• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistematika Pembahasan

Dalam dokumen SKRIPSI NORMA SINTA AMIN BOTI (Halaman 56-0)

BAB III METODE PENELITIAN

F. Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan dibagi menjadi lima bab , yang secara garis besar sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Pada bab ini dijelaskan mengenai latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Dalam bab ini akan diuraikan mengenai definisi pajak, jenis pajak, stelsel pemungutan pajak, cara pemungutan pajak, sistem pemungutan pajak, wajib pajak, nomor pokok wajib pajak, undang-undang pajak penghasilan No. 36 tahun 2008, pokok-pokok perubahan undang-undang pajak penghasilan, kerangka pikir dan hipotesis.

BAB III METODE PENELITIAN

Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai lokasi dan waktu penelitian, metode penentuan sampel, metode pengumpulan data, jeis dan sumber data, metode analisis data, dan sistematika pembahasan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai ama dan sejarah singkat perusahaan, visi dan misi perusahaan, struktur organisasi dan job description, hasil dan pembahasan tentang jumlah wajib pajak danpenerimaan pajak penghasilan serta komparasi jumlah wajib

pajak dan penerimaan pajak penghasilan sebelum dan sesudaah penerapan UU No. 36 Tahun 2008

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai kesimpulan dan saran dari hasil penelitian

BAB IV

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

A. Nama dan Sejarah Singkat Perusahaan/Lembaga Kantor Pelayanan Pajak Pratama Makassar Barat

Sejarah Singkat Kantor Pelayanan Makassar Barat

KPP pratama Makassar Barat adalah salah satu unit vertikal Direktorat Jenderal Pajak Kementrian Keuangan yang secara hirarki berada di bawah kantor wilayah DJP Sulawesi selatan, Barat dan Tenggara.

Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 67/PMK 01/2008 KPP Pratama Makassar Barat berbentuk sebagai modernisasi administrasi perpajakan yang bercirikan system administrasi berbasis fungsi yang mengurusi administrasi perpajakn PPh, PPN, dan pajak tidak langsung lainnya serta PBB.

Namun mulai 1 Januari 2013, pengelolaan PBB khususnya sektor P2 (Perkotaan dan Pedesaan) telah dialihkan ke Pemerintah Daerah.

42

Lahirnya Kantor Pelayanan Pajak Pratama merupakan langkah Direktorat Jenderal Pajak dalam menerapkan pelayanan satu atap sebagai tuntutan reformasi birokrasi dalam lingkup Kementrian Keuangan. Kantor Pelayanan Pajak Pratama meruakan penggabungan tiga kantor pelayanan, yaitu kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan, Kantor Pemeriksaan Pajak, dan Kantor Pelayanan Pajak.

Genderang modernisasi di lingkungan Direktorat Jenderal pajak melahirkan Kantor Pelayanan Pajak Pratama Makassar Barat sesuai dengan peraturan menteri Keuangan No.67/PMK.01/2008 tanggal 6 Mei 2008. KPP Pratama Makassar Barat merupakan hasil pemecahan dari KPP Makassar Selatan, yang wilayah kerjanya mencakup empat kecamatan di Makassar yaitu:

1. Kecamatan Ujung Pandang 2. Kecamatan Mariso

3. Kecamatan Mamajang, dan 4. Kecamatan Tamalate.

KPP Pratama Makassar Barat berkedudukan di jalan Balai Kota No.15 Makassar yang awalnya merupakan gedung KP PBB Makassar. Terhitung mulai tanggal 27 Mei 2008 sesuai dengan keputusan Direktur Jenderal Pajak No.KEP-95/PJ/UP.53/2008 tanggal 19 Mei 2008, KPP Pratama Makassar Barat efektif beroperasi dan diresmikan oleh Menteri Keuangan pada tanggal 9 Juni 2008.

Dalam hal kepimpinan, pada awal terbentuknya KPP Pratama Makassar Barat sebagai bagian dari modernisasi administrasi perpajakan, kantor ini telah mengalami 3 kali pergantian kepemimpinan, di mulai pada awal

modernisasi bulan Mei 2008 sampai dengan bulan Oktober 2008 dipimpin oleh Dr.Drs.Tubagus Djodi Rawayan Antawidjaja, SE.AK,MM,M.Hum. Periode selanjutnya dipimpin oleh Agung Budiwibowo, ST.MT, sampai dengan bulan Januari 2012, dan di periode selanjutnya hingga saat ini di pimpin oleh Drs.Ashri, MM.

B. Visi dan Misi KPP Pratama Makassar Barat 1. Visi dari KPP Pratama Makassar Barat

“Menjadi kantor pelayanan pajak yang menyelenggarakan system administrasi perpajakan modern yang efektif, efisien dan dipercaya masyarakat dengan integritas dan profesionalisme tinggi.”

2. Misi dari KPP Pratama Makassar Barat

“Menghimpun penerimaan pajak negara berdasarkan Undang-Undang Perpajakan yang mampu mewujudkan kemandirian pembiayaan anggaran pendapatan dan belanja negara dengan melalui sistem administrasi perpajakan yang efektif dan efisien.

C. Struktur Organisasi dan Job Description a. Struktur Organisasi

KPP Pratama Makassar Barat terdiri dari kelompok fungsional yang beranggotakan pemeriksa/penilai pajak dan 10 (sepuluh) seksi yang memiliki fungsi dan tanggung jawabnya masing-masing, terdiri dari Sub bagian Umum, Seksi Pengolahan Data dan Informasi (PDI), Seksi Pelayanan, Seksi Penagihan, Seksi Pemeriksaan, Seksi Ekstensifikasi

Perpajakan dan 4 (empat) Seksi Pengawasan dan Konsultasi yang dibedakan berdasarkan wilayah kerjanya.

Struktur organisasi KPP Pratama Makassar Barat secara umum dapat dilihat seperti berikut :

Gambar 4.1

STRUKTUR ORGANISASI KANTOR PAJAK WILAYAH BARAT

Sumber: Subbagian Umum KPP Pratama Makassar Barat Kepala KPP Pratama

b. Job Description

1. Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama Makassar Barat a. Menetapakan rencana pengamanan penerimaan pajak

berdasarkan potensi pajak, perkembangan kegiatan ekonomi keuangan dan realisasi penerimaan tahun lalu.

b. Menetapkan rencana pencairan data strategis dan potensial dalam rangka intensifikasi perpajakan.

c. Mengarahkan pengolahan data yang sumber datanya strategis dan potensial dalam rangka intensifikasi perpajakan.

d. Mengarahkan pembuatan risalah perincian dasar pengenaan pemotongan atau pemungutan pajak atas permintaan wajib paja berdasarkan hasil perhitungan ketetapan pajak.

e. Menjamin pengolahan data guna menyajikan informasi perpajakan.

2. Sub Bagian Umum

Sub Bagian Umum mempunyai tugas sebagai berikut :

a. Penatausahaan dokumen masuk disekretaris serta penatausahaan dokumen yang diterbitkan oleh KPP Pratama Makassar Barat.

b. Administrasi kepegawaian meliputi seluruh kegiatan yang terkait langsung dengan hak dan kewajiban pegawai seperti penerapan kedisiplinan pegawai, pengusulan kenaikan pangkat, kenaikan gaji berkala, pembuatan DP3,

penatausahaan berkas kepegawaian pegawai, pengusulan diklat, pengadministrasian cuti, pembuatan konsep usulan mutasi, serta pembuatan laporan kepegawaian KPP Pratama Makassar barat.

c. Memberikan kegiatan penunjang terhadap kegiatan kantor dengan melengkapi kebutuhan akan alat tulis kantor dan tanda pengenal pegawai, pengadaan serta pemeliharaan inventaris kantor dan pengelolaan barang milik Negara yang dilaksanakan oleh bagian rumah tangga.

d. Bagian keuangan mempunyai fungsi memberikan dukungan keuangan terhadap kegiatan KPP Pratama Makassar Barat.

Bertugas antara lain pengelolaan gaji. TKPKN dan uang makan pegawai, perencanaan pembiayaan berdasarkan DIPA, serta penyususnan laporan keuangan semesteran dan tahunan KPP Pratama Makassar Barat.

3. Seksi Pengolahan Data dan Informasi (PDI)

Seksi pengolahan data dan informasi mempunyai tugas melakukan pengumpulan, pencarian, dan pengolahan data, penyajian informasi perpajakan, perekaman dokumen perpajakan, urusan tata usaha penerimaan perpajakan, pelayanan dukungan teknis komputer, serta penyiapan laporan kinerja.

4. Seksi Pelayanan

a. Melaksanakan penerimaan dan piñata usahaan surat-surat permohonan dari wajib pajak dan surat lainnya.

b. Melaksanakan penyelesaian registrasi wajib pajak, objek pajak atau pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (PKP).

c. Melaksanakan penerbitan surat penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan pencabutan pengukuhan

Pengusaha Kena Pajak (PKP), Serta

pembatalan/pembetulan STP, SKPKB, SKPKBT, SKPLB, SKPN, SKKPN, PBK, SKB, SPMKP, SPMIB dan produk hukum lainnya.

d. Melaksanakan penyelesaian proses permohonan wajib pajak untuk pindah ke kantor pelayanan pajak baru, baik domisili atau status maupun kewajiban perpajakan lainnya.

5. Seksi Penagihan

Seksi penagihan mempunyai tugas melakukan penatausahaan piutang pajak, penundaan dan angsuran tunggakan pajak, penagihan aktif, usulan penghapusan piutang pajak, serta penyimpanan dokumen-dokumen penagihan.

6. Seksi Pemeriksaan

a. Mengkoordinasikan pelaksanaan penyusunan rencana pemeriksaan.

b. Pengawasan pelakasanaan peraturan pemeriksaan.

c. Penerbitan dan penyaluran surat perintah pemeriksaan (SP2).

d. Administrasi pemeriksaan perpajakan lainnya.

7. Seksi Ekstensifikasi

Seksi ekstensifikasi memiliki tugas melakukan pengamatan dan penggalian potensi perpajakan yang dapat dilakukan dengan jalan pendataan objek dan subjek pajak ataupun dengan melakukan penilaian objek pajak.

8. Seksi Pengawasan dan Konsultasi (Waskon)

Seksi Waskon mempunyai tugas melakukan pengawasan kepatuhan kewajiban perpajakan wajib pajak, bimbingan, himbauan kepada wajib pajak dan konsultasi teknis perpajakan, penyusunan profil wajib pajak, analisi kinerja wajib pajak, rekonsiliasi data wajib pajak dalam rangka melakukan intensifikasi, usulan pembetulan ketetapan pajak, serta melakukan evaluasi hasil banding.

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Uji Hipotesis Jumlah Wajib Pajak Tabel 5.1

Mann Whitney Test Ranks Jumlah Wajib Pajak Ranks

Periode N Mean Rank Sum of Ranks

JmlWP sebelum 8 4.50 36.00

sesudah 8 12.50 100.00

Total 16

Sumber: Hasil Pengolahan SPSS 17

Dari tabel 5.1 di atas didapat ringkasan data statistik jumlah wajib pajak dari kedua sampel (sebelum dan sesudah penerapan UU No. 36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan). Data Jumlah Wajib Pajak yang diperoleh selama 4 tahun (2 tahun sebelum dan 2 tahun sesudah) diolah secara triwulan, sehingga menghasilkan 8 sampel sebelum penerapan UU No. 36 Tahun 2008 dan 8 sampel sesudah penerapan UU No. 36 Tahun 2008 tersebut memiliki Mean Rank (rata-rata peringkat) sebesar 4,50 dan Sum of Ranks (jumlah peringkat) sebesar 36,00.

Sedangkan Jumlah Wajib Pajak sesudah penerapan UU No. 36 Tahuun 2008 memiliki Mean Rank (rata-rata peringkat) sebesar 12,50 dan Sum of Ranks (jumlah peringkat) sebesar 100.00. maka dari hasil test ranks di atas dapat disimpulkan bahwa nilai rata-rata untuk umlah, Wajib Pajak sebelum penerapan UU No. 36 Tahun 2008 lebih kecil dibandingkan dengan sesudah penerapan UU No. 36 Tahun 2008 (4.50 < 12.50)

.

50

Tabel 5.2

Hasil Output Mann Whitney Test Statistics Jumlah Wajib Pajak Test Statisticsb

JmlWP

Mann-Whitney U .000

Wilcoxon W 36.000

Z -3.361

Asymp. Sig. (2-tailed) .001 Exact Sig. [2*(1-tailed

Sig.)] .000a

a. Not corrected for ties.

b. Grouping Variable: Periode Sumber : Hasil Pengolahan SPSS17

Dari tabel hasil uji Mann Whitney test statistics diatas diperoleh nilai z hitung sebesar -3.361 dan nilai Asymp.Sig.(2-tailed) nilai z tabel yang didapat adalah ±1,96. Dengan membandingkan z hitung yang dieroleh dengan z tabel (-3.361 > -1,96) dan melihat angka probabilitas (0.001 < 0,05) maka dapatt disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada jumlah Wajib Pajak periode sebelum dan sesudah penerapan UU No.36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan (tolak Ho, terima Ha)

Untuk mengetahui dan menganalisis pertumbuhan Jumlah Wajib Pajak sebelum dan sesudah penerapan UU No. 36 tahun 2008 Tentang Pajak penghasilan, data yang digunakan adalah data Jumlah Wajib Pajak terdaftar dan Wajib Pajak Efektif yang melaksanakan kewajiban perpajakan, terutama Pajak Penghasilan pada KPP Pratama Makassar Barat, dan dihitung menggunakan rumus sebagai berikut (Yuliani: Jurnal):

HRn - (HRn-1)

GHR = x 100%

HRn-1

Ket : GHR = Pertumbuhan Wajib Pajak PPh

HRn = Jumlah Wajib Pajak PPh pada periode ke-n

HRn-1 = Jumlah Wajib Pajak yang terdaftar pada periode sebelumnya Secara keseluruhan jumlah Wajib Pajak yang terdaftar pada Kantor Pelayanan Pajak adalah sebagai berikut:

Tabel 5.3

Jumlah Wajib Pajak Terdaftar

Tahun

Jumlah Wajib Penambahan Tingkat Pajak Wajib Pajak Pertumbuhan Terdaftar Terdaftar dari ( % )

Sumber: Seksi PDI KPP Pratama Makassar Barat, data diolah

Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa sejak tahun 2007 hingga tahun 2010, jumlah Wajib Pajak terdaftar pada KPP Pratama Makassar Barat mengalami pertumbuhan setiap tahunnya. Pertumbuhan Wajib Pajak yang cukup signifikan terjadi pada tahun 2009. Pada tahun ini Jumlah Wajib Pajak terdaftar meningkat sebanyak 6.251 Wajib Pajak atau sekitar 9,57% bila dibandingkan dengan jumlah Wajib Pajak tahun 2010 yang hanya meningkat sebesar 3.841 Wajib Pajak dan merupakan pertumbuhan Wajib Pajak dengan persentase terkecil yang hanya meningkat sebesar 5,37%. Kemudian untuk mengetahui jumlah Wajib

Pajak terdaftar yang melakukan pemenuhan kewajiban Pajak Penghasilan pada KPP Pratama Makassar Barat, dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 5.4

Jumlah Wajib Pajak PPh Terdaftar

Tahun

Jumlah WP Penambahan Tingkat PPh Terdaftar WP Terdaftar Pertumbuhan

Dari Tahun ( % )

Sumber: Seksi PDI KPP Pratama Makassar Barat, data diolah

Tabel di atas menunjukkan jumlah Wajib Pajak Terdaftar yang melakukan pemenuhan kewajiban Pajak Penghasilan. Dengan mengamati tabel 5.3 dan 5.4 di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar jumlah Wajib Pajak yang terdaftar pada KPP Pratama Makassar Barat adalah Wajib Pajak yang melakukan pemenuhan kewajiban Pajak Penghasilan. Pada tahun 2007, jumlah WP PPh terdaftar adalah sekitar 96,33% dari jumlah keseluruhan WP terdaftar. Jumlah tersebut terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2008 menjadi 96,50%, tahun 2009 sebesar 96,73% dan tahun 2010 sebesar 96,79%.

Sejak tahun 2001, pemerintah telah melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan tax ratio dengan berbagai kegiatan ekstensifikasi di bidang perpajakan. Pada tahun 2005, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pajak menerbitkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) secara Jabatan. NPWP secara jabatan diberikan kepada Wajib Pajak yang telah memenuhi syarat untuk memiliki NPWP tetapi tidak/belum mendaftarkan diri pada Kantor Pelayanan Pajak.

Dengan diterbitkannya NPWP secara jabatan, maka Wajib Pajak harus memahami

hak dan kewajiban perpajakannya dengan baik. Sedangkan untuk Wajib Pajak pengusaha yang memenuhi syarat untuk dikenakan pajak wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak.

Pada tahun 2008, upaya pemerintah dalam meningkatkan jumlah Wajib Pajak dilakukan melalui pelaksanaan peogram sunset polcy. Sunset polcy adalah program pemberian fasilitas kepada Wajib Pajak berupa kebijakan penghapusan sanksi bunga atas keterlambatan pembayaran pajak khususnya PPh tahunan. Adapun sanksi atas setiap keterlambatan pembayaran pajak dari waktu jatuh tempo yang ditetapkan adalah sebesar 2% (dua persen) perbulan. Sehingga apabila Wajib Pajak Orang Pribadi atau Badan yang telah terdaftar sebelum tahun 2008 membetulkan Surat Pemberitahuan (SPT) tahunan PPh untuk tahun 2007 dan tahun-tahun sebelumnya serta Wajib Pajak Orang Pribadi mendaftarkan diri sebagai Wajib Pajak dan memperoleh NPWP sepanjang dilaksanakannya program Sunset Policy (1 Januari hingga 31 Desember 2008) kemudian menyampaikan

SPT tahunan untuk tahun 2007 dan tahun-tahun sebelumnya, maka kepada Wajib Pajak tersebut diberikan penghapusan sanksi bunga keterlambatan pembayaran pajak. Dasar hukum sunset policy ini adalah Pasal 37A UU No. 28 Tahun 2007 tentang Perubahan UU Ketentuan Umum dan Tatat Cara Perpajakan. Pelaksanaan program sunset policy ini terbukti paling berperan dalam meningkatkan jumlah Wajib Pajak Terdaftar pada tahun 2008 (Liberti Pandiangan: 2009).

Faktor-faktor pendukung lain yang juga berperan dalam meningkatkan jumlah Wajib Pajak terdaftar sepanjang tahun 2008 dan 2009 adalah pelaksanaan reformasi perpajakan melalui amandemen undang-undang perpajakan yaitu

Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP) dan Undang-Undang Pajak Penghasilan (UU PPh) yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak secara berkesinambungan dimana pada UU KUP disebutkan bahwa setiap wajib pajak yang mempunyai penghasilan di atas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) diwajibkan mendaftarkan diri untuk memiliiki NPWP, jika WP dengan sengaja tidak mendaftarkan diri dan menimbulkan kerugian bagi negara maka akan dikenakan sanksi administrasi dan sanksi pidana. Sedangkan pada amandemen UU PPh telah dijelaskan bahwa tarif PPh bagi Wajib Pajak yang tidak memiliki NPWP ditetapkan lebih tinggi 20-100% dibandingkan wajib pajak ber-NPWP. Dengan adanya pelaksanaan reformasi perpajakan ini, Wajib Pajak terdorong untuk mendaftarkan diri pada Kantor Pelayanan Pajak dan mempunyai NPWP dengan tujuan menghindari pengenaan sanksi tersebut (Khemal Pambudi et.al, 2009)

Modernisasi dalam administrasi perpajakan juga merupakan salah satu faktor pendukung setelah reformasi perpajakan. Modernisasi tersebut adalah dengan pengadaan sistem e-registration yaitu sistem pendaftaran wajib pajak dan/atau pengukuhan pengusaha kena pajak, dan perubahan data wajib pajak melalui internet yang terhubung langsung secara on-line dengan Direktorat Jenderal Pajak sehingga sangat efisien dan memudahkan bagi Wajib Pajak karena tidak perlu datang ke Kantor Pelayanan Pajak. E-registration ini mulai banyak dimanfaatkan oleh para Wajib Pajak sejak tahun 2009 (Herdaru Purnomo: 2011)

Wajib Pajak Efektif adalah wajib pajak yang melakukan pemenuhan kewajiban perpajakan baik berupa pembayaran pajak maupun penyampaian Surat

Pemberitahuan (SPT) Masa dan/atau Tahunan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan perajakan. Untuk mengetahui jumlah Wajib Pajak efektif yang melaksanakan pemenuhan kewajiban Pajak Penghasilan dapat dilihat pada tabel 5.5

Tabel 5.5

Jumlah Wajib Pajak PPh Efektif

Tahun

Jumlah Penambahan Tingkat Persentase WP PPh WP Efektif pertumbuhan Terhadap

Efektif dari Tahun (%) WP

Sumber: Seksi PDI KPP Pratama Makassar Barat, data diolah

Jumlah Wajib Pajak PPh efektif dari tahun 2007 hingga tahun 2010 juga mengalami pertumbuhan seiring dengan pertumbuhan jumlah Wajib Pajak PPh terdaftar. Tingkat pertumbuhan Wajib Pajak efektif tertinggi terjadi pada tahun 2009 yaitu sebesar 9,88%. Penambahan Wajib Pajak PPh efektif setiap tahun lebih rendah dibandingkan dengan penambahan Wajib Pajak PPh yang terdaftar. Akan tetapi pada tahun 2008, penambahan Wajib Pajak PPh efektif lebih tinggi dibandingkan dengan penambahan Wajib Pajak terdaftarnya. Hal ini dikarenakan adanya sejumlah Wajib Pajak Non Efektif pada tahun-tahun sebelumnya baru melaksanakan pemenuhan kewajiban Pajak Penghasilannya kembali di tahun ini.

Gambar 5.1

Pertumbuhan WP Terdaftar dan Efektif Pajak Penghasilan Tahun 2007 s/d Tahun 2010

Sumber: Hasil Pengolahan data KPP Pratama Makassar Barat

Tidak semua Wajib Pajak yang mendaftar pada KPP Pratama Makassar Barat melaksanakan pemenuhan kewajiban perpajakan sesuai dengan Undang-Undang Perpajakan yang berlaku dikarenakan tidak adanya penghasilan dari kegiatan usaha atau hal-hal lainnya. Pada keadaan seperti ini Wajib Pajak tergolong dalam status non efektif. Jumlah Wajib Pajak Non Efektif Pajak Penghasilan dapat diperoleh dengan mengurangkan Jumlah Wajib Pajak terdaftar PPh dengan Jumlah Wajib Pajak efektif PPh. Data mengenai jumlah Wajib Pajak non efektif adalah sebagai berikut;

Tabel 5.6

Jumlah Wajib Pajak PPh Non Efektif

Tahun

Jumlah Penambahan Tingkat Persentase WP PPh WP Non ertumbuhan Terhadap Non Efektif Efektif dari

Tahun (%) WP

Sumber: Seksi PDI KPP Pratama Makassar Barat, data diolah

0

B. Hasil Uji hipotesis Penerimaan Pajak Penghasilan Tabel 5.7

Mann Whitney Test Ranks Penerimaan Pajak Penghasilan Ranks

Periode N Mean Rank Sum of Ranks

Penerimaanpajak sebelum 8 5.00 40.00

sesudah 8 12.00 96.00

Total 16

Sumber: Hasil pengolahan SPSS 17

Tabel 5.7 diatas adalah ringkasan data statistik penerimaan pajak penghasilan dari kedua sampel (sebelum dan sesudah penerapan UU No. 36 Tahun 2008 Tentag Pajak Penghasilan). Data penerimaan pajak penghasilan yang diperoleh selama 4 tahun (2 tahun sebelum dan 2 tahun sesudah) diolah secara triwulanan, sehingga menghasilkan 8 sampel sebelum penerapan UU No. 36 Tahun 2008 dan 8 sampel sesudah penerapan UU no. 36 Tahun 2008. Penerimaa pajak penghasilan sebelum penerapan UU No.36 Tahun 2008 tersebut memiliki Mean Rank (rata-rata peringkat) sebesar 5.00 dan Sum of Ranks (jumlah

peringkat) sebesar 40.00. sedangka penerimaan pajak penghasilan sesudah penerapan UU No. 36 Tahun 2008 memiliki Mean Rank (rata-rata peringkat) sebesar 12.00 dan Sum of Ranks (jumlah peringkat sebesar 96.00. Maka dari hasil test ranks di atas dapat disimpulkan bahwa nilai rata-rata penerimaan pajak penghhasilan sebelum penerapan UU No. 36 Tahun 2008 lebih kecil dibandingkan dengan sesudah penerapan UU No. 36 Tahun 2008 (5.00 < 12.00)

Tabel 5.8

Hasil Output Mann Whitney Test Statistics Penerimaan Pajak Penghasilan Test Statisticsb

Asymp. Sig. (2-tailed) .003 Exact Sig. [2*(1-tailed

Sig.)]

.002a a. Not corrected for ties.

b. Grouping Variable: Periode

Sumber: Hasil Pengolahan SPSS 17

Dari tabel hasil uji Mann Whitney test staistics diatas diperoleh nilai z hitung sebesar -2.941 dan nilai Asymp.Sig.(2-tailed) sebesar 0.003 sedangkan untuk tingkat kepercayaan 95% uji dua sisi (2-tailed) nilai z tabel yang didapatkan adlah ±1,96. Dengan membandingka z hitung yang diperoleh dengan z tabel (-2.941 > -1,96) dan melihat angka probabilitas (0.003 < 0.05) maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada penerimaa Pajak penghasilan periode sebelum dan sesudah penerapan UU No. 36 Tahun 2008 (tolak Ho, terima Ha)

Potensi penerimaan pajak Negara berasal dari Pajak Penghasilan baik Non Migas maupun Migas, Pajak Pertambahan Nilai, Pajak Bumi dan Bangunan, Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, serta Pajak Lainnya. Secara keseluruhan penerimaan pajak Negara dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2010 adalah sebagai berikut:

Tabel 5.9

Total Penerimaan Pajak Tahun 2007 s/d Tahun 2010 Tahun Total Penerimaan Pajak

2007 Rp 213.936.117.437

2008 Rp 280.795.039.225

2009 Rp 308.441.468.602

2010 Rp 398.524.114.517

Sumber: Seksi PDI KPP Pratama Makassar Barat, data diolah Untuk mengetahui dan menganalisis pertumbuhan penerimaan Pajak Penghasilan sebelum dan sesudah penerapan UU No. 36 Tahun 2008 digunakan rumus yang sama seperti dalam penghitungan pertumbuhan jumlah Wajib Pajak yaitu:

HRn - (HRn-1)

GHR = x 100%

HRn-1

Ket : GHR = Pertumbuhan Penerimaan PPh HRn = Penerimaan PPh pada periode ke-n

HRn-1 = Penerimaan PPh pada periode sebelumnya

Total penerimaan Negara yang berasal dari Pajak Penghasilan, dapat diketahui dari tabel berikut:

Tabel 5.10

Penerimaan Pajak Penghasilan Tahun 2007 s/d Tahun 2010

Tahun

Total Penerimaan

PPh Tingkat Persentase

Non Migas Pertumbuhan Terhadap

(%) Total

Sumber: Seksi PDI KPP Pratama Makassar Barat, data diolah

Dari tabel di atas terlihat bahwa penerimaan Pajak Penghasilan mengalami pertumbuhan sejak tahun 2007 sampai dengan tahun 2008, sedangkan di tahun 2009 yang merupakan tahun awal penerapan UU No. 36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan yang baru, pertumbuhan penerimaan Pajak Penghasilan mengalami penurunan sebesar 7,07 % dari tahun sebelumnya, kemudian pada tahun 2010 penerimaan tersebut tumbuh sekitar 13,83%. Kenaikan dan penurunan penerimaan Pajak Penghasilan juga dapat diketahui dengan membandingkan penerimaan PPh pada tahun yang bersangkutan dengan jumlah Wajib Pajak efektifnya sehingga diketahui rata-rata penerimaan PPh per Wajib Pajak.

Tabel 5.11

Rata-Rata Penerimaan Pajak Penghasilan Per Wajib Pajak Tahun

Jumlah Penerimaan Jumlah WP Rata-rata PPh PPh Efektif Penerimaan

PPh Per WP

2007 Rp 109.469.639.730 58.730 Rp 1.863.947 2008 Rp 140.217.712.652 62.567 Rp 2.241.080 2009 Rp 169.689.581.697 68.749 Rp 2.468.247 2010 Rp 228.819.358.119 72.498 Rp 3.156.216

Sumber: Seksi PDI KPP Pratama Makassar Barat, data diolah

Dari tabel 5.11 di atas dapat diketahui bahwa jumlah penerimaan PPh dari tahun 2007 – 2010 mengalami pertumbuhan dengan persentase sebesar 213,51% selama 4 tahun. Sedangkan jumlah WP PPh efektif di tahun 2007 - 2010 mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan dimana dalam jangka waktu 4 tahun persentasenya meningkat hingga mencapai 397,43%. Rata-rata penerimaan PPh per Wajib Pajak mengalami peningkatan yang cukup signifikan pada tahun 2007-2010. Rata-rata penerimaan PPh per Wajib Pajak terendah terjadi pada tahun 2009 yaitu sebesar Rp 227.167 per wajib pajak dari tahun 2008. Dengan jumlah wajib pajak efektif sebanyak 68.749 dan rata-rata penerimaaan PPh per WP adalah Rp 2.468.247 maka total penerimaan PPh di tahun 2009 hanya sebesar

Dari tabel 5.11 di atas dapat diketahui bahwa jumlah penerimaan PPh dari tahun 2007 – 2010 mengalami pertumbuhan dengan persentase sebesar 213,51% selama 4 tahun. Sedangkan jumlah WP PPh efektif di tahun 2007 - 2010 mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan dimana dalam jangka waktu 4 tahun persentasenya meningkat hingga mencapai 397,43%. Rata-rata penerimaan PPh per Wajib Pajak mengalami peningkatan yang cukup signifikan pada tahun 2007-2010. Rata-rata penerimaan PPh per Wajib Pajak terendah terjadi pada tahun 2009 yaitu sebesar Rp 227.167 per wajib pajak dari tahun 2008. Dengan jumlah wajib pajak efektif sebanyak 68.749 dan rata-rata penerimaaan PPh per WP adalah Rp 2.468.247 maka total penerimaan PPh di tahun 2009 hanya sebesar

Dalam dokumen SKRIPSI NORMA SINTA AMIN BOTI (Halaman 56-0)

Dokumen terkait