Eksistensi Indo’ Botting di Kota Parepare : Suatu Studi Antropologi
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mendapatkan Gelar Sarjana Pada Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik
Universitas Hasanuddin
Oleh : Evi Syarifira E511 12 274
DEPARTEMEN ANTROPOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR 2018
iii ABSTRAK
Evi Syarifira, Eksistensi Indo’Botting Di Kota Parepare : Suatu Studi Antropologi (dibimbing oleh Mahmud Tang dan Muhammad Basir)
Upacara Perkawinan merupakan suatu penyelenggaraan kegiatan yang bersifat sakral dan penting khususnya pada masyarakat Bugis. Pelibatan berbagai pihak akan berperan penting dalam upacara perkawinan Bugis, khususnya “indo’botting”.
Secara umum indo’botting berperan sebagai perias untuk pengantin wanita dan membantu segela keperluan dari setiap tahapan upacara perkawinan. Seiring berkembangnya zaman, perlahan peran indo’botting mulai bergeser dengan adanya Wedding Organizer (WO) dan Make Up Artist (MUA).
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan tipe desktiptif dan menggunakan dua jenis data yaitu data primer dan data sekunder serta menggunakan beberapa teknik pengumpulan data yakni wawancara, observasi, dan studi literatur dengan fokus penelitian yaitu (1) Bagaimana status dan peran indo’
botting dalam acara perkawinan? (2) Bagaimana strategi indo’ botting dalam mempertahankan usahanya di Kota Parepare ?
Secara umum Indo’botting memiliki peran aktif dalam seluruh rangkaian upacara perkawinan Bugis seperti, mappetuada, mattale undangan, dio majang, mappacci dan lain-lain. Hasil penelitian juga menggambarkan bahwa indo’boting tetap diminati oleh masyarakat bugis sebagai aspek penting dalam penyelenggaran upacara perkawinan.
Kata kunci : upacara, perkawinan Bugis, indo’botting
iv Abstract
Evi Syarifira, The Existence of Indo'Botting In the City of Parepare: An
Anthropological Study, (Supervised by Mahmud Tang and Muhammad Basir) Marriage ceremony is a sacred and important activity, especially for Bugis society. The involvement of various parties will play an important role in the Bugis’s marriage ceremony, especially ‘indo’ botting’. In general, indo botting has a role to help the make up for the brides and all the needs of each phase of marriage ceremony. As the times pass by, the role of indo’ botting begin to switch off by the Wedding Organizer (WO) and Make Up Artist (MUA)
This research use qualitative method with descriptive type and use two kind of data: primary and secondary, and use a few data collection method: interview, observation, and literature review with focus research: (1) how the status and the role of indo botting in marriage ceremony? (2) how is the strategy of indo botting to preserve their business in Kota Pare-Pare?
Generally, indo botting has an active role in entire phase of Bugis marriage ceremony, such as: mappettuada, mattale undangan, dio majeng, mappacci,etc. the result of this research has shown that Bugis society still interest toward indo botting as an important aspect in organizing Bugis marriage ceremony.
Key words: ceremony, Bugis marriage, indo botting.
v KATA PENGANTAR
Puji syukur Alhamdulillah penulis ucapkan atas berkat rahmat dan hidayah Allah SWT penyusunan skripsi dengan judul “Eksistensi Indo’Botting di Kota Parepare : Suatu Studi Antropologi” dapat diselesaikan. Dalam penyusunan Skripsi ini penulis membaginya kedalam 6 bab utama, bab awal (BAB I dan BAB II) berisikan mengenai landasan awal melakukan penelitian hingga ke tinjauan konseptual skripsi, bab selanjutnya (BAB III) berisikan metode yang digunakan dalam penelitian, (BAB IV dan BAB V) berisikan penjabaran data yang penulis peroleh dari hasil penelitian yang dilakukan mulai dari gambaran umum Kota Parepare serta sarana umum yang digunakan untuk pesta perkawinan, dan penjabaran hasil penelitian mengenai Peranan indo’botting dalam upacara perkawinan, pada bab terakhir (BAB VI) berisikan tentang kesimpulan dan saran dari hasil penelitian yang telah dilakukan.
Penulis sangat menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi oleh karena itu penulis sangat mengharapkan sebuah saran dari semua pihak yang dapat membangun, tak lupa juga penulis mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. Mahmud Tang, MA sebagai Pembimbing I dan Dr. Basir Said, MA sebagai Pembimbing II yang telah tulus meluangkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk membantu mengawal dari awal penelitian hingga penulisan skripsi ini, penulis mengucapakan banyak terima kasih.
Makassar, 18 Januari 2018
EVI SYARIFIRA
vi UCAPAN TERIMA KASIH
Alhamdulillah, puji syukur penulis haturkan kehadirat Allah SWT karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Tak lupa pula penulis mengirimkan salam dan Shalawat kepada Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membawa umat Islam jalan yang senantiasa diberkati Allah SWT.
Skripsi yang berjudul “EKSISTENSI INDO’BOTTING DI KOTA PAREPARE : SUATU STUDI ANTROPOLOGI” merupakan salah satu syarat untuk mencapai gelar sarjana Antropologi pada Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin. Terwujudnya skripsi ini tidak lepas dari partisipasi dan bantuan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini, saya mengucapkan penghargaan setinggi- tingginya kepada seluruh pihak yang telah membantu mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga penulisan skripsi.
Pertama-tama ucapan terima kasih kepada orang tua saya Syarifuddin dan Hj. Bahriah Bambi atas dorongan dan doanya yang tidak pernah putus dan telah meringankan langkah penulis untuk menghadapi segala kesulitan yang menghadang serta motivasi hingga sampai detik ini penulis tetap kuat dan bersemangat dalam menyelesaikan studi dan kepada kakek saya P.
Rappung saya yang memberikan dukungan baik itu moral maupun material dalam rangka penyelesaian studi ini serta keluarga besar yang banyak memberi motivasi kepada penulis. Tak lupa pula penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA selaku Rektor Universitas Hasanuddin yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk dapat mengenyam pendidikan tinggi pada program Strata-1 (S1) Universitas Hasanuddin.
2. Prof. Dr. Andi Alimuddin Unde M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin, beserta seluruh staf.
vii 3. Prof. Dr. Supriadi Hamdat, MA selaku Ketua Departeman Antropologi
Universitas Hasanuddin
4. Prof. Dr. Mahmud Tang, MA selaku pembimbing I (pertama) penulis yang senantiasa meluangkan waktu, pikiran dan tenaganya guna memberikan bimbingan kepada penulis hingga terselesaikannya tulisan ini.
5. Dr. Muhammad Basir, MA selaku Pembimbing II (Kedua) yang telah meluangkan waktu untuk memberikan saran mulai dari proses penyusunan proposal penelitian hingga pada proses penulisan hasil penelitian.
6. Dr. Yahya, MA selaku Penasehat Akademik yang juga banyak memberi saran kepada penulis.
7. Kepada ketiga penguji saya (1) Prof. Dr. M. Yamin, Sani, MS. (2) Dr.
Yahya, MA dan (3) Muhammad Neil, S.Sos., M.Si yang telah banyak memberikan saran, krtitik dan arahan dari awal penelitian guna menuntun penulis untuk melakukan penelitian hingga penulisan skripsi.
8. Prof. Dr. Hamka, MA., Prof. Dr. Ilmi Idrus, Ph.D., Prof. Dr. Pawennari, MA., Dr. Munsi Lampe, MA., Dr. Ansar Arifin, MS., Dra. Nurhadelia, M.Si., Dr. Safriadi, S.IP, M.Si., Dr. Tasrifin Tahara, M.Si,. Icha Musywirah Hamka, M.Si., Ahmad Ismail, S.Sos, M.Si., Hardianti
viii Munsi, S.Sos, M.Si. selaku Dosen Deprtemen Antropologi yang telah memberikan ilmu dengan tulus dan ikhlas kepada penulis.
9. Staf pegawai di Departemen Antropologi Sosial bapak Idris, Ibu Ima, dan bapak Yunus.
10. Roni Paulus, Ramlan Bahar, A.M.Yusuf, Jayana Suryana Kembara, A.
Cipta Surya, Irfan Sakkir, Ari Suryansyah, Muh. Kamil Jafar N Muhammad Aris, Heru Priyanto, Bayu Andika Putra, Ardi, Sudirman, Adi Kusuma Putra, Andi Iqbal, Anwar, Amiluddin, Hutomo yang telah meluangkan waktu untuk mendengar celotehan penulis berkenaan dengan penelitian ini serta membantu penulis dalam proses penulisan.
11. Seluruh Informan yang telah bersedia meluangkan waktunya di tengah-tengah kesibukan aktivitas kesehariannya.
12. Adinda Enan Winandar, Egi Nugrini, dan Elmi Amalia atas senyum dan keceriaannya menyambut penulis ketika kembali ke rumah.
13. Seluruh mahasiswa Jurusan Antropologi angkatan 2012 khususnya Wahyunis, Nurul Fatimah Azzahrah, A. Sarny A. Gasli, A. Tri Purnama Sari, Usry, Fitria Ismail, Muh. Hasrul Majid yang telah memotivasi penulis serta meluangkan waktu untuk menyumbangkan idenya dalam penulisan Skripsi ini.
14. Seluruh Kerabat HUMAN FISIP UNHAS khususnya Fardian Anwar Ibrahim, Efriaty, Astina, A. Khairimagfirah, Asbudi, Diman, Ardan,
ix Masli, Imam yang telah memotivasi dan menghibur penulis dalam penulisan Skripsi ini.
15. Himpunan Mahasiswa Antropologi (HUMAN) FISIP UNHAS yang telah menjadi wadah penulis merasakan pahit manisnya organisasi kemahasiswaan dan pula menjadi tempat belajar sembari bergaul.
16. Serta seluruh pihak yang ikut membantu, baik secara langsung maupun tidak langsung. Penulis hanya bisa berdoa, semoga Allah membalas kebaikan-kebaikan mereka dengan setimpal. Amin.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis memohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan skripsi ini. Kritik dan saran kepada penulis sangatlah dihargai demi penyempurnaan penulisan serupa di masa yang akan datang. Besar harapan penulis, semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan dapat bernilai positif bagi semua pihak yang membutuhkan.
Makassar, 18 Januari 2018
EVI SYARIFIRA
x DAFTAR ISI
Lembar Pengesahan ... ii
Abstrak ... iii
Abstrak ... iv
Kata Pengantar ... v
Ucapan Terimakasih ... vi
Daftar Isi ... x
Daftar Gambar ... xi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ...1
B. Fokus Penelitian ...5
C. Tujuan Penelitian ...5
D. Manfaat Penelitian ...5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Penelitia Sebelumnya ...6
B. Konsep Perkawinan Bugis ... 12
C. Konsep Status dan Peran ... 16
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Tipe Penelitian ... 20
B. Penentuan Lokasi dan Waktu Penelitian ... 20
C. Teknik Penentuan Informan ... 21
D. Jenis dan Teknik Pengumpulan Data ... 26
1. Wancara ... 26
2. Observasi ... 28
3. Studi Literatur ... 29
4. Teknik Analisis Data ... 29
E. Sistematika Penulisan ... 30
BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI A. Letak Geografis ... 31
B. Sejarah Kota Parepare ... 31
C. Gedung Perkawinan Di Kota Parepare ... 35
D. Prosesi Perkawinan ... 39
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Indo’botting Dalam Acara Perkawinan Bugis ... 46
xi
1. Mappettuada ... 58
2. Mattale Undangeng (Menyebar Undangan) ... 61
3. Dio Majang (Mandi Mayang) ... 62
4. Wenni Mappacci ... 65
5. Esso Menre Boting ... 66
6. Resepsi Perkawinan ... 67
B. Strategi Indo’Botting Dalam Pengembngan Usaha ... 70
1. Media Sosial (Instagram Dan Facebook Sebagai Media Promosi Indo’botting ... 74
2. Variasi Perlengkapan Pengantin (Tradisional - Moderen) ... 77
3. Harga Sewa Jasa Indo’botting ... 79
BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan ... 85
B. Saran ... 87
C. Daftar Pustaka ... 88
xii DAFTAR GAMBAR
Gambar V. 1 Gedung Islamic Center ... 36
Gambar IV. 2 Gedung Baruga Pratistha ... 37
Gambar IV. 3 Hotel Grand Kartika ... 38
Gambar IV. 4 : Hotel Delima Sari ... 39
Gambar V. 5 Alat makeup yang digunakan untuk mendandani pengantin perempuan ... 49
Gambar V. 6 Potto botting (gelang pengantin) modern ... 50
Gambar V. 7 Pinang Goyang ... 50
Gambar V. 8 Anting-anting ... 50
Gambar V. 9 Rante Botting (kalung pengantin) ... 50
Gambar V. 10 Kutu-kutu ... 51
Gambar V. 11 Simpolong Tettong ... 51
Gambar V. 12 Pantteppo ... 51
Gambar V. 13 Lamming (pelaminan) yang akan digunakan untuk prosesi mappacci ... 54
Gambar V. 14 Dekorasi kamar pengantin ... 55
Gambar V. 15 Contoh riasan dan pakaian pada prosesi mappettuada .... 61
Gambar V. 16 Tabere yang digunakan pada saat mappettuada ... 61
Gambar V. 17 Contoh bosara pada saat mappettuada ... 61
Gambar V. 18 Dio majang yang dipimpin oleh indo’botting ... 63
Gambar V. 19 Bosara yang digunakan mulai esso turung sampai setelah akad nikah ... 64
Gambar V. 20 Indo’ Botting pada saat upacara mappacci ... 65
Gambar V. 21 Indo’botting ketika menjaga pengantin perempuan dalam proses mappasikarawa ... 67
Gambar V. 22 hasil make up dan pakaian yang digunakan pada saat resepsi perkawinan ... 68
Gambar V. 23 Lamming saat resepsi perkawinan ... 69
Gambar V. 24 Tabere untuk resepsi perkawinan ... 69
xiii Gambar V. 25 Baju Pengantin moderen yang dipadukan dengan sarung yang terbuat dari kain menyerupai sari India ... 79
1 BAB I
PENDAHULIAN
A. LATAR BELAKANG
Upacara perkawinan pada suku Bugis sering kali diselenggarakan secara meriah, sehingga upacara perkawinan merupakan upacara paling meriah dibanding upacara-upacara lainnya yang ada dikehidupan masyarakat Bugis. Apalagi jika upacara perkawinan diselenggarakan oleh orang-orang dari kalangan bangsawan, maka upacara tersebut harus dipersiapkan semaksimal mungkin oleh tokoh adat, tokoh masyarakat, dan bahkan partisipasi dari kelompok masyarakat tertentu agar upacara dapat terlaksana dengan baik dan dapat memuaskan semua pihak yang terlibat dalam upacara perkawinan tersebut (Sani, 2010 : 33)
Dalam pesta perkawinan orang Bugis memiliki dua tahap. Tahap yang pertama adalah acara perkawinan (ma’pabotting atau menre’ botting atau ‘naiknya mempelai’) yang dilaksanakan di rumah mempelai perempuan tanpa dihadiri kedua orang tua mempelai laki-laki. Tahapan kedua adalah ma’parola yaitu membawa pengantin pengantin perempuan ke rumah orang tuanya (Pelras, 2006:181-182).
Sebelum kedua tahapan diatas dilakukan, terlebih dahulu diadakan persiapan (tahapan awal) rangkaian kegiatan acara perkawinan, para kerabat keluarga dan tetangga akan bersama-sama mempersiapkannya.
Para keluarga dan tetangga mempersiapkan beberapa atribut atau perlengkapan perkawinan yang akan dilaksanakan seperti pembuatan
2 walasuji yaitu kegiatan dimana orang-orang berkumpul dengan tujuan membuat anyaman bambu yang dibentuk khusus dalam upacara perkawinan Bugis. Selain walasuji, salah satu kegiatan lainnya adalah massarapo yang berarti membuat ruangan khusus untuk kerabat, keluarga dan tetangga yang akan datang membantu dalam membuat makanan yang akan disajikan. Sebelum pesta perkawinan akan di lakukan kegiatan seperti ma’barasanji atau ritual khusus yang bernuansa Islami dalam upacara perkawinan, ada banyak pihak yang berperan, salah satu yang paling penting adalah seorang “indo’botting” yang secara harfiah berarti inang pengantin (Pelras, 2006:183). Dalam perkawinan Bugis, peran indo’botting yaitu merias pengantin wanita, memandu pengantin wanita menuju pelaminan serta yang paling penting adalah pengetahuan tradisional mengenai proses dalam merias pengantin agar pengantin dapat memancarkan aura kecantikannya. Akan tetapi dalam perkembangan zaman yang modern ini, perlahan peran indo’botting mulai bergeser dengan adanya Wedding Organizer (WO) dan Make Up Artist (MUA).
WO merupakan suatu bidang pekerjaan di sektor jasa khusus pada bidang organisir acara-acara tertentu seperti, organisir acara, seminar, event dan pesiapan acara perkawinan yang secara pribadi membantu calon pengantin serta keluarga dalam perencanaan atau supervisi pelaksanaan rangkaian acara pesta perkawinan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. WO Yang kini mulai digunakan jasanya dikalangan
3 masyarakat-masyarakat sosialita yang buming dalam media sosial dan media internet untuk mempersiapkan acara perkawinan.
WO juga memberikan informasi mengenai berbagai macam hal yang berhubungan dengan acara perkawinan, serta memfasilitasi, negosiasi, dan koordinasi dengan pihak gedung/hotel dan supplier/vendor seperti catering, dekorasi, fotografer, perias, grup musik, dan lain-lain, dan juga mempunyai konsep acara perkawinan yang lebih medern seperti yang banyak digunakan di kota-kota besar. WO dikenal oleh masyarakat Bugis lewat media sosial dan media internet yang banyak digunakan oleh masyarakat di ibu kota Sulawesi Selatan (Kota Makassar) hingga ke ibu kota kabupaten-kabupaten yang ada di Sulawesi Selatan, salah satunya yang ada di kota Parepare.
Sedangkan MUA dikenal oleh masyarakat Bugis lewat jasa-jasa tempat kursus make up artist yang banyak bertebaran di ibu kota Sulawesi Selatan (Kota Makassar) hingga ke ibu kota kabupaten-kabupaten yang ada di Sulawesi Selatan. Salah satunya yang ada di Kota Parepare.
MUA juga memiliki keahlian dalam memaksimalkan penampilan wajah, dengan menggunakan sisi gelap terang dari paduan warna yang dilukis di wajah seorang calon pengantin dan juga menyiapkan pakaian yang lebih modern.
Selain yang ada di atas, terdapat pula pengetahuan mendasar indo’botting yang didapatkan secara turun-temurun dari pendahulunya seperti, dekorasi kamar pengantin, dekorasi gedung resepsi, atau dalam
4 bahasa Bugis dikenal dengan istilah “Ma’gattung Lamming” yang berarti hiasan yang digunakan oleh masyarakat Bugis yang terbuat dari kain bludru yang dihiasi dengan manik manik yang dijahit tangan dengan membentuk sebuah pola atau gambar-gambar seperti ayam merak dan bunga panreng yang disimbolkan dengan kecantikan dan kesejahteraan, serta, keahlian indo’botting dalam memaksimalkan penampilan wajah, dengan menggunakan sisi gelap terang dari paduan warna yang dilukis di wajah seorang calon pengantin serta adanya pengetahuan magis yang dikenal dengan penanaman susuk pada wajah mempelai wanita, atau lebih dikenal dengan cenning’rara dalam masyarakat Bugis yang bertujuan untuk mempercantik dan memikat perhatian orang-orang yang melihat pengguna cenning’rara.
Berdasarkan uraian diatas, indo’botting mempunyai peran yang sangat penting dalam upacara perkawinan Bugis, maka menarik perhatian penulis untuk melakukan penelitian dengan mengangkat judul penelitian : Eksistensi indo’botting di Kota Parepare : Suatu Studi Antropologi
5 B. Fokus Penelitian
1. Bagaimana status dan peran indo’ botting dalam acara perkawinan?
2. Bagaimana strategi indo’ botting dalam mempertahankan usahanya di Kota Parepare ?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini dilakukan untuk menggambarkan eksistensi Indo’ Botting pada perkawinan Bugis di Kota Parepare.
1. Untuk menggambarkan status dan peran indo’botting dalam acara perkawinan bugis di Kota Parepare.
2. Untuk menggambarkan strategi indo’botting dalam mempertahankan usahanya.
D. Manfaat Penelitian
Secara akademis penelitian ini di harapkan mampu berkontribusi terhadap perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan umumnya dan khususnya ilmu antropologi serta menambah jumlah referensi penelitian- penelitian yang mengkaji hal serupa.
Secara praktis penelitian ini ialah memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Antropologi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin.
6 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Penelitian Sebelumnya
Penelitian Tang (1969) yang berjudul Aneka Ragam Pengaturan Sekuritas Sosial di Bekas Kerajaan Berru Sulawesi Selatan, Indonesia yang membahas tentang beberapa prosesi upacara perkawinan masyarakat Bugis di Bekas Kerajaan Berru Sulawesi Selatan, Indonesia yang berikut ini :
1. Pemilihan Jodoh
Menurut orang–orang tua dalam masyarakat Bugis, bahwa jodoh yang ideal adalah perkawinan antara mereka yang masih mempunyai hubungan kekerabatan, tetapi perempuan tidak boleh lebih tinggi derajatnya dari dari laki-laki dalam hal ini calon suaminya.
Tetapi pada masa kini, tahap pemilihan jodoh hampir tidak lagi berlaku terutama pada masyarakat Bugis khusnya di kota Parepare.
2. Peminangan
Proses ini dilakukan setelah ditentukan jodoh untuk calon mempelai laki-laki, tetapi sebelum meminang secara resmi, terlebih dahulu orang tua dari calon mempelai laki-laki mengutus anggota keluarganya untuk mecari tahu bahwa apakah gadis yang diinginkan sudah ada atau belum ada yang mengikatnya. Jika semuanya sudah jelas, maka akan dilanjutkan ke tahap selanjutnya yaitu madduta (lamaran secara resmi). Untuk itu kemudian dibutuhkan lagi bantuan
7 dari anggota keluarga yang dianggap berpengalaman dalam hal ini untuk menyampaikan lamaran kepada orang tua si gadis dan pada kesempatan itu pula kedua belah pihak membicarakan jumlah sompa (mas kawin) dan dus menre’ (uang belanja) yang merupakan kewajiban yang harus dipenuhi oleh pihak laki-laki untuk biaya upacara perkawinan.
Akhirnya, suatu peminangan kemudian dilanjutkan dengan upacara yang disebut mappasiarekeng (mempererat ikatan), yang dihadiri oleh beberapa orang dari kedua belah pihak dan berarti semua kesepakatan tidak boleh diubah lagi. Dan kemudian akan dilanjutkan dengan persiapan upacara.
3. Persiapan Upacara
Sebelum masuk dalam tahapan ini, orang tua pengantin terlebih dahulu mendatangi orang yang dituakan untuk berkonsultasi agar diarahkan untuk kelancaran jalannya upacara perkawinan tersebut.
Dalam persiapan upacara, tuan rumah membutuhkan banyak bantuan terutama bantuan tenaga.
Pada proses persiapan ini, penasehat membentuk seksi-seksi dan menunjuk orang-orang untuk bertugas pada setiap seksi seperti seksi peralatan dan bangunan, seksi-seksi protokol, seksi segi empat (domino), seksi penjemputan, seksi penerangan dan seksi kendaraan. Setelah itu, setiap seksi akan memulai tugasnya sesuai dengan apa yang telah ditugaskan kepadanya. Pada tahap
8 persiapan ini juga, kerabat dekat akan memberikan sumbangan yang berupa bahan makan dan sekurang-kurangnya memberi sumbangan tenaga.
4. Malam Tudampenni
Malam tudampenni yang biasa juga disebut dengan wenni mappacci oleh masyarakat Bugis khususnya di kota Parepare diadakan pada hari menjelang upacara perkawinan yang akan dilangsungkan pada keesokan harinya. Upacara ini diawali dengan pembacaan barasanji yang menjadi kewajiban dalam masyarakat Bugis.
5. Menreq kawing
Upacara dimana pengantin laki-laki diantarkan oleh keluarga, tetangga, dan sahabat-sahabatnya, serta pemuda-pemuda yang membawa erang-erang (hadiah yang berupa seperangkat pakaian dan perhiasan yang akan diberikan untuk pengantin perempuan) kerumah perempuan untuk melangsungkan prosesi yang sangat sakral yaitu akad nikah, dimana kedua mempelai dinikahkan oleh penghulu yang kemudian sah menjadi pasangan suami istri.
Keluarga besar dari pengantin perempuan juga bersiap-siap untuk menjemput pengantin pria beserta orang-orang yang mengantarnya ke rumag pengantin pria tersebut.
9 6. Marola
Prosesi ini merupakan salah satu upacara penting dalam upacara perkawinan masyarakat Bugis yaitu kunjungan pengantin perempuan ke rumah pengantin laki-laki setelah selesainya upacara perkawinan di rumah pengantin perempuan yang diantarkan oleh anggota keluarga dari pihak perempuan terutama yang punyai status sosial tinggi yang kemudian dijemput lagi oleh keluarga dari pengantin laki-laki. Keluarga dari pengantin perempuan tidak lupa membawa kue-kue sebagai balasan dari kue yang telah diterima dari pihak pengantin laki-laki.
Setelah pengantin perempuan sampai di depan tangga, seorang perempuan tua kemudian menaburi pengantin perempuan dengan bertih sebagai sambutan selamat datang (pakkuruq sumangq). Salah satu rangkaian dari upacara marola yaitu penyerahan hadiah yang berupa sarung sutera sebagai hadiah balasan kepada orang tua pengantin laki-laki dalam acara mappammatua (hadiah penghormatan kepada mertua).
7. Mabenni Tellumpenni dan Massita Baiseng
Merupakan prosesi terakhir, setelah kedua pengantin baru menginap di rumah pengantin perempuan, maka kedua orang tua pengantin laki-laki atau diwakili oleh keluarga dekatnya untuk mengunjungi besannya (massita baiseng) dan sekaligus menjemput
10 menantunya untuk mabenni tellumpenni (meniginap tiga malam) di rumah orangtua pengantin laki-laki.
Kemudian, Penelitian Wulandari (2009) yang berjudul Peranan Juru Rias Pengantin Terhadap Pelestarian Tata Rias dan Busana Adat Solo Putri di Kabupaten Temanggung menemukan bahwa juru rias pengantin memberikan peranan yang signifikan dalam melestarikan tata rias dan busana pengantin adat solo putri di Kabupaten Temanggung, maka bagi para juru rias pengantin harus dapat meningkatkan pengetahuan dan keahlian tentang tata rias dan busana pengantin tradisional agar dapat melestarikan tata rias dan busana pengantin tradisional sebagai salah satu kebudayaan nasional dan sebagai ciri khas bangsa Indonesia. Dari hasil penelitian perlu dikembangkan penelitian berikutnya untuk menemukan faktor-faktor lain yang mempunyai pengaruh terhadap kelestarian tata rias dan busana pengantin adat solo putri guna mempertahankan kelestariannya sebagai salah satu kebudayaan nasional.
Penelitian Rohayati (2016) yang berjudul “Faktor-faktor yang mempengaruhi Pemilihan Seni Tata Rias Pengantin di Banjanegara”
menemukan rata-rata calon pengantin dalam pemilihan tata rias pengantin di Banjarnegara ditinjau dari faktor internal sebesar 17% dengan kategori rendah sedangkan ditinjau dari faktor eksternal 12,5% dengan kategori rendah. Masyarakat di Banjarnegara lebih memilih menggunakan tata rias pengantin Jawa muslim pada hari perkawinannya. Simpulan dalam penelitian ini adalah Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan seni tata
11 rias pengantin di Banjarnegara terdiri dari faktor internal meliputi perasaan senang, pengetahuan individu, kebutuhan dan faktor eksternal meliputi juru rias pengantin, lingkungan sosial, status sosio-ekonomi, culture atau kebudayaan.Faktor-faktor yang paling dominan dalam pemilihan tata rias pengantin di Banjarnegara adalah faktor internal yaitu faktor kebutuhan.
Faktor yang paling rendah dukungannya adalah faktor juru rias pengantin faktor ini termasuk dalam faktor eksternal. Calon pengantin di Banjarnegara banyak memilih tata rias pengantin Jawa muslim. Saran yang dapat dikemukakan pada penelitian ini adalah juru rias pengantin di Banjarnegara sebaiknya selalu menciptakan inovasi baru untuk tata rias pengantin tetapi tidak menghilangkan pakem tata rias pengantin berasal.
Bagi calon pengantin khususnya di Banjarnegara diharapkan selalu menambah pengetahuan mengenai tata rias pengantin sehingga dapat memilih mode dan tata rias pengantin sesuai dengan kebutuhan dan keinginan.
Selanjutnya penelitian Wiguna (2015) menemukan bahwa analisis kualitas pelayanan dalam meningkatkan kepuasan pelanggan yang digunakan oleh Perusahaan Wedding CV Anpian Production harus dievaluasi sebagian karena strategi yang digunakan oleh Perusahaan Wedding CV Anpian Production terkesan sedikit masih kurang hanya dengan kebutuhan atau perlangkap saja bagi Perusahaan Wedding CV Anpian Production, meskipun pelayanan yang di tawarkan oleh perusahaan sudah sangat baik dipasaran, namun tanpa analisis maka
12 lambat laun posisi jasa perusahaan akan tergeser oleh jasa perusahan lain dalam kategori yang sama. Selain itu, dengan kurangnya analisis yang dilakukan perusahaan maka secara otomatis perusahaan akan mengalami kekalahan dalam bersaing dengan perusahaan lain yang menawarkan jasa dalam kategori yang sama. Hal ini terbukti dimana perusahaan yang baru berdiri sangat gencar dalam melakukan kegiatan promosinya, yang naitinya akan ada penuruan dari penjualan jasa yang ditawarkan perusahaan.
B. Konsep Perkawinan Bugis
Perkawinan merupakan pranata penting dalam masyarakat sebagai awal terbentuknya pranata keluarga. Dalam pasal 1 Undang-Undang No. 1 tahun 1974 tentang “perkawinan”, menyatakan bahwa perkawinan adalah ikatan lahir dan batin pria dan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa.
”Perkawinan merupakan suatu nilai hidup untuk dapat meneruskan keturunan, mempertahankan silsilah dan keturunan, mempertahankan silsilah dan kedudukan sosial yang bersangkutan.
Disamping itu ada kalanya perkawinan merupakan sarana untuk memperbaiki hubungan yang menjauh atau retak, ia merupakan sarana pendekatan dan perdamaian kerabat dan begitu pula perkawinan itu bersangkut paut dengan warisan dan harta kekayaan…” (Noviardi, 2003).
Berdasarkan defenisi tersebut diatas, perkawinan merupakan akad yang sangat kuat atau ikatan lahir dan batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri untuk menaati perintah Tuhan dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal
13 berdasarkan Tuhan Yang Maha Esa, meneruskan kehidupan manusia dan masyarakat, mempertahankan silsilah dan kedudukan sosial serta memperbaiki hubungan kekerabatan sesuai dengan ajaran agama masing-masing.
Dalam (Warsito, 2012:167-168) juga menjelaskan tentang perkawinan yang merupakan peristiwa penting dalam kehidupan setiap orang. Karena perkawinan tidak hanya menyangkut kepada orang yang bersangkutan saja, tetapi selalu bersangkutan dengan kedua keluarga yang disatukan bahkan sampai kepada pada leluhur mereka. Ketika membahas tentang perkawinan, maka tidak dapat terlepas dari pembahasan mengenai sistem kekerabatan. Sistem kekerabatan merupakan sistem hubungan sosial yang timbul dari keturunan maupun perkawinan. Keturunan yaitu hubungan darah antar orang yang satu dengan yang lain.
Masyarakat Bugis merupakan suku yang menjunjung tinggi aspek kekerabatan, pengetahuan ini merupakan hal yang penting bagi orang Bugis. Prinsip kekerabatan yang dimaksud ialah perkawinan, hal ini dianggap penting karena berkaitan dengan norma seks dan kehidupan rumah tangganya kelak.
Menurut pandangan orang Bugis, perkawinan bukan sekedar menyatukan dua mempelai dalam hubungan suami-istri, melainkan suatu upacara yang bertujuan untuk menyatukan dua keluarga besar yang telah terjalin sebelumnya menjadi semakin erat atau dalam istilah orang Bugis
14 mappasideppe’ mabelae atau mendekatkan yang sudah jauh (Pelras, 2006:178). Oleh karena itu, perkawinan dikalangan masyarakat Bugis umumnya berlangsung antar keluarga dekat atau antar kelompok patronasi (endogami) terutama dikalangan masyarakat biasa karena mereka sudah saling memahami sebelumnya (Hadikusuma, 2003:68) dalam masyarakat Bugis perkawinan dipandang sebagai tempat untuk berbahagia karena terjalinnya sebuah hubungan diantara kedua mempelai pengantin yang telah lama berjauhan melalui perayaan yang didalamnya terdapat sebuah pesta perkawinan yang juga dipandang sebagai suatu hal yang sangat berkaitan dengan status sosial mereka dalam masyarakat, sehingga semakin meriah sebuah pesta dalam perkawinan, maka semakin tinggi pula status sosial yang disandangnya.
Sebetulnya, sebelum dilaksanakan upacara perkawinan orang Bugis mempunyai beberapa proses. Proses awal ialah ma’manu’manu’ yang berarti berbuat seperti burung-burung yang terbang kian kemari untuk mencari makan yakni pengamatan awal untuk mengetahui status kebangsawanannya (Pelras, 2006:181).
Setelah beberapa kegiatan non-formal selesai, dimana pertanyaan- pertanyaan awal yang diajukan kepada keluarga maupun calon mempelai selesai, kegiatan selanjutnya adalah lamaran secara resmi atau dalam bahasa Bugisnya (ma’duta). Pada proses pelamaran, dua keluarga dipertemukan untuk membicarakan persiapan dalam kegiatan perkawinannya. Inti dari pembicaraan tersebut adalah sompa yang secara
15 harfiah berarti persembahan yang diberikan pada calon perempuan berdasarkan status perempuan tersebut dan sompa tersebut akan mejadi hak milik perempuan. Dan dui’menre’ yang berarti uang naik atau uang antaran keluarga laki-laki untuk keluarga perempuan yang ditentukan oleh pihak perempuan sendiri dalam mempersiapkan pesta perkawinannya (Pelras, 2006:81). Dua inti pembicaraan tersebut adalah mas kawin yang diberikan kepada pihak perempuan. Dalam banyak masyarakat mas kawin sering kali disebut mahar atau “harga pengantin perempuan”. Pembayaran mas kawin mengabsahkan hak suami atas istri dan anak-anaknya (Eriksen, 2009:185).
Dalam pesta perkawinan, orang Bugis memiliki dua tahap yaitu : tahap yang pertama adalah acara perkawinan (ma’pabotting atau menre’
botting atau ‘naiknya mempelai’) yang dilaksanakan di rumah mempelai perempuan tanpa dihadiri kedua orang tua mempelai laki-laki, tahapan kedua adalah ma’parola yaitu membawa pengantin pengantin perempuan ke rumah orang tuanya (Pelras, 2006:181-182).
Sebelum kedua tahapan di atas dilakukan, terlebih dahulu diadakan persiapan (tahapan awal) rangkaian kegiatan acara perkawinan, para kerabat keluarga dan tetangga akan bersama-sama mempersiapkannya.
Para keluarga dan tetangga mempersiapkan beberapa atribut atau perlengkapan perkawinan yang akan dilaksanakan seperti pembuatan walasuji yaitu kegiatan dimana orang-orang berkumpul dengan tujuan membuat anyaman bambu yang dibentuk khusus dalam upacara
16 perkawinan Bugis. Selain walasuji, salah satu kegiatan lainnya adalah massarapo yang berarti membuat ruangan khusus untuk kerabat, keluarga dan tetangga yang akan datang membantu dalam membuat makanan yang akan disajikan. Sebelum pesta perkawinan, akan di lakukan kegiatan seperti ma’barasanji atau ritual khusus yang bernuansa islami yang digabungkan dengan mappacci atau ritual yang melibatkan keluarga dekat sebagai simbol dalam perkawinan Bugis.
Ada pula penjelasan tentang perkawinan pada masyarakat Bugis dalam Millar (2011 : 85) bahwa semua proses yang dilangsungkan dalam menyelenggarakan dan merayakan upacara perkawinan mulai dari lamarang hingga penjamuan sampai selesai. Ada lima proses utama dalam upacara perkawinan pada masyarakat Bugis yaitu pelamaran, pertunangan, pernikahan, pesta perkawinan serta pertemuan resmi berikutnya.
C. Konsep Status dan Peran
...A status as, distinct from the individual who may occopy it, is simply a collection of right and duties. Since these rights and duties can find expression only through the medium of indi-it is extremely for to maintain a distinction in our thinking between statuses and the people who hold them and exercise the rights and dutie which constitute them... A rate the dinamic aslft of a status. The indi-vidual is socially assigned to a status and duties which contitute the status info effect, he is performing a role (Linton, 1936 : 113-114).
Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa status merupakan sekumpulan hak dan kewajiban. Dan setiap individu memiliki status yang bebeda sedangkan peran merupakan representasi status yang bersifat
17 dinamis, setiap individu berperan sesuai statusnya dalam hubungan sosial dan melakukan hak dan kewajiban yang menyertainya.
Defenisi peran menurut Soekanto (2002:243), yaitu peran merupakan aspek dinamis kedudukan (status), apabila seseorang telah mendapatkan hak dan melaksanakan kewajiban sesuai dengan kedudukannya, maka ia telah menjalankan satu peranan. Koentjaraningrat (1986:35), mendefenisikan peran sebagai tingkah laku individu yang mementaskan satu kedudukan tertentu.
Penjelasan lebih lanjut mengenai konsep peran dikemukakan oleh Livson yang dikutip oleh Soekanto (2007:212) bahwa :
Peran merupakan serangkaian aturan yang berkaitan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat. Pengertian lain adalah peran pula dapat diartikan sebagai satu konsep perilaku apa yang dapat dilaksanakan oleh individu-individu dalam masyarakat sebagai organisasi. Selain hal tersebut, manusia memiliki kecenderungan untuk hidup secara berkelompok dan berinteraksi satu dengan yang lainnya sehingga peran juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat.
Berdasarkan defensi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa serangkaian perilaku yang diatur berdasarkan norma-norma yang ada dalam struktur sosial masyarakat. Berdasarkan struktur dan peran tersebut, beberapa oknum yang memiliki status dan peran tertentu akan diperlakukan istimewa dibanding status lainnya.
Struktur sosial menurut Marzali (2006:127-137), ialah sebuah
“thewhole” (kebulatan/keseluruhan) yang terdiri atas “The Parts”
(komponen-komponen), dan komponen-komponen ini terjaring dalam satu status tertentu dalam situasi sosialnya. Penelitian ini membahas mengenai
18 proses perkawinan Bugis. Dalam hal ini indo’botting yang melakoni perannya dalam pelaksaan proses perkawinan. Rangkaian peran tersebut dijelaskan oleh Talcot Parson dalam Datuan (2011:53) sebagai sistem sosial terdiri dari sejumlah aktor-aktor individual yang saling berinteraksi dalam situasi yang sekurang-kurangnya mempunyai aspek lingkungan atau fisik, aktor-aktor yang mempunyai motivasi dalam arti mempunyai kecenderungan untuk mengoptimalkan kepuasan yang ada hubungannya dengan situasi mereka didefenisikan dan dimediasi dalam sistem simbol bersama yang terstruktur secara kultural.
Indo’botting merupakan salah satu aktor dalam kegiatan perkawinan pada masyarakat Bugis. Dalam upacara perkawinan masyarakat Bugis, indo’botting berperan sebagai aktor yang bertindak sebagai pemeran utama dalam kelancaran upacara perkawinan.
Dari rangkaian penjelasan diatas, dapat merefleksikan peran merupakan pemahaman bersama yang dijadikan tuntunan berprilaku dalam masyarakat. Dalam rangka proses pemenuhan kebutuhan dasar khusunya kegiatan perkawinan, individu melakukan serangkaian aktivitas yang dilakoni dalam satu masyarakat. Hal ini dapat didefenisikan sebagai peranan dalam masyarakat dari orang yang menduduki status. Tulisan ini pula membahas mengenai rangkaian peran yang ia defenisikan sebagai perangkat peran (Role Set).
Karena itulah penulis dapat menarik kesimpulan bahwa peran yang dimaksud merupakan perilaku seseorang sesuai dengan status
19 kedudukannya pada masyarakat yang bersifat dinamis, baik itu berupa tindakan ataupun perilaku individu yang sedang memangku ataupun berprilaku sesuai dengan statusnya dalam proses perkawinan. Serta peran sosial merupakan hubungan keseharian antar aktor diluar pelaksaan perkawinan.
20 BAB III
METODE PENELITIAN A. Jenis dan Tipe Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian yang lazim dalam ilmu antropologi yaitu metode penelitian kualitatif dengan tipe desktiptif.
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek peneliti sebagai perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain secara holistik dan dengan deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah (Moleong, 2002).
Dalam pandangan Natanton (dalam Mulyana, 2002:59) fenomenologi merupakan istilah generik yang merujuk kepada semua pandangan ilmu sosial yang menganggap bahwa kesadaran manusia dan makna subjektif sebagai fokus untuk memahami tindakan sosial.
Dalam penelitian ini penulis melakukan wawancara mendalam guna mendapatkan penggambaran yang lebih spesifik terhadap penelitian yang akan dilakukan.
B. Penentuan Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini berlokasi di Kota Parepare, provinsi Sulawesi Selatan dan akan difokuskan pada indo’botting. Selain itu penelitian ini berlokasi dimana ada perkawinan yang memakai jasa indo’botting dan ada pula yang memakai jasa Wedding Organizer. Dan lokasi penelitian ini mudah
21 dijangkau oleh penelti sehingga dapat memperoleh informasi mengenai fokus yang akan diteliti. Waktu penelitian ini dimulai pada bulan juli 2017 dan penelitian ini berakhir sekitar akhir bulan Desember, dimana data yang diperlukan telah terjawab sesuai dengan masalah penelitian.
Lokasi ini dipilih beradasrkan beberapa hal, pertama karena lokasi ini mudah dijangkau seperti yang telah dijelaskan diatas, kedua Kota Parepare merupakan kota yang dimana penduduknya mulai banyak mengetahui perkembangan zaman melalui media sosial dalam hal ini facebook, instagram, path, line, dan lainnya yang banyak memberi informasi serta gambaran mengenai Wedding Organizer yang telah banyak digunakan jasanya oleh masyarakat di kota-kota besar. Dan yang ketiga yaitu, beberapa masyarakat Kota Pare-pare sudah mulai menggunakan jasa Wedding Organizer dan menurut penulis, hal tersebut merupakan suatu ancaman bagi indo’botting yang mempunyai konsep tradisional dalam menjalankan perannya pada perkawinan Bugis di Kota Parepare.
Dari ketiga alasan tersebut menarik peneliti untuk melakukan menjadikan Kota Parepare sebagai lokasi penelitian diantara kota-kota lainnya.
C. Teknik Penentuan Informan
Untuk menentukan informan digunakan konsep yang prinsipnya menghendaki seorang informan itu harus paham terhadap budaya yang
22 dibutuhkan (Spradley 2007:39). Pemilihan informan dalam penelitian ini dilakukan secara sengaja (purposive).
Peneliti lebih dulu mencari informan pangkal, yaitu mereka yang dianggap dapat memberikan informasi tentang siapa yang memiliki potensi untuk diwawancarai serta mampu memberikan akses untuk mewawancarai mereka dan memberikan penjelasan yang spesifik mengenai eksistensi indo’botting di dalam acara perkawinan Bugis di Kota Pare-pare, sedangkan untuk informan kunci adalah, mereka yang dianggap tahu dalam pekerjaan tersebut yang sudah memiliki pengelaman dalam menjalani peranan Indo’botting.
Informan dipilih secara sengaja berdasarkan kriteria yang telah ditentukan penulis (scanning). Informan itu sendiri adalah seseorang yang memberikan informasi terkaitan dengan penelitian yang dilakukan.
Menurut Webster’s New Collegiate Dictionary (dikutip Spradley, 2007:39), informan adalah “seorang pembicara asli yang berbicara dengan mengulang kata-kata, frasa, dan kalimat dalam bahasa atau dialeknya sebagai model imitasi dan sumber informasi.” Lebih lanjut, Spradley mengatakan bahwa informan adalah guru bagi peneliti (terutama etnografer).
Adapun yang menjadi informan dalam penelitian adalah Indo’botting”
dan pengguna “Indo’botting”. Informan seperti ini diharapkan memberikan informasi tentang peran Indo’botting dalam proses perkawinan pada masyarat bugis serta menjelaskan strategi bertahannya Indo’botting
23 ditengah maraknya penggunaan Wedding Organizer di tengah masyarakat perkotaan khususnya di Kota Parepare. Untuk pembahasan selanjutnya disajikan daftar informan sebagai berikut :
Daftar informan :
No Nama Informan
Usia / Tahun
Kategori
Jenis Kelamin Laki – Laki Perempuan
1 Else 42 Indo'botting
2 Memet 32 Indo'botting
3 H. Bondan 45 Indo'botting
4 H. Damang 43 Indo'botting
5 H. Sennang 67 Indo'botting
6 H. Nadi 49 Indo'botting
7 Hj. Wati 48 Pengguna Indo'botting
8 Anggi 23 Pengguna Indo'botting
9 H. A. Nurmiati 45 Pengguna Indo'botting
Sumber : Data lapangan yang telah diolah 2017
Dari tabel diatas dapat diapahami bahwa informan dengan jenis kelamin laki-laki berjumlah 4 orang atau sekitar 45% sedangkan informan yang berjenis kelamin perempuan ada 5 orang atau sekitar 65%. Dalam penelitian ini terbagi dua kategori informan yaitu indo’botting dan pengguna indo’botting itu sendiri. Beberapa nama informan diatas, sesuai dengan nama dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan izin informan itu sendiri.
24 Dari tabel diatas dapat dilihat deskripsi singkat informan laki-laki hingga informan perempuan sebagai berikut :
Pertama, Else adalah seorang indo’botting berjenis kelamin laki-laki yang berpenampilan seperti perempuan (waria) dengan usia 42 tahun. Dia telah menggeluti perannya sebagai indo’botting selama kurang lebih 10 tahun dan telah digunakan jasanya sebanyak lebih dari 100 acara perkawinan selama 10 tahun.
Kemudian, Memet mengakui dirinya seorang indo’botting berjenis kelamin laki-laki dengan usia 32 tahun. Dia adalah indo’botting yang terbilang sangat baru dalam menjalankan usahanya tersebut. Usahanya tersebut baru berjalan selama 4 tahun, tetapi dia telah dipercayakan dan dapat menyelesaikan proses perkawinan yang terbilag mewah di kota Parepare.
Selanjutnya, H. Bondan adalah indo’botting berjenis kelamin laki-laki yang berpenampilan seperti perempuan (waria) dengan usia 45 tahun. Dia telah menggeluti perannya sebagai indo’botting selama lebih dari 10 tahun, dia termasuk salah satu indo’botting yang ternama di kota Parepare dan telah digunakan jasanya lebih dari 100 acara perkawinan bugis baik di dalam kota maupun di luar kota Parepare.
Ada Juga, H. Damang yang merupakan salah satu indo’ botting berjenis kelamin laki-laki yang berpenampilan seperti perempuan (waria) dengan usia 43 tahun. Dia telah menggeluti perannya sebagai indo’
botting selama kurang lebih 10 tahun dan dia termasuk salah satu indo’
25 botting yang ternama di kota Parepare yang telah digunakan jasanya sebanyak lebih dari 100 acara perkawinan Bugis, baik di dalam kota maupun di luar kota.
Kemudian, Hj. Sennang adalah indo’botting berjenis kelamin perempuan dengan usia 67 tahun. Dia telah menggeluti perannya sebagai indo’botting selama lebih dari 10 tahun yang saat ini usahanya tersebut lebih banyak dijalankan oleh anaknya sendiri dikarenakan usianya yang tidak lagi muda untuk menjalankan usahanya tersebut. Dia juga termasuk salah satu indo’botting yang cukup dikenal di Kota Parepare, akan tetapi saat ini lebih banyak menyelesaikan acara perkawinan di luar kota Parepare. Dia termasuk indo’botting yang merasakan banyaknya perubahan antara upacara perkawinan dulu hingga sekarang.
Ada Juga, H. Nadi adalah indo’botting berjenis kelamin perempuan dengan usia 49 tahun. Dia menggeluti perannya sebagai indo’botting selama kurang lebih 10 tahun. Dia adalah indo’botting yang cukup sering digunakan jasanya di luar kota Parepare tetapi jarang digunakan jasanya di kota parepare itu sendiri.
Selanjutnya, Hj. Wati adalah salah satu pengguna jasa indo’ botting yang berjenis kelamin perempuan dengan usia 48 tahun. Dia telah menggunakan jasa indo’ botting sebanyak 3 kali untuk acara perkawinan kemanakannya
Kemudian Anggi yang merupakan salah satu pengguna jasa indo’
botting yang berjenis kelamin perempuan dengan usia 23 tahun. Dia telah
26 menggunakan jasa Indo’ Botting sebayak 1 kali untuk acara perkawinan dirinya sendiri dan mendapatkan informasi mengenai indo’ botting yang digunakan jasanya dari temannya yang juga telah menggunakan jasa indo’
botting tersebut.
Terakhir, Hj. A. Nurmiati yang juga termasuk salah satu pengguna indo’ botting yang berjenis kelamin perempuan dengan usia 43 tahun. Dia telah menggunakan jasa indo’ botting sebanyak 1 kali yang merupakan upacara perkawinan yang terbilang mewah dan berkonsep tradisional di kota Parepare.
Daftar nama-nama informan tersebut di atas sesuai dengan nama panggilan akrab dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan keinginan dari informan itu sendiri.Demikianlah deskripsi singkat mengenai informan didalam penelitian ini.
D. Jenis dan Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini ada dua jenis data yang digunakan yaitu data primer dan data sekunder. Penelitian lapangan dilakukan dengan menggunakan beberapa teknik pengumpulan data yakni :
1. Wawancara
Wawancara dilakukan secara langsung dengan setiap informan.
Sebelum melakukan wawancara kepada informan, penulis selalu mengawalinya dengan melakukan diskusi bebas agar wawancara berlangsung dengan baik dan tidak terlalu kaku, penulis juga tak lupa untuk selalu menjelaskan tujuan wawancara dan menanyakan
27 kesediaannya untuk di wawancarai dan betul-betul tidak ada kegiatan yang akan dilakukan oleh informan sehingga informan dapat fokus dalam proses wawancara, juga mengenai penggunaan nama informan, karena hal ini sangat penting dalam sebuah penelitian yang menyangkut etika penelitian.
Dalam wawancara, peneliti menggunakan bahasa bugis dan bahasa Indonesia, hal ini diperuntukkan agar informan atau narasumber bisa dengan mudah memahami dan maksud dari pertanyaan yang di berikan,serta memberikan rasa nyaman dalam mengeluarkan pendapat dan berekspresi. Hasil wawancara yang yang dilakukan telah dibuatkan bukti dokumen, yang berupa transkrip data wawancara, agar mempermudah dalam melakukan analisis data dan untuk melakukan penyusunan. Adapun bahasa lokal yang akan dituliskan, telah diberikan pengertian dalam bentuk bahasa indonesia. Namun, istilah-istilah yang sulit diterjemahkan atau memang bahasa lokal yang khas, tidak diterjemahkan, melainkan hanya diberikan padanaan katanya saja.
Mengutip dari Endraswara (2003:241) untuk mencapai kredibilitas data dilakukan dengan cara pengamatan secara terus- menerus dan triangulasi. Pengamatan yang dilakukan ketika berada di lapangan akan dikonfirmasi ulang data yang sudah didapatkan dengan metode wawancara dan akan mengkonsultasikan ke dosen pembimbing.
28 Lewat wawancara penulis berusaha menggali informasi mengenai Eksistensi Indo’ botting menurut setiap informan baik itu dari pengguna maupun dari indo’botting itu sendiri.
Dalam penulisan ini, adapun kendala yang dihadapi oleh penulis yaitu: Pertama, beberapa Indo’ Botting menolak untuk diwawancara i dengan alasan sibuk atau keluar kota. Kedua, sulitnya membuat janji untuk mendapatkan hasil wawancara dari informan karena peneliti melakukan penelitian dimana pada bulan tersebut, banyak yang melakukan upacara perkawinan sehingga indo’botting susah ditemui. Ketiga, sulitnya mendapatkan data yang mendalam dari beberapa informan yang disebutkan diatas dikarenakan ketatnya persaingan Indo’ Botting yang ada di Kota Parepare, dan keempat, sulitnya mendapatkan data mengenai sarana umum dalam hal ini gedung upacara perkawinan.
2. Observasi
Dalam penelitian ini dilakukan teknik observasi langsung dalam kegiatan perkawinan untuk melihat secara langsung bagaimana proses kerja seorang indo’ botting dalam merias wajah calon pengantin dan pekerjaan mendekor tempat resespsi perkawinan.
Serta melihat validasi hasil wawancara yang telah dilakukan. Ada beberapa data yang dari hasil observasi seperti, hasil pemasangan lamming dan tabere hingga cara make up dan hasil make up seorang indo’botting, serta beberapa perlengkan untuk upacara perkawinan.
29 3. Studi Literatur
Teknik pengumpulan data melalui study literatur. Peneliti menggunakan beberapa buku terkait dengan fokus penelitian, dan juga beberapa hasil penelitian sebelumnya yang mengangkat tulisan serupa untuk lebih memperkaya data.
4. Teknik Analisis Data.
Analisis data merupakan proses berkelanjutan yang membutuhkan refleksi terus menerus terhadap data, mengajukan pertanyaan-pertanyaan analitis dan menulis catatan singkat sepanjang penelitian (John W. Creswell, 2013:274). Data yang akan akan saya analisis akan menggunakan beberapa proses analisis data yang di jelaskan oleh Creswell, di antaranya:
1. Mengolah dan mempersiapkan data untuk dianalisis. Dalam mengolah ini akan lebih dominan pada transkrip wawancara.
2. Membaca keseluruhan data. Untuk langkah ini lebih fokus pada data dan kemudian memaknainya dalam tulisan.
3. Menganalisis lebih detail dengan meng-coding data. Langkah ini merupakan lanjutan dari poin kedua dan lebih memperhatikannya dalam proses pengumpulan data.
30 E. Sistematika Penulisan.
Untuk memberikan gambaran sementara tentang isi dari tulisan ini, maka berikut ini penulis akan menentukan bab-bab sementara yaitu : BAB I. Pendahuluan yang memuat tentang latar belakang masalah,
fokus masalah, tujuan penelitin, dan manfaat penelitian.
BAB II. Menguraikan tinjauan pustaka yang berisi tentang, penelitian sebelumnya, konsep perkawinan, serta konsep peran.
BAB III. Metode penelitian, menguraikan tentang metode kulitatif yang digunakan oleh penulis, serta menguraikan tentang lokasi penelitian teknik, teknik penentuan informan, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, dan sistematika penulisan.
BAB IV. Berisi gambaran umum lokasi penelitian dan objek penelitian yang terdiri deskriptif Kota Parepare, letak dan keadaan geografis, keadaan penduduk, dan sarana umum dalam hal ini gedung-gedung resepsi perkawinan.
BAB V. Mengenai hasil penelitian dan pembahasan yang meliputi : 1.
Terkait dengan prosesi perkawinan Bugis, 2. Mengenai penggambaran status dan peran indo’ botting dalam acara perkawinan bugis di kota Parepare, 3. strategi indo botting dalam mempertahankan usahanya.
BAB VI. Merupakan bab penutup yang memuat tentang kesimpulan dan saran-saran.
31 BAB IV
Gambaran Umum Lokasi Penelitian A. Letak Geografis
Penelitian ini dilakukan di Kota Parepare, salah satu kota madya yang terletak di Provinsi Sulawesi Selatan. Secara geografis Kota Parepare terletak antara 3o 57’ 39” - 4o 04’ 49” Lintang Selatan dan 119o 36’ 24” - 119o 43’ 40” Bujur Timur. Kota Parepare memiliki batas-batas wilayah : sebelah utara, berbatasan dengan Kabupaten Pinrang, di sebelah timur Kabupaten Sidrap, di sebelah selatan Kabupaten Barru, dan di sebelah barat Selat Makassar. Luas wilayah Kota Parepare tercatat 99,33 km2; meliputi 4 kecamatan, yaitu Kecamatan Bacukiki, Bacukiki Barat, Ujung, dan Soreang, serta memiliki 22 kelurahan.
Jarak antara Kota Parepare dan ibu kota provinsi Sulawesi Selatan, yaitu Makassar sekitar 154 km dan dapat ditempuh menggunakan bus antar kota, angkutan antar daerah, serta kendaraan pribadi dengan waktu tempuh antara 3-4 jam perjalanan. Sebagian besar wilayah Kota Parepare terdiri atas pesisir dan sebagian merupakan dataran tinggi, serta dapat dieksplorasi menggunakan angkutan umum (angkot) serta beberapa ojek lokal.
B. Sejarah Kota Parepare
Di awal perkembangannya, dataran tinggi yang sekarang ini disebut Kota Parepare, dahulunya adalah merupakan semak-semak belukar yang diselang-selingi oleh lubang-lubang tanah yang agak miring sebagai
32 tempat yang pada keseluruhannya tumbuh secara liar tidak teratur, mulai dari utara (Cappa Ujung) hingga ke jurusan selatan kota. Kemudian dengan melalui proses perkembangan sejarah sedemikian rupa dataran itu dinamakan Kota Parepare.
Lontara Kerajaan Suppa menyebutkan, sekitar abad XIV seorang anak Raja Suppa meninggalkan Istana dan pergi ke selatan mendirikan wilayah tersendiri pada tepian pantai karena memiliki hobi memancing.
Wilayah itu kemudian dikenal sebagai kerajaan Soreang, kemudian satu lagi kerajaan berdiri sekitar abad XV yakni Kerajaan Bacukiki.
Kata Parepare ditenggarai sebagian orang berasal dari kisah Raja Gowa, dalam satu kunjungan persahabatan Raja Gowa XI, Manrigau Dg.
Bonto Karaeng Tonapaalangga (1547-1566) berjalan-jalan dari kerajaan Bacukiki ke Kerajaan Soreang. Sebagai seorang raja yang dikenal sebagai ahli strategi dan pelopor pembangunan, Kerajaan Gowa tertarik dengan pemandangan yang indah pada hamparan ini dan spontan menyebut
“Bajiki Ni Pare” artinya “(Pelabuhan di kawasan ini) di buat dengan baik”.
Parepare ramai dikunjungi termasuk orang-orang Melayu yang datang berdagang ke kawasan Suppa.
Kata Parepare punya arti tersendiri dalam bahasa Bugis, kata Parepare bermakna " Kain Penghias " yg digunakan diacara semisal pernikahan, hal ini dapat kita lihat dalam buku sastra lontara La Galigo yang disusun oleh Arung Pancana Toa Naskah NBG 188 yang terdiri dari 12 jilid yang jumlah halamannya 2851, kata Parepare terdapat dibeberapa
33 tempat diantaranya pada jilid 2 hal [62] baris no. 30 yang berbunyi " pura makkenna linro langkana PAREPARE" (KAIN PENGHIAS depan istana sudah dipasang).
Melihat posisi yang strategis sebagai pelabuhan yang terlindungi oleh tanjung di depannya, serta memang sudah ramai dikunjungi orang- orang, maka Belanda pertama kali merebut tempat ini kemudian menjadikannya kota penting di wilayah bagian tengah Sulawesi Selatan.
Di sinilah Belanda bermarkas untuk melebarkan sayapnya dan merambah seluruh dataran timur dan utara Sulawesi Selatan. Hal ini yang berpusat di Parepare untuk wilayah Ajatappareng.
Pada zaman Hindia Belanda, di Kota Parepare, berkedudukan seorang Asisten Residen dan seorang Controlur atau Gezag Hebber sebagai Pimpinan Pemerintah (Hindia Belanda) dengan status wilayah pemerintah yang dinamakan “Afdeling Parepare” yang meliputi, Onder Afdeling Barru, Onder Afdeling Sidenreng Rappang, Onder Afdeling Enrekang, Onder Afdeling Pinrang dan Onder Afdeling Parepare.
Pada setiap wilayah/Onder Afdeling berkedudukan Controlur atau Gezag Hebber. Disamping adanya aparat pemerintah Hindia Belanda tersebut, struktur Pemerintahan Hindia Belanda ini dibantu pula oleh aparat pemerintah raja-raja bugis, yaitu Arung Barru di Barru, Addatuang Sidenreng di Sidenreng Rappang, Arung Enrekang di Enrekang, Addatung Sawitto di Pinrang, sedangkan di Parepare berkedudukan Arung Mallusetasi.
34 Struktur pemerintahan ini, berjalan hingga pecahnya Perang Dunia II yaitu pada saat terhapusnya Pemerintahan Hindia Belanda sekitar tahun 1942. Pada zaman kemerdekaan Indonesia tahun 1945, struktur pemerintahan disesuaikan dengan undang-undang no. 1 tahun 1945 (Komite Nasional Indonesia). Dan selanjutnya Undang-undang Nomor 2 Tahun 1948, dimana struktur pemerintahannya juga mengalami perubahan, yaitu di daerah hanya ada Kepala Daerah atau Kepala Pemerintahan Negeri (KPN) dan tidak ada lagi semacam Asisten Residen atau Ken Karikan.
Pada waktu status Parepare tetap menjadi Afdeling yang wilayahnya tetap meliputi 5 Daerah seperti yang disebutkan sebelumnya. Dengan keluarnya Undang-Undang Nomor 29 tahun 1959 tentang pembentukan dan pembagian Daerah-daerah tingkat II dalam wilayah Propinsi Sulawesi Selatan, maka ke empat Onder Afdeling tersebut menjadi Kabupaten Tingkat II, yaitu masing-masing Kabupaten Tingkat II Barru, Sidenreng Rappang, Enrekang dan Pinrang, sedangkan Parepare sendiri berstatus Kota Praja Tingkat II Parepare. Kemudian pada tahun 1963 istilah Kota Praja diganti menjadi Kotamadya dan setelah keluarnya UU No. 2 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, maka status Kotamadya berganti menjadi “KOTA” sampai sekarang ini.
Didasarkan pada tanggal pelantikan dan pengambilan sumpah Walikotamadya Pertama H. Andi Mannaungi pada tanggal 17 Februari 1960, maka dengan Surat Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
35 No. 3 Tahun 1970 ditetapkan hari kelahiran Kotamadya Parepare tanggal 17 Februari 1960.
C. Gedung Perkawinan di Kota Parepare
Sarana umum yang dimaksudkan di sini adalah sarana umum yang digunakan untuk resepsi perkawinan di kota Parepare dalam hal ini adalah gedung-gedung resepsi perkawinan. Di kota Parepare terdapat beberapa gedung resepsi perkawinan yaitu :
1. Gedung Islamic Centre
Gedung ini sering kali digunakan untuk resepsi perkawinan yang terbilang mewah karena ukuran gedung ini cukup luas dan berada pada posisi strategis dan letaknya bersampingan dengan mesjid Islamic Center, sehingga tidak sedikit orang yang melaksanakan akad nikah di mesjid tersebut dan kemudian berpindah ke gedung untuk melangsungkan upacara resepsi perkawinan. Gedung inI dapat menampung hingga kurang lebih 1.500 tamu undangan. Gedung ini terletak di jalan H. Agussalim kota Parepare dan dikelolah langsung oleh pemerintah kota Parepare, maka dari itu harga sewa gedung ini terbilang murah dari harga gedung-gedung untuk resepsi perkawinan lainnya. Harga dari gedung ini hanya mencapai Rp. 2.500.000,-.
36 Gambar IV. 1: Gedung Islamic Center
Sumber : Dokumentasi Peneliti
2. Gedung Baruga Pratistha
Gedung ini mampu menampung kurang lebih 1.000 orang tamu undangan yang terletak di jalan A. Mappatola kota Parepare, letaknya berada di dalam kompleks pekarangan polres Parepare.
Pengelolaan gedung tersebut masih dalam naungan polres pare- pare, jadi ketika anggota polisi atau pun staf yang masih berada dibawah naungan polres pare-pare, akan mendapatkan potongan.
Hal yang berbeda ketika gedung tersebut digunakan atau pun disewa oleh seseorang yang berada diluar lingkup instititusi tersebut maka ia akan memperoleh biaya penuh atau biaya tanpa potongan.
37 Gambar IV. 2 : Gedung Baruga Pratistha
Sumber : Dokumentasi peneliti
3. Gedung Graha Muslinda
Gedung ini merupakan gedung yang cukup sederhana yang hanya bisa menampung kurang lebih 500 orang tamu undangan.
Gedung ini sering digunakan oleh orang-orang yang melangsungkan upacara perkawinan yang cukup sederhana dan tidak menyebar undangan lebih dari 500, tetapi harga penyewaan gedung ini mencapai harga Rp. 5.000.000,-. Harganya cukup mahal karena dikelolah oleh pemilik gedung itu sendiri. Gedung ini terletak pada posisi yang cukup strategis di jalan Bau Massepe kota Parepare . 4. Hotel Grand Kartika
Hotel ini baru didirikan pada tahun 2015, sehingga fasilitas yang diberikan kepada pengguna gedung ini terbilang masih baru, maka dari itu gedung ini sering digunakan untuk upacara perkawinan yang cukup sederhana dan terkesan minimalis karena gedung dari hotel ini
38 tidak terlalu luas, jadi bagi orang yang melangsungkan upacara perkawinan dengan tamu undangan sekitar 500 orang, maka suasana gedung inilah yang bisa membantu agar tamu pada pesta tersebut terlihat ramai. Gedung ini hanya mampu menampung kurang dari 500 orang tamu undangan dan harga sewa gedung ini Rp. 3.000.000,- yang terletak di jalan H. Agussalim kota Parepare.
Gambar IV. 3 : Hotel Grand Kartika Sumber : Dokumentasi peneliti
5. Hotel Kenari
Gedung hotel ini hanya digunakan pada waktu-waktu tertentu (apabila gedung yang lain sudah penuh), mengingat letak gedung ini yang cukup jauh dari keramaian, harga sewa gedung ini cukup mahal. Tetapi pengunjung serta tamu undangan dapat melihat keindahan kota Parepare dari gedung ini karena letaknya lebih tinggi dari kota Parepare secara keseluruhan. Gedung ini terletak di jalan Jendral Sudirman kota Parepare.
39 6. Hotel Delima Sari
Gedung dari hotel ini termasuk gedung tua yang terus diperbaharui sehingga masih banyak digunakan hingga sekarang, gedung hotel ini tidak terlalu luas dan tidak pula sempit. Di gedung ini mampu menampung hingga 1.000 tamu undangan. Gedung ini terletak di jalan A. Makkasau kota Parepare.
Gambar IV. 4 : Hotel Delima Sari Sumber : Dokumentasi peneliti
D. Prosesi Perkawinan Bugis
Ada beberapa prosesi upacara perkawinan Bugis di Kota Parepare menurut data hasil penelitian yaitu :
1. Ma’ baja laleng ( Membuka Jalan )
Ma’ baja kaleng merupakan suatu proses dalam penyelenggaraan perkawinan pada masyarakat Bugis khusunya di Kota parepare dimana kerabat yang diutus oleh keluarga calon mempelai laki-laki membuka jalan kepada keluarga calon mempelai