• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

F. Sistematika Penulisan

Dalam sistematika penulisan skripsi ini dibagi menjadi lima bab, dan masing-masing bab memiliki sub pokok bahasan.

Supaya penyusunan skripsi ini terarah dan mudah dipahami oleh pembaca, penulis perlu mengetengahkan dan menuangkan sistematika penulisan sebagai berikut:

20 Deskriptif adalah cara pengumpulan data yang berkaitan dengan masalah yang diteliti, kemudian dideskripsikan sehingga dapat memberikan kejelasan terhadap kenyataan atau realitas. Sementara analisis adalah mengadakan perincian terhadap masalah yang diteliti dengan jalan memilah-milah antara pengertian satu dengan yang lain untuk memberikan kejelasan masalah yang diteliti. Lihat Komaruddin, Kamus Riset (Bandung: Angkasa, 1989), h. 23.

21 Fazlur Rahman, Tema Pokok al-Qur’an, terj. Anas Mahyudin, (Bandung: Pustaka, 1996), h. ix.

Bab I, merupakan pendahuluan sebagai pengantar umum dari penelitian, mencakup latar belakang masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan penelitian, tinjauan pustaka, metodologi penelitian, dan sistematika penulisan. Semuanya sebagai kerangka dasar penulisan skripsi ini.

Bab II, membahas tentang biografi, karya dan metode berpikir Fazlur Rahman, berikut dengan karya-karya dan metode berfikirnya.

Bab III, membahas pengertian eskatologi, sejarah eskatologi dalam filsafat, dan eskatologi dalam pemikiran Islam secara umum.

Bab IV, merupakan kajian inti dan kritis dalam penelitian ini, yaitu terkait konsep eskatologi perspektif Fazlur Rahman dan pandangannya terhadap ayat-ayat eskatologis dalam al-Qur’an mengenai hari kebangkitan, surga dan neraka.

Bab V, merupakan bab terakhir, meliputi kesimpulan dan rekomendasi, sebagai alat untuk memahami maksud dari paparan awal sampai dengan akhir karya tulis ini. Sehingga pembaca dapat mendapatkan entri point yang lebih simple yang dapat dikaji dan diteliti lebih lanjut mengenai apa yang sudah penulis sampaikan dalam skripsi ini.

19

BIOGRAFI, METODE BERPIKIR DAN KARYA FAZLUR RAHMAN

A. Biografi Fazlur Rahman (1919 – 1988)

Jiwa kritis Fazlur Rahman telah ia bangun semenjak dini, yang tentunya tidak bisa lepas dari pengaruh progresivitas ayahnya dan dukungan kondisi pendidikannya juga. Tak heran jika kemudian Fazlur Rahman tampil sebagai tokoh Islam yang pertama mendapatkan medali Giorgio Levi Della Vida pada tahun 1983 dari Gustave E. Von Grunebaum Center for Near Eastern Studies, Universitas California, Los Angeles. Fazlur Rahman adalah orang Islam pertama dan satu-satunya (sampai sepeninggalnya) yang menerima penghargaan itu.1

Fazlur Rahman (1919-1988) berasal dari keluarga ulama bermadzhab Hanafi, lahir pada 21 September 1919 di distrik Hazara (ketika India belum terpecah menjadi dua negara). Daerah tersebut sekarang terletak di sebelah barat laut Pakistan.

Ayahnya, Maulana Shahab al-Din adalah seorang ulama terkenal lulusan Deoband. Keluarganya dikenal sebagai kalangan yang tekun menjalankan ibadah agama. Hal tersebut menandakan

1 Muhammad Ramadhan, “Pemikiran Teologi Fazlur Rahman”. Jurnal Teologia, Vol. 25, No. 2 Juli – Desember 2014. IAIN Sumatera Utara.

bahwa keluarganya yang sunni dan memegang teguh tradisi. Ia menikah dengan Ny. Bilqis Rahman.2

Semenjak usia 10 tahun Fazlur Rahman telah menghapal al Qur’an 30 juz. Meskipun kecenderungan keluarganya masih sangat kental berkutat pada bentuk masyarakat tradisi, sikap dan pola prilaku keluarganya sangat akomodatif terhadap unsur modernitas. Ayahnya sangat mengapresiasi sistem pendidikan modern. Secara implisit pola tersebut memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap pemikiran Fazlur Rahman kedepan.

Menurut Rahman, ada beberapa faktor yang telah membentuk karakter dan kedalamannya dalam beragama. Salah satu diantaranya adalah, pengajaran dari ibunya tentang kejujuran, kasih sayang, dan kecintaan sepenuh hati. Hal lain adalah, ayahnya tekun mengajarkan agama kepada Fazlur Rahman di rumah dengan disiplin tinggi, sehingga dia mampu menghadapi bermacam peradaban dan tantangan di era modern.3

Peradaban yang berkembang di masa itu adalah, Islam sedang menghadapi perlawanan kuat dari Barat. Tantangan arus besar modernitas menuntut Islam untuk segera memilih dan menguatkan landasan ideologisnya. Ketika itu juga, sebagai penganut madzhab Hanafi yang memegang ra’yu (rasio), proses adaptasi terhadap modernitas tetap dilalui dengan filterisasi yang

2 Ebrahim Moosa, Revival and Reform in Islam: A Study of Islamic Fundamentalism, (Oxford: Oneworld, 2000). Lihat Fazlur Rahman, Gelombang Perubahan dalam Islam: Studi Tentang Fundamentalisme Islam, (Jakarta: Rajawali Grafindo Persada, 2001), h. v.

3 M. Hasbi Amiruddin, Konsep Negara Islam Menurut Fazlur Rahman, (Yogyakarta: UII Press, 2000), h. 9.

kuat. Kondisi Pakistan semacam ini turut membentuk dan melahirkan Fazlur Rahman sebagai sosok yang mengenal dua kutub – yang semestinya berseberangan–, yaitu tradisional dan modern.

Bagi John L. Esposito, Fazlur Rahman masuk dalam kategori tokoh liberal.4 Pola pikir liberal yang dikembangkan Rahman banyak dipengaruhi oleh para pendahulunya. Di Pakistan lebih dahulu berkembang pemikiran yang cukup liberal, seperti yang dikembangkan oleh Syah Waliyullah, Sayid Ahmad Khan, Sir Sayid Amir Ali dan Muhammad Iqbal. Sehingga tidak kaget kalau ia memberanikan diri untuk mencoba menunjukkan liberalisme Islam, tetapi tetap dengan frame al-Qur’an.

Pada usia 14 tahun atau sekitar 1933, Rahman dibawa ke Lahore (tempat tinggal leluhurnya) dan memasuki sekolah modern. Sekolah atau madrasah ini didirikan oleh Muhammad Qasim Nanotawi pada 1867. Adapun, pada malam harinya tetap mendapatkan pelajaran agama secara tradisional dari Ayahnya (Maulana Shahab al-Din) di tempat tinggalnya. Semangat muda Rahman yang masih berusia 14 tahun tersebut mengantarkan dia mulai gemar belajar filsafat, bahasa Arab, teologi, hadits dan tafsir.5

4 John L. Esposito (ed), “Fazlur Rahman” dalam The Oxford Encyclopedia of The Modern Islamic Word, Vol. 3, (New York: Oxford University Press, 1995), h. 408.

5 Syarif Hidayatullah, Intelektualisme dalam Perspektif Neo Modernisme, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2000), h. 15.

Setelah menamatkan sekolah menengah, Rahman mengambil studi bidang Sastra Arab di Departeman Ketimuran pada Universitas Punjab di Lahore dan berhasil memperoleh gelar Bachelor of Art (BA) pada tahun 1940. Pada tahun 1942, ia berhasil menyelesaikan studinya di Universitas yang sama dan menggondol gelar Master of Art (MA) dalam Sastra Arab.

Rahman menilai bahwa gelar akademik di Pakistan hanyalah sebuah formalitas-akademik. Tak jauh bedanya dengan studi lokal yang baginya kurang banyak wawasan nalar intelektual yang kritis tentang ke-Islaman.6

Merasa tidak puas dengan pendidikan di tanah airnya, pada tahun 1946, atau pada saat Rahman genap berusia 27 tahun, Rahman mencoba menerobos Dunia Barat, dengan mengambil program doktoral ke Oxford University Inggris, Disertasi yang ia angkat adalah tentang Ibnu Sina di bawah bimbingan Profesor S.

Van den Bergh dan H.A.R. Gibb. Gelar Ph.D (Philosopy Doctor) berhasil ia raih pada tahun 1949. Perlu diketahui bahwa sebetulnya Fazlur Rahman telah pula menyelesaikan Ph.D nya di Lahore, India. Dalam pandangan Fazlur Rahman mutu pendidikan tinggi Islam di India ketika itu amat rendah sehingga Rahman memutuskan untuk mengambil program doktoral di luar negaranya.7

6 Abd A’la, Dari Neomodernisme ke Islam Liberal: Jejak Fazlur Rahman dalam Wacana Islam di Indonesia, (Jakarta: Paramadina, 2003), h.

34.

7 M. Hasbi Amiruddin, Konsep Negara Islam Menurut Fazlur Rahman, (Yogyakarta: UII Press, 2000), h. 10.

Pada masa ini seorang Rahman giat mempelajari bahasa-bahasa Barat, sehinga ia menguasai banyak bahasa-bahasa. Paling tidak ia menguasai bahasa Latin, Yunani, Inggris, Perancis, Jerman, Turki, Persia, Arab dan Urdu. Setelah ia menerima gelar Doctor of Philosophy dari Oxford University, Rahman tidak langsung pulang ke Pakistan (yang baru saja merdeka dan telah memisahkan diri dari India). Ia merasa khawatir dengan keadaan orang-orang di negaranya yang masih terlalu sulit untuk menerima seorang putra bangsa yang menjadi doktor di bidang keislaman hasil didikan Barat. Sehingga, ia memutuskan untuk mengajar beberapa saat di Durham University, Inggris, dan kemudian pindah ke Universitas McGill, Montreal, Kanada. Dari lembaga ini kemudian didirikan Institute of Islamic Studies yang dirintis oleh Wilfred Cantwell Smith sampai Rahman menjabat sebagai Associate Professor of Philosophy on Islamic Studies, McGill University, Kanada.8

Bagian terpenting adalah interaksinya dengan dunia rasionalisme di Barat yang semakin berkembang. Kendatipun Fazlur Rahman banyak menimba ilmu dari para sarjana Barat, tidak berarti dia selalu berpikiran sama dengan para sarjana tersebut. Rahman tetap kritis dalam menilai pandangan-pandangan yang diajukan para sarjana Barat. Baik terkait dengan formulasi yang dibentuk tidak memiliki argumen yang kuat, atau pun karena kesalapahaman mereka terhadap masalah yang sedang dianalisis. Rahman mengakui bahwa dalam buku “Islam” yang

8 Taufik Adnan Amal, Metode dan Alternatif Neomodernisme Islam Fazlur Rahman, (Bandung: Mizan, 1987), h. 16.

diterbitkannya pada tahun 1966, di antara isinya adalah, berusaha mengkritik dan mengklarifikasi kekeliruan pandangan orientalis terhadap Islam bahkan di antara orasinya ada yang secara tegas menolak argumen orientalis.9

Kepiawaian dan makin terkenalnya Fazlur Rahman menarik perhatian Pemerintah Pakistan, sekembalinya ke Pakistan pada awal tahun 1960, Lembaga riset yang didirikan oleh Ayyub Khan menempatkan Rahman sebagai Pelindung. Adapun Direktur lembaga pertama kali adalah, Dr. I.H. Qureshi.10 Selanjutnya ia diangkat sebagai direktur Islamic Research Institute pada tahun 1962. Penunjukkan Fazlur Rahman untuk mengepalai lembaga tersebut kurang mendapat restu dari kalangan ulama tradisional.

Karena menurut mereka, jabatan direktur lembaga tersebut seharusnya merupakan hak privilege eksklusif ulama yang terdidik secara tradisional. Sementara Fazlur Rahman dianggap sebagai kelompok modernis, dan telah banyak terkontaminasi dengan pikiran-pikiran Barat.11

Belakangan, ia juga diangkat sebagai anggota Advisory Council of Islamic Ideology Pemerintah Pakistan, tahun 1964.

Lembaga Islam tersebut, bertujuan untuk menafsirkan Islam berdasarkan term-term rasional dan ilmiah dalam rangka

9 M. Hasbi Amiruddin, Konsep Negara Islam Menurut Fazlur Rahman, (Yogyakarta: UII Press, 2000), h. 11.

10Taufiq Adnan Amal, “Fazlur Rahman dan Usaha-Usaha Neomodernisme Islam Dewasa Ini”, dalam Fazlur Rahman, Metode dan Alternatif Neomodernisme Islam, cet I, Taufik Adnan Amal (peny), (Mizan:

Bandung, 1987), h. 13.

11 M. Hasbi Amiruddin, Konsep Negara Islam Menurut Fazlur Rahman, (Yogyakarta: UII Press, 2000), h. 12.

menjawab kebutuhan-kebutuhan masyarakat modern yang progresif. Sedangkan Dewan Penasehat Ideologi Islam bertugas meninjau seluruh hukum, baik yang sudah maupun belum ditetapkan, dengan tujuan menyelaraskannya berdasarkan “al-Qur’an dan Sunnah”. Kedua lembaga ini memiliki hubungan kerja yang erat, karena Dewan Penasehat bisa meminta lembaga riset untuk mengumpulkan bahan-bahan dan mengajukan saran mengenai rancangan undang-undang.12

Karena tugas yang diemban oleh kedua lembaga inilah, Rahman intens dalam usaha-usaha menafsirkan kembali Islam untuk menjawab tantangan-tantangan masa itu. Tentu saja gagasan-gagasan liberal Rahman, yang merepresentasikan kaum modernis, selalu mendapatkan serangan dari kalangan ulama tradisionalis dan fundamentalis di Pakistan. Ide-idenya di seputar riba dan bunga bank, sunnah dan hadis, zakat, proses turunnya wahyu al-Qur’an, fatwa mengenai kehalalan binatang yang disembelih secara mekanis, dan lainnya, telah meledakkan kontroversi-kontroversi berskala nasional yang berkepanjangan.

Bahkan pernyataan Rahman bahwa “al-Qur’an itu secara keseluruhannya adalah kalam Allah dan (dalam pengertian biasa) juga, seluruhnya adalah perkataan Muhammad”.13

12 Taufiq Adnan Amal, Metode dan Alternatif Neomodernisme Islam Fazlur Rahman, h. 14.

13 Wahyuni Eka Putri, “Hermeneutika Hadis Fazlurrahman” dalam Syahiron Syamsudin (ed.), Hermeneutika Al-Qur‟an dan Hadis (Yogyakarta:

Elsaq Press, 2010), h. 329.

Banyak media yang menyudutkannya. Misalnya, al-Bayyinat media kaum fundamentalis, menetapkan Rahman sebagai munkir al-Qur’an. Puncak kontroversi ini adalah, demonstrasi massa dan aksi mogok total, yang menyatakan protes terhadap buku tersebut. Akhirnya, Rahman pun mengajukan pengunduran dirinya dari jabatan Direktur Lembaga Riset Islam pada 5 September 1968. Jabatan selaku anggota Dewan Penasehat Ideologi Islam juga dilepaskannya pada 1969.14

Latar belakang ketidaksenangan dan penentangan kaum konservatif dan fundamentalis Pakistan terhadap gagasan-gagasan Fazlur Rahman bersifat complicated. Penentangan mereka melibatkan berbagai dimensi: sosial, budaya, politik, agama dan ekonomi, dimana hal itu mendeskripsikan kompleksitas keadaan Pakistan itu sendiri. Pakistan didirikan di atas pluralitas etnis, politik, dan budaya, serta di atas kesenjangan ekonomi yang cukup lebar antara satu kelompok dan kelompok yang lain.

Secara politis, ketika Pakistan berdiri, tiap orang dan etnis mempunyai harapan yang berbeda, dan mereka memahami berdirinya negara itu dalam pengertian yang juga berlainan. Bagi penduduk pedesaan di daerah Bengali dan Assam, munculnya negara baru Pakistan berarti emansipasi terhadap tuan tanah kaum Hindu. Sedang bagi kaum urban Muslim, seperti Delhi dan Bombay, tegaknya Pakistan berarti penciptaan ekonomi yang

14 Abd A’la, Dari Neomodernisme ke Islam Liberal: Jejak Fazlur Rahman dalam Wacana Islam di Indonesia, (Jakarta: Paramadina, 2003), h.

36-37.

baru serta kesempatan yang bersifat politis bagi mereka. Adapun bagi penduduk Sindi, Punjab dan Propinsi Bagian Barat Laut, Pakistan berarti pendirian negara Islam.

Pada gilirannya, aspirasi yang berbeda tidak dapat dilepaskan dari budaya yang berbeda pula. Budaya kaum imigran yang berasal dari daerah bagian utara India lebih bersifat egalitarian dan liberal, serta mau menerima pembaharuan.

Sebaliknya, budaya penduduk Punjab dan Sindi yang pribumi bersifat paternalistik, tertutup, dan menentang modernisme.

Perbedaan diantara mereka menjadi semakin menajam ketika kaum imigran tersebut berhasil menduduki dan menguasai posisi kunci sebagai elit penguasa. Apalagi kelompok ini lebih percaya pada “sekularisme”, politik yang liberal, dan ekonomi laissez-faire. Sedang pada sisi yang lain, kaum pribumi ingin membangun negara “Islam” dan ekonomi yang diatur pemerintah.15

Di tengah hasutan warga Pakistan, pada tahun 1968, Rahman menerima tawaran dari Universitas California, Los Angeles untuk mengajar, ia membawa serta keluarganya, dan akhirnya pada tahun 1969, Rahman memutuskan hijrah ke Chicago untuk menjabat sebagai guru besar kajian Islam dalam segala aspeknya pada Departement of Near Eastern Languages and Civilization, University of Chicago.16 Ada tiga alasan utama

15 Abd A’la, Dari Neomodernisme ke Islam Liberal: Jejak Fazlur Rahman dalam Wacana Islam di Indonesia, h. 37-38.

16 Abd A’la, Dari Neomodernisme ke Islam Liberal: Jejak Fazlur Rahman dalam Wacana Islam di Indonesia, h. 39.

yang mendorong Fazlur Rahman hijrah ke Barat. Alasan-alasan ini dikemukakan dalam tulisannya sebanyak 3 lembar dengan judul Why I Left Pakistan: A Testament.17 Lebih jauh Syarif Hidayatullah memaparkan bahwa:

Pertama, kekecewaannya terhadap apa yang telah dialami negerinya sepanjang dua dekade perjalanannya. Rahman melihat, upaya pencapaian dalam penyesuaian-penyesuaian sosial yang cerdas dan penuh percaya diri di bawah bendera Islam, dalam rangka memasuki era ilmu dan teknologi baru, ternyata kurang banyak berhasil. Padahal, Rahman menegaskan, sebagai sebuah negara yang sedang berkembang, Pakistan sangat membutuhkan program pembangunan yang terakselerasi. Ia mengingatkan, jika tidak demikian, maka peluangnya untuk tampil dalam peta dunia sebagai negara berdaulat sangatlah sempit. Rahman telah mengakui upaya-upaya parsial namun asli memang telah berhasil dilakukan oleh rezim kuno (ancient regime). Namun, disayangkan paduan suara penuh hiruk-pikuk dari para Mullah dan Muallaf politik dan politisi-politisi tertentu yang Muallaf Islam telah merontokkannya menjadi sesuatu yang sia-sia belaka.

Kedua, polarisasi yang terus tumbuh antara ekstrem-ekstrem kanan dan kiri semakin mengancam adanya konflik-konflik. Rahman melihat kevakuman tersebut diakibatkan oleh ketidakadaan penafsiran yang efektif dan modern.

17 Abd A’la, Dari Neomodernisme ke Islam Liberal: Jejak Fazlur Rahman dalam Wacana Islam di Indonesia, h. 40.

Ketiga, situasi Pakistan sudah tidak lagi kondusif bahkan cenderung kritis bagi kaum intelektual modernis. Dalam kondisi yang semacam ini, bagi Rahman, seorang intelektual tidak dapat lagi menyatakan secara terbuka apa yang dirasakan dan dipikirkannya. Ketika ekspresi kekuatan telah menggantikan kekuatan berekspresi, maka patut untuk menolak bergabung dan berkolaborasi dengan situasi sekitarnya.18

Fazlur Rahman berasal dan dibesarkan dalam sebuah keluarga yang sangat taat dalam beragama namun sekaligus apresiatif terhadap modernitas. Seorang murid Fazlur Rahman yang ada di Indonesia, Nurcholish Madjid mengungkapkan, bahwa gurunya selalu berpenampilan sederhana dan dengan gaya hidup lugu dan sepi ing pamrih. Ia sebagaimana layaknya seorang yang paham cita-cita dan ajaran Islam, bukan saja sebagai seorang manusia yang amat menarik, tetapi juga seorang guru yang banyak membangkitkan ilham.19

Penyakit kencing manis dan jantung yang diderita Fazlur Rahman mengakibatkan kesehatannya terganggu. Ini terjadi pada pertengahan dasawarsa delapan puluh. Walaupun demikian, ia tetap bersemangat menjalankan tugas akademiknya. Ia pun tidak segan-segan masih menyempatkan diri untuk tetap memberikan kuliah dan ceramah kepada kalangan muslim maupun non-muslim. Pada musim panas tahun 1985, Rahman hadir memenuhi

18 Syarif Hidayatullah, Intelektualisme dalam Perspektif Neo-Modernisme, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2000), h. 18-22.

19 Nurcholis Madjid, “Fazlur Rahman dan Rekonstruksi Etika Al-Qur’an”, Islamika, No. 2, Oktober-Desember, 1993, h. 23.

undangan pemerintah Indonesia. Padahal dokter pribadinya telah memberikan lampu kuning agar ia mengurangi kegiatannya.

Selama di Indonesia, Fazlur Rahman melihat keadaan riil Islam sembari beraudiensi, berdiskusi dan memberikan kuliah di beberapa tempat. Rahman pernah menubuatkan bahwa peradaban Islam yang gemilang akan dimulai dari Indonesia, sebuah wilayah yang didiami oleh banyak masyarakat Muslim dengan tetap mempertahankan kekhasan budayanya.20

Pada tahun 1986, ia dianugerahi Harold H. Swift Distinguished Service Profesor di Chicago, penghargaan ini disandangnya sampai wafat tahun 1988.21 Allah memanggil Fazlur Rahman pada tanggal 26 Juli 1988. Sebelum menghembuskan napas terakhir, Rahman dirawat di rumah sakit Chicago. Tokoh kontroversial asal Pakistan ini meninggal dunia di Amerika Serikat.

Selepas kepergian beliau, Universitas Chicago, dimana tempat beliau mengajar, konon harus menyiapkan empat professor dengan empat bidang keahlian yang berbeda untuk bisa menggantikan dirinya mengajar. Betapa itu menandakan keluasan ilmu yang dimilikinya, sehingga universitas sebesar Chicago University itu kepayahan mencari empat orang yang ahli dibidang filsafat, tasawuf, teologi, metodologi dan pembaruan Islam untuk

20 https://www.mizan.com/melihat-fazlur-rahman-lebih-dekat/ diakses pada 06 Maret 2020.

21 Ibrahim Musa, “Kata Pengantar”, dalam Fazlur Rahman, Gelombang Perubahan dalam Islam: Studi Fundamentalisme Islam, terj. Aam Fahmina, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000), h. 4.

bisa menggantikan satu orang pengajar, yaitu Prof. Fazlur Rahman. Amin Rais, Nurcholish Madjid, dan Syafi’i Maarif adalah generasi pertama mahasiswa Indonesia yang belajar di Universitas Chicago, dan sekaligus generasi pertama yang belajar secara langsung pada Fazlur Rahman. Setelahnya ada Prof.

Mulyadhi Kartanegara, Prof. Azyumardi Azra, Prof. Din Syamsudin dan Prof. Abdul Muis Naharong.22

B. Pokok – pokok Pemikiran Fazlur Rahman

Di negaranya, Fazlur Rahman sangat aktif mengutarakan pemikiran dan gagasan-gagasannya. Rahman sangat kritis terhadap pemikirian keagamaan para modernis pendahulunya, apalagi terhadap kalangan tradisionalis dan fundamentalis.

Kritik-kritik Rahman semakin tajam ketika mengemukakan pandangan tentang definisi “Islam” Pakistan, terutama terhadap pandangan kaum tradisionalis dan fundamentalis. Pandangan-pandangan tentang al-Qur’an, Hadis dan hukum-hukum terkait berbagai masalah, menimbulkan kontroversi yang semakin berkepanjangan dan berskala nasional.

Syafi’i Ma’arif mengatakan, bahwa pada diri Rahman

“berkumpul ilmu seorang alim yang alim dan ilmu seorang orientalis yang paling beken”.23 Menurut Madjid, Fazlur Rahman adalah juga seorang pemikir dengan keberanian intelektual yang mencengangkan, bukan saja ia tidak takut kepada kotroversial,

22 https://www.mizan.com/melihat-fazlur-rahman-lebih-dekat/ diakses pada 06 Maret 2020.

23 Fazlur Rahman, Islam, (Bandung: Mizan, 2003), h. vi

bahkan ia melihat bahwa kontroversial adalah bagian dari konsekuensi dan kreativitas intelektual yang acapkali memang tidak mungkin dihindari.24

Berikut beberapa konsep pemikiran Fazlur Rahman terhadap beberapa tema yang pernah dibahas oleh beliau baik dalam ceramah, atau artikel dan sebagainya.

a. Konsep Tentang Negara (Pemerintahan)

Menurut Fazlur Rahman, Islam tidak mengajarkan secara jelas mengenai sistem kenegaraan, tetapi mengakui bahwa terdapat sejumlah tata nilai dan etika bernegara dalam al-Qur’an. Meskipun Nabi Muhammad tidak pernah menyatakan dirinya sebagai pemimpin negara, tetapi dia telah menjadikan negara sebagai alat bagi agama Islam untuk menyebarkan dan mengembangkan agama. Fazlur Rahman lebih tegas menyatakan bahwa “antara agama dan politik tidak bisa dipisahkan”.25

Fazlur Rahman juga menyatakan, bahwa Islam memerintahkan agar persoalan-persoalan kaum muslimin ditanggulangi melalui syura atau konstitusi timbal balik.

Seperti diketahui, bahwa syura merupakan salah satu perintah Allah kepada kaum muslimin dalam

24 Nurcholish Madjid, Fazlur Rahman dan Rekonstruksi Etika Al-Qur'an, dalam Jurnal Islamika, no. 2 1993.

25 M. Hasbi Amirudin, Konsep Negara menurut Fazlur Rahman, (pengantar) Deliar Noer, (Yogyakarta: UII Press, 2000), cet. Ke-1, h. 80.

menyelesaikan persoalan-persoalan umat yang terdapat banyak dalam al-Qur’an dan Hadis-hadis Nabi Saw.26

Nilai dan etika dalam bentuk syura ini telah dijadikan sebagai dasar dalam penyelenggaraan Negara oleh Fazlur Rahman. Ia juga menegaskan, bahwa kebebasan untuk mengemukakan pendapat dan kritik konstruktif yang ditujukan kepada pemerintah, dianggap sebagai tugas keagamaan.

b. Konsep Teologis

1. Wujud Tuhan Sebagai Pemberi Makna Kehidupan Fazlur Rahman dalam menerangkan gagasan tentang Tuhan dan alam semesta senantiasa mengacu pada al-Qur’an sebagai sumber otoritas primer dan representator Allah yang senantiasa aktual dan kontekstual dalam setiap masa dan keadaan di mana manusia berada.27 Dari sini dapat dikatakan, bahwa kerangka pikir Rahman sangat Qur’anik sekali.

Menurut Rahman, semua pernyataan al-Qur’an tentang alam ataupun Tuhan sekalipun, pada dasarnya menyatakan tentang manusia. Dengan mengutip beberapa ayat al-Qur’an, menurut Rahman, al-Qur’an hanya menyatakan bahwa Tuhan Mahakuasa dan manusia diberi

26 M. Hasbi Amirudin, Konsep Negara menurut Fazlur Rahman, h. 81.

27 Fazlur Rahman, Tema-Tema Pokok al-Qur’an, (Bandung: Pustaka, 1984), h. 86.

pilihan dan diserahi tanggung jawab. Tuhan bukan saja

pilihan dan diserahi tanggung jawab. Tuhan bukan saja

Dokumen terkait