambah data dengan cepat dan mudah; (2) Fasilitas query, yaitu elemen yang menyajikan dasar-dasar untuk akses data; dan (3) Directory adalah katalog semua data yang ada dalam basis data. Basis data yaitu sekumpulan dari keterhubungan data yang terorganisasi, berkaitan dengan struktur organisasi, dapat digunakan oleh lebih dari satu orang atau lebih dari satu aplikasi.
2.10.2 Subsistem Manajemen Basis Model
SPK memiliki kemampuan untuk mengintegrasikan akses data dan model keputusan. Kemampuan ini didapat melalui penambahan model-model keputusan ke dalam sistem informasi yang menggunakan database sebagai mekanisme integrasi dan komunikasi diantara model-model.
Model adalah representasi dari suatu obyek, benda atau ide-ide dalam bentuk lain dengan entitas sebenamya dan berisi informasi tentang suatu sistem yang dibuat. Tujuan pembuatan model adalah untuk mempelajari sistem yang sebenarnya. Beberapa fungsi model adalah sebagai alat bantu berfikir, alat komunikasi, dan sebagai alat prediksi. Model menurut cara penyajiannya dapat diklasifikasikan sebagai model fisik dan model matematis. Model matematik terdiri dari model statik dan model dinamik, yang masing-masing dapat disajikan dalam model numerik dan analitik.
Basis model berisi model kuantitatif yang menyediakan kemampuan analisis dan dapat dikelompokan ke dalam tiga katogori utama, yaitu: model strategis, taktis, dan operasional. Karakteristik basis model harus mempunyai kemampuan: (1) menciptakan model-model baru secara cepat dan mudah; (2) mengakses dan mengintegrasikan model-model keputusan; (3) mengelola basis model (menyimpan, menghubungkan, mengakses model).
33 2.10.3 Subsistem Pengolahan Dialog
Subsistem Manajemen Dialog adalah subsistem yang berkomunikasi dengan pengguna. Tugas utamanya adalah menerima input dan memberikan output yang dikehendaki pengguna.
Subsistem ini mempunyai pilihan modus dari interaksi dengan pengguna seperti format tabel, penyajian grafis dan sebagainya. Sistem pengolahan problematik adalah koordinator dan pengendali dari operasi SPK secara menyeluruh. Subsistem ini menerima input dari ketiga subsistem lainnya dalam bentuk baku, serta menyerahkan output ke subsistem yang dikehendaki dalam bentuk baku pula. Fungsi utamanya adalah sebagai penyangga untuk menjamin masih adanya keterkaitan antara subsistem. Manfaat utama SPK adalah pencegahan sedini mungkin dampak lanjut dari keputusan-keputusan yang tidak dikehendaki. Dengan mencegah terjadinya kesalahan di berbagai kategori keputusan, maka diharapkan program pengembangan menjadi lebih terarah dan berhasil.
2.10.4 Akuisisi Pengetahuan
Akuisisi pengetahuan merupakan suatu proses untuk mendapatkan pengetahuan yang digunakan oleh seorang ahli dalam menyelesaikan masalah pada domain yang terbatas. Pengetahuan adalah himpunan dari fakta, informasi dan kaidah. Akuisisi pengetahuan dilakukan oleh knowledge engineer melalui metode observasi, akuisisi dan deskripsi. Observasi yaitu melihat langsung pakar menyelesaikan masalah, akuisisi yaitu menggali data, pengetahuan dan prosedur yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah dari pakar, dan deskripsi yaitu pakar mendiskripsikan masalah pada setiap katagori lingkup permasalahan.
Proses akuisisi pengetahuan mencakup identifikasi, konseptualisasi, formalisasi, implementasi dan uji coba. Identifikasi dilakukan untuk mengidentifikasi masalah beserta karakteristik utamanya dan ketersediaan sumber daya. Konseptualisasi merupakan proses penentuan konsep beserta hubungan yang digunakan. Formalisasi erat hubungannya dengan metode pengorganisasian dan representasi pengetahuan. Dalam sistem berbasis kaidah,
34 pengetahuan harus direpresentasikan dengan dalam bentuk kaidah. Implementasi mencakup pemrograman pengetahuan ke dalam komputer, perbaikan struktur, dan penambahan pengetahuan baru. Tahap uji coba, perekayasa menguji coba basis pengetahuan dengan kasus-kasus penggunaan sesuai dengan tujuan dari sistem pakar yang akan dikembangkan.
2.10.5 Basis Pengetahuan
Basis pengetahuan merupakan tempat penyimpanan pengetahuan yang diperlukan untuk mengerti, merumuskan dan menyelesaikan masalah. Basis pengetahuan terdiri dari pengetahuan statik (declarative knowledge) dan pengetahuan dinamik (procedural knowledge). Pengetahuan deklaratif dapat direprentasikan dengan menggunakan frame dan jaringan semantik. Pengetahuan prosedural dapat direprentasikan dengan menggunakan kaidah produksi dan representasi logika.
Frame (kerangka) yaitu pengetahuan direprentasikan dalam struktur data
yang disusun secara hirarki. Jaringan semantik yaitu pengetahuan direpresentasikan dengan simpul (node) dan penghubung (link). Simpul menyatakan suatu obyek data atau keadaan obyek, sedang penghubung menyatakan hubungan antar obyek, atau hubungan antara obyek dengan keterangan obyek. Teknik berbasis kaidah/aturan (rule base) yaitu teknik pengembangan dengan menggunakan pernyataan-pernyataan IF premis/pernyataan, THEN aksi/kesimpulan. Kaidah produksi digunakan untuk pengetahuan prosedural yang dapat distrukturisasi ke dalam bentuk: Jika, suatu keadaan tertentu, [Kondisi] maka keadaan lain dapat terjadi [aksi] dengan tingkat kepastian tertentu [c.f] Informasi dalam basis pengetahuan dimasukan ke dalam program komputer melalui proses penjabaran pengetahuan
(knowledge representation).
Menurut Marimin (2005), ada empat kriteria dalam memilih metode representasi pengetahuan, yaitu: (1) kemampuan representasi, artinya metode harus mampu mereprentasikan semua jenis pengetahuan yang diperlukan oleh sistem pakar; (2) kemudahan dalam penalaran, artinya metode harus mudah diproses untuk mencapai tahap kesimpulan; (3) efisiensi proses akuisisi,
35 artinya metode harus membantu tranlasi pengetahuan pakar ke dalam sistem komputer secara efisien, dan (4) efisiensi proses penalaran, artinya metode dapat diproses secara efisien untuk mencapai kesimpulan.
2.10.6 Mekanisme Inferensi
Mesin inferensi adalah modul yang berisi strategi penalaran yang dipakai oleh pakar pada saat mengolah atau memanipulasi fakta dan aturan. Tugas utama dari mesin inferensi adalah menguji fakta dan kaidah serta menambah fakta baru jika memungkinkan serta memutuskan perintah sesuai dengan hasil penalaran yang telah dilaksanakan. Secara deduktif mesin inferensi memilih pengetahuan yang relevan dalam rangka mencapai konklusi, sehingga sistem dapat menjawab pertanyaan meskipun jawaban tersebut tidak tersimpan di dalam basis pengetahuan.
Strategi penalaran terbagi atas penalaran pasti (Exact Reasoning
Mechanism) dan tidak pasti (Inexact Reasoning Mechanism). Penalaran pasti
mencakup modus ponen dan modus tolen. Modus ponen menggambarkan apabila ada kaidah: jika A, maka B dan diketahui bahwa A benar, maka dapat disimpulkan B adalah benar. Modus tolen menggambarkan apabila ada kaidah: jika A, maka B dan diketahui bahwa A salah, maka dapat disimpulkan bahwa B salah.
Berdasarkan titik awal terdapat 3 strategi pengendalian terhadap tujuan, yaitu: (1) Penalaran kedepan (Forward Chaining) yaitu penalaran dimana gol atau solusi harus dikontruksi atau dirakit, hal ini disebabkan oleh kemungkinan hasil yang sangat besar. Dalam strategi ini premis dari aturan-aturan dievaluasi kebenarannya berdasarkan informasi/fakta yang telah ada; (2) Penalaran kebelakang (Backward Chaining) yaitu penalaran dimulai dari gol, dievaluasi syarat-syarat (premis) apa yang harus dipenuhi supaya gol tercapai, kemudian syarat-syarat tersebut menjadi sub gol, demikian seterusnya; dan (3) gabungan dari ke dua teknik pengendalian tersebut.
Ketiga teknik tersebut, dalam implementasinya dipengaruhi oleh teknik penelusuran yang digunakan. Teknik penelusuran mencakup: DFS (depth-first
36 kemudian melebar ke samping, dan BFS (breadth-first search), yaitu metode pemeriksaan yang bergerak pada satu tataran lebih dahulu, baru kemudian ke bawah, dan BEFS (best-first search) yaitu teknik penelusuran yang merupakan gabungan dari BFS dan DFS.
2.10.7 Interaksi Manusia-Mesin
Antarmuka pemakai merupakan sarana komunikasi antara pemakai dan komputer, sehingga memudahkan hubungan antara pemakai dengan mesin. Komunikasi berlangsung dengan menggunakan bahasa alamiah (natural language), menu atau grafik.
Subsistem penjelasan berfungsi memberikan penjelasan kepada pemakai mengenai jalannya penalaran yang dipakai untuk menghasilkan suatu kesimpulan, atau memberikan penjelasan mengapa sistem menanyakan informasi tertentu. Melalui bagian ini pemakai dapat mengajukan pertanyaan khusus atau menanyakan bagaimana sistem membuat deduksi sampai tiba pada kesimpulan tertentu.
37