• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penguji II : Nafis Irkhami, M.Ag

BAB 1 PENDAHULUAN

G. Sistematika Penulisan

Sistematika yang digunakan dalam skripsi ini adalah sebagai berikut: 1. BAB I PENDAHULUAN

Pada bab ini akan dipaparkan mengenai latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, penegasan istilah, tinjauan pustaka, metode penelitian, serta sistematika penulisan.

2. BAB II KAJIAN PUSTAKA

Pada bab ini akan akan dipaparkan tinjauan umum tentang pekerja anak menurut Undang-Undang, hukum Islam serta kajian ilmu sosiologi.

3. BAB III HASIL PENELITIAN

Hasil penelitan ini mencakup profil Desa Suruh, bagaimana fenomena pekerja anak terjadi di Desa Suruh.

4. BAB IV ANALISIS

Dalam bab ini akan dipaparkan analisa dari penulis mengenai pekerja anak di Desa Suruh,serta analisa mengenai perlindungan hukum terhadap pekerja anak tersebut menurut Undang-Undang No 13 Tahun 2003 dan Hukum Islam. 5. BAB V PENUTUP

BAB II PEKERJA ANAK

A. Tinjauan Umum Tentang Pekerja Anak Menurut Undang-Undang

Anak adalah amanah sekaligus karunia Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa harus kita jaga karena dalam dirinya melekat harkat, martabat dan hak-hak sebagai manusia yang harus dijunjung tinggi.

Namun demikian tidak semua anak beruntung mendapatkan kehidupan yang layak dan sejahtera. Banyak diantara mereka terbelenggu oleh kemiskinan. Sehingga tidak terpenuhi haknya secara baik. Hal ini yang kemudian membuat anak terdorong untuk bekerja sebagai pekerja anak.

Masalah pekerja anak sebenarnya bukanlah isu yang hanya dialami oleh di Indonesia saja. Karena masalah pekerja anak merupakan isu internasional yang terjadi hampir diseluruh dunia utamanya pada negara-negara berkembang. Hal

inilah yang mendasari munculnya konvensi hak anak (UN‟s Convention on the

right of the child) pada 20 November 1989. Konvensi ini dilakukan oleh badan khusus PBB yang bernama ILO (International Labour Organization) Organisasi ini merupakan organisasi khusus PBB yang mengurusi masalah perburuhan internasional. (Joni, 1999: 1)

ILO mencatat sekitar 200 juta anak-anak bekerja atau aktif secara ekonomi diluar rumah karena kemiskinan atau urbanisasi. Catatan organisasi ini

menunjukkan bahwa sejumlah 7% anak-anak di dikawasan Amerika Latin terlibat dalam perburuhan, dikawasan asia diperkirakan 18% anak-anak menjadi pekerja anak dan bagian yang lebih besae terdapat dikawasan Afrika yaitu sejumlah 25 %. (Joni, 1999: 2)

Menurut data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), di Indonesia diperkirakan 2,4 juta anak usia 10 – 14 tahun aktif secara ekonomi. Belum lagi anak-anak yang berusia dibawah 10 tahun. Angka ini masih konservatif, artinya masih kecil dibandingkan dengan realitas anak-anak usia belajar yang putus sekolah yang diperkirakan berjumlah 6,5 juta anak. (Joni, 1999: 3)

Untuk sebuah negara yang memiliki filsafat keadilan sosial seperti Indonesia seharusnya fenomena ini tidak boleh dibiarkan terjadi. Sejak awal Indonesia didirikan dengan menempatkan ideologi keadilan sosial sebagai tujuan akhir dari proses pembangunan ekonomi. (Yustika, 2003: 2) Oleh karena itu perburuhan dan pekerja anak merupakan masalah serius yang harus segera ditangani.

Sebelum membahas lebih jauh mengenai pekrja anak dan segala bentuk perlindungannya di dalam Undang-Undang, mari kita pahami terlebih dahulu mengenai konsep anak menurut Undang-Undang.

Pengertian anak menurut Undang-Undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan adalah setiap orang yang berumur dibawah 18 (delapan belas) tahun. Hal senada diungkapkan dalam pasal 1 Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Undang-undang 23 tahun 2002 menyebutkan

bahwa anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

Ukuran kedewasaan yang berbeda dipaparkan dalam KUHPer, menurut hukum perdata seseorang dinyatakan dewasa apabila telah berusia 21 tahun atau sudah kawin. (Salim, 2009: 20) Orang yang mempunyai kewenangan hukum hanyalah orang yang telah dewasa. Dengan demikian anak-anak yang belum berusia 21 tahun atau belum kawin belum memiliki kewenangan hukum menurut KUHPerdata.

Hukum perdata, dalam hal ini KUHPer mengatur seluruh segi kehidupan manusia sejak ia belum lahir dan masih dalam kandungan ibunya sampai

meninggal dunia. Hal itu diatur dalam KUHPer pasal 2 ayat 1 : ”anak yang ada

dalam kandugan ibunya dianggap telah dilahirkan, apabila kepentingan si anak

menghendakinya”. (Kansil, 2004: 2)

Selanjutya manusia yang telah dianggap cakap untuk melakukan perbuatan hukum disebut sebagai subyek hukum. Manusia sebagai subyek hukum itu diatur secara luas dalam buku 1 tentang orang (van person) KUHPer, Undang-Undang kewarganegaraan, Undang-Undang orang asing, dan beberapa peraturan perundangan lainnya. ( Kansil, 2004 :85)

Pasal 1330 KUHPer mengemukakan bahwa orang yang tidak cakap untuk membuat perjanjian. Orang orang tersebut antara lain : (Kansil, 2004: 87)

a. Orang yang belum dewasa

c. Orang wanita yang dalam perkawinan atau berstatus sebagai seorang istri. (Telah dicabut dalam UU No.1 tahun 1974)

Ketentuan yang ada dalam KUHPer mengenai kapan seseorang memiliki hak untuk melakukan perbuatan hukum berbeda dengan ketentuan yang ada dalam KUHP mengenai pada siapa berlakunya hukum pidana. Hukum pidana adalah hukum umum yang berlaku pada semua warga negara. Dan tidak membedakan-bedakan kualitas pribadi subyek hukum tertentu. Setiap warga negara harus tunduk dan patuh terhadap hukum pidana umum. (Chazawi, 2002: 11)

Undang-undang perkawinan memberikan standard yang berbeda, dalam UU perkawinan untuk melaksanakan sebuah perkawinan seseorang laki-laki minimal harus berusia 19 tahun dan perempuan 16 tahun.

Demikian beberapa aturan mengenai batas kedewasaan dan pengertian yang ada dalam sistem perundang-undangan. Memang setiap UU memiliki ketentuan berbeda-beda mengenai standard kedewasaan tergantung untuk apa aturan tersebut dibuat.

Undang-Undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan mengartikan pekerja/buruh sebagai setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain. Sedangkan anak didefinisikan sebagai seseorang yang belum berusia 18 tahun. (Wijayanti, 2009: 1)

Anak yang bekerja adalah anak melakukan pekerjaan karena membantu orangtua, latihan keterampilan dan belajar bertanggung jawab, misalnya membantu mengerjakan tugas-tugas dirumah, membantu pekerjaan orang tua

diladang dan lain-lain. Sehingga dalam masalah ini seorang anak tidak seharusnya melakukan sebuah pekerjaan untuk memperoleh penghasilan. Dalam hal ini seorang anak membantu orangtua untuk melakukan pekerjaan ringan yang dilakukan diwaktu senggang dengan tujuan agar anak memperoleh pendidikan dan pelatihan tentang dunia kerja. Sehingga seorang anak tetap dapat melakukan aktivitas sekolah serta terjaga kesehatan dan keselamatannya. (Warsini, 2005: 11) Pekerja anak adalah anak yang melakukan segala jenis pekerjaan yang memiliki sifat atau intensitas yang dapat mengganggu pendidikan, membahayakan keselamatan, kesehatan serta tumbuh kembangnya. Sehingga pekerja anak merupakan masalah sosial yang timbul di masyarakat yang kemudian harus ditindak lanjuti dengan kerjasama semua pihak. Karena masalah pekerja anak ini dapat menimbulkan dampak yang kompleks bagi pelakunya itu sendiri dan masyarakat. Salah satu dampak yang terlihat yaitu aktivitas sekolah anak menjadi terganggu, karena anak harus berkerja dalam waktu yang panjang serta dilakukan setiap hari untuk mendapatkan penghasilan. (Warsini, 2005: 10)

Dasar hukum larangan mempekerjakan anak dan perlindungan hukum bagi anak dibawah umur :

a. UU No. 1 tahun 2000, tentang konvensi ILO nomor 182 mengenai pelanggaran dan tindakan segera penghapusan bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak.

b. UU No. 20 tahun 1999 tentang pengesahan konvensi ILO nomor 138 mengenai usia minimum untuk diperbolehkan bekerja.

d. UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM.

e. UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. f. UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

g. Keputusan Presiden RI No. 59 tahun 2002 tentang rencana aksi nasional penghapusan bentuk bentuk pekerjaan terburuk untuk anak.

h. Keputusan Presiden RI No. 87 tahun 2002 tentang rencana aksi nasional penghapusan exploitasi seksual komersial anak.

i. Keputusan Presiden RI No. 88 tahun 2002 tentang rencana aksi nasional penghapusan perdagangan (trafficking) perempuan dan anak.

Beberapa aturan mengatur tentang hak dasar anak. Peraturan tersebut berisi berbagai macam hak yang harus didapatkan oleh seorang anak. Beberapa aturan tersebut antara lain: (Warsini, 2005: 2)

a. Undang-Undang Dasar 1945

Anak sebagai amanah Tuhan Yang Maha Esa yang didalam dirinya melekat harkat, martabat dan hak asasi yang harus dijunjung tinggi. Hak asasi anak yang paling mendasar adalah hak untuk hidup, kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak, hal ini tercantum dalam Undang-undang Dasar 1945 pada

amandemen II pasal 28B ayat (2) yang berbunyi: “Setiap anak berhak atas

kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari

kekerasan dan diskriminasi”.

Anak adalah masa depan bangsa, pada diri anak diharapkan kelak menjadi penerus bangsa yang potensial, tangguh, memiliki jiwa nasionalisme yang dijiwai akhlak mulia serta berkemauan keras untuk menjaga kesatuan dan persatuan

bangsa. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, kewajiban orangtua, keluarga, masyarakat, pemerintah dan negara untuk memberikan hak-hak anak secara optimal sejak dini.

b. Hak-hak dasar anak menurut Undang-undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak :

1) Hak untuk hidup layak

Setiap anak berhak untuk mendapatkan kehidupan yang layak dan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan dasar mereka termasuk makanan, tempat tinggal dan perawatan kesehatan.

2) Hak untuk berkembang

Setiap anak berhak untuk tumbuh kembang secara wajar tanpa halangan. Mereka berhak untuk mengetahui identitasnya, mendapatkan pendidikan, bermain, beristirahat, bebas mengemukakan pendapat, memilih agama, mempertahankan keyakinan, dan semua hak yang memungkinkan mereka berkembang secara maksimal sesuai potensinya. 3) Hak untuk mendapat perlindungan

Setiap anak berhak untuk mendapat perlindungan dari perlakuan diskriminasi, eksploitasi baik ekonomi maupun seksual, penelantaran, kekejaman, kekerasan, penganiayaan, ketidakadilan dan perlakuan salah. 4) Hak untuk berperan serta

Setiap anak berhak untuk berperan aktif dalam masyarakat termasuk kebebasan untuk berekspresi, kebebasan untuk berinteraksi dengan orang lain dan menjadi anggota suatu perkumpulan.

5) Hak untuk memperoleh pendidikan

Setiap anak berhak memperoleh pendidikan minimal tingkat dasar. Bagi anak yang terlahir dari keluarga yang tidak mampu dan yang tinggal didaerah terpencil, pemerintah berkewajiban untuk bertanggung jawab untuk membiayai pendidikan mereka.

c. Prinsip – Prinsip Hak Anak

Untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak secara optimal, anak harus mendapat perlindungan yang utuh, menyeluruh dan komprehensif dengan mengacu pada prinsip-prinsip dasar Konvensi Hak Anak. Asas perlindungan anak menurut Undang-Undang No. 23 tahun 2002 sebagai berikut :

1) Non diskriminasi

Maksudnya adalah perlindungan kepada semua anak Indonesia tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin, etnik, budaya dan bahasa, status hukum anak dan kondisi fisik maupun mental anak. 2) Kepentingan yang terbaik bagi anak

Maksudnya adalah semua tindakan yang menyangkut anak yang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, badan legislatif dan yudikatif maka kepentingan yang terbaik bagi anak harus menjadi pertimbangan utama.

3) Hak untuk hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan

Maksudnya adalah hak azasi anak yang paling mendasar yang harus dilindungi oleh negara, pemerintah, masyarakat, keluarga dan orang tua.

4) Penghargaan terhadap pendapat anak

Maksudnya adalah penghargaan atas hak-hak anak untuk berpartisipasi dan menyatakan pendapatnya dalam pengambilan keputusan terutama yang menyangkut kehidupan anak.

Dari uraian diatas terlihat bahwa sebenarnya pemerintah sudah memiliki upaya untuk melindungi anak. Anak sudah memiliki kedeudukan yang sangat tinggi didalam tatanan masyarakat. Keberadaannya harus dilindungi. Mereka harus terpenuhi haknya, agar dapa berkembang menjadi seseorang yang berguna bagi bangsa dan negara.

Pada dasarnya anak tidak diperbolehkan untuk bekerja, bahkan pada pasal

68 UU No. 13 tahun 2003 jelas disebutkan bahwa “Pengusaha dilarang

mempekerjakan anak”. Kecuali pada kondisi dan untuk hal –hal tertentu anak diperbolehkan melakukan beberapa pekerjaan. Seperti yang tertulis dalam UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Dalam UU tersebut diuraikan beberapa pekerjaan yang diperbolehkan dan pekerjaan yang dilarang untuk seorang anak.

Jenis pekerjaan yang diperbolehkan untuk anak antara lain: 1) Pekerjaan ringan

2) Pekerjaan dalam rangka bagian dari kurikulum pendidikan atau pelatihan 3) Pekerjaan untuk mengembangkan bakat dan minat

Jenis pekerjaan yang dilarang antara lain:

Jenis pekerjaan yang dilarang bagi anak-anak terkait dengan beberapa pekerjaan terburuk bagi anak yang telah diatur secara rigit dalam beberapa peraturan.

Diantaranya pasal 72 ayat 2 UU Ketenagakerjaan. Bentuk Pekerjaan terburuk untuk anak menurut pasal 74 ayat (2) UU No. 13 tahun 2003 meliputi :

1) Segala pekerjaan dalam bentuk perbudakan atau sejenisnya.

2) Segala pekerjaan yang memanfaatkan, menyediakan, atau menawarkan anak untuk pelacuran, produksi pornografi, pertunjukan porno atau perjudian. 3) Segala pekerjaan yang memanfaatkan, menyediakan atau melibatkan anak

untuk produksi dan perdagangan minuman keras, narkotika , psikotropika dan zat adiktif lainnya dan atau semua pekerjaan yang membahayakan kesehatan, keselamatan atau moral anak.

Jenis pekerjaan yang mebahayakan kesehatan, keselamatan atau moral anak dijabarkan melalui Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor : KEP-115/MEN/VII/2004 tentang jenis-jenis pekerjaan yang membahayakan kesehatan, keselamatan atau moral anak. Dalam peraturan ini diuraikan secara detail mengenai jenis pekerjaan tersebut disertai berbagai contoh pekerjaannya.

Undang-undang ketenagakerjaan juga memuat beberapa sanksi pidana kepada mereka yang melanggar aturan tersebut. Sanksi-sanksi tersebut antara lain: 1. Pengusaha yang mempekerjakan anak pada pekerjaan ringan harus memenuhi persyaratan sebagaimana tercantum pada pasal 69 ayat (2) Undang-Undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Pelanggaran terhadap norma tersebut merupakan tindak pidana kejahatan dan diancam sanksi pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 4 tahun dan atau denda paling

sedikit Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 400.000.000,- (empat ratus juta rupiah).

2. Pengusaha yang mempekerjakan anak untuk mengembangkan bakat dan minatnya wajib memenuhi syarat sebagaimana tercantum pada pasal 71 ayat (2) Undang-Undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor : KEP-115/MEN/VII/2004 tentang Perlindungan bagi Anak yang Melakukan Pekerjaan untuk Mengembangkan Bakat dan Minat. Pelanggaran terhadap norma tersebut merupakan tindak pidana pelanggaran dan diancam sanksi pidana penjara paling singkat 1 bulan dan paling lama 4 tahun dan atau denda paling sedikit Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 400.000.000,- (empat ratus juta rupiah).

3. Siapapun dilarang mempekerjakan dan melibatkan anak pada pekerjaan-pekerjaan yang terburuk. Yang dimaksud dengan pekerjaan-pekerjaan-pekerjaan-pekerjaan yang terburuk adalah pekerjaan-pekerjaan sebagaimana tercantum pada pasal 74 ayat 2 Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan Lampiran Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor : KEP-235/MEN/ 2003 tentang Jenis-Jenis Pekerjaan yang Membahayakan Kesehatan, Keselamatan atau Moral Anak. Pelanggaran terhadap norma tersebut merupakan tindak pidana kejahatan dan diancam sanksi pidana penjara paling singkat 2 tahun dan paling lama 5 tahun dan atau denda paling sedikit Rp. 200.000.000,-(dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah).

B. Tinjauan Hukum Islam Mengenai Pekerja Anak.

1. Pengertian dan hak dasar

Anak merupakan bagian penting dalam bangunan masyarakat Islam. Anak merupakan penerus kelangsungan hidup dan peradaban Islam. Keberadaannya merupakan salah satu tujuan dari adanya pernikahan. (Daradjat, 1983: 171) Perlakuan terhadapnya tidak boleh sembarangan.

Sesampainya seorang anak dianggap dewasa (mukallaf) maka anak tersebut dalam tanggung jawab orangtuanya. Tanggung jawab tersebut terkait berbagai aspek kehidupan, baik menjaga, membesarkan dan mendidik anak tersebut. Agar kelak dikemudian hari dapat menjadi anak soleh/solehah. (Daradjat, 1983: 172)

Setidaknya ada 4 periode yang harus dilewati seseorang sebelum ia dianggap cakap dan dapat disebut sebagai mukallaf. Periode tersebut antara lain: (Daradjat, 1983: 1)

a. Periode Janin

Periode ini dimulai sejak seseorang masih berupa gumpalan darah di dalam rahim seorang ibu sampai ia dilahirkan. Pada periode ini sifat kemanusiaanya belum sempurna.

Periode ini dimulai saat seseorang lahir kedunia sampai kemudian ia mencapai masa tamyiz. Pada masa ini sifat kemanusiaanya sudah sempurna karena ia sudah terpisah dengan ibunya namun kemampuan akalnya masih dalam proses perkembangan sedikit demi sedikit.

c. Periode Tamyiz

Periode tamyis adalah masa dimana seseorang dapat membedakan yang baik dan yang buruk, yang bermafaat atau mudlarat. Kemampuan akal seseorang pada masa ini sedang berkembang pesat. Namun demikian proses berfikirnya masih dangkal. Sesorang hanya membedakan yang baik dan yang buruk hanya secara zhahiriyah saja.

Batas mulainya periode ini tidak dapat secara fisik karena periode ini terkait dengan perkembangan akalnya. Oleh karena itu mulainya masa tamyiz seseorang hanya dapat diketahui dengan melihat hasil perkembangan akalnya lewat tingkah laku yang merupakan gambaran dari penggunaan kemampuan akalnya.

Mustafa Az Zarqa dalam kitabnya “al fiqhul Islami fi tsaubil jadid” menyebutkan bahwa menurut para ulama‟ mulainya masa tamyiz bagi seorang

yang normal adalah apabila telah genap berusia 7 tahun. ( Daradjat, 1983:2)

Hal ini didasarkan pada hadist rasulullah saw, yang berbunyi:

َ هٍِىِس َِعْب س َ ءا ىْب أ َْم ٌ َ َِة لََّصلاِب َْم ك د لََْ أ اَ ز م

Artinya : “Perintahkanlah anak-anakmu melakukan shalat ketika mereka

berumur tujuh tahun.” HR. Abu Daud dari „Umar bin Syu‟aib dari ayahnya dari kakeknya‟.

Dalam hadist diatas ditegaskan, agar membiasakan anak-anak untuk beribadah kepada Allah SWT setelah berumur tujuh tahun. Padahal ibadah

dipandang sah apabila dilakukan oleh seorang yang minimal telah mencapai masa tamyiz. Jadi umur tujuh tahun ini menunjukkan mulainya masa tamyiz. (Daradjat, 1983: 3)

d. Periode Baligh dan Sifat Rasyid

Periode baligh adalah masa kedewasaan seseorang. Tanda-tanda mulai kedewasaanya apabila telah mengeluarkan air mani bagi laki-laki dan mengeluarkan darah haid bagi perempuan.

Sedangkan sifat rasyid merupakan pelengkap bagi orang yang telah baligh berupa kepandaian seseorang dalam mentasyarufkan (membelanjakan hartanya). Namun tidak semua orang yang telah baligh memiliki sifat rasyid. Karena sifat rasyid ini bisa saja muncul sebelum atau setelah oarng tersebut baligh.

Mulainya usia baligh secara yuridik adalah jika sesorang telah mencapai usia 12 tahun bagi laki-laki dan 9 tahun bagi perempuan. Periode ini berahir sampai dengan seseorang meninggal dunia.

Pada masa ini perkembangan akal manusia dianggap telah mencapai taraf yang sempurna. Sehingga seseorang memiliki pemahaman yang cukup mendalam

untuk mengetahui yan haq dan yang batil serta dapat mengetahui akibat dari perbuatan yang dilakukannya.

Setelah seorang anak melalui 4 fase ini barulah seoarng anak tersebut dapat disebut sebagai mukallaf. Mukallaf diartikan sebagai orang yang dibebani

ketentuan ketentuan hukum syara‟.

Untuk menjadi mukallaf selain seseorang harus memiliki pemahaman dalil-dalil hukum baik alqur‟an maupun hadist, seseorang harus memiliki akal yang sempurna serta kecakapan (ahliyyah) untuk melaksanakan hukum yang dibebankan kepadanya.

Demikian periodesasi perkembangan seseorang yang kemudian akan mempengaruhi pemberlakuan hukum Islam terhadapnya. Hukum yang diberlakukan pada masa kanak-kanak tentu akan berbeda dengan hukum yang diterapkan pada saat seseorang telah menjadi mukallaf. Hal ini terkait pula dengan hak dan kewajiban orang tersebut dalam kehidupanyya sehari-hari.

Kompilasi Hukum Islam (KHI), pasal 9 ayat (1) menjelaskan bahwa batas usia anak yang mampu berdiri sendiri atau dewasa adalah 21tahun, sepanjang anak tersebut tidak cacat fisik maupun mental atau belum pernah melangsungkan perkawinan.

Setiap orang yang lahir didunia melekat hak dan kewajiban secara otomatis. Hak dan kewajibannya tergantung pada tumbuh kembangnya. Islam menerapkan hak dan kewajiban sesorang sesuai periode umur dan kedewasaan

akalnya. Tentu ini akan menyebabkan ke hak dan kewajiban anak berbeda dengan orang dewasa.

Hak anak biasanya merupakan kewajiban orangtua dan begitu sebaliknya. Salah satu hak anak yang sangat penting adalah hak hadhanah (pendidikan dan pemeliharaan).

Hadhanah menurut bahasa berarti meletakkan sesuatu dekat tulang rusuk atau dekat dengan pangkuan. Menurut epistemologinya, hadhanah diistilahkan sebagai pendidikan dan pemeliharaan anak sejak dari lahir sampai ia sanggup berdiri sendiri mengurus dirinya yang dilakukan oleh kerabat anak itu. Hadhanah berbeda dengan tarbiyah, dalam hadhanah terkandung pemeliharaan jasmani dan rohani yang dilakukan oleh kerabat sendiri bukan dari kalangan professional walaupun didalamnya juga terdapat unsur tarbiyah. (Daradjat, 1983: 206)

Orang yang berhak melakukan hadhanah adalah seorang ibu. Berdasarkan hadist Rasulullah SAW :

َْه ع

َ

َِدْب ع

َ

ََِّ اَلل

َ

َِهْب

َ

َ َِزْم ع

َ

َ ًِض ر

َ

َ َّ اَلل

َ

ا م ٍْى ع

َ;

ََّن أ

َ

َ ة أ زْمِا

َ

َْت لا ق

َ(َ:

ا ٌ

َ

َ لُ س ر

َ

ََِّ اَلل

َ!

ََّنِإ

َ

ًِىْبِا

َ

ا ذ ٌ

َ

َ نا ك

َ

ًِىْط ب

َ

َ ً ل

َ

َ ءا عَِ

َ,

ًٌِْد ث َ

َ

َ ً ل

َ

َ ءا قِس

َ,

يِزْجِح َ

َ

َ ً ل

َ

َ ءا ُِح

َ,

ََّنِإ َ

َ

َ يا ب أ

َ

ًِى قَّل ط

َ,

َ دا ر أ َ

َ

َْن أ

َ

َ ً عِز تْى ٌ

َ

ًِّىِم

َ

َ لا ق ف

ََ ل

ا ٍ

َ

َ لُ س ر

َ

ََِّ اَلل

َ

ىلص

َ

اَلل

َ

ًٍلع

َ

ملسَ

َ

َِتْو أ

َ

َ ق ح أ

َ

ًَِِب

َ,

ا م

َ

َْم ل

َ

ًِحِكْى ت

َ

َ)

َ يا َ ر

َ

َ د مْح أ

َ,

ُ ب أ َ

َ

َ د َا د

َ,

َ ً حَّح ص َ

َ

َ مِكا حْل ا

Artinya: “Dari Abdullah Ibnu Amar bahwa ada seorang perempuan

mengandungnya, susuku yang memberinya minum, dan pangkuanku yang

melindunginya. Namun ayahnya yang menceraikanku ingin merebutnya dariku”,

maka Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepadanya: "Engkau lebih berhak terhadapnya selama engkau belum nikah." Riwayat Ahmad dan Abu Dawud. Hadits shahih menurut Hakim.

Tidak terdapat ayat-ayat al-quran dan hadist yang menerangkan dengan tegas tentang masa hadhanah, hanya terdapat isyarat-isyarat yang menerangkan masa tersebut. Oleh karena itu para ulama melakukan ijhihad sendiri-sendiri dalam menentukan masa hadhanah. Seperti menurut mazhab Hanafi hadhonah anak laki-laki berakhir pada saat anak itu tidak lagi memerlukan penjagaan dan telah dapat mengurus keperluannya sehari-hari. Sedangkan masa hadhanah wanita berakhir apabila ia telah baligh atau telah datang masa haidh pertamanya. (Daradjat, 1983: 214)

Mazhab Syafii berpendapat bahwa masa hadhanah itu berakhir setelah anak mumayiz.

Biaya hadhanah termasuk kedalam nafkah yang menjadi kewajiban seorang kepala keluarga. Apabila seorang kepala keluarga tidak mampu menjalankan kewajibannya dengan baik, maka angoota keluarga yang lain boleh membantu. (Daradjat, 1983: 217)

2. Hukum Islam mengenai pekerja anak.

Hukum Islam mengatur pula hubungan antar manusia. Para fuqoha merumuskannya dalam fiqih muamalah. Fiqih muamalah membahas perbuatan

orang dengan hubungan kerja dan harta serta hak. Ekonomi Islam memiliki nilai-nilai etik yang berbada dengan ekonomi konvensional. Nilai-nilai-nilai tersebut antara lain:

a. Kebebasan bekerja, berprestasi dan beramal

Dokumen terkait