• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI NORMA SINTA AMIN BOTI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI NORMA SINTA AMIN BOTI"

Copied!
96
0
0

Teks penuh

(1)

TAHUN 2008 TENTANG PAJAK PENGHASILAN TERHADAP JUMLAH WAJIB PAJAK DAN

PENERIMAAN PAJAK

(Studi Kasus Pada KPP Pratama Makassar Barat)

NORMA SINTA AMIN BOTI 10573 02456 11

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR MAKASSAR

2015

(2)

i

TAHUN 2008 TENTANG PAJAK PENGHASILAN TERHADAP JUMLAH WAJIB PAJAK DAN

PENERIMAAN PAJAK

(Studi Kasus Pada KPP Pratama Makassar Barat)

Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Untuk Memenhi Persyaratan Guna Meraih Gelar Sarjana Ekonomi Pada

Jurusan Akuntansi

Oleh :

NORMA SINTA AMIN BOTI 10573 02456 11

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR MAKASSAR

2015

(3)

ii

TERHADAP JUMLAH WAJIB PAJAK DAN PENERIMAAN PAJAK (Studi Kasus Pada KPP Pratama Makassar Barat)

Nama : NORMA SINTA AMIN BOTI

Stambuk : 10573 02456 11

Fakultas/Jurusan : EKONOMI /AKUNTANSI

Perguruan Tinggi : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR Skripsi ini telah diujiankan pada hari minggu 23 Agustus 2015

Makassar, September 2015 Disetujui Oleh:

Pembimbing I pembimbing II

Dr. Hj. Ruliaty, MM Saida Said, SE., M.Ak

Mengetahui,

Dekan Fakultas Ekonomi Ketua Jurusan Universitas Muhammadiyah Makassar Akuntansi

Dr. H. Mahmud Nuhung, SE, MA Ismail Badollahi, SE., M.Si. Ak

NBM : 497794 NBM : 1073428

(4)

iii

Muhammadiyah Makassar dengan Nomor : 74 Tahun 1436 H/ 2015 dan telah dipertahankan didepan Tim Penguji pada hari Ahad, 23 Agustus 2015, sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makaassar.

Makassar, Agustus 2015 Panitia Ujian :

Pengawas umum : Dr. H. Irwan Akib, M. Pd (………..)

(Rektor Unismuh Makassar)

Ketua : Dr. H. Mahmud Nuhung, MA (………..) (Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis)

Sekretaris : Dr. H. Sultan Sarda, SE. MM (………..) (PD I Fakultas Ekonomi dan Bisnis)

Penguji :

1. Hj. Rulliaty, SE., MM (………..)

2. Muchriana Muchran, SE., M., Si., Ak., CA (………..)

3. H. Andi Arman, SE., M., Si., Ak., CA (………..)

4. Moh. Aris Paigai, SE., MM (………..)

(5)
(6)

v

Man shabara zhafira (siapa yang bersabar akan beruntung)

Man sara ala darbi washala (siapa yang berjalan di jalannya akan sampai ke tujuan)

Perjuangan tidak hanya butuh kerja keras, tapi juga kesabaran dan keikhlasan serta do’a untuk mencapai tujuan yang diimpikan.

PERSEMBAHAN

Kupersebahkan karya sederhana ini

Kepada (Alm) ayahanda, (almh) ibunda, kakek dan nenek tercinta Serta saudara-saudaraku tersayang

Yang senantiasa mengiringi Langkahku dengan doa

Perhatian dan kasih sayang yang tulus

(7)

vi Saida Said, SE., M.Ak.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada jumlah wajib pajak dan penerimaan pajak setelah penerapan Undang-Undang no.

36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan. Penelitian ini menggunakan periode waktu 2 (dua) tahun sebelum dan 2(dua) tahun sesudah penerapan Undang- undang No. 36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan. Sampel data yang digunakan dalam penelitian ini adalah jumlah wajib pajak dan penerimaan pajak pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Makassar Barat. Uji beda Mann Whitney U Test digunakan untuk mengukur seberapa besar perubahan yang terjadi pada jumlah wajib pajak dan penerimaan pajak sebelum dan sesudah penerapan Undang-undang No. 36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan. Pengujian statistik menggunakan program SPSS 17. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada jumlah wajib pajak dan penerimaan pajak sebelum dan sesudah penerapan Undang-Undang No. 36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan.

Kata kunci : Jumlah Wajib Pajak, Penerimaan Pajak, UU No. 36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghaasilan

(8)

vii

pertama dan yang utama sekali melainkan puja dan puji syukur atas kehadirat Alah SWT yang berkat petunjuk dan kehendak-Nya jualah, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Dampak Penerapan Undang- Undang No. 36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan Terhadap Jumlah Wajib Pajak dan Penerimaan Pajak Studi Kasus Pada KPP Pratama Makassar Barat”.

Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi, para Rasul dan keluarganya, sahabat dan orang-orang saleh dan terkhusus kepada Nabi Muhammad SAW, Rasul Allah yang telah mencucurkan keringat jihad dalam upaya mendakwahkan kebenaran dan mengamalkan kebajikan. Termasuk segala upaya manusia demi kemaslahatan umat yang dilandasi keikhlasan dan hanya mengharap ridha Allah SWT, termasuk menulis dan menyebarkan ilmu yang bermanfaat, insya Allah.

Sejak penyusunan proposal hingga penyusunan skripsi ini, penyusun menghadapi berbagai kendala dan rintangan namun semangat, kemampuan, motivasi dan doa serta petujuk dari Allah SWT, semua kesulitan tersebut dapat diatasi dengan baik. Oleh karena itu, melalui kesempatan yang sangat berharga ini penulis menyampaikan terimahkasi yang sedalam-dalamnya dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada ayahanda tercinta La Pandu Amin (Alm) dan ibunda tercinta Hirjomudin (Almh), kakakku tersayang Suparjo Amin B., Muh.

Risman Amin B., Vera Wati Gafur, kakek dan nenek tercinta. Terima kasih untuk

(9)

viii

maupun non materi. Tidak lupa keluarga besar yang ada di Buton terutama Om Suriadi, Om Almagasing, tanteku Sumarni dan sepupuku Hayun, Bardin, Lia dan semua yang ada di Buton yang tidak bisa penulis sebut satu persatu namanya, terima kasih atas semua bantuan dan dorongan baik berupa materi maupun non materi

Begitu pula penghargaan yang setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih disampaikan dengan hormat kepada:

1. Bapak Dr. Irwan Akib M.Pd selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.

2. Bapak Dr. H. Mahmud Nuhung, MA selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Bapak Ismail Badollahi, SE., M.Si. Ak dan Ibu Muchriana Muchran SE., M.Si., Ak, CA selaku Ketua dan Sekertais Jurusan Akuntansi Universitas Muhammadiyah Makassar.

4. Ibu DR. Hj. Ruliaty, MM dan Ibu Saida Said, SE., M.Ak masing-masing selaku pembimbing I dan pembimbing II yang selama ini telah meluangkan waktunya dalam membimbing penulis sejak awal sampai selesainya penulisan skripsi ini.

5. Para dosen yang telah membimbing penulis dalam menekuni berbagai mata kuliah sejak awal hingga akhir studi di Universitas Muhammadiyah Makassar.

(10)

ix

dan terkhusus Ak 3 11 yang tidak bisa saya sebut satu persatu namanya. Dan seluruh Mahasiswa jurusan Akuntansi Angkatan 2011 di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar. Terima kasih untuk semua kebersamaan, senyum dan tawa serta amarah yang pernah kita lewati selama menempuh perjalanan ini.

Harapan penulis, semoga perhatian dan bantuan yang diberikan mendapat imbalan dan limpahan Rahmat dari Allah SWT.

Terlepas dari itu, penyusun menyadari sepenuhnya bahwa terdapat banyak kekurangan dan kelemahan di dalam Proposal ini disebabka keterbatasan penyusun sebagai manusia biasa. Oleh karena itu, penyusun mengharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk meningkatkan mutu pada penyusunan berikutnya.

Semoga Proposal ini dapat bermanfaat bagi orang lain. Amin.

Makassar, September 2015

Penulis

(11)

x

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI ... iii

BERITA ACARA LULUS UJIAN KOMPERHENSIF AKUNTANSI ... iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... v

ABSTRAK ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 6

1. Tujuan Penelitian ... 6

2. Manfaat Penelitian ... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 9

A. Pajak ... 9

1. Definisi Pajak ... 9

2. Jenis Pajak ... 11

(12)

xi

B. Wajib Pajak dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) ... 18

1. Wajib Pajak ... 18

2. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) ... 20

C. Undang-Undang Pajak Penghasilan No. 36 Tahun 2008 ... 22

1. Pengertian Pajak Penghasilan... 22

2. Pokok-Pokok Perubahan Undang-Undang Pajak Penghasilan 26 D. Kerangka Pikir... 33

E. Hipotesis ... 34

BAB III METODE PENELITIAN ... 35

A. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 35

B. Metode Penentuan sampel ... 35

C. Metode Pengumpulan Data ... 36

D. Jenis dan Sumber Data ... 37

E. Metode Analisis Data ... 37

F. Sistematika Pembahasan... 40

BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN ... 42

A. Nama dan Sejarah Singkat Perusahaan ... 42

B. Visi dan Misi KPP Pratama Makassar Barat ... 44

C. Struktur Organisasi dan Job description... 44

(13)

xii

C. Komparasi Jumlah Wajib Pajak dan Penerimaan Pajak Penghasilan

Sebelum dan Sesudah Penerapan UU No. 36 Tahun 2008 .... 64

BAB VI SIMPULAN DAN SARAN ... 70

A. Simpulan... 70

B. Saran ... 72

DAFTAR PUSTAKA ... 73 DAFTAR RIWAYAT HIDUP

LAMPIRAN

(14)

xiii

2.1 Penghasilan Tidak Kena Pajak dalam KMK 29

Nomor 137/PMK.03/2005

2.2 Penghasilan Tidak Kena Pajak dalam UU No.36 Tahun 2008 29

2.3 Penghasilan Tidak Kena Pajak dalam 30

PMK-162/PMK.011/2012

2.4 Tarif WPOP dalam UU No. 17 Tahun 2000 31

2.5 Tarif WPOP dalam UU No. 36 Tahun 2008 31

2.6 Tarif WP Badan UU No. 17 Tahun 2000 31

2.7 Perbadingan tarif WP Non NPWP dengan tarifWP Ber 32 NPWP

5.1 Mann Whitney Test Ranks Jumlah WP 50

5.2 Hasil Output Mann Whitney Test Statistics Jumlah WP 51

5.3 Jumlah Wajib Pajak terdaftar 52

5.4 Jumlah Wajib Pajak PPh Terdaftar 53

5.5 Jumlah Wajib Pajak PPh Efektif 56

5.6 Jumlah WP PPh Non Efektif 58

5.7 Mann Whitney Test Penerimaan PPh 58

5.8 Hasil Output Mann Whitney Test Statistics Penerimaan PPh 59 5.9 Total penerimaan pajak Tahun 2007 s/d 2010 60 5.10 Penerimaan PPh Non Migas Tahun 2007 s/d 2010 61

5.11 Rata-rata penerimaan PPh per WP 62

(15)

xiv

5.14 Komparasi jumlah WP efektif dan Rata-rata Penerimaan 66 PPh per WP tahun 2007 dengan tahun 2009

5.15 Komparasi jumlah WP dan penerimaan PPh Tahun 2008 67 dengan tahun 2010

5.16 Komparasi jumlah WP efektif dan Rata-rata Penerimaan 68 PPh per WP tahun 2008 dengan tahun 2010

(16)

xv

1.1 Grafik Penerimaan Pajak Tahunan 2002 – 2007 2

2.1 Skema Kerangka Pikir 34

3.1 Kurva Keputusan 39

4.1 Struktur organisasi Kantor Pajak wilayah Barat 45 5.1 pertumbuhan WP terdftar dan efektif PPh Tahun 57

2007 s/d 2010

(17)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Republik Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang terus berusaha untuk melakukan pembangunan nasional di berbagai bidang.

Pembangunan nasional itu sendiri di artikan sebagai kegiatan yang berlangsung terus menerus dan berkesinambungan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pada dasarnya pembangunan nasional diselenggarakan oleh masyarakat bersama dengan pemerintah.

Untuk membiayai pembangunan nasional tersebut tentunya pemerintah Indonesia memerlukan dana yang tidak sedikit jumlahnya. Untuk itu, pemerintah Indonesia berusaha mencari dan memperoleh dana sebanyak- banyaknya demi pelaksanaan pembangunan nasional. Penerimaan tersebut berasal dari dalam negeri maupun luar negeri yang untuk selanjutnya dana tersebut digunakan untuk membangun dan memperbaiki infrastruktur yang ada. Salah satu sumber penerimaan pemerintah yang berasal dari dalam negeri adalah penerimaan dari sektor perpajakan. Pajak merupakan salah satu instrumen yang paling penting dalam anggaran suatu negara. Hal ini dapat terlihat dari tumpuan kebijakan fiskal saat ini dan masa mendatang terletak pada upaya peningkatan penerimaan pemerintah khususnya melalui sektor perpajakan.

Sejak Tahun 1983, Pemerintah telah mengembangkan sumber pembiayaan yang berasal dari pajak melalui undang – undang perpajakan. Dengan lahirnya undang – undang ini diharapkan akan dapat menambah penerimaan

1

(18)

negara yang berasal dari pajak. Pajak menduduki posisi sebagai pemberi kontribusi terbesar dalam penerimaan negara. Hal ini tercemin dari kontribusi pajak terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang setiap tahunnya semakin meningkat yaitu sekitar 68,3% dari total penerimaan negara tahun 2008 dan meningkat menjadi 71,1% pada tahun 2009 (Hudaifah: 2010).

Sedangkan dari beberapa sektor yang dikenakan pajak, sektor pajak penghasilan mempunyai kontribusi paling tinggi.

Gambar 1.1

Grafik Penerimaan Pajak Tahun 2002 – 2007 Grafik Penerimaan Tahun 2002 – 2007

(dalam milyar rupiah)

Sumber : DJP. Reformasi Pajak Silent Revolution Diunduh tanggal 15 Maret 2015

Dari grafik tersebut dapat diketahui bahwa dari tahun ke tahun, jumlah penerimaan dari sektor pajak telah mengalami peningkatan. Hal ini tidak luput dari adanya undang – undang yang mengatur tentang kewajiban pembayaran pajak bagi setiap warga negara yang mempunyai penghasilan dan usaha di Indonesia. Penerimaan pajak dari tahun 2002 sampai dengan 2007 terus mengalami pertumbuhan dan pajak penghasilan merupakan penyumbang yang

0.00 20,000.00 40,000.00 60,000.00 80,000.00 100,000.00

2002 2003 2004 2005 2006 2007

PPh PPN PL

(19)

terbesar. Hal ini dikarenakan kesadaran masyarakat Indonesia untuk membayarkan pajak penghasilan atas pendapatan yang mereka perolehan sudah semakin meningkat.

Dengan pesatnya perkembangan sosial ekonomi sebagai hasil pembangunan nasional, globalisasi, serta angka pengemplang pajak yang semakin tinggi, maka pemerintah memandang perlu untuk melakukan perubahan atau amandemen terhadap undang – undang perpajakan guna meningkatkan fungsi dan perannya dalam rangka mendung kebijakan pembangunan nasional khususnya di bidang ekonomi, serta mengurangi angka pengemplang pajak. Karena dengan adanya para pengemplang pajak ini, berarti mereka telah menggagalkan upaya negara untuk mensejahterakan rakyat.

Salah satu langkah pemerintah untuk mewujudkan hal tersebut adalah dengan mengamandemen Undang – undang No. 7 Tahun 1983 tentang pajak Pajak Penghasilan. Perubahan yang terakhir adalah dengan Undang – undang No.

36 Tahun 2008 yang mulai diberlakukan sejak tanggal 1 Januari 2009. Perubahan ini merupakan perubahan keempat atas Undang – undang Pajak Penghasilan.

Undang – undang ini telah mengalami tiga kali perubahan. Perubahan pertama dengan Undang – undang No. 7 Tahun 1991, perubahan kedua dengan Undang – undang No. 10 Tahun 1994, perubahan ketiga dengan Undang – undang No. 17 Tahun 2000.

Perubahan Undang – undang Pajak Penghasilan tetap berpegang pada prinsip – prinsip perpajakan yang dianut secara universal, yaitu keadilan, kemudahan, efesiensi administrasi, seta peningkatan dan optimalisasi penerimaan

(20)

negara dengan tetap mempertahankan sistem self assessment. Oleh karena itu, arah dan tujuan dari penyempurnaan Undang – undang Pajak Penghasilan ini adalah untuk lebih meningkatkan keadilan pengenaan pajak, memberikan kemudahaan kepada wajib pajak, memberikan kesederhanaan administrasi perpajakan, menunjang kepastian hukum, konsistensi dan transparansi, serta lebih menunjang kebijakan pemerintah dalam rangka peningkatan daya saing dalam menarik investasi langsung di Indonesia baik penanaman modal asing maupun penanaman modal dalam negeri di bidang – bidang usaha tertentu dan daerah – daerah tertentu yang mendapat prioritas.

Poin – poin utama dalam amandemen Undang – undang Pajak Penghasilan (PPh) ini antara lain soal penurunan tarif PPh WP Orang Pribadi, perubahan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) , penetapan tarif tunggal tunggal PPh bagi WP badan serta pengurangan tarif normal untuk pengusaha Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). UU PPh ini juga memberikan banyak insentif bagi masyarakat yang memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) yaitu diantaranya berupa pembebasan biaya fiskal ke luar negeri mulai tahun 2009, dan pengurangan Penghasilan Kena Pajak (PKP) jika wajib pajak memberikan sumbangan sumbangan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama melalui lembaga yang dibentuk dan disahkan oleh pemerintah. Pemberian insentif ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan jumlah wajib pajak terdaftar.

Perubahan UU PPh ini diduga berpotensi mengurangi penerimaan pajak di masa mendatang. Namun, dengan pengurangan tarif dan pemberlakuan

(21)

berbagai insetif diharapkan dapat menarik animo wajib pajak maupun masyarakat luas untuk lebih sadar akan manfaat dan kegunaan pajak bagi bangsa dan negara.

Perubahan UU PPh ini diharapkan dapat meningkatkan kepatuhan wajib pajak serta mampu menekan distorsi atau penyelewengan yang dilakukan aparat pajak.

Dengan kombinasi antara Undang – undang baru serta berbagai informasi administrasi dan modernisasi yang dilakukan Direktorat Jenderal Pajak, diharapkan sistem perpajakan dapat berjalan dengan baik. Wajib pajak semakin sadar dalam memenuhi kewajiban perpajakan, dengan sukarela mendaftarkan diri, dan membayar pajak dengan benar.

Berdasarkan uraian di atas yang membahas mengenai Jumlah Wajib Pajak, Penerimaan Pajak dan Perubahan atas Undang – undang Pajak Penghasilan, penulis merasa tertarik untuk mengangkat isu tersebut untuk kemudian melakukan penelitian terhadap jumlah Wajib Pajak dan penerimaan pajak pada periode sebelum dan sesudah penerapan Undang –undang No. 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan sebagai bahan penulisan skripsi yang berjudul “Dampak Penerapan Undang – Undang No. 36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan Terhadap Jumlah Wajib Pajak dan Penerimaan Pajak Studi Kasus Pada KPP Pratama Makassar Barat”

B. Rumusan Masalah

Pembahasan yang dilakukan dalam skripsi ini sebatas pada data yang dapat diakses dan diizinkan untuk diungkapkan oleh KPP Pratama Makassar Barat dan tidak menyangkut rahasia jabatan/negara seperti diatur dalam UU KUP Pasal 34. Pokok masalah yang akan dibahas dalam penulisan skripsi ini adalah:

(22)

1. Apakah terdapat perbedaan jumlah wajib pajak pada periode sebelum dan sesudah penerapan UU No. 36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan?

2. Apakah terdapat perbedaan penerimaan pajak pada periode sebelum dan sesudah penerapan UU No. 36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan?

3. Bagaimana tingkat pertumbuhan jumlah Wajib Pajak dan penerimaan pajak pada periode sebelum dan sesudah penerapan UU No. 36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan?

C. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Tujuan dilakukannya penelitian terhadap permasalahan ini adalah untuk :

1. Menguji, mengetahui dan menganalisis ada atau tidak adanya perbedaan pada jumlah wajib pajak periode sebelum dan sesudah penerapan UU No. 36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan 2. Menguji, mengetahui dan menganalisis ada atau tidak adanya

perbedaan pada penerimaan pajak periode sebelum dan sesudah penerapan UU No. 36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan.

3. Mengetahui tingkat pertumbuhan jumlah Wajib Pajak dan

Penerimaan pajak periode sebelum dan sesudah penerapan UU No.

36 Tahun 208 Tentang Pajak Penghasilan.

(23)

2. Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi pihak – pihak yang berkepentingan. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai pihak antara lain:

1. Bagi Masyarakat Wajib Pajak

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran bagi para wajib pajak akan pentingnya membayar pajak untuk mendukung kelangsungan pembangunan nasional.

2. Bagi KPP Pratama Makassar Barat

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan masukan dan evaluasi bagi KPP Pratama Makassar Barat terkait upaya ekstensifikasi dan intensifikasi di bidang perpajakan yaiyu meningkatkan jumlah wajib pajak dan penerimaan pajak melalui penerapan Undang – Undang No. 36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan

3. Bagi Akuntansi Perpajakan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah literatur dan acuan penelitian di bidang akuntansi perpajakan, terutama bagi peneliti lain yang ingin melakukan penelitian lebih lanjut mengenai perubahan Undang – undang Pajak Penghasilan

(24)

4. Bagi Pembaca

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan pembaca terkait perubahan peraturan Perpajakan terutama Undang – undang mengenai Pajak Penghasilan.

(25)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pajak

1. Definisi Pajak

Pajak sebagai suatu kewajiban yang menyerahkan sebagian kekayaan kepada negara dan memberikan kedudukan tertentu. Tetapi bukan sebagai hukuman dan tidak ada jasa balik dari negara secara langsung.

Untuk memelihara kesejahteraan umum. Pajak merupakan iuran wajib dan pemungutannya berdasarkan undang - undang sehingga pelaksanaannya dapat dipaksakan yang berarti bahwa barang siapa (wajib pajak) tidak atau tidak sepenuhnya memenuhi kewajiban perpajakannya sesuai dengan peraturan perundang - undangan perpajakan yang berlaku, terhadap mereka dapat dipaksa untuk memenuhi kewajiban tersebut melalui surat peringatan, surat teguran, dikenakan sanksi administrasi (bunga dan denda), termasuk penyitaan terhadap kekayaan wajib pajak, dan dapat dengan pidana penjara.

Dengan demikian hukum pajak merupakan salah satu bagian dari hukum publik, yaitu hukum yang mengatur hubungan antara pemerintah selaku pemungut pajak dengan rakyatnya sebagai wajib pajak.

Pengertian perpajakan yang sesuai pasal 1 UU No. 28 Tahun 2007 yang dikutip oleh Atma menyatakan bahwa:

“Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang – undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar – besarnya kemakmuran rakyat”.

9

(26)

Pajak merupakan alat bagi pemerintah didalam mencapai tujuan untuk mendapatkan penerimaan baik yang bersifat langsung dan tidak langsung dari masyarakat, guna membiayai pembiayaan rutin serta pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat. Pajak secara bebas dapat dikatan sebagai suatu kewajiban warga negara berupa pengabdian serta peran aktif warga negara yang berupa pembangunan nasional yang pelaksanaannya di atur dalam undang - undang dan peraturan – peraturan untuk tujuan kesejahteraan bangsa dan negara.

Untuk lebih jelasnya akan disajikan pengertian pajak sebagaimana yang dikemukakan oleh Soemitro yang dikutip oleh Suprianto (2010 : 2) bahwa :

“Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara (peralihan kekayaan dari kas rakyat ke sektor pemerintah berdasarkan undang – undang) dapat dipaksakan dengan tiada mendapat jasa timbal (tegen prestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan digunakan untuk membiayai pengeluaran umum”.

Djajadiningrat yang dikutip oleh Resmi (2013 : 1) mengemukakan pengertian pajak yaitu sebagai berikut :

“Pajak sebagai suatu kewajiban menyerahkan sebagian dari kekayaan ke kas negara yang disebabkan suatu keadaan, kejadian, dan perbuatan yang memberikan kedudukan tertentu, tetapi bukan sebagai hukuman, menurut peraturan yang ditetapkan pemerintah serta dapat dipaksakan, tetapi tidak ada jasa timbal balik dari negara secara langsung, untuk memelihara kesejahteraan secara umum”.

Maka, dari definisi – definisi diatas dapat disimpulkan bahwa pajak memiliki unsur – unsur berikut:

(27)

a. Iuran rakyat kepada negara, sehingga yang berhak memungut pajak hanya negara baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

b. Pajak dipungut berdasarkan kekuatan undang – undang serta aturan pelaksanaannya.

c. Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya kontraprestasi secara individual oleh pemerintah.

d. Digunakan untuk membiayai keperluan rumah tangga negara, yakni pengeluaran – pengeluaran yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Pada dasarnnya setiap definisi pajak yang dikemukakan pada ahli memuat empat unsur di atas. Adanya keempat unusr tersebut menjadikan pajak mempunyai kekuatan hukum yang kuat sehingga apabila masyarakat wajib pajak tidak melakukan kewajiban pembayaran pajak sesuai dengan UU perpajakan, maka wajib pajak tersebut dapat dikenakan sanksi berupa sanksi administrasi maupun pidana.

2. Jenis Pajak

Menurut Resmi (2013 : 7) pajak dapat dikelompokkan menjadikan tiga, yaitu pengelompokkan berdasarkan golongannya, lembaga pemungutannya, maupun sifatnya.

a. Pajak berdasarkan golongannya dapat dibagi menjadi dua yaitu pajak langsung dan pajak tidak langsung.

1) Pajak langsung merupakan pajak yang bebannya harus ditanggung sendiri oleh wajib pajak yang bersangkutan dan tidak

(28)

dapat dialihkan kepada pihak lain. Contoh dari pajak langsung adalah Pajak Penghasilan (PPh)

2) Pajak tidak langsung adalah pajak yang bebannya dapat dialihkan kepada pihak lain. Contoh dari pajak tidak langsung adalah Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM)

b. Berdasarkan lembaga pemungutannya, pajak dapat dibagi menjadi dua, yaitu Pajak Pusat atau Pajak Neegara dan Pajak Daerah.

1) Pajak Pusat atau Pajak Negara adalah pajak yang wewenang pemungutannya ada pada pemerintah pusat yang pelaksanaannya dilakukan oleh Departemen Keuangan melalui Direktorat jenderal Pajak. Contoh dari pajak pusat adalah PPh, PPn, PPnBM, PBB, Bea Materai dan Bea Perolehan hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)

2) Pajak Daerah merupakan pajak yang wewenang pemungutannya ada pada Pemerintah Daerah yang Pelaksanaannya dilakukan oleh Dinas Pendapatan Daerah. Pajak Daerah diatur dalam dalam undang – undang dan hasilnya akan masuk ke Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Contoh dari pajak daerah diantarannya adalah Pajak Hiburan, Pajak Reklame dan Pajak Kendaraan Bermotor.

c. Berdasarkan sifatnya, pajak digolongkan menjadi pajak subjektif dan pajak objektif.

(29)

1) Pajak subjektif adalah pajak yang pengenaannya memperhatikan keadaan subjeknya, contohnya Pajak Penghasilan. Pengenaan pajak penghasilan untuk orang pribadi tersebut memperhatikan keadaan pribadi wajib pajak. Keadaan pribadi wajib pajak tersebut selanjutnya digunakan untuk menentukan besarnya penghasilan tidak kena pajak.

2) Pajak objektif adalah pajak yang pengenaannya memperhatikan objeknya baik berupa benda, keadaan, perbuatan atau peristiwa yang mengakibatkan timbulnya kewajiban membayar pajak, tanpa memperhatikan keadaan pribadi subjek pajak maupun tempat tinggalnya, contoh paaknya PPn, PPnBM, dan PBB.

Dengan adanya pembagian pajak berdasarkan golongan, lembaga pemungut dan sifatnya di atas, maka dapat diketahui secara jelas macam – macam pajak serta bagaimana pajak tersebut seharusnya dibayar, pihak – pihak yang berhak melaksanakan pemungutan pajak tersebut serta dasar perhitungan pengenaan pajaknya. Masyarakat wajib pajak juga dapat mengetahui, mengawasi perhitungan serta penggunaan pajak yang telah dibayarkan.

3. Stelsel Pemungutan Pajak

Dalam pemungutan pajak, khususnya Pajak Penghasilan dikenal tiga macam stelsel pajak (Purwono, 2010 : 13)

(30)

a. Stelsel Riil atau Nyata (Riele Stelsel)

Merupakan cara pengenaan pajak yang didasarkan pada objek yang sesungguhnya, yang benar – benar ada, dan dapat ditunjuk. Sebagai contoh, dalam Pajak Penghasilan, yang dimaksud penghasilan di sini adalah penghasilan sesungguhnya yang diperoleh atau diterima dalam satu tahun baru diketahui pada akhir tahun sehingga pengenaan pajaknya baru dapat dilakukan pada akhir tahun tersebut.

b. Stelsel Fiktif (Fictieve Stelsel)

Merupakan cara pengenaan pajak yang didasarkan pada suatu anggapan yang dapat dilegalkan oleh undang – undang. Sebagai contoh, penetapan besaran angsuran pajak di awal tahun yang didasarkan pada anggapan bahwa pendapatan tahun ini adalah sama dengan pendapatan tahun lalu.

c. Stelsel Campuran

Pada dasarnya merupakan gabungan dari dua stelsel yang ada yaitu stelsel riil dan stelsel fiktif. Pada awalnya tahun pajak menggunakan stelsel fiktif dan setelah akhir tahun menggunakan stelsel riil.

Contohnya adalah pajak penghasilan.

Undang – undang Pajak Penghasilan Indonesia Menganut stelsel campuran, di mana pada awal tahun pajak terdapat angsuran pajak (PPh Pasal 25) berdasarkan besarnya pajak yang terutang pada Surat Pemberitahuan tahun sebeluumnya. Kemudian di akhir tahun dihitung kembali berdasarkan penghasilan yang sesungguhnya diperoleh pada tahun

(31)

yang bersangkutan. Jika terdapat kekurangan maka wajib pajak harus melunasi kekurangan pembayaran pajak (PPh Pasal 29) dalam jangka waktu yang telah ditentukan.

4. Cara Pemungutan Pajak

Menurut Resmi (2013 : 10) pemungutan pajak penghasilan ada tiga macam cara yang biasa dilakukan, yaitu:

a. Asas Domisili (Asas Tempat Tinggal)

Asas ini menyatakan bahwa negara berhak mengenakan pajak atas seluruh penghasilan Wajib Pajak yang bertempat tinggal di wilayahnya, baik penghasilan yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Setiap Wajib Pajak yang berdomisili atau yang bertempat tinggal di wilayah Indonesia (Wajib Pajak Dalam Negeri) dikenakan pajak atas seluruh penghasilan yang diperolehnya baik dari Indonesia maupun dari luar Indonesia.

b. Asas Sumber

Asas ini menyatakan bahwa negara berhak mengenakan pajak atas penghasilan yang bersumber diwilayahnya tanpa memperhatikan tempat tinggal Wajib Pajak. Setiap orang yang memperoleh penghasilan dari Indonesia dikenakan pajak atas penghasilan yang diperolehnya tadi.

c. Asas Kebangsaan

Asas ini menyatakan bahwa pengenaan pajak dihubungkan dengan kebangsaan suatu negara. Misalnya pajak bangsa asing di Indonesia

(32)

dikenakan atas setiap orang asing yang bukan berkebangsaan Indonesia tetapi bertempat tinggal di Indonesia.

Indoneesia menganut Worldwide Income, sehingga tidak membedakan sumber penghasilan dalam mengenakan pajak kepada Wajib Pajak Dalam Negeri. Tetapi untuk Wajib Pajak Luar Negeri Indonesia menganut asas sumber, sehingga setiap Wajib Pajak Luar Negeri yang memperoleh penghasilan di Indonesia akan dikenakan PPh Pasal 26.

5. Sistem Pemungutan Pajak

Dalam memungut pajak dikenal beberapa sistem pemungutan, yaitu Official Assessment System, Self Assessment System dan Withholding System (Resmi, 2013: 11)

a. Official Assessment System

Sistem pemungutan pajak yang memberi kewenangan aparatur perpajakan untuk menentukan sendiri jumlah pajak yang terutang setiap tahunnya sesuai dengan peraturan perundang – undangan perpajakan yang berlaku. Dalam sistem ini, inisiatif serta kegiatan menghitung dan memungut pajak sepenuhnya berada di tangan para aparatur perpajakan. Dengan demikian, berhasil atau tidaknya pelaksanaan pemungutan pajak banyak tergantung pada aparatur perpajakan (peranan dominan ada pada aparatur perpajakan)

(33)

b. Self Assessment System

Sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang Wajib Pajak dalam menentukan sendiri jumlah pajak yang terutang setiap tahunnya sesuai dengan peraturan perundang – undangan perpajakan yang berlaku. Dalam sistem ini, inisiatif serta kegiatan menghitung dan memungut pajak sepenuhnya berada di tangan Wajib Pajak. Wajib Pajak dianggap mampu menghitung pajak, mampu memahami undang – undang perpajakan yang sedang berlaku, dan mempunyai kejujuran yang tinggi, serta menyadari akan arti pentingnya membayar pajak.

Dengan demikian, berhasil atau tidaknya pelaksanaan pemungutan pajak banyak tergantung pada Wajib Pajak sendiri (peranan dominan ada pada Wajib Pajak)

c. With Holding System

Sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pihak ketiga yang ditunjuk untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh Wajib Pajak yang sesuai dengan peraturan perundang – undangan perpajakan yang berlaku. Penunjukan pihak ketiga ini dilakukan sesuai peraturan perundang – undangan perpajakan, keputusan presiden, dan peraturan lainnya untuk memotong dan memungut pajak, menyetor, dan mempertanggungjawabkan melalui sarana perpajakan yang tersedia. Berhasil atau tidaknya pelaksanaan pemungutan pajak banyak tergantung pada pihak ketiga yang ditunjuk.

(34)

Saat ini, Indonesia menerapkan sistem Self Assessment, dimana wajib pajak diberi kepercayaan untuk menghitung sendiri dengan benar sesuai transaksi ekonomi yang dilakukan, memperhitungkan pajak – pajak yang telah dibayar atau dipungut/dipotoong pihak lain, menyetor, dan melaporkan pajaknya elalui Surat Pemberitahuan (SPT)

B. Wajib Pajak dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) 1. Wajib Pajak

Pengertian Wajib Pajak berdasarkan Undang – undang No. 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan Adalah:

“Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang – undangan”.

Pengertian tersebut menjelaskan bahwa setiap wajib pajak yang telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang – undangan perpajakan wajib mendaftarkan diri pada kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Wajib pajak dan kepadannya diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Persyaratan subjektif adalah persyaratan yang sesuai dengan ketentuan mengenai subjek pajak dalam Undang – Undang Pajak Penghasilan tahun 1984 dan perubahannya.

Sedangkan persyaratan objektif adalah persyaratan bagi subjek pajak yang menerima atau memperoleh penghasilan atau diwajibkan untuk melakukan pemotongan/pemungutan sesuai dengan undang – undang Pajak Penghasilan tahun 1984 dan perubahannya.

(35)

Dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE- 89/PJ/2009 Tentang Tata Cara Penanganan Wajib Pajak Non Efektif, Wajib Pajak yang terdaftar dapat di administrasikan ke dalam dua jenis wajib pajak, yaitu:

a. Wajib Pajak Efektif yaitu Wajib Pajak yang elakukan pemenuhan kewajiban perpajakan baik berupa pembayaran pajak maupun penyampaian Surat Pemberitahuan Pajak Maupun penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) masa dan/atau Tahunan sesui dengan ketentuan perundang – undangan perpajakan.

b. Wajib Pajak non Efektif (WPNE) adalah Wajib Pajak yang tidak melakukan pemenuhan kewajiban baik berupa pembayaran pajak maupun penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) Masa dan/atau Tahunan sesuai dengan ketentuan perundang – undangan perpajakan, yang nantinya dapat diaktifkan kembali.

Wajib Pajak dinyatakan sebagai WPNE apabila memenuhi kriteria sebagai berikut:

1) Selama 3 (tiga) tahun berturut – turut tidak pernah melakukan kewajiban perpajakan baik berupa pembayaran pajak maupun penyampaian SPT Masa dan/atau Tahunan

2) Tidak diketahui/ditemukan lagi alamatnya

3) Wajib Pajak Orang Pribadi yang telah meninggal dunia tetapi belum diterima pemberitahuan tertulis secara resmi dari ahli warisnya atau belum mengajukan penghapusan NPWP

(36)

4) Secara nyata tidak menunjukkan adanya kegiatan usaha 5) Bendahara tidak melakukan pembayaran lagi

6) Wajib Pajak Badan yang telah bubar tetapi belum ada akte pembubarannya atau belum ada penyelesaian likuidasi (bagi badan yang sudah mendapat pengesahan dari instansi yang berwenang) 7) Wajib Pajak Orang Pribadi yang bertempat tinggal atau berada atau

bekerja di luar negeri lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan,

Dalam hal perubahan status Wajib Pajak efektif menjadi Non efektif atau sebaliknya, Direktorat Teknologi Informasi Perpajakan (TIP) harus melakukan pemantauan terhadap perubahan status wajib pajak yang dilakukan oleh Kantor Pelayanan Pajak (KPP)

2. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)

Pengertian Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) menurut Undang – Undang No. 28 Tahun 2007 tentang perubahan ketiga atas Undang – undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan No. 6 Tahun 1983 adalah:

“Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) adalah nomor yang diberikan kepada Wajib Pajak sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas wajib pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya”

Direktorat Jenderal Pajak telah mengekstensifikasikan Wajib Pajak Orang Pribadi (WPOP) yang mempunyai penghasilan untuk mempunyai NPWP. Sejak akhir tahun 2005, Dirjen Pajak sudah menetapkan

(37)

NPWP secara jabatan dan membagikan data tersebut kepada Wajib Pajak.

Tujuan dari Dirjen Pajak mengekstensifikasikan NPWP tersebut adalah untuk meningkatkan penerimaan pajak dan menyempurnakan administrasi perpajakan.

Bagi WP yang mempunyai penghasilan di atas PTKP diwajibkan mendaftarkan diri untuk memiliki NPWP. Hal ini sesuai dengan Undang – Undang KUP No. 28 Tahun 2007 yang memuat tentang sanksi – sanksi bagi WP yang sengaja tidak mendaftarkan diri dan menimbulkan kerugian bagi negara berupa sanksi admiinistrasi dan sanksi pidana. Sanksi tersebut berupa pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 6 (enam) tahun dengan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang bayar dan paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang bayar. Cara untuk mendapatkan NPWP dapat dilakukan dengan: (Yolina, 2009:52)

a. Datang langsung ke KPP domisili dengan membawa asli dan fotocopy KTP dan Kartu Keluarga, kecuali jika diminta lain oleh petugas pendaftaran.

b. Mendaftarkan diri melalui internet dengan cara e-registrasion, setelah mendapatkan Surat Keterangan Terdaftar (SKT) sementara, di-print, kemudian bawa ke KPP domisili untuk ditukarkan dengan kartu NPWP dan SKT yang asli.

Setelah WP memiliki NPWP, maka WP mempunyai kewajiban untuk melaporkan SPT Tahunan setiap tahun dan melaporkan SPT Masa

(38)

setiap bulannya. Dalam Undang – Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan No. 28 Tahun 2007 selain mewajibkan memiliki NPWP, UU ini juga memuat ketentuan mengenai pencabutan NPWP sebagaimana dicantumkan dalam pasal 2 ayat (6). Penghapusan NPWP dilakukan oleh Dirjen Pajak apabila:

1. Diajukan permohonan Penghapusan NPWP oleh WP dan/atau ahli warisnya apabila WP sudah tidak memenuhi persyaratan subjektif dan/atau objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang – undangan perpajakan.

2. WP Badan dilikuidasi karena penghentian atau penghapusan usaha 3. WP bentuk usaha tetap menghentikan kegiatan usahanya di Indonesia 4. Dianggap perlu oleh Dirjen Pajak untuk menghapuskan NPWP dari

WP yang sudah tidak memenuhi persyaratan subjektif dan/atau objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang – undangan perpajakan.

C. Undang – Undang Pajak Penghasilan No. 36 Tahun 2008 1. Pengertian Pajak Penghasilan

Dalam pasal 1 Undang – Undang No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang – Undang No. 36 Tahun 2008 yang dimaksud dengan Pajak Penghasilan adalah pajak yang dikenakan terhadapt subjek pajak atas penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam tahun pajak. Ini mengandung pengertian bahwa subjek pajak baru dikenakan pajak penghasilan apabila menerima

(39)

atau memperoleh penghasilan. Menurut Resmi ( 2013:75) subjek pajak diartikan orang yang dituju oleh undang – undang untuk dikenakan pajak.

Sedangkan pengertian penghasilan menurut Undang – Undang Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat 1 adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh wajib pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia yang dipergunakan untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan wajib pajak yang bersangkutan dengan nama atau dalam bentuk apapun. Pajak Penghasilan digolongkan ke dalam dua jenis yaitu Pajak Penghasilan Migas dan Pajak Penghasilan Non Migas.

Pajak Penghasilan Migas adalah pajak penghasilan yang berasal dari minyak bumi dan gas alam. Sedangkan Pajak Penghasilan Non Migas terdiri dari:

a. Pajak Penghasilan Pasal 21 merupakan Pajak yang dikenakan atas penghasilan berupa gaji, upah, honorarium, tunjangan dan pembayaran lain dengan nama apapun sehubungan dengan pekerjaan, jasa atau kegiatan yang dilakukan oleh Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri

b. Pajak Penghasilan Pasal 22 adalah Pajak yang dipungut oleh bendaharawan pemerintah baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, instansi atau lembaga pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, instansi atau lembaga pemerintah dan lembaga – lembaga negara lainnya berkenaan dengan pembayaran atas penyerahan barang, dan badan – badan tertentu baik badan pemerintah maupun

(40)

swasta berkenaan dengan kegiatan di bidang impor atau kegiatan usaha di bidang lain.

c. Pajak Penghasilan Pasal 23 merupakan Pajak yang dipotong atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dalam negeri dan Bentuk Usaha Tetap yang berasal dari modal, penyerahan jasa, atau penyelenggaraan kegiatan selain yang telah dipotong oleh Pajak Penghasilan PPh 21, yang dibayarkan atau terutang oleh Badan Pemerintah atau Subjek Pajak Dalam Negeri, penyelenggara kegiatan, Bentuk Usaha Tetap atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya.

d. Pajak Penghasilan Pasal 24 merupakan pajak yang terutang atau dibayarkan di luar negeri atas penghasilan yang diterima atau diperoleh dari luar negeri yang boleh dikreditkan terhadap Pajak Penghasilan yang terutang atas seluruh penghasilan Wajib Pajak Dalam Negeri

e. Pajak Penghasilan Pasal 25 adalah angsuran Pajak Penghasilan yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak untuk setiap bulan dalam tahun pajak berjalan. Angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 tersebut dapat dijadikan sebagai kredit pajak terhadap pajak yang terutang atas seluruh penghasilan Wajib pajak pada akhir tahun pajak yang dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan. Sedangkan Pajak Penghasilan PPh Pasal 29 adalah Pajak Penghasilan yang masih harus dibayar atas kekurangan pembayaran pajak pada akhir tahun pajak.

(41)

f. Pajak Penghasilan Pasal 26 adalah Pajak yang dikenakan atas penghasilan yang diterima oleh Wajib Pajak Luar Negeri dari Indonesia, selain penghasilan usaha yang diperoleh melalui Bentuk Usaha Tetap di Indonesia.

g. Fiskal Luar Negeri adalah pajak yang dikenakan kepada orang pribadi dalam negeri yang akan bertolah ke luar negeri.

h. Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2) atau Pajak Penghasilan yang bersifat final adalah pajak atas penghasilan yang dikenakan pada Wajib Pajak dimana pemotongan pajak tersebut tidak perlu lagi diperhitungkan dalam penghitungan PPh terutang dalam perhitungan PPh yang harus dibayar dalam SPT (Surat Pemberitahuan), namun seluruh penghasilan yang telah dipotong PPh Final tersebut harus tetap dilaporkan didalam SPT sebagai kewajiban pelaporan saja namun tidak perlu diperhitungkan kembali, karena penghitungannya telah selesai (final). Objek pajak yang dipotong PPh yang bersifat final adalah:

1) Penghasilan berupa bunga deposito dan tabungan lainnya, bunga obligasi dan surat utang negara, dan bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggota koperasi orang pribadi 2) Penghasilan berupa hadiah undian

3) Penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya, transaksi derivatif yangg diperdagangkan di bursa, dan transaksi penjualan

(42)

saham atau pengalihan penyertaan modal pasa perusahaan pasangannya yang diterima oleh perusahaan modal ventura

4) Penghasilan dari transaksi pengalihan harta berupa tanah dan/atau bangunan, usaha jasa kontruksi, usaha real estate, dan persewaan tanah dan/atau bangunan, dan

5) Penghasilan tertentu lainnya.

2. Pokok – Pokok Perubahan Undang – Undang Pajak Penghasilan Undang – undang No. 36 Tahun 2008 merupakan undang – undang perubahan keempat atas undang – undang No. 7 Tahun 1983 yang mengatur tentang Pajak Penghasilan. Undang – undang ini mulai diberlakukan sejak tanggal 1 Januari 2009. Ada beberapa pokok perubahan dari UU PPh sebelumnya yaitu UU PPh No. 7 Tahun 2000 ke UU No. 36 Tahun 2008 ini. Pokok – pokok perubahan tersebut adalah:

a. Adanya penegasan terhadap objek PPh (Pasal 4 ayat 1)

Di dalam UU No. 17 Tahun 2000 ditetapkan bahwa suplus Bank Indonesia ditafsirkan sebagai bukan objek pajak, kemudian dalam UU No. 36 Tahun 2008 ditetapkan bahwa surplus Bank Indonesia adalah merupakan objek pajak.

b. Adanya perluasan terhadap objek PPh final (Pasal 4 ayat 2) pada UU No. 36 Tahun 2008. Objek – objek tersebut adalah:

1) Transaksi derivatif yang diperdagangkan di bursa.

(43)

2) Transaksi penjualan saham atau pengalihan modal pada perusahaan pasangannya yang diterima oleh perusahaan modal ventura

3) Usaha jasa kontruksi 4) Usaha real estase.

c. Adanya penegasan terhadap non-objek PPh (Pasal 4 ayat 3) pada UU No. 36 Tahun 2008 yaitu:

1) Dividen yang diterima koperasi tidak dibatasi pada persentase kepemilikan saham

2) Bagian laba yang diterima pemegang unit penyertaan kontrak investasi kolektif

3) Beasiswa yang memenuhi syarat tertentu

4) Sisa lebih yang diterima lembaga nirlaba di bidang pendidikan dan atau penelitian dan pengembangan (Litbang)

5) Bantuan atau satuan yang dibayarkan badan penyelenggara jaminan sosial kepada wajib pajak tertentu.

d. Penghapusan Non-objek PPh (Pasal 4 ayat 3 huruf J)

Didalam UU No. 17 Tahun 2000 ditetapkan bahwa bunga obligasi yang diterima atau diperoleh perusahaan reksadana selama 5 tahun pertama sejak pendirian perusahaan atau pemberian izin usaha dikecualikan sebagai objek PPh, sedangkan di dalam UU No. 36 Tahun 2008 ketentuan tersebut dicabut, sehingga bunga obligasi yang

(44)

diterima atau diperoleh perusahaan reksadana sejak awal pendirian perusahaan adalah merupakan objek pajak.

e. Adanya penambahan yang diperbolehkan oleh pajak sebagai biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan pada pasal 6 ayat 1 UU No. 36 Tahun 2008.

Biaya – biaya tersebut adalah:

1) Biaya sumbangan bencana nasional

2) Sumbangan penelitian dan pengembangan (Litbang) yang dilakukan di Indonesia

3) Biaya pembangunan infrastruktur sosial

4) Sumbangan fasilitas pendidikan dan sumbangan pembinaan olahraga.

f. Adanya penambahan yang diperbolehkan oleh pajak sebagai biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan pada pasal 9 ayat 1 UU No. 36 Tahun 2008.

1) Cadangan piutang tak tertagih untuk badan usaha yang menyalurkan kredit

2) Perusahaan pembiayaan konsumen dan ajak piutang

3) Cadangan bantuan sosial yang dibeentuk oleh badan penyelenggara jaminan sosial

4) Cadanggan penjaminan untuk Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS)

(45)

5) Cadangan biaya penanaman kembali (reboisasi) untuk usaha kehutanan

6) Cadangan biaya penutupan dan pemeliharaan tempat pembuangan limbah industri untuk usaha pengolahan limbah industri

g. Terdapat perubahan terhadap besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak (Pasal 7)

Sebelum ditetapkan didalam KMK Nomor: 137/PMK.03/2005 bahwa besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak adalah sebagai berikut:

Tabel 2.1

Penghasilan Tidak Kena Pajak dalam KMK Nomor 137/PMK.03/2005 Diri Wajib Pajak Orang Pribadi Rp 13.200.000,00 Tambahan untuk Wajib Pajak

yang kawin

Rp 1.200.000,00 Tambahan untuk istri yang

penghasilannya digabung dengan penghasilan suami

Rp.13.200.000,00

Tambahan Tanggungan (maksimal 3 orang)

Rp1.200.000,00

sumber: KMK Nomor: 137/PMK.03/2005 yang disederhanakan kemudian didalam UU No. 36 Tahun 2008 ketentuan tersebut diatas diubah menjadi:

Tabel 2.2

Penghasilan Tidak Kena Pajak dalam UU No. 36 Tahun 2008 Diri Wajib Pajak Orang Pribadi Rp 15.840.000,00

Tambahan untuk wajib pajak yang kawin

Rp 1.320.000,00 Tambahanuntuk istri yang

penghasilannya digabung dengan penghasilan suami

Rp 15.840.000,00

Tambahan Tanggungan (maksimal 3 orang)

Rp 1.320.000,00 Sumber: UU No. 36 Tahun 2008 yang disederhanakan

(46)

Kemudian didalam PMK-162/PMK.011/2012 ketentuan tersebut diatas diubah lagi menjadi:

Tabel 2.3

Penghasilan Tidak Kena Pajak dalam PMK-162/PMK.011/2012 Diri Wajib Pajak Orang Pribadi Rp 24.300.000

Tambahan untuk wajib pajak yang kawin

Rp 2.025.000 Tambahanuntuk istri yang

penghasilannya digabung dengan penghasilan suami

Rp 24.300.000

Tambahan Tanggungan (maksimal 3 orang)

Rp 2.025.000

Sumber: PMK-162/PMK.011/2012yang disederhanakan

h. Adanya tambahan penjelasan mengenai pemisahan pengenaan pajak suami istri (Pasal 8 ayat 2 huruf C) pada UU No. 36 Tahun 2008 yaitu apabila dikehendaki oleh istri, maka istri dapat memilih untuk menjalankan hak dan kewajiban perpajakan sendiri.

i. Norma perhitungan penghasilan neto (Pasal 14)

Didalam UU No. 17 Tahun 2000 sebelumnya ditetapkan bahwa:

Wajib pajak orang pribadi yang memiliki peredaran usaha kurang dari Rp 600.000.000,00 dalam satu tahun dapat menggunakan norma perhitungan penghasilan neto

Sekarang didalam UU No. 36 Tahun 2008 ketentuan tersebut telah diubah sehingga batas peredaran usaha dalam satu tahun untuk dapat menggunakan norma penghasilan neto bagi wajib pajak orang pribadi menjadi Rp 4.800.000.000

(47)

j. Tarif Wajib Pajak Orang Pribadi (Pasal 17)

Dalam UU No. 17 tahun 2000 sebelumnya ditentukan bahwa besarnya tarif pajak bagi Wajib Pajak Orang Pribadi (WPOP) adalah sebagai berikut:

Tabel 2.4

Tarif WPOP dalam UU No. 17 Tahun 2000

Lapisan Penghasilan Tarif

s/d Rp25.000.000,00 5%

Diatas Rp25.000.000,00 s/d Rp50.000.000,00 10%

Diatas Rp50.000.000,00 s/d Rp100.000.000,00 15%

Diatas Rp100.000.000,00 s/d Rp200.000.000,00 25%

Diatas Rp200.000.000,00 35%

Sumber: UU No. 17 Tahun 2000 yang disderhanakan

Dalam UU No. 36 Tahun 2008, tarif pajak bagi WPOP tesebut telah diubah menjadi:

Tabel 2.5

Tarif WPOP dalam UU No. 36 Tahun 2008

Lapisan Penghasilan Tarif

s/d 50.000.000,00 5%

Diatas Rp50.000.000,00 s/d Rp250.000.000,00 15%

Diatas Rp250.000.000,00 s/d Rp500.000.000,00 25%

Diatas Rp500.000.000,00 30%

Sumber: UU No. 36 Tahun 2008 yang disederhanakan k. Tarif Wajib Pajak Badan (Pasal 17)

Pada UU No. 17 Tahun 2000, tarif wajib pajak badan ditentukan sebagai berikut:

Tabel 2.6

Tarif WP Badan UU No. 17 Tahun 2000

Lapisan Penghasilan Tarif

s/d Rp50.000.000 10%

Diatas Rp50.000.000,00 s/d Rp100.000.000,00 15%

Diatas Rp100.000.000,00 30%

Sumber: UU No. 17 Tahun 2000 yang disederhanakan

(48)

Kemudian didalam UU No. 36 Tahun 2008, tarif WP badan diubah menjadi tarif tunggal sebesar 28% (dua puluh delapan persen) pada tahun 2009 dan diturunkan menjadi 25% (dua puluh lima persen) pada .tahun 2010 dan untuk WP badan masuk bursa diberikan tarif 5%

lebih rendah dari tarif yang berlaku.

l. Adanya penjelasan tentang perbedaan tarif pemotongan/pemungutan untuk wajib pajak yang tidak memiliki NPWP dibandigkan dengan wajib pajak yang memiliki NPWP di dalam UU No. 36 Tahun 2008

Tabel 2.7

Perbandingan tarif WP Non NPWP dengan tarif WP ber NPWP Jenis

Potongan/pungutan

Tarif No-NPWP dibandingka dengan Tarif NPWP

Pasal 21 20% lebih tinggi

Pasal 22 100% lebih tinggi

Pasal 23 100% lebih tinggi

Sumber: UU No. 36 Tahun 2008 yang disederhanakan

m. Mengenai dividen yang diterima Wajib Pajak Orang Pribadi. Dalam UU No. 17 Tahun 2000 ditentukan bahwa: dividen yang diterima WPOP tidak termasuk dalam objek PPh pasal 4 ayat 2. Keputusan tersebut kemudian diubah dalam UU No. 36 Tahun 2008 sehingga saat ini dividen yang diterima WPOP dikenakan PPh Pasal 4 ayat 2 final setinggi-tingginya 10% (sepuluh persen)

n. Adanya tambahan objek pemungutan PPh pasal 22 pada UU No. 36 Tahun 2008 yaitu pemungutan PPh oleh wajib pajak tertentu dari pembeli atas penjualan barag yang tergolong sangat mewah

o. Fiskal Luar Negeri (PPh Pasal 25 ayat 8)

Ketentuan sebelumnya di dalam UU No. 17 Tahun 2000 adalah:

(49)

Bagi WP orang pribadi yang bertolak ke luar negeri wajib membayar Fiskal Luar Negeri sebagai pembayaran pajak dimuka. Sesuai PP No.

41 Tahun 2001, besarnya Fiskal Luar Negeri adalah sebesar:

1) Menggunakan transportasi udara sebesar Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah)

2) Menggunakan transportasi darat dan laut sebesar Rp 500.000,00 (lima ratus ribu rupiah)

Di dalam UU no. 36 Tahun 2008, ketentuan tersebut diubah menjadi:

Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi yag memiliki NPWP tidak membayar Fiskal Luar Negeri dan bagi Wajib Pajak Orang Pribadi yang tidak memiliki NPWP dan telah berusia 21 tahun yang bertolak ke luar negeri, wajib membayar Fiskal Luar Negeri sebagai pembayaran pajak dimuka yang ketentuannya diatur dengan peraturan Pemerintah.

D. Kerangka Pikir

Kerangka pikir dibuat sebagai gambaran menyeluruh mengenai penelitian yang akan dilakukan didasarkan pada teori yang telah dikemukakan sebelumnya. Gambaran menyeluruh mengenai Dampak Penerapan Undang – Undang No. 36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan Terhadap Jumlah Wajib Pajak dan Penerimaan Pajak adalah sebagai berikut:

(50)

Gambar 2.1 Skema Kerangka Pikir

E. HIPOTESIS

Diduga terdapat perbedaan yang signifikan pada jumlah wajib pajak dan penerimaan pajak periode sebelum dan sesudah penerapan Undang-undang No. 36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan.

DAMPAK PENERAPAN UNDANG – UNDANG NO. 36 TAHUN 2008 TENTANG PAJAK PENGHASILAN TERHADAP JUMLAH WAJIB

PAJAK DAN PENERIMAAN PAJAK

Undang – Undang No. 36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan, Wajib Pajak, Penerimaan Pajak

Metode Analisis Mann-Whitney U Test

Hasil Pengujian dan Pembahasan

Simpulan, Implikasi dan Saran

(51)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Lokasi dan Waktu Penelitian

Untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam penelitian ini, peneliti memilih Kantor KPP Pratama Pratama Makassar Barat yang berlokasidi Jl. Balaikota No. 15 Makassar 90111 sebagai lokasi penelitian. Penelitian ini membandingkan antara data jumlah wajib pajak dan penerimaan pajak pada periode sebelum dan sesudah penerapan UU No. 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan diantara keduanya atau tidak. Sedangkan waktu yang digunakan dalam melakukan penelitian mulai dari bulan April sampai dengan bulan Mei tahun 2015.

B. Metode Penentuan Sampel

Metode penentuan sampel yang digunakan adalah Purposive Sampling yaitu penentuan sampel dengan pengambilan data – data tertentu yang dianggap sesuai dan terkait dengan penelitian yang akan dilakukan, artinya data yang diambil adalah data yang memiliki informasi yang diperlukan bagi peneliti (sulistyo, 2010:29). Data yang dibutuhkan untuk penelitian ini adalah:

a. Data jumlah Wajib Pajak terdaftar baik orang pribadi maupun badan dan jumlah Wajib Pajak yang efektif melaksanakan kewajiban perpajakan pada periode dua tahun sebelum penerapan UU N0. 36 Tahun 2008 (2007 – 2008) dan dua tahun setelah penerapan Undang – Undang No. 36 Tahun 2008 (2009 – 2010)

35

(52)

b. Laporan penerimaan pajak periode dua tahun sebelum (2007 – 2008) dan dua tahun sesudah (2009 – 2010) penerapan Undang – Undang No. 36 Tahun 2008.

C. Metode Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data yang dibutuhkan penulis menggunakan metode pengumulan data sebagai berikut:

1. Penelitian Kepustakaan

Proposal ini merupakan eninjauan literature, karya ilmiah dan buku-buku yang menyangkut teori yang elevan dengan masalah yang di bahas sebagai salah satu acuan bagi penulis.

2. Penelitian Lapangan

Penelitian lapangan yaitu penelitian langsung ke Kantor yang berkaitan untuk melihat prosedur yang diterapkan Kantor, teknik yang digunakan dalam pengambilan data adalah:

a. Teknik observasi penelitian yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan secara langsung pada KPP Pratama Makassar Barat untuk mendapatkan data-data yang relevan dalam pembahasan skripsi nantinya.

b. Teknik interview yaitu penelitian yang dilakukan dengan mengadakan wawancara secara langsung dengan pimpinan dan sejumlah personil untuk mendapatkan data-data empiris.

(53)

D. Jenis dan Sumber Data

Adapun data yang dipergunakan dalam penulisan ini adalah sebagai berikut:

1. Data kualitatif yaitu data yang diperoleh dari perusahaan dalam bentuk informasi baik lisan maupun tulisan seperti sejarah berdirinya KPP Pratama Makassar Bara, struktur organisasi KPP Pratama Makassar Barat dan uraian tugas masing-masing bagian.

2. Data kuantitatif yaitu data dalam bentuk angka-angka seperti data jumlah wajib pajak yang terdaftar, data jumlah wajib pajak yang efektif melaksanakan kewajiban perpajakan dan laporan penerimaan pajak.

Sedangkan sumber data yang digunakan dalam penulisan ini adalah sebagai berikut:

1. Data Primer adalah data yang diperoleh melalui observasi langsung dan mengadakan wawancara secara langsungg dengan pimpinan/karyawan untuk mendapatkan data-data yang relevan dengan pembahasan skripsi.

2. Data sekunder adalah data yang diperoleh dokumen-dokumen tertulis dan literatur yang erat kaitannya dengan masalah yang dibahas, data ini bersumber dari dalam maupun luar kantor.

E. Metode Analisis Data

Pada penelitian ini penulis menggunakan metode deskriptif komparatif kuantitatif. Penelitian deskriptif komparatif kuatitatif yakni melakukan analisis peenelitian dengan menggunakan angka sehingga dapat memberikan gambaran yang nyata tentang ada atau tidaknya perbedaan pada jumlah Wajib

(54)

Pajak dan penerimaan pajak periode dua tahun sebelum dengan dua tahun sesudah penerapan UU No. 36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan.

Untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini digunakan statistik non parametrik Mann-Whitney U Test. Pengujian Mann-Whitney U Test digunakan untuk menguji data dari dua sampel yang tidak berhubuungan (independen). Dua sampel yang tidak berhubungan dapat diartikan sebagai dua sampel bebas antara satu dengan yang lain dan mengalami dua perlakuan yang berbeda. Dalam U-Test ini terdapat dua rumus yang digunakan untuk pengujian. Kedua rumus tersebut digunakan dalam perhitungan karena akan digunakan untuk mengetahui harga U mana yang lebih kecil antara U1 dengan U2

n1 (n1 + 1)

U1 = n1n2 + - R1 2

n2 (n2 + 1)

U2 = n1n2 + - R2

2

Ket : n1 = Jumlah sampel 1 (sebelum penerapan Uu No. 36 Tahun 2008) n2 = Jumlah sampel 2 (setelah penerapan UU No. 36 tahun 2008) U1 = Jumlah Peringkat 1

U2 = Jumlah Peringkat 2

R1 = Jumlah ranking pada sampel n1 R2 = Jumlah ranking pada sampel n2

Setelah mengetahui harga U mana yang terkecil, langkah selanjutnya adalah mencari nilai Z hitung berdasarkan harga U tersebut. Rumus z hitung :

(55)

Kemudian nilai z hitung yang didapat dibandingkan dengan nilai z tabel pada tingkat kepercayaan 95% uji dua sisi (2-tailed)

Dasar pengambilan keputusan:

1. Dengan membandingkan nilai z hitung dengan z tabel:

a. Jika z hitung < z tabel, maka Ho diterima b. Jika z hitung > z tabel, maka Ho ditolak

Gambar 3.1 Kurva Keputusan

Ho

Ho diterima Ho

ditolak ditolak

z tabel 0 z tabel

Sumber: Santoso (2010 : 125)

2. Dengan melihat angka probabilitas, dengan ketentuan:

a. Probabilitas > 0,05 maka Ho diterima b. Probabilitas < 0,05 maka ho ditolak

(56)

F. Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan dibagi menjadi lima bab , yang secara garis besar sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Pada bab ini dijelaskan mengenai latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Dalam bab ini akan diuraikan mengenai definisi pajak, jenis pajak, stelsel pemungutan pajak, cara pemungutan pajak, sistem pemungutan pajak, wajib pajak, nomor pokok wajib pajak, undang- undang pajak penghasilan No. 36 tahun 2008, pokok-pokok perubahan undang-undang pajak penghasilan, kerangka pikir dan hipotesis.

BAB III METODE PENELITIAN

Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai lokasi dan waktu penelitian, metode penentuan sampel, metode pengumpulan data, jeis dan sumber data, metode analisis data, dan sistematika pembahasan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai ama dan sejarah singkat perusahaan, visi dan misi perusahaan, struktur organisasi dan job description, hasil dan pembahasan tentang jumlah wajib pajak danpenerimaan pajak penghasilan serta komparasi jumlah wajib

(57)

pajak dan penerimaan pajak penghasilan sebelum dan sesudaah penerapan UU No. 36 Tahun 2008

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai kesimpulan dan saran dari hasil penelitian

(58)

BAB IV

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

A. Nama dan Sejarah Singkat Perusahaan/Lembaga Kantor Pelayanan Pajak Pratama Makassar Barat

Sejarah Singkat Kantor Pelayanan Makassar Barat

KPP pratama Makassar Barat adalah salah satu unit vertikal Direktorat Jenderal Pajak Kementrian Keuangan yang secara hirarki berada di bawah kantor wilayah DJP Sulawesi selatan, Barat dan Tenggara.

Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 67/PMK 01/2008 KPP Pratama Makassar Barat berbentuk sebagai modernisasi administrasi perpajakan yang bercirikan system administrasi berbasis fungsi yang mengurusi administrasi perpajakn PPh, PPN, dan pajak tidak langsung lainnya serta PBB.

Namun mulai 1 Januari 2013, pengelolaan PBB khususnya sektor P2 (Perkotaan dan Pedesaan) telah dialihkan ke Pemerintah Daerah.

42

(59)

Lahirnya Kantor Pelayanan Pajak Pratama merupakan langkah Direktorat Jenderal Pajak dalam menerapkan pelayanan satu atap sebagai tuntutan reformasi birokrasi dalam lingkup Kementrian Keuangan. Kantor Pelayanan Pajak Pratama meruakan penggabungan tiga kantor pelayanan, yaitu kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan, Kantor Pemeriksaan Pajak, dan Kantor Pelayanan Pajak.

Genderang modernisasi di lingkungan Direktorat Jenderal pajak melahirkan Kantor Pelayanan Pajak Pratama Makassar Barat sesuai dengan peraturan menteri Keuangan No.67/PMK.01/2008 tanggal 6 Mei 2008. KPP Pratama Makassar Barat merupakan hasil pemecahan dari KPP Makassar Selatan, yang wilayah kerjanya mencakup empat kecamatan di Makassar yaitu:

1. Kecamatan Ujung Pandang 2. Kecamatan Mariso

3. Kecamatan Mamajang, dan 4. Kecamatan Tamalate.

KPP Pratama Makassar Barat berkedudukan di jalan Balai Kota No.15 Makassar yang awalnya merupakan gedung KP PBB Makassar. Terhitung mulai tanggal 27 Mei 2008 sesuai dengan keputusan Direktur Jenderal Pajak No.KEP- 95/PJ/UP.53/2008 tanggal 19 Mei 2008, KPP Pratama Makassar Barat efektif beroperasi dan diresmikan oleh Menteri Keuangan pada tanggal 9 Juni 2008.

Dalam hal kepimpinan, pada awal terbentuknya KPP Pratama Makassar Barat sebagai bagian dari modernisasi administrasi perpajakan, kantor ini telah mengalami 3 kali pergantian kepemimpinan, di mulai pada awal

Gambar

1.1  Grafik Penerimaan Pajak Tahunan 2002 – 2007  2
Gambar 2.1  Skema Kerangka Pikir
Gambar 3.1  Kurva Keputusan  Ho  Ho  diterima  Ho  ditolak  ditolak  z tabel  0 z tabel Sumber: Santoso (2010 : 125)
Tabel  5.7  diatas  adalah  ringkasan  data  statistik  penerimaan  pajak  penghasilan  dari  kedua  sampel  (sebelum  dan  sesudah  penerapan  UU  No
+3

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian Maesano dkk, 9 menggunakan instrumen yang sama, mendapatkan hubungan antara onset asma awal (kurang dari usia 4 tahun) dengan timbulnya gangguan emosi dan

Peneliti melakukan pengamatan pada kehidupan santri di pesantren seputar attacment style santri terhadap Pembina di dalam pondok, selain sebagai observer, tugas peneliti

Berdasarkan hasil observasi kemampuan guru (peneliti) melaksanakan langkah – langkah pembelajaran dalam peningkatan kemampuan siswa dalam menulis karangan narasi

Akan tetapi, konsep Islam dalam distribusi pendapatan dan kekayaan serta konsepsinya tentang keadilan sosial tidaklah menuntut bahwa semua orang harus mendapat upah yang sama

Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan di sekitar Merapi (Kaliadem dan Kaliworo), dan di Bantul (Kretek dan Poncosari) maka dapat disimpulkan

etunicatum saja (tanpa P) dapat meningkatkan jumlah anakan, bobot biji isi, dan bobot kering tajuk dengan hasil yang sama seperti pada perlakuan pemberian P 50% saja..

Preposisi jenis tersebut dapat berupa kata dasar maupun berafiks (Alwi dkk.. Berikut merupakan uraian mengenai preposisi tunggal yang ditemukan dalam kolom “cerita anak”

Metode yang digunakan adalah membandingkan waktu yang dibutuhkan oleh kedua perangkat lunak Cytovision 3.6 dan SmartType Express untuk menghilangkan kesepuluh