• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistematika Pembahasan

Dalam dokumen KOMIK MEREBUT KOTA PERJUANGAN (Halaman 38-152)

BAB I PENDAHULUAN

H. Sistematika Pembahasan

Penelitian ini disusun dalam lima bab, yang terdiri dari: 1) BAB I PENDAHULUAN, yang berisi latar belakang permasalahan, rumusan masalah yang penulis angkat, landasan teori, dan unsur-unsur yang layaknya menjadi pendahuluan dalam penelitian. 2) BAB II KOMIK DAN WACANA POLITIK INDONESIA, berisi mengenai sejarah singkat komik Indonesia. 3) BAB III REALITAS DAN PENYIMPANGAN SEJARAH DALAM KOMIK MEREBUT KOTA PERJUANGAN, berisi tentang perbandingan kejadian dalam komik dengan apa yang terjadi di kenyataan. 4) IV POLITIK PENCITRAAN SOEHARTO DALAM KOMIK MEREBUT KOTA PERJUANGAN, adalah bab yang secara khusus menjawab rumusan masalah, di mana fokus kajiannya mengacu pada konten komik Merebut Kota Perjuangan yang secara khusus menonjolkan tokoh Letkol Soeharto yang seolah-olah menjadi tokoh sentral dalam peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949. dan 5) BAB V KESIMPULAN, berisi rangkuman atau kesimpulan yang penulis tarik secara menyeluruh dari bab-bab sebelumnya.

28

KOMIK DAN WACANA POLITIK INDONESIA

Dalam bab ini penulis akan mendeskripsikan dinamika perkomikan Indonesia, terkait dengan wacana politik yang terkandung di dalamnya. Agar mendapatkan gambaran yang lebih menyeluruh, maka sebagai langkah awal penulis akan mengupas singkat mengenai sejarah komik Indonesia yang dimulai dari dekade akhir pemerintahan Hindia-Belanda (1930-an). Setelah itu penulis pun akan mendeskripsikan masa-masa selanjutnya mulai dari Era Kemerdekaan RI, Orde Lama, Orde Baru, dan era setelah reformasi (era pers bebas). Adapun deskripsi pembabakan sejarah komik tersebut karena memiliki konteks politik pada zamannya.

Dari pembabakan sejarah komik berdasarkan ‘perjalanan politik’ Indonesia di atas, tentu saja penulis akan mengupas lebih dalam pada Zaman Orde Baru. Hal ini disebabkan pada zaman tersebutlah dunia pers sangat dikekang atau dikerdilkan oleh pemerintah. Pada situasi pers yang menyedihkan itulah justru komik berjudul

“Merebut Kota Perjuangan” diterbitkan, serta didukung penuh oleh pemerintah.

Penyebaran komik inipun mencakup seluruh perpustakaan di Indonesia yang secara khusus komik ini memang menjadi salah satu proyek buku pendidikan.

Hal itu jelas karena dalam komik tersebut terlalu menonjolkan tokoh Letkol Soeharto, yang tentunya kental sekali dengan bumbu-bumbu politik pencitraan Soeharto selaku pendiri Rezim Orde Baru. Tetapi pada bab ini pengkajiannya lebih pada menggambarkan problematika perkomikan Era Orde Baru secara umum, karena

deskripsi yang secara khusus membahas politik pencitraan Soeharto dalam komik berjudul, “Merebut Kota Perjuangan” akan penulis sajikan dalam BAB IV.

Oleh karena bab ini membutuhkan banyak referensi, maka penulis akan berusaha menggalinya dari berbagai literatur yang ada kemudian menyaringnya dan menyusun kembali dalam bentuk wacana deskriptif kritis. Tujuannya agar mendapatkan gambaran menyeluruh yang objektif dan memiliki relevansi terhadap kebenaran ilmiah pada umumnya.

A. Komik Era Orde Baru

Komik era orde baru ini tentunya tidak lahir begitu saja. Akan tetapi komik sudah ada sejak zaman teknologi yang masih rendah yaitu masih menggunakan mesin cetak. Sebelum masuk ke dalam penjelasan komik orde baru, perlu disimak terlebih dahulu bagaimana sejarah komik di indonesia.

Komik merupakan salah satu media visual/gambar yang sudah cukup lama akrab di seluruh kalangan masyarakat Indonesia. Jauh sebelum kedatangan Bangsa Eropa, pahatan relief candi pun bisa disebut sebagai cikal-bakal komik Indonesia.

Tentu saja penulis tidak akan mengkaji sampai sejauh itu, karena pembahasan komik di Indonesia lebih relevan jika dimulai dari masuknya mesin cetak. Tidak dapat dipungkiri bahwa Pemerintah Hindia-Belanda memiliki andil penting dalam mengenalkan ‘budaya media cetak’ di Indonesia. Paling tidak semua itu bermula sejak mesin cetak dibawa langsung dari Belanda, yakni beberapa tahun sebelum

30

1671, sejak buku syair didaktik Steendam diterbitkan pemerintah Batavia (Vlekke, 1941: 258).

Bergulirnya waktu media cetak berwujud koran pun banyak diterbitkan selama kurun 1728-1922, seperti: Bataviasche Nouvelles (1744), Government Gazzete, Javasche Courant, Surabaya Courant, De Locomotief, dll. Demikianlah, sampai tahun 1935 dunia media cetak berkembang cukup pesat di Hindia Belanda (pra-Indonesia) yakni mencapai kurang lebih 320 kantor berita. Namun dari 19 koran harian berbahasa Belanda pelanggannya tidak lebih dari 7.000 pembaca, (Vlekke, 1941: 424-423).

Pada masa-masa awal itulah mulai dijumpai comic-strip. Komik strip adalah komik pendek yang hanya terdiri dari beberapa kotak gambar, biasanya diterbitkan secara berkala di koran harian (Alkatiri, 2006: 69). Ceritanya bisa saja dibuat bersambung, atau hanya beberapa frame saja dan tidak berkala pada cetakan berikutnya. Maka, untuk mengetahui secara khusus mengenai sejarah dunia perkomikan Indonesia, sebagaimana yang telah dijelaskan pada BAB I, penulis pun mengacu pada Marchel Boneff (1998) yang telah membagi dua kategori besar komik Indonesia berdasarkan proses kelahirannya yaitu komik strip (comic-strip), dan buku komik.

Demikianlah menurut Boneff, kehadiran komik strip Indonesia pada awal tahun 1930-an dapat ditemui pada beberapa media milik Belanda seperti De Java Bode memuat komik karya Clinge Doorenbos yakni Flippie Flink dalam rubrik anak-anak. Setelah itu, D’Orient adalah mingguan yang menerbitkan komik Flash Gordon

secara bersambung. Lalu muncul pula Komik Timur berkat terbitnya Koran Sin Po yang merupakan media milik Cina Peranakan pertama dan berbahasa Melayu. Dalam mingguan inilah komik strip karya Kho Wang Gie yang bertemakan kisah jenaka mulai diterbitkan. Pada tahun 1931 muncul karakter Put On yang merupakan tokoh gendut dan jenaka. Tokoh ini langsung disambut hangat oleh publik, (Boneff, 1998:

19).

Gambar 1.1 Tokoh Put On (dalam Bonneff, 1998: 20)

Tokoh Put On yang jenaka itu makin popular sehingga menginspirasi mayoritas komik strip lain sejak dekade 1930-an sampai 1960-an. Majalah Star (1939-1942) juga terdapat komik strip yang secara garis besar terinspirasi dari kisah jenaka Put On. Dalam mingguan Ratu Timur di Solo, komik strip karya Nasroen A.S mulai diterbitkan, yang berjudul Mentjcari Poetri Hidjaoe. Pada awal dekade 1950-an, di Yogyakarta Komikus Abdulsalam pun mulai menerbitkan komik stripnya di

32

harian Kedaulatan Rakyat. Komik strip karya Abdulsalam ini lebih bernuansa heroik, salah satunya berjudul “Kisah Pendudukan Jogja,”(Sachari, 2007: 134).

Pada komik strip yang berjudul ”Kisah Pendudukan Jogja” ini memang memiliki kesamaan tema seperti komik “Merebut Kota Perjuangan” yang penulis teliti, yakni tentang agresi militer Belanda di Yogyakarta. Hanya saja komik karya Abdulsalam lebih menceritakan banyak tokoh dalam memperjuangkan kota Yogyakarta dan tidak menonjolkan tokoh Letkol Soeharto. Justru Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Jendral Sudirman yang menonjol. Letkol Soeharto hanya dikisahkan pada saat serangan umum berlangsung dan dia menyamar jadi penjual makanan. Setelah terbit secara berkala sejak 19 Desember 1948 hingga 29 Januari 1949, akhirnya komik itu diterbitkan dalam bentuk buku oleh harian Pikiran Rakyat – Bandung. Demikianlah, pada akhirnya komik karya Abdulsalam tersebut, menurut para pengamat komik Indonesia merupakan ‘buku komik’ pertama karya komikus Indonesia yang diterbitkan.

Gambar 1.2 Cover Komik Kisah Pendudukan Jogja, Karya Abdulsalam (diunduh dari www.tembi.org)

Sebetulnya pada paruh terakhir dekade 1940-an hingga dekade 1050-an gaya komik nasionalis makin memudar, bahkan secara umum dapat dikatakan dunia perkomikan Indonesia mulai terserang pengaruh Amerika. Komik strip berjudul Tarzan, Rip Kirby, Phantom, dan Johnny Hazard mulai banyak diterbitkan dalam koran harian maupun mingguan, yang kemudian dibukukan oleh penerbit Gapura, Keng Po, dan Perfect. Ini merupakan serangan pengaruh komik Amerika pertama, yang kemudian berhasil dikalahkan oleh komikus nasional seperti Siaw Tik Kwei yang mengadopsi legenda kepahlawanan Tiongkok “Sie Djin Koei”, R.A.Kosasih (Bapak Komik Indonesia) yang berhasil mengadopsi citra Wonder Woman dalam tokoh Sri Asih. Karya tersebut mampu membangkitkan komik Indonesia, dan pergerakan komik pun tidak hanya di Bandung saja, tetapi mulai mengakar di berbagai kota, seperti Jakarta, Tasikmalaya, Surabaya, bahkan Medan. Demikianlah, uforia komik Indonesia terus berlanjut hingga memasuki era 1960-an dengan makin banyaknya karya komikus lokal. Keragaman budaya lokal seperti hikayat, legenda, bahkan mitos pun diangkat menjadi komik –di samping kemunculan komik metropolis juga terus mendesak.

Secara umum, komikus Indonesia memang berusaha mengadopsi cerita kisah-kisah pewayangan, legenda, dan mitos-mitos yang ada di Nusantara. Hal ini berkaitan erat dengan desakan Presiden Soekarno pada tahun 1959 yang sangat prihatin dengan kondisi seni dan budaya Indonesia (Alam, 2001: 143). Menurut beliau seniman Indonesia harus lebih menggali budaya Nusantara daripada berkiblat ke Barat.

Gerakan pemerintah, bersamaan dengan kekuatan komunis menjadikan komik pun

34

masuk dalam pusaran politik. Pada saat itu R.A. Kosasih membuat komik Empat Sekawan dan Lahirnya Pancasila, yang merupakan salah satu contoh ‘lisensi’

karakter dalam rangka mendukung propaganda pemerintah.

Itulah sebabnya tokoh-tokoh pahlawan dalam komik Amerika kemudian banyak yang ditandingi dan ditransformasikan oleh komikus Indonesia menjadi tokoh baru yang bernuansa nasionalis, seperti tokoh Siti Gahara, Puteri Bintang, Garuda Putih, dan Kapten Comet. Demikianlah kondisi perkomikan Indonesia hingga memasuki dekade 1960-an dan 1970-an, pada masa-masa awal Orde Baru, yang kurang lebih bernuansa sama dengan periode sebelumnya –bertujuan untuk menangkal serangan pengaruh komik luar. Namun seri-seri komik kepahlawanan telah begitu memudar, tidak semarak seperti akhir dekade 1940-an.

Serangan pengaruh komik Amerika kembali terjadi pada dekade 1980-an hingga memasuki 1990-an. Pada serangan ‘pengaruh’ yang kedua ini sudah sangat sulit dibendung. Hal ini disebabkan makin maraknya penerjemahan komik Amerika seperti Donal Bebek, Superman, Batman, Wonder Woman, dan banyak lagi. Bahkan pada saat yang bersamaan, komik Jepang pun mulai menyerang, seperti Doraemon, Dragon Ball, Legenda Naga, Kobo Chan, dll. Pemerintah Orde Baru memang tidak membatasi masuknya pengaruh barat di bidang seni dan budaya, hanya hal-hal yang bersifat tidak pro-pemerintah saja yang disensor habis-habisan atau bahkan dihilangkan. Melihat kenyataan merosotnya dunia perkomikan nasional, Departemen Pendidikan Nasional pun menetapkan bahwa pada tahun 1997 cergam (komik) nasional mengalami kebekuan, (dalam Sachiri, 2007: 134).

Pada tahun 1990-an sampai 2000-an adalah masa peralihan dari pers yang terkekang menuju pers bebas. Namun sangat disayangkan karena corak nasionalis komik Indonesia semakin memudar di ‘pasar komik,’ bahkan komik yang bertemakan petualangan pendekar khas Nusantara pun menghilang. Pembaca Indonesia lebih tertarik dengan kisah-kisah komik Jepang, Amerika, bahkan baru-baru ini (2010-an) mulai terserang komik Korea.

Meskipun selalu ada kalangan komikus nasional yang independen dan tetap memegang teguh karakter komik Indonesia, tetapi mereka tidak memiliki pasar yang luas dan tentu saja hanya dicintai oleh kalangan minoritas. Hanya komik strip yang diterbitkan oleh beberapa koran lokal dan nasional saja yang masih mempertahankan karakter komik Indonesia, misalnya karakter Oom Pasikom dan Benny & Mice di Koran Kompas.

Setelah mengulas sekilas tentang sejarah komik Indonesia di atas, pada bagian ini penulis akan secara khusus membahas problematika komik di era Orde Baru – yang kurang lebih ceritanya tidak akan berbeda jauh dengan pers dan media cetak pada umumnya. Demikianlah telah tercatat dalam sejarah, bahwa pada tanggal 20 Januari 1978 Presiden Soeharto melarang terbit tujuh surat kabar karena dianggap terlalu berlebihan memberitakan dirinya dalam pencalonan presiden yang ketiga kalinya, yaitu Kompas, Sinar Harapan, Merdeka, Pelita, The Indonesian Times, Sinar Pagi, dan Pos Sore (Ditjen PPG Departamen Penerangan, 1977: 32).

Tidak hanya koran saja, banyak buku karya budayawan atau penulis yang cenderung kritis pun dilarang, seperti semua buku karya Pramoedya Ananta Toer,

36

buku-buku karya Aidit, bahkan buku-buku apa saja yang cenderung menonjolkan Soekarno –apalagi yang berbau komunis. Karena pada dasarnya rezim Orde Baru sangat dekat dengan dunia barat yang kapitalis (musuh komunis), maka barang-barang cetakan yang bertuliskan aksara China pun dilarang dan harus diganti. Nama China diganti dengan bahasa Indonesia. Merek toko yang menggunakan aksara China harus diubah, termasuk sastra dan komik China juga disensor habis-habisan bahkan dilarang peredarannya.

Pada masa orde baru, komik juga digunakan sebagai instrumen politik pencitraan. Komik strip yang terbit berkala bersama surat kabar, seperti dalam Star Weekly, Liberty, Pantjawarna, dan Harian Keng Po, paling sering berisi sindiran lembut perihal kehidupan sehari-hari, kondisi politik, sosial, dan ekonomi.

Khususnya terkait tema politik, pada peralihan antara Orde Lama dan Orde Baru memang terjadi perubahan besar. Berbagai kepentingan politik pemerintah adalah kepentingan utama yang harus dituruti semua media massa (Setiono, 2008:425).

Sebagian buku komik terbitan Era Orde Baru yang mengangkat tema kepahlawanan tentu saja kental sekali mengutamakan sosok Soeharto. Selain komik yang dikaji dalam penelitian ini, salah satunya adalah komik berjudul Bandjir Darah di Kabut Pagi, terbitan Matoa (1965) karya Jas S Putera, juga merupakan salah satu komik yang mencitrakan sosok heroik Soeharto. Selain tema kepahlawanan, komik memang dibanjiri dengan tema silat, dan roman remaja. Buku komik yang tidak bernuansa politik tentu saja berkembang pesat, meskipun pada akhirnya kalah pasaran dengan komik Amerika dan Jepang.

Begitu pula dengan komik Jepang dan Amerika, meskipun boleh beredar tetapi harus diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Untuk komik Amerika memang tidak jadi masalah besar dalam hal penerjemahan. Beberapa kata asing yang menunjukkan latar peristiwa atau tempat masih boleh menggunakan kata Inggris – karena sama-sama menggunakan aksara latin. Namun pada komik Jepang perlakuannya berbeda, semua aksara kanji harus diganti dengan aksara latin. Jadi bisa dikatakan bahwa komik asal Jepang kehilangan unsur verbal ‘ke-Jepang-an-nya.’

Demikianlah, dunia perkomikan Indonesia di Era Orde Baru pun bernasib sama dengan pers dan media cetak pada umumnya. Pada Koran Kompas, komik strip yang diterbitkan pun tentunya yang pro-pemerintah, atau yang ‘tidak menyinggung’

pemerintah. Misalnya tokoh Panji Koming yang terbit setiap minggu sejak 14 Oktober 1979 (http://www.pdat.co.id/hg /apasiapa/html/D/ads,20030701-80,D.html, diakses pukul 14.32 WIB, 28 Mei 2014). Tokoh komik Panji Koming adalah ciptaan Dwi Koendoro, seorang komikus Indonesia yang tertarik dengan latar sejarah Majapahit. Demikianlah komikus ini dapat terus berkarya karena Panji Koming-nya, meskipun latar cerita disesuaikan dengan kehidupan zaman Orde Baru tetapi tidak mengkritisi pemerintah.

Namun, pada awal hingga pertengahan Era Orde Baru justru dunia komik Indonesia mengalami masa keemasan. Tidak sedikit komikus Indonesia dari berbagai latar belakang etnis dan suku yang mampu mengaktualisasikan diri dengan mengeksplorasi kisah pewayangan, cerita rakyat yang telah dituturkan secara turun-temurun, bahkan kisah-kisah fantasi yang mengadopsi sastra lisan Tiongkok. Salah

38

satu yang cukup terkenal adalah komik Panji Tengkorak karya Hans Jaladara yang diterbitkan dua kali, yakni pada tahun 1985 dan 1996. Serial Panji Tengkorak ini bahkan menjadi serial yang panjang yang tidak hanya berhenti begitu satu seri tamat;

langsung disusul dengan seri lainnya yang berkesinambungan, yakni: Walet Merah, Si Rase Terbang, Kembalinya Si Rase Terbang, Pandu Wilantara dan Dian dan Boma.

R.A. Kosasih (yang mulai menyandang julukan Bapak Komik Indonesia) sendiri masih aktif berkarya dan eksis pada zaman Orde Baru. Banyak karyanya yang juga tak kalah terkenal dengan Sri Asih, seperti komik Wayang Mahabharata (1957-1959) dan Ramayana (1955) yang diterbitkan oleh Penerbit Melodie, Bandung (Seno, 2012: Kompas). Meskipun dua komik tersebut pada mulanya diterbitkan sejak era Orde Lama tetapi masih terus eksis dan mengalami cetak ulang berkali-kali hingga menjelang dekade 90-an. Komik serial pewayangan itu jelas berkiblat pada buku-buku pewayangan yang lazimnya menjadi pedoman atau pakem para dalang yang bersumber pada epos Mahabharata dari India.

Pada tataran yang lebih luas, sejatinya pada era Orde Baru para seniman komik tergabung dalam sebuah organisasi, yakni IKASTI (Ikatan Seniman Tjergamis Indonesia). Tema yang lebih menonjol adalah roman atau percintaan dan silat (Boneff, 1998: 40). Komik silat yang paling terkenal adalah Si Djampang karya Zaidin Wahab, dan Si Buta dari Gua Hantu karya Ganes. Barulah ketika memasuki dekade 1980-an hingga 90-an, dunia perkomikan penuh sesak dengan komik terjemahan, bahkan komik-komik yang pernah menyerang pada era Orde Lama

muncul kembali dengan kemasan baru, misalnya Tarzan, Rib Kirby, Spiderman, Superman, The Titans, dll.

B. Sejarah Penerbitan Komik Era Orde Baru

Pada awal kekuasaan orde baru, Indonesia dijanjikan akan keterbukaan serta kebebasan dalam berpendapat atau berekspresi. Masyarakat saat itu bersuka –cita menyambut pemerintahan Soeharto yang diharapkan akan mengubah keterpurukan pemerintah orde lama. Pemerintah saat itu harus melakukan pemulihan di segala aspek, antara lain aspek ekonomi, politik, sosial, budaya, dan psikologis rakyat.

Indonesia mulai bangkit sedikit demi sedikit, bahkan perkembangan ekonomi pun semakin pesat. Namun sangat tragis, bagi dunia pers di Indonesia. Dunia pers yang seharusnya bersuka cita menyambut kebebasan pada masa orde baru, malah sebaliknya. Pers mendapat berbagai tekanan dari pemerintah. Tidak ada kebebasan dalam menerbitkan berita-berita miring seputar pemerintah. Bila ada maka media massa tersebut akan mendapatkan peringatan keras dari pemerintah yang tentunya akan mengancam penerbitannya.

Pada masa orde baru, segala penerbitan di media massa berada dalam pengawasan pemerintah yaitu melalui departemen penerangan. Bila ingin tetap hidup, maka media massa tersebut harus memberitakan hal-hal yang baik tentang pemerintahan orde baru. Pers seakan-akan dijadikan alat pemerintah untuk mempertahankan kekuasaannya, sehingga pers tidak menjalankan fungsi yang sesungguhnya yaitu sebagai pendukung dan pembela masyarakat.

40

Tanggal 21 Juni 1994, beberapa media massa seperti Tempo, deTIK, dan editor dicabut surat izin penerbitannya atau dengan kata lain dibredel setelah mereka mengeluarkan laporan investigasi tentang berbagai masalah penyelewengan oleh pejabat-pejabat Negara. Pembredelan itu diumumkan langsung oleh Harmoko selaku menteri penerangan pada saat itu. Meskipun pada saat itu pers benar-benar diawasi secara ketat oleh pemerintah, namun ternyata banyak media massa yang menentang politik serta kebijakan-kebijakan pemerintah. Dan perlawanan itu ternyata belum berakhir. Tempo misalnya, berusaha bangkit setelah pembredelan bersama para pendukungnya yang anti rezim Soeharto (serbasejarah.com, 2015).

Rezim Soeharto yang disebut juga Orde Baru dikenal sebagai lazim yang militeristik. Soeharto memiliki latar belakang militer yang sangat kenatl dalam karir politiknya, oleh sebab itu gaya-gaya kemiliterannya terlihat dengan cukup jelas dalam politik pemerintahannya saat ia menjadi presiden. Dalam rezim Orde Baru, militer memiliki “Dwifungsi” yaitu menjaga negara dari ancaman militer baik dari luar maupun dari dalam negeri. Meskipun berupa rezim matrealistik, pemerintahan Orde Baru memilih untuk lebih berfokus pada perbaikan dan pengembangan ekonomi sebagai tujuan utamanya. Pada masa Orde Baru stabilitas dan keamanan negara merupakan prioritas utama. Usaha rezim ini untuk memelihara dan menjaga legitimasi dan hagemoninya tidak hanya ditempuh melalui pembangunan ekonomi, namun juga berfungsi sebagai instrumen utama pemerintah menjalankan tindakan-tindakan represif tersebut. Tindakan –tindakan-tindakan yang brutal terkadang digunakan rezim untuk membungkam orang-orang yang dianggap membahayakan stabilitas

pemerintahan. Sebagaimana tindakan-tindakan represif dilakukan, usaha-usaha bersifat persuasif juga dilakukan dengan mengawasi ketat media massa dan juga lembaga-lembaga pendidikan. Pada dasarnya negara mencoba memanfaatkan media massa dan lembaga-lembaga pendidikan tersebut sebagai instrumen hegemoninya (Hidayat, 2000).

Penelitian tentang produksi komik dan klasifikasi genre dan tahun terbitnya pun pernah dilakukan pada awal berdirinya rezim Orde Baru, yakni antara 1966 sampai 1971 yang secara khusus mencakup pulau Jawa: Yogyakarta, Solo, dan Bandung –tetapi persebaran pasarnya mencakup nasional. Berikut ini tabel jumlah judul berdasarkan klasifikasi genre komik silat dan roman remaja dari tahun 1966-1971, dan klasifikasi genre komik yang beredar dari April sampai Juli 1971 :

Kategori/Genre 1966 1967 1968 1969 1970 1971* Jumlah

Silat 2 18 156 85 96 70 427

Roman Remaja 23 53 43 70 94 39 322

*: enam bulan pertama

Tabel 2.1 Jumlah Judul Genre Komik Silat dan Roman Remaja 1966-1971 (Sumber: Bonneff, 1998: 51)

Genre Jumlah Judul Persentasi

Silat 427 48,75

Roman Remaja 322 36,75

Dagelan 55 6,40

42

Fiksi Ilmiah/Cerita Fantastik 37 4,20

Dongeng dan Legenda (anak-anak) 15 1,70

Lain-lain (koboi, detektif) 20 2,20

Jumlah 876 100,00

Tabel 2.1 Klasifikasi Genre Komik yang Beredar dari April sampai Juli 1971 (Sumber: Bonneff, 1998: 50)

Berdasarkan data yang telah penulis sajikan dalam dua tabel di atas, maka dapatlah diketahui bahwa genre komik yang merajai pasaran Indonesia pada tahun 1971 adalah komik silat yang selalu dibuntuti dengan komik roman remaja. Tetapi berangsur-angsur –setelah tahun 1971– jumlah judul genre komik apa pun yang diproduksi oleh komikus Indonesia mulai menurun.

Memang tidak terdapat data tabel yang merinci secara jelas seperti antara tahun 1966 sampai 1971, tetapi dari berbagai kecenderungan yang ada –sebagai mana telah penulis jelaskan di awal– dan makin ketatnya sensor dari pemerintah Orde Baru, kreatifitas komikus Indonesia lebih diarahkan pada menyadur komik asing. Dari segi bisnis, hal itu memang disokong banyak penerbit yang tidak memiliki kejelasan idealisme. Tentunya masalah satu ini sah-sah saja dalam bisnis.

Namun di saat terjadinya kecaman penerbitan oleh pemerintahan orde baru, ada satu komik yang diterbitkan oleh Yayasan Sinar Asih Mataram yaitu komik Merebut Kota Perjuangan pada tahun 1984 (www.sampulbukublogspot.com, 2015).

Hal ini memunculkan kecurigaan bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh

Dalam dokumen KOMIK MEREBUT KOTA PERJUANGAN (Halaman 38-152)

Dokumen terkait