BAB II Sistem Peradilan Pidana di Indonesia
C. Sistem Peradilan Pidana Terpadu Penanganan Kasus-kasus Kekerasan
Sistem peradilan pidana terpadu ialah jaringan peradilan yang bekerja sama secara terpadu diantara bagian-bagianya untuk mencapai tujuan tertentu baik jangka pendek maupun jangka panjang. Dapat pula dikatakan bahwa sistem peradlan pidana adalah suatu komponen (sub sistem) peradilan pidana yang saling terkait / tergantung satu sama lain dn bekerja untuk mencapai tujuan, yatu untuk menanggulangi satu sama lain dan bekerja untuk mencapai tujuan, yaitu untuk menanggulangi kejahatan sampai batas yang dapat ditoleransi oleh masyarakat.
Dari pengertian sistem tersebut sudah menggambarkan adanya keterpaduan antara sub-sub sistem yang ada dalam peradilan.23
Sistem peradilan pidana terpadu merupakan sistem yang mampu menjaga keseimbangan perlindungan kepentingan, baik kepentingan Negara, kepentingan masyarakat, maupun kepentigan individu termasuk kepentngan pelaku tindak pidana dan korban kejahatan.24
Menurut Muladi makna integrated justice system ini adala singkronisasi atau keserempakan dan keselarasan yang dapata dibedakan dalam; pertama, singkronisasi structural yaitu keserempakan dan keselarasan dalam kerangka hubunngan antar lembaga penegak hukum; kedua, sinkronisasi subtansial yaitu keserempakan dan keselarasan yang bersifat vertical dan horizontal dalam kaitannya dengan hukum positif; ketiga, sinkronisasi kultural yaitu keserempakan dan keselarasan dalam menghayati pandangan-pandangan, sikap-sikap dan falsafah yang secara menyeluuh mendasari jalannya sistem peradilan pidana.
Kata terpadu dalam sistem perdilam pidana terpadu disini ialah adanya kesamaan prosedur (sub sistem dalam peradilan pidana pada posisi masing-masng harus mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan / ditentukan didalam undang-undang), presepsi (adanya pemahaman / pengetahuan yang sama antara sub-sub sistem terhadap perkara / kasus yang ada), dan tujuan (sub-sub sistem peradilan
23
Rusli Muhammad, Sistem peradilan Pidana Indonesia, (Yogyakarta: UII Press, 2011), h. 33.
24
28
harus memiliki tujuan yang sama yaitu menanggulangi kejahatan hingga batas toleransi yang dapat di terima masyarakat).25
Perlu kita pahami bahwa eksistensi dan penyelenggaraan the integrated criminal justice system diartikan proses manajemen (perilaku yang mempunyai tujuan tertentu) dari raw-input, instrumental input, environment input sebagai bagian komponen sistem proses untuk saling berhbungan dalam interrelasi dan interaksi mewujudkan suatu hasil berupa out put dari tujuan diadakannya peradilan pidana guna mencapai cita-cita social civilization dan unwalfare.26
Sistem Peradilan Pidana Terpadu Penanganan Kasus-kasus Kekerasan Terhadap Perempuan (SPPT-PKKTP) merupakan sistem terpadu yang menunjukan proses keterkaitan antar instansi/pihak yang berwenang menangani kasus kekerasan terhadap perempuan dan akses pelayanan yang mudah dan terjangkau bagi perempuan dalam setiap proses peradilan kasus kekerasan terhadap perempuan.27
Sistem Peradilan Pidana Terpadu yang berkeadilan jender dalam penanganan kasus kekerasan tehadap perempuan merupakan sistem terpadu yang menunjukan proses keterkaitan antar instansi / pihak yang berwenang menangani
25
Rusli Muhammad, Sistem peradilan Pidana Indonesia, (Yogyakarta: UII Press, 2011), h. 36.
26 Ibid. 27
Pasal 1 angaka (6) MOU antara Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, Mahkamah Agung RI, Kejaksaan Agung RI, Kepolisian Negara RI, Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, dan Perhimpunan Advokat Indonesia.
kasus kekerasan terhadap perempuan dan akses pelayanan yang mudah dan terjangkau bagi perempuan dalam setiap proses peradilan kasus kekerasan terhadap perempuan.28
Pemahaman SPPT-PKKTP yang berbeda di APH membuat belum berjalannya sistem tersebut.29 SPPT-PKKTP yang mereka maksud atau mereka pahami yaitu hanya SPPT saja yakni SPPT koordinasi antara polisi, jaksa, dan hakim. Sedangkan SPPT-PKKTP yang dimaksud ialah sistem peradilan pidana yang memang berpihak kepada korban, putusan yang berpihak kepada korban, memberikan keadilan kepada perempuan, bagaimana suara korban tersebut didengar, komunikasi dan koordinasi antara penegak hukum dengan pendamping juga dan apa yang dirasakan juga bisa menjadi bahan dalam mengajukan tuntutan atau menjatuhkan putusan. Konsep SPPT-PKKTP sudah sejak lama di bagun yaitu tahun 2003, namun sejauhmana konsep ini dibangun bersama APH ternyata masih datar dan inkonstitusionalisasi, hal tersebut bisa disebabkan karena di APH sendiri sering terjadi pergantian jabatan (pergantian posisi orang), belum lagi ketidak harmonisan informasi.30
28
Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, Kertas Kebjakan; Sistem
Peradilan PidanaTerpadu Yang Berkeadilan Jender Dalam Penanganan Kasus kekerasan Terhadap Perempuan, (Jakarta: KOMNAS Perempuan, 2005), h. 51.
29
Wawancara Pribadi dengan Ema Mukarromah (Div. Hukum dan Kebijakan KOMNAS Perempuan), Jakarta 25 Nopember 2013.
30 Ibid.
30
BAB III
KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA TERHADAP PEREMPUAN
A. Pengertian Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Kekerasan Dalam Rumah Tangga terdiri dari Kekerasan dan Rumah Tangga yang mana keduanya memiliki keterkaitan. Sejauh ini kekerasan dalam rumah tangga merupakan suatu bentuk perbuatan dianggap baru. Meskipun pada dasarnya bentuk-bentuk kekerasan ini dapat ditemui dan terkait pada bentuk perbuatan pidana tertentu, seperti pembunuhan, penganiayaan, perkosaan dan pencurian.1
Kekerasan didalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu: pertama, perihal yang bersifat, yang berciri keras. Kedua, perbuatan seseorang atau sekolompok orang yang menyebabkan cidera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain. Ketiga, paksaan.2
Kekerasan adalah tindakan yang membawa kekuatan untuk melakukan paksaan atau pun tekanan berupa fisik maupun non fisik3, atau dapat juga diartikan sebagai suatu serangan atau invasi fisik ataupun integritas mental psikologis seseorang. Seperti yang dikemukakan oleh Elizabeth Kandel Englander yang
1
Moerti Hadiati Soeroso, Kekerasan Dalam Rumah Tangga “Dalam Persepektif Yuridis
-Viktimologis, (Jakarta: Sinar Grafika, 2011, cet. 2), h. 58. 2
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai
Pustaka, 1990), h. 425. 3
Romli Atmasasmita, Teori dan Kapita Selekta Kriminologi, (Bandung:Eresco, ,1988), h. 55.
dikutip oleh Rika Saraswati, bahwa: secara umum, kekerasan adalah perilaku agresif dengan maksud untuk menyebabkan kerusakan (fisik atau psikologis). Kerusakan fisik atau psikologis yang terjadi secara tidak sengaja, karena tidak adanya niat, tidak disebut dengan kekerasan. 4
Ada beberapa penggunaan pengertian kekerasan terhadap orang lain, yaitu violence, battery dan assault5. Violence (kekerasan) yaitu: Pertama, kekerasan dengan diringi marah yang berapi-api; Kedua, kerasan fisik melawan hukum, penyalahgunaan kekuatan; kekuatan yang digunakan terhadap hak umum, terhadap kebebasan publik; dan Ketiga, tenaga dari setiap kekuatan fisik sehingga dapat melukai, kerusakan atau penyalahgunaan.
battery ialah; criminal battery, defined as the unlawful application of force to the person or another, may be devided into its three basic elements:
Pertama, Perilaku terdakwa (tindakan atau misi); Kedua, "Kondisi mental" nya yang mungkin niat untuk membunuh atau melukai, atau kelalaian kriminal, atau mungkin perbuatan dari perbuatan melawan hukum; dan Ketiga, Hasil berbahaya bagi korban, yang mungkin berupa cedera badan atau berupa sentuhan yang menyakitkan.
Assault yaitu: Setiap usaha yang disengaja atau ancaman untuk menimbulkan cedera pada orang lain .... Setiap perilaku yang disengaja akan memberikan korban rasa takut atau yang dapat membahayakan korban. Serangan dapat
4
Rika Saraswati, Perempuan dan Penyelesaian Kekerasan dalam Rumah Tangga,
(Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2006), h. 13. 5
Moerti Hadiati Soeroso, Kekerasan Dalam Rumah Tangga “Dalam Persepektif Yuridis
32
dlakukan tanpa benar-benar menyentuh, atau mencolok, atau melukai tubuh orang lain.
Kata battery ini sering dkombinasikan dengan assault and battery yang mana memeiliki arti:
Any unlawful touching of another which is without justification or excuse. Setiap menyentuh melanggar hukum yang lain adalah tanpa pembenaran atau alasan.
Dari beberapa pengertian tersebut kekerasan terhadap perempuan memiliki ciri yaitu; dapat berupa fisk aatau non fisik (psikis), dilakukan secara aktif maupun dengan cara pasif (tidak berbuat), Dikehendaki/dminati oleh pelaku dan ada akibat/kemungkinan akibat yang merugkan pada korban (fisik atau psikis) yang tidak dikendaki oleh korban.
Pengertian kekerasan juga terdapat dalam pasal 89 KUHP yaitu, "membuat orang pigsan atau tidak berdaya disamakan dengan menggunakan kekerasan"6, melakukan kekerasan memiliki arti mempergunakan tenaga atau kekuatan jasmani tidak kecil secara yang tidak sah. Pingsan yang diartikan tidak ingat atau tidak sadar akan dirinya dan tidak berdaya berarti tidak mempunyai kekuatan atau tenaga sama sekali, sehingga tidak mampu mengadakan perlawanan sedikitpun, tetapi seseoang yang tidak berdaya itu masih dapat mengethui apa yang
6
Andi Hamzah, KUHP dan KUHAP edisi Revisi 2008, cet ke 15, (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), h. 39.
terjadi atas dirinya. perbuatan tersebut didalam KUHP digolongkan penganiayaan pasal 354 dan 352 KUHP.7
Pada Sidang Umum ke 85 tanggal 20 Desember 1993, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengesahkan “Deklarasi Anti Kekerasan Terhadap
Perempuan”, yang menegaskan bahwa kekerasan terhadap perempuan merupakan
pelanggaran Hak Asasi Manusia. Dijelaskan dalam pasal 1 Deklarasi PBB tentang penghapusan kekerasan terhadap perempuan yaitu:8
“Kekerasan terhadap perempuan adalah setiap perbuatan berdasarkan perbedaan kelamin yang berakibat atau mungkin berakibat kesengsaraan dan penderitaan perempuan secara fisik, seksual atau pskologis, termasuk ancaman tndakan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang, baik yang terjadi di depan umum atau dalam
kehidupan pribadi”.
Dari uraian di atas dapatlah kita simpulkan bahwa tindakan kekerasan tidak hanya berupa tindakan fisik, melainkan juga perbuatan non fisik (psikis). Tindakan fisik bisa dirasakan langsung akibatnya oleh korban, serta dapat dilihat oleh siapa saja, sedangkan non fisik (psikis) yang bisa merasakan langsung hanyalah korban, karena hal tersebut langsung menyinggung hati nurani atau perasaan seseorang.
Sedangkan pengertian rumah tangga tidak dapat di temukan dalam Deklarasi PBB, namun secara umum dapat diketahui bahwa rumah tangga
7
R. Soesilo, Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) serta Komentar-komentarnya Lengkap Pasal demi Pasal, (Bogor: Politeia, 1996), h. 98.
8
Moerti Hadiati Soeroso, Kekerasan Dalam Rumah Tangga “Dalam Persepektif Yuridis
34
merupakan organisasi terkcil dalam masyarakat yang terbentuk karena adanya ikatan perkawinan. Di dalam rumah tangga biasanya berisi ayah, ibu dan anak-anak. Pengertian rumah tangga juga tidak tercantum secara khusus, tetapi yang dapat kita jumpai adalah pengertian keluarga dalam pasal 1 angka 30 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang-Undang-Undang Hukum Acara Pidana9.
Pengertian rumah tangga atau keluarga disini hanya dimaksudkan untuk memberikan gambaran tentang apa yang menjad objek pembicaraan tentang kekerasan terhadap perempuan. Karena terjadinya kekerasan dalam rumah tangga sebenarnya bukan merupakan hal yang baru. Namun selama ini selalu dirahasiakan oleh keluarga, maupun korban sendiri. Hal tersebut menjadi budaya dimasyarakat, karena tindakan kekerasan apapun bentuknya yang terjadi dalam rumah tangga atau keluarga adalah merupakan masalah keluarga (private) yang mana orang lain tidak boleh mengetahuinya.10
Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) merupakan salah satu bentuk kekerasan berbasis gender, yakni kekerasan yang terjadi karena adanya asumsi gender dalam relas laki-laki dan perempuan yang dikonstruksikan masyarakat. KDRT tidak sekedar percekcokan dan perselisihan suami istri belaka. Perselisihan antara suami dan istri merupakan hal biasa, namun KDRT lebih buruk dari itu.
9
Pasal 1 angka 30 KUHAP: Keluarga adalah mereka yang mempunyai hubugan darah sampai derajad ertentut atau hubungan perkawinan.
10
Moerti Hadiati Soeroso, Kekerasan Dalam Rumah Tangga “Dalam Persepektif
KDRT bersumber pada cara pandang yang merendahkan martabat kemanusiaan dan relasi yang timpang, serta pembakuan peran-peran gender pada seseorang. KDRT dapat menimpa siapa saja yang ada dalam lingkup rumah tangga11, seperti istri, suami, anak, saudara atau pekerja rumah tangga yang hidup dalam satu rumah. Tetapi yang lebih banyak menjadi korba dalam hal ini adalah perempuan.12
Kekerasan Dalam Rumah Tangga adalah bentuk kejahatan yang terjadi didalam suatu rumah tangga yang dilakukan oleh suami kepada isterinya atau sebaliknya oleh isteri kepada suaminya.13 Hal ini terjadi karena tidak adanya kesepahaman dan saling pengertian akan hak dan tanggung jawabnya dalam keluarga, disatu pihak merasa memiliki kekuasaan penuh (superprioritas) sedangkan pihak lain merasa sebagai pelengkap dalam keluarga, sehingga terlahirlah berbaga bentuk kekerasan yang pada realitanya banyak dialami oleh kalangan perempuan.14
11
Pasal 1 Undang-Undang Nomor 23 tahun 2004 tentang PKDRT. 12
Faqihuddin Abdul Kodir dkk, Referensi Bagi Hakim Peradilan Agama Tentang
Kekerasan Dalam Rumah Tangga, (Jakarta: Komnas Perempuan, 2008), h. 31. 13
Mustofa Hasan, Pengantar Hukum Keluarrga, h. 363. 14
Muhammad Zain dan Mukhtar as-Shodiq, Membangun Keluarga Humanis, (Jakarta:
36
B. Kekerasan Dalam Rumah Tangga Dalam Persfektif Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang PKDRT
Disahkannya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan merupakan momentum sejarah bagi bangsa Indonesia, khususnya bagi kaum perempuan dan kelompok masyarakat lainnya yang memiliki kepedulian mengenai masalah kekerasan terhadap perempuan. Lahirnya undang-undang tersebut merupakan bagian dari penegakan Hak Asasi Manusia dan Demokrasi lahirnya undang-undang tersebut juga dilandasi oleh berbagai pertimbangan, antara lain bahwa setiap warga Negara berhak mendapatkan rasa aman dan bebas dari segala bentuk kekerasan. Dengan demikian, segala bentuk kekerasan terutama kekerasan dalam rumah tangga khususnya kaum perempuan merupakan pelanggaran hak asasi manusia.15
Terdapat banyak bentuk-bentuk pelanggaran kekerasan dalam rumah tangga, seperti yang marak dan realitanya dirasakan oleh kaum perempuan atau laki-laki yang menerima perlakuan kekerasan dalam rumah tangga. Di dalam pasal 5 Undang-Undang nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga yaitu larangan melakukan kekerasan dalam rumah tangganya yaitu dengan cara:
1. Kekerasan Fisik, 2. Kekerasan Psikis,
15
Moerti Hadiati Soeroso, Kekerasan Dalam Rumah Tangga “Dalam Persepektif Yuridis
3. Kekerasan Seksual, atau 4. Penelantaran Rumah Tangga.
Dalam Undang-Undang PKDRT kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat.16 Kekerasan fisik merupakan bentuk kekerasan yang secara langsung dirasakan oleh fisik, misalnya memukul dan membunuh.17 Korban kekerasan fisik, biasanya ia telah mengalami kekerasan psikis sebelum dan sesudahnya. Kekerasan fisik bisa muncul dalam berbagai bentuk dan rupa, mulai dari menampar, menempeleng, memukul, membanting, menendang, membenturkan ke benda lain sampai bisa menusuk dengan pisau bahkan membakar.18
Kekerasan psikis yang mana mengarah pada serangan terhadap mental/psikolog seseorang, kekerasan ini berupa kekerasan yang mengakibatkan perasaan tertekan, stres, dan munculnya penyakit didalam hati.19 Kekerasan terhadap psikis ini paling banyak kasus-kasus yang dilaporkan ke lembaga-lembaga pendamping.20
16
Pasal 6 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang PKDRT. 17
Mustofa Hasan, Pengantar Hukum Keluarrga, h. 364. 18
Faqihuddin Abdul Kodir dkk, Referensi Bagi Hakim Peradilan Agama Tentang
Kekerasan Dalam Rumah Tangga, h. 32. 19
Mustofa Hasan, Pengantar Hukum Keluarrga, h. 364. 20
Faqihuddin Abdul Kodir dkk, Referensi Bagi Hakim Peradilan Agama Tentang
38
Sebagaimana disebutkan dalam pasal 7 Undang-Undang Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga yaitu perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hlangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat terhadap seseorang.
Di pasal 8 UU PKDRT kekerasan seksual meliputi pemaksaan hubungan sksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut. Pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan atau tujuan tertentu. Kekerasan seksual yaitu kekerasan yang mengarah kepada seksualitas seseorang, yakni dapat berupa pemaksaan hubungan seksual atau perkosaan, pemukulan dan bentuk-bentuk kekerasan lain yang menyertai hubungan intim; besa sebelum atau sesudah berhubungan suami istri, pemaksaan dalam berbagai posisi dan kondisi dalam berhubungan seksual, pemaksaaan aktivias tertentu, pornografi, penghinaan terhadap seksualitas perempuan melalui bahasa verbal ataupun juga pemaksaan terhadap istri untuk terus-menerus hamil ataupun menggugurkan kehamilan. Biasanya kekerasan seksual ini disertai dengan kekerasan lain, baik kekerasan terhadap fisik, mental, maupun ekonomi, yang pastinya tidak hanya berdapak pada organ seks/reproduksi secara fisik, tetapi juga berdampak pada kondisi psikis atau mental seseorang.
Penelantaran rumah tangga, suami sebagai kepala keluarga memiliki kewajiban untuk menafkahi juga mengurusi keluarganya. Kekerasan ini
berdimensi ekonomi yang dialami perempuan, sekalipun pihak suami ditempatkan sebagai kepala rumah tangga, namun tidak sedikit dari pihak suami menelantarkan isteri dan anak-anak mereka, melarang istri untuk bekerja tetapi juga tidak memberikan uang atau pendapatan yang cukup untuk keluarga.21 Hal ini diatur juga dalam pasal 9 UU No. 23 tahun 2004 tantang PKDRT.
Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) merupakan segala bentuk kekerasan yang terjadi dalam lingkup rumah tangga. Didalam Undang-Undang nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT) menyebutkan bahwa lingkup rumah tangga dalam Undang-Undang meliputi suami, istri dan anak, orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan orang sebagaimana karena hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, dan perwalian yang menetap dalam rumah tangga tersebut, orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut. Pembantu rumah tangga atau orang yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga juga termasuk dalam lingkup rumah tangga, karena selama dia berada dalam rumah tangga tempat dia bekerja dalam jangka waktu tersebut dia dianggap sebagai anggota keluarga.22
Setiap orang dalam rumah tangga berpotensi menjadi korban kekerasan, siapapun yang merasa tersubordinasi dan menerima perlakuan kekerasan oleh
21
Ibid. 22
40
pihak lain dalam rumah tangga tersebut. Sehingga korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) bisa saja suami, istri, anak, anggota keluarga yang hidup dalam rumah tangga dan orang yang bekerja dalam rumah tangga tersebut misalnya pembantu rumah tangga .
Kekerasan dalam rumah tangga merupakan masalah sosial, bukan masalah keluarga yang harus disembunyikan.23 Sehingga diharapkan setiap orang yang mendengar, melihat atau mengetahui terjadinya kekerasan dalam rumah tangga wajib melakukan upaya-upaya sesuai dengan batas kemampuannya.24
Masih minimnya putusan pengadilan yang memberikan keadilan bagi perempuan korban KDRT sangat terkait dengan masih rendahnya pemahaman hakim tentang diskriminasi gender yang dialaminya. Ketiadaan pemahaman ini bahkan dapat membalik posisi perempuan yang semula sebagai korban berubah menjadi tersangka. Untuk mendorong penguatan pemahaman hakim tentang diskriminasi gender, Komnas Perempuan mendorong agar materi HAM dan Gender bagi penegak hukum –termasuk bagi hakim- terintegrasi dalam kurikulum pendidikan dan pelatihan di setiap instansi penyelenggara pendidikan penegak hukum. Ini merupakan salah satu upaya yang tertuang dalam Kesepakatan Bersama Akses Keadilan Bagi Perempuan Korban Kekerasan antara Komnas Perempuan, Mahkamah Agung RI, Kejaksaan RI, Kepolisian RI, KPPPA dan
23
Pasal 11 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang PKDRT. 24
PERADI pada November 2011. Sebagai tindak lanjut MoU, sampai tahun 2013 Mahkamah Agung RI telah menyelenggarakan 1 kali pelatihan berdurasi 40 JPL untuk membangun sensitivitas para hakim tentang kekerasan terhadap perempuan yang ditujukan bagi hakim di lingkungan pengadilan umum. Upaya ini masih perlu didorong agar menjadi program rutin MA, selain upaya pengintegrasian materi serupa dalam Diklat Cakim yang proses diskusinya masih terus berlangsung.25
Selain itu, Komnas Perempuan berdasarkan Kesepakatan Bersama tersebut mendorong implementasi dari Sistem Peradilan Pidana Terpadu Penanganan Kasus-Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan (SPPT-PKKTP). Konsep ini merujuk antara lain pada mekanisme koordinasi yang perlu dibangun di antara aparat penegak hukum dengan menggunakan analisa gender sebagai pijakan. Sampai dengan tahun 2013, konsep ini telah diujicobakan di beberapa daerah di Indonesia, termasuk dengan melibatkan hakim dari Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi, dan sosialisasi kepada hakim Peradilan Agama.26
25
Sri Nurherawati, Putusan Pengadilan atas Perkara Kekerasan terhadap Perempuan di
Ranah Privat, artikel diakses pada tanggal 23 Nopember 2013 dari
http://www.komnasperempuan.or.id/2013/09/putusan-pengadilan-atas-perkara-kekerasan
terhadap-perempuan-di-ranah-privat/ 26
42
BAB IV
GAGASAN SISTEM PERADILAN PIDANA TERPADU PENANGANAN KASUS KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN (SPPT-PKKTP)
A. Praktek Peradilan dalam Penanganan Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Undang-Undang PKDRT diakui sebagai sebuah terobosan progresif dalam sistem hukum pidana, tetapi dalam pelaksanaannya masih menitikberatkan pada pelaku hukum. jika ini terjadi pada suami maka pihak korban (isteri) akan berfikir panjang untuk meneruskan tuntutannya karena relasi suami isteri yang ada diantara mereka. Di samping itu, aparat penegak hukum masih memandang KDRT sebagai delik aduan sehingga selalu diarahkan untuk diselesaikan secara kekeluargaan. Sika nonreporting korban, khususnya perempuan sangat erat dengan posisi korban sebagai subordinasi dalam rumah tangga, yang tidak dengan segera keputusan meskipun hal tersebut utuk menolong dirinya sendiri.1
Penegakan hukum KDRT sebagai contoh kejahatan perkawinan di Pengadilan Agama, Majelis hakim hanya melihat terpenuhinya syarat poligami jika istri tidak memiliki keturunan. Sementara syarat dan tata cara berisitri lebih dari satu tidak menjadi pertimbangan. Pengaturan poligami dan kejahatan perkawinan bertujuan melindungi istri syah. Dalam praktek justru diabaikan
1
Hamidah Abdurrachman, Perlindungan Hukum Terhadap Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga dalam Putusan Pengadilan Negeri Sebagai Implementasi hak-hak Korban, Jurnal Hukum No. 3 Vol 17, Juli 2010: Fakultas Hukum Universitas Pancasakti, h. 483-484.
bahkan dalam penegakan hukumnya. Secara pidana tidak diproses dan pembatalan perkawinan suami yang kedua dan seterusnya ditolak Hakim. Salah satu pertimbangan hakim menolak pembatalan didasarkan pada istri syah tidak dapat menunjukkan akta nikah asli suami dengan istri kedua, hal tersebut tentu saja berlawanan dengan hukum. Dalam sidang perceraian, istri seringkali kehilangan hak asuh anak bahkan anak kehilangan hak mendapat kasih sayang ibu karena ibu