BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Strategi Indo’Botting Dalam Pengembngan Usaha
3. Harga Sewa Jasa Indo’botting
Harga merupakan hal yang kemudian dilihat oleh orang yang ingin menyewa jasa indo’botting setelah variasi perlengkapan pengantin dan juga merupakan salah satu alasan mengapa masyarakat masih tetap menggunakan jasa indo’botting karena harga sewa jasa indo’botting sesuai dengan permintaan konsumen dan dapat menyesuaikan harga sewa dengan kondisi ekonomi penggunanya, sedangkan WO mematok harga yang lebih tinggi,
80 dikarenakan WO mengorganisir upacara perkawinan secara kompleks dan konsumen hanya dapat memilih paket yang telah ditentukan oleh WO. Menurut indo’botting H. Bondan (45 tahun), penentuan harga tergantung dari permintaan pakaian, dekorasi, serta perlengkapan lainnya yang telah disediakan oleh indo’botting.
Semakin banyak pelengkapan yang dibutuhkan konsumen, maka semakin tinggi pula bayaran yang akan diterima oleh indo’botting, dan semakin sedikit perlengkapan yang diminta oleh konsumen, maka semakin sedikit pula biaya yang harus dia keluarkan. Ada beberapa contoh upacara perkawinan Bugis mulai dari upacara perkawinan yang cukup mewah hingga yang sangat sederhana dikota parepare dari beberapa indo’botting :
“Ero bottinna anakna Puang Aso patappulo lima juta ualengi harga tapi muita meto tu maga kanjana pakeanna, ero lagi de’
gaga dui usorokeng iya apa anggotaku mopa siaga upake. Ero bawang usorokeng apa tattambah si pakeang bottingku sibawa perlengkapan botting e rekeng apa anu baru maneng uelliang i nappa mega tau upake balikka ma’ gattung (Memet, 32 tahun)
“Upacara perkawinan anak dari Puang Aso membutuhkan harga sewa sebesar 45 juta rupiah, tatapi pakaiannya dibuatkan yang terbaik, itupun tidak ada keuntungan berupa uang yang saya dapatkan, keuntungan yang saya dapatkan hanya dari pakaian dan perlengkapan lain yang sudah menjadi milik saya karena semua perlengkapan saya beli yang baru untuk digunakan untuk upacara tersebut dan banyak tenaga yang saya butuhkan untuk memasang lamming dan tabere”.
Kutipan di atas merupakan hasil wawancara dari indo’botting Memet yang telah menyelesaikan salah satu upacara perkawinan yang cukup mewah di kota Parepare dengan harga sewa jasanya
81 Rp. 45.000.000,-.Kemudian ada pula kutipan dari indo’botting H.
Damang (43 tahun) :
“Terakhir iye botting ku e seppulo pitu juta, dua waju baru ujaikeng i nappa upappake i memenni memenni mappettuada.
Ero seppulo e pitu juta bekke tellu upappake i pakeang botting, wenni mappaccina, esso bottinna, sibawa bajanna melo lao mapparola. De’ to gaga pesta winninna, purana kawing tappa tudang toni jadi bajanna meni rekeng si. Tapi lengkap maneng ni bosara na aga nappa bosara modele baruku uarengngi, penne bossara, penne anreang, prasmanan pokoknya lengkap, upacantiki toni kamara bottinna (H. Damang, 43 tahun).
“upacara perkawinan yang saya kerjakan baru-baru ini membayar sewa jasa sebesar 17 juta rupiah, saya merias mulai prosesi mappettuada. Dari harga 17 juta tersebut, saya merias pengantin sebanyak 3 kali mulai malam mappacci, hari perkawinan, dan esok hari untuk prosesi mapparola. Tidak ada resepsi pada malam hari, fasilitas di berikan yang terbaik serta kamar pengantin yang didekorasi dibuat secantik mungkin”.
Kutipan di atas menjelaskan H. Damang yang juga merupakan indo’botting yang cukup terkenal di kota Parepare dimana ketika penggunaan sewa jasanya seharga Rp. 17.000.000,’, maka fasilitas yang diberikan kepada pengguna indo’botting harus sesuai dengan harga sewa yang dibayarnya karena kepuasan konsumen merupakan hal utama agar supaya usaha tetap bertahan.
Selanjutnya ada kutipan dari Hj. Sennang (67 tahun) yaitu :
“Tergantung maga elona punna e acara, ko meloko makanja yaa masoli soli to tu, tapi ko keluarga biasa de’ ipappada i ko tau laingnge. Ko upalengkap maneng prasmanan e, meja bosara, cangkir, penne ceper, penne anreang okko bolana botting e, bosara na aga biasa, nappa uakkibuarenni waju baru ero na pake i pesta sekitar seppulo lima juta ko keluarga biasa tasseppulo mi juta aga yang penting rekeng genne ni upissaroang anggotaku ero lao e magattung. Laingsi ko luar daerah, iperhitungkan maneng dui bensing e aga sibawa anrena anggotaku okko laleng e. Tapi engka meto biasa ta’
lima mi juta tapi okko mi bawang bolana igattungeng lamming nappa ko mattenda i pale igattungeng toni cedde okko tenda e tapi tania iya misseng maneng i prasmananna, cangkirina,
82 pennena anreang sibawa penne ceperena aga nappa ta bekke dua mi massele waju, mappacci bawang rekeng sibawa esso menrena botting e. (H. Sennang, 67 tahun)”
“tergantung bagaimana keinginan yang ingin melakukan upacara perkawinan, kalau mau yang terbaik pasti harga sewanya agak mahal, tetapi biasanya jika yang mau melakukan upacara perkawinan adalah keluarga, biasanya tidak diberi harga sewa seperti harga sewa yang diberikan kepada orang lain. Jika saya yang menyiapkan perlengkapan seperti cangkir, piring ceper, dan piring makan dirumah pengatin, bosaranya juga saya yang menyediakan, kemudian saya membuatkan baju baru untuk resepsi, sekitar 15 juta, tetapi kalau keluarga biasanya hanya sekitar 10 juta, yang penting sudah cukup untuk membayar upah orang-orang yang membatu saya. Lain pula jika upacara perkawinan berada diluar daerah, semua uang transportasi dan uang makan untuk orang-orang yang akan membantu saya menyelesaikan persiapan perkawinan tersebut diperhitungkan dengan baik. Tetapi ada juga yang hanya membayar sekita 5 juta, tetapi pelaminan dan tabere hanya dipasangkan di rumah pengantin dan jika dia menggunakan tenda, dan perlengkapan lain seperti prasmanan, piring makan, cangkir, serta piring ceper saya tidak tanggung dan dirias hanya 2 kali yaitu mappacci dan esso menre botting”.
Hj. Sennang menjelaskan pada kutipan diatas bahwa ada beberapa pertimbangan dalam memberi harga, dimana ketika yang akan menikah adalah keluarga, maka harga yang diberikan pasti akan berbeda dengan harga yang diberikan orang lain. Misalnya, orang lain menyewa jasanya akan diberi harga sekitar Rp.15.000.000,- maka keluarga hanya akan diberi harga Rp.
10.000.000,-. Tidak hanya itu, Hj. Sennang juga biasa menerima harga jasa sebesar 5.000.000,- tetapi fasilitas yang digunakan juga pastinya sangat berbeda. Hal tersebut dibenarkan oleh salah satu informan sebagai pengguna indo’botting yang juga merupakan keluarga Hj. Senang (67 tahun) :
83
“de’na mungkin sappa ka indo’botting laing e iya apa engka mo pakeanna hj. Sennang makanja toni nappa na pasempoi metoki. Nappa ero aga apa’ keluarga, tuli nakkibuareng tona waju baru, tania iye masempoe na maroa’. Baru-baru iya bottinna anureku, pakeanna mo aji sennang upake na puas maneng mo keluarga e” (Hj. Wati, 48 tahun)
“Saya tidak mungkin mencari indo’botting yang lain karena sudah ada pakaian dari Hj. Sennang, pakaiannya sudah bagus dan harga sewanya juga lebih murah, selain itu saya juga mempunyai hubungan keluarga dan selalu membuatkan baju baru, bukan yang ramai dan murahan. Baru-baru ini, upacara perkawinan kemanakan saya, saya menggunakan jasa indo’botting Hj. Sennang dan mereka merasa sangat puas”.
Menurutnya, hasil kerja dari indo’botting cukup memuaskan dan harga penyewaannya cukup murah. Dan hal lain mengapa dia masih menggunakan jasa indo’botting, karena indo’ botting yang selama ini dia sewa jasanya juga merupakan keluarganya sendiri. Dan yang terakhir hasil wawancara dari indo’botting Else (42 tahun) yang sering disewa jasanya oleh pengantin-pengantin kelas mengengah ke bawah.
“Ko harga e tergantung pakeang e, ko kawing bawammi rekeng taue biasa ta dua mi juta aga. Tapi ko melo i lengkap lollong prasmanan aga engka toni lammingna okko tenda e biasa asera juta.Ko botting dua mi juta bottingku engkana usorokeng iya bansa siddi juta, nappa ero siddi e juta ubageni okko anak-anakku rekeng ero balikka magattung sibawa madduttung, uwajakettoni passessaku aga apa langsungsi isessa maneng pakeang e ko pura napake tau e supaya tappa iala meni bawang ko melo si ipake okko botting laing e. engka lalo aga ta limarratu mi serbu lettu siddi juta. Tapi sisemmi ipappakei (Else, 42 tahun)
“Kalau masalah harga tergantung pakaian, jika hanya sebatas akad nikah biasanya hanya membayar hargasewa sebanyak 2 juta. Tetapi jika ingin fasilitas yang lengkap dengan prasmanan dan dipasangkan juga lamming pada tenda, biasanya saya beri harga 9 juta. Kalau harga sewa pengantin seharga 2 juta, saya sudah mendapat keuntungan sebanyak 1 juta, kemudian 1 jutanya lagi digunakan untuk membayar upah anak-anak yang membantu saya menggantung dan mencabut lamming dan
84 tabere, dan saya gunakan juga untuk membayar upah tukang cuci, agar pakaian yang sudah dicuci bisa langsung dipakai lagi untuk pengantin yang lain. Bahkan ada yang hanya membayar seharga 5 ratus ribu hingga 1 juta, tetapi hanya dirias sebanyak 1 kali”.
Dalam kutipan di atas, dia menjelaskan bahwa ada beberapa pengantin yang tidak melaksanakan upacara perkawinan secara meriah. Seperti warga masyarakat yang dalam kelas ekonomi rendah dan ada pula yang dinikahkan dalam keadaan terpaksa (hamil diluar nikah), yang hanya membutuhkan biaya sewa indo’botting sekitar Rp. 2.000.000 bahkan ada yang hanya membayar sewa jasa seharga Rp. 500.000-1.000.000,- dengan fasilitas di bawah standar perlengkapan upacara perkawinan Bugis pada umumnya.
Itulah mengapa indo’ botting masih selalu digunakan jasanya di kota Parepare, dan mereka yakin kalau usaha indo’botting ini tidak akan pernah hilang dalam masyarakat Bugis. Selain pengetahuan lokal dan pengalaman yang dimilikinya, harga sewa jasa indo’botting dapat disesuaikan dengan kondisi ekonomi orang yang ingin menggunakan jasanya.
85 BAB VI
PENUTUP A. Kesimpulan
Indo’botting merupakan salah satu figur yang sangat dibutuhkan dalam upacara perkawinan Bugis khususnya di kota Parepare.
Indo’botting mempunyai peran mulai dari prosesi mappettuada hingga pada resepsi perkawinan. Peran indo’botting dalam upacara perkawinan yaitu mulai dari merias pengantin, dekorasi, perlengkapan makan, dan memulai beberapa prosesi upacara yaitu dio majang dan mappacci serta menjaga pengantin perempuan pada saat prosesi mappasikarawa.
Upacara perkawinan Bugis tidak akan berlangsung sebagai mana mestinya jika tidak ada indo’botting yang berperan di dalamnya.
Saat ini kita dikejutkan dengan keberadaan Wedding Organizer yang juga bisa mengorganisir upacara perkawinan secara kompleks bahkan berkonsep lebih moderen. Hal tersebutlah yang membangun semangat indo’botting untuk terus memperbaiki hasil kerjanya dalam upacara perkawinan dengan terus memperbaharui pengetahuannya mengenai konsep-konsep perkawinan Bugis moderen saat ini. Jadi, perlengkapan untuk upacara perkawinan yang dimiliki indo’botting kini juga mempunyai konsep lebih moderen tetapi tidak keluar dari konsep perkawinan adat Bugis. Mereka yakin akan terus digunakan jasanya pada upacara perkawinan Bugis karena pengetahuan lokal yang dimilikinya, serta pengetahuan yang didapatkan dari pengalamannya tidak akan bisa
86 disaingi oleh WO yang masih terbilang sangat baru dalam upacara perkawinan, khususnya pada perkawinan adat Bugis. Indo’botting juga mempunyai harga yang lebih rendah daripada WO, karena indo’botting bisa menyesuaikan kondisi ekonomi dari pengguna yang ingin menggunakan jasanya serta pengetahuan lokal mengenai upacara perkawinan Bugis khususnya pengetahuan mengenai cenningrara.
87 B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan, ada dua hal yang perlu dijadikan perhatian utama yaitu :
1. Berdasarkan deskripsi hasil penelitian yang penulis lakukan, indo’botting merupakan figur yang sangat berpengaruh dalam kegiatan perkawinan. Penulis menaruh perhatian yang sangat dengan pewarisan pengetahuan yang indo’botting miliki mengenai pengetahuan lokal, sebab ini merupakan warisan para leluhur masyarakat Bugis khususnya di Kota Parepare yang masih ada, relevan serta bertahan hingga saat ini.
2. Bagi pemerintah sebaiknya dapat memperhatikan budaya-budaya lokal, khususnya dalam upacara perkawinan, pemerintah harusnya melakukan inventarisasi serta pengenalan budaya lokal sebagai identitas masyarakat Bugis agar mampu menumbuhkan rasa bangga dengan kekayaan kultural dalam masyarakat Sulawesi Selatan khusunya di Kota Parepare.
88 DAFTAR PUSTAKA .
Datuan, Maike Yulita. 2011. Makna Simbolik Tahu-Tahu Dalam Sistem Stratifikasi Sosial Pada Pelaksanaan Upacara Rambu Solo’
di Kelurahan Leatung Kecamatan Sangalla’ Utara
Kabupaten Tana Toraja. Skripsi Pada Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas
Hasanuddin.
Endaswara, Suardi. 2003. MetodologiPenelitianKebudayaan. Gajah mada University Pers :Yogyakarta
Eriksen, Thomas Hylland. 2009. Antropologi Sosial dan Budaya. Ledalero : Maumere
Hadikusuma, Hilman. 2003. Hukum Perkawinan Adat Istiadat dan Upacara Adat. CV. Maju Mundur : Bandung
John W. Creswell. 2013.Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif dan Mixed. Pustaka Pelajar : Yogyakarta Koentjaraningrat. 1986. Pengantar Ilmu Antropologi. Aksara Baru :
Jakarta.
Marzali, Amri. 2006. Struktur-fungsionalisme. Jurnal Antropologi Indonesia Vol. 30, No. 2. : Jakarta
Millar, Susan Bolyard. 2009. Perkawinan Bugis. Ininnawa: Makassar
Moleong, Lexy J. 2011. MetodologiPenelitian Kualitatif. Remaja Rosdakarya : Bandung
Mulyana, Deddy. 2002. MetodePenelitian Kualitatif; Paradigma baruilmukomunikasidanilmu sosial lainya. PT. Remaja Rosdakarya : Bandung
Nasrullah, Rulli . 2015. Media Sosisl Perspektif Komunikasi, Budaya, dan, Sosioteknologi. Simbiosa Rekatama Media : Bandung Noviardi S, Semi. 2003. Kawin Lari Dalam Budaya Siri Pada Masyarakat
Suku Bugis Di Kecamatan Nipah Panjang Kabupaten Tanjung Tiniur Propinsi Jambi (Elopement in Sirri Culture in Bugis Trible Society in Nipan Panjang District, East Tanjung Jabung Ragency Jambi Province). Master Thesis, Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro
89 Pelras, Cristian. 2006. Manusia Bugis, Diterjemahkan Dari Bahasa Inggris:
The Bugis Oleh Abdul Rahman Abu, Hasriadi, dan Nurhady Sirimorok. Nalar : Jakarta
Rohayati, Vita. 2016. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pemilihan Seni Tata Rias Pengantin di Banjarnegara. Sripsi. Jurusan Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang
Saifuddin, AchmadFedyani. 2005. AntropologiKontemporer. Kencana : Jakarta
Sani, M Yamin. 2010. Makna Simbol dan Fungsi Tata Rias Pengantin Pada Suku Bangsa Bugis di Sulawesi Selatan. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan Spradley, James P. 2007. Metode Etnografi.Yogyakarta :Tiara Wacana
Yogyakarta
Soekanto, Soerjono. 2002.Teori Peranan. Bumi Aksara : Jakarta.
Soekanto, Soerjono. 2007. Sosiologi Suatu Pengantar / Soerjono Soekanto. Ed Baru 41. Raja Grafindo Persada : Jakarta.
Tang, Mahmud. 1996. Aneka Ragam Pengaturan Sekuritas Sosial di Bekas Kerajaan Berru Sulawesi Selatan, Indonesia.
Disertasi. Grafisch Service Centrum Van Gils BV : Wegeningan
Warsito, H. R. 2012. Antorpologi Budaya. Penerbit Ombak : Yogyakarta.
Wiguna, Asep Indra Arya. Analisis Kualitas Pelayanan Dalam Meningkatkan Kepuasan Pelanggan Pada Jasa Wedding Organizer di CV Anpian Production Kabuaten Ciamis.Skripsi. Jurusan Ilmu Administrasi Bisnis Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Bina Putra Banjar
Wulandari, Yunika Niken. 2009. Peran Juru RIas Terhadap Pelestarian Tata Rias Dan Busana Adat Solo Putri di Kabupaten Temanggung.Skripsi.Jurusan Teknik Jasa dan Produksi Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang
Sumber Lain :
Undang – Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawian