• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistematika penelitian

Dalam dokumen HAK REMAJA PEREMPUAN ATAS HAK REPRODUKSI (Halaman 50-94)

BAB III METODE PENELITIAN

G. Sistematika penelitian

Untuk mendapatkan gambaran yang menyeluruh, maka tesis ini

disusun, yang diawali dengan Bab pertama tentang pendahuluan. Pada Bab

ini, dikemukakan latar belakang perumusan masalah, serta tujuan dan

kegunaan penelitian. Selain itu, dikemukakan metode penelitian, teknik

pengumpulan data, dan diakhiri dengan sistematika penulisan.

Bab kedua, mengenai Kesehatan Reproduksi, Kesehatan Reproduksi

Remaja dan Jender, serta Hak Perempuan dalam Kesehatan Reproduksi.

Pada Bab ini, diuraikan pengertian kesehatan reproduksi, uraian mengenai

kesehatan reproduksi remaja dan jender, berbagai masalah dengan

kesehatan reproduksi remaja dan kaitannya dengan hak perempuan dalam

Bab ketiga diuraikan tentang metode penelitian yang digunakan. Dalam

bab ini dibahas tentang metode pendekatan, spsifikasi penelitian, jenis data,

definis operasional, metode pengumpulan data, dan metode analisis data.

Bab keempat diuarikan mengenai pelaksanaan hak reproduksi remaja

perempuan berdasarkan hukum kesehatan, kesetaraan jender, hak asasi

manusia, dan hak remaja untuk menentukan diri sendiri. Dalam juga

diuarikan analisis remaja kaitannya dengan kesehatan reproduksi,

kesetaraan jender, hak seksual, hak kontrasepsi, hak mendapatkan

pelayanan kesehatan reproduksi, hak mendapat informasi, remaja dengan

kehamilan, remaja dengan upaya abortus, remaja dengan upaya

pencegahan PMS, remaja dan penyalahgunaan seksual dan remaja dan

keluarga sejahtera.

Bab keempat mengenai analisis terhadap apa yang terjadi dari segi

fakta dilapangan berdasarkan penelitian-penelitian didalam dan luar negeri,

dan kemudian dilakukan kajian dari aspek yuridisnya terhadap

pertanyaan-pertanyaan yang ada pada perumusan masalah.

Bab kelima mengenai kesimpulan dan saran. Pada Bab ini,

dikemukakan kesimpulan sebagai kristalisasi hasil penelitian terhadap

identifikasi masalah. Selain itu, dikemukakan saran-saran yang berkaitan

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hak Reproduksi Remaja Perempuan Berdasarkan Hukum Kesehatan 1. Remaja.

Untuk menggambarkan masa transisi remaja ke dewasa, terdapat

perbedaan kata, definisi, usia dan karakteristik yang digunakan. Untuk remaja

berumur antara 10-9 tahun,WHO menggunakan kata adolescence, sedangkan

untuk yang berusia antara 10 -24 tahun digunakan istilah dewasa muda.

Di Amerika,US Agency for International Development menggunakan istilah

dewasa muda untuk masa transisi dari anak-anak ke dewasa, tanpa adanya usia

tertentu yang spesifik. Istilah “teenagers” (usia belasan) biasanya digunakan

untuk remaja berumur antara 13-19 tahun. Dalam banyak konteks, berdasarkan

rentang usia, tidak ada istilah formal yang dipergunakan untuk remaja. Untuk

selanjutnya, yang dimaksud dengan remaja adalah anak yang berada pada usia

diantara 10 – 19 tahun.

Remaja jumlahnya cukup besar dan merupakan bagian dari populasi yang

sedang berkembang pesat. Lebih dari setengah populasi didunia adalah

penduduk yang berumur kurang dari 25 tahun. Empat dari lima remaja yang

sedang berkembang tersebut berada dinegara berkembang. Remaja, selain

jumlahnya yang besar, mereka merupakan kelompok generasi harapan bangsa,

dan masa remaja adalah suatu masa yang labil, sehingga remaja tumbuh

dengan berbagai permasalahannya sendiri.

Pada usia ini anak berkembang menjadi dewasa secara fisik, kognitif,

sumber daya yang potensial untuk masa depan dengan energi yang segar,

dengan disertai berbagai ide dan harapan-harapan.

Secara umum, masa kehidupan remaja merupakan periode yang sehat.

Tetapi dibanding orang dewasa, banyak remaja yang kurang mendapatkan

informasi, kurang berpengalaman, kurang dapat mengakses pelayanan keluarga

berencana dan kesehatan reproduksi. Ketika kelompok remaja ini mencoba

mendapatkan pelayanan yang dibutuhkan tersebut, bukan tidak mungkin

kelompok ini akan mendapat kesulitan bahkan sikap permusuhan dari orang

dewasa, yang pada gilirannya akan meningkatkan risiko terkena penyakit

menular seksual (PMS), HIV, unwanted pregnancy, dan berbagai faktor yang

dapat mempengaruhi kesehatan remaja, sehingga akan mempengaruhi juga

masa depan kelompok remaja ini. Selain itu, ketidak setaraan jender, akan

membatasi kebutuhan terhadap pelayanan kesehatan reproduksi.

Permasalahan kesehatan reproduksi remaja, di satu negara akan

berbeda dengan negara lainnya. Pada umunya permasalah yang timbul dari

kelompok remaja ini adalah pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi

yang rendah, akses pada Informasi yang benar tentang kesehatan reproduksi

sangat terbatas, mereka terpapar secara gencar oleh berbagai informasi yang

menyesatkan, serta adanya status kesehatan reproduksi yang kurang baik, yang

pada gilirannya akan berdampak dalam jangka panjang, dan akan merusak

masa depan remaja itu sendiri.

2. Kesehatan reproduksi bagi remaja

Dalam rangka menumbuhkan sikap dan perilaku yang bertanggung jawab

dari kelompok remaja ini, maka perlu diberikan informasi tentang kesehatan,

melihat jumlahnya yang makin pesat berkembang. Program-program kesehatan

reproduksi bagi remaja, sebaiknya ditujukan untuk mengurangi angka kejadian

unwanted pregnancy, aborsi dan seluk beluknya, penyebaran penyakit menular

seksual (PMS), termasuk HIV/AIDS dikalangan remaja, dan lain sebagainya.

Dalam kehidupannya, remaja terlalu memfokuskan pada keadaan saat ini,

dan cenderung tidak mempunyai perencanaan kedepan dan berantisipasi dalam

konsekuensi jangka panjang terhadap pilihan mereka. Banyak remaja yang tidak

menikah berpikir bahwa kontrasepsi atau keluarga berencana adalah praktik

seperti apa yang dilakukan oleh pasangan yang menikah. Mereka tidak berpikir

bahwa sebagai "keluarga yang direncanakan". Tidak jarang mereka mengalami

kesulitan dan hambatan dalam mendiskusikan kontrasepsi.

Sebagain besar remajajuga tidak berpikir bahwa mereka berada pada

tingkat yang berisiko. Remaja menganggap dirinya kebal terhadap konsekuensi

suatu aktivitas seksual seperti terjadi kehamilan dan bahaya PMS. Selain itu,

karena kurangnya informasi, seorang remaja tidak yakin dengan metode

kontrasepsi yang akan dipilihnya, padahal disisi lain ada kebutuhan untuk

penggunaan kontrasepsi, tetapi mereka malu untuk datang ke tempat pelayanan

kesehatan.

Terbatasnya sarana dan prasarana dalam penyelenggaraan pelayanan

dan informasi yang tidak memadai tentang kesehatan reproduksi remaja,

keluarga berencana, konseling masalah seksual, dan penjelasan tentang

penyakit menular seksual, merupakan indikasi bahwa kualitas pelayanan

kesehatan reproduksi masih terbatas. Oleh karena itu, seharusnya masalah

remaja. Women’s Health Action Foundation (WHAF), yang didasari oleh

kerangka pemikiran yang diajukan Bruce, mengemukakan bahwa 44 :

a. Remaja membutuhkan kebebasan dan informasi yang memadai dalam

memilih kontrasepsi.

b. Adanya ketersediaan untuk memberikan informasi yang obyektif dan

seimbang tentang kontrasepsi.

c. Penolakan adaanya insentif dan disinsentif yang menjamin pasien (klien)

atau penyedia dalam menekankan jenis metoda kontrasepsi tertentu.

d. Tersedianya infrastruktur yang memadai pada pusat pelayanan kesehatan

reproduksi, yang memadai dan memungkinkan mekanisme penggunaan

kontrasepsi dengan aman.

B. Hak Reproduksi Remaja Perempuan Berdasarkan Kesetaraan Jender Proses reproduksi tidak hanya menyangkut masalah fisik, namun juga

dipengaruhi oleh faktor sosial budaya. Oleh masyarakat dan budaya, istilah

jender berkonotasi adanya perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan.

Tidak sedikit masyarakat yang menempatkan laki-laki dengan nilai yang lebih

tinggi daripada perempuan, sehingga tidak dapat diingkari bahwa peran dan

norma jender akan berpengaruh kuat terhadap kesehatan reproduksi remaja.

Jender berpengaruh kuat terhadap pandangan atau harapan suatu

aktivitas seksual laki dan perempuan. Suatu survai di Thailand yang dilakukan

terhadap para pekerja pabrik yang berusia antara 15 sampai 24 tahun,

memperlihatkan bahwa sebagian besar laki-laki menginginkan hubungan seks

44

Johanna Debora Imelda. Kesehatan dan hak reproduksi. Didalam : Irwan MH, Dian S, Ida Ruwaida N dkk,Eds. Seksualitas : Teori dan Realitas. Jakarta : Diterbitkan oleh Program Gender dan Seksualitas FISIP – UI : 2004.

sebelum nikah. Laki-laki yang belum pernah berhubungan seks dikucilkan dari

kelompoknya. Berbeda dengan kaum laki-laki, survai tersebut melaporkan bahwa

para buruh perempuan justru tidak dapat menerima hubungan seks sebelum

nikah karena dapat merusak reputasi keluarga. Di Indonesia, suatu laporan

penelitian yang dihimpun oleh Badan Koordinator Keluarga Berencana

(BKKBN)45, mendapatkan bahwa dari 400 siswa laki-laki dan 400 siswa

perempuan di Manado yang diteliti, 6% perempuan pernah melakukan hubungan

seks pranikah, sedangkan yang laki-laki sebesar 20,3%. Selain itu, dilaporkan

juga bahwa 29,9% remaja di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara, pernah

melakukan hubungan seks pranikah (2000). Pandangan masyarakat di Indonesia

yang menyakralkan keperawanan, jelas terlihat pada pasal 421, ayat (2) RUU

KUHP, yang menghukum laki-laki yang tidak bersedia mengawini perempuan

tidak bersuami, yang hamil karena persetubuhan diantara mereka (dikutip dari

Ratna Batara Munti,2004). 46

Di Indonesia masalah jender sudah diatur dan ditetapkan sekitar 22 tahun

yang lalu pada Undang-undang nomor 7 tahun 1984. Walaupun begitu, karena

sosialisasi undang-undang tersebut oleh pemerintah tidak konsisten, sehingga

tidak atau belum bisa mengubah sikap dan pola perilaku masyarakat yang

memperlakukan perempuan termasuk remaja berbeda dari laki-laki. Kebanyakan

dari masyarakat sudah terlebih dulu berpegang kepada norma dan nilai yang

berlaku sebelumnya, yang sudah merupakan bagian dari dirinya akibat

internalisasi yang telah berlangsung bertahun-tahun lamanya.

45

Laporan BKKBN tentang berbagai survai kesehatan reproduksi remaja, 2006.

46

Ratna Batara Munti. Wacana seksualitas dakam sistem hukum di Indonesia.Didalam : Irwan

MH, Dian S, Ida Ruwaida N dkk,Eds. Seksualitas : Teori dan Realitas. Jakarta : Diterbitkan oleh Program Gender dan Seksualitas FISIP – UI : 2004.

Adanya perbedaan harapan, menyebabkan terjadinya perbedaan standar

untuk laki dan perempuan dalam cara pandang mereka terhadap konsekuensi

sosial kalau terjadi kehamilan. Dibanyak negara, bila seorang remaja perempuan

hamil di luar nikah, maka perempuan tersebut dapat dikeluarkan dari sekolah,

sedangkan remaja laki-laki tetap dapat meneruskan sekolahnya.

Jender juga mempengaruhi budaya, penerimaan serta sikap terhadap

praktik kesehatan reproduksi yang berisiko. Dibandingkan anak laki-laki,

perempuan memiliki risiko yang lebih besar terhadap kekerasan seksual,

termasuk pemerkosaan dan kekerasan domestik. Suatu survai demografi dan

kesehatan di Mesir, menyebutkan bahwa 9 dari 10 wanita (90%) mengalami

pemukulan oleh suaminya karena suatu masalah, dan hampir sepertiganya

melaporkan pernah dipukul pada saat hamil. Selain itu, tidak jarang dibeberapa

negara masih terjadi praktik-praktik mutilasi genitalia seorang perempuan. Praktik

mutilasi genitalia perempuan yang terjadi karena budaya yang berlaku ini jelas

dapat membahayakan kesehatan reproduksi seorang perempuan. World Health

Organization (WHO) melaporkan bahwa pertahunnya terdapat sekitar dua juta

perempuan yang mengalami perlakuan mutilasi 47.

Jender juga sering menyebabkan terjadinya kekerasan dalam rumah

tangga. Di Indonesia, sebenarnya tentang kekerasan dalam rumah tangga ini

sudah diatur dengan undang-undang.Pada pasal 5,undang-undang no.23 tahun

2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga,dinyatakan bahwa

setiap orang dilarang untuk melakukan kekerasan dalam rumah tangga misalnya

melakukan kekerasan fisik,kekerasan psikis,kekerasan seksual atau penelantaran

47

Batara Lubis. Female genital mutilation: Penghilangan hak wanita atas tubuhnya. Didalam : Sulistyowati Irianto,ed. Perempuan dan hukum, menuju hukum yang berperspektif kesetaraan dan keadilan. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2006.

rumah tangga. Bila kekerasan seksual itu dilakukan, maka pasal 46 mengancam

pidana penjara paling lama dua belas tahun atau denda paling banyak 36 juta

rupiah. Walaupun ancamannya berat, pada kenyataannya praktik kekerasan

dalam rumah tangga tetap terjadi juga. Hal ini diakibatkan, sering tidak

konsistennya pelaksanaan undang-undang yang berlaku.

C. Hak Reproduksi Remaja Perempuan Berdasarkan Hak Asasi Manusia 1. Remaja dan hak seksual

Para Ahli berpendapat bahwa peningkatan status gizi yang lebih baik, serta

terjadinya perubahan norma-norma budaya di masyarakat, mengakibatkan usia

seorang perempuan ketika pertama kali dapat haid (menarche) menjadi lebih

awal, dan usia nikah menjadi lebih tua, sehingga berdampak menjadi lebih

panjangnya usia subur perempuan sebelum menikah. Panjangnya masa subur

ini, mempunyai konsekuensi lebih lanjut yaitu meningkatnya risiko kelompok

remaja terhadap kemungkinan terjadinya kehamilan sebelum menikah, selain

juga kemungkinan terjadinya praktik sikap berganti pasangan yang berisiko

terhadap penularan penyakit hubungan seksual (PMS).

Laporan dari suatu penelitian, memperlihatkan bahwa di Amerika Utara,

usia subur wanita sebelum perkawinan, meningkat dari 7,2 tahun (1890) menjadi

11,8 tahun (1988). Hal ini terjadi karena, usia menarche terjadi lebih awal, yaitu

yang semula terjadi pada rata-rata usia 14,8 tahun, berubah menjadi 12,5 tahun

dan peningkatan usia perkawinan perempuan dari usia 22,0 tahun menjadi 24,3

Selatan, India dan Maroko.48 Di Indonesia,rata-rata perempuan menikah pertama

kali pada umur 17,8 tahun (SDKI, 2003).49 Walaupun dari sisi kedokteran,

menikah muda itu berisiko, karena banyak sekali komplikasi yang mungkin terjadi

(persalinan macet, panggul sempit, tekanan darah tinggi dalam kehamilan/pre

eklampsia, kejang kehamilan / eklampsia ), tetapi undang-undang perkawinan

nomor 1 tahun 1974 memperbolehkannya. Pasal 7 undang-undang tersebut

mengatakan bahwa perkawinan diijinkan jika seorang laki-laki sudah mencapai

umur 19 (sembilan belas) tahun dan perempuan sudah mencapai umur 16 (enam

belas tahun) 50. Jadi merupakan tanggung jawab pemerintahlah, bahwa rata-rata

perkawinan perempuan masih dalam periode remaja (10 -19 tahun), selain juga

belum ada klinik khusus yang menangani remaja dengan permasalahannya.

Pada kelompok remaja yang belum menikah tetapi aktif secara seksual,

usia rata melakukan hubungan seksual pertama kali berada dibawah

rata-rata usia pernikahan. Tergantung negara dimana mereka berada, dibanyak

negara anak laki-laki memiliki aktivitas seksual di usia yang lebih muda dibanding

perempuan. Di Amerika Latin, diantara remaja usia 15-19 tahun yang aktif secara

seksual, remaja pria mulai aktif secara seksual pada usia 14-16 tahun,

sedangkan remaja putri pertama kali kontak seksual antara usia 16 sampai 18

tahun. Sebagai perbandingan, usia rata-rata pernikahan pertama orang Amerika

Latin berada diantara usia 19 sampai 22 tahun. Di negara-negara Asia, Filipina

dan Thailand, anak laki-laki aktif secara seksual pada usia diantara 16-17 tahun

48

Gender. Internal ....on management of population programmes making a difference in population programmes management/COMP. Mission reproductive health men and reproductive health adolescent, reproductive health gender and reproductive. Http://www./comp.org.my/jender.html

49

Survai Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI),tahun 2003.

dibandingkan usia 17 sampai 18 tahun untuk anak perempuan. Di negara ini usia

pernikahan wanita 21 sampai 22 tahun. Di Amerika Serikat, kelompok laki-laki

rata-rata melakukan hubungan seks pertama kali pada usia 16,6 tahun,

dibandingkan dengan wanita pada usia rata-rata 17,4 tahun. Usia rata-rata

menikah adalah 24,3 tahun. Di negara Sahara Afrika, data Survai Demografi

dan Kesehatan mereka memperlihatkan bahwa sebagian remaja yang tidak

menikah ternyata telah aktif secara seksual 51.

Hal diatas terjadi juga di Indonesia. Di majalah Gemari dibahas tentang

fenomena gaul bebas (seks) remaja diberbagai kota di Indonesia, yaitu di

Jakarta, Surabaya, Banjarmasin. Dilaporkan bahwa ada peningkatan jumlah

remaja yang melakukan seks pranikah dari 5% pada tahun 1980, menjadi 20%

pada tahun 2000 52. Selain itu, pada Jurnal Keluarga Berencana tahun 2000,

dilaporkan juga bahwa 7,1% remaja di Cilacap pernah melakukan hubungan

seks pra nikah 53.

Dari hal diatas, maka tampak sekali bahwa ada peningkatan perilaku seks

bebas pranikah pada kelompok remaja, sehingga mereka berisiko terhadap

kemungkinan terjadinya kehamilan dan penyakit menular seksual. Di Indonesia

belum ada atau belum banyak fasilitas pelayanan kesehatan reproduksi yang

khusus untuk remaja dengan berbagai permasalahannya. Apalagi sampai kalau

terjadi upaya pengguguran, yang di Indonesia dilarang oleh undang-undang.

Dalam masalah perkawinan, harus sering diberikan penyuluhan kepada

para remaja di Indonesia, bahwa pasal 1,undang-undang perkawinan nomor 1,

tahun 1974 menyatakan perkawinan merupakan ikatan lahir batin antara laki-laki

51

Reproductive Health Outlook. PATH.www.path.org.2003. 52

Gemari, edisi 8, 2001. 53

dan perempuan sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah

tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan KeTuhanan Yang Maha Esa. 54

2. Remaja dan hak kontrasepsi

Tidak sedikit remaja yang menikah telah menggunakan kontrasepsi

sebelum kelahiran anak pertamanya. Suatu studi di AS melaporkan bahwa

diantara remaja yang tidak menikah, ternyata tidak menggunakan kontrasepsi

sampai satu tahun setelah mereka aktif secara seksual. Laporan dari survai yang

dilakukan di Amerika Latin dan Kenya terhadap remaja tidak menikah,

mengatakan bahwa alasan mereka tidak menggunakan kontrasepsi pada saat

melakukan hubungan seks, karena pada saat itu sebenarnya mereka sedang

tidak menginginkan hubungan seksual. Alasan umum yang kedua adalah

kurangnya informasi tentang kontrasepsi 55. Ini berarti bahwa aktivitas seksual

pada orang-orang muda atau remaja cenderung tidak direncanakan dan

dilakukan secara sporadis serta tidak menggunakan kontrasepsi.

Sebuah survai di Nigeria dan Guatemala menunjukkan bahwa sering timbul

rasa takut yang tidak perlu pada para remaja tentang pengaruh kontrasepsi

terhadap kesehatan. Hal ini disebabkan karena tidak adanya informasi yang

akurat pada remaja,. Disisi lain, walaupun para remaja tersebut mengetahui

tentang kontrasepsi kondom dan pil, tetapi pada umumnya tidak tahu bagaimana

dan dimana mereka mendapatkan kontrasepsi, selain juga tidak mengetahui

bagaimana cara menggunakannya. Survai tersebut juga memperlihatkan bahwa

pengetahuan lelaki remaja tentang kontrasepsi jauh lebih rendah dibanding

54

Undang-undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan. 55 Reproductive Health Outlook. PATH.www.path.org.2003.

remaja perempuan, dan anggapan kelompok remaja laki-laki bahwa kontrasepsi

bukan merupakan tanggung jawab mereka. 56

Data survai lain memperlihatkan pendapat kelompok remaja laki-laki yang

terhadap kontrasepsi. Mereka juga menganggap bahwa kontrasepsi

semata-mata merupakan tanggung jawab perempuan. Disisi lain kelompok remaja

perempuan, tidak berani menggunakan kontrasepsi karena takut mengesankan

bahwa dia aktif secara seksual 57.

Dalam membentuk Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera,

sebenarnya merupakan tanggung jawab laki-laki dan perempuan. Tetapi dalam

masyarakat yang paternalistik seperti Indonesia misalnya, peran dari laki-laki

menjadi sangat penting. Sayangnya keterlibatan laki-laki pada pelaksanaan

keluarga berencana masih kurang. Masih banyak yang berpendapat bahwa

keluarga berencana semata-mata merupakan urusan perempuan, bukan laki-laki.

Guno Samekto dalam tulisannya mengatakan bahwa keengganan ini terlihat dari

masih kurangnya minat para lelaki untuk ikut menggunakan salah satu cara

kontrasepsi pria. Hal ini terjadi karena egoisme laki-laki yang tidak terkena akibat

langsung proses kehamilan-persalinan 58. Udin Sabarudin, dalam penelitiannya

tahun 1988 di Bandung, mendapatkan dari 168 responden yang diteliti, sebanyak

94,64% laki-laki tidak menggunakan kontrasepsi. Empat puluh enam koma tiga

dua persen (46,32%) diantaranya

berpendapat bahwa keluarga berencana merupakan

tanggung jawab perempuan

59 .

56 Reproductive Health Outlook. PATH.www.path.org.2003.

57

Gender. Internal ....on management of population programmes making a difference in population programmes management/COMP. Mission reproductive health men and reproductive health adolescent, reproductive health gender and reproductive. Http://www./comp.org.my/jender.html

58 Guno Samekto. Vasektomi, kontrasepsi pria yang aman, praktis dan efektif. Majalah Mantap, no. 3, 1985.

Oleh karena itu sangat wajar apabila diperlukan perubahan sikap dari kaum

laki-laki yang didasari pengetahuan keluarga berencana, pengalaman dan sikap

sosial.Kewajiban ini jelas sekali tercantum dalam pasal 18 undang-undang nomor

10 tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan pembangunan

Keluarga Sejahtera yang menentukan bahwa suami dan isteri mempunyai hak

yang sama serta kedudukan yang sederajat dalam menentukan cara pengaturan

kelahiran.60 Adalah suatu fakta bahwa tidak sedikit remaja yang tidak mampu

dan tidak tahu bagaimana menggunakan kontrasepsi. Dalam hal kontrasepsi,

perempuan, termasuk remaja perempuan, sering tidak ada hak untuk memilih

cara kontrasepsi. Dalam penggunaan kondom misalnya, remaja perempuan

sering harus bernegosiasi dahulu kepada partner laki-lakinya dan tidak sedikit

pula remaja perempuan yang dipaksa melakukan hubungan seksual tanpa

perlindungan kontrasepsi. Dalam hal ini, mungkin ada pengaruh budaya atau

kepercayaan terhadap keterbatasan penggunaan kontrasepsi.

3. Remaja dan hak mendapatkan pelayanan kesehatan reproduksi

Sama halnya dengan manusia lainnya, seorang remaja mempunyai hak

yang sama terhadap akses ke sebuah pelayanan kesehatan. Tetapi

kenyataannya menunjukkan biasanya mereka memiliki keterbatasan terhadap

akses ke pusat pelayanan atau metoda kontrasepsi. Pusat pelayanan pada

umumnya tidak dirancang untuk menerima klien atau pasien remaja. Disisi lain,

provider (pelayanan kesehatan) juga enggan untuk memberikan pelayanan

kontrasepsi kepada remaja, terutama bagi yang tidak menikah. Di beberapa

negara, hukum dan peraturan yang ada sangat membatasi penggunaan kontrasepsi

60 Undang-undang nomor 10 tahun 1992 tentang Perkembangan Kependududukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera.

pada remaja yang tidak menikah. Tidak jarang, seorang remaja tidak memiliki

uang untuk pergi ke pusat pelayanan. Klien muda usia takut untuk dihakimi oleh

provider dan klien tua, atau mereka takut diketahui oleh orangtuanya.

Perempuan muda juga takut untuk diperiksa panggul, mereka hanya mau

dilayani oleh orang yang mereka percayai.

Dalam hal akses ke pelayanan kesehatan ini, berbeda dengan Usia Lanjut,

hak remaja untuk mendapat pelayanan kesehatan dan informasi, tidak secara

eksplisit tercantum pada UU Kesehatan no. 23 tahun 1992. Tidak jelas, apakah

karena remaja termasuk anak, yang disebabkan karena usianya belum 18 tahun,

sehingga tidak perlu dicantumkan khusus mengenai remaja.61 Tetapi karena

Dalam dokumen HAK REMAJA PEREMPUAN ATAS HAK REPRODUKSI (Halaman 50-94)

Dokumen terkait