i
UPCYCLE LIMBAH TEMPURUNG KELAPA
ALTERNATIF MATERIAL GREEN PRODUCT
UPCYCLE LIMBAH TEMPURUNG KELAPA
ALTENATIF MATERIAL GREEN PRODUCT
Penulis:
Prof. Dr. Drs. I Made Gede Arimbawa., M.Sn Dr. Ida Ayu Gede Artayani.S.Sn.,M.Sn Ir. Mercu Mahadi. MT
Editor:
Prof. Dr. Drs. I Gede Mugi Rahaja., M.Sn.
Dr. Drs. I Wayan Suardana., M.Sn Desain Sampul dan Tata Letak:
Prof. Dr. Drs. I Made Gede Arimbawa., M.Sn Penerbit:
PUSAT PENERBITAN LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar Redaksi:
Institut Seni Indonesia Denpasar Jl. Nusa Indah Denpasar
Cetakan Pertama Nopember 2021 Hak Cipta dilindungi undang-undang
Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apapun, termasuk fotokopi tanpa seizin tertulis dari penerbit
Disclaimer: Buku ini merupakan sinergisitas antara teori dengan hasil penelitian tentang kerajinan dengan material upcycle limbah tempurung kelapa di Desa Banjarangkan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, Bali. Diharapkan buku ini dapat menginspirasi para pembaca tentang pemanfaatan limbah atau barang purna guna menjadi produk yang lebih bernilai.
Ukuran: 15 x 21 cm
KATA PENGANTAR
uji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang tidak henti-hentinya memberi rahmat dan kenikmatan. Berkat rahmat-Nya sehingga penulis dapat merampungkan sebuah buku dengan judul Upcycle Limbah Tempurung Kelapa Alternatif Material Green Product. Konten buku ini, bertujuan untuk mensinergikan antara teori dengan fenomena kerajinan upcycle limbah tempurung kelapa sebagai green product yang berkembang di Desa Banjarangkan. Penulis berupaya memberi gambaran tentang kreativitas, nilai estetika dan nilai ekonomi dari pemanfaatan limbah tempurung kelapa untuk kerajinan serta secara implisit mengurai efek terhadap sosio-ekonomi dan lingkungan hidup.
Terwujudnya buku ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, sehubungan dengan hal tersebut maka penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. I Wayan Adnyana, S.Sn., M.Sn selaku Rektor ISI Denpasar telah memberi kesempatan untuk mengadakan penelitian terkait dengan penyusunan materi buku ini.
2. Ibu Dr Ni Made Arshiniwati. SST, M.Si selaku Ketua LP2MPP ISI Denpasar dan jajarannya yang telah mendukung penyusunan ini.
P
3. Bapak Dr. Anak Agung Bagus Udayana, S.Sn.,M.Si selaku Dekan Fakultas Seni Rupa Dan Desain ISI Denpasar yang telah memberi rekomendasi untuk penyusunan buku ini
4. Bapak Dr. Drs. I Wayan Suardana., M.Sn selaku Ketua Program Studi Kriya yang telah memotivasi penyusunan buku ini
5. Bapak I Wayan Ardiasa, SE, selaku Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah dan Perdagangan Kabupaten Klungkung yang telah merestui pelaksanaan penelitian ini terkait dengan penyusunan buku ini.
6. Ibu Tjokorda Istri Agung Wiradnyani,S.IP., MAP, selaku Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Mikro Kabupaten Klungkung yang telah banyak memberi informasi terkait dengan perhatian pemerintah Kabupaten Klungkung terhadap kerajinan tempurung kelapa di Desa Banjarangkan.
7. Ibu Ni Made Sritami Rindani, SE, selaku Kepala Desa Banjarangkan yang telah memberi ijin penelitian dan data terkait perajin di Desa Banjarangkan.
8. Para pengusaha dan perajin tempurung kelapa di desa Banjarangkan atas kesiapan dan kerjasamanya memberi informasi untuk penyusunan buku ini.
Kehadiran buku ini diharapkan dapat menginspirasi para pembaca dalam mengeksplorasi material alternatif untuk menunjang penciptaan produk kerajinan. Merangsang daya kreativitas para
pembaca untuk menggali, mengupayakan dan mencoba menggunakan barang-barang yang purna guna atau limbah menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan lebih jauh diharapkan dapat membuat terobosan dan menciptakan lapangan kerja di bidang kerajinan.
Kendatipun demikian besar harapan tersebut. Namun, penulis menyadari bahwa buku ini belum sempurna, baik secara substansial maupun dalam penyajian materi. Sehubungan dengan hal tersebut maka saran dan masukan konstruktif sangat diharapkan dari para pembaca untuk penyempurnaan konten buku ini. Terimakasih
Denpasar, Oktober 2021 Penulis,
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ……….. i DAFTAR ISI………. iv BAB I PENDAHULUAN……….………….. 1 BAB II CAKUPAN KRIYA DAN KERAJINAN…. 6 2.1 Etimologi Kriya ……… 7 2.2 Keberadaan Kerajinan ………... 12 2.3 Jenis Kerajinan……….………….. 16 BAB III MATERIAL KERAJINAN……….………. 18 3.1 Jenis Material Kerajinan………. 18 3.2 Limbah dan Lingkungan Hidup ………. 21 3.3 Limbah Tempurung Kelapa Sebagai
Alternatif Material Kerajinan………….. 27 BAB IV KONSIDERAN DALAM MERANCANG
KERAJINAN UPCYCLE TEMPURUNG KELAPA…………..……….. 31 4.1 Upcycle ………...……….. 31 4.2 Proses Desain dan Pengembangan
Produk……….. 34
4.3 Green Design dan Green Product…….…… 37 4.4 Pertimbangan Estetika dalam Perancangan
Produk Kerajinan………... 41 4.5 Pertimbangan Lokal Genius dan Kearifan
lokal dalam Kerajinan……… 43 BAB V SISTEM PRODUKSI DAN PEMASARA.. 45 5.1 Sistem Produksi………. 45 5.2 Pemasaran Produk ……… 46
BAB VI UPCYCLE LIMBAH TEMPURUNG KELAPA DI DESA BANJARANGKAN
KLUNGKUNG………. 48
6.1 Riwayat Kerajinan Upcycle Limbah Tempurung Kelapa di Desa Banjarangkan Klungkung……… 48
6.2 Keberadaan Kerajinan Upcycle Limbah Tempurung Kelapa Di Desa Banjarangkan Klungkung………. 50
6.3 Nilai Estetis dan Jenis Produk Kerajinan Upcycle Tempurung Kelapa…………... 59
6.4 Sistem Produksi………. 74
6.5 Pemasaran Produk dan Manajemen Keuangan…... 83
BAB VII PENUTUP ………...……….. 87
DAFTAR PUSTAKA……… 92
Glosarium……….. 98
Indeks……… 103
1
engembangan usaha kerajinan kreatif di daerah pedesaan, sebenarnya dapat memberi banyak benefit atau berdampak multiplier effect khususnya terhadap masyarakat setempat, seperti:
memperbanyak varian produk kerajinan sehingga memperkaya khasanah kriya Nusantara, tercipta lapangan kerja, menyerap tenaga kerja produktif, mempercepat pertumbuhan ekonomi, menekan kesenjangan sosial antara penduduk di pedesaan dengan perkotaan, mengurangi arus urbanisasi, dan sebagainya. Selain itu juga berpotensi untuk berkembang menjadi industri kreatif dalam sekala kecil (small scale creative industry) atau Usaha Kecil Menengah (UKM) dengan menggunakan modal usaha relatif kecil dan padat karya (mass employee).
Indonesia memiliki beraneka ragam sumberdaya alam yang dapat digunakan sebagai material untuk berbagai macam varian kerajinan. Para perajin tidak pernah kering dengan gagasan dan ide-ide inovatif yang muncul dari kreativitas, didukung dengan keterampilan dan kecerdasan yang dimiliki serta kemampuan merespon material yang ada dilingkunganya. Berbagai material dieksplorasi untuk digunakan kerajinan dan hampir semua material dapat dijadikan kerajinan, seperti dari bagian tubuh
PENDAHULUAN
BAB I
P
binatang, berupa: tulang, kulit, tanduk, kulit telor, bulu dan sebagainya. Dari tumbuh-tumbuhan, seperti: pohon kayu, daun, bunga, akar dan sebagainya. Demikian juga memanfaatkan bebatuan, logam dan sebagainya. Salah satu contoh kerajinan yang terdapat di Bali, tepatnya usaha penciptaan produk kerajinan berbasis local genius dengan upcycle limbah tempurung kelapa yang berkembang di Desa Banjarangkan Klungkung, Kecamatan Banjarangkan Klungkung.
Keberadaan kerajinan tersebut selain disebabkan oleh potensi sumber daya alam yang berlimpah berupa limbah tempurung kelapa, juga didukung sumber daya manusia dengan keterampilan dan kecerdasan dalam mengolah atau upcycle tempurung kelapamenjadi beraneka produk kerajinan yang memiliki nilai tambah. Kemampuan membuat produk kerajinan tersebut merupakan pengejawantahan salah satu aktivitas budaya masa lampau yang diwarisi secara tradisional dan menjadi basis local genius, seperti: keterampilan dan kecerdasan dalam pembuatan wadah dengan bahan tempurung kelapa berupa: beruk (tepat menyimpan garam), tambang (tempat air), patan atau cengkilik untuk menakar beras, dasar atau lepek, sinduk (sendok nasi), cedok atau gayung, canting atau gayung kecil dan sebagainya.
Munculnya kerajinan upcycle limbah tempurung kelapa yang berkembang di Desa Banjarangkan sekitar tahun 1986, diawali oleh kreativitas salah seorang warga di daerah tersebut yang muncul dari kepedulian terhadap limbah tempurung kelapa yang banyak dibuang percuma oleh warga masyarakat hanya sebagai sampah. Berangkat
dari kondisi tersebut, kemudian dicoba untuk memanfaatkannya sebagai material untuk membuat produk kerajinan. Setelah beberapa kali melakukan percobaan akhirnya berhasil membuat produk kerajinan yang pertama kali berupa kancing baju. Walhasil, ternyata produk yang dibuat tersebut mendapat respon dan apresiasi positif dari masyarakat, khususnya dari para pengusaha yang bergerak dalam bidang garmen, toko yang menjual peralatan jahit-menjahit dan sebagainya. Kondisi tersebut membuat lebih termotivasi untuk terus berkarya dan mengembangkan dengan berbagai varian produk kerajinan menggunakan material dari limbah tempurung kelapa. Warga masyarakat di Desa Banjarangkan juga ada yang turut serta mengembangkan dan bahkan dijadikan sebagai mata pencaharian dalam bentuk industri rumahan. Dalam perkembangan selanjutnya, produk-produk yang dihasilkan semakin mendapat tempat pada para konsumen baik lokal maupun internasional sehingga produk yang dihasilkan dijadikan komoditi untuk diekspor ke beberapa negara, seperti ke: Jepang, Amerika, Eropa dan Australia (Berata, 2009: 27).
Hal tersebut memberi gambaran bahwa modal utama untuk merintis usaha atau startup bukan semata-mata kemampuan finansial atau jejaring. Namun, perlu ditopang dengan daya kreativitas, keuletan dan semangat pantang menyerah. Kreativitas dan ditopang keterampilan serta sensitivitas para perajin dapat mengubah tempurung kelapa yang mulanya sebagai sampah atau hanya digunakan untuk bahan bakar menjadi produk inovatif dan bernilai ekonomi (Yan De, 2021; Hermita, 2019: 94). Kondisi tersebut selaras dengan
pendapat Zimmerer dan Scarborough (dalam Reniati, 2015) bahwa kreativitas adalah kemampuan melahirkan gagasan-gagasan baru atau inovasi dalam konteks mencermati masalah dan peluang.
Menempatkan perspektif baru pada ide-ide yang sudah ada sebelumnya. Penciptaan produk dengan memunculkan kombinasi baru dari elemen yang sudah ada sebelumnya dalam suatu material tertentu. Pembentukan kembali elemen yang sudah ada sebelumnya, seperti: warisan artefak budaya, keterampilan atau bahan baku (UNIDO, tt).
Perjalanan usaha kerajinan upcycle tempurung kelapa di daerah tersebut tidaklah selalu lancar. Namun, pernah mengalami dinamika pasar dan pasang surut dirasakan para pengusaha dan perajin yang disebabkan oleh berbagai hal, seperti disebabkan oleh terjadi krisis moneter pada tahun 1998, bom Bali tahun 2002 dan kini diperburuk dengan munculnya pandemi Covid 19 yang melanda warga dunia sampai sekarang sehingga memicu terjadinya fenomena disrupsi ekonomi global, yakni terjadinya sebuah era inovasi dan perubahan besar-besaran secara fundamental dalam sistem bisnis dunia. Peristiwa tersebut sangat berpengaruh terhadap stabilitas berbagai bisnis termasuk usaha kerajinan limbah tempurung kelapa, padahal sebelum terjadi pandemi usaha tersebut sempat mengalami pertumbuhan yang signifikan. Pemasaran produk dari tahun ke tahun semakin memberi dampak positif bagi masyarakat perajin dan pengusaha di daerah tersebut.
Upcycle limbah tempurung kelapa menjadi material kerajinan sejalan dengan gerakan green design, karena produk-produk kerajinan yang dihasilkan berupa produk “hijau” atau green product yang ramah lingkungan, baik berupa produk fungsional maupun pajangan. Limbah tempurung kelapa dapat dijadikan alternatif material green product sebagai salah satu solusi atas masalah terkait dengan isu strategis yang sedang menguat diwacanakan oleh berbagai kalangan, yakni tentang upaya penanggulangan kerusakan lingkungan hidup sebagai dampak pencemaran limbah padat organik maupun anorganik yang semakin masif. Jika tidak dikelola dan dicari solusinya akan berpotensi mengancam kehidupan manusia, karena dapat menimbulkan bencana, seperti: banjir, munculnya berbagai penyakit, pencemaran tanah dan sebagainya. Perlu penanganan yang serius, mulai dengan tindakan kecil dimulai dari rumah tangga, memanfaatkan limbah atau barang purna guna di-upcycling menjadi produk yang bernilai. Sehubungan hal tersebut pemerintah Daerah Provensi Bali menaruh perhatian yang sangat besar dengan masalah ini, yakni dengan memberlakukan Peraturan Gubernur Bali tentang pembatasan penggunaan produk berbahan plastik sekali pakai. Jadi dapat dikatakan bahwa upaya upcycle limbah tempurung kelapa sangat relevan dan memberi efek ganda, selain untuk mencegah dan meminimalisasi terjadinya kerusakan lingkungan, sekaligus memberi keuntungan secara finansial.
Oleh sebab itu, upaya kreatif tersebut perlu dikembangkan dan dapat dijadikan produk substitusi untuk menggantikan perabotan berbahan plastik. Usaha tersebut perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak terkait agar tetap eksis di masa yang akan datan
6
edua istilah tersebut perlu dijelaskan mengenai pengertian dan semantik serta konteks penggunaannya terkait dengan judul buku ini, agar tidak menimbulkan kekeliruan dalam memahami fokus dan tujuannya. Sejak dahulu mengenai pengertian istilah kriya dan kerajinan sering menjadi bahan diskusi yang menarik di kalangan akademisi dalam upaya mencermati titik perbedaan dan persamaannya. Mulai pada obrolan informal maupun pada forum formal, seperti pada seminar, sedangkan pada masyarakat umum, istilah kriya belum begitu populer dan mereka cenderung lebih mengenal istilah kerajinan. Pada hal, produk-produk kriya sebenarnya telah hadir ditengah-tengah kehidupan dan digunakan oleh semua stratifikasi masyarakat, baik pada lapisan bawah, menengah maupun lapisan atas. Hal ini sesuai dengan pendapat Gustami, (1999) bahwa dalam konteks pemenuhan kebutuhan praktis sebenarnya kriya telah digunakan oleh masyarakat umum sebagai sarana penunjang aktivitas hidup dan untuk mengangkat harkat serta martabatnya. Keterbatasan pemahaman masyarakat tentang istilah kriya menyebabkan muncul
CAKUPAN KRIYA DAN KERAJINAN
BAB II
K
beragam interpretasi dan bahkan dalam penggunaannya kadang tidak sesuai dengan makna yang dikandungnya.
2.1 Etimologi Kriya
Asal mula penggunaan istilah kriya di kalangan akademik berawal ketika muncul wacana tentang pemberian nama suatu jurusan di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Pada zaman Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta tahun 1950, jurusan tersebut diberi nama Jurusan Seni Pertukangan. Kemudian pernah pula diberi nama Jurusan Seni Kerajinan. Namun, penggunaan kata tersebut kurang melingkupi atau mewadahi maksud dan tujuan jurusan secara utuh maka pada tahun 1968 manakala ASRI berubah menjadi Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI) “ASRI” jurusan tersebut diberi nama Jurusan Seni Kriya (Hendriyana, 2018).
Secara etimologi kata kriya atau kria berasal dari bahasa Sansekerta “kr” yang berarti ‘mengerjakan’, dari akar kata tersebut kemudian menjadi karya, kriya dan kerja. Dalam bahasa Jawa disebut pekaryaan yang berarti pekerjaan dan pengertian tersebut mengacu kepada hasil suatu pekerjaan yang disebut ‘karya’. Pengertian tersebut sesuai dengan penjelasan dalam Kamus Bahasa Kawi Indonesia bahwa kriya berarti pekerjaan atau perbuatan (Wojowasito, 1977).
Demikian juga menurut Moeliono, et al (1994) bahwa perkataan kriya berarti pekerjaan tangan. Kriya dalam arti yang khusus bukanlah hanya bertumpu pada intensitas rajin dan kualitas skil yang tinggi atau craftsmanship semata. Namun, di dalamnya terkandung nilai-nilai
keindahan, keunikan, kosmologis, simbolis, filosofis dan sekaligus fungsional.
Kriya merupakan salah satu cabang seni rupa yang memiliki akar tradisi yang bermutu tinggi atau adiluhung. Sebab pada masa lampau, para kriyawan penciptaan karya seni dilakukan secara totalitas dengan ketekunan dan konsep filosofi tinggi serta dilandasi dengan pengabdian yang tulus. Dalam konsep tersebut termaktub pola pikir metafisis yang mengandung muatan nilai-nilai spiritual, religius, serta magis. Kesadaran kolektif terhadap lingkungan alam, solidaritas organik yang tinggi dan didukung oleh tatanan budaya tradisional sehingga menghasilkan karya kriya yang berkualitas dan mencerminkan seluruh kehidupan batin manusia yang terjadi dari perasaan, pikiran, angan-angan pada masa dari sebuah budaya yang berlangsung pada masa lampau.
Pengertian kriya juga diselaraskan dengan handicrafts dan digunakan untuk menyebut suatu cabang seni rupa yang mengutamakan keterampilan yang luar biasa (virtousity) menggunakan tangan. Namun, dalam Encyclopedia of World Art (1963) didefinisikan:
The word “handicrafts” refers to useful or decorative objects made by hand or with tool by workman who has direct control over the product during all stages of production. Artinya dalam pengerjaan kriya tidak absolut hanya menggunakan tangan. Namun, tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan bantuan peralatan kerja termasuk bantuan komputer, asalkan sepanjang proses pembuatannya kriyawan sepenuhnya dapat
menguasai seluruh tahap produksi, bahkan untuk tujuan tertentu dapat diciptakan peralatan khusus.
Kriya juga disebut “seni rakyat”. Hal tersebut ada benarnya karena sumberdaya manusia pelaku kegiatan tersebut umumnya rakyat biasa dan disebut “seni tradisional” karena banyak menghidupkan atau konsisten berbasis pada estetika tradisional. Kriya juga dikelompokkan sebagai “industri rumah-tangga” atau home industry yang memproduksi barang dalam jumlah terbatas dengan peralatan sederhana.
Menurut Soedarso (1988) pengertian istilah kriya juga dipadankan dengan istilah craft yang mengandung pengertian suatu keahlian atau keterampilan yang menghasilkan benda. Kriya adalah cabang seni rupa yang mengutamakan kekriyaan (craftmanship) yang tinggi sehingga kriya pada hakekatnya tertuju pada penekanan bobot kekriyaan yang memungkinkan melahirkan nilai seni terapan atau dalam bentuk ekspresi baru sesuai tuntutan budaya masa kini.
Atas dasar hal tersebut maka cakupan kriya memiliki fleksibilitas yang tinggi, bisa memiliki ciri khas atau identitas, bisa berada pada domain seni murni atau seni pakai atau seni terapan atau desain.
Hubungan tersebut dapat digambarkan, seperti Gambar 1 berikut
Sumber: Buchori, 1990.
Gambar 1 Domain Kriya.
Beberapa contoh produk kriya baik berupa kriya fungsional yang memiliki nilai utilitas atau bermanfaat untuk menunjang aktivitas hidup sehari-hari, maupun berujud produk kriya yang digunakan sebagai pajangan atau hiasan pada suatu ruangan, seperti tampak pada Gambar 2 dan 3
Mog
Tempat Tisu
Cap Lampu Guci Gambar 2 Produk Kriya Fungsional
Kriya/Kerajinan Uang
Kepeng Kriya/Kerajinan Ukir Kayu Gambar 3 Produk Kriya sebagai Barang Pajangan
Ditinjau dari sejarah, bahwa awal diciptakan karya seni dengan tujuan untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat, baik untuk pemenuhan kebutuhan yang bersifat sekuler terkait dengan pemenuhan kebutuhan penunjang aktivitas hidup sehari-hari maupun untuk sarana penunjang kegiatan spiritual. Namun, setelah mendapat pengaruh seni dari Eropa maka mulai dikelompokkan, seperti: seni murni, kriya dan desain. Dalam konstelasi seni rupa kriya diberi definisi secara eksklusif. Kriya diartikan sesuatu yang dibuat dengan tangan atau craftsmanship tinggi, unsur keindahan melekat dan sering berupa barang fungsional. Jadi posisi kriya berada di tengah, semakin ke kiri memasuki ranah seni murni maka daya eskpresinya semakin kuat dan cenderung subjektif. Demikian sebaliknya, semakin ke kanan akan memasuki ranah desain maka daya ekspresinya semakin mengecil dan cenderung objektif serta lebih memikirkan persoalan fungsi. Orientasi penciptaan kriya mencerminkan kecenderungan- kecenderungan kepada salah satu dari kedua bagian tersebut atau terkadang dapat merupakan perpaduan antara seni dan desain. Hal tersebut membawa pada assessment estetika produk kriya tergantung pada wawasan atau perspektif ilmu yang dipergunakan untuk mendekatinya. Posisi kriya yang sedemikian rupa sering menimbulkan wacana dan mengundang debatable dikaitkan dengan perkembangan seni dan desain pasca pengaruh seni dan desain modern dari Eropa.
2.2 Keberadaan Kerajinan
Pada masyarakat umumnya kriya sering diidentikkan dengan
“kerajinan” atau segala sesuatu yang berkaitan dengan buatan tangan atau kegiatan yang berkaitan dengan barang yang dihasilkan melalui keterampilan tangan (Moeliono, 1994). Dalam aktivitas kerajinan juga melibatkan ekspresi dan kreativitas para perajin untuk menciptakan produk kerajinan inovatif sehingga menjadikan istilah kerajinan sering didekatkan dengan lingkup seni dan disebut seni kerajinan.
Pemahaman ini juga ada benarnya karena seni kerajinan merupakan penerapan elemen seni kriya dan diproduksi secara massal serta menghasilkan produk masal. Sekalipun dalam perwujudannya tidak menunjukkan presisi. Ukuran dan kesamaan produk tidak sama persis karena dalam proses penbuatan menggunakan keterampilan tangan. Hal tersebut sekaligus merupakan kekuatan atau salah satu ciri khas dan daya tarik produk kerajinan serta sebagai pembeda dengan produk buatan mesin.
Kerajinan yang diciptakan biasanya terbuat dari berbagai bahan sehingga muncul beraneka ragam sebutan kerajinan yang merujuk pada material yang digunakan, seperti kerajinan: emas, perak, kulit, kain batik, serat, kerang, batu, tempurung kelapa dan sebagainya. Produk yang dihasilkan dapat berupa hiasan atau benda seni maupun barang pakai (Wikipedia, 2010). Berdasarkan pengertian tersebut maka dapat dipahami bahwa antara kriya dengan kerajinan memiliki kesamaan ditinjau berdasarkan proses pengerjaannya dan pencapaian hasil, yaitu (1) sesuatu yang dibuat dengan kecenderungan lebih banyak melibatkan kemampuan atau keahlian tangan atau virtousity perajin dan (2) bersifat dekoratif atau secara visual dibuat sangat indah dan dalam perwujudannya dapat berupa produk seni
murni atau seni terapan yang memiliki fungsi guna atau utility.
Hubungan kriya dan kerajinan dapat digambarkan, seperti Gambar 4 berikut
Keberadaan kerajinan di masyarakat adalah tumbuh atas desakan kebutuhan praktis, dijadikan komoditi dan banyak diantaranya ditekuni sebagai mata pencaharian. Terbentuk kantung-kantung atau sentra- sentra kerajinan dan di dalamnya terdiri dari industri rumahan yang kebanyakan berkembang di daerah pedesaan. Hal ini sebagai bagian ekonomi kerakyatan. Pemerintah menggolongkan sebagai Usaha Kecil Menengah (UKM). Pada krisis moneter 1998, UKM ini dianggap sebagai usaha yang dapat bertahan di saat terpaan krisis ketika itu.
Sebab UKM semacam ini berbasis pada bahan dan keterampilan lokal, tetapi memiliki jangkauan pasar ekspor. Bahan dan tenaga kerja yang ada pun relatif murah. Perubahan dan merosotnya nilai tukar rupiah terhadap uang asing terutama dollar Amerika juga membuat produk manufaktur berbahan non impor menjadi primadona dalam geliat ekonomi kerakyatan yang mampu meraih kesuksesan kala itu. Dibuat dengan mempergunakan bahan yang tersedia dan berdasarkan pengalaman kerja yang diperoleh dari kehidupan sehari-hari sehingga kerajinan dikelompokkan sebagai industri kecil atau small scale industry dan ditekuni sebagai “industri rumahan” atau home industry. Dalam aktivitasnya memproduksi barang dalam jumlah terbatas dengan peralatan sederhana dan modal yang digunakan relatif kecil serta kecenderungan padat karya (mass employee).
Gambar 4 Taksonomi Kriya Sesuai Tujuan Penciptaan Kegiatan membuat produk kerajinan merupakan suatu proses yang tumbuh dan berkembang secara berkesinambungan di beberapa daerah di Nusantara. Menurut Gustami (2007), bahwa periodisasi penciptaan produk kerajinan dari jaman prasejarah sampai era globalisasi, memang berdasarkan pemenuhan kebutuhan rohani maupun jasmani, praktis maupun non praktis. Kegiatan tersebut menghasilkan bermacam-macam bentuk dan jenis serta mencerminkan ciri kedaerahan atau etnis Nusantara dan sebagai local genius dari masing-masing komunitas perajin di setiap daerah.
Penggunaan produk kerajinan di masyarakat sampai sekarang masih tetap eksis, baik sebagai produk fungsional maupun benda pajangan. Bahkan, kini dalam konteks ekonomi, produk-produk
kerajinan dijadikan sebagai salah satu komoditi untuk penyangga pembangunan sektor perekonomian dan untuk menjaga ketahanan budaya Nusantara. Spirit penciptaan dan penggunaan produk kerajinan terus berkembang dan menempati berbagai fungsi. Di antara produk kerajinan tersebut “diarahkan” pada industri kreatif dengan cakupan dan dimensi baru sesuai dengan perkembangan zaman. Berbagai jenis kerajinan yang diciptakan oleh para perajin jika ditinjau berdasarkan penggunaannya maka terdapat empat kelompok, yakni: (1) produk kerajinan untuk menunjang aktivitas hidup sehari-hari; (2) produk kerajinan untuk menunjang kegiatan upacara adat dan agama; (3) produk kerajinan untuk menunjang berbagai kegiatan kesenian, dan (4) produk kerajinan untuk menunjang kegiatan sektor pariwisata dan komoditas ekspor. Produk kerajinan tersebut terus berevolusi sesuai dengan kemajuan jaman dan tingkat kebutuhan masyarakat.
Berbagai jenis produk kerajinan yang dulunya terkesan kuno dan pedesaan. Namun, kini digunakan oleh masyarakat perkotaan dan larut berdampingan dengan produk-produk hasil budaya modern.
Berdasarkan pengertian tersebut maka dalam buku ini secara konsisten menggunakan istilah “kerajinan” mengingat istilah tersebut sudah lazim digunakan di masyarakat umum. Selain itu, juga merujuk bagan pada Gambar 4 bahwa produk-produk yang dibahas dalam buku ini dominan dapat digolongkan sebagai produk-produk untuk pemenuhan kebutuhan yang bersifat sekuler, yaitu berupa produk kerajinan tempurung kelapa yang diciptakan untuk menunjang aktivitas hidup sehari-hari dan dijadikan barang komoditi yang dikomersialkan.
2.3 Jenis Kerajinan
Kegiatan membuat produk kerajinan merupakan suatu proses yang tumbuh dan berkembang secara berkesinambungan di beberapa daerah di Nusantara. Menurut Gustami (2007), bahwa periodisasi penciptaan produk kerajinan dari jaman prasejarah sampai era globalisasi, memang berdasarkan pemenuhan kebutuhan rohani maupun jasmani, praktis maupun non praktis. Kegiatan tersebut menghasilkan bermacam-macam bentuk dan jenis serta mencerminkan ciri kedaerahan atau etnis dari masing-masing komunitas perajin di Nusantara. Sebutan kerajinan banyak yang diselaraskan dengan material dasar yang digunakan dalam perwujudannya sehingga mengakibatkan berbagai sebutan jenis produk kerajinan, seperti kerajinan kayu, logam, emas, perak, gading, besi, batu, tempurung kelapa dan sebagainya. Eksplorasi material kriya berlangsung secara kontinyu dilakukan oleh para perajin di Nusantara sehingga
“melahirkan” beragan jenis varian produk kerajinan yang inovatif dengan material baru, seperti menggunakan fiberglass, kaca, dan dengan bahan sintetis lainnya.
Penggunaan produk kerajinan di masyarakat sampai sekarang masih tetap eksis, baik sebagai produk fungsional maupun benda pajangan. Bahkan kini dalam konteks ekonomi dan budaya, produk- produk kerajinan dijadikan sebagai salah satu komoditi untuk penyangga pembangunan sektor perekonomian dan untuk menjaga ketahanan budaya Nusantara. Spirit penciptaan dan penggunaan produk kerajinan terus berkembang dan menempati berbagai fungsi.
Di antara produk kerajinan tersebut “diarahkan” pada industri kreatif dengan cakupan dan dimensi baru sesuai dengan perkembangan zaman. Berbagai jenis kerajinan yang diciptakan oleh para perajin, jika ditinjau berdasarkan penggunaannya maka terdapat empat kelompok, yakni:
1) produk kerajinan untuk menunjang aktivitas hidup sehari- hari;
2) produk kerajinan untuk menunjang kegiatan upacara adat dan agama;
3) produk kerajinan untuk menunjang berbagai kegiatan kesenian, 4) produk kerajinan untuk menunjang kegiatan sektor pariwisata
dan komoditas ekspor.
19 3.1 Jenis Material Kerajinan
Indonesia sebagai negara yang dikaruniai beraneka ragam sumber daya alam; berdasarkan wujudnya terdiri dari: (1) sumber daya alam biotik dengan karakteristik dapat tumbuh dan berkembang biak, seperti: tumbuh-tumbuhan dan hewan; (2) sumberdaya abiotik yang terbentuk secara alamiah dan membutuhkan waktu yang cukup lama, seperti barang tambang dan sumber mineral. Selain itu juga memiliki ekosistem laut yang menyediakan beraneka ragam jenis hewan laut. Potensi tersebut memberi banyak keuntungan bagi masyarakat perajin. Sumber daya alam tersebut dapat menghasilkan beraneka jenis bahan alam organik yang dapat dimanfaatkan sebagai material untuk membuat beraneka ragam produk kerajinan. Bahan- bahan tersebut dieksplorasi secara kreatif digunakan sebagai bahan produk kerajinan dan secara evolusi terus dicari alternatif-alternatif yang dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan manusia serta mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Jadi perwujudan produk kerajinan tidak terbatas menggunakan satu bahan baku. Namun, banyak material yang tersedia di alam dapat digunakan untuk kerajinan, baik berupa bahan organik maupun
MATERIAL KERAJINAN
BAB III
anorganik sehingga berdasarkan material yang digunakan maka beraneka ragam produk kerajinan dapat diciptakan dari tangan terampil para perajin, seperti kerajinan kayu, logam, emas, serat, perak, gading, besi, batu, kerang, tempurung kelapa dan sebagainya. Sejak manusia hidup an-nomadic telah memaknai material yang berserakan di sekitarnya, dieksplorasi dan didukung kreativitas serta keterampilan yang dimilikinya. Kemampuan tersebut secara kontinyu dilakukan dari generasi ke generasi dan diadaptasikan dengan pengaruh dari luar sehingga menjadi local genius. Aktivitas tersebut menyebabkan tercipta varian produk kerajinan yang memperkaya khasanah kerajinan Nusantara. Produk kerajinan tersebut menjadi aset yang berharga dan dapat menjadi salah satu sumber devisa bagi negara.
Produk kerajinan yang dihasilkan di setiap daerah di Indonesia sangat beraneka ragam dan memiliki karakteristik tersendiri. Produk- produk kerajinan yang dihasilkan berkait erat dengan potensi sumber daya alam yang miliki oleh masing-masing daerah. Setiap daerah memiliki jenis kerajinan lokal yang menjadi unggulan daerah, misalnya di daerah Pejaten-Tabanan, Bali, sumber daya alam yang banyak tersedia di daerahnya berupa tanah liat maka kerajinan yang berkembang adalah kerajinan keramik. Di Bangli dengan sumber daya alam yang dimiliki berupa pohon bambu maka banyak berkembang kerajinan anyaman bambu. Di Sulawesi Tengah, sumber daya alamnya banyak menghasilkan tanaman kayu hitam maka kerajinan yang berkembang berupa kerajinan kayu hitam. Kapuas (Kalimantan Tengah), sumber daya alamnya banyak menghasilkan rotan sehingga memungkinkan
kerajinan yang berkembang di daerah tersebut adalah anyaman rotan, demikian juga di daerah lainnya.
Bahkan, di antara para ada yang mencoba mengeksplorasi dan memanfaatkan berbagai limbah padat organik untuk alternatif material kerajinan, seperti dibuat dengan menggunakan limbah:
cangkang kerang, sisik ikan, tulang ikan, tulang binatang, kulit telor burung, tempurung kelapa dan sebagainya. Produk-produk tersebut diciptakan dengan sentuhan kreativitas dan keterampilan para perajin, mereka mampu mengubah limbah menjadi produk kerajinan yang bermanfaat, memiliki keunikan dan nilai estetis serta nilai ekonomi yang cukup tinggi. Salah satu contoh kegiatan kerajinan dengan memanfaatkan limbah, seperti kerajinan upcycle tempurung kelapa yang terdapat di Desa Banjarangakan Klungkung. Banyak warga masyarakat di daerah tersebut menekuni sebagai mata pencaharian, sebagai sumber pendapatan dan sampai sekarang masih eksis. Beberapa contoh kerajinan terbuat dari limbah, seperti tampak pada Gambar 5.
Produk kerajinan dari bahan limbah tempurung kelapa
Sumber: Fitriani, 2014 Sumber: Balisenibanget, 2017
Produk kerajinan terbuat dengan limbah cangkang
kerang
Produk kerajinan terbuat dengan limbah tulang binatang
Gambar 5 Produk Kerajinan Terbuat dari Limbah 3.2 Limbah dan Lingkungan Hidup
Limbah adalah zat atau bahan buangan yang dihasilkan dari proses kegiatan manusia (Suharto, 2011:226). Limbah dapat berwujud:
gas, cair dan padat atau keras. Timbulnya limbah atau barang purna guna dapat disebabkan oleh berbagai aktivitas manusia atau suatu proses produksi. Limbah umumnya berasal dari berbagai kegiatan, seperti berasal dari: industri, pertambangan dan domestik yaitu sampah limbah dari rumah tangga, seperti: cangkang kerang, tempurung kelapa, sisik ikan, kaleng bekas, botol, plastik, karet sintetis, potongan atau pelat dari logam, berbagai jenis batu-batuan, pecah-pecahan gelas, tulang-belulang, stereo foam dan lain-lain, dari pertambangan, seperti limbah: minyak bumi, batubara, besi, timah, dan nikel dan sebagainya.
Secara garis besar, limbah padat atau keras dibagi menjadi dua yaitu: limbah padat organik dan anorganik. Limbah padat organik adalah limbah yang berasal dari alam (tumbuhan dan hewan) bersifat keras atau padat dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk terurai dalam tanah. Limbah padat anorganik adalah jenis limbah yang berwujud keras, padat, sangat sulit atau bahkan tidak bisa untuk diurai atau tidak bisa membusuk. Limbah padat anorganik, seperti limbah: plastik, pecahan keramik, pecahan kaca, dan baja.
Sampah anorganik berasal dari sumber daya alam dan kimia yang tidak terbaharui. Akumulasi limbah yang merupakan sisa hasil buangan mempunyai potensi sebagai polutan atau penyebab polusi atau bencana alam. Oleh karena itu maka proses daur ulang limbah perlu mendapat perhatian khusus dan penanganan yang maksimal.
Limbah keras relatif sulit terurai dan mungkin beberapa dapat terurai tetapi memerlukan waktu yang lama (Paresti, 2017:15-39)
Seiring dengan bergulir nya waktu dan semakin bertambahnya jumlah penduduk sehingga semakin meningkatnya aktivitas dan kebutuhan warga masyarakat. Hal tersebut dapat memicu bertambahnya volume limbah yang akan dihasilkan dari hari ke hari. Salah satu contoh masalah sampah yang terjadi di Denpasar- Bali. Berbagai aktivitas masyarakat di Denpasar dapat menghasilkan sampah 4.281ton setiap hari (Winartha, 2021). Jumlah volume sampah tersebut sangat besar dan mengkhawatirkan karena lahan yang tersedia untuk menampung sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang berlokasi di Suwung-Denpasar sangat terbatas sehingga suatu saat lokasi tersebut tidak dapat menampung sampah
atau over load dan akan menjadi permasalahan besar bagi penduduk kota Denpasar. Kondisi tersebut harus segera ditangani dan dicarikan soslusinya.
Pada ambang batas tertentu dan TPA tidak dapat menampung kiriman sampah tersebut maka dapat dipastikan akan menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan hidup dan mengancam kehidupan, seperti: terjadi bencana alam, pencemaran dan dapat menimbulkan berbagai macam penyakit. Apabila limbah tidak dikelola dengan baik dan berkelanjutan, kemungkinan besar akan menjadi bumerang bagi kehidupan manusia. Sementara ini dalam menyikapi masalah sampah, kadang tidak disadari ada koneksitas antara kehidupan manusia dengan lingkungan hidup. Manusia memposisikan diri sebagai bagian yang terpisah dengan alam. Sebagai penguasa atas alam sehingga mengeksploitasi dengan tidak terkendali. Kurang kesadaran terhadap penanganan sampah yang ada di sekitarnya.
Sebenarnya penanganan limbah menjadi masalah bersama sehingga urgen untuk dilakukan secara terpadu atau bersinergi dari semua kalangan, baik secara individu, masyarakat dan pemerintah.
Terkait dengan masalah tersebut Pemprov Bali pernah menyiapkan dana Rp. 1 triliun untuk membangun sistem pengolahan tempat pembuangan akhir (TPA) yang berlokasi di dekat pintu masuk Pulau Serangan, serta menerapkan teknologi mengubah sampah menjadi energi terbarukan (Kristianto 2017).
Sumber: Kristianto 2017
Gambar 6 Gundukan Sampah di TPA Suwung-Denpasar
Menurut UU Nomor 23 Tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup pada Pasal 1: lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Jadi lingkungan hidup adalah tempat manusia dan mahluk hidup lain untuk hidup sehingga perlu dijaga bersama.
Tantangan ke depan membutuhkan usaha dan kreativitas untuk memperbaiki kwalitas lingkungan hidup menjadi lebih baik.
Pengetahuan dan pemahaman tentang lingkungan hidup perlu
dipelajari lebih dalam untuk menemukan solusi penanganan limbah untuk masa depan dapat teratasi berdasarkan analisa yang akurat.
Hal ini juga diatur pada pasal 2 pada Undang-Undang tersebut bahwa pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan, dan pengendalian lingkungan hidup (Moerdiono, 1997)
Solusi pencegahan dan penanggulangan limbah menjadi suatu keniscayaan yang absolut untuk dilakukan secara bersama.
Tindakan pemerintah tersebut perlu juga didukung dengan kontribusi alternatif penanganan limbah baik dalam sekala kecil maupun besar.
Partisipasi masyarakat untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan serta kreativitas perlu dikembangkan, misalnya dengan tindakan upcycle limbah padat menjadi produk yang bermanfaat bagi kehidupan. Menggunakan limbah atau barang-barang purna guna untuk alternatif material kerajinan. Tindakan tersebut akan memberi efek ganda, selain mengurangi pengiriman limbah atau sampah ke TPA juga dapat menghasilkan produk-produk kerajinan yang bermanfaat dan dapat menjadi aset budaya bangsa, meningkatkan nilai ekonomi kreatif serta pada akhirnya dapat berkontribusi menambah devisa negara.
Menurut Paresti, dkk (2017:15-39). Limbah keras yang dapat di-upcycle, seperti tempurung kelapa, cangkang kerang, tulang belulang, plastik, logam, kaca, plastik, dan kaleng. Limbah keras
yang digunakan sebagai bahan dasar kerajinan dapat dibedakan menjadi dua jenis:
1. Limbah organik yang keras atau padat, bersifat pejal, solid, kuat dan tidak mudah berubah bentuk, berasal dari sumber daya alam daratan dan lautan, seperti: cangkang kerang laut, sisik ikan keras, tulang ikan, tulang hewan berkaki empat (sapi, kerbau, kambing), tempurung kelapa, dan kayu. Hampir semua limbah keras organik dapat dimanfaatkan kembali sebagai produk
2. Limbah anorganik yang keras atau padat bersifat kuat dan tidak mudah dihancurkan dengan alat biasa, melainkan harus menggunakan teknologi tertentu, seperti peleburan dengan pembakaran atau menggunakan zat tertentu, dan penghancuran, seperti: pelat-pelat logam, pecah-pecahan keramik, pecahan kaca, wadah plastik, kaleng, besi dan sebagainya. Meskipun begitu, tidak semua limbah keras dapat diolah kembali menjadi karya kerajinan karena keterbatasan alat dan teknologi Pemanfaatan limbah keras atau padat untuk material kerajinan upcycle sebenarnya sudah cukup banyak dilakukan oleh para kreator yang tersebar di seluruh Indonesia. Bermodalkan kemauan, kepekaan dan daya kreativitas serta keterampilan mereka mampu mengubah limbah menjadi produk kerajinan yang berkualitas dan bernilai ekonomi. Perkembangan pemanfaatan limbah keras atau padat menjadi produk kerajinan dari waktu ke waktu mengalami bertambah. Hal ini mengindikasikan bahwa respon positif dari
masyarakat semakin meningkat terhadap pemanfaatan produk kerajinan dengan material limbah.
Produk-produknya banyak dijual dengan berbagai macam bentuk, seperti: aksesoris wanita berupa jepitan rambut, bingkai foto, tas, sandal hingga perabotan rumah tangga, seperti sendok, garpu, piring, mangkuk, gelas minum, sendok sayur atau nasi, nampan, asbak dan sebagainya. Tempurung kelapa juga bisa dibentuk menjadi penutup lampu, jam dinding, dan aneka bentuk lainnya.
3.3 Limbah Tempurung Kelapa Sebagai Alternatif Material Kerajinan
Buah kelapa jika dibelah menjadi dua bagian maka tampak tiga bagian atau lapisan, seperti tampak pada Gambar 7. Paling luar disebut sabut kelapa, lapisan tengah adalah tempurung kelapa. Lapisan tersebut memiliki karakteristik keras atau padat dan berwarna coklat dengan garis-garis alami yang unik. Bagian paling dalam yaitu daging kelapa berwarna putih dan dimanfaatkan untuk bahan minyak atau olahan makanan.
Di satu sisi tempurung kelapa setelah dagingnya diambil biasanya buang sebagai limbah rumah tangga atau pasar. Tetapi ada juga masyarakat memanfaatkan langsung sebagai bahan bakar. Selain itu, tempurung kelapa juga dapat digunakan sebagai bahan dasar briket arang untuk berbagai proses pembakaran makanan. Pemanfaatan arang tempurung kelapa ini termasuk sektor usaha cukup strategis.
Briket banyak dibuat untuk dijadikan sebagai komoditi dan diekspor
ke luar negeri. Bentuk briket, seperti tampak pada Gambar 8-9.
Sabut kelapa Tempurung kelapa Daging kelapa
Gambar 7 Bagian Potongan Buah Kelapa
Sumber: Gunawan, 2017
Gambar 8 Pembuatan Briket dari Arang Tempurung Kelapa
Sumber: Farida dalam Farasonalia, 2020
Gambar 9 Pembuatan Briket dari Arang Tempurung Kelapa
Di sisi lain, bagi para perajin, tempurung kelapa juga dapat dimanfaatkan sebagai material alternatif untuk membuat beraneka kerajinan baik berupa produk kerajinan fungsional atau untuk pajangan dan bernilai ekonomi. Walaupun demikian, pemanfaatan tempurung kelapa untuk dijadikan kerajinan terdapat kelebihan dan keterbatasan dalam berekspresi karena tempurung kelapa memiliki karakteristik yang unik, seperti dipaparkan Dewi (2017) sebagai berikut:
1. Bersifat keras dan tidak fleksibel sehingga sulit untuk dipotong secara manual atau dibentuk. Rancangan harus menyesuaikan dengan bentuk tempurung kelapa.
2. Ketebalan permukaan yang tidak merata sehingga dalam proses pembentukan sangat mempengaruhi bentuk produk yang dihasilkan
3. Motif permukaan dan warna khas. Tempurung kelapa memiliki motif pada permukaannya yang terbentuk dari serabut dengan warna yang unik sehingga memberikan nilai estetika tersendiri
4. Kuat dan tahan air sehingga tidak mudah pecah dan kedap air karena memiliki pori-pori dengan kerapatan yang tinggi.
32 4.1 Upcycle
Istilah upcycling pertama kali diperkenalkan oleh Reiner Pilz dari Pilz GmbH pada tahun 1994 dengan tujuan untuk membedakan dengan istilah recycling (Levi, 2015). Reiner Pilz membagi istilah daur ulang atau recycling menjadi dua yaitu, downcycling dan upcycling. Downcycling diartikan sebagai proses daur ulang dengan melebur produk lama yang tidak terpakai dan kembali menjadikannya barang baru. Kadang kala menghasilkan produk dengan kualitas yang lebih rendah dari barang aslinya, sedangkan upcycling adalah proses transformasi barang yang sudah tidak terpakai menjadi sesuatu yang lebih berguna dan seringkali bersifat lebih bagus dari awalnya sehingga logo dari upcycle divisualisasikan dengan salah ujung anak panahnya mengarah ke atas, seperti tampak pada Gambar 10 berikut
KONSIDERAN DALAM MERANCANG KERAJINAN UPCYCLE TEMPURUNG KELAPA
BAB IV
Upcycle Tujuan
➢ Melestarikan lingkungan
➢ Mengubah produk purna guna menjadi produk terbarukan
➢ Penggunaan bahan baku yang tersedia tanpa batas
Hasil
➢ Kualitas yang lebih baik
➢ Dirancang unik
➢ Buatan tangan
➢ Edisi terbatas
Gambar 10. Logo Upcycle
Batasan upcycle dikutip dari situs web upcyclemystuff.com adalah merupakan suatu tindakan untuk menggunakan kembali objek atau materi yang purna guna yang akan dibuang dengan sedemikian rupa untuk membuat produk yang berkualitas dan bernilai. Pengertian tersebut sangat sederhana. Namun, untuk memahami pengertian 'nilai' yang dikandungnya bersifat subyektif, tergantung dari perspektif dan interpretasi individual, bisa dinilai tinggi dan memberi benefit atau rendah yang dianggap tidak memberi nilai tambah. Sedangkan untuk pengertian “penggunaan kembali” dapat berarti sejumlah hal yang dapat dilakukan dengan berbagai cara: re-purposing, re-using, re- freshing, re-vamping dan re-inventing. Jadi upcycling bagi pelakunya atau
upcycler merupakan penambahan nilai pada sesuatu objek dibandingkan dibuang atau didaur ulang (upcyclemystuff, 2020). Hal serupa juga dimuat pada situs web youmatter.world, bahwa upcycling adalah bahan atau produk "lama" yang dimodifikasi untuk mendapatkan kehidupan kedua, karena berubah menjadi produk "baru" yang bernilai.
Dilakukan dengan berbagai proses pengolahan, seperti: mencampur atau agregasi bahan, komponen, dan item bekas serta hasil akhirnya berupa "produk baru" yang memiliki nilai lebih dari asli. Selain itu, upcycling adalah penggunaan bahan atau item yang dapat diadaptasi kembali dan atau dirancang kembali dengan cara yang kreatif (youmatter,2020)
Tujuan upcycling adalah untuk mencegah pemborosan penggunaan material baru, yakni dengan memanfaatkan kembali bahan yang sudah ada atau limbah. Mengubah barang bekas, terutama sampah menjadi barang berguna tanpa melalui proses pengolahan atau peleburan bahan. Kualitas barang yang diubah menjadi lebih memiliki nilai tambah, baik terhadap fungsi maupun dampak lingkungan.
Manfaat upcycling adalah (1) Memberi dampak positif terhadap lingkungan, yakni dapat mengurangi volume pengiriman sampah ke TPA. Upaya upcycling menekankan paradigma bahwa sampah yang kemungkinan masih bisa diberi perlakuan semestinya tidak perlu dibuang sia-sia atau dibakar yang sudah pasti menyebabkan polusi;
(2) Penghematan uang, upaya tersebut biasanya lebih murah daripada membeli sesuatu yang baru. Selain itu, dapat memberi
manfaat secara finansial, jika dikelola dengan profesional; (3) Manfaat bagi kesehatan mental; Kemampuan menggunakan atau mengolah barang atau sampah menjadi sesuatu yang bernilai, hal ini dapat menjadi kepuasan atau kebanggaan tersendiri dan ini dapat berpengaruh pada kesehatan mental penciptanya; dan (4) Kemungkinan dapat menghasilkan karya yang unik dan berciri khas serta bernilai ekonomi. Memberi kesempatan untuk membuat sesuatu yang benar-benar unik dan mencerminkan kepribadian penciptanya. Dari tindakan tersebut dapat dipahami, bahwa faktor utama dalam upaya upcycle adalah kemampuan dan daya kreativitas untuk menciptakan alternatif sehingga memberi nilai tambah pada produk yang diciptakan.
4.2 Proses Desain dan Pengembangan Produk
Peranan proses desain produk di Indonesia selama ini belum dianggap penting sehingga banyak produk yang dihasilkan kalah bersaing dari produk negara lain. Hal tersebut terlihat dari banyaknya produk yang merupakan hasil duplikasi dan ada kecenderungan mengadopsi desain yang sudah ada atau berdasarkan pesanan.
Kebanyakan komunitas industri di Indonesia belum menyadari akan pentingnya mengembangkan sebuah produk dengan desain sendiri. Situasi tersebut menyebabkan produk Indonesia mengalami banyak kelemahan dan juga tidak membawa pencerahan dalam mempersiapkan menghadapi pasar bebas pada masa yang akan datang (Cozy, 2012)
Menurut Ulrich dan Eppinger (2003), perancangan dan pengembangan produk merupakan serangkaian aktivitas yang terdiri dari identifikasi peluang pasar, dilanjutkan dengan kegiatan produksi, dan distribusi sampai penjualan produk tersebut. Terdapat 5 fase dalam proses perancangan dan pengembangan produk, ditambah dengan 1 fase perencanaan pada fase ke 0, seperti terlihat dalam Gambar 11 berikut.
Gambar 11 Fase Pengembangan Produk (Ulrich et al, 2003) Terkait dengan hal tersebut, perlu secara terus menerus melakukan upaya riset dan pengembangan dalam perencanaan produk baru atau inovasi untuk mengimbangi kompetitor yang dihadapi. Diantaranya berupa produk substitusi maupun perubahan kebutuhan dan keinginan konsumen. Pada produk inovasi mempunyai empat karakteristik umum yaitu : (1) memiliki kekhasan
Fase 2 DesainTingkat
Sistem
Fase 1 Pengembangan
Konsep Fase 0
perencanaan
Fase 3 Desain Detail
Fase 4 Pengujian &
Perbaikan
Fase 5 Peluncuran
atau unik, baik berujud: ide, program, tatanan, sistem, termasuk kemungkinan hasil yang diharapkan; (2) memiliki unsur kebaruan atau orisinalitas; (3) program inovasi harus dilaksanakan melalui program yang terencana; dan (4) memiliki strategi untuk mencapai tujuan. Pendapat lain tentang jenis inovasi disampaikan Kuratko dalam Reniati (2015) bahwa inovasi terdiri dari 4 jenis, yaitu:(1) Invensi (penemuan); produk benar-benar baru; (2) Ekstensi (pengembangan); pemanfaatan sesuatu yang baru atau penerapan lain pada produk yang ada; (3) Duplikasi (penggandaan); replikasi kreatif atas konsep yang telah ada, dan (4) Sintesis; kombinasi atas konsep dan faktor- faktor yang telah ada dalam formulasi baru.
Sedangkan implementasi kegiatan inovasi secara garis besarnya dilakukan dengan enam cara, seperti: (1) Penggantian (substitution);
(2) Perubahan (alternation); (3) Penambahan (addition); (4) Penyusunan kembali (restructturing); (5) Penghapusan atau menghilangkan (elimination); dan (6) Penguatan (reinforcement) (Harry, 2012). Dari paparan tersebut maka para perajin dalam penciptaan produk dituntut kreatif dan responsif terhadap fenomena desain kekinian dan tuntutan kebutuhan konsumen. Merancang produk hendaknya berbasis hasil riset sehingga menghasilkan produk kerajinan yang berkorelasi dengan keinginan dan kebutuhan pasar. Inovasi yang dilakukan tidak sekedar baru atau beda, tetapi diharapkan dapat menghasilkan beragam varian produk alternatif untuk pilihan konsumen.
Sifat kreatif tersebut dapat terbentuk melalui serangkaian tahap.
(1) tahap persiapan (preparation) pencarian informasi dengan berbagai
cara atau sumber; (2) tahap inkubasi (incubation); pemeraman atau perenungan dari berbagai informasi yang didapat untuk melahirkan ide baru; (3) tahap penemuan gagasan dan ide (insight); dapat muncul secara tiba-tiba atau bertahap dari waktu ke waktu. Penemuan ide dapat dipicu oleh sejumlah kejadian eksternal atau internal; dan (4) tahap pengujian (verification); untuk mengeksekusi ide yang telah dihasilkan untuk diimplementasikan atau tidak (Reniati, 2015).
4.3 Green Design dan Green Product
Isu tentang lingkungan hidup menjadi wacana yang strategis dan semakin menguat diperbincangkan oleh warga dunia, baik pada lingkup warga lokal maupun global. Hal tersebut disebabkan oleh terjadinya kerusakan lingkungan hidup yang dirasakan semakin parah, baik disebabkan oleh bencana alam, seperti: gunung meletus, gempa bumi, likuifaksi tanah, abrasi atau erosi pantai akibat gempuran gelombang laut yang terus menerus dan sebagainya. Selain itu, kerusakan lingkungan juga diperparah oleh ulah manusia. Faktor manusia berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan hidup, karena dalam berbagai kegiatannya yang berhubungan dengan lingkungan hidup kadang dilakukan dengan kurang terkendali. Sebagai contoh, eksplorasi pertambangan, pendirian pabrik, permasalahan penanganan limbah, penciptaan produk masal dengan menggunakan material yang tidak ramah lingkungan sehingga berpotensi menimbulkan berbagai pencemaran.
Fenomena lingkungan hidup secara substantif merupakan wacana bersifat korektif atas tindakan manusia terhadap lingkungan
yang menimbulkan masalah multidimensional. Muncul sebagai kesadaran dan kepedulian untuk mencari solusi terhadap permasalahan kerusakan lingkungan hidup yang rumit dan komplet. Penanganan dampak yang ditimbulkan tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai kalangan, baik masyarakat maupun dari pihak pemerintah.
Dalam konteks tersebut peran pemerintah menjadi sentral dalam menyelesaikan permasalahan lingkungan, karena pemerintah memiliki wewenang untuk mengeluarkan regulasi atau kebijakan. Sehubungan dengan hal tersebut maka pemerintah telah memberlakukan berbagai peraturan, seperti pemerintah daerah provinsi Bali, sejak tahun 2018 telah memberlakukan Peraturan Gubernur Bali Nomor 97 tahun 2018, tentang Pembatasan timbulan sampah plastik sekali pakai sebagai turunan dari Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 5 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Sampah (Koster, 2018). Peraturan tersebut diberlakukan sebagai upaya untuk menanggulangi pencemaran plastik terhadap tanah dan menjaga kelestarian lingkungan hidup di daerah Bali. Demikian juga di daerah lain di seluruh dunia juga ada melakukan hal yang sama sebagai bentuk kepedulian dan kesadaran bahwa lingkungan hidup merupakan aspek penting dari kehidupan yang perlu dijaga dan dilestarikan secara berkesinambungan. Senada dengan pendapat Papanek (1995) menyatakan bahwa ekologi dan keseimbangan lingkungan merupakan dasar bagi kehidupan manusia di atas permukaan bumi. Tindakan tersebut dalam jangka panjang memberi harapan kepada generasi mendatang mewarisi planet yang sehat.
Para pemerhati lingkungan dan pembuat kebijakan mencari solusi untuk menyiasati penggunaan material dalam penciptaan produk masal yang berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan.
Kecenderungan untuk menggunakan produk yang sustainable mulai digalakkan. Di kalangan produsen dan desainer termasuk perajin juga muncul wacana penanggulangan pencemaran lingkungan dengan merealisasikan berbagai program dan pendekatan, seperti: menerapkan pendekatan eko-pluralistik yang mencerminkan fleksibilitas dengan beragam solusi, seperti: mengungkapkan kesadaran akan strategi adaptif terhadap alam dan aktivitas siklus biosfer (bagian hidup bumi), mengakui nilai bahan dan produk yang berasal dari technosphere (bagian bumi yang telah disintesis oleh keahlian teknologi manusia) dan yang lainnya mengungkap solusi dengan menggabungkan yang terbaik dari biosfer dan technosphere dalam produk dan bahan yang digunakan dan dapat dengan mudah terurai serta dikembalikan ke bumi (Alastair Fuad-Luke, 2002). Selain itu juga muncul gerakan green design untuk mendukung terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan.
Green design merupakan sebuah gerakan berkelanjutan yang mengarah pada terciptanya kegiatan perancangan dari tahap perencanaan, pelaksanaan dan pemakaian material yang ramah lingkungan serta pencapaian efektifitas dan efisiensi dalam pemanfaatan energi dan sumber daya (Ariani, 2012). Suatu proses desain di mana atribut lingkungan diperlakukan sebagai tujuan desain, bukan sebagai kendala. Poin utama adalah menggabungkan tujuan pelestarian lingkungan dengan minimalkan kerugian terhadap
kinerja produk dan masa manfaat, atau fungsionalitas. Tujuan umum green design adalah: (1) pencegahan limbah dan pengelolaan bahan yang lebih baik. Contohnya menggunakan sedikit bahan untuk fungsi yang sama atau merancang produk tahan lama sehingga komponen yang rusak atau usang dapat jarang diganti sehingga memperpanjang durabilitas produk. (2) Manajemen bahan yang lebih baik mengacu pada kegiatan yang memungkinkan komponen produk atau bahan yang dapat digunakan kembali dengan nilai tambah yang lebih tinggi dan ramah lingkungan. Contohnya merancang produk dengan menggunakan bahan yang dapat dengan mudah didaur ulang.
Desainer dapat mengurangi jumlah sumber daya yang digunakan dan limbah yang dihasilkan, produk dan aliran limbah masih akan ada dan harus dikelola. Gagasan green design tampaknya sederhana, tetapi tidak ada formula baku atau keputusan hierarki untuk menerapkan nya. Hal tersebut karena istilah "green" sangat luas maknanya dan tergantung pada konteks. Green design tergantung pada faktor-faktor, seperti: umur produk; kinerja produk, keamanan, keandalan dan pengganti yang tersedia; teknologi pengelolaan limbah serta kondisi lokal di mana produk digunakan serta dibuang (U.S.
Congress, Office of Technology Assessment, 1992) Luaran dari green design berupa produk-produk hijau (green product).
Menurut Kasali (2005) bahwa green product sebagai ilustrasi dari barang atau produk yang dihasilkan oleh produsen yang terkait dengan rasa aman dan tidak menimbulkan dampak bagi kesehatan manusia serta tidak berpotensi merusak lingkungan hidup. Produk
yang tidak berpotensi mencemari bumi atau merusak sumber daya alam dan dapat didaur ulang atau dilestarikan (D’Souze et.al. dalam Hafidhoh, 2012). Green product diciptakan dengan mengacu pada produk yang menggabungkan strategi dalam daur ulang, kemasan minimal, menggunakan bahan yang tidak beracun untuk mengurangi dampak terhadap lingkungan alam. Menurut pendapat Durif et al.
(dalam Hafidhoh 2012), green product memiliki karakteristik sebagai berikut:
a) Produk tidak mengandung toxic, dapat diartikan bahwa produk yang diciptakan aman dikonsumsi atau digunakan karena tidak mengandung zat-zat yang berbahaya bagi manusia sebagai pengguna.
b) Produk memiliki masa pakai lebih lama (durable), produk yang diciptakan memiliki siklus daur hidup yang lama sehingga dapat menjadi indikator pengurangan dampak terhadap lingkungan dan energi.
c) Produk menggunakan bahan yang dapat terbarukan (renewable) dapat diartikan sebagai produk yang diolah dengan menggunakan sumber daya alam yang relatif mudah dapat tersedia kembali melalui reproduksi atau pengembangbiakan.
d) Produk menggunakan bahan baku dari bahan daur ulang (recycle) artinya produk dibuat berasal dari proses daur ulang, baik sebagai bahan baku, bahan tambahan yang dapat digunakan kembali (re-use).
Kendatipun demikian ideal konsep dan tujuan green product. Namun, dalam implementasi di masyarakat di Indonesia terdapat beberapa kendala, seperti: (1) minimnya kesadaran para produsen; (2) keraguan konsumen terhadap produk yang berlabel green product dan (3) produk yang berlabel green product relatif lebih mahal.
4.4 Pertimbangan Estetika dalam Perancangan Produk Kerajinan
Faktor pendorong penciptaan produk kerajinan awalnya adalah dimotivasi oleh keinginan manusia untuk membuat alat untuk menunjang aktivitas sehari-hari berupa kebutuhan praktis yang mengutamakan segi utiliti, seperti perabotan untuk makan, anyaman, dan peralatan dapur lainnya. Namun dalam perkembangan selanjutnya produk kerajinan mulai dibutuhkan banyak orang. Mulai tampak ada penghargaan terhadap produk kerajinan di luar fungsi yang sebenarnya.
Dipakai sebagai sarana ritual untuk pendukung kepercayaan. Ketika itu pada diri manusia mulai muncul rasa estetis. Produk kerajinan dipakai sebagai barang pajangan atau hiasan dan sebagai persembahan.
Pertukaran antar komunitas menjadi lebih luas sehingga mulai berkembang jenis produk kerajinan yang memiliki nilai lain, seperti:
nilai estetis, simbolis, sosial, ritual, ekonomi dan sebagainya. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Mattil (1971) bahwa diciptakannya produk kerajinan juga untuk tujuan praktis.
Kerajinan merupakan suatu produk yang menyangkut aspek keindahan yang terpancar dari bentuk, material yang digunakan, tekstur, warna dan sebagainya sehingga kerajinan selain memiliki nilai
fungsi, juga memiliki nilai estetika. Sehubungan dengan hal tersebut maka perajin dalam berinovasi juga dituntut memiliki pengetahuan, keahlian, kemampuan pengindraan, dan pengalaman estetis untuk menciptakan keragaman bentuk yang kreatif, orisinal, dan menanamkan nilai khusus pada objek yang dibuatnya, baik nilai praktis, estetik maupun nilai ekonomi (Soedarso, l988). Sentuhan nilai estetis yang bersumber pada local genius yang diterapkan pada suatu produk kerajinan akan memberi keunikan dan secara tidak langsung memberi pengaruh yang signifikan pada aspek–aspek lainnya, seperti berpengaruh pada nilai ekonomis. Pertimbangan tersebut merupakan salah satu andalan dalam strategi pengembangan varian produk kerajinan kreatif. Dalam menciptakan produk kerajinan tidaklah semata-mata terfokus pada nilai fungsional tetapi pertimbangan estetika menjadi aspek penting, karena nilai keindahan dapat memberi nilai tambah. Terkait dengan pemasaran keindahan produk kerajinan dapat menjadi salah satu poin keunggulan atau saling point dalam pemasaran produk.
4.5 Pertimbangan Lokal Genius dan Kearifan lokal dalam Kerajinan
Istilah lokal jenius atau local genius merupakan identitas budaya atau cultural identity dari suatu bangsa yang menyebabkan mampu menyerap dan mengolah kebudayaan asing sesuai watak dan kemampuan sendiri. Lokal genius jika lebih didekatkan kepada pelaku kebudayaan maka dapat diartikan kecerdasan orang-orang setempat untuk mengadaptasi dan mengakulturasi pengaruh budaya luar
sehingga budaya yang telah ada menjadi wujud baru dan sekaligus merupakan karakteristik yang khas serta merupakan identitas daerah tersebut. Sedangkan kearifan lokal atau local wisdom dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan, kesepakatan nilai-nilai atau pandangan masyarakat setempat yang bersifat bijak, penuh kearifan dan diikuti oleh anggota masyarakatnya (Ayatrohaedi, 1986). Dalam penciptaan kerajinan, hal tersebut menjadi penting dan sudah banyak komunitas perajin melakukannya. Mereka dengan cerdas mereduksi, mengadaptasikan atau mengelaborasi idiom-idiom dari luar untuk menghasilkan produk inovatif dan menjadi identitasnya.
Berdasarkan pada pengertian tersebut dan sesuai dengan pandangan Bastomi (2003) bahwa identitas seni atau kerajinan adalah;
a) gaya atau corak suatu kesenian atau kerajinan dan memiliki ciri- ciri khusus yang timbul dari penciptanya. Jika suatu kesenian atau kerajinan mempunyai ciri-ciri yang menunjuk suatu daerah tertentu maka gaya atau coraknya bersifat kolektif, seperti: kerajinan tempurung kelapa di Desa Banjarangkan.
b) sesuatu yang tetap berada di daerah asalnya dan merupakan seni atau kerajinan tradisional, seperti: ukiran tradisional, wayang kulit tradisional Buleleng, keramik Pejaten dan sebagainya.
c) dapat memberi petunjuk tentang orisinalitas suatu kerajinan yang tetap eksis. Walaupun, mendapat tantangan atau intervensi dari kesenian atau kerajinan luar.
Local genius bersifat adiluhung sehingga dalam upaya pengembangan seni atau kerajinan hal tersebut dapat dijadikan sumber inspirasi yang sangat kaya. Pengembangan kerajinan berlandaskan local genius meliputi tiga dimensi pokok:
a) Penguatan stylle, dan kekhasan berbasis budaya setempat agar punya identitas;
b) Perluasan diversifikasi dan variasi produk kerajinan, agar tidak monoton sehingga perlu pengenalan dan penggalian kerajinan yang terpendam.
c) Peningkatan mutu kerajinan, agar memiliki nilai jual yang tinggi (superior customer value) dan memberi keunggulan tinggi dalam bersaing (competitive advantage). Untuk meningkatkan kuota ekspor produk kerajinan, mencakup aneka ragam kerajinan, baik yang berbasis tradisional maupun modern yang berkembang bersinergi dengan modal (ekonomi), teknologi dan budaya.
47 5.1. Sistem Produksi
Pengertian sistem produksi merupakan suatu susunan kegiatan sebagai elemen yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya untuk mencapai tujuan akhir (Nasution, 2003). Hal senada juga disampaikan McLeod (1995) bahwa “Sistem adalah himpunan dari unsur-unsur yang saling berkaitan sehingga membentuk suatu kesatuan yang utuh dan terpadu”. Antar elemen tidak hanya saling berhubungan. Namun, semua elemen tersebut saling menopang dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya membentuk suatu kesatuan yang utuh. Sistem produksi merupakan suatu kesatuan integral yang di dalamnya terdapat fungsi perusahaan dan komponen bersifat struktural. Dalam sistem produksi tersusun atas elemen-elemen utama, yaitu: (1) masukan atau input, seperti: tenaga kerja, modal, bahan baku, energi, informasi, dan manajerial; (2) proses atau process merupakan suatu kegiatan melalui suatu aliran material dan informasi yang mentransformasikan berbagai input menjadi output dan (3) luaran atau output, dapat berbentuk barang atau jasa dengan mempertimbangkan kuantitas produk, efisiensi, efektifitas, fleksibilitas, dan kualitas produk.
Sedangkan dalam konteks tujuan dari sistem produksi menurut Bozarth dan Chapman dalam Moengin (2009) dibagi menjadi empat
SISTEM PRODUKSI DAN PEMASARAN
BAB V
tipe: (1) Engineering to Order (ETO), yaitu perusahaan sebagai produsen memproduksi produk sesuai dengan pesanan pelanggan. Dalam hal ini, semua hal terkait sesuai dengan permintaan pihak konsumen, mulai dari desain sampai hasilnya dapat ditentukan sesuai permintaan; (2) Assembly to Order (ATO), pada sistem produksi ini produsen hanya membuat desain dan produk sesuai dengan standar yang telah ditentukan dan mengikuti modul operasional standar. Produk yang dihasilkan merupakan hasil rakitan berdasarkan modul permintaan konsumen; (3) Make to Order (MTO). Dalam sistem produksi ini, produsen akan memproduksi produk pesanan setelah mendapat persetujuan dari dua belah pihak. Desain produk yang akan diproduksi dapat berasal dari pihak konsumen atau produsen. Jadi kemungkinan pihak produsen memiliki andil dalam decision making;
(4) Make to Stock (MTS). Pada sistem produksi ini produsen membuat produk sesuai pertimbangan tertentu dan disiapkan untuk antisipasi pesanan yang butuh waktu cepat sehingga tidak harus menunggu pesanan dari konsumen.
5.2. Pemasaran Produk
Pengertian pemasaran adalah usaha untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumen melalui penciptaan suatu produk baik barang maupun jasa yang kemudian dibeli oleh mereka yang memiliki kebutuhan melalui suatu pertukaran (Reniati, 2015).
Demikian juga menurut Kotler (2002) “Marketing is a social and managerial process and by which individuals and group obtain what they need and want through creating, offering, and freely exchanging product and service of