Pengertian sistem produksi merupakan suatu susunan kegiatan sebagai elemen yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya untuk mencapai tujuan akhir (Nasution, 2003). Hal senada juga disampaikan McLeod (1995) bahwa “Sistem adalah himpunan dari unsur-unsur yang saling berkaitan sehingga membentuk suatu kesatuan yang utuh dan terpadu”. Antar elemen tidak hanya saling berhubungan. Namun, semua elemen tersebut saling menopang
dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya membentuk suatu kesatuan yang utuh. Sistem produksi merupakan suatu kesatuan integral yang di dalamnya terdapat fungsi perusahaan dan komponen bersifat struktural. Dalam sistem produksi tersusun atas elemen-elemen utama, yaitu: (1) masukan atau input, seperti: tenaga kerja, modal, bahan baku, energi, informasi, dan manajerial; (2) proses atau process merupakan suatu kegiatan melalui suatu aliran material dan informasi yang mentransformasikan berbagai input menjadi output dan (3) luaran atau output, berbentuk barang atau jasa dengan mempertimbangkan kuantitas produk, efisiensi , efektifitas, fleksibilitas, dan kualitas produk.
Gambar 21. Sistem Produksi Kerajinan Upcycle Limbah Tempurung Kelapa
Mengacu dari pengertian sistem tersebut maka sistem produksi kerajinan upcycle tempurung kelapa di Desa Banjarangkan, Klungkung, merupakan suatu untaian elemen yang saling berhubungan untuk menghasilkan produk kerajinan tempurung kelapa sesuai dengan yang diharapkan dan meminimalisir terjadi risiko. Rangkaian tersebut dapat digambarkan, seperti Gambar 21.
Berdasarkan bagan pada Gambar 21 maka faktor masukan atau input berupa bahan baku yang terdiri dari bahan utama yaitu tempurung dari buah kelapa yang kering dan telah dikupas sabutnya serta daging kelapanya telah dicongkel atau dikeluarkan. Sedangkan bahan penunjangnya, yaitu kayu: gelugu, rotan, besi, tali ijuk dan bahan penunjang lainnya yang dibutuhkan sesuai dengan desain produk kerajinan yang akan dibuat. Jadi pemakaian bahan penunjang bersifat opsional, tergantung pada bentuk, fungsi, dan nilai estetika yang ingin dibuat. Bahan-bahan tersebut, seperti pada daftar Gambar 22, 23 berikut.
Bahan baku utama
Buah kelapa kering
Limbah: tempurung kelapa
Gambar 22. Bahan Pokok Pembuatan Kerajinan Tempurung Kelapa
Bahan Penunjang
Kayu glugu
Rotan
Tali Ijuk Kawat besi
Lem Epoxy Resin & Hardener Semir
Serbuk gergaji tempurung kelapa Poletur
Gambar 23 Bahan Penunjang Pembuatan Kerajinan Tempurung Kelapa
Pada faktor proses dari sistem pembuatan kerajinan upcycle limbah tempurung kelapa terdiri dari: peralatan pendukung dan alur pengolahan tempurung kelapa. Peralatan yang digunakan untuk mendukung kegiatan tersebut berupa peralatan manual yang digunakan langsung dengan memakai tenaga manusia, seperti pengesan, penyeluhandan, pahat dan sebagainya. Selain itu juga menggunakan peralatan yang digerakkan dengan motor listrik, seperti: Bor listrik, gerinda, gergaji listrik dan sebagainya, Beberapa alat pengolahan yang digunakan, seperti pada Gambar 24 berikut.
Pengesan alat untuk mengupas sabut
kelapa Penyeluhan alat untuk
mengeluarkan daging kelapa
Satu set pahat ukir Bor duduk
Gergaji Besi Ketam kepiting
Gerinda duduk Gerinda Tangan
jenis amplas
Mal besi
Gergaji pembentuk
Alat amplas cekungan
Gambar 24 Bperalatan Penunjang Pembuatan Kerajinan Tempurung Kelapa
Dalam proses perujudan produk kerajinan upcycle tempurung kelapa secara umum melalui suatu alur kerja yang terdiri dari beberapa tahap, seperti: (1) tahap persiapan bahan, dilakukan dengan mengupas sabut dan mencongkel dagingnya dan persiapan bahan lain yang dibutuhkan sesuai desain yang akan diwujudkan, (2) tahap pembentukan, dilakukan dengan membelah atau memotong dengan gergaji manual dan atau menggunakan alat pemotong listrik; (3) tahap perakitan dilakukan dengan menggunakan lem atau dijalin dengan menggunakan rotan, tali ijuk atau dengan benang nilon;
dan (4) tahap finishing dilakukan dengan menggunakan minyak kelapa pada produk kerajinan yang digunakan untuk wadah makanan atau minuman, sedangkan untuk barang pajangangan, finishing dilakukan dengan menggunakan politur atau semir.
Sedangkan pada faktor output dari sistem pembuatan kerajinan upcycle tempurung kelapa adalah berupa produk kerajinan dengan berbagai variannya yang siap untuk dipasarkan, produk-produk yang dihasilkan berupa produk suvenir atau produk untuk diekspor ke beberapa negara, seperti ke: Jepang, Amerika, Eropa dan Australia (Berata, 2009).
Sedangkan dalam tujuan dari sistem produksi, menurut Bozarth dan Chapman dalam Moengin (2009) dibagi menjadi empat tipe: (1) Engineering to Order (ETO), yaitu perusahaan sebagai produsen memproduksi produk sesuai dengan pesanan pelanggan;
(2) Assembly to Order (ATO), pada sistem produksi ini produsen
hanya membuat desain dan produk sesuai dengan standar yang telah ditentukan dan mengikuti modul operasional standar; (3) Make to Order (MTO). Dalam sistem produksi ini, produsen akan memproduksi produk pesanan setelah mendapat persetujuan dari dua belah pihak. Pihak produsen memiliki andil dalam decision making; (4) Make to Stock (MTS). Pada sistem produksi ini produsen membuat produk sesuai pertimbangan tertentu dan disiapkan untuk antisipasi pesanan yang butuh waktu cepat sehingga tidak harus menunggu pesanan dari konsumen.
Sistem produksi dilakukan pembuatan produk kerajinan upcycle limbah tempurung kelapa kebanyakan berdasarkan Make to Order (MTO). Produk dibuat berdasarkan pesanan dari para costumer. Pada sistem tersebut dilakukan dengan dua kemungkinan:
(1) dari pihak perajin atau pengusaha yang menyiapkan atau menawarkan beberapa contoh desain kepada pelanggan. (2) pihak pelanggan dapat memberi contoh desain yang akan diwujudkan dan apabila telah disepakati maka perajin akan meproduksinya berdasarkan kesepakatan. Selain sistem tersebut, juga menerapkan sistem produksi Assembly to Order (ATO), dilakukan dengan mengerjakan bagian per bagian. Suatu desain dikerjakan terpisah menjadi beberapa bagian. Salah seorang perajin mengerjakan bagian tertentu yang terbuat dengan tempurung kelapa dan perajin lain mengerjakan bagian yang terbuat dengan bahan penunjang lainnya. Kemudian dirakit menjadi satu produk yang utuh, seperti dalam proses pembuatan patung kijang, burung, cangkir dan sebagainya. Dalam menjalankan usaha kerajinan, mereka tidak
pernah menerapkan sistem produksi Make to Stock (MTS), karena ada kekhawatiran akan terjadi balik modal yang terlalu lama.
Banyak menyerap modal untuk pengadaan stok dan berpotensi mengalami kerugian apabila tidak ada yang membelinya. Hal ini mengingat bahwa industri rumahan umumnya menggunakan modal usaha relatif kecil sehingga tidak mungkin mereka mampu menyediakan stok produk dalam jumlah yang besar.