• Tidak ada hasil yang ditemukan

Agar penelitian ini terarah, sistematis dan mengkerucut pada satu desain penelitian yang induktif sehingga ada beberapa bagian pembahasan dalam penelitian yang disebut sistematika pembahasan. Adapun pada penelitian ini terbagi pada lima bab pembahasan, diantaranya pada (BAB I) membahas tentang pendahuluan, meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitia, manfaat penelitian, metode penelitian dan sistematika pembahasan.

Pada (BAB II) dua membahas tentang kajian teoretis, yang meliputi tinjauan pustakan dan landasan teori. Sedangkan pada (BAB III) tiga membahas tentang sejarah profil dari ketiga lembaga pendidikan—MAN 1, SMAN 1, dan SMKN 1 Yogyakarta—, selain terdapat profil Bimbingan dan konseling dari masing-masing sekolah.

Pada bab IV paparan mengenai hasil penelitian yang meliputi pelaksanaan bimbingan karir, fasilitas bimbingan karir yang dimiliki, dan perbedaan bimbingan karir yang diberikan oleh masing-masing sekolah. Terakhir (BAB V) penutup yang meliputi kesimpulan, saran dan kata penutup.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Proses bimbingan dan konseling yang dilakukan oleh ketiga lembaga pendidikan tingkat menengah atas —MAN 1, SMAN 1, SMKN 1 Yogyakarta—, pada dasarnya sudah berjalan dengan baik. Walaupun masih menyimpan berbagai kendala dan kekurangan yang menyebabkan perlunya perbaikan di masa mendatang. Namun secara umum, kondisi pelaksanaan proses bimbingan karir, sebagaimana penelitian ini, sudah berjalan sesuai dengan harapan. Kondisi ini di dukung oleh kondisi sekolah yang memang sudah menjadi sekolah model di Yogyakarta. Predikat sekolah model, tentu saja, tidak menyulitkan bagi lembaga pendidikan tingkat menengah atas.

Seperti yang sudah dijelaskan pada paparan hasil dan pembahasan di bagian bab penelitian ini, pelaksanaan bimbingan karir bagi siswa di ketiga sekolah sudah menjalankan prinsip utama, yakni pre test dan test pada saat penjurusan di awal masuk sebagai siswa baru. Proses ini dilalui dengan mekanisme, pre test, test IQ, Test Potensi Akademik, wawancara, dan penyebaran

konseling. Meliputi prinsip konseling individu, konseling kelompok, konseling sebaya dan lainnya. Kondisi ini tidak sulit ditemukan di ketiga sekolah, namun yang masih menjadi persoalan adalah, karena minimnya tenaga atau guru bimbingan dan konseling, sehingga tidak semua siswa mampu ter-cover dengan baik. Dapat di bayangkan misalnya, ada hampir lebih kurang di MAN 1 Yogyakarta saja 600-an siswa, padahal kondisi guru bimbingan dan konseling hanya berjumlah 3 orang. Ini tidak ideal dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling di sebuah institusi pendidikan tingkat menengah atas. Begitu juga yang terjadi di SMAN dan SMKN, kondisi serupa terjadi kurang proporsionalnya tenaga atau guru dalam transformasi bimbingan karir bagi siswa.

Secara generatif, proses dan fasilitas penunjang dalam pelaksanaan bimbingan karir bagi siswa di ketiga sekolah yang menjadi lokasi penelitian pada kajian ini, sudah berjalan dan memiliki fasilitas mumpuni. Sebagaimana telah dijelaskan pada bab sebelumnya, ada lebih kurang 20an fasilitas penunjang bimbingan karir siswa dalam rangka mewujudkan cita-cita para siswa. Pada faktanya, proses bimbingan karir dapat dijalankan dengan baik, tatkala alat transformasi masing-masing proses karir bagi siswa mampu diagendakan dan ditampung dengan baik oleh pihak sekolah. Untuk itu, kita dapat menyebutkan bahwa kategorikal approach pelaksanaan bimbingan karir di —MAN 1, SMAN 1, SMKN1 Yogyakarta—sudah berjalan secara maksimal.

Dengan begitu, sebagai bahan pertimbangan lanjutan dan perbaikan sistem tata kelola pengembangan bimbingan karir di masa mendatang, seyogyanya pihak sekolah mampu mengembangkan proses layanan bimbingan konseling secara

maksimal. Mengingat, jumlah minat siswa dalam mengisi ruang kuota karir, khususnya bagi siswa yang akan melanjutkan ke jenjang pendidikan perguruan tinggi, harus sudah terfasilitasi secara maksimal dan bijak.

Sinergisitas antar stakeholders dalam membangun sistem bimbingan dan konseling sangat diperlukan dengan mekanisme pelaksanaan secara baik. Terlebih program jangka panjang, yakni kerjasama dengan pihak universitas yang banyak menjadi tujuan para siswa perlu ditingkatkan dan kerjasama dengan dunia industri—khusus bagi SMKN 1 Yogyakarta—agar capaian atau tujuan dari pelaksanaan pendidikan vokasi dapat berjalan sebagaimana mestinya. Tidak seperti yang terjadi saat ini, proses transformasi siswa yang menginginkan keberlanjutan karir pasca studi masih berada dalam masa ambang ketidakpastian. Padahal, ada banyak harapan dari pihak orang tua dan siswa, ketika mereka memilih SMK sebagai lembaga peningkatan kualitas skill masing-masing individu memiliki ekspetasi yang begitu kuat dengan harapan mendapatkan pekerjaan yang layak secara langsung.

Memperbaiki sistem pengelolaan bimbingan karir bagi siswa menjadi persoalan mendesak dan mutlak dilakukan oleh pengelola lembaga pendidikan. Jangan sampaikan terbengkalai hanya karena tidak adanya capaian mutu dari

sebagai institusi yang mampu melahirkan peserta didik dengan memiliki skill mumpuni, terganjal oleh persoalan internal antara sekolah dengan orang tua.

Melalui hasil refleksi simpulan penutup penelitian ini, saya sebagai peneliti, seraya mengharap adanya keseriusan dari berbagai pihak untuk memperhatikan masalah-masalah yang muncul dalam kehariban makna dan obyektifitas kondisi di lapangan. Hal ini menjadi persoalan penting untuk segera mendapat solusi, di tengah masalah yang mengganjal dalam proses belajar-mengajar. Selain itu, saya menyarankan penting kiranya pengelola atau manajemen sekolah memberikan ruang yang lebih luas dan lama dalam proses bimbingan dan konseling bagi siswa. Tidak seperti yang terjadi saat ini, minimnya jam kelas bagi guru bimbingan dan konseling, sehingga tidak meng-cover semua kepentingan siswa.

B. Saran

Sebagai saran yang membangun tentu ada beberapa rekomendasi yang sekiranya dapat meningkatkan pelayanan bimbingan dakonseling di sekolah SLTA, khususnya bagi —MAN 1, SMAN 1, SMKN 1 Yogyakarta—, Instiusi pemerintah, industry atau perusahaan, lingkungan sosial masyarakat pada umumnya, terlebih pada orang tua peserta didik untuk lebih bijak dalam menyalurkan minat dan bakat anaknya demi mendapatkan karir tepat. Adapun beberapa rekomendasi yang dimaksud sebagai berikut:

Penelitian selanjutnya diharapkan mampu lebih memaksimalkan proses penggalian data penelitian, baik itu dari segi durasi penelitian, maupun metode

pengambilan data. Karena pada dasarnya penelitian ini memerlukan pemahaman yang detail, selain dilakukan di tiga lokasi penelitian namun pada dasarnya untuk membedakan antara lokasi penelitian yang satu dengan yang lain membutuhkan waktu yang cukup banyak.

Adapun peluang penelitian selanjutnya untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal dari penelitian sebelumnya yaitu: penggalian data dilakukan minimla 4-5 tahun ke belakang, perhatikan asfek proses pemberian karir dari masing-masing sekolah, fasilitas karir yang dimiliki dan berbagai hambatan yang terjadi, kualitas atau profesionalitas Guru BK yang dimiliki, capaian output karir yang dihasilkan, dan membedakan secara umum antara —MAN, SMAN, SMKN— terkait keunggulan apa saja yang dimiliki dan dapat dijadikan acuan bagi sekolah lain pada umumnya.

Untuk lembaga Sekolah—MAN 1, SMAN 1, dan SMKN 1 Yogyakarta— sendiri, sebelumnya saya ucapkan terimakasih sudah berkenan mengizinkan dan memfasilitasi berbagai kebutuhan selama penelitian di lapangan. Adapun saran yang membangun diharapkan kedepannya mampu mempertahankan kualitas sebagai sekolah model dan mampu memaksimalkan dari berbagai pelayanan, menyesuaikan jumlah Guru BK dengan jumlah total siswa, karena jika mengacu

keseluruhan —MAN 1, SMAN 1, SMKN 1 Yogyakarta— bisa dikatakan cukup ideal, walaupun didalamnya terdapat beberapa keterbatasan yang masih taraf proses menuju penyempurnaan pelayanan dan kualitas pendidikan. Pasalnya ketiga sekolah tersebut memiliki fasilitas dan program sekelas sekolah model cukup memadai dan dapat dijadikan rujukan sekolah model bagi sekolah lainnya, baik secara kuantitas, maupun secara kualitas.

Adapun saran untuk pemerintah yang memiliki kebijakan terhadap penyelenggaraan pendidikan sebagaimana amanat UU pendidikan. dihrapkan tidak henti-hentinya melakukan evaluasi guna untuk menyesuaikan program kurikulum dengan kebutuhan sekolah, peserta didik dan guru BK khususnya sebagai pemberi pelayanan bimbingan dan konseling. Pasalnya ada beberapa kurikulum yang tidak singkron dengan situasi dan kondisi di lapangan saat ini. Permasalahan semacam itu tentu akan menjadi penghmabat jalannya ketercapaian pendidikan yang ideal. Terlebih untuk industry diharapkan mampu menyerap kebutuhan dan mengutamakan tenaga lokal, guna untuk meminimalisir tingkat pengangguran yang kian tahun semakin meningkat.

Terlebih diperuntukkan elemen masyarakat (social environment) sebagai tempat dimana peserta didik tumbuh, bergaul dan berbaur dengan teman sebaya, termasuk lingkungan sosial disekitarnya. Tentuya lingkungan seosial memiliki peranan sangat penting terhadap pertumubuhan psikosial peserta didik terhadap porses jalannya mematankan kematangan karir. Untuk itu kiranya perlu ada kerjasama dari berbagai pihak agar peserta didik dapat tumbuh kembang

sebagaimana mestinya tanpa ada virus yang dapat menghambat pendidikan dan karakter disetiap peserta didik.

Diantara asfek yang lain di dalam pendidikan yang paling utama adalah orang tua dari setiap peserta didik. Harapan besar saya selaku peneliti dapat memberikan gambaran khusus mengenai dinamika permasalahan pada umumnya yang ada pada anak se-usia SLTA (Sekolah Lanjut Tingkat Akhir). Selain itu sebagai bahan informasi tentang dinamika pendidikan —MAN, SMAN dan SMKN— baik dari segi kultur dan focus pendidikan yang berbeda-beda. Untuk itu kiranya para orang tua dapat lebih bijak lagi terhadap kemauan, cita-cita atau minat bakat yang dimiliki anaknya, bukan semata-mata memaksakan kehendak orang tua. Sebab kemampuan disetiap anak berbeda-beda tidak bisa disama ratakan satu sama lain.

Dokumen terkait