• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistem sosial-ekologis (social-ecological system - SES) untuk selanjutnya disingkat SSE, didefinisikan sebagai sistem yang terpadu dari alam dan manusia dengan hubungan yang timbal balik (Berkes and Folke 1998). Sementara itu menurut Anderies et al. (2004), sistem sosial-ekologis adalah sebuah sistem dari unit biologi/ekosistem dihubungkan dengan dan dipengaruhi oleh satu atau lebih sistem sosial. Suatu sistem ekologis dapat digambarkan sebagai suatu sistem unit biologi atau organisme yang saling tergantung. Sistem sosial sederhananya berarti membentuk ko-operasi dan hubungan saling tergantung dengan orang yang lain (Merriam-Webster Online Dictionary 2004). Dalam pendekatan SSE ini unit analisisnya adalah unit sosial-ekologi (social-ecological unit). Unit sosial ekologi sangat relevan di Estuari Segara Anakan, mengingat pada dasarnya dinamika wilayah ini adalah interaksi bersama – sama (co exist) antara dinamika sosial ekonomi dan ekosistem. Pengelolaan yang berbasis pada pendekatan ini adalah pengelolaan berbasis sosial-ekosistem, yang pada dasarnya adalah integrasi antara pemahaman ekologi dan nilai – nilai sosial ekonomi. Tujuan dari pengelolaan berbasis sosial ekologi adalah memelihara, menjaga kelestarian dan integritas, sehingga pada saat yang sama mampu menjamin keberlanjutan suplai sumberdaya untuk kepentingan manusia. Dengan demikian sistem sosial-ekologis ini membicarakan unit ekosistem seperti wilayah pesisir, ekosistem mangrove, danau, terumbu karang, pantai yang berasosiasi dengan struktur dan proses sosial sebagaimana konsep Anderies et al. (2004) seperti yang tertuang pada Gambar 4.

Gambar 4. Model Konseptual dari SSE (Anderies et al. 2004)

7 4 1 5 7 6 3 8 2 8 A.Sumberdaya D Infrasturktur publik B. Pengguna Sumberdaya C. Penyedia Infrastruktur publik

Model ini menjabarkan bahwa sebuah komponen sistem ekologi yakni sumberdaya (A) yang digunakan oleh beberapa pengguna/sistem sosial (pengguna sumberdaya/ B, dan penyedia infrastruktur publik/C). Infrastuktur publik (D) menggabungkan dua bentuk kapital/modal yakni fisik dan sosial. Modal fisik meliputi hasil rekayasa, dan modal sosial berupa aturan yang digunakan untuk mengatur dan mengelola. Disamping ke 6 aspek terkait dengan sub sistem dalam SSE juga mencakup adanya gangguan baik eksternal berupa gangguan biofisik (panah 7) dan gangguan sosial ekonomi (panah 8), dan gangguan internal.

Dalam tataran operasional, konsep SSE biasanya dijabarkan dengan berbagai variabel yang mengkarakterisasikan dinamika manusia, masyarakat dan alam (Ostrom 2007; Chazal et al. 2008) (Tabel 2).

Tabel 2. Variabel dalam kerangka analisis SSE (Ostrom 2007)

Pengaturan Sosial Ekonomi, dan Politik (S)

S1-pembangunan ekonomi; S2-trend demografi; S3-stabilitas politik; S4-Kebijakan pemerintah; S5-ketersediaan pasar

Sistem Sumberdaya (RS) Sistem Pemerintahan (GS)

RS1- Sektor (air, hutan, ternak, ikan) GS1- Organisasi pemerintah RS2- Batasan sistem yang jelas GS2- Organisasi Bukan pemerintah RS3- Ukuran sistem sumberdaya GS3- Struktur jaringan

RS4- Manusia-kronstruksi fasilitas GS4- Sistem kepemilikan RS5- Produktifitas sistem GS5- Aturan Operasional RS6- Perangkat keseimbangan GS6- Aturan pilihan kolektif RS7- Prediksi dari sistem dinamis GS7- Aturan konstitusional RS8- Ketersediaan karakteristik GS8- Proses Monitoring dan sanksi

RS9- Lokasi -

Unit Sumberdaya (RU) Pengguna (U)

RU1- obilitas unit sumberdaya U1- Jumlah pengguna

RU2- Tingkat petumbuhan atau pergantian U2- Atribut sosial ekonomi pengguna RU3- Interaksi antar unit sumberdaya U3- Sejarah penggunaan

RU4- Nilai ekonomi U4- Lokasi

RU5- Ukuran U5- Kepemimpinan/kewirausahaan

RU6- Tanda pergerakan U6- Norma/modal sosial RU7- Distribusi wilayah dan waktu U7- Pengetahuan tentang SES

U8- Ketergantungan terhadap sumberdaya U9- Penggunaan teknologi

Interaksi (I) Dampak (O) I1- Tingkat panen dari berbagai

pengguna

O1- Hasil pengukuran sosial (efisiensi, keadilan, perhitungan)

I2- Pembagian informasi antar pengguna

O2- Hasil pengukuran ekologi (kelebihan panen, ketahanan, keberagaman) I3- Proses pertimbangan O3- Eksternalitas dari SES lain I4- Konflik antar pengguna

I5- Aktifitas investasi I6- Aktifitas lobby

Related Ecosystem (ECO)

Ostrom (2007), misalnya, menyebut variabel sektor, batasan sistem, ukuran sistem, manusia, produktivitas, keseimbangan, prediksi, ketersediaan dan lokasi untuk mengkarakterisasi sistem sumberdaya. Begitu juga dalam sistem pemerintah, unit sumberdaya, dan pengguna. Selanjutnya variabel tingkat panen dari berbagai pengguna, pembagian informasi antar pengguna, proses pertimbangan, konflik antar pengguna, aktivitas investasi, dan aktivitas lobby untuk mengkarakterisasi interaksi. Variabel hasil pengukuran sosial, hasil pengukuran ekologi dan eksternalitas dari SSE lain untuk mengkarakterisasi dampak. Sementara itu, variabel pola iklim, pola polusi dan arus kedalam dan keluar dari SSE untuk mengkarakterisasi ekosistem terkait. Sedangkan Chazal et al (2008) dan Burkharda (2012), menggunakan pendekatan matrik keterkaitan yang merupakan sebuah metode penilaian tentang kerentanan SES yang secara inplisit berhubungan dengan penilaian pengguna sumberdaya.

Selanjutnya, pemahaman SSE menurut Gunderson and Holling (1998, 2002); Berkes dan Folke (1998); dan Berkes et al. (2003) menyebutkan bahwa dinamika manusia, masyarakat dan alam sebagai bagian dari sistem terintegrasi dimana interkoneksi sosial-ekologis adalah terkemuka. Kajian teori sistem sosial-

ekologis adalah„... untuk memahami sumber dan peran perubahan dari dalam sistem, terutama perubahan yang muncul, di dalam sistem yang adaptif. Perubahan ekonomi, ekologi dan sosial terjadi pada kecepatan dan skala ruang yang berbeda adalah target dari analisa tentang perubahan yang adaptif‟ (Holling et al. 2002; 2005). Dengan demikian dimensi sosial merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari sistem sosial-ekologis.

Gambar 5. Sistem Sosial-Ekologis, SSE (Berkes and Folke 2003)

Bioregion Batas perairan Ekosistem Lokal Peraturan kelembagaan Pengelolaan oleh institusi Pengelolaan lokal Pengetahuan & Pemahaman

ALAM manusia Metabolisme Komunikasi Langsung Struktur Biofisik Masyarakat Dunia Materi BUDAYA Sistem budaya Sistem Alam Alam INTERAKSI MASYARAKAT-ALAM

Gambar 5 adalah suatu penyajian visual tentang konsep sistem sosialekologis,yang menegaskan peran sentral dari pembelajaran sosial. Komponen merupakan struktur hirarkis terkait sistem ekologis dan sosial- institusional yang dihubungkan melalui pemahaman dan pengetahuan ekologis, yang kemudian diterjemahkan ke dalam praktek pengelolaan. Variasi dari perubahan sosialekologis yang memungkinkan terjadi.

Dalam konteks pengelolaan wilayah pesisir, konsep ini sangat penting mengingat karakteristik dan dinamika ekosistem perairan, sumberdaya ikan dan pelaku perikanan merupakan satu keterkaitan. Hal ini didasarkan pada karakteristik dan dinamika pesisir yang merupakan suatu sistem dinamis saling terkait antara sistem manusia dengan sistem alam sehingga kedua sistem inilah yang bergerak dinamik dalam kesamaan besaran (magnitude). Untuk itu diperlukan integrasi pengetahuan dalam implementasi pengelolaan wilayah pesisir. Integrasi inilah yang dikenal dengan paradigma Social-Ecological System dalam pengelolaan wilayah pesisir dan lautan (Adrianto and Aziz 2006).

Gambar 6. Keterkaitan antara Sistem Ekologi dan Sosial di Wilayah Pesisir dan Laut (Anderies et al. 2004 in Adrianto 2006)

Dari tinjauan-tinjauan yang dikemukakan oleh Anderies et al. (2004), Ostrom (2007), Gunderson and Holling (1998; 2002), Berkes and Folke (1998), dan Berkes et al. (2003) tersebut di atas, dapat disarikan pemahaman terkait dengan konsep maupun aplikasi dari analisis SSE. Dari aspek konsep, SSE mengandung pengertian jejaring dinamik interaktif yang terbentuk dari sejumlah unit sistem yang mencakup sistem ekologi (sumberdaya dan ekosistemnya), dan sistem sosial

(pengguna sumberdaya, prasarana dan penyedia prasarana, serta pemangku kepentingan publik). Dalam aplikasinya, unit-unit sistem menurut konsep SSE dicirikan berdasarkan sejumlah variabel (Suryawati 2012; Adrianto et al. 2013).

Dokumen terkait