• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I : PENDAHULUAN

H. Metodologi Penelitian

H.4 Teknik Analisis Data

I. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan merupakan penjabaran mengenai isi pokok dari suatu penelitian untuk membuat penelitian ini lebih terarah, maka peneliti membagi penyusunan skripsi ini kedalam empat bab sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Bab satu terdiri dari latar belakang masalah, perumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kerangka teori, metodologi penelitian, dan sistematika penulisan penelitian.

BAB II GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN

Pada Bab ini akan menjelaskan tentang profil Kota Medan dari berbagai aspek yang bertujuan untuk mencaritahu lebih lanjut mengenai perkembangan dan pertumbuhan ritel di Kota Medan baik dalam bentuk Ritel Modern, Pasar Tradisional, maupun Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

BAB III ANALISIS EKONOMI POLITIK DALAM KEBIJAKAN BISNIS RITEL DI KOTA MEDAN

Bab tiga akan menguraikan bagaimana ekonomi politik dalam kebijakan bisnis ritel di Kota Medan dan pengaruhnya terhadap kegiatan ekonomi lokal masyarakat. Selain itu dalam bab ini juga akan dibahas mengenai bagaimana peran pemerintah dan masyarakat dalam kegiatan ekonomi.

BAB IV PENUTUP

Bab terakhir ini akan berisi kesimpulan dan saran-saran dari penelitian yang telah dilakukan.

BAB II

GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN

A. Profil Kota Medan

Gambar 2.1: Peta Asia Tenggara

“Medan Rumah Kita”

Visi: "Menjadi Kota Masa Depan yang Multikultural, Berdaya Saing, Humanis, Sejahtera dan Religius"

Misi:

1. Kerjasama

Menumbuh kembangkan stabilitas, kemitraan, partisipasi dan kebersamaan dari seluruh pemangku kepentingan pembangunan kota.

2. Kreatifitas dan Inovasi

Meningkatkan efisiensi melalui deregulasi dan debirokratisasi sekaligus penciptaan iklim investasi yang semakin kondusif termasuk pengembangan kreatifitas dan inovasi daerah guna meningkatkan kemampuan kompetitif serta komparatif daerah.

3. Kebhinekaan

Mengembangkan kepribadian masyarakat kota bersarakan etika dan moralitas keberagaman agama dalam bingkai kebhinekaan.

4. Penanggulangan Kemiskinan

Meningkatkan percepatan dan perluasan program penanggulangan kemiskinan.

5. Multikulturalisme

Menumbuhkembangkan harmonisasi, kerukunan, solidaritas, perstuan dan kesatuan serta keutuhan sosial, berdasarkan kebudayaan daerah dan identitas lokal multikulturalisme.

6. Tata Ruang Kota yang Konsisten

Menyelenggarakan tata ruang kota yang konsisten serta didukung oleh ketersediaan infrastruktur dan utilitas kota yang semakin modern dan berkelanjutan.

7. Peningkatan Kesempatan Kerja

Mendorong peningkatan kesempatan kerja dan pendapatan masyarakat melalui peningkatan taraf pendidikan dan kesehatan masyarakat secara merata dan berkeadilan.

8. Smart City

Mengembangkan Medan sebagai Smart City.

Kota Medan merupakan salah satu kota besar yang didiami oleh beragam suku dan etnis. Beberapa diantaranya ialah Melayu, Jawa, Batak (Toba, Simalungun, Karo, Pak-pak, Mandailing, dan Angkola), Minangkabau, Nias, Tionghoa, India, dan lain sebagainya. Keberagaman suku tersebut dibarengi oleh keberagaman agama diantaranya Islam, Kristen Protestan, Katolik, Budha, Hindu, dan Konghucu. Hal itu pula yang menjadikan sebagian besar penduduk Kota Medan berpikiran terbuka terhadap kemajemukan. Sudah bertahun-tahun lamanya masyarakat Kota Medan hidup dalam keberagaman dengan berbagai nilai budaya dan adat istiadat yang menghiasi setiap sudut kehidupan masyarakat Kota Medan.

Pada zaman dahulu Kota Medan ini dikenal dengan nama Tanah Deli dan keadaan tanahnya berawa-rawa kurang lebih seluas 4000 Ha. Beberapa sungai melintasi Kota Medan ini dan semuanya bermuara ke Selat Malaka. Sungai-sungai

itu adalah Sei Deli, Sei Babura, Sei Sikambing, Sei Denai, Sei Putih, Sei Badra, Sei Belawan dan Sei Sulang Saling/Sei Kera.50

Pada mulanya yang membuka perkampungan Medan adalah Guru Patimpus lokasinya terletak di Tanah Deli, maka sejak zaman penjajahan orang selalu merangkaikan Medan dengan Deli (Medan–Deli). Lalu pada tahun 1863 orang-orang Belanda mulai membuka kebun Tembakau di Deli yang sempat menjadi primadona Tanah Deli. Sejak itu perekonomian terus berkembang sehingga Medan menjadi Kota pusat pemerintahan dan perekonomian di Sumatera Utara.

Tahun 1879, Ibukota Asisten Residen Deli dipindahkan dari Labuhan ke Medan, 1 Maret 1887, Ibukota Residen Sumatera Timur dipindahkan pula dari Bengkalis ke Medan, Istana Kesultanan Deli yang semula berada di Kampung Bahari (Labuhan) juga pindah dengan selesainya pembangunan Istana Maimoon pada tanggal 18 Mei 1891, dan dengan demikian Ibukota Deli telah resmi pindah ke Medan. Pada tahun 1915 Residensi Sumatera Timur ditingkatkan kedudukannya menjadi Gubernemen.51

Pada tahun 1918 Kota Medan resmi menjadi Gemeente (Kota Praja) dengan Walikota Baron Daniel Mac Kay. Berdasarkan "Acte van Schenking" (Akte Hibah) Nomor 97 Notaris J.M. de-Hondt Junior, tanggal 30 Nopember 1918, Sultan Deli menyerahkan tanah kota Medan kepada Gemeente Medan, sehingga

50 Dikutip dari http://pemkomedan.go.id/hal-sejarah-kota-medan.html pada 23 Maret 2017 Pukul 03. 05 WIB

51 Ibid

resmi menjadi wilayah di bawah kekuasaan langsung Hindia Belanda. Pada masa awal Kotapraja ini, Medan masih terdiri dari 4 kampung, yaitu Kampung Kesawan, Kampung Sungai Rengas, Kampung Petisah Hulu dan Kampung Petisah Hilir. Pada tahun 1918 penduduk Medan tercatat sebanyak 43.826 jiwa yang terdiri dari Eropa 409 orang, Indonesia 35.009 orang, Cina 8.269 orang dan Timur Asing lainnya 139 orang. Sejak itu Kota Medan berkembang semakin pesat. Berbagai fasilitas dibangun. Beberapa diantaranya adalah Kantor Stasiun Percobaan AVROS di Kampung Baru (1919), sekarang RISPA, hubungan Kereta Api Pangkalan Brandan - Besitang (1919), Konsulat Amerika (1919), Sekolah Guru Indonesia di Jl. H.M. Yamin sekarang (1923), Mingguan Soematra (1924), Perkumpulan Renang Medan (1924), Pusat Pasar, R.S. Elizabeth, Klinik Sakit Mata dan Lapangan Olah Raga Kebun Bunga (1929).52

Secara historis perkembangan Kota Medan, sejak awal telah memposisikan menjadi pusat perdagangan (ekspor-impor) sejak masa lalu. sedang dijadikannya Medan sebagai ibukota deli juga telah menjadikannya Kota Medan berkembang menjadi pusat pemerintah. Sampai saat ini disamping merupakan salah satu daerah kota, juga sekaligus sebagai ibukota Provinsi Sumatera Utara.53

A.1 Aspek Geografis

Secara geografis kota Medan terletak diantara koordinat 2ᵒ 27‘ - 2ᵒ 47‘

Lintang Utara dan 98ᵒ 35‘ - 98ᵒ 44‘ Bujur Timur. Kota Medan terletak di posisi

52 Ibid

53 Ibid

pantai Timur Sumatera Utara yang bagian Utara merupakan saerah pesisir.

Dengan demikian, Kota Mean termasuk salah satu daerah yang memiliki potensi ekonomi kemaritiman yang dapat dioptimalkan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.54

Wilayah administratif Kota Medan memiliki luas 29.204,9 ha yang terdiri dari 21 (dua puluh satu) Kecamatan dengan 151 (seratus lima puluh satu) kelurahan yang terbagi dalam 2001 (dua ribu satu) lingkungan. Secara administratif, wilayah Kota Medan hampir keseluruhan wilayahnya berbatasan dengan daerah Kabupaten Deli Serdang, yaitu sebelah Barat, Timur, dan Selatan.

Sepanjang wilayah utaranya berbatasan langsung dengan Selat Malaka, yang merupakan salah satu jalur lalu lintas laut terpadat di dunia. Adapun mengenai batas-batas wilayah administratif Kota Medan, dapat diuraikan sebagai berikut55:

 Sebelah Utara : Selat Malaka.

 Sebelah Selatan: Kecamatan Deli Tua dan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang.

 Sebelah Barat : Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang.

 Sebelah Timur : Kecamatan Percut, Kabupaten Deli Serdang.

54 RPJMD Kota Medan Tahun 2016-2021 Hal. 8

55 Ibid.

Gambar 2.2. : Peta Sumatera Utara

Gambar 2.3: Peta Kota Medan

A.2 Aspek Demografis

Komponen utama dan saling berhubungan satu dengan lainnya dalam terbentuknya suatu wilayah adalah penduduk, tempat/lokasi, dan pemerintahan.

Kependudukan adalah karakteristik yang paling mewakili dalam menentukan gambaran suatu wilayah permasalahan yang terjadi, karena penduduk adalah

sebagai suatu objek pokok suatu wilayah yang merupakan komponen yang selalu mengalami perkembangan yang cukup dinamis dari waktu ke waktu.56

Pembangunan kependudukan dilaksanakan dengan mengindahkan kelestarian sumber daya alam dan fungsi lingkungan hidup sehingga mobilitas dan persebaran penduduk tercapai optimal. Mobilitas dan persebaran penduduk yang optimal, berdasarkan pada adanya keseimbangan antara jumlah penduduk dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Persebaran penduduk yang kurang didukung oleh daya dukung dan daya tampung lingkungan serta pembangunan akan menimbulkan masalah sosial yang kompleks, dimana penduduk menjadi beban bagi lingkungan maupun sebaliknya. 57

Penduduk kota Medan sepanjang tahun 2011-2015 menunjukkan jumlah yang berfluktuasi. Fluktuasi jumlah penduduk kota disebabkan oleh faktor-faktor alami, seperti: tingkat kelahiran, kematian, dan migrasi. Jumlah penduduk, laju pertumbuhan, dan kepadatan penduduk kota Medan selama tahun 2011-2015 ditunjukkan pada tabel 2.1 berikut ini58:

56 Ibid. Hal. 14

57 Ibid.

58 Ibid.

Tabel 2.1.

Sumber: Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Medan

Perubahan jumlah penduduk Kota Medan sepanjang tahun 2011-2015 menunjukkan trend yang meningkat, hal ini berdampak pada meningkatnya kepadatan penduduk disebabkan luas wilayah Kota Medan sampai tahun 2015 tetap. Berdasarkan tabel 2.1 diatas menunjukkan bahwa tahun 2012 kepadatan penduduk mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2011. Akan tetapi

kepadatan penduduk pada tahun 2013 dan tahun 2015 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2012.59

Penurunan jumlah penduduk Kota Medan yang terjadi sejak tahun 2014 dan tahun 2015 sebenarnya lebih disebabkan adanya penyesuaian hail klarifikasi data ganda dari Kementerian Dalam Negeri dalam rangka pembuatan e-KTP, meningkatnya jumlah pengurusan akte kematian dan meningkatnya jumlah pengurusan surat pindah (migrasi keluar) dari Kota Medan, sehingga perkiraan jumlah penduduk cenderung semakin akurat.60

Hal yang paling penting dalam dimensi kependudukan ini adalah bagaimana Kota Medan dapat memanfaatkan periode bonus demografi secara optimal pada masa datang.61

A.3 Struktur Ekonomi

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) secara umum digunakan sebagai salah satu indikator untuk menilai kinerja perekonomian suatu daerah dalam mengelola sumber daya yang dimiliki. Konsep PDRB dapat dikategorikan menjadi dua jenis, yaitu PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (PDRB-ADHB) dan PDRB Atas Dasar Harga Konstan (PDRB-ADHK). PDRB Atas Dasar Harga Berlaku menunjukkan kemampuan sumber daya ekonomi yang dihasilkan suatu wilayah. Distribusi PDRB Atas Dasar Harga Berlaku menurut sektor

59 Ibid. Hal.15

60 Ibid.

61 Ibid.

menunjukkan struktur perekonomian atau peranan setiap sektor ekonomi dalam suatu daerah. Setor-sektor ekonomi yang mempunyai peranan besar merupakan basis utama perekonomian suatu daerah. PDRB Atas Dasar Harga Konstan digunakan untuk menunjukkan Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) secara keseluruhan maupun sektoral dari tahun ke tahun. Nilai PDRB yang besar menunjukkan kemampuan sumber daya ekonomi PDRB yang besar pula. Untuk mengetahui perkembangan kinerja perekonomian Kota Medan, dapat dideskripsikan melalui PDRB Kota Medan Atas Dasar Harga Konstan dan Atas Dasar Harga Berlaku.62

PDRB per kapita merupakana gambaran rata-rata pendapatan yang diterima oleh setiap penduduk sebagai keikutsertaannya dalam proses produksi barang dan jasa selama satu periode. Indikator ini digunakan sebagai salah satu parameter untuk melihat tingkat kesejahteraan masyarakat, namun demikian parameter ini belum sepenuhnya dapat digunakan sebagai ukuran tingkat kesejahteraan secara menyeluruh. PDRB Kota Medan per kapita Atas Dasar Harga Berlaku dan Atas Dasar Harga Konstan selama tahun 2011-2015 dapat dilihat pada tabel 2.2 berikut:63

62 Ibid. Hal.16

63 Ibid. Hal.24

Tabel 2.2

PDRB Perkapita Kota Medan Menurut Harga Berlaku dan Konstan

Tahun 2011-2015

Tahun PDRB Perkapita (Jutaan Rupiah)

Perubahan (%)

Berlaku Konstan Berlaku Konstan

1 2 3 4 5

2011 44,14 18,22 13,78 7.70

2012 49,52 19,56 12,17 7,35

2013 56,38 21,01 13,87 7,39

2014 61,71 20,75 11,89 4,01

2015 72,58 21,76 12,85 4.9

Sumber: BPS Kota Medan

PDRB per kapita atau pendapatan per kapita merupakan salah satu indikatpr yang digunakan untuk menggambarkan tingkat kemakmuran masyarakat secara makro. PDRB per kapita berdasarkan atas harga berlaku pada tahun 2014 menunjukkan peningkatan lebih besar dibandingkan dengan PDRB per kapita berdasarkan harga konstan. PDRB per kapita berdasarkan harga berlaku mencapai 61,71 juta rupiah, angka ini meningkat 11,89% dibandingkan tahun 2013 yang mencapai 55,15 juta rupiah. Sedangkan pada tahun 2015 PDRB-ADHB Kota Medan telah mencapai 72,58 juta rupiah. Peningkatan PDRB per kapita ini juga

diharapkan dapat terus meningkatkan daya beli masyarakat guna dapat meningkatkan dapat menigkatkan kesejahteraan masyarakat, sehingga perlu juga memeprhatikan distribusinya sehingga dapat lebih merata dan berkeadilan.64

Struktur PDRB Kota Medan menggambarkan kontribusi masing-masing sub sektor ekonomi terhadap PDRB Kota Medan. Dari ketiga sektor ekonomi yaitu sektor primer, sekunder, dan tersier, diketahui bahwa sektor tersier merupakan sektor yang memiliki kontribusi terbesar terhadap PDRB Kota Medan menurut lapangan usaha dan kemudian diikuti oleh sektor sekunder dan primer.

Struktur PDRB Kota Medan menurut lapangan usaha dan Atas Dasar Harga Berlaku selama tahun 2011-2015 dapat dilihat pada tabel 2.3 berikut:65

64 Ibid. Hal. 24-25

65 Ibid. Hal. 22

Tabel 2.3

Restoran

Transportasi dan Telekomunikasi

19,02 19,27 21,21 11,52 11,02

Keuangan dan Jasa Perusahaan

15,11 15,50 14,87 17,91 18,26

Jasa-jasa 10,88 11,13 10,73 7,19 7,30

PDRB 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00

Sumber: BPS Kota Medan

Catatan: *) Angka Sementara

Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat kontribusi masing-masing sektor dan sub sektor terhadap PDRB Kota Medan. Apabila dianalisis lebih jauh, kontribusi sektor primer dan sekunder dalam struktur PDRB cenderung turun selama periode 2011-2015, kecuali konstruksi. Sedangkan sektor tersier cenderung meningkat selama periode 2011-2015 dan berperan dominan dalam struktur PDRB. Perbedaan kontribusi masing-masing sektor sebagaimana diuraikan di atas sangat berkaitan dengan situasi, kondisi, dan ciri Kota Medan sebagai Kota Metropolitan.66

Potensi unggulan Kota Medan ditentukan berdasarkan atas struktur PDRB.

Struktur PDRB terdiri atas 3 (tiga) sektor, yaitu: sektor tersier, sekunder, dan

66 Ibid.

primer.67 Sektor tersier merupakan sektor yang memiliki kontribusi terbesar dalam pembentukan PDRB selama periode tahun 2011-2015 dengan kontribusi rata-rata 71,03%). Sektor sekunder merupakan sektor yang memiliki kontribusi terbesar kedua dalam pembentukan PDRB kota selama periode tahun 2011-2015 dengan kontribusi rata-rata 25,66%. Sektor primer merupakan sektor yang memiliki kontribusi paling rendah dalam pembentukan PDRB dengan kontribusi rata-rata 2,56%.

Kontribusi sektor tersier dan sekunder dalam pembentukan PDRB yang cukup besar menggambarkan bahwa kedua sektor tersebut merupakan potensi unggulan Kota Medan. Oleh karena itu tingkat capaian yang telah diproleh harus diusahakan semakin meningkat pada periode berikutnya sesuai dengan kondisi Kota Medan sebagai Kota Metropolitan.

Pada sektor tersier, sub sektor yang memberikan kontribusi terbesar dalam pembentukan PDRB selama periode tahun 2011-2015 adalah sub sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran dengan kontribusi rata-rata sebesar 26,4%.

Kemudian diikuti oleh sub sektor Transportasi dan Komunikasi dengan kontribusi rata-rata sebesar 19,12%, sub sektor Keuangan dan Jasa Perusahaan dengan kontribusi rata sebesar 14,6% dan sub sektor Jasa-jasa dengan kontribusi rata-rata sebesar 11,2%.

67 Ibid. Hal. 23

Mengacu pada rata-rata kontribusi masing-masing sub sektor tersier terhadap pembentukan PDRB, maka sektor unggulan dari sektor tersier adalah sub sektor yang memiliki kontribusi terbesar dalam pembentukan PDRB.

A.4 Pendapatan Asli Daerah

Pendapatan Asli Daerah terdiri atas: (a) Pajak Daerah, (b) Retribusi Daerah, (c) Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang sah. Rata-rata target selama 5 tahun adalah sebesar Rp. 1.551. 198. 729. 308, 24 sedangkan realisasinya hanya sebesar Rp. 1. 243. 668. 194. 743, 46. Tingkat capaian realisasi pendapatan asli daerah hanya 80,17%. Perkembangan realisasi pajak daerah selama periode tahun anggaran 2011-2015 lebih rendah dari target yang telah ditetapkan. Rata-rata target selama 5 tahun terakhir adalah sebesar Rp. 1. 059. 505. 893. 409, 00 sedangkan realisasinya hanya sebesar Rp. 867. 477. 146. 399, 26. Tingkat capaian realisasi pajak daerah hanya 81,88%. Retribusi daerah merupakan pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh pemerintah kota kepada kepentingan orang pribadi atau badan, baik yang bersifat pelayanan jasa umum, jasa usaha, dan perizinan tertentu. Selama periode Tahun Anggaran 2011-2015, rata-rata target retribusi daerah sebesar Rp. 270. 421. 260. 778, 80 dan realisasinya belum mencapai target yang ditetapkan, yaitu sebesar Rp. 184. 831. 421. 619, 32, dan rata-rata capaian selama lima tahun hanya 68,35%. Penerimaan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan diperoleh dari bagian laba perusahaan milik daerah. Selama tahun 2011-2015, rata-rata target Hasil Pengelolaan Kekayaan

Daerah yang dipisahkan sebesar Rp. 11. 255. 3015. 380, 00 sedangkan realisasinya hanya sebesar Rp. 9.048. 003. 502, 11. Penerimaan lain-lain PAD yang sah utamanya bersumber dari:68

a) Hasil Penjualan Aset Daerah yang Tidak Dipisahkan b) Jasa Giro

c) Pendapatan Bunga

d) Tuntutan Ganti Rugi (TGR) e) Komisi

f) Potongan dan Keuntungan Selisih Nilai Tukar Rupiah

g) Pendapatan Daerah atas Keterlambatan Pelaksanaan Pekerjaan h) Pendapatan Denda Pajak

i) Pendapatan Denda Retribusi

j) Pendapatan Hasil Eksekusi atas Jaminan k) Pendapatan dari Pengembalian

l) Fasilitas Sosial dan Fasilitas Umum

m) Pendapatan dan Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan n) Pendapatan dari Angsuran/Cicilan Penjualan

o) Pendapatan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD)

68 Ibid. Hal. 104-108

Selama periode Tahun Anggaran 2011-2015, rata-rata target Penerimaan dari Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah sebesar Rp. 210.016. 269. 740, 44 sedangkan realisasinya mencapai Rp. 182. 311. 623. 222, 77.

Tabel 2.4

Target dan Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Tahun Anggaran 2011-2015 Pajak Daerah 1.059.505.893.409, 00 867.477.146.399, 26 81,88%

Retribusi Daerah 270.421.260.778, 80 184.831.421.619, 32 68,35%

Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah

11.255.3015.380, 00 9.048.003.502, 11 80,39%

Penerimaan Lain-lain PAD yang Sah

210.016.269.740, 44 182.311.623.222, 77 86,81%

PAD 1.551.198.729.308, 24 1.243.668.194.743, 46 80,17%

Sumber: RPJMD Kota Medan Tahun 2016-2021

A.5 Investasi

Kota Medan memiliki letak geografis yang strategis dan merupakan pintu gerbang utama di kawasan Indonesia Bagian Barat sehingga memiliki potensi

besar untuk penanaman modal bagi para investor baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Hal ini didukung oleh ketersediaan tenaga kerja dan infrastruktur yang memadai, seperti: pelabuhan Belawan dan bandara Kuala Namu Deli Serdang yang sangat dekat dengan Kota Medan. Selain hal tersebut, Pemerintah Daerah juga telah melakukan iberbagai program dalam rangka meningkatkan nilai investasi baik Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) maupun Penanaman Modal Asing (PMA). Program-program tersebut diantaranya: program peningkatan promosi dan kerja sama investasi, program peningkatan iklim investasi, maupun program peningkatan pelayanan. Perkiraan total investasi baik PMDN maupun PMA di Kota Medan selama tahun 2010-2915 dapat dilihat pada tabel 2.5 berikut:69

Tabel 2.5

Perkiraan PMA dan PMDN Tahun 2010-2015

(Trilyun Rupiah)

Tahun Nilai Investasi

(Triliun Rupiah)

Target RPJMD (Triliun Rupiah)

1 2 3

2010 16,245

2011 17,061 18,31

69 Ibid. Hal. 28-29

2012 18,767 19,58

2013 21,907 21,45

2014 23,782 23,03

2015 26,99 25,47

Sumber: BPS Kota Medan

Nilai investasi di Kota Medan menunjukkan peningkatan dari tahun 2010 hingga tahun 2015. Peningkatan nilai investasi hingga mencapai double digit tidak terlepas dari peningkatan iklim investasi, dan kemudahan berusaha, stabilitas ekonomi makro yang terjaga dengan baik dan peningkatan belanja modal pemerintah untuk proyek infrastruktur serta berbagai program yang dilakukan dalam rangka meningkatkan minat investor untuk berinvestasi di Kota Medan.

Oleh karenanya, nilai investasi yang semakin besar di Kota Medan perlu dipertahankan dan ditingkatkan khususnya yang berhubungan dengan sektor tersier dan sekunder. Peningkatan nilai investasi pada kedua sektor tersebut lebih sesuai dengan kondisi Kota Medan sebagai kota Metropolitan. Di samping itu, kedua sektor tersebut relatif cukup besar akan dapat menurunkan tingkat pengangguran terbuka sehingga kondisi sosial ekonomi Kota Medan akan semakin meningkat di masa depan.70

Dengan demikian, dalam rangka terus menarik minat berinvestasi di Kota Medan, Pemerintah Daerah perlu terus menyiapkan berbagai fasilitas, kemudahan

70 Ibid.

dan insentif penanaman modal, sehingga Kota Medan dapat menjadi tujuan investasi secara nasional, baik dalam bentuk PMDN atau PMA.

B. Bisnis Ritel di Kota Medan

B.1 Ritel Modern

Indonesia merupakan salah satu negara dengan pertumbahan ekonomi paling tinggi di kawasan Asia Tenggara yaitu 5,5% per tahun pada tahun 2015.

Medan sebagai salah satu kota terbesar di Indonesia memiliki pertumbuhan ekonomi 7,3% diatas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional. Medan terletak di jalur perdagangan dunia, dengan posisi sangat strategis di Asia Tenggara yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi global. Ditandai dengan berkantornya berbagai cabang perusahaan multinasional di Medan, tempat dimana alur barang lintas negara baik ekspor maupun impor. Melihat peluang yang dimiliki oleh Kota Medan sebagai salah satu kota Metropolitan maka tak heran jika saat ini bisnis ritel modern marak berdiri di Kota Medan dalam berbagai format. Berikut akan diuraikan beberapa format ritel modern yang terdapat di Kota Medan.

B.1.1 Hypermarket

Untuk format hypermarket di kota Medan terdapat beberapa ritel yaitu Carrefour, Hypermart, Lottemart, dan Giant. Carrefour merupakan ritel internasional berasal dari Perancis. Carrefour Indonesia sudah beroperasi sejak

1998 dan Carrefour Cempaka Putih menjadi gerai pertama Carrefour Indonesia.

Saat ini kepemilikan saham PT. Carrefour Indonesia sepenuhnya dimiliki oleh PT.

Trans Ritel selaku anak perusahaan CT Corp. Carrefour Indonesia hingga saat ini terdiri dari 85 gerai yang tersebar di seluruh Indonesia, dua diantaranya di kota Medan, Carrefour Plaza Medan Fair yang berganti label menjadi Transmart dan Carrefour Citra Garden. Lokasi kedua hypermarket ini terletak cukup dekat dengan pasar tradisional, Transmart Plaza Medan Fair diapit oleh dua pasar tradisional yaitu Pasar Petisah dan Pasar Meranti. Hal ini menyebabkan terjadinya persaingan antara ritel modern dan tradisional yang dimana sudah pasti berpengaruh terhadap penjualan barang di Pasar Petisah dan Pasar Meranti, meskipun ketiganya memiliki kelebihannya masing-masing. Sedangkan untuk Carrefour Citra Garden terletak tepat disamping Pajak Pagi dimana menjadi salah satu destinasi belanja kebutuhan rumah tangga masyarakat setempat. Untuk pedagang sekitar berjualan dikaki lima menjadi sumber mata pencaharian utama yang jika semakin lama pembeli memilih berbelanja di pasar modern sudah barangtentu akan mengurangi pemasukan pedagang. Persaingan hanya akan dimenangkan oleh yang kuat, dalam hal ini kekuatan itu berasal dari modal jika pedagang kaki lima tak mampu bertahan maka masyarakat akan menjatuhkan pilihannya kepada pasar modern yang dianggap memiliki fasilitas yang mumpuni disamping harga yang bersaing untuk beberapa produk.

Hypermart merupakan ritel modern yang berada dibawah PT. Matahari Putra Prima Tbk yang merupakan anak perusahaan Lippo Group. Saat ini gerai

Hypermart berada lebih kurang 100 gerai di Indonesia, untuk kota Medan Hypermart membuka dua gerai yang masing-masing terletak di Grand Palladium dan Sun Plaza.

Giant adalah hypermarket yang berada dalam naungan payung bisnis Hero Supermarket Group asal Malaysia yang memiliki 46 gerai hypermarket, dan kota Medan menjadi kota yang menjadi tuan rumah bagi lima outlet Giant yang terletak berbagai tempat seperti Jalan Williem Iskandar, Jalan H.M.Joni, Jalan

Giant adalah hypermarket yang berada dalam naungan payung bisnis Hero Supermarket Group asal Malaysia yang memiliki 46 gerai hypermarket, dan kota Medan menjadi kota yang menjadi tuan rumah bagi lima outlet Giant yang terletak berbagai tempat seperti Jalan Williem Iskandar, Jalan H.M.Joni, Jalan

Dokumen terkait