• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG HUKUM WARIS

E. Sistem Pewarisan Menurut Hukum

Menguraikan sistem hukum adat waris dalam suatu masyarakat tertentu kiranya tidak terlepas dari sistem kekeluargaan yang terdapat dalam masyarakat yang bersangkutan. Demikian pula halnya dengan sistem hukum adat waris dalam masyarakat Minangkabau, ini berkaitan erat dengan sistem kekeluargaan yang menarik garis keturunan dari pihak ibu.

Hukum waris menurut hukum adat Minangkabau senantiasa merupakan masalah yang aktual dalam berbagai pembahasan. Hal itu mungkin disebabkan karena kekhasan dan keunikannya bila dibandingkan dengan sistem hukum adat waris dari daerah-daerah lain di Indonesia.115

Dengan sistem tersebut, maka semua anak-anak hanya dapat menjadi ahli waris dari ibunya sendiri, baik itu untuk harta pusaka tinggi yaitu harta yang turun temurun dari beberapa generasi, maupun harta pusaka rendah yaitu harta yang turun dari satu generasi.116

Pada dasarnya dalam susunan kekerabatan masyarakat adat yang mempertahankan garis keibuan (matrilineal) yang berhak menjadi ahli waris adalah anak-anak wanita, sedangkan anak-anak pria bukan ahli waris. Kedudukan anak-anak wanita sebagai ahli waris dalam susunan matrilineal berbeda dari kedudukan anak-anak pria sebagai ahli waris dalam susunan patrilineal. Dalam susunan patrilineal kedudukan anak-anak lelaki sebagaimana dikatakan Ter Haar bersifat vaderreechtelijke ordening, yaitu berdasarkan tata-hukum bapak, yang berarti segala sesuatunya dikuasai oleh kebapakan, sedangkan dalam susunan matrilineal kedudukan anak wanita sebagai ahli waris bersifat moedererechtelijke

115 Eman Suparman, Op.Cit, hal. 52

116Ibid.

groepering, yang berarti segala sesuatunya dikuasai oleh kelompok keibuan.

Jadi, bukan semata-mata para ahli waris wanita yang menguasai dan mengatur harta peninggalan, melainkan didampingi juga oleh saudara-saudara ibu yang pria.117

Minangkabau adalah daerah yang menganut sistem kewarisan kolektif wanita terhadap harta pusaka tinggi, semua anak wanita yang bertali darah adalah ahli waris dari harta pusaka seketurunannya yang tidak terbagi-bagi pemilikannya, tetapi dikuasai dan diatur mamak kepala warisnya tentang hak-hak pemakaiannya.

Para ahli waris anak-anak wanita boleh menggunakan, mengusahakan dan menikmati harta pusaka seperti tanah sawah pusaka, rumah gedung bersama-sama di bawah pengawasan mamak kepala waris.118

Tetapi, didalam pembagian harta pusaka rendah khususnya harta pencaharian, secara konsep yang menjadi harta warisan adalah harta yang telah dibagi dua oleh suami atau istri yang hidup terlama. Hal ini dikarenakan harta pencaharian merupakan harta bersama yang diperoleh selama perkawinan.

Pembagian harta warisan atas harta pusaka rendah yang berupa harta pencaharian tersebut, memiliki sistem pewarisan yang berbeda dari pembagian warisan atas harta pusaka tinggi. Pembagian harta warisan atas harta pusaka rendah, khususnya pembagian harta warisan untuk anak, pada masyarakat hukum adat Minangkabau apabila harta warisan dari pewaris bersumber dari harta pencaharian, maka baik anak laki-laki maupun anak perempuan memiliki hak yang sama kedudukannya untuk dapat menjadi ahli waris.119

117http://eprints.undip.ac.id/15137/ diakses pada tanggal 4 Desember 2017

118Ibid.

119Ibid.

BAB IV

TINJAUAN YURIDIS TENTANG PELAKSANAAN

PEMBAGIAN HARTA WARISAN UNTUK ANAK TERHADAP HARTA PUSAKA RENDAH PADA MASYARAKAT HUKUM ADAT MINANGKABAU DI PERANTAUAN (STUDI DI KOTA MEDAN)

A. Pelaksanaan Pembagian Harta Warisan Untuk Anak Terhadap Harta Pusaka Rendah di Kota Medan

Pelaksanaan pembagian harta warisan untuk anak terhadap harta pusaka rendah dalam masyarakat Minangkabau di perantauan yang berada Kota Medan.

Adapun letak geografis Kota Medan menurut data Badan Pusat Statistik (2010) terletak antara 3°,27' - 3°,47' Lintang Utara dan 98°,35' - 98°,44' Bujur Timur dengan ketinggian 2,5 – 37,5 Meter di atas permukaan laut. Jumlah penduduk Kota Medan 2.210.624 jiwa. Sedangkan, jumlah penduduk di Kelurahan Sukaramai Kecamatan Medan Area Kota Medan yaitu 98.992 jiwa.120

Lalu diambil sampel sebanyak 10 orang untuk dilakukan penelitian.

Tabel 1

Lama Waktu Menetap di Kota Medan

n = 10 No Lama Waktu Menetap Di Kota Medan Jumlah Frekuensi

1 10-15 tahun 2 20 %

2 15-20 tahun 3 30 %

3 >20 tahun 5 50 %

Total 10 100 %

120 https://medankota.bps.go.id/statictable/2017/01/18/88/jumlah-penduduk-dan-rumah-tangga-menurut-kabupaten-kota-di-provinsi-sumatera-utara-2015.html diakses pada tanggal 21 Januari 2018

Berdasarkan hasil penelitian dari 10 responden, di dapati bahwa sebanyak 50 % responden menyatakan bahwa mereka sudah lama menetap di Kota Medan lebih dari 20 tahun. Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa lama waktu menetap di Kota Medan tidak mempengaruhi dari pembagian hasil harta pusaka rendah, meskipun mereka sudah lama di perantauan namun ketentuan adat tetap berlaku yaitu pembagian harta pusaka rendah dilakukan dengan ketentuan hukum faraid.

Telah dijelaskan sebelumnya tentang cara atau proses membagi harta warisan, di dalam pewarisan harta pusaka rendah, harta pusaka rendah inilah yang diwarisi oleh anak maupun cucu yang pengaturannya atau pembagiannya akan diatur lebih sempurna menurut hukum faraid, yaitu pembagian harta pencaharian menurut ajaran Agama Islam. Harta pencaharian ini tidak diberikan kepada kemenakan dan juga tidak dimasukkan ke pusaka tinggi kerabat istrinya, tetapi merupakan harta milik pribadi. Begitu juga hasil pencaharian istri, karena di Minangkabau istri juga biasa berusaha membantu suami.

Tabel 2

Ketentuan yang dipakai dalam pembagian harta pusaka rendah Minangkabau

n = 10

No Ketentuan yang dipakai Jumlah Frekuensi

1 Hukum Islam 10 100 %

2 Hukum adat Minangkabau - -

Total 10 100 %

Dalam pelaksanaan pembagian harta warisan pusaka rendah berdasarkan dari hasil penelitian para responden ketentuan yang dipakai dalam membagi harta warisan tersebut yaitu ketentuan hukum Islam. Karena dalam perkembangannya, Hukum Islam sangat mempengaruhi corak hukum adat pada masyarakat hukum adat Minangkabau. Pengaruh hukum Islam dalam hukum adat Minangkabau dapat terlihat dari falsafah adaik basandi syara’, syara’ basandi kitabullah, yang memiliki arti adat bersumber pada syariat Islam, syariat bersumber pada Al-Qur’an.

Hal tersebut juga berpengaruh terhadap pewarisan dikarenakan adaik basandi syara’, syara’ basandi kitabullah telah menjadi ideologi dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat pada setiap daerah dalam wilayah masyarakat hukum adat Minangkabau yang pada prinsipnya juga memiliki keanekaragaman dan kebiasaan yang berbeda-beda. Hal ini mempengaruhi sendi-sendi kehidupan dalam masyarakat hukum adat Minangkabau, dan juga mempengaruhi sistem pewarisan itu sendiri.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Salmi Saleh, selaku ahli di bidang hukum adat Minangkabau menjelaskan bahwasanya pelaksanaan pembagian harta pusaka rendah itu sama dengan pembagian harta warisan pada umumnya yang dibagi menurut hukum faraid atau ketentuan hukum Islam. Beliau juga menjelaskan bahwa harta pusaka rendah ini merupakan harta pencaharian dari kedua orang tua yang dibeli dari hasil kerja keras ayah dan ibu, jadi harta tersebut dibagi menurut hukum faraid karena harta ini sudah menjadi harta milik pribadi bukan dari harta kaum, dimana harta kaum tersebut merupakan hasil dari harta pusaka tinggi.

Tabel 3 Penentuan ahli waris

n = 10

No Ahli Waris Jumlah Frekuensi

1 Anak laki-laki dan perempuan 9 90 %

2 Suami -

3 Istri 1 10 %

4 Saudara -

Total 10 100 %

Berdasarkan hasil penelitian dari 10 responden, mereka semua seluruhnya sudah pernah membagi warisan harta pusaka rendah dan yang menjadi ahli waris dari harta pusaka rendah tersebut ialah anak laki-laki dan anak perempuan. Ada 1 responden yang ahli warisnya itu terdiri dari anak laki-laki, anak perempuan dan istri.

Tabel 4

Jenis harta pusaka yang ditinggalkan pewaris

n = 10 No Jenis Harta Pusaka yang

Ditinggalkan Pewaris

Jumlah Frekuensi

1 Harta bawaan - -

2 Harta pencaharian 7 70 %

3 Harta campuran 3 30 %

Total 10 100 %

Harta pusaka yang ditinggalkan oleh pewaris yang meninggal dunia kepada ahli waris yaitu terbagi atas harta bawaan dan harta perkawinan. Dari hasil penelitian yang dilakukan dengan para responden, ada 7 responden yang menyatakan harta pusaka yang didapatkannya berasal dari harta perkawinan.

Sedangkan 3 responden lainnya menyatakan bahwa harta pusaka yang didapatkannya berasal dari harta bawaan dan harta perkawinan.

B. Upaya-Upaya yang Dilakukan Ahli Waris Jika Terjadi Sengketa Pewarisan Terhadap Harta Pusaka Rendah Di Kota Medan

Upaya-upaya yang dilakukan ahli waris jika terjadi sengketa pewarisan terhadap harta pusaka rendah di kota Medan berdasarkan hasil dari wawancara dengan Bapak Salmi Saleh, beliau menyatakan bahwa upaya-upaya atau cara mengatasinya jika terjadinya sengketa yaitu dengan cara penyelesaian menurut hukum faraid. Memang di tanah rantau ini khususnya di daerah Kota Medan banyak juga yang beranggapan harta pusaka di Minangkabau diwarisi oleh perempuan, mereka hanya berpegang kepada prinsip itu di mana harta pusaka di Minangkabau diwarisi oleh pihak perempuan.

Hal tersebut benar terjadi jika harta tersebut berasal dari harta pusaka tinggi, tetapi menjadi tidak benar jika harta tersebut berasal dari harta pusaka rendah. Menurut beliau, harta pusaka rendah ini dibagi dengan ketentuan hukum Islam karena adaik basandi syara’, syara’ basandi kitabullah. Jadi, jika terjadinya persengketaan maka cara mengatasinya yaitu dengan cara ketentuan hukum Islam.

Upaya-upaya yang dilakukan jika terjadi sengketa pewarisan terhadap harta pusaka rendah di Kelurahan Sukaramai Kecamatan Medan Area Kota

Medan juga dapat diselesaikan secara non-litigasi dan litigasi. Hal tersebut didapatkan berdasarkan wawancara dengan Bapak Salmi Saleh. Beliau juga menjelaskan tentang penyelesaian sengketa pewarisan terhadap harta pusaka rendah yang terjadi di Kelurahan Sukaramai Kecamatan Medan Area Kota Medan ini dilakukan sesuai dengan asas bajanjang naiak, batanggo turun yang memiliki makna yaitu segala sesuatu harus mengikuti aturannya agar tertib dan terlaksana dengan baik. Dasar pertimbangannya dalam menyelesaikan sengketa yang terjadi adalah pada proses pembuktian yang melahirkan putusan berdasarkan asas alur dan patut dan tidak bertentangan dengan ketentuan adaik basandi syarak.

Penyelesaian sengketa pewarisan atas harta pusaka rendah pada tahapan musyawarah mufakat keluarga dan bertujuan untuk mewujudkan perdamaian.

Selain itu sengketa juga dapat diselesaikan secara litigasi. Hal ini membuat pihak yang terlibat sengketa memiliki pilihan hukum dalam penyelesaian sengketa pembagian harta warisan.

Tabel 5

Cara Penyelesaian Sengketa

n = 10 No Cara Penyelesaian Sengketa Jumlah Frekuensi

1 Musyawarah mufakat 10 100 %

2 Melalui Pengadilan - -

Total 10 100 %

Dalam hasil penelitian dengan responden jika terjadi sengketa di dalampembagian warisan harta pusaka rendah yaitu dengan cara dimusyawarahkan ke tokoh-tokoh Adat dengan melibatkan Ketua Kerapatan Adat untuk memberikan solusi yang terbaik agar sengketa tersebut bisa diselesaikan dengan damai.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Pelaksanaan pembagian harta warisan untuk anak terhadap harta pusaka rendah di Kota Medan ditentukan prinsip-prinsip pembagian harta warisan berdasarkan musyawarah mufakat dalam keluarga. Pembagian harta warisan berdasarkan musyawarah mufakat dalam keluarga membuat sistem kewarisan yang timbul adalah sistem kewarisan adat. Hal ini terlihat dari pelaksanaan pembagian warisan dengan dasar peruntukan atas benda tertentu pada ahli waris tertentu. Peruntukan tersebut tidak berdasarkan atas porsi bagian dalam penetapan hukum waris Islam maupun hukum waris perdata. Selain itu pembagian warisan atas harta pencaharian juga dipengaruhi perkembangan dari bentuk perkawinan dan kekerabatan yang telah banyak mengalami perkembangan pada masyarakat hukum adat Minangkabau. Pelaksanaan pembagian harta warisan juga dipengaruhi dengan masuknya Hukum Islam dalam bentuk pengaruh yang terbatas. Pengaruh hukum Islam sejalan dengan falsafah hidup masyarakat hukum adat Minangkabau yaitu adaik basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Pengaruh tersebut adalah dalam hal penetapan ahli waris dalam pembagian warisan. Atas penjabaran tersebut terlihat bentuk pluralisme dalam hukum kewarisan yang ada di Indonesia, khususnya pada Kelurahan Sukaramai Kecamatan Medan Area.

2. Upaya-upaya yang dilakukan jika terjadi sengketa pewarisan terhadap harta pusaka rendah di Kota Medan khususnya di Kelurahan Sukaramai Kecamatan

Medan Area dapat diselesaikan secara non-litigasi dan litigasi. Penyelesaian sengketa pewarisan harta pencaharian yang terjadi dilakukan sesuai dengan asas bajanjang naiak, batanggo turun. Dasar pertimbangan Kerapatan Adat Nagari dalam menyelesaikan sengketa yang terjadi adalah pada proses pembuktian yang melahirkan putusan berdasarkan asas alur dan patut dan tidak bertentangan dengan ketentuan adaik basandi syarak. Penyelesaian sengketa pewarisan atas harta pencaharian pada tahapan musyawarah mufakat keluarga dan melalui Kerapatan Adat Nagari bertujuan untuk mewujudkan perdamaian. Selain itu sengketa juga dapat diselesaikan secara litigasi. Hal ini membuat pihak yang terlibat sengketa memiliki pilihan hukum dalam penyelesaian sengketa pembagian harta warisan.

B. Saran

1. Kepada masyarakat hukum adat Minangkabau khususnya di Kelurahan Sukaramai Kecamatan Medan Area Kota Medan agar dapat memilih secara bijak pilihan hukum dalam menentukan pelaksanaan pembagian harta warisan terhadap harta pusaka rendah. Hal ini karena di Indonesia belum terdapat peraturan mengenai hukum waris nasional, sehinggga masih terdapat pluralisme hukum dalam pelaksanaan pembagian harta warisan atas harta pencaharian.

2. Kepada masyarakat hukum adat Minangkabau khususnya di Kelurahan Sukaramai Kecamatan Medan Area Kota Medan yang terlibat sengketa pewarisan sebaiknya dapat diselesaikan berdasarkan konsep batanggo naiak bajanjang turun. Penyelsaian sengekta pada tingkatan bawah dilakukan

dengan musyawarah mufakat dengan tujuan mencari perdamaian antara pihak-pihak yang bersengketa. Terwujudnya perdamaian dalam penyelesaian sengketa penting dilakukan, karena pada dasarnya pihak yang terlibat sengketa pewarisan memiliki hubungan kekerabatan yang dekat.

DAFTAR PUSTAKA

Azwar, Sarifuddin, 1998, Metode Penelitian, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Ali, Zainuddin, 2015, Metode Penelitian Hukum, Sinar Grafika, Jakarta.

Hadikusuma, Hilman, 1993, Hukum Waris Adat, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung.

---, 1996, Hukum Waris Indonesia Menurut Perundangan, Hukum Adat, Hukum Agama Hindu, Islam, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung.

Hamidjojo, Prodjojo, 2000, Hukum Waris Indonesia, Stensil, Jakarta.

Hamid, Syamsul Rijal, 2008, Buku Pintar Agama Islam, Cahaya Islam, Jakarta.

H.S, Salim, 2014, Pengantar Hukum Perdata Tertulis (BW), Sinar Grafika, Jakarta.

Hazairin, 1976, Hendak Kemana Hukum Islam, Tintamas, Jakarta.

Jakfar, Idris dan Taufik Yahya, 1995, Kompilasi Hukum Kewarisan Islam, Pustaka Jaya, Jambi.

Kamal, Iskandar, 1988, Beberapa Aspek dari Hukum Kewarisan Matrilineal ke Bilateral di Minangkabau, Center of Minangkabau Studies Press, Padang.

Naim, Mochtar, 1968, Menggali Hukum Tanah dan Hukum Waris Minangkabau, Center of Minangkabau Studies Press, Padang. Lingkungan Adat Minangkabau, Gunung Agung, Jakarta.

---, 2010, Pelaksanaan Hukum Waris di Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta.

S, Tamakiran, 2000, Asas Asas Hukum Waris menurut Tiga Sistem Hukum, Pionir Jaya, Bandung.

Saleh, Salmi, 2002, Adat Minangkabau Menjawab Tantangan Zaman, LAHP, Medan.

Saragih, Djaren, 1996, Pengantar Hukum Adat Indonesia, Transito, Bandung.

Salihima, Syamsulbahri, 2015, Perkembangan Pemikiran Pembagian Warisan, Prenada Media Group, Jakarta.

Sembiring, Rosnidar, 2016, Hukum Keluarga, PT RajaGrafindo, Jakarta.

Sjarif, Surini Ahlan, dan Nurul Elmiyah, 2005, Hukum Kewarisan Perdata Barat, Kencana Prenadamedia Group, Jakarta.

Soepomo, 1977, Bab-Bab Tentang Hukum Adat, Pradnya Paramita, Jakarta.

Soekanto, Soerjono, 1986, Pengantar Penelitian Hukum, UI Press, Jakarta.

Sugangga,IGN, 1988, Hukum Adat Khusus, Hukum Adat Waris Pada Masyarakat Hukum Adat yang bersistem Patrilineal di Indonesia, Semarang

Sunggono, Bambang, 2003, Metode Penelitian Hukum, Rajagrafindo Persada, Jakarta.

Subekti, R., 1977, Pokok-Pokok Hukum Perdata, Intermasa, Jakarta.

Ter Haar, 1989, Asas-Asas dan Susunan Hukum Adat, et al, Jakarta.

Wignojodipoero, Soerojo, 1988, Pengantar dan Asas-Asas Hukum Adat, Haji Masagung, Jakarta.

Wicaksono, F. Satriyo, 2011, Hukum Waris Cara Mudah dan Tepat Membagi Harta Warisan, Visimedia, Jakarta.

B. PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Kompilasi Hukum Islam

C. SKRIPSI DAN TESIS

Cahaya Masita Nasution, 2006. Pelaksanaan Pembagian Warisan Pada Masyarakat Adat Minangkabau (Studi Kasus Di Kabupaten Agam). Tesis.

Magister Kenotariatan Univeristas Sumatera Utara. Medan.

Irlia Rozalin, 2016. Pembagian Harta Warisan Dalam Masyarakat Minangkabau Di Kecamatan Medan Area Kelurahan Tegal Sari III Kota Medan. Tesis.

Magister Kenotariatan Univeristas Sumatera Utara. Medan.

Ria Agustar, 2008. Pelaksanaan Pembagian Warisan atas Harta Pencarian Dalam Lingkungan Adat Minangkabau di Kecamatan Lubuk Kilangan Kota Padang. Tesis. Magister Kenotariatan Universitas Diponegoro. Semarang.

Roni Yonnadi, 2016. Pelaksanaan Pembagian Harta Warisan Untuk Anak Laki-Laki Terhadap Harta Pencaharian Pada Masyarakat Hukum Adat Minangkabau Di Kecamatan Pariaman Timur Kota Pariaman.Tesis.

Magister Kenotariatan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. kecamatan-dan-jenis-kelamin-2011-2015.html diakses pada tanggal 21 Januari 2018

“Harta warisan” http://repository.unpas.ac.id /3646/5/BAB%20II.pdf diakses

undip.ac.id/15137/ diakses pada tanggal 4 Desember 2017

Hasil Wawancara

Data Informan

Nama : Bapak Salmi Saleh, SH Alamat : Medan

Umur : 58 Tahun

Jabatan: Tokoh Adat Minangkabau Tanggal: 19 November 2017

1. Apa yang bapak ketahui tentang harta pusaka Minangkabau?

Jawab :

Harta Pusaka di Minangkabau ini adalah harta hasil dari pencaharian selama hidup berupa benda, seperti : hutan, sawah ladang, rumah gadang, dll. Namun, secara adat harta pusaka ini terbagi menjadi dua bagian yaitu harta pusaka tinggi dan harta pusaka rendah. Harta pusaka tinggi adalah harta yang diwarisi secara turun temurun oleh pihak wanita, pihak laki-laki hanya sebagai pengawas saja. Karena pihak laki-laki di Minangkabau pada dasarnya tidak menerima warisan dari harta pusaka tinggi ini, tetapi dia bertanggungjawab memelihara dan menjaga harta warisan dari nenek moyangnya dan harta warisan dari kerabat istrinya. Sedangkan harta pusaka rendah adalah harta pencaharian dari ayah dan ibu yang dibeli dari hasil kerja keras ayah dan ibu.

2. Bagaimana pelaksanaan pembagian harta pusaka rendah di Kota Medan ini

?

Jawab :

Pelaksanaan pembagian harta pusaka rendah itu sama dengan pembagian harta warisan pada umumnya yang dibagi menurut hukum Faraid atau ketentuan hukum Islam. Jadi semua pembagian mengenai harta pusaka rendah dibagi menurut Hukum Islam meskipun berada di tanah rantau.

3. Jika terjadi sengketa, upaya apa yang dilakukan oleh ahli waris?

Upaya-upaya atau cara mengatasinya jika terjadinya sengketa yaitu dengan cara penyelesaian menurut hukum Faraid. Memang di tanah rantau ini khususnya di daerah Kota Medan banyak juga yang beranggapan harta pusaka di Minangkabau diwarisi oleh perempuan, mereka hanya berpegang kepada prinsip itu dimana harta pusaka di Minangkabau diwarisi oleh pihak perempuan. Hal tersebut benar terjadi jika harta tersebut berasal dari harta pusaka tinggi, tetapi menjadi tidak benar jika harta tersebut berasal dari harta pusaka rendah. Menurut beliau, harta pusaka rendah ini dibagi dengan ketentuan hukum Islam karena adaik basandi syara’, syara’ basandi kitabullah. Jadi, jika terjadinya persengketaan maka cara mengatasinya yaitu dengan cara ketentuan hukum Islam. Upaya-upaya yang dilakukan jika terjadi sengketa pewarisan terhadap harta pusaka rendah bisa juga diselesaikan secara non-litigasi dan litigasi. Penyelesaian sengketa pewarisan terhadap harta pusaka rendah yang terjadi di Kelurahan Sukaramai ini dilakukan sesuai dengan asas bajanjang naiak, batanggo turun. Dasar pertimbangannya dalam

menyelesaikan sengketa yang terjadi adalah pada proses pembuktian yang melahirkan putusan berdasarkan asas alur dan patut dan tidak bertentangan dengan ketentuan adaik basandi syarak. Penyelesaian sengketa pewarisan atas harta pusaka rendah pada tahapan musyawarah mufakat keluarga dan melalui Kerapatan Adat Nagari bertujuan untuk mewujudkan perdamaian.

Selain itu sengketa juga dapat diselesaikan secara litigasi. Hal ini membuat pihak yang terlibat sengketa memiliki pilihan hukum dalam penyelesaian sengketa pembagian harta warisan.

Dokumen terkait